Koperasi dan Perseroan Terbatas

Oleh: Abat Elias*)

Topik di atas diangkat untuk memberikan sedikit pencerahan tentang mindset masyarakat koperasi Indonesia tentang keberadaan koperasi selama ini dimana fakta menunjukan bahwa koperasi Indonesia selalu berjalan ditempat dalam arti pertumbuhan dan perkembangan sangat kecil bahkan semakin lama semakin menurun. Kebanyakan orang-orang koperasi Indonesia jika mendengar ide untuk membuat PT (Perseroan Terbatas) selalu didahului dengan pikiran yang negative dan biasanya diasosiasikan bahwa koperasi sudah mulai kehilangan filosofisnya dan  akan merubah menjadi kapitalis, namun disatu pihak kenyataan bahwa koperasi berjalan ditempat tetapi tidak pernah ada usaha untuk mencari penyebab dan mengusulkan solusi yang terbaik. Hal ini dipengaruhi oleh pikiran orang-orang koperasi Indonesia yang sudah berada dalam kotak/blok (thinking in the block) dimana koperasi disamakan dengan system sosialis dan PT. disamakan dengan sistem kapitalis.

Pada zaman high-tech communication sekarang ini, kedua perangkat ekonomi tersebut sudah tidak lagi terkotak-kotak seperti mindset orang-orang koperasi Indonesia 40 tahun yang lalu yang saat itu terjadi perang dingin antara yang mendukung blok timur dengan sistem ekonomi sosialis dan blok Barat  dengan sistem ekonomi kapitalis. Ahli-ahli ekonomipun saat ini berpikir ulang secara kritis dan sudah mulai menggeser ketengah, tidak lagi ekstrim ke kiri atau ke kanan. Hal ini dibuktikan bahwa Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melihat  koperasi adalah suatu lembaga ekonomi yang lebih adil dan tidak serakah seperti yang lain sehingga ditetapkan tahun 2012 menjadi tahun Koperasi Dunia (International Years Cooperative = IYC). Disamping itu juga Perseroan Terbatas dunia juga menggalangkan usaha-usaha Good Covernance Coorporation = GCG dan salah satu kegiatan yang sangat digencarkan saat ini adalah program CSR= Coorperation Social Resposibility = Tanggung jawab sosial Perusahaan) terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Dari latar belakang tersebut diatas maka dapat kita simak bahwa sebenarnya koperasi dapat berkembang lebih cepat dibandingkan dengan PT. tetapi dengan syarat bahwa mindset (pola pikir) orang-orang koperasi Indonesia harus berubah dimana nilai-nilai kebersamaannya harus tetap diperkuat sehingga dapat bersaing dengan sehat dengan pelaku ekonomi yang lain (Swasta dan BUMN), selalu mengikuti perubahan dan arah perkembangan pola pikir masyarakat dunia dengan melihat “kegagalan” sistem ekonomi kapitalis akhir-akhir ini sehingga sebagian Negara Barat yang kurang stabil menganut system kapitalis sempat kedodoran seperti Yunani, Spanyol dan beberapa Negara Eropa lainnya. Dengan bangkitnya Ekonomi China (Tiongkok) dan menjadi pasar terbuka yang awalnya sosialis menjadi pesaing baru bagi ekonomi Negara-negara Asia lain yang menganut Kapitalis seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Malaysia dan Indonesia. Walaupun Negara-negara Barat menerapkan sistem kapitalis namun Koperasinya tetap berjalan bahkan pertumbuhan koperasi-koperasi tersebut jauh lebih baik pada saat krisis ekonomi dunia sejak tahun 2008.

Koperasi dan Perseroan Terbatas.

Kita ketahui bahwa ada 300 koperasi terbesar dunia semuanya berada dinegara-negara yang sistem ekonominya kapitalis dan coba kita simak satu persatu keberadaan koperasi tersebut, ternyata sebagian besar koperasi-koperasi tersebut merupakan Holding Company dimana mereka memiliki beberapa Perseroan Terbatas sebagai anak perusahaan sehingga Peresoan tersebut dapat bersaing dengan Perusahaan-perusahaan Swasta maupun BUMN dinegaranya masing-masing. Koperasi-koperasi (CUs) di Canada memiliki Perseroan Terbatas yang dimiliki oleh Koperasi Primer maupun Sekundernya dan mereka memiliki jaringan yang kuat dan kokoh diseluruh wilayah negaranya karena terikat dalam keanggotaan Credit Unions mereka. Jadi dapat dikatakan bahwa “Koperasi dapat memiliki Perseroan Terbatas tetapi Perseroan Terbatas tidak akan pernah memiliki Koperasi” karena koperasi hanya dimiliki oleh anggota perorangan dan koperasi-koperasi primernya.

Koperasi-koperasi di Negara-negara tersebut menjalankan usaha/bisnis mereka tetap mengikuti Jatidiri koperasi dan didalam jatidiri koperasi tidak pernah ada larangan untuk  memperoleh profit atau keuntungan. Justru dengan adanya keuntungan akan meningkatkan deviden atau balas jasa bagi anggota dan dapat mempertahankan kehidupan koperasi itu sendiri dengan meningkatnya asset dan modal lembaga (Institusion Capital). Bahkan ada Negara Eropa yang tidak memiliki Undang-undang Koperasi tetapi mereka cukup taat pada Jatidiri Koperasi dan peraturan tataniaga yang lain dan mereka tidak banyak diatur oleh regulator sehingga mereka dapat bergerak lebih leluasa sehingga dapat bersaing dengan badan usaha yang lain. Sebenarnya di Indonesia sudah ada tetapi tidak pernah diangkat sebagai praktek yang baik (Best practisis), bahkan dianggap tabu oleh beberap pihak dengan mengatakan keluar dari jatidiri koperasi. Hal ini membuktikan bahwa mind set kita (orang Indonesia) dalam hal berkoperasi masih terbelakang alias ketinggalan jaman (kuno).

Koperasi-koperasi di Negara Barat diberi kebebasan untuk berinvestasi namun ada batas tertentu misalnya hanya 5 s/d 10% dari total Asset. Jika Assetnya berkembang maka Investasi juga bisa bertambah, hal ini berpeluang bagi koperasi-koperasi yang jumlah anggotanya sedikit sehingga memanfaatkan pinjaman terbatas namun dana mereka berkelimpahan. Sebagian besar investasi mereka menggunakan jaringan koperasi yang sudah ada sehingga resiko investasinya seminimal mungkin karena sudah ada ahli Investasi pada jaringan koperasi tersebut. Bagaimana dengan praktek koperasi di Indonesia?

Di Indonesia sudah banyak koperasi yang mendirikan anak perusahaan dalam bentuk PT, koperasi-koperasi Fungsional, Koperasi karyawan maupun dilingkungan koperasi Pegawai Negeri, misalnya dari IKPN ada PT. Bank Kesejahteraan Ekonomi dimana Alm. Bapak Ibnu Sudjono pernah menjadi Komisaris Bank tersebut. Yang disarankan agar tidak dilakukan adalah suatu Koperasi menjalankan berbagai macam usaha, karena menjadi tidak fokus sehingga pasti salah satu usahanya akan gagal atau dua-duanya gagal. Ada beberapa kopdit ditanah air mencoba melakukan kegiatan wirakop, hasilnya tidak optimal bahkan sudah mulai menggagu perkembangan kopdit itu sendiri dan akhirnya bermasalah. Sekarang timbul pertanyaan apakah Gerakan Koperasi dapat membentuk Hoding Company? Mengapa tidak! Holding tidak hanya bisa dilakukan oleh PT, koperasi juga bisa (sampai saat ini tidak ada undang-undang untuk melarang hal itu) kalaupun itu ada maka itu merupakan bentuk diskriminasi atau penindasan terhadap keberadaan koperasi.

Keuntungan Perseroan Terbatas yang dimiliki Koperasi dibandingkan dengan Perseroan Terbatas yang dimiliki perorangan;

  1. PT.Koperasi sudah memiliki pasar potensial yaitu anggota-anggotanya sedangkan Perusahaan perseorangan harus berjuang untuk mencari pasar
  2. Jika anggota koperasi dan jaringan semakin luas maka  PT.Koperasi juga pangsa pasarnya semakin luas sehingga tidak terlalu membutuhkan biaya iklan yang besar untuk meluaskan pangsa pasar.
  3. PT.Koperasi dapat membentuk anak perusahaan dalam bentuk Perseroan Terbatas dan dalam bentuk Koperasi, sedangkan PT perorangan tidak dapat memiliki Koperasi, dia hanya bisa mendirikan PT Baru yang merupakan anak Perusahaannya
  4. Koperasi dimiliki oleh anggota perorangan (masyarakat banyak) dan Badan Hukum Koperasi, berarti PT. Koperasi dimiliki oleh masyarakat banyak dan hasilnya didistribusikan kembali kepada anggota (masyarakat banyak), sedangkan PT Perorangan dapat dimiliki seorang dan hasilnya juga hanya dinikmati oleh pemiliknya sendiri sehingga ada kans untuk yang kaya/besar memangsa  yang miskin/kecil.
  5. PT. Koperasi lebih distributive baik hasil maupun masalah, sedangkan PT. perseorang distribusinya kurang, hasil-hasilnya cendrung untuk memperkaya diri sendiri atau keluargannya.

Dengan hal-hal tersebut maka jalan keluar yang paling pas agar koperasi dapat bersaing dengan Perseroan Terbatas maka koperasi-koperasi perlu bersatu untuk membentu PT. Koperasi sehingga kelemahan-kelemahan koperasi selama ini dapat tereleminir dan kekuatan-kekuatannya tetap dipertahankan bahkan harus dikembangkan sesuai dengan perubahan dan kebutuhan jamannya.

*) Abat Elias, mantan GM Inkopdit, sekarang Direktur Pelaksana PT. Graha Inkopdit Bersama (PT.GRINBER).

 

 

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Koperasi dan Perseroan Terbatas

  1. Agung Hermawan says:

    Artikel dan informasinya sangat bermanfaat…
    Terima kasih

  2. ticky ns says:

    bung ijin copas ya…tks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *