Kowika Jaya Terus Menggapai Sukses

Ibarat gadis remaja, usia 16 tahun, banyak pemuda yang ingin mendekatinya. Koperasi Simpan Pinjam Wirakarya (Kowika) Jaya yang bisnis utamanya simpan pinjam, kini juga mulai banyak yang meiliriknya. Terutama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Itu terlihat jelas dari semakin banyaknya pelaku UMKM yang mendekat untuk mendapatkan permodalan.

Dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-16 tahun buku 2012, pada 24 Februari 2013, dijelaskan oleh Ketua Kowika Jaya, H Sadari, bahwa penyaluran pembiayaan dari Kowika tahun 2012 Kowika menyalurkan pinjaman kepada anggota maupun calon anggota untuk penguatan permodalan mencapai Rp 66,1 miliar. Juga dilaporkan bahwa untuk tahun buku 2012 Kowika Jaya mampu membukukan sisa hasil usaha (SHU) 103%, melebih target yang direncanakan. Prestasi itu bukan hanya hasil dari kerja keras pengurus dan manajemen, tetapi terlebih karena partisipasi aktif para anggota yang sebagian besar memang pelaku UMKM.

Dalam melaksanakan program-program 2012, kata Sadari, belum terlepas dari kondisi – keadaan perekonomian nasional yang belum sepenuhnya terbebas dari dampak krisis. Belum lagi persaingan yang tidak sehat pada usaha ritel dengan semakin banyaknya hyper market, super market dan mini market – warung modern seperti Alfamart dan Indomaret yang menjamur sampai ke perkampungan dan pasar-pasar tradsional yang akhirnya menghancurkan warung-warung milik rakyat, yang sebagian anggota Kowika. Belum lagi dampak kenaikan harga kebutuhan bahan pokok, sandang dan pangan – kebutuhan sehari-hari, menambah kesulitan rakyat kecil untuk mengembangkan usahanya. Karena usahanya tidak berkembang, bahkan banyak yang tutup sehingga tidak bisa menyelesaikan kewajibannya kepada koperasi.

Namun berkat dukungan dan partisipasi aktif dari anggota maka dalam pelaksanaan program kerja pada umumnya tercapai dengan baik. PerkembangSHUan jumlah anggota selama tahun 2012 berjumlah 67 orang, sehingga total anggota Kowika Jaya per 31 Desember 2012 mencapai 781 anggota. Menurut kreteria Kementerian Koperasi dan UKM koperasi yang jumlah anggotanya masih di bawah 1000 orang belumlah dikatagorikan koperasi besar. Namun bukan tidak mungkin dalam waktu relatif sangat singkat Kowika Jaya menjadi koperasi dengan mendefinitifkan 1.234 calon anggota menjadi anggota penuh, sehingga total anggota menjadi 2.015 orang.

Dilaporkan bahwa untuk perkembangan unit simpan pinjam syariah yang dalam RAT tahun 2008 diputuskan menggunakan nama BMT As-Salaam, pada tahun 2012 telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 11 miliar dengan mendapatkan SHU sebesar Rp 480 juta, naik 16% dari tahun 2011. Sedangkan aset unit simpan pinjam syariah per 31 Desember 2012 mencapai Rp 7,1 miliar, atau naik 16% dari tahun 2011. Dijelaskan, unit simpan pinjam syariah ini perkembangan cukup menggembirakan, dan bukan tidak mungkin ke depan unit simpan pinjam syariah akan menjadi lebih besar dibandingkan dengan simpan pinjam konvensional.

Aset koperasi per 31 Desember 2012 naik 20% dari tahun 2011 menjadi Rp 34,3 miliar. Modal sendiri juga terus meningkat, tahun 2012 naik 15% dari tgahun 2011 menjadi Rp 6,6 miliar. Jumlah kewajiban  sebesar Rp 27,6 miliar, naik 21% dari tahun 2011. Untuk perkembangan dan realisasi rencana anggaran pendapatan dan biaya, kata Sadari, pinjaman yang disalurkan kepada anggota maupun calon anggota untuk penguatan permodalan pada tahun 2012 mencapai Rp 66,1 miliar atau tercapai 91% dari yang ditargetkan. Penerimaan tabungan, baik simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela, simpanan berjangka, semacam deposito di perbankan sebesar    Rp 18,3 miliar atau tercapai 93% dari yang direncanakan. Pendapatan tahun buku 2012 sebesar Rp 9,1 miliar tercapai 92% dari rencana. Dari kegiatan usaha selama tahun 2012 memberikan SHU sebesar Rp 1.6 miliar, melebih target dengan mencapai 103%.

Menjelang Lebaran tahun 2012 koperasi juga masih mampu memberikan bingkisan kepada seluruh anggota masing-masing nilainya Rp 250.000,- sehingga total pengeluaran koperasi untuk Tunjangan Hari Raya (THR) bagi anggota Rp 169 juta. Untuk meningkatkan partisipasi anggota agar lebih aktif menabung dan bertransaksi dengan koperasi maka pengurus memberikan penghargaan kepada 7 anggota terbaik, dan 8 anggota penabung terbaik. Kecuali diberikan piagam penghargaan mereka juga mendapatkan hadiah televisi LCD 32 inc. “Mereka yang terpilih sebagai anggota teladan itu diharapkan bisa dicontoh anggota yang lain,” tutur Sadari.

Telah menjadi tradisi pula bagi Kowika Jaya memberikan bantuan beasiswa bagi putra-putri anggota maupun di lingkungan kantor koperasi. Untuk tahun buku 2012 biaya pendidikan diberikan kepada 18 siswa dari tingkat SD, SLTP dan SLTA. Untuk murid SD masing-masing Rp 1 juta, SLTP Rp 1,2 juta dan SLTA Rp 1,5 juta sehingga total biaya pendidikan yang diserahkan sebesar Rp 22,2 juta. Koperasi juga memberikan bantuan pembangunan tempat ibadah – masjid di Jakarta Selatan sebesar Rp 50 juta. Bantuan-bantuan tersebut, kata Sadari, merupakan kepedulian sosial dari Kowika Jaya kepada masyarakat di sekitar kantor koperasi.

Terkait dengan Undang-undang (UU) No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian yang telah diundangkan pada Oktober 2012 sebagai pengganti UU No 25 tahun 1992, Kowika Jaya akan melakukan penyesuaian, seperti merubah anggran dasar dan anggaran rumah tangga (AD – ART) koperasi setelah diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP) dan Peranturan Menteri (Permen) sebagai pelaksanaan UU. Perubahan AD – ART koperasi harus melalui rapat anggota khusus.

Memasuki tahun 2013 pengurus mengajak seluruh anggota untuk meningkatkan partisipasinya agar mendapatkan hasil yang lebih baik di masa-masa mendatang. Mengingat persaingan di bidang usaha jasa keuangan semakin keras dengan hadirnya bank-bank besar, baik bank milik pemerintah (BUMN) maupun bank swasta nasional termasuk bank swasta modal asing melayani usaha mikro, maka meningkatkan partisipasi dan bertransaksi dengan koperasi menjadi kewajiban bersama. “Sesuai prinsip-prinsip koperasi dimana anggota adalah pemilik sekaligus pelanggan koperasi itu sendiri, maka anggota wajib melaksanakan dan selalu setia menggunakan jasa dan pelayanan koperasi,” tegas Sadari.

Terkait dengan perubahan UU No 25 tentang Perkoperasian menjadi UU No 17 tahun 2012, menurut Ketua Pengawas Kowika, H Sugiharto, bagaimanapun juga pada saatnya nanti koperasi akan menyesuaikan setelah PP dan Permen sudah diterbitkan. Memang sepintas dari gerakan koperasi banyak hal yang dikeluhkan. UU ini sangat regit, mengatur hal-hal kecil yang seharusnya cukup diatur dalam PP atau Permen. Dilihat dari jumlah pasal, UU No 25 hanya erdiri dari 67 pasal, sedangkan UU No 17 ada 126 pasal, dua kali lipat.

Kalau selama ini yang dikenal simpanan pokok dan simpanan wajib dalam UU No 17 menjadi setoran pokok. Yang namanya simpanan wajib menjadi sertifikat modal koperasi, dan tidak ada lagi istilah simpanan sukarela. Kalau simpanan pokok ketika anggota keluar dari koperasi bisa diambil, sedangkan setoran pokok tidak bisa diambil. Menurut UU No 17 secara organisasi fungsi dan tanggung jawab yang paling dominan adalah pengawas. Namun secara bisnis tetap ada di pengurus. Kemudian pengurus boleh dipilih dari yang bukan anggota koperasi.

Yang lebih merepotkan lagi, kata Sugiharto, adalah penjenisan koperasi. Dalam UU disebutkan ada 4 jenis koperasi, yaitu Koperasi Produsen, Koperasi Konsumen, Koperasi Simpan Pinjam dan Koperasi Jasa. Khusus untuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP) termasuk Koperasi Kredit (Kopdit) hanya boleh usaha melayani anggota, yaitu menerima setoran sertifikat modal koperasi dan menyalurkan dana kepada anggota. Tidak ada lagi istilah calon anggota.

Satu badan hukum koperasi hanya untuk satu jenis koperasi. Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Jaya yang memiliki lebih dari satu jenis usaha, ada unit simpan pinjam (USP), maka unit simpan pinjamnya harus memiliki badan hukum koperasi sendiri. Ini menurut Sugiharto berlawanan dengan hukum – rumus ekonomi. Disatu pihak hukum ekonomi itu makin disatukan makin efesien. Tetapi UU No 17 itu membuat inefesien karena harus dipisah-pisah. Sedangkan dalam UU No 25 Pasal 43 ayat (3) disebutkan Koperasi menjalankan kegiatan usaha-usaha dan berperan utama di segala bidang kehidupan ekonomi rakyat, yang bisa diartikan koperasi boleh memiliki usaha dari hulu sampai hilir, atau istilah ekstremnya monopoli. Ini bentuk keberpihakan Negara kepada rakyat – anggota koperasi.

Yang juga banyak dikeluhkan bahwa pengurus, pengawas di KSP tidak boleh merangkap di koperasi lain. Sementara untuk perusahaan swasta, seseorang boleh merangkap jabatan direktur atau komisaris di 100 perusahaan atau lebih. “Tetapi di koperasi dikerdilkan sedemikain rupa. Ini juga berlawanan dengan hukum ekonomi,” kata Sugiharto yang juga sebagai Ketua KSU Tunas Jaya. Pelaksanaan di lapangan, kata dia, harus disikapi dengan bijak.

Koperasi pernah memiliki UU No 12 tahun 1967, UU No 25 tahun 1992 dan UU No 17 tahun 2012. Menurut Sugiharto, sementara ini menggunakan slogannya teh botol saja. Apa pun makannya, teh botol minumnya. “Apa pun UU-nya koperasi jalan terus. Ngapain pusing-pusing, walau pemerintah membuat UU semakin regit, pemerintah juga akan begitu-begitu saja. Pembinaan juga tidak akan makin baik,” tegasnya. Sebagai gambaran, staf di Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan DKI Jakarta, hanya 18 orang untuk ngurusi 7000-an unit kopereasi di Jakarta. Di Suku Dinas (Sudin) tingkat Walikota hanya 2 orang. “Mana mungkin bisa membina koperasi dengan baik. Sulit, kita mengharapkan pemerintah membina koperasi dengan baik,” kata Sugiharto, pesimis.

Dinas Koperasi, kata Kasubdit Koperasi Drs Alfian, sangat menyadari  bahwa pola-pola pembinaan sekarang ini sangat minim. Sangat berbeda dengan dulu, dimana jumlah petugasnya cukup memadai. Di setiap Sudin ada 50 orang staf dan penyuluh lapangan, sehingga di 5 wilayah DKI Jakarta waktu itu ada sekitar 250-an ditambah di Dinas sendiri sekitar 50-an orang. Padahal waktu itu jumlah koperasi di DKI baru sekitar 1500 – 2000 unit. “Sekarang jumlahnya 7000-an unit, tetapi petugasnya semakin sedikit,” jelas Alifian.

Diakui, dari 7000-an unit itu yang aktif – artinya masih melaksanakan RAT walau tidak rutin setiap tahun, kadang RAT 2 tahun sekali, tercatat sekitar 5000-an. Itu pun didominasi koperasi pegawai dan karyawan. Koperasi masyarakat banyak yang kolaps – matisuri, gulung tikar. Ada yang bilang koperasi papan nama, tetapi papan namanya saja tak ada. Dari 236 Koperasi Serba Usaha (KSU) di DKI Jakarta sekarang tinggal 108 unit. Dan dari 108 unit itu yang melaksanakan RAT secara teratur setiap tahun hanya 7 koperasi. “Bisa dibayangkan, di mana kesalahannya, tentu di staf kami,” kata Alfian yang mengaku sebagai orang koperasi yang masih tertinggal di koperasi, lainnya ada yang jadi pejabat di walikota, jadi camat, ada juga yang jadi lurah.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Ratna Ningsih, saja bukan orang koperasi. Belum lagi kebijakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang saat ini lebih terfokus pada pembinaan UMKM, terutama pedagang kaki lima (PKL). Anggaran pembinaan koperasi jauh lebih kecil dibandingkan anggaran untuk pembinaan usaha mikro, kecil. “Karena anggota koperasi banyak yang usaha mikro – kecil, pembinaannya bisa disiasati,” jelas Alfian.

Ekonomi Indonesia, menurut Ketua Induk Koperasi Simpan Pinjam (IKSP) Ir.H Mubyl Handaling, ditopang oleh 4 pilar, masing-masing Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Koperasi. Kalau bicara soal koperasi simpan pinjam, yang memberikan pinjaman – memberikan bantuan dana, tidak ada lembaga keuangan seperti koperasi yang bisa memberikan bantuan dengan nilai begitu kecil, hanya Rp 500.000,- atau Rp 1 juta. Bank, tidak mungkin memberikan kredit sekecil itu. “Oleh karena itu sebagai anggota koperasi wajib menjaga  agar koperasi menjadi sehat, berkembang dan maju, sehingga usaha kita tetap berjalan atas bantuan koperasi,” tutur menghimbau.

Kalau koperasi menjadi bermasalah, tidak diperhatikan oleh pemerintah, dan insan koperasi sendiri tidak mau menjaganya, ada lembaga keuangan besar yang ingin memotong masuk ke kampung-kampung memberikan pinjaman. “Kowika Jaya yang sekarang ini berusia 16 tahun, gadis remaja yang sedang cantik-cantiknya, menjadi tanggung kita semua untuk menjaganya agar tumbuh menjadi besar. Kalau koperasi itu besar, SHU-nya pasti juga lebih besar, dimana semua anggota berhak untuk menikmati SHU tersebut. Tentu saja berdasarkan kesepakatan yang telah diputuskan,” urainya.

Ada keistimewaan koperasi dibandingkan perusahaan. Kalau perusahaan, satu saham – satu suara. Seseorang yang memiliki 51% saham, dia memegang suara mayoritas. Meskipun saham lainnya dimiliki 4 – 5 orang, hak suara untuk menentukan kebijakan tetap kalah. Sedangkan koperasi, satu orang satu suara, tidak diukur seberapa besar tabungannya di koperasi. Di situ letak bedanya yang paling mendasar antara perseroan terbatas dengan koperasi. (yuni – mar) 

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *