Lagi-lagi Sebagai Pendiri

Ketertarikan terhadap suatu gerakkan akan melandasi perjuangan, dan loyalitas. Fransiskus Andi Azis, salah seorang tokoh gerakkan Credit Union (CU) di Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar) mengaku kecintaannya terhadap gerakkan CU tumbuh ketika menjadi staf Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) di Keuskopan Sintang.

“Di Keuskopan Sintang ada beberapa pos kegiatan, salah satunya PSE yang terdiri dari 32 pos. Satu diantaranya bergerak di bidang lembaga keuangan,” tutur Andi membuka perbincangannya dengan wartawan Majalah UKM di kantor Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Boerneo, dimana saat ini Andi dipercaya sebagai ketua.

Untuk memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, kata dia, PSE Sintang mengirimkan anak-anak muda kuliah di Perbanas Jakarta. Para kader alumni Perbanas itu ketika pulang diharapkan bisa mendirikan bank, paling tidak Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Salah satu alumni Perbanas, Marsilus Sitam, mengelola BPR Pinyo. Cikal bakal lahirnya BPR salah satunya CU Bima. Dan Andi Aziz termasuk salah seorang pendiri CU Bima.

Program PSE yang mengandalkan bantuan subsidi dari luar negeri, yaitu dari Belanda dan Jerman, tidak berjalan mulus. Penyebabnya, subsidi tersebut tidak boleh diterima langsung oleh pastoran, melainkan harus melalui pemerintah – Kementerian Agama. Ketika diterima, bukan saja sudah “disunat” sampainya juga tidak menentu. “Karena itu tahun 1992 diputuskan program PSE dihentikan. Tetapi kami masih di CU. Mengurus banyak orang, sering keluar masuk kampung – desa, naik turun gunung dan lembah ngarai, menelusuri sungai-sungai “liar” di Kalbar untuk meningkatkan martabat dan kesejahteraan masyarakat yang terpinggirkan membuat kami makin mencintai gerakkan CU,” urai Andi Aziz penuh semangat.

Karena menjadi pengurus CU volunteer – sukarelawan, kata Andi, tidak ada gaji segala macam, maka kegiatan sehari-hari melakukan penelitian singkat tentang pendidikan untuk perguruan tinggi. Andi memang seorang dosen di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP). Menurut hasil penelitian singkatnya di Kota Sintang, hampir 85% masyarakat Sintang menganggap tidak cukup hanya sekolah tinggi. Mereka menginginkan adanya Universitas. Maka Andi pun menghadap Bupati Sintang, Bonar Sianturi, menyampaikan keinginannya untuk tidak meneruskan STKIP, tetapi di Sintang harus ada Universitas.

“Singkat cerita, tahun 1992 didirikan Universitas Kapuas (UK) dengan 3 Fakultas, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Sosial dan Fakultas Administrasi. Saya termasuk pendiri, bersama beberapa rekan dari Universitas Tanjungpura (Untan),” jelas Andi yang kemudian dipercaya sebagai Pembantu Rektor II. Ketika para mahasiswa harus pratikum, karena sarananya belum tersedia, pratikumnya tersendat, lalu mandeg. Mengetahui kondisi universitas “kebanggaan” satu-satunya di Sintang, Bupati Bonar berjanji; “Saya akan melanjutkan pembangunan universitas ini menjadi universitas besar, kalau saya masih dipercaya menjadi bupati.” Ternyata dia tidak terpilih lagi menjadi bupati. Oleh bupati baru UK tetap dilanjutkan. Tetapi Andi tidak melanjutkan karyanya di UK.

Tahun 2000 Andi keluar dari UK, juga keluar dari CU Bima, dua lembaga yang kelahirannya ikut membidani, lalu pindah ke Pontianak. Di kota barunya itu Andi yang sangat mencintai dunia pendidikan, mendirikan Akademi Keuangan dan Perbankan. Demikian pula jiwa, semangat dan tubuhnya yang kental dengan darah CU, mendidih untuk mendirikan CU baru. Bersama teman-temannya, keinginan itu disampaikan kepada Pastor Paroki Keluarga Kudus, Romo Dibyo. Gayung bersambut, maka tahun 2000 itu pula CU Keluarga Kudus lahir, dengan anggota awal 30 orang. Sebagai perintis – pendiri, Andi dipercaya oleh anggota untuk memimpin CU Keluarga Kudus selama 3 periode. “Sebenarnya, tak boleh. Tetapi dipaksa – terpaksa,” katanya, seraya tertawa lepas. Meski tidak lagi sebagai pengurus – ketua, tetapi Andi tidak boleh jauh, apalagi lepas. Dia diikat sebagai penasehat.

Sebelum berakhir masa kepengurusannya, ada keinginan Keluarga Kudus keluar dari BKCU Kalimantan, Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) tempatnya bergabung dalam jejaring. Lalu, Keluarga Kudus mau ke mana? Mendengar ada CU potensial mau hengkang dari jejaringnya, Munaldus, Ketua Puskopdit Khatulistiwa, berbisik-bisik; “gabung saja ke Khatulistiwa.” Karena CU Lantang Tipo dan CU Pancur Kasih juga mau keluar dari BKCU Kalimantan, Andi tidak merespon tawaran Munaldus. “Setelah Lantang Tipo keluar dari BKCU Kalimantan, baru Keluarga Kudus keluar. Buat kami waktu itu yang penting keluar dulu. Mau gabung ke mana, belum tahu,” tutur Andi menolak untuk mengungkap alasannya keluar dari BKCU karena sebagai anggota tim investigasi, menganggap tidak elok.

Setelah kurang lebih 3 bulan keluar dari BKCU, Lantang Tipo, Pancur Kasih dan Keluarga Kudus sepakat membentuk wadah baru, Puskopdit Borneo. “Kami bertiga, Ketua Pancur Kasih, Ketua Lantang Tipo dan Ketua Keluarga Kudus setelah 4 – 5 kali mengadakan pertemuan membahas persiapan, memberanikan diri membentuk Puskopdit baru. Menurut persyaratan yang ditentukan pemerintah, untuk membentuk skunder minimal harus ada 3 primer yang menjadi anggota. Karena persyaratan yang ditentukan Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) 5 primer, kami memilih persyaratan dari pemerintah,” urai Andi yang akhirnya dipercaya sebagai ketua. Namun, lanjut dia, dengan catatan, karena baru pra Pus, cukup setahun saja. Alasannya, kalau mengurus yang besar belum punya pengalaman.

Dalam kurun waktu satu tahun itu Andi harus kerja keras meletakan dasar-dasar organisasi. Baik Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD – ART), mengurus akta pendirian lembaga sampai diperoleh badan hukum-nya. Semua berjalan dengan baik, dan baru 8 bulan Puskopdit Borneo sudah memberanikan diri untuk mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). “Walau belum setahun, namanya tutup tahun buku, ya harus RAT. Kami sudah kali kedua RAT, dan sekarang ini untuk kali ketiga RAT,” tutur Andi yang akhirnya menjadi ketua secara definitif sampai tahun buku 2013 ini, dan akan dipertanggungjawabkan pada RAT tahun 2014 mendatang.

Terkait persyaratan Inkopdit bahwa Puskopdit harus memiliki 5 anggota primer, kata Andi, salah satu binaannya, CU Pangingo Talino, resmi menjadi anggota penuh Puskopdit Borneo. “Saat ini memang baru 4 CU primer. Kami akan terus berusaha mengembangkan keanggotaan,” jelas Andi yang mulai tertarik gerakkan credit union sejak tahun 1988. Perjalanannya yang begitu panjang, banyak suka duka yang dialami.

“Yang manis banyak, yang pahit pun banyak sekali. Membuat rasa pahit menjadi asam, kemudian menjadi manis, tidaklah mudah. Pengalaman menarik waktu di CU Bima. Ketika baru didirikan, semangat anggota yang sebagian besar pengurus Paroki, luar biasa. Namun dalam perjalanan selanjutnya terjadi pro kontra. Pihak Paroki bilang; ‘Ini bukan urusannya Paroki. Kalian harus berdiri sendiri.’ Ketika mulai berdiri sendiri itu pahitnya mulai muncul. Tempat tidak punya, karena harus keluar dari Paroki. Fasilitas yang pernah dipinjamkan tidak ada lagi. Kami benar-benar drop, pahit sekali rasanya,” kenang Andi. Patah semangat lalu menyerah, lanjutnya, tidak ada gunanya.

Seperti baru lahir, mulai dari nol. Seperti pepatah, sudah jatuh ketiban tangga. Fasilitas dari Paroki tidak ada, keanggotaan di BKCU juga dicabut karena tidak mampu memenuhi kewajiban. Kondisinya benar-benar berada di titik nadir. Dalam pergaulan jejaring di Inkopdit, misalnya, selama 5 tahun hanya dianggap sebagai peninjau. Seperti anak ayam kehilangan induk, selama fokus bebenah diri, tidak menjadi anggota Puskopdit. Namun kondisi itu tidak membuat Andi menyerah.

Jiwa, cinta dan militansinya terhadap CU bagai magma. Anggota terus dimotivasi, diajak merayap. Tanda-tanda bertumbuh pun mulai tampak, rasa pahit mulai berubah menjadi asam, sedikit manis. Setelah 5 tahun sewa rumah orang untuk kantor, akhirnya bisa membangun gedung sendiri, meski kecil. Dan tahun 2006 – 2008, terjadi perubahan cukup signifikan. Kepercayaan anggota – masyarakat terus membuncah. Jumlah anggota terus bertambah, mencapai kurang lebih 20.000-an orang. Sekarang kabarnya sudah lebih dari 80.000-an orang.

Setelah kondisi CU Bima kokoh, mulai terpikir untuk membentuk Puskopdit baru. Setrateginya, Bima mendirikan CU – CU baru di berbagai daerah, terutama di tingkat kecamatan. Ada 4 CU baru bentukan CU Bima, dan pada tahun 2008 terbentuklah Puskopdit Kapuas. Karena sudah memenuhi persyaratan punya 5 anggota CU primer, maka permohonan menjadi anggota Inkopdit pun segera terkabulkan.

Tantangan yang tidak kalah berat, kata Andi, ketika mendirikan CU Keluarga Kudus. Semua pengurus yang ada sudah menjadi anggota CU di tempat lain. Contoh, kecuali anggota di CU Pancur Kasih, Andi juga anggota CU Khatulistiwa Bakti. Di Kota Baru, Pontianak, termasuk di Paroki Keluarga Kudus, rata-rata orang sudah menjadi anggota CU. Kesulitan yang dihadapi pengurus, orang menjadi anggota hanya untuk menyimpan, sedikit sekali yang pinjam. Mereka tidak bisa dipaksa pinjam karena sudah punya pinjaman di CU-nya pertama.

“Kalau dipaksa jadi beban, bahaya, bisa-bisa tidak bayar. Lebih baik menyimpan saja, tidak masalah. Akibatnya, lembaga harus memberikan balas jasa cukup besar atas simpanan anggota. Karena tidak banyak yang pinjam, jasa atas pinjaman anggota kecil, CU-nya tidak berkembang. Usianya sudah 13 tahun, anggotanya baru 1500-an orang,” urai Andi. Bandingkan dengan Pancur Kasih atau Lantang Tipo, lanjutnya, mencari anggota 1500 – 2000 orang hanya sebulan. Mengembangkan keanggotaan CU ke pedesaan lebih cepat daripada di perkotaan. Tetapi karena di pedesaan penghasilan anggota kecil, kapasitas untuk menyimpan juga kecil. Sebaliknya, minat pinjam besar namun dananya terbatas.

Karena CU Keluarga Kudus merupakan cikal bakal CU Paroki, kata Andi, biar berjalan apa adanya. Tidak boleh kecil hati, apalagi putus asa. “Kecil, yang penting sehat,” tegasnya. Agar dana simpanan tidak mengenap di lembaga, kepada anggota yang punya kegiatan usaha mendapat prioritas pinjaman modal. “Sekarang cukup banyak anggota yang berwirausaha menggunakan permodalan dari CU,” jelas Andi. Bahkan mereka yang semula tidak tertarik berwirausaha, sekarang mulai ikut membuka usaha. Ada yang ternak ayam, ternak ikan lele, ada yang membuka bengkel. Banyak juga yang membuka warung pecel lele. “Anggota yang punya usaha, mungkin ada sekitar 20%,” jelas Andi.

Belum lama ini, baru setahun yang lalu, Desember 2012, kata dia, ada anggota yang bersepakat membangun usaha bersama, mendirikan koperasi konsumen, kemudian membuka swalayan Merion. Adalah Dra. Norberta Yati Lantok, perempuan energik yang dipercaya memimpin Merion. Keberhasilannya memimpin CU Pancur Kasih, yang kini merupakan CU terbesar kedua setelah Lantang Tipo, membuat anggota yakin bahwa Ketua CU Pancur Kasih yang akan segera mengakhiri masa baktinya itu juga berhasil mengelola Merion.

“Saya bilang kepada Bu Yati, yang kebetulan juga pengurus Puskopdit Borneo, kita memanfaatkan CU – CU yang ada di kota, terutama untuk pengembangan potensi anggota Keluarga Kudus, daripada uangnya disimpan mengendap tidak digunakan, lebih bagus mereka diarahkan untuk berwirausaha. Gagasan itu disambut baik, dan Merion mulai dikunjungi masyarakat untuk berbelanja,” jelas Andi, yang lagi-lagi juga ikut sebagai pendiri.

Swalayan Merion adalah salah satu trick – upaya untuk mengembangkan potensi anggota dan menghindari mandegnya dana di kas lembaga. Karena dana tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan produktif – usaha riil, diharapkan bisa berkembang pesat.  “Menurut kami, penjualan barang-barangnya setiap bulan cukup lumayan. Barang yang dijual jumlahnya juga cukup banyak, 3000 item lebih,” tutur Andi seraya menambahkan bahwa anggotanya saat ini sudah tercatat 98 orang, dan pasti akan terus bertambah.

Secara kelembagaan, kata Andi, Merion kerja sama dengan CU Pancur Kasih, Keluarga Kudus maupun Lantang Tipo. Ini untuk mempermudah anggota Merion mendapatkan pinjaman dana dari CU masing-masing. Karena Merion keanggotaannya perseorangan, tanggung jawabnya juga masing-masing anggota. Hal yang sama juga dilakukan Puskopdit Khatulistiwa. Para anggota dari 9 CU primer anggota Khatulistiwa, membuka swalayan di Skadau. Metodenya, kalau ada anggota punya usaha di rumah masing-masing, menjualnya di swalayan. “Konsep kami juga seperti itu,” jelas Andi.

Yang menggagas mendirikan koperasi konsumen adalah Norberta Yati sepulang dari Singapura dan Thailand. Pemikirannya, untuk mengatasi kemungkinan kelak terjadi kejenuhan di CU. Terutama untuk kegiatan simpan pinjam. Di Singapur dan Thailand, CU sudah mengalami stagnan. Anggota hanya menyimpan, tidak mau pinjam lantaran kebutuhannya sudah terpenuhi. Koperasi sektor riil bisa menjadi sarana pemberdayaan anggota dengan menampung produk-produk yang dihasilkan seperti; kain tenunan, kerajinan anyam-anyaman, produk makanan, hasil-hasil hutan, dan sebagainya.

Meski sektor riil – swalayan ini persaingannya sangat ketat, terutama dengan Alfamart – Indomaret, jika benar-benar ditekuni, bukan tidak mungkin memenangkan persaingan. Merion, kata Andi, akan menampung produk-produk orang kecil, perajin pinggiran yang selama ini tidak pernah bisa menjual ke super market karena tidak punya jejaring dan seleksinya sangat ketat. “Kita harus mulai dari yang terkecil. Kami akan merangkul perajin, pelaku usaha mikro sebagai anggota. Mereka diberikan bimbingan, pelatihan dan pendampingan,” jelasnya.

Kalau peternak lele, katanya member contoh, harus diupayakan lele itu dijadikan apa. Kalau dijual goreng, kemasannya harus bagus supaya kelihatan menarik dan mempunyai nilai jual tinggi. Yang membuat tempe, tidak hanya dijual tempe mentah, tetapi bagaimana mengembangkannya. Artinya, harus ada produk turunan yang bisa disimpan dalam waktu cukup lama, seperti kripik, misalnya. Diakui, dari kalangan perajin jumlahnya baru sekitar 30-an. Mereka harus terus didampingi agar kualitas produknya semakin baik.

Ada produsen madu dari Danau Sentarung, potensinya cukup besar. Mereka masih perlu pendampingan agar kemasan – bentuk botolnya lebih bagus, ukurannya berbeda-beda, ada yang besar, agak besar, dan kecil supaya terjangkau semua pembeli. Yang tak kalah penting, diberi label. Untuk kebutuhan botol yang baik, standar nasional, masih harus dipesan dari Jawa. Dari 30 anggota yang punya produksi sendiri dan bisa cepat dikembangkan madu dan teh khusus merek Merion. Teh itu bahan bakunya dari Jawa tetapi meramunya di Kalimantan, dengan ramuan khusus. Potensi lain, anyaman rotan, produk olahan lidah buaya, nenas, tenun khas Kalimantan. Sedang dipikirkan motif tenun khusus Merion.

Nenas dan lidah buaya potensi perkebuannya ada di daerah rasau. Produk olahan lidah buaya sudah diekspor ke Jepang, tetapi kita sendiri di dalam negeri tidak menikmatinya. Petani lidah buaya yang menjual panenannya ke pabrik besar kebanyakan juga anggota CU. Karena mereka anggota CU, kenapa panenannya tidak kita olah sendiri. Mereka kita bimbing, dibina melalu koperasi. Lidah buaya itu bisa dibikin manisan, selai, minuman segar, dodol dan banyak lagi. Demikian pula nenas juga bisa dibuat berbagai macam jenis makanan. Ada sirup nanas, manisan nanas.

Ke depan, kata Andi, Puskopdit Borneo akan semakin mendorong anggota yang ada di CU primer membuka usaha di sektor riil. Borneo sebagai lembaga keuangan, anggota CU primer yang bergerak dibidang industri – kegiatan usaha riil. Karena Merion ingin berada di mana-mana, anggota diharapkan bisa menjadi distributornya. Saat ini, kata Andi, baru ada dua Swalayan Merion. Program pengembangannya membuka kios-kios Merion lebih banyak lagi agar cepat dikenal masyarakat. Harga dan kualitas di swalayan dengan di kios harus sama. Sehingga masyarakat yang akan belanja sedikit tidak harus ke swalayan, tetapi bisa datang ke kios. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *