Kopkar Lumere Setelah Terbelit Utang Bank Akhirnya Menjadi Koperasi Mandiri

Setelah dilakukan negosiasi dengan pihak manajemen, walau agak susah, akhirnya disepakati manajemen mau memotong gaji karyawan yang punya utang. Kesepakatan itu berlaku mulai Agustus 2007, dan maksimal hanya 49% yang dipotong untuk bayar utang. Akhirnya, pengurus pun melakukan pengetatan dalam memberikan pinjaman kepada anggota. “Setelah dilakukan pemotongan gaji oleh manajemen dan pengetatan pinjaman, angsuran ke Bank Muamalat menjadi lancar lagi, dan sekarang tinggal Rp200 juta saja,” ujar Kirno.

Pengalaman pahit itu menjadi pelajaran berharga bagi pengurus untuk segera melakukan revitalisasi. Hasilnya, koperasi menjadi lebih mandiri, bisa memberikan pinjaman kepada anggota sampai Rp10 juta dengan uang koperasi sendiri yang sekarang ini modalnya sudah berkisar Rp1,4 miliar. Padahal sebelumnya, bukan saja terbelit utang di bank, kas koperasi pun tinggal Rp4,5 juta. Dari kondisi nol besar menajdi koperasi mandiri, perjuangan yang dilakukan pengurus dari berbagai sisi. Ketika harus menghadapi anggota yang jumlahnya 320 orang dengan berbagai karakter yang berbeda-beda, berhadapan dengan pihak manajemen yang merasa “berkuasa”, lalu berhadapan dengan pihak ketiga, bank, memang berat. Teror dari anggota, sering dialami. Karena pengurus dan pengawas kompak, dan tegas hasilnya anggota juga yang menikmati. Paling tidak, kalau pinjam tidak sulit lagi.

Meskipun kelihatannya mengelola koperasi karyawan itu gampang, tinggal potong gaji untuk bayar simpanan dan angsuran pinjaman, ternyata juga tidak mudah-mudah amat. Para petinggi perusahaan, manajer – direksi yang mestinya mendukung keberadaan koperasi, tidak demikian adanya. Mungkin lantaran mereka tidak paham tentang koperasi yang sebenarnya. Karena pengurus mau bergerilya – blusukan istilah untuk Jokowi, mendekati dan merayu manajer, akhirnya ada beberapa manajer yang mau menjadi anggota koperasi. Dengan adanya manajer yang menjadi anggota kebijakan-kebijakan bagi perkembangan koperasi muncul.

Memang, mau tidak mau, suka tidak suka, karyawan yang membutuhkan uang, dan manajemen tidak bisa memberikan larinya ke koperasi. Dengan terpenuhinya keperluan keuangan tersebut maka efeknya kinerja karyawan menjadi lebih baik. Saat ini Kopkar Lumere tidak hanya bergerak di simpan pinjam uang, tetapi juga punya took, dan melayani kredit kendaraan – motor kepada anggota. Anggota yang kredit motor, tahunya datang bawa KTP – pulang bawa motor. Direncanakan, pinjaman anggota yang saat ini baru Rp10 juta akan dinaikkan menjadi antara Rp15 juta – Rp17 juta. Sebab, kondisi keuangan memang sudah memungkinkan.

Kopkar Lumere juga memberikan pinjaman bagi anggota untuk berwirausaha. Sebelum pinjaman dicairkan, pengurus melakukan survei ke tempat anggota yang mau membuka usaha. Setelah dipelajari dan dinilai layak, koperasi akan mendukung permodalan sesuai dengan kemampuan anggota untuk mengangsur pinjaman. Anggota ada yang membuka usaha warung – kelontong, jualan pula, kuliner, dan ada juga yang membuka usaha laundry. Karena keterbatasan pengurus, saat ini sedang mencari mitra untuk melakukan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan. Jika dimungkinkan, mencari pinjaman modal untuk disalurkan kepada anggota. Kemampuan koperasi sendiri masih terbatas untuk pinjaman kecil-kecil, sedangkan untuk pinjaman modal usaha kebutuhannya cukup besar.

Yang dipikirkan ke depan, bukan semata-mata membesarkan koperasinya, tetapi membesarkan usaha anggota. Meskipun koperasi sederhana kalau anggotanya lebih makmur atas fasilitas dari koperasi, itu lebih baik. Tetapi, bukan juga koperasinya harus mundur. Namun yang lebih diutamakan memajukan anggota. Ke depan, kecuali anggotanya lebih berdaya, koperasi telah mencoba mengajukan permohonan kerja sama kepada manajemen hotel untuk mensuplai kebutuhan yang diperlukan oleh hotel. Untuk keperluan dapur, misalnya, koperasi sudah mengajukan permohonan kerja sama menjadi suplayer minyak goreng. Tetapi dari manajemen belum ada jawaban. Ada yang bisik-bisik, karena kualitasnya masih kurang. Sedangkan untuk mencari kualitas yang lebih baik dengan harga yang bisa masuk, belum ditemukan. Pernah pula mengajukan proposal untuk pengadaan ATK, yang kebutuhannya juga sangat besar, namun sampai saat ini manajemen belum mau membuka hatinya bagi kesejahteraan anggota koperasi yang nota benenya juga karyawan perusahaan sendiri.

Yang juga potensial untuk digarap adalah katering untuk karyawan hotel. Setiap hari hotel harus menyedian makan untuk 400-an karyawan. Potensinya jelas. Pihak manajemen hotel juga sudah memberikan lampu hijau. Namun koperasi belum siap. Sebab dana untuk katering relatif besar. Pengurus sudah melakukan survei di mana bisa menemukan bahan-bahan pokok. Dana yang dibutuhkan pun sudah dihitung, namun hasilnya masih ragu. Akibatnya tidak berani action. Takut kalau rugi, pengurus akan disalahkan oleh anggota. Setelah dilakukan survei dan hitung-hitungannya direvisi ulang, pendapatannya masih minus juga. Soal yang memasak, bisa saja isteri-isteri karyawan membentuk kelompok menangani kateringnya. (dm)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *