Koperasi Credit Union Harus Melihat Kemiskinan di Tengah Masyarakat

Koperasi Credit Union dipandang sebagai lokomotif pemberdayaan ekonomi, terutama pada masyarakat kecil. Koperasi Credit Union Sauan Sibarrung yang didirikan pada Desember 2006, di Paroki Makale, atas prakarsa Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Makasar juga telah ambil bagian dalam gerakan pemberdayaan ekonomi rakyat, terutama di masyarakat Tanatoraja, Sulawesi Selatan.

Sampai akhir Februari 2013, menurut Sang Ketua, Romo RD Fredy Rante Taruk, jumlah anggota Credit Union (CU) Sauan Sibarrung sudah mencapai 22.398 orang dengan aset sebesar Rp 198 miliar lebih, dan memiliki 11 kantor tempat pelayanan. Namun diakui, berkembangnya jumlah anggota dan aset yang demikian pesat, tidak dapat menjamin bahwa CU telah mampu mengangkat masyarakat dari kemiskinan. CU dapat terjebak sekedar Koperasi Simpan Pinjam (KSP), tempat menumpuk aset, bahkan bisa terjebak dalam pusaran kapitalisme semu.

Itulah sebabnya pada 2010 Sauan Sabarrung mengambil sebuah langkah berani, mengubah visinya, Credit Union bukan hanya lembaga keuangan, tetapi juga memberdayakan. Maka visinya dari Menjadi Lembaga Keuangan menjadi Lembaga Pemberdayaan Hidup Masyarakat Toraja. CU Sauan Sibarrung memberdayakan anggota dengan pelayanan keuangan untuk membantu anggota mencapai tujuan dan aspirasi hidupnya. Karena itu Sauan Sibarrung memberdayakan anggota dengan upaya meningkatkan pendapatanya, dan mendorong usaha-usaha mereka sehingga dapat membantu anggota keluar dari lingkaran kemiskinan.

“Kami bersepakat, harus turun ke lapangan, tidak boleh hanya di dalam kantor menerima setoran uang. Harus melihat kami lakukan. Memang asih ada kekurangan, tetapi sampai sekarang terus berproses,” Jelasnya seraya menambahkan bahwa Credit Union memberdayakan anggotanya dengan pendidikan-pendidikan, pendampingan, penyadaran, pendidikan dan pelatihan teknis cara membuat pupuk organik, dan cara membuat produk-produk lainnya. Semua itu dibiayai oleh koperasi.

Ide memberdayakan orang miskin ini memang lain daripada yang lain, ketika kita bicara tentang orang-orang miskin di sekitar kita. Tahun 2009 pengurus CU Sauan Sibarrung mengutus seorang stafnya belajar CUMI di CU Lantang Tipo. Yang sangat membanggakan, ketika yang bersangkutan kembali ke Toraja mempraktekan apa yang dipelajari di Lantang Tipo. Sejak 2009 itu pengurus mengindentifikasi berbagai masalah. Kesimpulannya bahwa tabungan unggulan bunga 12% – 15% waktu itu mengundang beberapa pihak datang menumpuk duitnya di koperasi. Dengan bunga demikian besar, menitipkan Rp 100 juta, bisa dapat bunga Rp 1,25 juta. Sehingga banyak orang mengambil uangnya di bank kemudian menumpuk di koperasi. Maka kelihatan antara si kaya dan si miskin. Itu perilaku-perilaku kapitalistik. Yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin. Orang-orang kaya itu tidak cooperative.

Beberapa tahun terakhir kita fokus pada tujuan keuangan. Credit Union ini bagus karena memikirkan financial distination, bagaimana pensiun dan seterusnya. Tetapi yang terlupa bahwa perjuangan kita juga ada unsur sosial. Dalam evaluasi menggunakan analisis PEARLS, tepat untuk mengukur kesehatan CU. Tetapi belum cukup untuk mengukur intervensi sosial kita kepada kemiskinan di tengah masyarakat. CU ini bagus, asetnya sekian, kredit lalainya hanya sekian. Tetapi tidak bisa mengukur berapa orang miskin yang sudah dibantu oleh Koperasi ini. Sehingga yang dilupakan adalah unsur sosial dari koperasi itu.

Pada tahun 2013 ini CU Sauan Sibarrung mengambil beberapa strategi untuk mewujudkan visinya sebagai lembaga pemberdayaan berbasis komunitas. Pertama, memperbaiki sistem rekrutmen anggota, dengan lebih memfokuskan penerimaan anggota pada kelompok basis atau komunitas lokal dengan prioritas kepada kaum petani, ibu rumah tangga, pegawai kecil, dan masyarakat marjinal lainnya. Mereka yang direkrut tidak langsung menjadi anggota, tetapi terlebih dahulu harus mengikuti pendidikan dasar selama 16 jam sebelum diterima secara resmi sebagai anggota.

Kedua, wilayah pengembangan ditata dengan baik, berbasis komunitas. Karena itu wilayah pengembangan yang dipilih adalah wilayah-wilayah yang berada dalam jangkauan kerja staf manajemen. Yang dipilih hanya beberapa wilayah, terlebih dulu di Toraja sebagai basis pengembangan, dan tidak mengembangkannya ke tempat-tempat di luar jangkauan pelayanan.

Ketiga, Sauan Sibarrung semakin aktif menggiatkan pendampingan pelaku usaha kecil di pasar dengan program CUMI, kelompok petani padi, kelompok petani sayur, kelompok peternak dan kelompok-kelompok binaan lainnya yang pada saat ini sedang dibentuk, dan diperkuat. Program lain yang sangat menarik yaitu pembinaan Kampung Wisata. Tahun 2013 Sauan Sibarrung membuat sosialisasi pembentukan 7 kampung yang akan menjadi komunitas CU, sekaligus juga menjadi Kampung Wisata. Dengan program ini, kata Romo Fredy, ingin memberdayakan seluruh potensi yang dimiliki masyarakat dalam satu komunitas kampung, mendorong untuk meningkatkan tata kelola hidup mereka, dan meningkatkan pendapatan dari potensi yang dimiliki.

“Potensi wisata di Toraja cukup baik. Kami sudah datangkan konsultan dari Jogya yang telah berpengalaman di Selaman, Jogya dan sekitarnya. Sebuah kampung supaya masyarakatnya bergiat, potensi alam, potensi kesenian, potensi budaya digiatkan. Masyarakat juga memperbaiki rumah mereka untuk home stay – penginapan para turis domestik maupun mancanegara. Mudah-mudahan kelak para turis juga menginap di rumah-rumah anggota Koperasi Sauan Sibarrung. Ide yang sangat berani ini mengundang banyak pihak berkomentar: “Aneh-aneh ini CU, dia urus Kampung Wisata.” Ini adalah sebuah proses, mudah-mudahan ada kebaikan dari sana (Allah)” urainya.

Sejak tahun 2009 CU Sauan Sibarrung mengajak anggotanya untuk back to basic, kembali ke muasal Credit Union, pemberdayaan dalam kelompok komunitas. Menurut penjelasan Wakil Ketua CU Sauan Sibarrung, AnthoniusPararak, S.S,M.Si, sekarang ini untuk kelompok petani padi sudah 75 kelompok dengan anggota 524 orang, lakilaki 227 orang dan perempuan 227 orang. Petani jagung 13 kelompok anggotanya 106 orang, terdiri dari laki-laki 49 orang dan perempuan 57 orang. Peternak babi 13 kelompok, 97 anggota, 40 orang laki-laku dan 57 orang perempuan. Kemudian pelaku usaha kecil di pasar 34 kelompok terdiri dari 35 laki-laki dan 274 perempuan.

Yang menarik bahwa pinjaman mereka cukup besar per Maret 2013 sudah mencapai Rp 5 miliar lebih. “Dan yang membanggakan, kredit lalainya Nol %,” jelasnya. Para pedagang pasar di Makale, Palopo yang didampingi ada yang jualan tempe, sayur-mayur, bumbu, telor, buah-buahan, kelapa, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Di tahun 2013, kata dia, direncanakan membentuk lagi 102 kelompok yang tersebar di 11 kantor pelayanan, ada petani sawah, petani jagung, petani sayur, peternak babi dan industri rumah tangga. Untuk petani sawah paling besar 51 kelompok.

Yang dimaksud dengan komunitas sebenarnya kelompok 5 – 10 orang yang sudah saling kenal, saling percaya, punya keinginan kuat untuk mengembangkan diri dan ketrampilan, kerja sama mengembangkan usaha, memiliki usaha yang sama, dan lokasi yang berdekatan. Hamparan sawah berdekatan, mereka berkelompok, pinjam kredit dan angsurannya juga berkelompok. Tahun buku 2012, di Sauan Sibarrung ada pelaku usaha CUMI 3 tempat pelayanan (TP), petani sawan 4 TP, petani jagung 2 TP, peternak babi 4 TP.

Dikembangkannya sistem kelompok, menurut Antonius, karena awal mula Credit Union itu berkelompok. Mereka saling mengenal, kalau mau pinjam minta izin dulu sama yang punya duit. Kalau tidak diangsur mau pinjam lagi tidak boleh. Di internal CU mudah, terukur dan terkontrol. Nilai-nilai yang dibangun dan dipraktikkan sangat manusiawi, yaitu kejujuran, kepercayaan, kerja sama, solidaritas dan disiplin. Kelompok kecil dengan 5 – 10 orang anggota akan lebih mudah kerja sama dan mengembangkan potensi mereka. “Dari rentang control, CU akan dipermudah oleh pengurus kelompok yang datang membawa angsuran anggota kelompok ke CU, sehingga kita tidak perlu lagi ke sawah. Mereka yang datang membawa angsuran,” jelasnya.

Pinjaman diminimalisir yang konsumtif. Di Toraja, ancaman konsumtifisme itu sangat tinggi. Masyarakat sering potong babi, potong kerbau, yang bisa menghabiskan dana Rp 15 juta – Rp 20 juta. Mereka pinjam untuk biaya pendidikan tetapi sampai di rumah untuk beli kerbau. Ini yang susah diukur. Sehingga dibentuk kelompok dan mereka membuat Rencana Kredit Kelompok (RKK) terlebih dulu. Apakah pinjaman itu betul-betul untuk beli benih, beli pupuk, dan seterusnya, bisa kontrol. Satu kelompok petani, misalnya, pinjaman sesuai dengan karakteristik usahanya, dan pengembaliannya pun diangsur ketika telah panen. Panen padi 4 bulan sekali. Sehingga mereka katakan; “Ini sangat tepat bagi kami. Nanti ada duit baru dikembalikan ketika panennya berhasil.” Sistem tanggung renteng terbukti sangat efektif mendisiplinkan anggota. Satu tidak berhasil, gagal panen teman-teman yang lain harus ikut menanggung bersama.

Resiko kegagalan panen memang membuat petani cukup cemas. Karena itu kalau panen mereka diharuskan memiliki Dana Cadangan Resiko (DCR) Kelompok sehingga ketika gagal panen satu anggotanya, maka DCR inilah yang digunakan untuk menutupi kerugian gagal panen. “Jika CU-CU Primer dalam koordinasi BKCU Kalimantan mampu menyediakan perlindungan asuransi bagi anggota yang sudah meninggal, mengapa kita tidak bekerja sama untuk melindungi petani yang masih hidup ketika mereka gagal panen. Bukankah gerakan ini akan semakin meningkatkan martabat anggota Credit Union selama mereka masih di dunia,” tutur Anthonius.

Untuk semakin memperkuat dan mengembangkan kelompok, CU Sauan Sibarrung terus berupaya menciptakan strategi-setrategi baru, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia. Strategi yang paling jitu dalam pemberdayaan komunitas adalah memperkuat pendidikan. Program tahun 2013 Sauan Sibarrung akan mengadakan pendidikan bagi anggota sebanyak 428 kali. Di antaranya adalah 28 kali pendidikan Financial Literacy, 192 kali pendidikan dasar, 242 kali pendidikan motivasi, diklat kewirausahaan 11 kali dan diklat pertanian – peternakan 9 kali. Ditargetkan ada sekitar 19.280 orang calon anggota dan anggota akan ikut pendidikan tersebut.

Untuk menindaklanjuti visi CU Sauan Sibarrung sebagai lembaga pemberdayaan pada tahun ini mengangkat Komite Pemberdayaan dalam struktur organisasi. Untuk kegiatan di lapangan menunjuk 2 orang staf yang bertugas mengawal kegiatan-kegiatan pembinaan kelompok-kelompok binaan. Selain itu, untuk mendukung gerakan pemberdayaan berbasis komunitas ini 20 anggota kelompok inti yang ada di setiap kantor pelayanan, 50% di antara mereka diberikan pendampingan dan pelatihan agar mereka mampu memberikan pendampingan dan penyuluhan terhadap kelompok-kelompok binaan. Diakui Romo Fredy, bahwa dari Koperasi Credit Union sendiri masih kurang pendamping, penyuluh, terutama penyuluh pertanian dan peternakan.

“Cita-cita mulia ini diharapkan mendapat dukungan dari semua pihak, seperti lembaga mitra, pemerintah dan gereja. Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dewasa ini, khususnya mereka yang miskin, dan mereka yang menderita adalah juga kegembiraan dan harapan. Duka dan kecemasan sangat tipis batasnya,” tutur Romo Fredy. (my)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *