Kreativitas dari Balik Jeruji Besi

Kreativitas bisa tumbuh dari mana saja. Bahkan dari balik jeruji besi atau lembaga pemasyarakatan sekali pun. Kuncinya, jika ingin berhasil harus terampil.

Selama ini, Lembaga Pemasyarakatan (LP), Rumah Tahanan (Rutan) dianggap sebagai tempat orang-orang terhukum dan jahat. Kesan suram dan menyeramkan itu seolah tak bisa dilepaskan dari lembaga pemasyarakatan. Namun, siapa sangka, dari balik jeruji besi itu muncul berbagai karya kreativitas dari warga binaan. Mulai dari berbagai jenis makanan, seperti roti dan kue, lukisan bernilai seni tinggi, kerajinan tangan, furniture (meubel), dan produk garmen berkualitas tinggi.

Bahkan ada sejumlah hasil karya warga binaan yang mampu menembus pasar ekspor seperti bola sepak, bola basket, dan sebagainya. Kokohnya jeruji besi dan tingginya tembok penjara tidak mampu mencegah warga binaan untuk terus berkreasi dan menghasilkan karya-karya kreatif. Hasil karya mereka bisa disaksikan dalam berbagai pameran yang digelar hampir setiap tahun. Antara lain di Jakarta Convention Centre (JCC) atau yang populer dengan sebutan We Care Napi Craft.

Dalam pameran tersebut ditampilkan berbagai karya warga binaan dari berbagai LP di Indonesia. Tak terkecuali dari LP khusus wanita, Pondok Bambu, Jakarta Timur dan Tangerang.  Evy Amir Syamsuddin isteri mantan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (Menkumham), Amir Syamsuddin pernah menerbitkan buku berjudul Made in Prison. Buku tersebut antara lain mengupas dan bercerita tentang berbagai hasil karya warga binaan dari sejumlah lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Buku itu juga menampilkan berbagai kisah, suka duka di balik pemuatan karya kreatif tersebut.

Ini merupakan buku kedua karya istri mantan Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia tersebut. Buku pertama berjudul Voice of The Voiceless. Di buku kedua Evy bercerita tentang hasil karya warga binaan yang sudah memiliki nilai jual dan nilai tambah untuk ekspor. Tujuannya, ingin memajukan industri dalam Lapas. Dalam Napi Craft di JCC, kita bisa melihat bagaimana mereka mendemontrasikan keterampilannya. Warga Binaan dari Lapas Kelas I Tangerang, begitu terampil membuat kerajinan dari koran bekas. Warga Binaan dari Lapas Kelas I Cipinang terampil membatik.

Demikian pula warga binaan Lapas Kelas II Salemba, Jakarta, juga terampil membatik, membuat kerajinan handy craft dari kerang bekas dan kayu. Warga binaan Lapas Pemuda Tangerang terampil membuat rumah lampu dari bahan kerang. Warga binaan Lapas Bekasi terampil membuat miniatur kapal dari pelepah pisang. Warga binaan Lapas Kelas I Cipinang juga terampil membuat sulam perca bed cover quilting sedangkan warga binaan Lapas Cirebon, lihai membuat bola sepak dan bola basket.  Pengunjung juga dibuat kagum atas keterampilan warga binaan Lapas Kelas II A Narkotika, Jakarta saat mereka demo membuat roti (Rainbow Cake).

Selain berbagai keterampilan di atas, warga binaan juga mampu mengembangkan bakatnya di bidang seni dan budaya. Itu bisa kita lihat dari aksi mereka di panggung untuk memainkan musik. Mereka bangga bisa mengiringi si “burung camar”, Vina Panduwinata dan beberapa artis tenar lainnya. Sedangkan warga binaan dari Lapas Khusus Wanita, Pondok Bambu memukau pengunjung saat menari di atas panggung. Pameran hasil karya warga binaan merupakan bentuk kepedulian dan apresiasi terhadap hasil  karya warga binaan. Karya-karya yang lahir dari balik jeruji besi itu diharapkan dapat menumbuhkan harapan mereka yang pernah berbuat salah untuk kembali menjadi berbuat baik dan hidup tak pernah berjalan buntu.

Pintu penjara kini terbuka melalui karya dan kreativitas. Ini membuktikan jika Lapas mampu memberdayakan mereka yang tengah tak berdaya. Dari pameran ke pameran beragam produk karya warga binaan mampu dipasarkan dan menembus pasar dunia. Geliat, semangat memberdayakan dan memperkenalkan karya warga binaan lewat Napi Craft yang digelar setiap tahun, diharapkan dapat mengantarkan mereka sebagai manusia-manusia kreatif dan menjadi pelaku usaha, minimal usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setelah kembali ke tengah-tengah masyarakat.

“Siapa pun pemimpinnya, Pemasyarakatan harus bergerak cepat memenuhi harapan masyarakat. Esensi pemasyarakatan adalah upaya peningkatan kualitas hidup warga binaan. Di balik tembok dan jeruji besi itu ada kreasi, ada inovasi, ada karya setara produk komersial berkualitas internasional,” tutur Ny. Evy kepada UKM. Lebih lanjut dikatakan, membangun manusia mandiri melalui bengkel  kerja produktif untuk mendukung ekonomi kreatif Indonesia (terampil dan berhasil), menjadi jargon yang diusung dalam setiap gelaran Napi Craft. Bagaimana pun, warga binaan sebagai manusia yang berada dalam ruang khilaf, tetap punya kesempatan untuk bertaubat dan bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat setelah bebas.

Kepedulian terhadap lika-liku penjara disebarkan melalui cara yang berbeda oleh Bui Production, yang berawal dari desain unik di kaos. Tetapi, apa artinya peduli tanpa berbuat. Percepatan eksistensi Bapas dan PK di Jawa Barat, pendirian pabrik roti di LP Wanita Palembang dan pelatihan manajemen training bagi warga binaan merupakan wujud kepedulian membangun pemasyarakatan yang lebih baik.

Peduli adalah kata yang sederhana dan ringan. Sesederhana ucapan selamat pagi kepala Lapas kepada pegawainya. Seringan senyum yang diberikan seseorang dalam setiap perjumpaan. Tertapi, kepedulian tidak akan ada jika tak dimulai. Lapas telah menyebar kepedulian itu kepada warga binaan melalui berbagai keterampilan. Joko Susilo Setiawan (37), warga binaan Lapas khusus narkotika  Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, mengaku sudah 1,5 tahun menekuni seni membatik. Dengan membatik, mengusir rasa jenuh sekaligus menjadi ladang penghasilan. Bersama puluhan warga binaan lainnya, Joko bisa menghasilkan batik berkualitas tak kalah dari hasil perajin di luar Lapas.
Dia mengaku, bisa membatik karena ikut pelatihan selama di Lapas. Produknya ada batik tulis dan batik cap. “Sebelumnya, tidak bisa membatik. Begitu juga teman-teman. Ikut latihan dari nol,” kata Joko Susilo kepada UKM saat Pameran Produk Unggulan Narapidana di Plaza Kementerian Perindustrian, Jakarta  5 April 2018 lalu.

Joko mengaku, sejak 2016 telah melayani permintaan berbagai motif dari klien. Sebagai ciri khas, memadukan beberapa motif, antara lain motif khas Solo, Yogya, Pekalongan, Cirebon, dan sebagainya. Kadang memadukan motif klasik dengan motif modern, seperti bunga dan daun untuk variasi. Motif-motif itu murni hasil imajinasi Joko dan teman-temannya. Berbeda degan perajin di luar Lapas, Joko mengaku tidak memiliki referensi untuk mengikuti tren motif batik. Dalam satu minggu, Joko dan teman-temannya minimal menghasilkan 2 lembar kain batik. Untuk menghasilkan batik tulis berkualitas memang butuh waktu cukup lama. Jika motifnya tidak terlalu rumit, bisa diselesaikan selama 2 hari. Jika rumit bisa dua minggu. Harga batik cap dibanderol mulai Rp160 ribu, dan batik tulis Rp300 ribu sampai Rp2 juta.

Warga binaan dari Lapas Perempuan Kupang juga menghasilkan kain tenun ikat tradisional, khas sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT sangat terkenal dengan kerajinan kain tenun ikat. Dan sangat beragam karena setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Dari segi warna, kain tenun dari beberapa daerah di Pulau Timor didominasi warna gelap. Sedangkan Flores, identik dengan warna terang. Tidak hanya warna, kekhasan tenun ikat NTT juga dibedakan dari segi motif. Tenun Sumba motif hewan; kuda, gajah, atau ayam. Sedangkan tenun Flores banyak menggunakan motif-motif geometris.

Untuk meningkatkan kreativitas napi peremuan, diberikan pembinaan dan bimbingan membuat tenun ikat, dengan diberikan fasilitas alat-alat tenun. Program yang awalnya hanya untuk mengisi waktu luang itu, sekarang sudah difokuskan untuk produksi dan dipasarkan. Pemasaranannya sudah merambah ke beberapa negara.

Bukan hanya kain tradisional, kerajinan lain juga dipamerkan seperti kerajinan sandal Rang Kayo, hasil karya warga binaan dari Lapas Payakumbuh, Sumatera Barat. Rang Kayo merupakan sandal yang terbuat dari bahan-bahan sederhana dengan desain unik. Ciri khas sandal Rang Kayo menggunakan bahan perca, seperti sisa kain songket, dan memiliki kesan mewah. “Dinamakan Rang Kayo, dengan harapan agar yang memakai sandal ini menjadi orang kaya,” kata Johan Ari Sadewa, Kepala Bagian Pembinaan Lapas Payakumbuh.

Menurutnya, semua proses produksi sandal ini sepenuhnya dikerjakan oleh warga binaan Lapas Payakumbuh. Mereka dibagi menjadi beberapa tim, ada yang khusus mengerjakan pola, pengeleman, menjahit, dan finishing. Setiap hari minimal bisa menghasilkan 7 – 10 pasang sandal. Harga sandal Rang Kayo Rp12.000 – Rp15.000. “Dengan desain unik dan harga terjangkau, sandal Rang Kayo banyak peminat. Pemasarannya sudah merambah ke beberapa kota di Indonesia dan mancanegara seperti Swiss, London, Srilanka, Venesia, dan Thailand. Dari hasil kreativitas ini, mereka bisa mengirimi uang ke keluarganya. Harapannya, setelah keluar dari Lapas mereka bisa berwirausaha mumpuni,” kata Johan Ari Sadewa.

Ada pula kerajinan mutiara hasil kreativitas warga binaan Lapas Perempuan Mataram. Kepala Lapas Perempuan, Mataram, Titik Daryani mengatakan, pihaknya menggandeng Galeri Indah Mutiara Lombok untuk membantu para napi perempuan mengembangkan kreativitasnya. Hasil kreativitasnya berupa kalung, gelang, cincin, dan bros.

“Dengan bekal keterampilan, diharapkan setelah keluar dari Lapas bisa menjadi wirausaha di daerahnya, sehingga mampu memperbaiki ekonomi keluarga dan mendongkrak pemasukan daerah. Hasil produk mereka yang paling banyak diminati masyarakat berupa cincin dan bros mutiara laut dengan harga Rp400 ribu. Sedangkan bahan-bahan yang terbuat dari mutiara air tawar, harganya relatif murah. Di bawah Rp400 ribu,” kata Titik Daryani.

(sutarwadi k.)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *