Koperasi Perusahaan Masa Depan Millenial

Apa clue – kunci agar koperasi bisa hidup, tumbuh, dan berkembang di jaman now? Ada beberapa hal yang menjadi suatu keharusan, yakni mengikuti perkembangan teknologi informasi. Dengan demikian koperasi tidak mengalami perkembangan yang lamban. Koperasi yang tidak aktif akan berujung pada pembubaran. Karena itu koperasi harus mengikuti kondisi – tuntutan jaman.

Sebetulnya, dari jaman dulu koperasi itu harus bisa menyesuaikan dengan lingkungan. Lingkungan perlu diidentifikasi satu per satu. Teknologi, sumber daya manusia (SDM), hingga pemasaran harus ditingkatkan. Koperasi dengan SDM yang cukup tinggi dan aset triliunan sebaiknya melakukan pemasaran ke luar negeri. Koperasi kecil atau menengah perlu mengetahui langkah-langkah menjadi koperasi besar. Bila koperasi memiliki masalah SDM, perlu dipetakan posisi atau lingkup.

Karena itu roadmap pengembangan koperasi zaman now menjadi penting. Jika koperasi ingin selamat perlu mengikuti roadmap dengan rumus yang berbeda-beda antar koperasi. Rumus untuk koperasi di bidang jasa berbeda dengan koperasi simpan pinjam. Bagaimana meningkatkan  produksi untuk koperasi produksi atau meningkatkan pelayanan untuk koperasi jasa. Hal tersebut harus dipahami bersama supaya koperasi bisa menyesuaikan.

Di luar negeri banyak koperasi besar, karena manajemennya berbeda. Untuk itu manajemen koperasi di Indonesia harus dibuat seleluasa mungkin, tidak mengungkung diri sendiri atau membuat semakin kerdil. Contoh, koperasi simpan pinjam yang membatasi anggota hanya pada saving dan loan.

Koperasi harus memberikan keleluasaan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi lain dari anggotanya. Mengacu pada persoalan tersebut, koperasi bisa mendirikan anak perusahaan untuk melakukan kegiatan ekonomi yang menjadi kebutuhan anggota. Dan saat ini Koperasi Simpan Pinjam (KSP) pun sudah banyak yang mengembangkan usaha  di luar simpan pinjam dengan mendirikan PT. Sahamnya sebagian dimiliki para anggota, sebagian lainnya dimilik koperasi sebagai penyertakan modal. Tujuannya, agar koperasi bisa memenuhi kebutuhan anggota dan bisa berkembang.

Pengurus – manajenen koperasi perlu memikirkan cara meningkatkan jumlah anggota dan meningkatkan pelayanan terhadap anggota yang terus bertambah. Karena itu koperasi perlu melakukan reformasi agar kualitas semakin bertambah, bukan hanya kuantitas. Hal tersebut tidak akan bisa berjalan dengan baik jika tuntutan jaman now tidak bisa dipenuhi koperasi. Koperasi tidak akan bisa bergerak cepat jika tidak didukung teknologi. Karena itu pemerintah perlu memfasilitasi.

Saat ini tercatat 123,948 unit koperasi yang aktif. Dari jumlah tersebut terdapat 4.674 koperasi pemuda (koperasi mahasiswa atau kopma). Koperasi milenial – koperasi zaman now tidak hanya mencakup koperasi pemuda, koperasi mahasiswa, tetapi juga koperasi lain yang dikelola oleh individu dengan jiwa muda dan semangat – cara kerja yang mengikuti standar zaman now.

Di Indonesia ada sekitar 63 juta orang muda yang pada 2030 akan menjadi bonus demografi. Bonus tersebut bisa menggerakkan perekonomian, atau sebaliknya juga bisa menimbulkan masalah. Jika bonus demografi berkembang dengan baik, menjadi harapan – tumpuan negara. Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. Bonus demografi yang dialami Indonesia belum tentu dimiliki negara lain. Jepang, misalnya, orang tua lebih banyak dibanding orang muda.

Tantangan Indonesia lebih besar, yakni meningkatkan kualitas bonus demografi. Bila bonus itu tidak bisa dikelola akan menciptakan bahaya. Pemikiran tersebut bisa digaungkan ke koperasi. Koperasi bisa menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia. Peran koperasi sangat dibutuhkan. Sebab koperasi bergerak di sektor bawah. Kalau koperasinya bisa mengikuti zaman now, pemerataan akan diraih.

Koperasi zaman now harus bisa mengidentifikasi kebutuhan anggota. Apakah zaman now bisa menjadi suatu kondisi yang diterima sebagai satu lembaga yang menyejahterakan manusia. Koperasi zaman now harus memiliki website. Bila tidak, masyarakat – anggota sulit memperoleh informasi seputar koperasi. Zaman now bicara internet, revolusi industri, hingga artificial intelligence.

Di Indonesia sekitar 145,26 juta orang yang telah mengakses internet atau lebih dari 50% jumlah penduduk. Ini merupakan potensi sangat besar bagi koperasi dalam memanfaatkan kondisi yang shifting. Karena itu harus ada disruptive leader yang membawa visi masa depan ke masa kini. Jawa, Bali, dan Sumatera memiliki koneksi internet paling tinggi. Artinya potensi pasar di wilayah tersebut bisa ditangkap oleh koperasi zaman now. Know your customer, know your market. Gen Z memiliki  penetrasi internet paling tinggi. Pasar tersebut harus ditangkap koperasi.

Terkait teknologi digital, koperasi bisa menjadi instrumen untuk menarik dan melayani anggota lebih prima. Marketing 4.0 menunjukkan bukan daya beli yang turun melainkan shifting ke online. Sentuhan online mendiferensiasikan sebuah perusahaan. Untuk itu harus ada pelatihan ulang bagi SDM yang akan menangani marketing 4.0. Dengan demikian mereka mampu membuat kemasan yang bagus sampai artificial intelligence yang diimbangi dengan kualitas human to human. Intinya membantu perusahaan berelasi dengan pelanggan.

Bisa dicontohkan kursus untuk anak yang menawarkan online dengan tiga kelebihan, yaitu murah, efisien dan efektif, serta berulang. Bicara pendidikan, adakah koperasi yang melakukan hal serupa untuk mendidik anggotanya atau mengedukasi masyarakat? Koperasi bisa diperkenalkan sejak dini kepada para siswa. Setidaknya mulai sekolah lanjutan pertama, SLTA sampai perguruan tinggi. Sayangnya terkendala pada kurikulum. Koperasi juga bisa menjadi media bagi siswa dan mahasiswa untuk berwirausaha.

Koperasi sebagai salah satu entitas bisnis, tidak akan lagi menjadi institusi kerakyatan yang termarjinalkan. Kelompok yang mengusung prinsip gotong royong dalam operasionalnya ini dipastikan akan berkembang menuju koperasi modern berbasis teknologi informasi. Untuk menjalankan program perkuatan bagi pelaku koperasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bersinergi dengan Kemenkop dan UKM dalam Pogram Koperasi Modern. Dari 123,948 unit koperasi Indonesia yang aktif akan segera menunjukkan kekuatannya dengan memanfaatkan fasilitas informasi, teknologi dan komunikasi (TIK), dan pemerintah pun akan menobatkannya menjadi koperasi modern.

Fasilitas TIK mencakup jaringan Internet agar bisa online. Prinsipnya, koperasi yang menggunakan TIK dalam proses bisnisnya, akan mendapat tambahan kemampuan, termasuk transaksi pembayaran secara online (online transactional). Beberapa hal yang memberi nilai plus bagi koperasi setelah memanfaatkan TIK fasilitas dari PT Telkom Indonesia, misalnya, memonitor posisi status pinjaman dan sharing modal setiap anggota.

Pemanfaatan TIK bahkan bisa mematahkan hukum lama agararia ‘siapa yang mengusai tanah dia yang memimpin dunia’. Slogan itu berubah; ‘siapa yang mengusai teknologi informasi, dia akan memimpin dunia’. Microsoft memperkuat teknologi informasi UMKM dengan pelatihan aplikasi untuk memperkuat daya saing serta efektivitas dalam produksi dan aspek pemasaran.

Aplikasi DSS dirancang untuk membantu koperasi dan UMKM dalam pengambilan keputusan dari aspek produksi, pemasaran, manajemen, SDM, lingkungan dan keuangan dalam mengatur tingkat kelayakan, sekaligus melihat peluang dan hambatan dalam kegiatan bisnisnya. Dari hasil analisis, UMKM bisa mendapatkan rekomendasi tingkat kelayakan usaha, hasil outputnya setelah diprint secara otomatis akan menjadi layaknya sebuah proposal kelayakan usaha.

Pemerintah menyediakan software berbasis decision support system secara gratis dan mudah dipahami pelaku UMKM yang ingin mengembangkan kapasitas usahanya maupun bagi calon wirausahawan baru. Fasilitas tersebut disediakan gratis serta bisa di download pada website yang disediakan, yakni www.smecda.com.

Decision Support System (DSS) merupakan sistem berbasis model dari seluruh prosedur atau proses data dan pertimbangan. Alat ini bisa membantu manajer mengambil keputusan pengembangan usaha. Penggunaan dan akses DSS sudah disosialisasikan ke seluruh provinsi di Indonesia.

Manajemen Coop2Coop sebagai penyedia jejaring sosial untuk komunikasi dan transaksi bagi gerakan koperasi internasional secara online maupun virtual minta dukungan berbagai pihak untuk menyukseskan program tersebut. Minimal, bisa mendapat support dari Kemenkop dan UKM maupun gerakan koperasi di Indonesia. Sebab, jejaring sosial ini akan menjadi kebutuhan pada masa depan. Coop2Coop adalah portal atau jejaring sosial yang khusus bagi pelaku usaha UKM dan koperasi. Adapun konten dari jejaring sosial ini mencakup sistem pelayanan komunikasi dan informasi, dan pembayaran (payment gateway).

Berkat ekosistem digital, semua orang tidak lagi memiliki batas. Perusahaan besar belum tentu lebih baik dari perusahaan yang lebih kecil. Begitupun di koperasi, besar-kecil skala koperasi secara kuantitatif tak menjamin daya tahan mereka terhadap digitalisasi dan otomatisasi secara kualitatif. Kini setiap orang dapat mengambil peran yang mereka inginkan dalam “kue ekonomi” yang telah disajikan.

Ini adalah era baru, dimana ide lebih mahal dari pada minyak, dan talenta pun lebih berkuasa daripada “harta” dan “tahta”. Dipercaya, koperasi akan tumbuh pada waktunya. Asalkan, para penggiat koperasi mulai menoleh ke masa depan. Kita harus membuang obsesi kerja jangka pendek, karena pada faktanya kita berkoperasi tidak hanya untuk mendapatkan manfaat instan, namun lebih dari itu, kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Masih sangat mudah menemukan para penggiat koperasi yang tergopoh gopoh untuk “bertahan”. Namun, “bertahan” tidak selalu baik untuk koperasi, justru ini adalah biangkladi bagi kemerosotan kesejahteraan anggota koperasi. Karena penggiat koperasi yang berorientasi bertahan cenderung menghindari pergolakan, terobosan dan mengabaikan perubahan. Berbeda dengan penggiat koperasi progresif yang akan berusaha untuk lebih “menyerang” ke depan untuk memastikan anggota koperasinya dapat memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada.

Perubahan terjadi secara eksponensial, ada kebutuhan baru, harapan baru, pesaing baru, model bisnis baru dan perilaku baru. Koperasi yang bagus adalah koperasi yang tangguh menyulap ketidakpastian menjadi kesempatan. Koperasi kita harus lebih nekat mendefinisikan kebutuhan “masyarakat baru”, sebelum para globalis, kapitalis, dan perusahaan multinasional berhasil memonetisasi pasar yang dinamis ini.

Para penggiat koperasi harus cerdik melihat dinamika ini. Kita perlu berpikir lebih luas dalam mendefinisikan kembali bagaimana agar koperasi unggul. Kita butuh berpikir lebih cerdas untuk menemukan formulasi koperasi yang lebih relevan untuk semua pihak. Berpikir lebih cepat mewujudkan harapan dan kesejahteraan setiap anggota koperasi.

Caranya mudah, minta anggota dan pengurus koperasi untuk “menghancurkan” koperasi sendiri, sebelum dihancurkan “keadaan” atau “pihak lain”. Koperasi kita butuh penantang dari internal yang berpikiran sebagai devil advocate untuk menguji cara berhitung tentang mengelola koperasi. Devil advocate sendiri adalah seseorang yang mengambil posisi berlawanan dari perspektif atau keyakinan kelompok.

Bukan karena ia tak setuju dengan argumentasi terkait, melainkan seseorang ini hanya ingin menguji asumsi, paradigma, pendekatan, dalil dan konsesus kelompok. Keberadaan devil advocate menjadi penting untuk menyempurnakan koperasi kita. Tidak hanya untuk membuat koperasi menjadi lebih baik 30%, tetapi untuk menjadi lebih baik 30 kali lipat.

Koperasi pun perlu mendatangkan para ahli ekonomi kreatif dan ekonomi digital sebagai think tank (wadah pemikir) untuk memajukan koperasi, juga merekrut milenial sebagai regenerasi, serta tidak melupakan ciri utama kegiatan koperasi dengan prinsip kekeluargaan. Pemerintah diharapkan segera melaksanakan pengawasan yang ketat pada koperasi. Baik pengawasan dalam pengurusan, maupun secara eksternal. Semakin ketat pengawasan semakin baik koperasi ke depan.

Tantangan bagi koperasi adalah bagaimana menjadikan konsep koperasi juga menarik di mata milenial atau generasi muda yang nantinya akan jadi pelaku usaha dan ekonomi masa depan. Terlebih lagi, koperasi sudah memiliki narasi yang sangat relevan dalam ekonomi kekinian dan masa depan. Yaitu, melalui aspek inklusivitas dan juga aspek partisipasi.

Dalam amanat Undang Undang (UU) No 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja disebutkan kemudahan pendirian koperasi menjadi salah satu hal yang diprioritaskan. Saat ini, pendirian Koperasi Primer hanya membutuhkan sembilan orang, sedangkan Koperasi Sekunder cukup tiga Koperasi Primer. Di sisi lain, Rapat Anggota Tahunan (RAT) sekarang dapat dilakukan baik secara Daring (dalam jaringan) maupun Luring (luar jaringan). Poin berikutnya adalah memperkuat dan memperjelas keberadaan Koperasi Syariah.

Kemudahan pendirian ini akan mengakselerasi tumbuhnya jumlah koperasi. Sekaligus menjadi menarik bagi koperasi yang didirikan oleh milenial, khususnya yang memiliki kesamaan hobi atau pun komunitas maupun mereka yang ingin mendirikan perusahaan rintisan – startup. Posisi Koperasi Syariah akan sangat dibutuhkan oleh koperasi yang berbasis pesantren. Sehingga para santri muda tidak hanya fokus belajar tentang agama sebagai landasan pola hidup berperilaku baik, tetapi juga bisa belajar tentang ekonomi masa depan.

Melalui Permenkop & UKM No. 4 tahun 2020, penyaluran dana bergulir oleh LPDB diprioritaskan 100% untuk koperasi. Juga dilakukan penyederhanaan proses dari 12 tahap menjadi hanya 3 tahap. Sedangkan Permenkop & UKM No.9 Tahun 2020 mengawal penuh pengawasan koperasi, khususnya berkenaan aspek akuntabilitas dan compliance – kepatuhan. Ini menunjukkan bahwa pemerintah berupaya penuh dalam menjadikan koperasi sebagai lokomotif ekonomi rakyat.

Tahun 2020 semua menyaksikan terjadinya perubahan tren pasar yang sangat dinamis. Digital economy dan stay-home economy menjadi diksi-diksi yang mulai lekat dengan keseharian kegiatan usaha di masyarakat. Atas dasar itu, Kemenkop & UKM menghadirkan beberapa program yang bertujuan mengkurasi solusi teknologi digital rintisan putra-putri Indonesia yang memang membantu proses bisnis UMKM dan Koperasi. Antara lain, Pahlawan Digital dan Gerakan Transformasi Digital Koperasi (IDXCOOP).

Program Pahlawan Digital tahun 2020 diikuti 126 pendaftar dari seluruh Indonesia yang mengerucut menjadi 30 innovator digital hingga dipilih 10 inovasi digital terbaik untuk UMKM yang dihadirkan putra-putri terbaik Indonesia. Di antara beberapa inovasi yang ikut serta dalam Pahlawan Digital tahun 2020 mensolusikan aspek pencatatan utang-piutang. Ini substansial sekali dan memang relevan dalam keseharian proses bisnis UMKM.

Dengan pembukuan yang lebih baik, UMKM dapat memfokuskan sumber daya dalam upaya memajukan usaha. Ada asisten virtual dalam format chatbot, sehingga bisnis dapat tetap berjalan 24 jam dengan dukungan kecerdasan artifisal. Hingga upaya mengagregasi proses bisnis dari hulu, seperti konsolidasi pembelian bahan baku, hingga perluasan akses pasar. Ini semua memang solusi yang sesungguhnya dibutuhkan UMKM kita.

Namun demikian, ranah ekplorasi untuk berinovasi bagi pelaku usaha masih terbuka sangat lebar. Untuk koperasi misalnya, bentuk inovasi digital yang membantu penyelenggaraan usaha koperasi sangat dinantikan baik berkenaan aspek kepatuhan, pembukuan dan pencatatan simpan-pinjam anggota untuk KSP, credit scoring atau bahkan integrator dari fitur dan fungsi tersebut.

Yang menarik, 76% dari innovator digital hadir dari luar Jakarta. Ini menunjukkan bahwa seluruh belahan Indonesia generasi milenial kita tidak kehabisan ide-ide cerdas dan konsep-konsep inovasi untuk UMKM yang harus dukung dan semangati. Program berikutnya, Gerakan Transformasi Digital Koperasi: IDXCOOP.

Gerakan ini berupaya menghadirkan sentuhan teknologi digital karya perusahaan rintisan lokal untuk kegiatan usaha koperasi di seluruh Indonesia. Sehingga, koperasi menjadi semakin relevan dan mengikuti perkembangan zaman. Platform IDXCOOP dapat diakses di idxcoop.kemenkopukm.go.id yang saat ini sudah terdaftar 10 penyedia solusi teknologi digital bagi koperasi serta 400 koperasi yang telah berpartisipasi. (dm)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *