Koperasi Menghantar Mereka Meraih Sukses

“Tertarik menjadi anggota koperasi bukan semata-mata butuh modal, tetapi karena Koperasi Pasar (Koppas) Kranggan itu untuk rakyat sekitar – untuk memajukan masyarakat Kranggan, pada umumnya,” kata Saun Rudiyanto, warga asli Kranggan, membuka perbincangan. Menjadi anggota koperasi sejak tahun 2000, waktu itu masih di pasar lama, sebelum Pasar Kranggan Mas dibangun. Sebagai anggota Koppas Kranggan, kali pertama pinjam dapat Rp1 juta. “Waktu itu Koppas Kranggan belum besar,” jelasnya.

Sering dipanggil Bang Saun, tidak menolak juga disapa Mas Rudiyanto, yang semula hanya punya 1 kios, kini telah memiliki 3 kios di Pasar Kranggan Mas, salah satu pasar tradisional terbaik di Kota Bekasi. Dari berjualan di pasar itu sudah bisa beli 2 rumah, 2 mobil, juga berinvestasi tanah yang dibelinya dari sedikit demi sedikit; 100 – 200 meter persegi, kini totalnya 1.000-an meter persegi. Pinjam dari Koppas Kranggan, diangsur secara tertib – tepat waktu dari hasil jualan di pasar. Ayah dari 2 orang putri itu juga bangga dengan putri pertamanya karena sekarang telah menjadi bidan.

Saun Rudiyanto mulai berwirausaha di Pasar Kranggan setelah  keluar kerja dari pabrik keramik KIA di Cileungsi, Bogor, tahun 1998. Meskipun kondisi saat itu krisis ekonomi, banyak perusahaan besar gulung tikar, bangkrut, dan banyak karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), tetapi Rudiyanto keluar bukan di-PHK, melainkan tidak mau dipindah ke Cikarang, jauh dari keluarga. Dia pilih keluar dari perusahaan, tetapi dikasih pesangon. Mengikuti keinginan isteri tercinta, membantu mertua jualan di Pasar Kranggan, dan akhirnya setelah orang tua keluar tidak jualan, Rudiyanto melanjutkan usahanya di pasar.

Sebagai anggota, yang diinginkan dari pengurus Koppas Kranggan juga tidak terlalu muluk-muluk; hanya ingin agar pelayanan kepada anggota semakin baik. Itu dimungkinkan jika pengurus amanah, dan manajemennya ramah. Bila pengurusnya amanah, dan pelayanannya baik, diyakini masyarakat luas percaya kepada Koppas Kranggan sehingga koperasi akan terus berkembang dan maju, bisa membuka cabang lebih banyak lagi untuk melayani masyarakat. Saat ini, di Pasar Kranggan Mas sendiri belum semua pedang menjadi anggota Koppas Kranggan. “Saya sering mengajak teman-teman pedagang, tetapi masih ada yang belum tertarik menjadi anggota. Mereka tak bisa dipaksa, karena menjadi anggota koperasi sifatnya sukarela,” jelas Rudiyanto, seraya menambahkan bahwa sekarang menabungnya hanya di koperasi, tidak mau menabung di bank – menjadi nasabah bank, walau sering dirayu dan diiming-imingi pinjam di bank bunganya lebih kecil daripada pinjam di koperasi.

Sebagai orang asli Kranggan, belasan tahun menjadi anggota dan menikmati manfaat Koppas Kranggan, membuat sikap militansi Rudiyanto menggumpal. Ia tidak rela, dan marah besar jika ada orang yang menjelek-jelekan Koppas Kranggan. “Kalau bukan kita, siapa yang mau memajukan koperasi?” katanya, seraya mengaku bahwa belum lama dia meminjam modal Rp300 juta untuk mengembangkan usahanya.

Bagi Edi Firmansyah, asal Bangka Belitung yang berhasil mempersunting none Pondok Gede, Erni, mengenal nama Koppas Kranggan sebenarnya cukup lama, tetapi menjadi anggota baru beberapa tahun silam. Sejak Koppas Kranggan dipimpin oleh H. Djamil, teman-temannya sudah mengajaknya menjadi anggota, tetapi belum juga tertarik. Dia lebih senang menjadi nasabah bank. Lantaran ketika beli ruko (KPR) kreditnya dari bank, kemudian dijaminkan ke bank.

Edi baru tahu kalau di koperasi itu banyak kemudahan. Pinjaman di koperasi, misalnya, lebih mudah daripada pinjam di bank. Apalagi kalau disiplin menabung, dan tepat waktu mengangsur pinjamannya. Memang, pinjam di bank bunganya relatif kecil dibandingkan pinjam di koperasi. Tetapi di koperasi, di akhir tahun dapat pembagian sisa hasil usaha (SHU), sedangkan di bank tidak. Akhir tahun buku 2016, Edi menerima SHU Rp1,5 juta.

Pinjam di Koppas Kranggan bukan hanya untuk modal usaha, tetapi juga untuk biaya anak sekolah. Pasangan Edi – Erni mengaku kepepet ketika harus membayar uang kuliah anaknya sebesar Rp300 juta. Anak pertama Prisilia Yuliana biasa disapa Miming, anak kedua Kevin Octavianus dipanggil Kevin, keduanya kuliah di Jerman. Miming kuliah di kedoteran sudah 4 tahun, sedangkan Kevin ambil jurusan teknik baru 2 tahun. Si bungsu masih SMP Kelas II. Edi mengaku mengalami kesulitan untuk biaya pendidikan anak-anaknya baru 2 tahun terakhir, sampai terpaksa 3 kali pinjam uang di Koppas Kranggan dengan jaminan BPKB mobil.

Kalau pinjam di bank dalam jumlah besar, agak lama, bisa berminggu-minggu atau sebulan, karena harus disurvey. Di koperasi, kalau dipercaya pengurus, juga punya jaminan, mudah. Karena sudah menikmati manfaat berkoperasi, ketika kepepet bayar anak sekolah tertolong oleh koperasi, ke depan berharap Koppas Kranggan bisa lebih maju lagi sehingga semua anggotanya sejahtera. Ketika kesulitan anggota itu teratasi lantaran mudah pinjam di koperasi, batin mereka pasti sejahtera. Sejahtera tidak semata-mata SHU-nya besar, tertolong ketika mengalami kesulitan juga sejahtera.

Sebagai anggota yang aktif memanfatkan produk-produk koperasi, Edi berencana ingin bangun rumah untuk kos-kosan di atas lahan 400 meter persegi. Pinjam modalnya tidak lagi ke bank, melainkan ke Koppas Kranggan. Dia mengajukan pinjaman modal Rp500 juta. Sertifikat tanah sudah diserahkan tinggal menunggu pencairan dananya. Bikin kos-kosan minimal 20 kamar. Karena lahannya terbatas, dibangun bertingkat, 2 lantai. Menurut perhitungannya, dengan modal Rp500 juta, paling lama 5 tahun sudah pulang modal. Namanya usaha, kepikiran juga jual rumah, kemudian bangun rumah baru, sisanya ditabung di koperasi. Pengembangan usaha lainnya, kuliner. Ruko seluas 180 meter persegi, karena di atas masih kosong akan dijadikan kafe. Di bawah sudah dikontrakkan. Ada 6 orang pedagang yang mengontrak. Ada yang jual sate, mie ayam, bakso, jualan minuman.

Seperti kebanyakan anak-anak muda di perdesaan, termasuk Jaja Sumarja, meski tanpa bekal keahlian dan ilmu yang sangat terbatas, merantau ke kota besar untuk menggapai masa depan yang lebih baik, adalah cita-cita. Setelah membulatkan tekatnya, Jaja yang mengaku anak petani asli Pandeglang, Banten, tahun 1985 merantau ke Jakarta. Nasibnya baik, dia ketemu dengan H. Azis, seorang wirausaha bumbu giling asal Padang, Sumatera Barat, dipekerjakan di kiosnya. Karena jujur, tekun, dan mau kerja keras, Jaja dikepercaya oleh juragannya menunggui salah satu kios di Pasar Kranggan, seperti layaknya kios milik sendiri. Dari situlah Jaja belajar mengelola usaha, khususnya ilmu bisnis perbumbuan.

Melihat Jaja punya bakat bisnis, ketika minta izin ingin usaha sendiri, sang boss pun tak keberatan, namun belum 100% dilepas. Untuk belajar mandiri dikontrakkan kios seharga Rp400.000 setahun, dan dikasih modal Rp527.300.  Selama belajar mandiri ada kewajiban – sistem bagi hasil, lantaran bumbu yang dijual masih ambil dari produksi  sang juragan. Namun omzetnya kala itu, bukan keuntungan, sehari hanya Rp5.000 – Rp 10.000. Kalau inget waktu itu, Jaja sering menangis. Meskipun masa-masa prihatin itu cukup lama, Jaja tidak patah semangat. Dan sekarang omzetnya bisa mencapai Rp25 juta – Rp35 juta sehari.

Setelah semua berjalan dengan baik, Jaja bisa beli mesin giling sendiri, akhirnya sepenuhnya diserahkan kepada Jaja. Untuk memperoleh bahan baku; cabai, lengkuas, kunyit, jahe, kelapa, dan berbagai jenis rempah-rempah lainnya, tidak sulit. Semua bahan baku itu dijual di pasar tradisional. Ketika kebutuhan meningkat, belinya di Pasar Induk Kramatjati. Kalau hari-hari biasa bisa menghabiskan bumbu giling sekitar 1 kw per hari, tapi jelang lebaran biasanya kebutuhan meningkat luar biasa. Dalam 3 – 5 hari bisa habis 2 – 3 ton. Selama seminggu giling terus bikin stock dan langsung dibungkusi.

Tahun-tahun awal ketika belajar mandiri, lantaran modalnya cekak, Jaja terpaksa pinjam ke rentenir. Bunganya mencekik, 20% per bulan. Kalau pinjam Rp1 juta, kembalinya Rp1,2 juta. Habis duit, habis barang, utang belum lunas, akhirnya menyerah. Jalan keluarnya menjadi anggota Koppas Kranggan. Dia sendiri lupa mulai tahun berapa menjadi anggota Koppas Kranggan. Yang diingat, simpanan pokok baru Rp500.000. Setelah resmi menjadi anggota Koppas Kranggan, tidak lama kemudian mengajukan pinjam untuk modal usaha. Pinjaman perdana dapat Rp1 juta, setelah lunas pinjam lagi, lunas pinjam lagi. Dan sejak saat itu yang namanya renternir diceraikannya. Dari modal Rp1 juta, Jajak kini punya 17 kios. Yang dikelola sendiri 13 kios, 4 kios lainnya dikontrakkan. Jumlah karyawan 15 orang. Karena tertib menabung, dan disiplin – tepat waktu mengangsur pinjaman, Jaja boleh pinjam modal ratusan juta. Terakhir pinjam di Koppas Kranggan Rp600 juta.

Jaja juga berhasil membeli sebidang tanah, seluas 500 meter persegi yang kemudian diwakafkan untuk masjid, dan 1.000 meter persegi lainnya masih kosong, untuk persiapan hari tua. Karyawan yang telah dimandirikan, punya kios sendiri, plus bisa punya rumah sendiri sudah 5 orang. Semua itu adalah ungkapan terima kasih kepada orang (H. Azis) yang telah membukakan jalan sukses yang telah dicapainya.

Anggota Koppas Kranggan bukan hanya para pedagang yang berjualan di Pasar Kranggan, tetapi juga pemilik warung kelontong di kampung-kampung, pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di luar pasar, di pinggir-pinggir jalan. Bahkan kemudian tidak terbatas pedagang, tetapi juga yang punya kegiatan produktif lainnya, seperti  Sutarno pemilik usaha bengkel las Pamreh Mulya, yang mengerjakan pembuatan pagar besi, kanopi, rolling door, tangga putar, dan sebagainya. Tidak ingat sejak kapan menjadi anggota Koppas Kranggan, yang jelas sudah lama. Sutarno mengaku, ketika ada petugas dari Koppas Kranggan menawari menjadi anggota, tak serta merta tertarik menjadi anggota. Dalam benaknya ada keragu-raguan; apa benar koperasi itu bisa maju? Pikiran itu bisa dimaklumi karena image koperasi di masyarakat memang kurang baik. Koppas Kranggan sendiri pernah mengalami salah kelola sehingga kehilangan kepercayaan.

Namun keragu-raguannya sirna setelah melihat semakin banyak orang yang menjadi anggota, dan semua berjalan lancar. Yang membuatnya yakin, kemudian mendaftar menjadi anggota, bahkan diikuti teman-teman lainnya, lantaran figur Anim Imauddin, S.E., M.M. sebagai ketua, juga seorang tokoh yang dipercaya masyarakat Kranggan. Maka ketika ditawari lagi menjadi anggota, segera mendaftar dan membayar simpanan pokok Rp350.000. Sebelum menjadi anggota koperasi, Sutarno mengaku perkembangan usahanya berjalan lambat karena modalnya kurang. Setelah menjadi anggota koperasi, pinjaman pertama Rp20 juta, lunas pinjam lagi, lunas pinjam lagi semakin besar, pinjam terbesar Rp120 juta usaha bisa berkembang cukup baik.

Ada pengalaman menarik, yang membuat Sutarno merasa nyaman menabung di Koppas Kranggan, khususnya di Tabungan Cempaka. Suatu hari Sutarno mau beli mobil, ditawar tidak dikasih. Waktu itu uangnya masih di saku. Karena nawar mobil tidak boleh, takut uangnya habis segera ditabung di Tabungan Cempaka. Dua jam kemudian ditelepon dari yang jual mobil, katanya, mobil boleh diambil. Sutarno sempat bingung, karena uang terlanjur ditabung. Apa boleh buat, karena Tabungan Cempaka boleh diambil sewaktu-waktu, uang yang baru masuk laci kasir, diambil lagi. Dan boleh. “Yang malu saya, nggak enak hati baru ditabung diambil lagi,” kata Sutarno berterus terang. Lega bisa membayar mobil, tidak diomeli orang. Pengalaman itu semakin membuatnya percaya terhadap Koppas Kranggan. Koperasi menurut Sutarno, benar-benar membantu orang-orang kecil terutama yang membutuhkan modal usaha. Banyak contoh pedagang yang dibantu koperasi usahanya semakin berkembang.

Seperti wirausaha kecil pada umumnya, Sutarno juga tidak tahu pasti berapa omzet dan keuntungan yang diperoleh setiap bulan. Omzet kotor memang besar, tetapi keuntungannya kecil. Namun yang jelas usaha terus berjalan baik, bisa membayar gaji 6 karyawan, tercukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Lebihnya ditabung, dan sudah bisa beli tanah. Punya tanah 500 meter persegi, punya rumah 4 petak kontrakan, dan 2 rumah besar yang ditempati untuk keluarga sendiri. Sebelumnya, jangankan punya rumah, tempat usaha saja kontrak, Rp600.000 per tahun, tetapi sekarang telah terbeli sehingga menjadi milik sendiri.

Bagi Jayadi Amir mantan supervisor SPBU yang berbisnis pakaian, khususnya seragam SPBU; kaos, baju, celana, jaket, sepatu, dan topi berlogo Pertamina, sebelum menjadi anggota Koppas Kranggan sudah menikmati manfaat koperasi, karena sebagai binaan sudah boleh pinjam. Kala itu, sebagai usaha mikro, belum punya lembaga, CV, misalnya. Sehingga belum bisa mengajukan pinjaman ke bank. Sangat bersyukur, pimpinan Koppas Kranggan memberikan kebijakan, tidak saja boleh pimjam modal usaha, tapi juga dibina. Menjadi calon anggota belum lama, lantaran ber-KTP Kranggan, yang membina juga orang Kranggan, ketika mengajukan pinjaman modal Rp10 juta dikabulkan.

Kemudahan itu tidak disia-siakan, bahkan menjadi cambuk untuk bekerja lebih giat. Sehingga usahanya berkembang pesat. Sebagai rasa tanggung jawab dan syukur, cara yang terbaik mengangsur pinjaman tertib, dan tepat waktu. Itu pula yang menjadi pertimbangan manajemen koperasi, ketika dia mengajukan pinjaman kedua Rp50 juta juga dikabulkan. Parameter lain usahanya berkembang. Keuntungan bersih bisa dicapai Rp17.5 juta per bulan.

Saat ini pelanggannya 60 SPBU. Melayani jejaring SPBU, SPBG, dan SPBE (Elpiji) memang yang utama, tetapi konsumen dari kelompok komunitas seperti klub motor, misalnya, juga menjadi target marketing. Bisnis di pom bensin itu lebih untung, sebab barang diterima langsung dibayar tunai. Seperti halnya orang isi bensin, selesai langsung bayar, tak ada kas bon. Sebelum menemukan lahan bisnis yang sangat menjanjikan, pernah berjualan sandal, dan sepatu. Lantaran banyak yang ngutang – ngemplang, tidak bayar, akhirnya putar haluan.

Jejaring di SPBU telah terbangun sejak masih menjadi supervisor, sering kumpul dengan sesama supervisor, dan sering ketemu ketika diundang rapat di Pertamina. Membagi kartu nama salah satu promosi yang cukup efektif. Sebelum keluar dari pekerjaan memang sudah berjualan. Bisnis seragam SPBU pesaingnya tidak banyak. Kalau beli di koperasi Pertamina satu stel harganya bisa mencapai Rp160.000 sedangkan harga di Jaya Sentosa Mandiri hanya Rp120.000. Bagi SPBU, SPBG, dan SPBE yang sudah lama diperbolehkan mencari seragam dari orang lain yang harganya lebih murah, yang penting kualitasnya sama. Logo, ukuran tas dan bordir pun harus standar – sama seperti produk Pertamina. Kecuali baju promo, yang biasa dipakai oleh pengawas untuk nyantai. (adt)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *