Kue Dari Bojong Koneng Mendunia

Belajar – menimba ilmu tidak ada batas usia. Selama masih ada minat dan niat, meski usia telah paruh baya, kesempatan belajar selalu terbuka. Belajar tidak harus di ruang kelas seperti layaknya siswa-siswi; SD, SMP, SMA, SMK. Belajar dari sekolah kehidupan, melihat langsung ke sumber ilmu lebih efektif dan mudah diresapi. Demikian pula seseorang yang ingin membangun bisnis, bukan soal punya bakat atau tidak, yang utama adalah minat dan semangat kerja keras.

Bagi karyawan – pegawai, mulai membangun bisnis – berwirausaha 3 – 5 tahun sebelum memasuki purna tugas – pensiun, sangat tepat. Modal, bisa dipersiapkan dari gaji bulanan. Dengan membuka usaha warung, dagang “kecil-kecilan” di rumah, bisa menjadi embrio untuk dikembangkan sekaligus belajar sehingga saat memasuki masa pensiun sudah mantap untuk berbisnis.

Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta yang diketuai H. Hasanuddin, BSy, SH, dalam tahun buku 2019 telah merealisasikan program kerja sama dengan Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) kewirausahaan. Pelaksanaannya ditangani oleh Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan Ikopin (PIBI – Ikopin). Untuk memperoleh ilmu dari tangan pertama pelaku bisnis yang merangkak dari bawah, dan kini produknya telah masuk ke pasar global, 75 orang anggota KPPD DKI Jakarta peserta Diklat diajak berkunjung ke pabrik kue kering bermerek J&C di kawasan Bojong Koneng. Bandung Selatan, Jawa Barat yang dibangun oleh pasangan suami isteri Dedi Hidayat dan Diah Susilawati.

Memanfaatkan peluang, kata Dedi Hidayat yang pernah berbisnis jahe merah, bisa dari mana saja dan kapan saja. Jelang hari raya keagamaan, khususnya bulan Ramadhan, berbagai bisnis musiman tiba-tiba menjamur di mana-mana. Bisnis yang ikut terbawa indahnya berkah Ramadhan yaitu pedagang es; (entah es campur, es teh manis, pisang ijo, es kacang merah), pedagang kolak (kolak pisang, kolak labu, kolak biji salak) dan sebagainya. Pedagang pakaian pun akan memperoleh laba besar saat perusahaan-perusahaan telah membagikan tunjangan hari raya kepada karyawannya.

Ada satu jenis pedagang lagi yang juga diuntungkan oleh momen hari raya, yaitu jualan kebutuhan pangan sekunder, penganan – makanan kecil. Hebatnya, makanan kecil ini mampu menggeser penganan tradisi. Dulu, hidangan yang biasa disajikan saat lebaran diantaranya; kacang goreng, dodol, sukro, gemblong, rengginang dan aneka cemilan tradisional lainnya. Kini, siapa yang tak kenal nastar, kastengels, putri salju, dan lidah kucing.

Bisnis kue kering jelang Lebaran, Natal dan Imlek memang menjadi primadona untuk dijadikan sajian tamu yang berkunjung. Karakter kue yang tahan lama membuat kue kering selalu dicari orang. Kisah sukses berbisnis kue kering dialami oleh Dedi dan Diah. Syarat keberhasilan usaha kue harus memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang kuliner atau punya bakat, hobi membuat kue sejak kecil bisa dipatahkan oleh pasangan suami isteri ini. Mitos itu tidak berlaku bagi mereka.

Keahlian membuat kue bisa diperoleh dari belajar autodidak. Keduanya pun tak punya latar belakang pendidikan kuliner formal. Diah sarjana lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, sedangkan Dedi alumni Fakultas Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam Jurusan Matematika Universitas Padjadjaran (Unpad).

Kepiawaian Diah setelah rajin mengikuti kursus dan rajin melakukan eksperimen membuat kue menjadi titik cerah usaha. Dengan modal Rp 2 juta, tahun 1996 Dedi dan Diah meretas usaha kue basah, dan mengibarkan bendera Joyci nama putra-putrinya Jody dan Cindy. Bisnisnya kala itu merupakan industri mikro. Namun setelah digeluti serius dan dikelola profesional, akhirnya industri rumahan ini mampu menghasilkan keuntungan luar biasa.

Usaha yang dirintis mengusung konsep bakery itu sempat dilanda badai krisis ekonomi 1998. Daya beli masyarakat yang menurun drastis dan daya tahan roti yang singkat, hanya 3-4 hari, mengguncang perusahaan tersebut. Dedi pun memutuskan untuk tidak lagi berjualan kue basah dan fokus pada usaha cookies. Bermodal pinjaman sebesar Rp 199 juta dibelanjakan alat-alat dan bahan baku cookies. Dengan kejelian memfokuskan usaha di sektor kue kering, langkah itu bukan hanya menyelamatkan Joyci, tetapi juga mengantarkannya menuju posisi saat ini.

Faktor terpenting dalam kegiatan bisnis adalah konsumen. Tanpa mereka bisnis pasti berhenti. Brand – merek harus mampu mengikat kuat konsumennya. Bisnis kue, karena merupakan bagian dari pangan harus terjamin kebersihannya. Saat menyadari arti penting brand dan mendaftarkan patennya pada 2002, mereka harus menelan kekecewaan. Brand Joyci sudah digunakan orang lain. Namun mereka tidak kehabisan akal. Agar tetap bisa menggunakan brand dari nama putra putinya, dipilihlah nama J&C Cookies yang dipertahankan sampai sekarang. Yang membanggakan ketika tahu bahwa orang nomor satu di negeri tercinta, Presiden Joko Widodo ternyata juga penikmat produk J&C Cookies.

Permintaan kue kering produksi J&C Cookies terus meningkat, tak hanya pada bulan Ramadhan atau jelang Natal. Suatu saat, karena permintaan sangat besar membutuhkan 500 ton tepung terigu, 30 ton kacang mede, 70 ton butter dan 20 ton telur. Permintaan kue kering J&C bisa mencapai 4000 – 5000 toples per hari. Dengan basis pasar Bandung dan Jakarta omzetnya sekitar Rp 13 -15 miliar.

Inovasi menjadi salah satu kunci sukses. Berawal dari hanya 6 jenis kue kering, seperti putri salju, kastengel, nastar, saat ini sudah berkembang menjadi sekitar 60 jenis kue. Selain selalu menggunakaan roombutter dan keju edam asli, J&C Cookies selalu menciptakan kreasi baru dari ragam kuenya. Setiap tahun, biasanya menambah 5 – 10 varian baru. Basic-nya, semua yang dicoba dan tertarik harus jadi cookies, misalnya, terakhir jengkies cookies, cookies jengkol. Sedang dipersiapkan pula pete cookies.

Selain selalu menambah varian produk juga mengembangakan sistem cookies isi ulang layaknya air minum galon. Jadi, setiap pelanggannya akan dipinjami rak toples, setiap kali merasa bosan, konsumen dipersilahkan mengganti rak toplesnya menjadi baru. Setiap bulan punya tema yang berbeda-beda, misalnya kalau mau Lebaran temanya masjid, bulan depan bisa ganti lagi. Pokoknya pelanggan pinjam saja, tidak usah beli, asal sudah punya toplesnya, kalu cookies habis tinggal isi ulang. Persis seperti galon air.

Inovasi, bukan hanya pengembangan produk, tetapi juga pemasarannya. Go international adalah sebuah impian. Dan impian itu telah menjadi kenyataan, J&C Cookies telah berhasil masuk pasar Malaysia, Singapura, dan Brunei Darusalam. Untuk bisa masuk ke pasar global kualitas diuji secara ketat oleh BPOM.

Awalanya, Diah dan Dedi menjalankan usahanya tanpa bantuan seorang pun tenaga kerja. Namun setelah industri rumahan itu berkembang pesat menjadi industri raksasa ribuan orang disekitar tempat tinggalnya diberdayakan sebagai karyawan musiman, da 100 orang diantaranya sebagai karyawan tetap. Demi menjaga kualitas produk, training dan pendidikan terus dilakukan bagi karyawan. “Rasa syukur kami wujudkan dengan memberi lapangan kerja pada orang-orang sekitar, di wilayah Bojong Koneng,” jelas Dedi.

Tantangannya saat ini, lanjut dia, khususnya kue kering yang akan dieksport ke luar negeri adalah masalah packaging – pengemasan. Pengemasan sangat penting guna menjaga kualitas produk. Rencana ke depan, mengembangkan perusahaan menjadi waralaba. Memang tidak mudah, terutama menjaga kualitas adonan. Untuk itu perlu control kualitas yang ketat.

Dengan terjaganya kualitas produk, dalam kurun waktu 15 tahun telah berhasil menghantarkan J&C Cookies menjadi salah satu best brand home made cookies di Indonesia. Bahkan, produknya dipasarkan hingga ke Singapura, Malaysia, dan Brunei, walau sejauh ini belum mengusung brand sendiri. Produk yang diekspor ke Singapura polos, tanpa menggunakan brand J&C Cookies. Di sana di-branding dengan brand setempat.

Di Singapur, produknya bisa didapatkan dengan mudah disejumlah mal ternama, seperti Takhasimaya, salah satu mal terbesar di Negeri Singa. Total, pasar manca negara menyerap sedikitnya 30.000 toples pertahun. Lantaran brand J&C Cookies semakin diperhitungkan, kue kering dari Bojong Koneng akan dipasarkan di manca negara dengan brand sendiri.

Setelah Malaysia, Singapur dan Brunei, berhasil ditaklukan, Hong Kong menjadi incaran invansi produk J&C dan akan pakai merk sendiri berlabel made in Indonesia. Meski telah merambah pasar internasional, pasar dalam negeri tetap jadi andalan. “Pasar ekspor paling hanya 5%,” jelasnya.

Meski belum masuk usaha waralaba, J&C menawarkan konsep keangenan sebagai distribusi produk-produk J&C. Para calon agen terbagi menjadi dua katagori yaitu agen biasa dan agen khusus. Saat ini J&C telah memiliki belasan agen khusus di Batam dan di Jakarta, sedangkan untuk agen biasa sudah mencapai 1000 lebih yang tersebar di seluruh Indonesia. Kalau mau jadi agen biasa minimal pembelain 30 lusin (toples) atau Rp 13 juta, untuk agen khusus Rp 400 juta sebanyak 1000 lusin.

Agen-agen itu bukan hanya pemilik toko atau pedagang sungguhan. Banyak di antara mereka yang berstatus pegawai negeri, guru, mahasiswa, ibu rumah tangga bahkan pelajar SMP pun banyak yang menjadi agen dan menjual langsung ke masyakarat luas. Sukses bisnis kue kering itu menginspirasi banyak orang, mereka ikut mencoba berwirausaha kue kering. Ada beberapa agen yang menjual produknya dengan sistem arisan. Dalam sebulan, anggota harus mengumpulkan uang arisan Rp 25.000,- Setelah diundi, yang beruntung akan memperoleh 5 – 6 toples kue kering.

Setiap tahun, dapat memproduksi sekira 600 ribu toples per tahun dengan omset penjualan sekira Rp30 miliar. Namun, ketika momen Lebaran, omzet produksinya bisa naik hingga 70% dari bulan-bulan biasa. Setahun, permintaan kue kering selalu naik sekira 20% – 30%. Kalau Lebaran yang paling banyak dipesan kastangles dan nastar. Banyaknya reapet order dan jumlah costumer yang terus meningkat membuat Dedi semakin optimis.

Produk J&C juga dipasarkan ke berbagai kafe dengan menjadikan cookies J&C sebagai makanan pengiring minum kopi dan alat penghitung jumlah item kopi yang dikeluarkan barista. Jadi, 1 pcs cookies berarti barista mengeluarkan 1 cangkir kopi sehingga tak ada kesempatan barista berbohong, karena berdasarkan kuantiti item kopi yang terjual. J&C Cookies kini mampu memproduksi 57 jenis kue kering berbagai rasa. Harga cookies mulai Rp 42.500,- – Rp 190.000,- per toples untuk ukuran besar. (adit)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *