Koperasi Merindukan Kemitraan Dengan Bulog

Beberapa tahun terakhir bermunculan Kopmart dan CU Mart, atau koperasi retail. Pertumbuhannya cukup signifkan menyebar ke berbagai daerah; Pontianak, Sintang, Jogya, Bantul, Sleman, Purwokerto, Lampung, Makassar, Palangka Raya, Bandung, Jakarta, Surabaya, Maumere, Medan dan sebagainya. Kopmart termasuk jenis koperasi konsumen – serba usaha. Saat ini belum ada data terpilah berapa banyak Kopmart di Indonesia. Tahun 2016 telah terbentuk Induk Koperasi Retail (Inkur). Bertepatan palaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) perdana Mei 2017 yang diselenggarkan di Wisma Inkopdit, Jakarta, Deputi Menteri Koperasi dan UKM Bidang Kelembagaan, Meliadi Sembiring, menyerahkan langsung Badan Hukum (BH) Inkur.

Apa bedanya Kopmart dengan Koperasi Serba Usaha (KSU) yang juga punya toko dan menyediakan barang kebutuhan sehari-hari untuk melayani anggota dan masyarakat umum? Barang-barang yang dijual di Kopmart sebagian besar juga seperti yang dijual di toko-toko KSU, produk kapitalis. Paham kapitalis sangat dibenci gerakkan koperasi, tetapi produknya tetap disenangi. Sedangkan produk usaha kecil menengah (UKM) hanya sebagai suplemen kecil, seperti nasib koperasi dalam perekonomian Indonesia. Padahal, produk apa yang tidak dihasilkan UKM? Kualitasnya kurang baik, itu yang dijadikan alasan pemilik Kopmart dan CU Mart untuk tidak cukup luas membuka ruang bagi produ-produk UKM. Karenanya jangan berharap produk-produk UKM akan semakin berkualitas, jika gerakkan koperasi yang anti kapitalis juga tidak mau memberi kesempatan tumbuh dan berkembang dengan membuka ruang tokonya lebih luas?

Suatu hari Majalah UKM berkesempatan bincang-bincang dengan salah seorang praktisi koperasi, H Sugiharto, yang 40 tahun silam bersama kelompok arisan di RT-nya mendirikan KSU Tunas Jaya. Tentang Kopmart yang kini terus bermunculan dia mengaku sama sekali belum dapat informasi. Kopmart dulu, kata dia, pada dasarnya jejaring Alfamart bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Tujuannya agar koperasi-koperasi yang memiliki unit usaha toko, seperti KSU bisa bekerja sama dengan Alfamart.

Sebagai pilot proyek, di kantor-kantor Dinas Koperasi dan UKM tingkat Provinsi – Suku Dinas (Sudin) Kota dibuka mini market yang suplai barang-barang sepenuhnya dari Alfamart. Namun, karena modelnya franschise, persyaratannya pun rumit tidak banyak koperasi yang tertarik. Waktu itu koperasi lebih banyak bekerja sama dengan perusahaan lain, Omi. “Kopmart yang sekarang apakah berdiri sendiri atau berafiliasi dengan Alfamart atau Indomaret,” saya sama sekali tidak tahu,” jelas Sugiharto.

Semakin banyaknya Kopmart – CU Mart karena didukung adanya kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) yang cukup kondusif. Banyak Pemda tidak memberikan izin baru bagi mini market. Pemda Kabupaten Sleman, misalnya, bahkan mengurangi jumlah mini market (Alfamart dan Indomaret) sampai 50% dari 180 yang ada kini tinggal 91 saja. Kemudian mereka didorong menjalin kerja sama dengan koperasi. Maka bermunculan Kopmart dengan warna cat toko yang belum berubah dari brand Alfamart, meski sudah menggunakan nama baru.

Sebagai pebisnis, jejaring Alfamart – Indomaret mudah saja mengubah strategi bisnisnya. Sedikit demi sedikit mengurangi autletnya yang sebagian besar hanya kontrak ruangan, dengan tidak memperpanjang lagi kontrak-kontrak yang sudah habis, kemudian bekerja sama dengan koperasi. Syaratnya, manajemen, system, maupun distribusi barang tetap saja dikendalikan oleh jejaring kapilatis tersebut. Di Jakarta ada beberapa Kopmart dan toko koperasi di luar KSU yang telah bekerja sama dengan jejaring Alfamart. Misalnya, mini market milik; Kokarga, Swadarma, Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ) Kopmart UIN, CU Mart Mandiri Sejahtera, dan masih banyak lagi. Sehingga item barang yang dijual lebih lengkap, dan penataan displainya lebih menarik.

Kalau beberapa daerah mengeluarkan kebijakan tidak memberikan izin baru membuka Alfamart atau Indomaret, atau menutup yang kontraknya sudah habis, di Sumatera Barat (Sumbar) kebijakan Gubermur tegas melarang masuknya hypermart dan mini market Alfamart – Indomaret. Kebijakan itu dilaksanakan oleh semua Bupati dan Walikota, sehingga di Padang, Bukit Tinggi, Sawahlunto, dan kota-kota di Sumbar lainnya sama sekali tidak ada Alfamart dan Indomaret. “Yang ada Minangmart,” jelas Sugiharto yang 2 tahun silam diajak Pemda DKI Jakarta study banding ke Sumbar.

Tidak diberikannya kesempatan Hypermart, Lotemart, Carreffour, Alfamart dan  Indomaret masuk ke Sumbar karena dikawatirkan akan membunuh pasar tradisonal dan warung-warung kecil. Namun, bukan berarti di Sumbar tidak ada toko-toko modern. “Ada departemen store, mall dan mini market namun semua milik pengusaha Minang. Hal itu bisa terjadi, tergantung kebijakan pemerintahnya; gubernur, walikota dan bupati. Persaingan itu boleh-boleh saja. Tetapi harus ada batas jumlah, batas wilayah dan kepemilikan agar persaingannya sehat dan kesenjangan bisa dikendalikan. Sekarang, batas wilayah, batas jumlah dan kepemilikan tidak ada. Nama perusahaan beda-beda, tapi pada dasarnya pemiliknya satu orang. Akibatnya kesenjangan makin melebar,” jelas Sugiharto.

Kendala yang dialami toko kelontong, warung-warung kecil, termasuk koperasi, kata dia, masalah suplai barang yang jalurnya terlalu panjang. Akibatnya harga menjadi mahal, sehingga tidak mampu bersaing. Soal distribusi, pabrik hanya memproduksi, distributornya ada perusahaan tersendiri. Alfamart dan Indomaret, punya perusahaan suplai PT X yang mengakses ke pabrikan. PT X inilah yang kemudian mendistribusikan kepada outlet-outlet tersebut.

Untuk bisa kerja sama dengan pabrikan, tidak mudah. Banyak persyaratan antara lain; jumlah minimal barang yang harus diambil, harus punya gudang, dan bank garantie. Sekunder (Pus) KSU semula diharapkan mampu berperan sebagai distributor bagi primer-primer KSU. Namun kenyataannya sekunder KSU tidak mampu. Kini, ada celah baru. Koperasi Karyawan (Kopkar) Bukopin setelah membuka outlet-outlet mart di setiap kantor cabang, khususnya di Jawa – Bali, termasuk melayani untuk ngopi, kongkow-kongkow ala 7Eleven (Sevel) yang kini telah resmi tutup buku di Indonesia, juga menawarkan kerja sama kepada KSU Tunas Jaya dan koperasi-koperasi lain yang penting punya ruang untuk buka outlet.

“Saya tertarik. Tetapi, karena outlet mart itu di lingkungan kantor, barang-barang yang tersedia masih relatif tertentu, belum menyangkut kebutuhan pangan. Jika pun ada baru sebagian kecil. Belum ada beras, tepung terigu, minyak sayur, gula masih sedikit. Itu kendalanya. Sedangkan koperasi di masyarakat seperti KSU Tunas Jaya harus lebih banyak menyediakan kebutuhan pangan. Saya cocok lantaran modelnya bukan franschise, tetapi yang penting suplai dari Kopkar Bukopin. Model seperti ini cocok untuk koperasi. Kopkar Bukopin hanya menyediakan sistem dan barang. Masing-masing koperasi boleh menggunakan nama pilihannya, misalnya, Tunas Jaya Mart,” jelas Sugiharto.

Terkait dengan bisnis beras, Sugiharto bisa bercerita panjang lebar, karena dia memang pernah bertahun-tahun bisnis beras, mensuplai warung-warung Tegal maupun berbagai restouran besar, juga rumah makan Padang. Warteg saja, ada yang sehari habis 1 karung, ada yang 2 karung. Ada juga yang 2 hari sekarung. Ketika Jakarta Fair masih di Monas, 10 tahun mesuplai beras di sana. Belum lagi dengan mitra, orang yang ambil untuk dijual lagi, dan tetangga kanan kiri yang belanja ke warungnya. “Sebulan bisa menjual sekitar 100 ton,” jelasnya.

Soal beras, kata dia, pernah ada tim dari Gubernur dan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Provinsi DKI Jakarta survei ke koperasi-koperasi untuk menyusun program pengadaan beras dari Karawang, Subang dan Indramayu. Rencananya, beras itu disalurkan ke koperasi-koperasi di Jakarta. Ide Gubernur (waktu itu) Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) mencari beras dari hulu lalu disalurkan ke koperasi via administrator yang ditunjuk oleh Gubernur sudah benar. Karena adminstrator itu sifatnya hanya untuk melakukan pembayaran, cukup dikenakan fee administrasi, bukan keuntungan. Sebab, jika ambil untung, harga tidak akan bisa bersaing dengan Pasar Induk Cipinang, yang berasnya juga langsung dari hulunya. Namun rencana tersebut sampai sekarang tidak ada kabar kelanjutannya.

Dagang beras di Jakarta persaingannya sangat keras, dan pahit. Barometernya harga beras di Pasar Induk Cipinang. Minimal, harga sama. Contoh, kalau kualitasnya A, jenis A dan harganya A, bisa masuk ada keuntungan. Tetapi jika tidak sama dengan Pasar Induk Cipinang, pasti kalah. “Dalam kondisi tertentu, mencari keuntungan bersih 1% saja tidak dapat. Menghitung untung 2% belum tentu bisa. Beras satu karung harga Rp 150.000,- belum tentu untung bersih Rp 3.000,- Ambil kisaran Rp 2000,- Rp 2.500,- per karung. Kalau dijual eceran, bisa untung Rp 5000,- per karung. Hanya saja, karena dagang beras perputarannya cepat dan rutin, bisa jual 30 – 40 karung per hari, lumayan juga,” jelas Sugiharto, seraya menambahkan bahwa tertarik dagang beras karena tidak punya gaji, dan isteri buka warung di rumah.

Ketika kebutuhan sedang banyak, jelang lebaran, misalnya, Sugiharto langsung ke Pasar Induk Cipinang. Lihat contoh barang, lihat harga dan yang tidak kalah penting, ada jaminan susut. Walau satu karung beras dibilang isinya 50 Kg, isinya belum tentu 50 Kg. Kurang, sudah dimaklumi. Katakan beras itu dari Cianjur, Karawang, Subang atau dari mana saja, ketika baru naik truk sudah ditusuk, turun di pasar ditusuk, mau diantar ke pembeli, ditusuk lagi.

Kadang ada yang nakal, berasnya sengaja dikurangi. Karung dibuka, beras diambil kemudian dijahit lagi pakai mesin. Kalau jaminan susut tak dapat, ruginya semakin besar. Belum lagi dicaci maki oleh pembeli. Itu kalau dijual lagi karungan. “Bila diecer, beli Rp 8000,- dijual Rp 8.500,- paling tinggi Rp 9000,- per Kg dengan harapan dapat untung lumayan. Tetapi jika 1 karung susut sampai 3 Kg berarti Rp 27.000,- hilang. Trus untungnya berapa? Saya jualan beras sejak tahun 1977, jadi paham benar soal dagang beras,” urainya seraya menambahkan bahwa sampai saat ini melalui anak mantu di rumah juga masih dagang beras, kecil-kecilan. Ada warung kecil, yang belanja tetangga-tetangga dekat saja.

Kebutuhan beras pasti sangat besar jelang lebaran, karena, kata dia, untuk zakat. Satu orang 3,5 Kg. Jika penduduk Muslim-nya 8.000.000 X 3,5 Kg = 28.000.000 Kg atau 28 juta ton. Zakat bisa saja dibayar dengan uang, namun lebih afdol dibayar dengan beras, karena kita makan beras – nasi. Kalau beras yang kita makan harganya Rp 10.000,- yang dizakatkan pun harus beras yang harganya Rp 10.000,- tidak boleh dibayar dengan beras yang harganya Rp 9000,- Bayar zakat pun harus jujur.

KSU Tunas Jaya pernah punya 7 outlet. Tetapi kini tinggal satu, lainnya terpaksa ditutup lantaran kalah bersaing dengan mini market. Untuk kebutuhan beras, dulu kerja sama dengan H Ali, salah seorang agen cukup besar, yang disuplai dari Cianjur, Karawang, subang. Juga ditunjang Bulog untuk menyalurkan beras, tepung terigu, gula dan minyak sayur.

Pasar beras layaknya bursa saham. Fluktuasi harga harian. Konsekuensinya, menahan sehari harga bisa turun atau naik. Pedagang beras punya statistic sendiri, berapa beras yang masuk hari ini, dan berapa yang dibutuhkan orang Jakarta, yang hari ini belanja ke Pasar Cipinang. Semua truk yang masuk dan keluar tonasenya didaftar. Input dan output setiap hari juga dihitung. Jika output 100, dan inputnya hanya 80, harga dinaikan. Sehari perubahan harga bisa 2-3 kali. Belanja pagi, bisa berbeda dengan belanja siang. Seperti pasar modal, kurs naik turun setiap saat. Karena ada koordinatornya, melalui HP setiap saat mereka bisa tahu perkembangan.

Waktu Bulog masih menjadi stabilisator harga KSU Tunas Jaya sempat menjadi penyalur. Jika fungsi Bulog sebagai distributor dikembalikan, dan Bulog bukan Perum, para spekulator tidak bisa main-main seenaknya. Contoh, kalau harga bawang di Brebes, di petani Rp 20.000,- kemudian di Jakarta dijual Rp 40.000,- yang kurangajar pasti distributornya. Kalau mau dihitung, biaya distribusi dari Brebes ke Jakarta per Kg tidak akan lebih dari Rp 2.500,- Beras juga sama. Begitu harga di Cipinang naik, Bulog mengeluarkan stock berasnya untuk operasi pasar lewat koperasi.

Awalanya, volume untuk koperasi hanya 5% dari total yang disalurkan, kemudian naik menjadi 10%, sedangkan volume untuk swasta 90%. Baru akan dinaikan menjadi 15% kena krisis. KSU Tunas Jaya yang lulus seleksi oleh Bulok dikasih jatah 20 – 30 ton beras sebulan. Tidak semua KSU otomatis menjadi penyalur dari Bulog. Namun harus memenuhi persyaratan, antara lain; pengelolaan lembaga – manajemen harus baik, punya gudang, punya tenaga cukup dan punya tempat penyaluran, dan punya uang karena harus bayar tunai. Ketika jual pun harus sesuai dengan harga yang ditentukan oleh Bulog, tidak bisa main-main. Kebijakan Menteri Koperasi dan Kepala Bulog, Bustanil Arifin “memanjakan” koperasi membuat Koperasi Pasar (Koppas) dan KSU menikmati kejayaan.

Dulu, kata Sugiharto, yang bisa menjual gula hanya Bulog. Semua pabrik gula, berapa pun produksinya dibeli oleh Bulog. Jadi, stocknya PT itu sudah dibeli Bulog. Kemudian Bulog menjual ke koperasi. Koperasi yang menjadi penyalur, dapat Prinlog (Perintah Logistik), setelah diurus kemudian dapat surat perintah bayar. Setelah dibayar melalui bank, tanda bayarnya dikembalikan ke Bulog, baru kemudian barang dikirim. Kebijakan itu sangat menguntungkan koperasi. Walau jatah koperasi hanya 10% dari total distribusi, mampu berperan efektif mensetabilkan harga. Dengan demikian tujuan pemerintah tercapai, tidak dipermainkan oleh tengkulak. Apalagi harga di pasar juga telah ditentukan oleh Bulog. Kalau swasta mengedarkan di pasar dengan harga seenaknya, tidak akan mendapatkan Prinlog. Bulog tinggal kasih Prinlog ke koperasi, harga akan stabil lagi.

Tetapi sekarang Bulog tidak bisa seperti dulu, karena fungsinya hanya sebagai penibun – stock barang. Kalau pun ada operasi pasar, atas permintaan Pemda. Bulog tidak bisa menjual barangnya di pasar secara bebas. Ini gara-gara dibelenggu oleh IMF. Karena utang di IMF sudah lunas, kita harus berani mengembalikan fungsi Bulog; membuat stock barang, stabilisasi dan distribusi. Tentu melalui perubahan perundang-undangan. “Pelaku koperasi sangat mengharapkan Bulog difungsikan seperti dulu lagi, dan memberikan kesempatan kepada koperasi bermitra,” tutur Sugiharto penuh harap. (nda – my)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *