Kopdit Se-NTT Dalam Ulang Tahun Credit Union Sedunia

Oleh: Abat Elias

Hari ulang tahun Credit Union sedunia sudah ditetapkan setiap bulan Oktober hari Kamis Minggu ke tiga oleh World Council of Credit Unions (WOCCU) dan tahun ini tepat pada tanggal 17 Oktober 2019. Gerakan Koperasi Kredit (Kopdit) se-Nusa Tenggara Timur (NTT) melaksanakan ulang tahun di Kupang Ibukota Propinsi NTT. Kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Gubernur NTT, Laoys Kodat, yang sangat memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan Kopdit di NTT.

Pertumbuhan Kopdit di NTT cukup pesat dibandingkan dengan pertumbuhan secara nasional khusus tahun 2018. Tema CU Day yang ditetapkan WOCCU untuk tahun 2018 “Find Your Plantinum Lining” (Carilah prestasimu sampai ke lapisan Platinum ), sedangkan untuk tahun 2019 “Local Sevice, Global Reach” (Pelayanan Lokal Capaian Global)

Tema ini merupakan dorongan – spirit gerakan credit union dunia agar insan insan Credit Union tetap semangat dan memberikan hasil serta prestasi yang paling tinggi. Platinum merupakan penghargaan untuk yang berprestasi yang paling tinggi diatas lapisan Emas, demikian pula untuk tahun 2019 “ Local Service, Global Reach”Pelayanan lokal,Capaiannya mendunia” buktinya aktivitas kopdit se NTT capaiannya melebihi Nasional. Khusus untuk pertumbuhan anggota dan simpanan non Saham – bukan simpanan wajib.

Dengan diadakannya ulang tahun di Kupang diharapkan memacu kemajuan CU se-NTT terutama yang masih jauh dan berpeluang besar untuk berkembang yaitu kopdit-kopdit anggota Puskopdit Manggarai dan Puskopdit Sumba. Sampai akhir tahun 2018 masyarakat NTT yang sudah menjadi angota CU sebanyak 846.427 orang, Total Simpanan Rp.4.987.948.107.000 dan Total Aset Rp.6.047.029.008.000,- Pinjaman beredar Rp.4.700526.802.000,- dan Dana Cadangan Rp.342.705.451.367,- Jika jumlah penduduk NTT yang berusia produktif 4.000.000 orang, maka sekitar 21% sudah menjadi anggota CU.

Diharapkan 5 tahun ke depan 60% penduduk NTT telah menjadi anggota CU sehingga masyarakat NTT jadi CU mainded. Dari segi kwantitas, dilihat dari sisi aset cukup mengembirakan. Total Aset Rp.6,04 triliun, namun dari kwalitas masih perlu ada perjuangan keras, karena prosentasi dana cadangan terhadap total aset rata-rata hanya 5,6%, masih jauh dibawah Standar Keuangan Kopdit yaitu 10%. Rasio yang tertinggi diraih oleh kopdit primer anggota Puskopdit Flores Mandiri Ende 6,8%, disusul Puskopdit Timor 6,3%, Puskopdit Swadaya Utama Maumere 5%, Puskopdit Manggarai 3.7%, dan Puskopdit Sumba 2%.

Menurut ACCU Bangkok pintu pertama jika ingin masuk Asses Branding ACCU maka Rasio Dana Cadangan terhadap total aset harus 10%. Apakah dengan capaian CU seperti itu dapat mengeluarkan masyarakat NTT dari kemiskinan yang secara nasional berada di rangking tiga. Pertanyaan ini harus dijawab oleh insan CU bersama Gubernur dan jajaran Pemerintahannya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu tidak cukup dengan kata-kata belaka melainkan harus dijawab dengan tindakan nyata.

Untuk bisa keluar dari kemiskinan tak cukup dari sektor jasa keuangan saja, harus dibarengi dengan sektor ekonomi riel. Yaitu sektor ekonomi yang mengahsilkan barang dan jasa, misalnya, penggunaan pinjaman anggota Kopdit – CU untuk usaha produktif yang dapat menyerap tenaga kerja dan mengasilkan nilai tambah. Contoh, dari 150 Kopdit rata-rata memiliki 10 orang pegawai sehingga menyerap tenaga kerja 1.500 orang, setiap Kopdit ada 50 orang pengusaha kecil sektor riel dengan pinjaman dari Kopdit dapat mempekerjakan 5 orang sehingga dapat menyerap tenaga kerja 50 x 150 x 5 orang = 37.500 orang.

Beberapa sektor ekonomi yang dapat dikembangkan sesuai topografi dan budaya NTT antara lain; (1) Peternakan dan perikanan meningkatkan Gizi masyarakat dan untuk ekspor ke luar daerah. (2) Industri wisata dan kerajinan tenun dan budaya lokal meningkatkan pendapatan masyarakat. (3) Industri pertanian lanjutan (Agro business); Kopi, Minuman alkohol, Gula Merah dari Enau dan pohon lontar, diharapkan hasil pertanian jangan dijual bahan mentah tetapi harus diproses baru dijual barang setengah jadi atau produk akhir. (4) Sektor Perdagangan, Koop Mart, maupun toko-toko klontong milik anggota CU. Sektor-sektor tersebut pada akhirnya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) baik Provinsi maupun Kabupaten – Kota.

Beberapa waktu silam Gubernur sudah melakukan gebrakan yang melibatkan kopdit se-NTT. Yang perlu dipertimbangkan agar tetap memperhatikan penyerapan produk yang dihasilkan, jangan sampai bisa memproduksi barang tetapi tidak dapat dijual – dipasarkan. Akibatnya modal tidak dapat dikembalikan dan Kopdit mengalami masalah, dan berakibat fatal (bangkrut). Sudah banyak pengalaman Kopdit di beberapa daerah, usahanya gagal kopditnya bangkrut.

Sebaiknya, usaha produktif itu dilakukan oleh Puskopdit Puskopdit setempat sehingga kopdit-kopdit tetap tunggal usaha, yaitu Simpan Pinjam, sedangkan yang mengurus sektor produksi dan konsumsi adalah Puskopdit yang modalnya berupa saham dari kopdit-kopdit setempat. Saat ini beberapa Kopdit mau melakukan Spin off” yaitu pengembangan usaha dari satu usaha menjadi beberapa usaha. Yang dikawatirkan karena manajemen kopdit saat ini baru paham dan trampil dalam bidang “Simpan Pinjam” sedangkan untuk sektor ekonomi riel masih sangat minim baik SDM, Modal maupun sistemnya.

Nenek moyang orang NTT sudah biasa beternak namun saat ini harus beternak dengan mindset (pola pikir) yang baru, sehingga hasilnya lebih meningkat dan dapat memenuhi gizi. Selebihnya untuk ekspor ke luar daerah (Jakarta misalnya). Gagasan ini pernah disampaikan Presiden Jokowi saat itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta dan berkunjung ke NTT untuk memenuhi daging sapi masyarakat Jakarta.

Berkaitan dengan itu juga ada kerasama dengan Yayasan Rumah Energi (YRE), pertama berupa program Biogas Rumah; menghasilkan gas untuk masak dan listrik untuk Penerangan Rumah. Kedua Bio Slurry; menghasilkan Pupuk organik cair dan Pupuk organik padat untuk pupuk tanaman padi disawah maupun tanaman sayur di ladang. Hal ini juga harus ada standar skala ekonomi minimal, sehingga dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani.

Penelitian selama ini menunjukan bahwa minimal satu keluarga harus memelihara 5 – 8 ekor babi dan 3 – 4 ekor sapi untuk satu “reaktor biogas” dengan volume 6 -7 meter kubik. Hasil sampingan dari usaha tersebut selain jual babi dan sapi yang utama, juga  dapat menjual pupuk organik, dapat menjual sayur organik yang bebas dari pupuk kimia sehingga meningkatkan kualitas kesehatan bagi masyarakat generasi mendatang yang konsumsi hasil pertanian organik.

Usaha ini cocok untuk daerah perdesaan yang belum ada listrik tetapi ada sumber air. Demikian juga sektor perikanan dengan memberikan modal yang cukup untuk nelayan sehingga meningkatkan kemampuan sumber daya mereka untuk mencari ikan lebih jauh ke laut dalam sehinga mendapatkan ikan lebih besar dan banyak. Tentu diawali dengan literasi keuangan agar keluarganya dapat mengatur keuangan pada saat musim tidak melaut sehingga tidak lari ke penghijon yang membuat mereka harus menjual hasil tangkapan dengan harga yang ditentukan oleh penghijon. Kini, dengan banyaknya wisatawan, kebutuhan ikan juga semakin besar seperti yang dialami oleh masyarakat Labuan Bajo, Maumere, Kupang.

Wisata budaya dan kerajinan tenun; kedua hal ini sangat berkaitan satu dengan yang lain. Tidak sedikit wisatawan luar negeri menyukai budaya kita. Karena itu kita harus mengemas wisata budaya agar menarik wisatawan mancanegara dan masyarakat kita juga akan mendapatkan rejeki dari apa yang ditampilkan. Karena itu kelompok kelompok seni harus menyiapkan dengan baik apa saja yang harus ditunjukan, tentunya persiapan yang terbaik perpaduan antara musik lagu dan tarian.

Kopdit dapat Investasi dalam bentuk sarana dan prasarana misalnya gedung serba guna untuk pentas pertunjukan seni dan budaya. Tinggalkan cara cara pementasan di lapangan terbuka dengan gratis, hal seperti itu hanya memperkenalkan keterbelakangan budaya karena nilai tambah yang diperoleh nol besar. Disamping pertunjukan seni budaya juga disiapkan juga produk produk kerajinan yang menarik untuk dijual disekitar tempat pertunjukan.

Tenunan NTT sekarang cukup menarik hanya perlu meningkatkan kualitas dan diversifikasi produk sehingga tidak hanya dalam bentuk kain yang panjang dan harga yang mahal, tetapi mungkin dalam bentuk lembaran lembaran kain yang motif berbeda beda untuk dikombinasikan dengan kain-kain lain sehingga menjadi suatu staile yang menarik, hal ini membutuhkan design yang kreatif. Sekarang sudah ada kelompok anak muda turunan NTT yang membentuk usaha kreatif dan hasilnya diekspor ke manca negara.

Industri pertanian lanjutan (Argo Business) sampai saat ini banyak hasil pertanian yang dijual dalam bentuk bahan mentah, sehingga harganya sangat rendah pada saat musim panen dan nilai tambahnya dinikmati oleh middleman (Perantara). Petani yang sudah mengeluarkan biaya operasional tinggi justru mendapatkan bagian terkecil. Contoh: Alpokat, kopi, pisang, kacang mente, cacao (coklat), cabe, kopra dan kelapa muda. Apakah Industri rumah tidak dapat melakukan proses agar menghasilkan produk setengan jadi atau produk akhir?

Pekerjaan ini dapat dilakukan oleh sekunder koperasi yaitu Puskopdit karena itu Anggaran Dasar Puskopdit (AD) perlu ditinjau kembali dan disampaikan kepada Dinas setempat. Dari pada membuat Spin off pada setiap kopdit lebih baik usaha Puskopdit dikembangkan bukan hanya interlending tetapi juga menangani usaha agro business yang dihasilkan oleh anggota Kopdit dari pertanian dan peternakan. Usaha ini akan memberikan kontribusi besar terhadap nilai tambah hasil pertanian dan menyerap tenaga kerja lebih besar sehingga pendapatan masyarakat semakin meningkat. Jika hal ini dijalankan maka setiap Puskopdit paling tidak menghasil satu Produk unggulan sehingga “One Chapter One Product” (OCOP) atau “One Puskopdit One Product” (OPOP).

Sektor perdagangan sudah banyak yang melakukan, jika masih nekad maka harus berhadapan – bersaing dengan pelaku pelaku sebelumnya yaitu Alfa Mart, Indo Maret, Koop Mart dan lain lain. Jika Kopdit – Puskpdit ingin menangani sektor ini maka sebaiknya melalui system Waralaba, yaitu kerjasama dengan Indomart atau Alfamart dan kopdit atau Puskopdit dengan “Quota share” semacam menanam saham dengan system bagi hasil dan bagi Rugi atau Kopdit hanya menyediakan gedung saja dengan system sewa oleh usaha Bersama.

Jadi Kopdit tidak menanggung rugi, jika rugi dan tidak mendapat deviden jika laba, tetapi hanya mendapakan penghasilan dari sewa gedung yang dipakai oleh usaha bersama tadi. Sektor perdagangan ini banyak hal yang harus dicermati dan harus dilalui dengan baik. Misalnya penyediaan barang lewat supplier, harus mengikuti system yang sudah dijalankan oleh supplier dimana ada masa penjajakan dan percobaan terhadap Koopmart yang baru dan setelah beberapa tempo baru diberikan discount.

Supplier banyak dari Pulau Jawa, nah pengangkutan barang dari jawa Ke NTT harus dalam jumlah besar karena juga akan menghitung efisiensi biaya atau ongkos kirim yang demikian jauh. Bila Kopdit – Puskopdit mau melakukan sektor perdagangan sebaiknya bertindak sebagai agen saja, sedangkan yang membuka toko kelontong adalah anggota Kopdit. Puskopdit hanya menyalurkan barang dari supplier ke toko-toko kelontong milik anggota Kopdit, sehingga yang dibutuhkan hanya gudang sementara. (***)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *