Membangun Industri Manufaktur, Mengejar Ketinggalan

Rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) 2005-2025, khususnya struktur perekonomian;diperkuat sektor industri sebagai motor penggerak, didukung oleh kegiatan pertanian, kelautan, pertambangan yang menghasilkan produk-produk secara efisien, modern, berkelanjutan dan jasa pelayanan yang efektif,dengan menerapkan praktik tatakelola yang baik agar terwujud ketahanan ekonomi yang tangguh.

Pembangunan industri diarahkan untuk mewujudkan industri yang berdaya saing dengan struktur industri yang sehat dan berkeadilan. Pembangun Indonesia dari pinggiran memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yag bebas korupsi, bermartabatdan terpercaya. Hal itu diungkapkan Dosen Telkom University, Bandung, Jangkung Rahardjo pada seminar; Penyerapan Aspirasi Masyarakat Dalam Rangka Pembahasan Raperda Tentang Perindustrian di DKI Jakarta, beberapa waktu silam.

Penguasaan usaha, struktur industri disehatkan dengan meniadakan praktek monopoli dan berbagai distorsi pasar. Dalam hal ini, skala usaha, struktur industri akan dikuatkan dengan menjadikan industri kecil menengah (IKM) sebagai basis industri nasional. Yakni, terintegrasi dalam matarantai pertambahan nilai dengan industri berskala besar.Indonesia, kata Jangkung, negara yang memiliki sumberdaya alam beraneka ragam. Hasil bumi, hutan, laut, tanaman, ternak dan sebagainya.

Ironisnya, Indonesia menjadi target pasar dan pengguna berbagai produk dari negara lain. Produk import sangat dominan, bahkan produk yang dapatkitahasilkan sendirijugadiimport.Karena itu,kita perlu segera mencari cara untuk setidaknya mengurangi impor dengan menggunakan produk inovasi sendiri.Idealnya, kitaharuseksporberbagaiprodukhasilkreatifitasanakbangsa.

Karena DKI Jakarta etalase Indonesia, makapengembangannya harus mengacu pada ciri negara maju. Ciri negara maju antara lain, memiliki strategi bersaing melalui keunggulan teknologi. Pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan –knowledge  based economy yang kuat.Jangkung mengutip ungkapan David Mc Celland; Negara akan kuat, perekonomiannyaberkelanjutan apabila minimal 2% populasi penduduknya sebagai entrepreneur–  pengusaha.

Indonesia, tambahnya, pengembangan ekonominya yang berbasis pengetahuan baru mencapaqi 1,65%. Thailand lebih maju, 4%, Malaysia 6%, Singapura 7%, Jepang 16%, China 17% dan Amerika Serikat (AS) 18%. Karena itu, kita harus punya tekad untuk mengejar ketinggalan tersebut.Dicontohkan, Toyota Kiichiro dari Jepang, pada 1945 bertekad mengalahkan Amerika.Tahun 1990-an, Toyota menjadi salah satu produsen mobil terbesar.Korea juga bertekad, apa yang dapat dibuat di Jepang, dapat dibuat pula di Korea. Sekarang, Korea makin dekat mengejar Jepang. Malaysia punya visi, tahun 2020 menjadi salah satu negara maju di dunia, kini sudah mulai nampak.

Bagaimana dengan Indonesia agar tidak serba impor dan mampu menghasilkan berbagai produk sendiri? Beberapa fakta terkait usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), 99,9 % atau 48,9 juta unit usaha di Indonesia UMKM. Kesempatan kerja 6,77% disediakan oleh UMKM, dan hanya 3,23 % oleh usaha besar. Sedangkan sumbangan UMKM bagi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai 53,28%.

Secara umum, kendala yang terkait dengan industri dan pengembangan teknopreneurship yaitu; terbatasnya akses informasi, belum adanya penataan industri yang sistematis, sulit soal perizinan investasi, akses permodalan, perolehan hak cipta, akses pendidikan untuk meningkatkan kualitas SDM dan belum terbangunnya rantai bisnis. Yang kita harapkan, IKM baru berbasis teknologi akan melahirkan industri ber-skill tinggi dan mendukung industri besar. Semakin banyak IKM lahir melalui proses inkubasi teknologi dan bisnis berdampak –multliflier effect terhadap perekonomian, seperti; penyerapan tenaga kerja bertambah, aktivitas ekonomi makin tinggi, sehingga pendapatan daerah dari pajak meningkat.

Kriteria IKM berdasarkan Permenperin No.64/IM-IND/PER/7/2016 menyebutkan, industri kecil (IK) minimal mempekerjakan 1 – 19 orang, nilai investasinya kurang dari Rp 1 miliar, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Industri menengah, mempekerjakan paling banyak 20 – 50 orang dengan nilai investasi paling bayak Rp 15 miliar. Sedangkan industri besar, mepekerjakan lebih dari 50 orang dan nilai investasinya lebih dari Rp 15 miliar. Izin usaha bagi ketiga industri itu (IK,IM, dan IB), diberikan oleh Menteri, Gubernur, Bupati – Wali Kota.

Tersedianya SDM berkualifikasi lebih tinggi melalui program pelatihan, bukan saja meningkatkan pendapatan tenaga kerja yang bersangkutan menjadi lebih baik, tetapi juga meningkatkan produktivitas, dan kualitas produknya, sehingga mempunyai daya saing dengan produk-produk sejenis dari luar. Untuk itu perlu menyediakan;

  1. Fasilitas kantor bersama seperti; ruang diskusi, laboratorium bagi tenant – binaan, showroom, fastel dan internet.
  2. Bimbingan teknis, meliputi manajemen,marketing, aspek keuangan,hukum, info perdagangan, dan teknologi.
  3. Membantu akses riset, jaringan profesional, pengembangan teknologi, hubungan internasional, dan investasi.
  4. Memberikan pelatihan terkait rencana bisnis, manajemen dan kepemimpinan.
  5. Memberikan bantuan akses ke sumber pendanaan – lembaga keuangan.
  6. Kerja sama antar tenant– binaan, universitas, lembaga riset, usaha swasta, profesional, dan masyarakat.
  7. Membangun jejaring melalui seminar, pameran, dan kunjungan antarinstansi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta, Yuli Hartono menjelaskan, hingga tahun 2017 di DKI Jakarta ada 1.240 unit industri besar dan 28.479 unit industri kecil dan menengah. Rinciannya, di Jakarta Pusat 51 unit industri besar dan 5.325 unit IKM. Jakarta Selatan, 51 unit industri besar dan 4.264 unit IKM, Jakarta Barat, 389 unit industri besar dan 7.105 unit IKM, Jakarta Utara 471 unit industri besar dan 5.313 unit IKM, Jakarta Timur 278 industri besar, 6.299 unit IKM, dan Kabupaten Kepulauan Seribu hanya ada173 unit IKM.

Potensi industri di Jakarta terbagi dalam tiga kategori, yaitu; Pertama, industri yang masuk kategori komoditi unggulan. Antara lain industri makanan dan minuman  13.049 unit usaha, industri fesyen 4.211 unit, industri batu aji -kerajinan 2.340 unit dan industri meubel kayu 1.240 unit. Kedua, industri berbasis teknologi dan ketiga industri kreatif yang memiliki keunikan, kreativitas, nilai tambah, bukan pabrikan dan kekhasan lokal. Diperlukannya Perda tentang Perindustrian, menurut Yuli Hartono, agar ada landasan kebijakan bagi Pemprov DKI Jakarta, kepastian hukum bagi pelaku industri, dan masyarakat dalam penyelenggaraan industri di DKI Jakarta. Selama ini Pemprov DKI Jakarta memang belum memiliki Perda tentang Perindustrian.

Perda merupakan turunan dari Undang-undang (UU) No.3 Tahun 2014 tentang Perindustrian yang mengatur arah pengembangan industri pada masa mendatang. Khususnya untuk mengarahkan industri kreatif, IKM, dan industri yang menggunakan teknologi tinggi. Ke depan, diperlukan sinergi yang kuat antara IKM dengan industry besar untuk menjalankan perannya sebagai rantai pasok –supplay chain, sehingga Pemprov DKI Jakarta memiliki potensi IKM dan industri kreatif. Tujuannya, mewujudkan industri sebagai pilar dan penggerak perekonomian daerah, mewujudkan industri yang mandiri, berdaya saing, dan maju. Mewujudkan kepastian berusaha, persaingan usaha yang sehat, dan mencegah pemusatan – penguasaan industri oleh satu kelompok, atau perseorangan yang merugikan masyarakat. (sutarwadi k.)

Posted in Kiat Sukses | Tagged | Leave a comment

Erlangga : Tertantang Mencetak Wirausaha

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mendominasi sekitar 99% dari unit usaha yang ada di Indonesia. Mereka pada umumnya kuat menghadapi krisis karena kegiatan usahanya sederhana dan lentur. Beroperasi di daerah potensial konsumen – permintaan cukup besar. Maka, eksistensi mereka perlu lebih diperkuat. Hal itu dikemukakan Dirut PT Hexareca, H. Erlangga di ruang kerjanya, Jl. Cipinang Muara I Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Melahirkan wirausaha itu penting, dan keberpihakan kepada wirausaha lokal jiga tidak kalah penting. Indonesia adalah salah satu negara tujuan investasi. Indonesia kini menjadi rebutan investor asing. Mereka umumnya ingin menanamkan investasinya di seckor infrastruktur. Pemerintah sendiri memang berkomitmen membuka peluang lebar-lebar bagi investasi asing terutama untuk jaringan infrastruktur transportasi, seperti jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan Bandar udara. Pengembangan infrastruktur diharapkan dapat meningkatkan daya saing nasional. Setidaknya ada 2 negara besar yang memiliki minat cukup besar berinvestasi membangun infrastruktur di Indonesia, yaitu Jepang dan China. Investasi di bidang infrastruktur didukung melalui kebijakan-kebijakan ekonomi.

Selain itu, ada beberapa organisasi dunia yang menyatkan minatnya mengucurkan dana untuk membangun infrastruktur di Indonesia, misalnya; Asian Development Bank (ADB) dan Islamic Development Bank (IDB). Apa yang menarik banyak Negara berminat berinvestasi di sector infrastruktur di Indonesia? Indonesia dianggap memiliki income per kapita di level middle class dan dari sisi keseimbangan antara fondasi makro ekonomi, apakah itu dilihat dari moneter, fiscal, neraca pembayaran, maupun ambisi dari sisi sektoralnya, yaitu infrastruktur, industri, maupun dari sisi kesiapan pemerintah untuk alokasi di human capital, itu semua cocok dengan apa yang mereka ingin lihat dan investasikan.

Sampai semester pertama 2017 Singapura merupakan Negara asal investasi terbesar di Indonesia. Nilai investasi dari Negeri Singga ini mencapai US$ 3,66 miliar dengan 4.359 proyek mengalahkan Negara lainnya seperti Jepang US$ 2,85 miliar dengan 2.254 proyek, China US$ 1,96 miliar untuk 1.243 proyek, Hong Kong US$ 1.0,2 miliar untuk 812 proyek. Urutan kelima dan keenam adalah Amerika Serikat dan Korea Selatan masing-masing US$ 968,8 juta dan US$ 901,3 juta sebanyak 442 proyek dan 1.984 proyek. Peringkat ketujuh Malaysia dengan nilai investasi US$ 559 juta sebanyak 1.117 proyek. Di urutan kedelapan ada Mauritius yang menanamkan modalnya di Indonesia senilai US$ 516,9 juta untuk sebanyak 175 proyek. Pada peringkat kesembilan dan kesepuluh, masing-masing ditempati Belanda dan Inggris yang berinvestasi US$ 490,2 juta sebanyak 527 proyek serta US$ 448,8 juta sebanyak 405 proyek.

UMKM pun mendapat bantuan modal dari investor asing, khususnya untuk industry startup yang kini tengah menggila, dimana nyaris setiap minggu ada saja starup baru yang muncul ke permukaan dengan beragam ciri-ciri uniknya. Salah satu lembaga keuangan asal San Francisco, Amerika Serikat, Blossom yang didirikan oleh Matthew Joseph Martin pada tahun 2014 menawarkan permodalan kepada UMKM di Indonesia yang membutuhkan dana. Menariknya, karena yang dibidik pelaku UMKM dari kalangan muslim, Blossom menawarkan sistem syariah dengan menggunakan mata uang digital “Bitcoin”, yaitu sebuah duit elektronik yang dibuat pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto. Blosstom tidak memberi segera – langsung kepada pebisnis, tetapi diberikan lewat penghubung UMKM maupun koperasi yang menaungi – anggotanya pelaku UMKM. Investasi berbasis syariah bertujuan memudahkan UMKM mendapatkan modal untuk mengembangkan usahanya dan membebaskan UMKM dari jeratan riba.

Karena itu, perlu terus didorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru, terutama dari generasi muda untuk membidik pekerjaan turunan dari investasi tersebut. Jika tidak, forign direct investment (FDI) antara pemenangan proyek dengan penyediaan tenaga kerja hanya akan mengutungkan tenaga kerja asing. China, misalnya, yang kelebihan suplai tenaga kerja berketerampilan khusus akan berbondong-bondong ke Indonesia. Indonesia bukan Jakarta (Jawa), tetapi ada Papua, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Sumatera, NTT, NTB dan sebagainya. Demi keadilan, daerah-daerah tersebut harus mendapatkan kue pembangunan. Sehingga memunculkan wirausaha baru dan penyebaran kesempatan kerja lebih merata. Jika tidak, kata Erlangga, akan menyebabkan arus migrasi tinggi ke kota-kota besar. Selama ini arus migrasi dari berbagai daerah, termasuk dari luar Jawa menuju Jabodetabek, atau kota-kota besar di Jawa.

Kebijakan pemerintahan Jokowi – JK; Membangun dari desa, tidak lain adalah untuk pemerataan pembangunan demi keadilan. Beberapa skema program pemerintah antara lain; PNPM, Bumdes, dan prioritas pertanian. Untuk mendukung program pembangunan pedesaan, ada persoalan yang muncul, yaitu terbatasnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dari kalangan anak muda. Khususnya untuk sektor pertanian. Banyak anak muda meninggalkan kampung halamannya, mencari pekerjaan di prabrik-pabrik.

Mereka sepertinya tak tertarik untuk berwira usaha. Memang, kata Erlangga, untuk menjadi pebisnis perlu berguru kepada orang yang mengerti. Bukan kepada guru yang mengajar teori di sekolah. Sebab, tak selamanya apa yang dilakukan guru itu benar. Berbisnis harus dengan cara dan jalan yang benar, sehingga hasil usahanya halal. Yang tidak kalah penting, mensyukuri apa yang diterima.  Alumnus Fakultas Teknik Mesin Universitas Trisakti yang kini berusia 64 tahun ini merintis uasahanya sejak usia 30 tahun. Kini berkantor di Rukan Jl.Cipinang Muara I Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. (sutarwadi)

Posted in Kiat Sukses | Tagged | Leave a comment

Usaha Kecil Menengah

Warung-warung di sepanjang jalan dan kios-kios pulsa mungkin tidak pernah menarik perhatian kita, kecuali ketika kehadirannya benar-benar dibutuhkan. Padahal, kita menemuinya dengan mudah di setiap beberapa ratus meter ruas jalan di Indonesia. Sejak krisis ekonomi melanda perekonomian Indonesia telah berubah, di mana usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi penggeraknya, yang mampu menyerap 100 juta lebih tenaga kerja.

Demam entrepreneur merebak di tengah masyarakat. Menggunakan bahasa asing seolah menjadi gelar prestisius di kalangan anak muda dan mewabah begitu cepat. Berbagai acara kompetisi bisnis pun diadakan oleh begitu ragam institusi perusahaan Negara maupun swasta. Banyak istilah yang digunakan sebagai padanan kata entrepreneur seperti; pengusaha, wirausaha – wiraswasta. Namun intinya, digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis – usaha, menggunakan sumber daya yang dibutuhkan sehingga mampu melakukan tindakan yang tepat guna meraih target profit dan kesejahteraan serta mencapai kesuksesan yang diharapkan.

Umumnya, seorang entrepreneur yang sukses memulai usahanya dari bawah, maka perjalanan seorang entrepreneur besar tentu tidak jauh pula dari istilah UMKM. Sektor UMKM punya daya tahan yang luar biasa dari tekanan perekonomian. Sudah dibuktikan oleh UMKM ketika krisis ekonomi tahun 1998. Sebagian besar pelaku UMKM tetap bertahan, bahkan tak sedikit yang usahanya meningkat seusai krisis. Di beberapa Negara, UKM bahkan menjadi pondasi kuat sebagai penopang ekonomi Negara. Hal ini tak dapat dipungkiri, karena pola bisnis yang dijalankan ternyata tepat menjadi ketahanan usaha – ekonomi dalam berbagai dinamika yang muncul.

Aktivitas pelaku UMKM terbukti telah berkontribusi nyata bagi laju pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Indonesia. Hal itu disebabkan oleh aktivitas UMKM yang banyak bergerak pada sektor riil yang menghasilkan nilai tambah bagi pendapatan nasional Indonesia selama ini. Selain itu, UMKM mampu berperan aktif dalam membuka kesempatan kerja, menyerap tenaga kerja hingga mengurangi jumlah pengangguran.

Begitu pentingnya UMKM, sampai dunia internasional pun menginisiasi hari UMKM internasional. Indonesia menjadi bagian dari gerakan dunia internasional di mana tahun 2016 ICSB – International Council for Small Business berinisiatif perlunya Hari UMKM Internasiona. Inisiator Hari UMKM Internasional antara lain; Amerika Serikat, Australia, Indonesia, Korea Selatan, Kuwait, Mesir, dan Argentina melakukan pembicaraan meja bundar di Markas PBB, di New York, AS. Dan setahun kemudian menjadi kenyataan; PBB menetapkan 27 Juni 2017sebagai UN MSME Day. Hari UMKM Internasional adalah bentuk apresiasi dan dukungan dunia internasional terhadap ekonomi kerakyatan yang menjadi tulang punggung kesejahteraan bangsa. Momentum yang luar biasa ini menyemangati para pelaku UMKM di Indonesia.

Berdasarkan undang undang (UU) No. 20 tahun 2008, usaha mikro kecil dan menengah merupakan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun badan usaha yang bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa secara komersial dan mempunyai omzet per tahun sampai dengan Rp300 juta, sementara usaha kecil mempunyai omzet di atas Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar dan usaha menengah yang memiliki omzet di atas Rp2,5 miliar hingga Rp50 miliar.

Kategori jenis usaha ini dibuat agar pemerintah mampu menerapkan strategi yang tepat untuk mengembangkan usaha dan bisnis melalui kebijakan pemerintah, khususnya di bidang ekonomi. Kebijakan ekonomi pemerintah harus menempatkan UMKM sebagai prioritas utama dalam aktivitas ekonomi nasional, mengingat bahwa peran UMKM yang selalu menjadi “penyelamat” perekonomian nasional di setiap krisis ekonomi global yang melanda Negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, dalam beberapa dekade terakhir.

Yang sering menjadi pertanyaan, bagaimana caranya sektor ini bisa bertahan  dari berbagai jenis badai. Pada umumnya, sektor UMKM punya kelenturan terhadap kondisi ekonomi. Bahkan tak sedikit wirausahawan di sektor ini yang memiliki beberapa usaha. Kecerdikan membaca peluang itu barang kali akan sulit dijelaskan dalam teori-teori ekonomi yang terlalu sulit. Bagi para pelaku usaha di sektor ini, peluang akan selalu dicoba. Kalaupun gagal mereka bisa mencoba peluang yang lain.

Bagi sebagian pelaku usaha di sektor mikro, penjelasan usaha adalah bagian penting dalam menopang perekonomian keluarga. Tanpa usaha itu, mereka akan kesulitan menggerakkan roda ekonomi keluarga. Untuk itu tidak mengherankan jika jumlah usaha di sektor ini sangat banyak. Sensus ekonomi 2016 yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2017 menunjukan, terdapat 26,71 usaha atau perusahaan non pertanian. Jumlah usaha atau perusahaan dalam sensus ekonomi itu meningkat 17,51% dibandingkan dengan hasil sensus ekonomi 2006 yang berjumlah 22,73 unit usaha – perusahaan.

Menurut Sensus Ekonomi tahun 2016, jumlah UMK mencapai 26,26 juta unit usaha atau sekitar 98,23% dari total usaha. Adapun sektor usaha menengah besar (UMB) tercatat hanya 450.000 unit usaha – perusahaan atau 1,67%. Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran mendominasi dalam sensus itu, jumlahnya mencapai 12,33 juta usaha (46,17%), disusul penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum sebanyak 4,466 juta usaha (16,53). Masing-masing lapangan usaha lain yang masuk 15 katagori Sensus Ekonomi 2016 ada di kisaran 1% – 5% dari total usaha.

UMKM seperti apa yang berhasil memberikan sumbangan begitu besar bagi perekonomian masyarakat? Ketika ekonomi China Berjaya, bukan hanya orang-orang Amerika dan Eropa yang “terperangah” oleh sinarnya. Pengusaha-pengusaha asal Jepang, Korea bahkan “lawan” psikologisnya, Taiwan ingin berinvestasi di sana. Dengan metode Guang Xi, jaringan kedaerahan dan kesukuan, bahkan pengusaha keturunan asal Indonesia juga berinvestasi dan memindahkan sekolah anak-anaknya ke China. China adalah magnet, sekaligus masa depan. Banyak orang percaya China akan menggantikan peran Amerika Serikat sebagai penguasa dunia. Sama seperti ucapan banyak orang terhadap Jepang 30 tahun yang silam. Ketika Kaname Akatmatsu mengulas paradigma angsa terbang (the flying geese paradigm) dengan Jepang sebagai pemimpinnya di Asia.

Angsa-angsa yang berada di depan selalu diikuti angsa-angsa lain ke mana pun ia pergi. Ia menjadi navigator. Tetapi dalam perjalanannya ternyata tak banyak angsa yang bisa terus berada di depan. Ia bisa goyah dan gundah sehingga kedudukannya diganti yang lain. Untuk menjadi pemimpin angsa terbang diperlukan Asteroidpreneur, bukan sekedar UKM-preneur, apalagi kalau hanya coba-coba dan hanya bergelut di bidang usaha yang mudah-mudah saja dengan prinsip ATM (awasi – Tiru – Modifikasi). Kapan menjadi industrinya?

Salah satu ciri Negara yang angsa-angsanya cuma ikut-ikutan terbang adalah pengusahanya kesulitan melompat. Usaha-usaha mikronya terbelenggu seperti burung dara yang sayap-sayapnya dijahit. Supaya bisa terbang tinggi, tentu saja belenggu-belenggu itu harus dilepas. Sejak krisis moneter menghantam Indonesia hampir 20 tahun silam, kita menaruh harapan pada UMKM. Jumlah UMK seperti di rilis BPS 26,26 juta unit usaha. Tetapi di lain pihak gairah berindustri turun drastis. Tak ada lagi orang-orang seperti Sukanto Tanoto yang diawal tahun 1980-an bernai membangun industri pulp and paper. Semua anak-anak muda cuma asyik membuat roti, kue, burger, pecel lele, ikan bakar, dan warung gerobak yang di grobak-chise kan.

Bisa diduga ke mana muaranya para wirausahawan seperti ini. Ketika jenuh, mereka beralih menjadi motivator atau pembicara UKM. Modalnya apalagi kalau bukan spirit Robert Kyosaki yang mengajarkan “bagaimana menjadi orang kaya”. Tak sedikit pula yang menamkan cara-cara pemasaran bombastis atau cara-cara spiritual. Kata seorang industrialis, perlu dibedakan benar-benar mana yang merupakan hasil dari suatu percobaan dengan coba-coba. Kelihatannya, lebih banyak yang iseng dengan coba-coba, bukan kesungguhan yang didasarkan bukti-bukti empiris yang dapat digeneralisasikan. Dan tentu saja, bisnis seperti ini lebih banyak hit and run. Tapi tak apa, sepanjang order sebagai motivator masih bisa jalan terus, bukan?

Kita memerlukan UKM untuk menyelamatkan pengangguran, namun untuk memajukan bangsa, negeri ini juga bentuk industri-industri besar yang dibangun berbasiskan pengetahuan, sophisticated management dan profesionalisme. Indonesia butuh pesawat-pesawat kecil yang bisa menembus daerah-daerah pedalaman seperti yang dilakukan Susi Pujiastuti (Susi Air) atau kapal-kapal penjelajah berbobot ringan yang dibuat dari teknologi material komposit yang dibuat Lisa Ludin di Banyuwangi. Kita membutuhkan UMKM untuk membuat desain-desain baju dan keperluan konsumsi ringan, tetapi untuk membuat energy dan otomotif diperlukan usaha-usaha besar. Usaha-usaha besar adalah lokomotif untuk menarik usaha-usaha kecil.

Namun, para incumbent – dalam hal ini pelaku bisnis lama, agar waspada terhadap lawan-lawan baru yang tidak terlihat. Mereka adalah kaum muda yang sangat akrab dengan teknologi dan mesra dengan inovasi. Menunggang kendaraan internet pengusaha muda langsung masuk ke rumah-rumah konsumen, dari pintu ke pintu. Contoh paling fenomenal adalah adanya layan transportasi online, seperti Uber, Gojek, dan Grab. Masih segar dalam ingatan bagaimana kehadiran mereka memancing demo besar-besaran dari para insan transportasi konvensional.

Contoh lain, bagaimana kalang kabutnya bisnis perhotelan. Data wisatawan Bali menunjukkan kenaikan signifikan, namun nyatanya hotel-hotel makin sepi. Penyebabnya tak lain adalah airbnb.com atau courhsurfing.com dan sejenisnya. Dengan prinsip sharing ekonomicy mereka dapat mengubah kamar yang tadinya Rp1 juta menjadi hanya Rp200.000. Wisatawan mana yang tidak tergiur. Lantas bagaimana dengan UMKM yang digadang-gadang sebagai penopang perekonomian Indonesia?

Sejak belasan tahun yang lalu kita sudah bicara pentingnya kewirausahaan. Kita meyakini generasi muda yang melimpah di Indonesia dibandingkan Negara lainnya, mampu berwirausaha. Pilihannya adalah menjadi pelaku UMKM atau UKM. Kuliner, pertanian, peternakan, kerajinan, ekonomi kreatif, pariwisata dan perdagangan adalah yang paling populer. Hampir semua kementerian tiba-tiba tampil menjadi Pembina kewirausahaan. Namun saat pemerintah turun tangan, sebenarnya kaum muda sudah mulai beralih. Mereka tak lagi menjadi pelaku UMKM melainkan membangun start-up.

UMKM dan start-up merupakan dua makhluk yang berbeda. Usaha mikro dan kecil sudah jelas ukurannya kecil. Kebanyakan ambisinya pun tidak besar. Banyak usaha kecil yang hampir selamanya berpikir kecil. Jumlah pegawainya rata-rata 3 – 5 orang dari waktu ke waktu. Jumlah usaha ini banyak sekali dan biayanya sangat lazim diperoleh melalui perbankan konvensional, yaitu pinjaman. Sementara start-up mikir kecil hanya di awal. Mimpi para pelakunya menjadi besar sebesar samudera luas, bahkan pemain global. Dananya pun internasional, bukan melalui perbankan melainkan venture capital. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi umum Indonesia. Negeri ini tergolong miskin, modal dari bank hampir tidak ada. Sementara di banyak Negara lain dana di bank berlimpah karena tidak ada yang meminjam.

Salah satu faktornya, Negara seperti Australia, Jepang, dan Negara-negara lain di Eropa  didominasi oleh orang tua yang sudah terjamin tunjangan lansia. Akibatnya banyak dana mengendap tidak terpakai. Karena itu, bersyukurlah Indonesia yang berlimpah anak muda penuh semangat berwirausaha. Agar berhasil dengan nilai unggul harus miliki ketangguhan bersaing. Pertarungan zaman sekarang adalah bisnis model. Namun, bisnis model itu juga bisa menimbulkan kesan “negatif” bahwa daya beli masyarakat turun – rendah.

Tetapi hasil kajian Prof. DR Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) yang dilakukan pada tataran mikro menunjukkan bahwa yang sedang terjadi berpindah (shifting) dari kalangan menengah – atas ke ekonomi rakyat. Dan pada elit sekarang sedang sulit karena peran sebagai “middleman” mereka pudar akibat disruptive inonovation, lalu meneriakan “daya beli turun”. Rhenald pun melakukan chek and recheck, kemudian memberikan contoh;

(1) JNE, ini adalah jaringan logistic yang marketshare-nya sudah di atas PT Pos Indonesia, dan nama perusahaannya disebut oleh semua jenis online. Di JNE ia dapat data bahwa pegawainya ditambah terus untuk melayani pengambilan dan pengiriman logistik. Penambahan sumber daya manusia (SDM) beberapa bulan terakhir sudah 500 orang. Suatu jumlah yang cukup lumayan untuk satu perusahaan.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa konsumen dan pedagang beras di Kalimantan kini lebih banyak membeli beras dan minyak goreng via tokopedia dari Surabaya, Lombok, Makasar, dan lain sebagainya. Juga tidak banyak yang tahu bahwa angkutan kargo udara dari Solo naik pesat untuk pengiriman garmen dan barang-barang kerajinan. Juga dari kota-kota lainnya. Artinya usaha-usaha kecil dan kerakyatan mulai diuntungkan.

(2) Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) melaporkan bahwa penjualan yang dicapai anggota Aprindo semester 1 sales drop 20%. Ini mulai mengikuti pola angkutan taksi yang sudah turun 30% – 40% tahun lalu. Apakah karena daya beli? Bukan, penyebabnya adalah shifting ke taksi online. Sama halnya retell dan hotel yang beralih dari konvensional ke online. Artinya, bukan daya beli drop, bukan juga keinginan membeli turun, melainkan terjadi shifting.

(3) Hampir semua produsen besar yang ditemui mengaku omzet mereka naik 30% – 40%. Mulai tepung terigu dicek ke Bogasari sampai dengan obat-obatan (consumer health) dicek ke Kalbe, permintaannya masih naik pesat. Tetapi produsen seperti Gulaku mengaku drop karena kebijakan harga eceran tertinggi (HET) yang mulai dikontrol pemerintah.

Lalu, siapa yang pendapatannya turun, dan mengapa turun? Jawabannya, yang pendapatannya turun adalah grosir-grosir besar yang biasa membayar kepada produsen mundur 45 hari – 3 bulan. Di antaranya adalah supermarket-supermarket besar yang biasa “ngerjai” UMKM dengan menunda pembayaran. Kini dengan munculnya dunia online UMKM bisa langsung, maka supermarket besar kekurangan pasokan. Produsen besar juga menahan stocknya, lebih mengutamakan membuka jalur distribusi baru. Berkat Tol Laut kini para agen penyalur FMCG yang berada di Lombok,NTT, Maluku, Sulawesi dan lain-lain bisa dapat barang langsung dari produsen tanpa melalui middleman di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagainya.

Kini penerimaan para middleman besar di Pulau Jawa itu kehilangan pasar. Demikian juga supermarket-supermarket besar yang terbiasa menjual kepada para agen di masa lalu. Kini mereka juga dibatasi karena para produsen mulai menata jaringan distribusinya berkat infrastruktur yang bagus dan kedatangan kapal yang lebih rutin (kebijakan tol laut). Itulah yang mereka keluhkan dengan “daya beli turun”. In fact, pasar bergeser, pemerataan tengah terjadi walaupun belum sampai ke bawah sekali (kelompok prasejahtera), namun “kekayaan” kelompok mapan di Pulau Jawa (khusunya para middleman) tengah tergerus.

Kita hendaknya bisa lebih jernih melihat bahwa pembangunan infrastruktur dan tol laut ini menimbulkan dampak shifting yang besar, namun dalam jangka panjang akan sangat baik bagi pemerataan kelas menengah. Tinggal tax policy untuk menangani the plutactorats – kalangan super kaya yang jumlahnya sedikit, tetapi menguasai banyak. (damianus)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Personal Aspect – Aspek Kepribadian

“Melihat dengan mata kita… Mendengar dengan telinga kita.. Berbicara dengan suara hati kita. Landasilah hidup dengan cinta, agar dapat melihat masalah kecil yang perlu diperbaiki hingga masalah yang besar yang perlu diselesaikan”.

Secara umum, Pengertian Personal Aspek atau Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang terdiri dari corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap yang melekat pada seseorang jika berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Istilah kepribadian adalah konsep yang luas sehingga tidak mungkin membuat definisi berlaku untuk semua orang. Dapat dikatakan kepribadian merupakan latar belakang corak perilaku seseorang.

Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, sifat, yang dimiliki seseorang yang berkembang ketika seseorang berhubungan dengan orang lain. Kepribadian sangat erat kaitannya dengan nilai, norma, dan perilaku. Kepribadian merupakan konsep yang luas, sehingga pengertian kepribadian banyak ditanggapi berbeda-beda oleh para ahli Sosiologi. Namun dari definisi pengertian kepribadian saling melengkapi dan memperkaya konsep kepribadian.

Beberapa definisi kepribadian menurut ahli sosiologi antara lain; Gordon W. Allport: Pengertian kepribadian adalah organisasi sistem jiwa raga yang dinamis dalam diri individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya. M.A.W. Brouwer: Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang terdiri dari corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang. Theodore M. Newcomb: Pengertian kepribadian adalah organisasi sikap-sikap – predispositions yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang pemiliknya. John F. Cuber: Kepribadian adalah keseluruhan sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.

Kepribadian–integritas, ada juga yang mengartikan sebagai keunggulan moral dan menyamakan sebagai “jati diri”. Juga diartikan sebagai bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kode etik. Dengan kata lain, sebagai “satunya kata dengan perbuatan”. Kepribadian mencakup sifat: bertanggung jawab, jujur, menepati kata-kata, dan setia. Konon, di Tiongkok kuno orang menginginkan rasa damai dari kelompok barbar utara. Itu sebabnya mereka membangun tembok besar. Tembok itu begitu tinggi sehingga mereka yakin tidak seorang pun yang bisa memanjatnya. Karena sangat tebal, tidak mungkin hancur walaupun didobrak. Sejak tembok dibangun dalam seratus tahun pertama, setidaknya Tiongkok diserang tiga kali oleh musuh-musuhnya, namun tidak ada satu pun yang berhasil masuk karena temboknya tinggi, tebal, dan kuat.

Suatu ketika, musuh menyuap penjaga pintu gerbang perbatasan itu. Apa yang terjadi? Musuh berhasil masuk. Orang Tiongkok berhasil membangun tembok batu yang kuat, tetapi gagal membangun kepribadian pada generasi berikutnya. Seandainya, penjaga pintu gerbang tembok itu memiliki kepribadian – integritas tinggi, ia tidak akan menerima uang suap itu, yang tidak hanya menghancurkan dirinya, tapi juga orang lain. Betapa sering kita meremehkan dan memandang sebelah mata terhadap arti penting sebuah kepribadian. Akan lebih banyak risiko dan akibat fatal yang terjadi jika harus mengorbankan kepribadian. Bila kita tidak memperhatikan sikap dan tindakan, kenikmatan sesaat sering berujung pada akibat buruk yang berkepanjangan.

Suatu penelitian menyatakan, perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada usia negara itu. Contoh, India dan Mesir, yang usianya lebih dari 2.000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang. Di sisi lain, Negara seperti Singapura, Kanada, Australia, dan New Zealand, yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini adalah bagian dari negara maju di dunia. Ketersediaan sumber daya alam (SDA) suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya. Jepang, punya area yang sangat terbatas, di mana daratannya delapan puluh persen berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan. Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia.

Jepang laksana negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia, dan mengekspor barang jadinya. Swiss tidak punya perkebunan coklat, tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya sebelas persen daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. Nestle adalah salah satu Koperasi makanan terbesar di dunia. Bank-bank di Swiss, menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang, sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara maju dan kaya di Eropa. Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Lalu, apa perbedaannya? Perbedaannya adalah pada sikap – perilaku masyarakat yang terbentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti dan mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan yang salah satu dari prinsip dasar itu adalah integritas diri.

Apakah makna integritas bagi kita? Pertama, integritas berarti komitmen dan loyalitas. Komitmen – janji pada diri sendiri ataupun orang lain yang tercermin dalam tindakan-tindakan. Seseorang yang berkomitmen adalah mereka yang dapat menepati janji dan mempertahankan janji itu sampai akhir, walaupun harus berkorban. Banyak orang gagal dalam komitmen. Faktor pemicu mulai dari keyakinan yang goyah, gaya hidup yang tidak benar, pengaruh lingkungan, hingga ketidakmampuan mengatasi berbagai persoalan. Gagal dalam komitmen menujukkan lemahnya integritas diri.

Kedua, integritas berarti tanggung jawab. Tanggung jawab adalah tanda dari kedewasaan pribadi. Orang yang berani mengambil tanggung jawab adalah mereka yang bersedia mengambil risiko, memperbaiki keadaan, dan melakukan kewajiban dengan kemampuan yang terbaik, peluang menuju sukses terbuka bagi mereka. Sementara itu, orang yang melarikan diri dari tanggung jawab merasa seperti sedang melepaskan diri dari sebuah beban. Semakin lari dari tanggung jawab, akan semakin kehilangan tujuan dan makna hidup.

Ketiga, integritas berarti dapat dipercaya, jujur, dan setia. Kehidupan kita akan menjadi dipercaya, apabila perkataan sejalan dengan perbuatan kita; tentunya dalam hal ini yang kita pandang baik atau positif. Sebuah peribahasa mengatakan “Kemarau setahun akan dihancurkan oleh hujan sehari”, yang artinya segala kebaikan akan runtuh dengan satu kali saja kita berbuat jahat.

Keempat, integritas berarti konsisten, tetap pada pendirian. Orang yang konsisten adalah orang yang pendiriannya tidak goyah. Konsisten bukan berarti sikap yang keras atau kaku. Orang yang konsisten dalam keputusan dan tindakan adalah orang yang memilih sikap untuk melakukan apa yang benar dengan tidak bimbang, karena keputusan yang diambil berdasarkan fakta yang akurat, tujuan jelas, dan bijak. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah konsistensi dimulai dari penguasaan diri dan sikap disiplin.

Kelima, berintegritas berarti menguasai dan mendisiplin diri. Banyak orang keliru menggambarkan sikap disiplin sehingga menyamakan disiplin dengan bekerja keras tanpa istirahat. Padahal sikap disiplin berarti melakukan yang seharusnya dilakukan, bukan sekadar hal yang ingin dilakukan. Disiplin mencerminkan sikap pengendalian diri, suatu sikap hidup yang teratur dan seimbang.

Keenam, berintegritas berarti berkualitas. Kualitas hidup seseorang itu sangat penting. Kualitas menentukan kuantitas. Bila kita berkualitas maka hidup kita tidak akan diremehkan. Kitab Suci menuliskan dengan gamblang tentang kehidupan para tokoh Alkitab, ada yang gagal ada yang berhasil. Integritas hidup berkualitas adalah kehidupan yang membiarkan orang luar menilai diri kita. Pada saat menyenangkan atau pada saat tidak menyenangkan.

Antusiasme bekerja di dalam keseharian, kadang terjadi naik turunnya semangat yang secara langsung – tidak langsung dapat menurunkan kinerja dan pelayanan – produk dari Koperasi. Manusia membutuhkan semangat dan perasaan antusias, bukan hanya supaya dapat terus-menerus bekerja, tapi juga akan membuat mereka melakukan pekerjaannya dengan sukacita. Dengan antusiasme tinggi akan memberikan energi positif kepada anggotanya. Ketika masalah dan tantangan dalam pekerjaan semakin besar, pada akhirnya yang akan tersisa hanya orang-orang dengan antusiasme tinggi.

Seseorang yang memiliki antusias bekerja tak pernah dikontrol oleh lingkungan, bahkan dia yang mengontrol lingkungannya. Jika lingkungan dalam kondisi baik, dia akan baik. Jika lingkungan dalam keadaan buruk, dia akan tetap baik.  Antusiasme adalah energi kehidupan yang tertanam dalam diri setiap manusia. Energi itu membuat maju dan terus maju. Antusiasme merupakan sendi-sendi kehidupan yang membuat hidup menjadi lebih hidup, berwarna, dan bermakna, bukan saja bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya. Antusiasme  mencerminkan beberapa sikap yang kita butuhkan sehingga dapat dikatakan sebagai modal yang mutlak diperlukan jika kita ingin mencapai sesuatu yang berharga.

Antusiasme menjadi bahan bakar agar kita terus berjalan, tekun, dan belajar untuk menikmati proses pencapaian tujuan. Barangkali Anda pernah mendengar ungkapan; “Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Semangat yang patah, mengeringkan tulang”.  Gairah atau semangat membuat orang menyisihkan hambatan atau kesulitan yang mereka hadapi, dengan fokus pada pencarian solusi. Memang, tidak mudah untuk tetap bergairah saat menghadapi keadaan yang sulit, tetapi bila kita tahu cara mempertahankan atau mengisi kembali hati kita dengan kegembiraan berarti kita sedang bergerak maju menemukan solusi. Sebaliknya, bila kita membiarkan diri berlama-lama patah semangat, itu artinya, bukan hanya otot yang kering, bahkan lebih dalam lagi sampai ke tulang. Ini tidak terjadi pada mereka yang selalu menghidupkan antusiasme dalam diri mereka. Mereka mungkin jatuh, tetapi akan segera bangkit.

Meski rasa syukur tidak melipatgandakan  penghasilan, namun rasa syukur menjadikan hari-hari lebih baik. Bila dalam 1 kota kecil hanya ada 1.000 mangkok bakso yang terjual per hari, rasa syukur tidaklah menciptakan pelanggan jadi 1.500 per hari dengan semua kondisi yang tidak berubah. Rasa syukur membuat kita dapat menanggung situasi. Baik situasi baik, maupun buruk. Rasa syukur membuat bekerja selaras dengan hukum alam dan tidak membuang-buang energi untuk mencari kambing hitam bila terjadi kegagalan. Dengan rasa syukur, kita berada pada level energi yang kuat untuk melakukan sejumlah perbaikan, yang akan membawa kita ke jalur yang benar.

Melakukan yang baik tak selalu otomatis menghasilkan yang baik secara instan. Sekali berpikiran positif, tidak serta-merta warna pikiran selamanya positif, karena kita selalu berinteraksi dengan orang lain, bahkan diri kita sendiri yang tak sempurna. Di sini pentingnya antusiasme, ketika negativitas dari luar memancing kita untuk menyimpang, antusiasme mengingatkan kita untuk melakukan hal yang benar. Ketika dari luar membuyarkan fokus kita, antusiasme mengingatkan untuk fokus kembali.

Antusiasme menghasilkan kreativitas dan kreativitas memicu antusiasme. Selalu mencari cara yang lebih baik dan lebih baru dalam melakukan sesuatu. Mereka yang antusias, proaktif dalam apa yang mereka lakukan, tidak menunggu atau meletakkan lebih banyak beban ke pundak orang lain. Sebaliknya, mereka giat mencari solusi, rendah hati meminta saran dan memberi respek terhadap orang lain. Antusiasme memang sebuah semangat besar. Tetapi tidak serta-merta menjadikan semua menjadi mungkin. Bersifat masuk akal merupakan penyeimbang semangat yang menggebu-gebu. Antusiasme mengenal apa yang layak dan apa yang tidak, sehingga kita tetap mengejar kemanfaatan. Bersifat masuk akal juga berarti mendengar pendapat orang lain, dan terbuka mendengar kritikan dari mereka. Bukankah kita memerlukan orang lain untuk saling melengkapi?

Kesabaran merupakan satu hal berharga lainnya untuk berhasil. Kesabaran dibutuhkan sepanjang perjalanan hidup. Para empu tidak membuat keris dalam waktu yang singkat, mereka sabar melakukan sejumlah proses untuk menghasilkan keris yang mereka inginkan. Di zaman banyak cara mutakhir mengerjakan sesuatu, mungkin mempengaruhi sikap kita – termasuk menginginkan keberhasilan secara instan, sehingga kesabaran menjadi properti yang langka dalam diri.  Bersabar melalui proses memungkinkan kita mengalami lebih banyak pengalaman dan menarik hikmat dari proses tersebut.

Mereka yang mengembangkan antusiasme memiliki sejumlah waktu pribadi untuk berhening. Milikilah waktu pribadi keluar dari tengah kesibukan. Bila ingin melihat isi kolam, jangan membuat kegaduhan di permukaan. Demikian juga pikiran. Membuat hidup lebih bahagia dan menyenangkan, karena bekerja dengan sangat bahagia, tanpa mengeluh, dan membangkitkan semangat dari dalam untuk menikmati pekerjaan, dan bersyukur dengan yang dikerjakan dan miliki. Pribadi yang kreatif, inovatif, dan atraktif, karena dengan antusiasme yang dimiliki menjadikan kita haus untuk terus belajar hal baru yang membuat kita lebih hebat dan semakin hebat, mampu memberikan efisiensi.

Komunikasi powerful setiap kita antusias, semangat sangat tinggi, adrenalin selalu terpacu dalam melakukan hal-hal positif, mempengaruhi bahasa tubuh, dan tonalitas suara mendukung rasa antusiasme tersebut. Sehingga mempengaruhi juga dalam berkomunikasi, di mana kata-kata dan pesan semakin kuat, menjadikan kita pribadi yang persuasif, tegas, mampu menyampaikan pendapat, ide-ide cemerlang, mengajak atau mempengaruhi orang-orang sekitar untuk lebih positif.

Kita yakin bahwa masalah yang datang adalah pelajaran, tantangan, proses, dan motivasi, dan pasti ada solusi menyelesaikan ‘masalah’ tersebut, sehingga menjadikan kita mendapat pelajaran baru melalui pengalaman hidup sendiri. Ibarat kendaraan, antusiasme adalah injakan pedal gas yang memacu menggerakkan keseluruhan sistem mekanik dalam kendaraan sehingga dapat bergerak dan melaju dengan cepat dan semakin lebih cepat.

Inovasi dapat diartikan sebagai proses pengembangan dan pemanfaatan – mobilisasi pengetahuan, keterampilan, termasuk keterampilan teknologi. Pengalaman untuk menciptakan – memperbaiki produk, proses, atau sistem baru memberikan nilai secara signifikan. Hubungan dari kreatif dan inovasi, bisa diketahui jika kita memiliki pemikiran atau memiliki daya cipta serta kemampuan untuk menciptakan hal baru, bisa memprosesnya menjadi sebuah inovasi yang dapat memberikan pengaruh perubahan, baik ke diri sendiri, maupun ke lingkungan sekitar.

Tidak bisa dipungkiri, di era globalisasi persaingan dalam segala bidang semakin ketat. Apalagi dalam dunia ekonomi dan bisnis, persaingan tentu semakin ketat. Di sinilah kreativitas dan inovasi sangat dibutuhkan. Dengan bersikap kreatif dan inovatif, kita dapat menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan yang lain, serta membawa perubahan dan pasti berpotensi menjadi yang terdepan. Untuk mengembangkan sikap kreatif dan inovatif itu tidak mudah. Memang pada dasarnya sifat itu telah dimiliki oleh setiap orang, tetapi tidak semua orang mampu mengembangkannya. Untuk mengembangkan dibutuhkan kesungguhan dan ketekunan.

Pada dasarnya sebuah inovasi didorong oleh suatu kebutuhan dan akan terus berkembang mengikuti perkembangan kebutuhan. Sebagai contoh, pada tahun 90’ an, handphone (HP) digunakan hanya untuk berkomunikasi secara lisan saja, tetapi pada awal tahun 2000 an muncul fasilitas SMS yang mempermudah pengguna HP berkomunikasi dengan mengirim pesan singkat. Selain itu, HP terus berkembang tidak hanya sebagai alat komunikasi belaka, tetapi sudah dilengkapi berbagai fasilitas seperti kamera, MMS, BBM, dan fasilitas lainnya.

Dari sebuah kreativitas, akan timbul penemuan baru yang tidak disangka sebelumnya. Dengan adanya penemuan baru, tentu akan mempermudah pekerjaan manusia. Sebagai contoh, penemuan mesin uap oleh James Watt dapat mengubah dunia yang berakibat pada Revolusi Industri di Inggris. Ditemukannya mesin uap, dunia memasuki era baru dalam menyelesaikan pekerjaan manusia yang sebelumnya menggunakan peralatan feodal – kuno dan diselesaikan oleh tenaga manusia kini bergeser pada tenaga mesin. Ditemukannya mesin uap pula mendorong inovasi-inovasi lain, sehingga pekerjaan manusia dapat lebih mudah lagi seperti dikembangkan menjadi penggerak kereta api lokomotif pada awal tahun 1800-an.

Kreativitas dan inovasi merupakan syarat penting yang harus dimilki seorang wirausaha. Salah satu faktor produksi yang penting dan sangat dibutuhkan dalam menghasilkan suatu jenis barang ialah keahlian berwirausaha –Entrepreneurship. Keahlian berwirausaha merupakan keahlian yang dimiliki seorang pengusaha untuk mendirikan dan mengembangkan berbagai kegiatan usaha. Keahlian berwirausaha meliputi keahlian untuk merencanakan – Planning, langkah yang akan diambilnya, mengorganisir – Organizating pekerjaan-pekerjaan, mengarahkan – Actuacting pekerja dan bawahannya agar sesuai dengan yang diharapkan dan mengontrol – Controlling pekerjaan yang sebelumnya telah dilakukan.

Inovasi dan kreativitas berbeda wilayah, domain yang sama, tetapi memiliki batasan yang tegas. Proses kreatif merupakan langkah pertama menuju inovasi yang terdiri dari beberapa tahap. Kreativitas berkaitan dengan produksi kebaruan dan ide yang bermanfaat. Sedangkan inovasi berkaitan dengan produksi atau adopsi ide yang bermanfaat dan implementasinya terdapat beberapa sumber kreativitas, di antaranya; wawasan, pengetahuan, imajinasi, logika, intuisi kejadian-kejadian kebetulan, evaluasi lingkungan, dan rangsangan eksternal.

Juga terdapat tiga elemen kreativitas yaitu; Sensitivitas – kemampuan mengetahui adanya persoalan, menyisihkan detail dan fakta yang menyesatkan. Sinergi – kemampuan menemukan totalitas sistem dengan memadukan elemen-elemennya, dan Serendivitas– kemampuan menangkap esensi dari suatu kejadian yang terjadi secara kebetulan. Kreativitas merupakan kemampuan alami manusia yang telah dianugerahkan. Setiap orang mampu memiliki kreativitas tinggi karena mereka menginginkannya. (Prof. Agustitin Setyobudi – Penulis tetap Majalah UKM)

 

Posted in Opini | Tagged | Leave a comment

Membangkitkan Kejayaan UMKM

Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 mengajarkan kepada kita bahwa perekonomian Indonesia sangat visionist – pemimpi. Kenyataannya, perekonomian kita ditopang oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Itulah yang mermbuat setelah ekonomi mengalami pertumbuhan negatif (1998), namun 2 tahun kemudian kembali pada tracknya. Sayangnya, ketika berbicara UMKM selalu yang terlintas di benak kita usaha kecil yang betul-betul mikro, seperti pedagang kaki lima (PKL). Padahal, UMKM bisa dijadikan kekuatan untuk menopang pertumbuhan industri. Apa yang perlu dilakukan untuk menjadikan UMKM sebagai pilar ekonomi nasional?

Sebagai penggerak, motor perekonomian nasional UMKM di Indonesia masih sulit berkembang. Tidak hanya itu, puluhan juta UMKM baru menyumbang kurang dari 20% dari total nilai ekspor. Padahal di Negara-negara maju UMKM mampu diandalkan sebagai penopang kegiatan ekspor. Terbatasnya akses pembiayaan dan pemasaran serta tidak terintegrasinya rantai pasok ke sektor industri menyebabkan UMKM tak kunjung naik kelas. Sebagai penopang pertumbuhan seharusnya UMKM diberdayakan agar pertumbuhan ekonomi semakin berkualitas, dan diharapkan terjadi pemerataan kesejahteraan. Pasalnya mayoritas tenaga kerja di Indonesia berada di sektor UMKM.

Beberapa data profile UMKM membuka mata kita, dan mempertegas bagaimana sebetulnya kondisi industri dan UMKM di Indonesia. Data dari Media Riset Center menunjukan bahwa hingga sekarang jumlah UMKM di Indonesia sekitar 99,99% dari total perusahaan yang berusaha di Indonesia. Jumlah yang sangat besar, tetapi apakah itu menunjukan makna signifikan dari UMKM. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM memperlihatkan bagaimana kontribusi UMKM. Dengan 99,99% usaha berbentuk UMKM baru menyumbangkan 57% dari PDB. Dan itu, di saat bersamaan memberikan solusi bagi pengangguran karena mampu menyerap 97% serapan tenaga kerja.

Melihat posisi Indonesia dibandingkan dengan Negara-negara lain, data dari Asia Development Bank (ADB) tahun 2015 memperlihatkan bagaimana kontribusi medium enterprice (UMKM) kepada PDB. UMKM di Malaysia menyumbangkan 32% dari PDB-nya, Thailand 30%, Philipina 35%, Vietnam 38%, India 17% dan Indonesia cukup besar 57,8%. Sedangkan penyerapan tenaga kerja dari UMKM, Malaysia menyerap 59% tenaga kerja, Thailand 78%, Philipinan 61%, Indonesia sangat besar 97,2%, Vietnam 77% dan India 40%.

Pertanyaannya, bagaiman kontribusi UMKM yang sangat besar itu kepada ekspor. Malaysia, share dari UMKM kepada ekspor 19%, Tahiland 29,5 Philipina 20% dan Indonesia ternyata hanya 16%. Sementara Negara tetangga kita yang jauh lebih kecil, Vietnam 20%, dan UMKM India 40%. Apalagi kalau dibandingkan sumbangan UMKM kepada PDB negara-negara besar. UMKM Jepang menyumbangkan 54%, Korea 31%, Jerman 56% dan Amerika Serikat (AS) 34%. Apa yang terjadi dengan UMKM kita? Alasan klasik adalah kurangnya dana.

Bagaimana kontribusi kredit perbankan terhadap UMKM. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM per Juni 2017 ternyata kredit untuk UMKM hanya sekitar 19,63% dari total kredit yang disalurkan perbankan. Dari 99,99% jenis usaha yang berbentuk UMKM, 53% bergerak di bidang agriculture – pertanian. Inilah sebetulnya yang menjadi masalah, karena angka kemiskinan itu berada di daerah-daerah pertanian. Sementara 5,5% bergerak di bidang distribusi, 6% bidang jasa, 6,5% di bidang produksi dan 27% di bidang perdagangan.

Kita lihat pemerintah saat ini berusaha meningkatkan daya masyarakat guna mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sehingga di triwulan kedua tahun 2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,01%. Apakah ini akan berkelanjutan, bisa menguat atau tidak. Yang berbahaya kalau kemudian industri yang sering diyakini sebagai tulang punggung dari ekonomi suatu bangsa ternyata tumbuhnya lebih kecil dari ekonomi kita. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan, industri di triwulan kedua tahun 2017 hanya tumbuh 4%, dibandingkan dengan tahun 2016 yang tumbuh 4,4%. Ini warning bagi kita.

Bagaimana dampak dari melemahnya industri dan UMKM itu bisa mengurangi kemiskinan. Menurut data dari Bank Dunia, gini ratio di negara-negara Asia Timur, Indonesia memperlihatkan kesenjangan yang masih besar 0,38. Data itu cukup menjadi warning bagi kita, karena jika hal tersebut terus terjadi, mungkin jumlah pengangguran akan terus bertambah. Dengan demikian apakah kita bisa meningkatkan kembali kejayaan industri berbasis UMKM.

***

Menurut catatan Prof Ina Primiana, orang yang bertanggung jawab di Kelompok Kerja (Pokja) Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) berkaitan dengan UMKM, idealnya, industri besar – usaha besar maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bermitra dengan UMKM. UKM itu bisa industri kecil menengah (IKM), jasa industri – pedagang, petani, nelayan, peternak dan sebagainya. Alangkah dahsyatnya jika UMKM yang jumlahnya sangat besar itu bisa dimanfaatkan. Untuk mendorong kemitraan harus ada pengakuan dari pemerintah. Misalnya, pemerintah bisa memberikan insentif industri besar, usaha besar atau BUMN yang tingkat penggunaan komponen dalam negeri (TKDN) atau kepeduliannya memang tinggi.

Cara lain, memberikan kesempatan kepada UMKM – industri dalam negeri masuk dalam E-Katalok. E-katalok yang ada sekarang mayoritas barang-barang dari China. “Menurut saya, untuk mendorong perkembangan UMKM lebih pesat perlu ada keberpihakan yang lebih tegas,” kata Prof Ina. Sebetulnya, lanjut dia, kita juga bisa menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI), tetapi harus hati-hati jangan mudah memberikan SNI kepada barang-barang impor. Ditengarai, barang-barang impor yang masuk ke pelabuhan sangat mudah mendapatkan wiper leter pelabuhan walau barang-barang tersebut dokumennya belum lengkap. Dengan demikian, industri IKM – UMKM kita terganggu produksinya.

Salah satu UKM yang bergerak di bidang rekayasa dan teknologi, PT Fin Komodo Teknologi, telah berhasil merancang bangun dan memproduksi kendaraan konvensional multiguna yang cocok digunakan untuk medan off-road di alam Indonesia, menjelajahi desa-desa tertinggal – terisolir, bahkan yang belum ada jalannya sekalipun. Beberapa prototype yang diproduksi merupakan rancang bangun sendiri, dan telah memiliki hak paten. “Kalau mobil produk lain tidak bisa masuk, kendaraan kami bisa masuk untuk membawa hasil pertanian ke pasar terdekat,” jelas Ibnu Susilo, Direktur PT Fin Komodo Teknologi, seraya menambahkan bahwa pihaknya juga membina UKM UKM lain untuk membuat komponen atau spare part. Semua produk UKM binaan yang jumlahnya terus bertambah, dari 1 UKM, kini telah menjadi 42 UKM, disuplai ke PT Fin Komodo Teknologi.

Untuk membuat industri, kata Ibnu, tidak bisa 1 – 2 tahun. Ibarat perjalanan seseorang, PT Fin Komodo yang kini berusia 12 tahun baru kelas 6 sekolah dasar (SD). Setelah mendapatkan pengalaman sedikit demi sedikit, bersama dengan UKM binaan yang semula hanya mampu memproduksi 10 unit setahun sekarang bisa mencapai 125 unit per tahun. Itulah membangun budaya teknologi. Yang dirasakan berat bagi industri otomotif yang memulai dari rancang bangun sendiri, belum adanya regulasi yang mendukung produk-produk karya anak bangsa sendiri.

“Kami berharap, industri yang kami bangun ini terus berkembang, semakin maju dan besar, menjadi kebanggaan anak bangsa. Kalau pada 7 tahun bertama dibilang industri bayi yang membutuhkan biaya sangat besar, 7 tahun berikutnya masa-masa tumbuh dan berkembang. Diharapkan semakin banyak orang yang menggunakan produk-produk kami. Perusahaan cukup sehat untuk ukuran SD, karena baru berusia 12 tahun. Sementara regulasi di Indonesia ini untuk yang sudah dewasa. Kalau dikasih ujian, tidak pernah akan lulus, karena ujiannya S3,” jelas Ibnu Susilo.

Persoalan klasik yang dihadapi UMKM, bukan semata kapasitas dan kualitas produksi, yang memang masih harus terus ditingkatkan, tetapi pada umumnya masalah permodalan dan pemasaran adalah yang utama. Dari segi permodalan, saat ini dunia perbankan semakin memberikan perhatian serius terhadap UMKM, karena jumlah dan potensinya sangat besar. Terlebih semakin variatifnya industri kreatif yang sebagian terbesar lahir dari anak-anak muda yang penuh dengan semangat. Soal permodalan, Bank BJB, misalnya, bukan saja memberikan modal usaha, tetapi juga edukasi dan pendampingan secara masif bagi wirausaha muda, yang ditargetkan di Provinsi Jabar setiap tahun akan bertambah minimal 100.000 usaha muda baru.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga konsen ke UMKM. Dari total penyaluran kredit, 74,4% di antaranya untuk UMKM. Dan dari jumlah debitur yang totalnya lebih dari 10 juta 99%-nya pelaku UMKM. Pembiayannya dilakukan berjenjang. Mulai dari program kemitraan dimulai dari star up – Nol. Kemudian yang fisible – tapi belum bankable diberikan kredit untuk rakyat (KUR), lalu meningkat diberikan pembiayaan komersial mikro yang besarnya sampai Rp 200 juta. Di atasnya ada ritail sampai Rp 5 miliar, dan untuk kelas menengahnya sampai Rp 50 miliar. Pengalaman menunjukan, dari total debitur kredit mikro yang jumlahnya lebih dari 4 juta, tahun 2016 yang naik kelas sekitar 800.000-an. Parameternya, mereka bisa menerima skem komersial. Setiap tahun yang naik kelas rata-rata sekitar 10%.

Dari sisi pemasaran, BRI tidak hanya membantu mendekatkan para pelaku UMKM kepada pasar konvensional, tetapi juga melakukan bimbingan, pembinaan dan mendorong mereka kepada E-marketplace. Untuk pasar konvensional punya program Parade UMKM, dimana BRI memfasilitasi para UMKM binaan maupun mereka yang akan menjadi binaan, dibautkan suatu even, sehingga bisa bertemu antara penjual dan pembeli. Untuk E-marketplace, BRI juga mendorong agar lebih mengenal teknologi. Mereka disinergikan dengan teknologi yang dimiliki BRI untuk memberikan sistem pelayanan yang lebih baik, sehingga produk-produk UMKM binaan itu lebih dikenal masyarakat, dan mampu menembus pasar yang lebih luas.

Bank BNI yang semula hanya melayani corporate – perusahaan besar, sejak beberapa tahun terakhir mulai melayani UMKM, masuk ke ranah pertanian langsung membina dan mendampingi petaninya. Untuk pemasaran, Bank BNI juga membantu melalui Rumah Kreatif yang dibangun di desa tersebut. Para binaan pun dididik dan didorong untuk memahami teknologi sehingga ke depan akan paham E-marketplace untuk mendapatkan pasar yang lebih baik.

Kementerian Koperasi dan UKM, sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pembinaan Koperasi dan UKM telah menjalin kerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) untuk mengembangkan Koperasi dan UKM di Indonesia. Komitmen itu diwujudkan melalui penandatangan nota kesepahaman bersama (MoU) antara kedua lembaga. Bentuk kerja sama tersebut di antaranya, kerja sama pengembangan UMKM berbasis web portal, membangun pilot proyek penyaluran kredit UMi, dan dalam jangka panjang akan membangun Pusat Studi Koperasi Indonesia.

Dengan adanya web portal ini, ukmindoesia.org, diharapkan seluruh kepala daerah di Indonesia bisa memberikan data-data terkait koperasi dan UMKM di daerahnya. Hal itu menyangkut perijinan usaha, KUR dan juga penyaluran kredit UMi. Transparansi ini dianggap sangat penting bagi masyarakat yang melakukan kegiatan usaha, doing business. Semua informasi mengenai hal itu jelas terpampang di web portal UKM. Selain itu, Kemenkop & UKM juga akan bekerja sama dalam hal pelatihan-pelatihan, memperkuat kelembagaan koperasi serta Research and Development (R&D). Khusus untuk R&D, Kemenkop & UKM akan menggunakan hasil riset-riset dari perguruan tinggi bisa dijadikan sebagai pijakan untuk melahirkan sebuah kebijakan, terutama menyangkut pengembangan koperasi dan UKM.

Sebagai lembaga keuangan non bank, khususnya bagi para usaha mikro kecil (UMK), dan nasabah pra sejahtera Permodalan Nasional Madani (PNM), selain punya program pembiayaan juga melakukan pembinaan dan pemberdayaan. Pembiayaan, bukan semata-mata modal utama, mereka juga diberikan training – pendidikan dan pelatihan selama 8 bulan untuk mengenai modal finansial, intelektual dan modal sosial. Ada pendidikan tata buku sederhana, manajemen produksi, kelembagaan dan pemasaran. Training ada yang sampai 8 tahun terus menerus, berdasarkan klasterisasi. Jumlah binaan PNM saat ini telah mencapai lebih dari 1 juta wirausaha. PNM membina keluarga pra sejahtera, khususnya kaum ibu yang biasanya sensitif terhadap faktor kesejahteraan, dengan indoktrinasi tekni usaha.

Di kalangan UMKM petani pun ada beberapa kendala yang dialami, sehingga para petani susah bangkit. Disamping pertanian kita masih sangat tradisional, yang menjadi kendala terberat adalah soal pemasaran. Bagi petani, seperti halnya Suryono yang menekuni usaha pertanian sejak 2006, yang sangat diharapkan dari pemerintah adalah adanya standarisasi harga jual dari petani. “Harga pupuk dan benih terus melambung, namun harga jual produk petani sangat rendah. Petani tidak minta harga mahal, tetapi harga jual produk petani itu ada standarnya,” tegas Suryono. Sekarang, petani memang diberikan subsidi pupuk dan benih, tetapi harga jual dari petani tidak pernah diperhatikan.

Suryono yang tinggal di Riau itu mengaku, karena tinggal di daerah industri, tanaman sayuran dan buah-buahan pemasaran produksinya dibantu oleh perusahaan. Standar harga diberikan oleh perusahaan, tetapi baru beberapa jenis saja. Perusahaan memberikan program kepada masyarakat, dan menjamin pemasarannya. Tetapi tidak semua petani di Indonesia mendapatkan kesempatan seperti yang diperoleh Suryono.

***

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, kita harus bedakan, UKM itu ada yang berbasis industri, ada yang berbasis konsumsi. Memang yang lebih mudah untuk dikembangkan adalah yang berbasis konsumsi. Saat sekarang pemerintah memfalitasi industri-industri dengan digital flat form. Yang namanya digital flatform atau electronic commerce (E-commerce) itu sebetulnya praktek daripada koperasi dengan teknologi digital. Kalau kita lihat, E-marketplaces – pasar sekarang tidak kurang dari US$ 20 miliar. Dan dalam 5 tahun akan naik 6,5 lipat, sehingga tahun 2020 targetnya menjadi US$ 130 miliar. Ini adalah pangsa pasar yang sangat besar, dan ini jual belinya antara banyak ke banyak, jadi costumer to costumer.

Ada contoh menarik, kita punya beberapa E-marketplace, yang vendornya satu E-marketplace 1,6 juta. Yang masuk 4 besar E-marketplace, masing-masing dilihat leh pemegang komputer sekitar 20 – 26 juta. Kalau dilihat market fisik, super mall pun tidak bisa menghadirkan 26 juta visitors – pengunjung dalam waktu dekat. Sehinggqa ini merupakan sesuatu yang luar biasa, dan tentunya pemerintah mendorong usaha-usaha itu untuk berbasis koperasi.

Kementerian Keuangan, menurut Wakil Menteri Keungan Mardiasmo, melihat UMKM sebagai pilar perekonomian yang sangat strategis, dan mampu menyerap tenaga kerja sangat besar untuk mengurangi pengangguran. Karenanya UMKM harus betul-betul bisa memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Dari Kementerian Keuangan kuncinya memberikan afirmasi dobel instrument fiskal. Contohnya, karena kita menginginkan UMKM menggunakan komponen dalam negeri sebesar-besarnya, jika TKDN-nya minimal 40% maka pemerintah akan menerapkan biaya masuk bahan baku impornya 0%.

Terkait dengan pertanian, ada fenomena baru bagaimana penggunaan dana desa. Karena setiap desa punya dana desa, diharapkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES-nya) bisa memberikan afirmasi – garansinya terhadap pemasaran yang ada di desa. Jadi intinya, beberapa subsidi bunga, termasuk bunga kredit usaha rakyat (KUR), misalnya, ada UMKM yang mungkin sangat kecil, sudah fisible, tetapi tidak bankable pemerintah mengeluarkan kebijakan kredit Ultra Mikro (UMi) dengan besaran pinjaman di bawah Rp 10 juta, tanpa koleteral – jaminan. Bagi para pemula bisa memanfaatkan kredit UMi ini. Tujuan UMi untuk mendorong semakin banyak muncul wirausaha baru sehingga jumlah pengangguran semakin berkurang. Karena pemasaran produk-produknya digaransi, semua bisa jalan. Anggaran yang disiapkan pemerintah cukup besar, Rp 1,5 triliun. Untuk produk-produk UMKM yang diekspor pemerintah juga memberikan tax holiday – pembebasan pajak.

Yang menarik, kata Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimbo Santosa, industri yang integrated – terintegrasi mempunyai value chain – rantai nilai itu yang sebenarnya bisa nendang – maju. Kelompok UKM sebenarnya bisa membuat spare part – onderdil, tetapi tidak jelas mau dipasarkan ke mana. Sedangkan industri otomotif – mobil banyak spare part impor. Lalu, perusahaan takstil, impor kapas dari China per tahun total nilainya US$ 1,2 triliun. Padahal sebenarnya bahan kapas itu bisa dibuat di Indonesia. Menurut Wimbo, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Mungkin kita tidak terlalu berinovasi, meniru bagaimana Jerman melakukan hal tersebut.

Anak sekolah, kata dia, tidak semua harus masuk universitas – perguruan tinggi. Cukup masuk politeknik. Contohnya Akademi Teknik Mesin di Solo, tidak pernah ada lulusnya nganggur. Karena dididik mempunyai sertifikasi keahlian khusus, mereka selalu terserap lapangan kerja. Mau bikin skrup, atau bikin apa bisa. Dan skrupnya itu certified standar industri. Standar industri ini harus bisa diserap oleh industri besar. “Begitu mereka lulus, dan mau berwirausaha bikin skrup, bisa dikasih pinjaman modal dari bank beli mesin untuk produksi terus. Produknya disertifikasi agar bisa diserap oleh perusahaan besar yang masih impor. Harus ada bimbingan dari pemerintah, dengan demikian, bank pun landing-nya terarah,” jelas Wimbo.

Untuk mempertemukan sektor-sektor itu memang tidak mudah. Masalah klasik, adalah standar kualitas. Persoalan lain, menurut Prof. Ari Kuncoro, jumlah IKM terlalu banyak, dan tidak semua siap naik kelas. Tetapi kita juga tidak bisa terlalu lama untuk mempertemukan keduanya agar bisa kerja sama. Kedua belah pihak, baik yang di atas (industri besar) maupun yang di bawah (industri kecil) harus punya sistem jaringan. Ada satu modal di Indonesia bahwa kelas menengah kita yang disebut the rising, tempatnya bukan hanya di Jakarta, Surabaya, Bandung atau Medan, tetapi di kota-kota sekunder. Mereka itu UKM yang bergerak di bidang konsumsi, seperti kuliner, misalnya.

Masalah bagi dia, tidak bisa ngerem dirinya. Flatform dan survey bisa digunakan. Misalnya, makan gudeg di Jogya bagaimana. Jadi kita harus membuat katagorisasi, mana yang bisa ikut linkedln pasar dunia, mana yang ikut kelas menengah Indonesia, dan mana yang lokal. Kuliner lokal atau kerajinan lokal. Dengan peta tersebut kita bisa tahu, seandainya diperlukan menstimulus perekonomian, kita bisa membuat kebijakan yang pas. Jadi, yang diperlukan adalah peta, mana kelas atas, menengah, dan  kecil. Yang penting multiplier-nya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 53% UMKM di sektor pertanian. Namun jika ditambah dengan UMKM yang terkait dengan pertanian 20%, maka, kata Prof Bayu Krisnamurti, akumulasinya UMKM sektor pertanian itu ada sekitar 75%. Satu hal yang harus disadari, konsumen kita sekarang mengkonsumsi produk pertanian hampir 80% harus melewati proses industrial.

Ada beberapa masalah; Pertama  tentang compatibility – kesesuaian antara industri dengan petaninya. Yang sering terjadi, petaninya yang harus menyesuaikan kepada industri. Padahal kadang-kadang, industrinya juga harus mulai memperhatikan untuk bisa melakukan perekayasaan disisi industri agar bisa sesuai dengan karakteristik pertanian Indonesia, dan bagaimana industri melakukan penyesuaian terhadap kondisi itu. Kalau industri dikasih bahan baku, misalnya, hanya 3 bulan dalam 1 tahun, industrinya akan rugi. Ini suatu tantangan besar dalam compatibility. Namun sering kali yang dirugikan adalah pertaniannya.

Satu catatan khusus mengenai tumbuh dan berkembangnya E-marketplaces, kita perlu sangat memperhatikan logistik. Karena masalah logistik ini sering kali menjadi kendala. Dan logistik itu sering tidak di Kementerian Perindustrian, atau di pertanian, tetapi di tempat lain. “Industri logistik ini harus betul-betul ditumbuhkan dan difasilitasi. Jika tidak, akan menjadi kendala besar,” tegas Bayu Krisnamurti.

Kedua, dengan adanya E-marketplaces itu sekarang sangat banyak startup – wirausaha baru dari kalangan anak-anak muda yang penuh kreatifitas. Jika OJK masih mensyaratkan bahwa setiap pengusaha yang mendapat kredit, harus punya credit reference, untuk anak-anak muda yang baru memulai berwirausaha itu bagaimana. Kalau kita tidak bantu mereka, akan menjadi hambatan.

Menurut Franciscus Welirang (Franky) Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur, Tbk, perusahaannya ada hubungan cukup baik dengan para petani di hulu. Ada 5 jenis produk dari petani yang disuplai ke Indofood, yaitu; kentang, cabai, bawang merah, singkong mangu dan gula kelapa. Perlu diingat bahwa produk pertanian itu satu musim. Karena itu, kata Franky, harus mendapatkan dari beberapa daerah. Di daerah yang kualitas produk pertaniannya bagus, jumlahnya juga besar seperti di Sembalun, misalnya, akan terkonsentrasi di sana. Sehingga desanya berkembang, petaninya juga berkembang.

Karena petani kita petani tradisional, jarang yang memikirkan kualitas hasil taninya. Berbeda dengan petani modern, dimana kualitas produk menjadi hal penting. Tidak adanya lembaga standarisasi produk pertanian, maka pihak industri sendiri yang menentukan standarnya. Di luar negeri, juga ada lembaga yang memperhatikan harga. Karena ada standar, maka referensi harga pada standar. Sedangkan di Indonesia standarnya sangat variatif. (mar)

Posted in Sajian Khusus | Tagged | Leave a comment

Frans Laten, S.E., Ak. : Credit Union Sebagai Ideologi Ekonomi

Kepedulian Gereja Katolik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas awalnya dimulai dari program Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), salah satu bidangnya pemberdayaan kelompok masyarakat melalui Credit Union (CU), yang sering pula disebut Koperasi Kredit (Kopdit). Credit Union diambil dari bahasa Latin Credere yang artinya percaya dan Union berarti kumpulan. Maknanya, kumpulan orang yang saling percaya dalam satu ikatan pemersatu dan sepakat bekerja sama, menabung uang sehingga tercipta modal bersama, dipinjamkan kepada anggota untuk kegiatan produktif dan kesejahteraan.

Program pemberdayaan yang dimulai dari lingkungan Paroki pada awal tahun 1970-an itu kini telah menyebar dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Hasil nyata gerakan CU dalam mengentaskan kemiskinan dapat dilihat dari semakin banyaknya yang menjadi anggota. Dengan makin banyak orang bergabung ke CU berarti orang merasakan manfaat ber-CU. CU bukan semata-mata bisnis keuangan, tetapi sekolah kehidupan di mana anggota dituntut selalu solider, saling berbagi, bergotong-royong mewujudkan; Kesejahteraan yang berkeadilan. Data yang diperoleh dari Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), payung organisasi gerakan Credit Union di Indonesia, total CU primer tercatat 899 unit, dengan jumlah aset gerakan sebesar Rp27,721 triliun dan jumlah anggota individu 2.865.721 orang.

Dari hampir 3 juta orang yang menyatu dalam kebersamaan, dan ingin sejahtera melalui CU, kini bukan hanya umat Katolik, tetapi juga umat lain dari; Kristen Protestan, Islam, Hidu, Budha, dan Konghucu. Dalam perkembangannya, diperkirakan hampir 60% anggota CU bahkan umat non Katolik. Mereka pun berasal dari berbagai komunitas (petani, pedagang, buruh, karyawan, nelayan), golongan dan suku yang ada di Indonesia; Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Dayak, Bali, Flores, dan sebagainya.

General Manager (GM) Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, Frans Laten, S.E., Ak. menyebutnya; Credit Union adalah ideologi, yang mampu menjadi pemersatu bangsa Indonesia. Dicontohkan, Credit Union Semangat Warga (CUSW), yang lahir dari lingkungan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur yang masuk dalam jejaring BKCU Kalimantan, 100% anggotanya umat Muslim. Credit Union Angudi Laras (CUAL), Purworejo, Jawa Tengah, didirikan oleh umat Kristen Jawa, anggotanya sebagian umat Muslim. Credit Union Microfimanfe (CUMI) Pelita Sejahtera, yang didirikan oleh umat Katolik Blok Q, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sekitar 40% anggotanya juga umat Muslim. Di daerah lain pun banyak CU yang anggotanya sebagian besar justru bukan umat Katolik.

Ada contoh lain, kini dari luar negeri, Korea Selatan. Data statistik per Desember 2015, dari 15,1 juta penduduk Korea Selatan, 5,7 juta (31%) anggota CU. Tetapi dari 5,7 juta penduduk Korea Selatan anggota CU itu hanya 7% (399.000 orang) saja yang umat Katolik. Karena itu, tidak salah jika CU dikatakan sebagai ideologi ekonomi untuk menyejahterakan masyarakat luas, tanpa membedakan; kelompok, suku, ras, agama. Siapa pun yang mempunyai niat baik, solider, mau bekerja sama – gotong royong, dan ingin sejahtera bersama boleh menjadi anggota CU. Di Negara-negara Eropa, Amerika, juga Kanada CU merupakan lembaga perekonomian yang kokoh. Di Negara tetangga kita, Singapura, NTUC yang konon menguasai sekitar 60% perdagangan juga dibangun dari anggota CU.

“Di Indonesia, Credit Union sebagai ideologi untuk menyejahaterakan orang-orang miskin terus berkembang semakin pesat” kata Frans yang telah mengakhiri masa baktinya sebagai GM di BKCU Kalimantan, September 2017 karena memasuki masa pensiun. Posisinya digantikan rekan yuniornya Erowin, S.Hut. CU juga tidak boleh membatasi diri hanya sebagai pemberi pinjaman. Tujuan utama CU adalah mengontrol penggunaan uang memperbaiki nilai-nilai moral dan fisik dari setiap orang, dan memberdayakan mereka untuk mandiri. Itu pesan pendiri CU, Frederich William Raiffeisen, Walikota Flammersfield (1849), Jerman, mewanti-wanti kepada aktivis CU.

Ada dua misi sejati CU yang harus berjalan bersamaan. Misi ini harus menjadi roh penggerak dalam semua CU, yaitu misi ekonomi dan misi sosial. Misi ekonomi CU menjadi lembaga keuangan yang sehat, aman, dipercaya, dan menyejahterakan anggota. Misi sosial untuk menolong anggota meningkatkan kualitas hidupnya sehingga dapat hidup layak, bermartabat, mandiri, dan bahagia.

Dalam perkembangannya, keseimbangan implementasi kedua misi tersebut belum berjalan sesuai yang dipesankan Raiffeisen. Pelaksanaan dan pencapaian misi ekonomi umumnya lebih dominan dibanding misi sosial sehingga CU mulai lebih fokus menjadi lembaga keuangan; belum menjadi lembaga pemberdayaan anggota. Menyadari kondisi tersebut, mulai tahun 2015, BKCU Kalimantan menyusun road map – peta jalan bagi 44 CU yang ada dalam koordinasinya.

Misi Puskopdit BKCU Kalimantan adalah; Memperkuat Gerakan Credit Union Melalui Tata Kelola yang Terintergrasi untuk Meningkatkan Kualitas Anggota Secara Berkelanjutan. Visinya; Menjadi Gerakan Credit Union Nusantara Berbasis Komunitas yang Terintegrasi, Tangguh, dan Berkelanjutan. Bagaimana CU mampu meningkatan kualitas anggota berbasis komunitas? CU yang ada dalam jejaring BKCU Kalimantan menuangkan misi pokok melalui program pemberdayaan anggota. Secara spesifik, pemberdayaan anggota dilakukan melalui pendampingan kelompok binaan.

Dalam banyak contoh, anggota yang diberdayakan memberikan dampak positif langsung bagi keberlanjutan lembaga, yakni lancarnya pengembalian pinjaman, bahkan dengan tingkat kelalaian nol persen. Simpanan anggota bertambah karena ada sumber penghasilan tambahan. Secara umum, dengan pemberdayaan, anggota mendapatkan manfaat maksimal. Menurut Frans, jika pemberdayaan kelompok binaan dan komunitas dampingan dilakukan terus menerus secara masif akan mengembalikan jatidiri CU sebagai lembaga pemberdayaan yang mengontrol penggunaan uang, memperbaiki nilai-nilai moral, fisik anggota dan memandiri. Ini bukti bahwa Credit Unión merupakan ideologi ekonomi yang mampu menyejahterakan masyarakat.

Kualitas pertumbuhan CU harus dijaga agar mampu bertumbuh dan berkembang secara sehat dan aman sehingga mendorong keberadaannya secara terus-menerus. Penerapan tata kelola yang baik dan benar menjadi kunci bagi keberlanjutan CU. Penerapan manajemen risiko menjadi suatu keharusan sehingga berbagai risiko dapat terkelola dengan baik. Risiko tidak selalu menjadi ancaman bagi perkembangan CU, namun risiko yang terjadi tanpa disadari oleh pengelola dapat memberikan dampak negative. Ada CU yang masih berjuang keluar dari permasalahan yang terjadi karena terlambat menyadari masalah tersebut.

Untuk mengembangkan CU, kata Frans, tidak ada kata lain harus memampukan SDM melalui pendidikan dan pelatihan. Baik di jenjang manajerial umum, maupun hal-hal teknis yang menyangkut sikap dan segala macam. Intinya, dalam pelatihan selalu dikatakan; Jika kita ingin maju, harus punya komitmen bersama, tidak mungkin sendiri-sendiri. Segala sesuatu bisa diwujudkan dengan kerja keras secara bersama-sama.

Peran kaum muda yang sehat, enerjik, cerdas, dan kreatif sangat diperlukan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, juga pengembangan CU. Namun nyatanya, dalam kehidupan sehari-hari tak dipungkiri banyak kekhawatiran yang timbul, terutama akibat perilaku hidup, pergaulan yang salah, dan akhirnya terjerumus dalam kehidupan yang kurang bermutu, seperti; narkoba, pergaulan tidak sehat, penggunaan teknologi yang keliru, miras dan lain sebagainya. Hal itu tidak hanya menjadi perhatian pemerintah, juga menjadi perhatian gerakan CU Internasional. BKCU Kalimantan sangat mendukung gerakan Indonesia dan turut serta meningkatan kapasitas peran kaum muda; mendalami peran, mempersiapkan fisik dan mental kaum muda yang enerjik, kompeten, dan kreatif, mampu berkarya di masyarakat.

Untuk itu BKCU Kalimantan menyiapkan paket training khusus untuk aktivis kaum muda yang bertujuan mengajak aktivis menjadi leader bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya, sehingga kelak mampu menjadi fasilitator dan motivator. Materi training, tentang jatidiri anak muda, tahap-tahap kehidupan, membedakan keinginan dengan kebutuhan, manusia pembelajar dan pemanfaatan teknologi yang benar, merintis wirausaha, kesehatan reproduksi dalam siklus hidup, dampak penyalahgunaan narkoba bagi anak muda dan kerjasama tim.

***

Frans Laten yang selalu berpenamilan sederhana, low profile – kalm, saat ini memang tidak lagi berada di jajaran eksektif BKCU Kalimantan. Karena peraturan lembaga, usia 55 tahun harus pensiun. Namun komitmennya untuk kesejahteraan masyarakat, terlebih bagi kelompok bawah, orang-orang miskin, dan terpinggirkan tidak pernah padam. “Pinginnya menjadi fasilitator CU saja. Mungkin tidak popular, tetapi beberapa hal yang dulu diajarkan sekarang sudah kurang diperhatikan. Itu yang harus ditebarkan lagi,” tegasnya. Membagikan ilmu kepada gerakan Credit Union hanyalah salah satu cara; Memberikan cahaya lilin dalam kegelapan – ikut menggarami dunia.

Cerita tentang cita-cita, Frans mengaku; awalnya ingin menjadi pastor, karena pamannya yang bungsu juga pastor. Setamat SMP sempat mendaftar ke Seminari, dan lulus tes. Dalam perjalan waktu yang sangat singkat, 1 bulan sebelum masuk sekolah, tiba-tiba berubah pikiran ingin jadi pegawai negeri. Ketika diajak teman menemui ayahnya yang pegawai pertanian – penyuluh lapangan, Frans ayuuk saja. Mendengar cerita ayah temannya tentang Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Pemerintah Daerah Kalimantan Barat (Kalbar), yang tidak berbayar, bahkan jika praktik malah dapat uang saku, Frans tertarik. Apalagi orang tua memang kurang begitu mampu membiayai sekolah di Seminari. Bangga menjadi pegawai negeri berseragam dengan berbagai atribut, tawaran mendaftar ke SPMA diterima dengan senang hati. Bahkan 4 teman lainnya juga mendaftar, dan lulus tes.

Jalan hidup Tuhan-lah yang menentukan. Gagal menjadi pegawai negeri, Frans berkarya di PSE Keuskupan Agung Pontianak. Di sinilah titik awal berkenalan dengan gerakan Credit Union. Itu pun tanpa disengaja. Tahun 1983, Frans diutus PSE untuk mengikuti pelatihan kader tani di Ungaran, Jawa Tengah. Materi utama dalam pelatihan itu tentang Pertanian dan Pemerintahan Desa. Ilmunya, bagaimana menata desa agar desa itu bisa memberikan harapan kebahagiaan kepada masyarakat melalui metode pertanian terpadu. Salah satu materi yang dibicarakan sehari dalam pelatihan adalah tentang CU.

Frans mengaku, senang ikut pelatihan pertanian karena ilmu yang diperoleh dari SPMA bertambah. Pelatihan diarahkan khusus bidang ekonomi sosial kemasyarakatan. Karena itu peserta diajak melihat masyarakat yang kondisi ekonominya pas-pasan, bahkan lebih ke bawah lagi, orang-orang miskin yang tidak mendapatkan perhatian dari lembaga – pemerintah agar mereka bisa keluar dari kungkungan kemiskinan. Dari situ akhirnya tampak, mereka yang hidup berkekurangan membutuhkan fasilitasi gerakan perekonomian, khususnya CU. Namun selesai pelatihan, ilmu CU tidak dipraktikkan secara khusus. Frans diarahkan membentuk kelompok-kelompok tani sekaligus melakukan pendampingan.

Ketika mengikuti training ke-2 waktunya cukup lama, 1982 – 1983. Kegiatan kali ini diselenggarakan oleh Yayasan Mulia, pelaksana program Komisi PSE Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam rangka mencetak kader pimpinan PSE Keuskupan, agar jika Ketua PSE pensiun – berhenti ada penggantinya. Pelatihannya keliling dari Jogya, Semarang, Lumajang, dan Palembang. Selain proses pembelajaran, juga pengenalan bentuk-bentuk kemiskinan masyarakat dari satu daerah ke daerah lain seperti apa, solusinya bagaimana, dan fasilitasi yang perlu diberikan apa saja. Salah satu materi yang dipelajari lagi-lagi tentang CU. Karena dua kali ikut pelatihan tentang CU, dan menarik, Frans sangat berharap di Keuskupan Aggung Pontianak ada CU baru untuk memandirikan dan menyejahterakan orang-orang miskin dan tertinggal di Kalbar.

Harapan Frans menjadi kenyataan, ketika Pius Alfred ketua PSE Keuskupan Agung Pontianak berkeinginan membentuk Lembaga Keuangan Masyarakat Pedesaan. Maka tahun 1985 dikumpulkanlah cendekiawan muda Katolik, termasuk dari kalangan akademisi – mahasiswa dan diundang falitator dari Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I), sekarang Inkopdit, untuk memberikan pelatihan tentang Credit Union. Pelatihan dilaksanakan selama 5 hari pada bulan April 1985, difasilitatori oleh H. Woerjanto dan Theodorus Trisna Ansarli. Pelatihan dasar sampai pembukuan sederhana pun diajarkan.

Dari kursus dasar itu, pada 12 Mei 1985 melahirkan Credit Union Khatulistiwa Bakti (CUKB) Pontianak, yang anggotanya dari para peserta pelatihan. Menurut Frans, yang masuk dalam jajaran pengurus sebagai bendahara, pembentukan CUKB yang sering disebut CU Laboratorium, tidak serta merta seusai pelatihan, namun ada jeda waktu 1 – 2 minggu. “Alasannya, orang habis pelatihan biasanya semangatnya tinggi, dan mudah mengatakan; Iya…. iya, tetapi setelah dibentuk mereka tidak menyadari ternyata tidak cocok,” jelas Frans.

Sebagai pengurus – bendahara, Frans harus mempersiapkan berbagai keperluan lembaga mulai dari nol (0), termasuk merekrut calon staf. Sementara dia sendiri juga masih berstatus sebagai karyawan PSE. Dua orang karyawan awal di CUKB adalah Serapina, dan Jhon. Karena Serapina yang kini menjadi salah satu karyawan inti di BKCU Kalimantan itu lulusan SMEA, dia cepat menyesuiakan diri dengan pekerjaan adminstrasi, tata buku, dan hitung-menghitung. Tugas-tugasnya dikerjakan dengan baik. Lantaran CUKB dilahirkan oleh PSE, maka, merupakan bagian dari pelayanan, karya, dan program yang harus disupport oleh PSE. Termasuk honor staf pun masih dari PSE.

Setelah CUKB cukup bagus dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan bidang lain di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) masih banyak pekerjaan, maka pelayanan teknis oleh Frans diserahkan sepenuhnya kepada staf, agar mereka lebih konsentrasi kerja. Sebagai pengurus – bendahara, Frans tetap mengawasi jangan sampai kegiatan CUKB menjadi hancur seperti CU-CU sebelumnya. Sebagai karyawan PSE, tugas Frans menangani pekerjaan di luar CU, utamanya memfasilitasi perekonomian dan model usaha tani yang dilakukan kelompok-kempok binaan yang dibentuk oleh PSE. Bahkan, setelah tidak lagi di PSE (1993) dan bergabung dengan LSM lain, punya tanggung jawab mendampingi 30-an Kelompok Usaha Bersama (KUB), dengan kegiatan utama pemberdayaan, simpan pinjam, dan memperbaiki pola pikir. Fokus wilayah kerjanya di daerah transmigrasi.

Sebagai CU Laboratorium, sekaligus merupakan CU perdana pada fase kedua CU di Kalbar, CUKB menjadi tempat belajar dan praktik bagi mereka yang akan mendirikan CU, atau sejumlah CU yang ingin mengembangkan lembaganya. Bahkan koperasi simpan pinjam (KSP) pun, seperti KSP Kodanua, Jakarta juga pernah melakukan study banding ke CUKB. Banyak pula instansi pemerintah, Dinas Koperasi, lembaga swasta, dan perguruan tinggi berkunjung untuk menimba ilmu dari CUKB.

Fase pertama gerakan Credit Union di Kalbar (1976 – 1985), banyak CU bermunculan. Tetapi, kata Frans, usianya tidak panjang, mati pun tak diketahui di mana kuburnya. CU Lantang Tipo yang didirikan pada 2 Februari 1976 yang kini menjadi CU terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota per Desember 2016 sebanyak 182.587 orang dan aset sebesar Rp2,591 triliun, merupakan satu-satunya CU yang mampu bertahan. CU Lantang Tipo yang berkantor pusat di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalbar, telah memiliki 50 kantor cabang yang tersebar di seluruh Kalbar.

Seiring perjalanan waktu, CUKB yang saat ini diketuai DR. Sesilia Seli, M.Pd., yang tidak lain adalah isteri Frans Laten, terus berkembang, dan kini berada di urutan ke-6 dari 10 besar nasional, atau urutan pertama dalam jejaring BKCU Kalimantan dengan total anggota per Desember 2016 sebanyak 51.637 orang dan kekayaan Rp564,385 miliar. Banyak yang berpendapat, tidak cukup banyak pasangan aktivis (suami isteri) yang dalam waktu bersamaan menjadi nakhoda, tetapi berbeda lembaga, Frans di BKCU Kalimantan (sekunder), Sesilia Seli di CUKB (primer), tetapi keduanya meraih sukses. BKCU Kalimantan merupakan Puskopdit terbesar di Indonesia, dan CUKB juga masuk 10 besar nasional, dan terus mempersiapkan diri dengan tata kelola yang lebih baik guna meraih access branding ACCU, predikat yang didambakan setiap CU di Asia.

***

Pelatihan-pelatihan yang diprakarsai oleh PSE melahirkan beberapa CU lainnya di Kalbar, termasuk CU Pancur Kasih (1987) yang didirikan oleh Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih. Karena sudah berdiri lebih dari 3 CU, maka diperlukan suatu badan yang mengurusi dan mengkoordinir CU di Kalbar. Kemudian terbentuklah Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah Kalbar (BK3D) yang diketuai oleh A.R. Mecer. Sejak saat itu CU mulai berkembang pesat di Kalbar. Banyak CU yang lahir berkat pemberdayaan dan fasilitasi BK3D Kalimantan Barat, yang kemudian menjadi BKCU Kalimantan.

Awal tahun 2000-an merupakan tonggak sejarah baru bagi BKCU Kalimantan, di mana prinsip dan filosofi Credit Union diterapkan dengan konsisten sesuai dengan situasi dan kondisi lokal. Karena CU di Kalbar memiliki kekhasan tersendiri, sehingga CU di wilayah ini disebut leading factor perkembangan CU di Indonesia. Kemudian orang mengenal CU di Kalbar sebagai laboraturium perekonomian berbasis kerakyatan. Tidak heran jika kemudian banyak orang dari dalam dan luar negeri mempelajari – study banding tentang konsep CU di Kalbar. Dan banyak dari mereka minta difasilitasi agar BKCU Kalimantan mendukung pendirian CU di wilayahnya. Satu persatu di luar Kalbar berdiri, dan terus berkembang dengan konsep khas Kalimatan Barat. Dimulai dari Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan permintaan terus mengalir sampai Papua, NTT, Sulawesi, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera, dan Riau.

CU tak boleh mati, kata Frans, merupakan statemen yang harus diwujudnyatakan. Sebagai idelolgi, dan karena kondisi koperasi waktu itu kurang begitu bagus, maka dalam berpromosi tidak menggunakan nama koperasi, namun konsisten menggunakan nama Credit Union. Ketergantungan kepada pihak lain, tak boleh dilakukan karena yang lain itu keberadaannya juga terbatas. Kita harus membangun perekonomian secara bersama, diawali dari individu-individu. Dan tidak boleh berharap banyak dari pihak mana pun. Lebih-lebih dari pihak pemerintah yang kemampuannya juga terbatas. Sedangkan masyarakat yang harus diperhatikan sangat banyak.

Keterbatasan lembaga-lembaga lain harus menjadi pemacu untuk memperbaiki kehidupan kita masing-masing. Jika perekonomian keluarga sudah mulai membaik, dan tertata, baru kemudian membantu yang lain. Omong kosong kalau kita membantu orang lain, sementara diri sendiri belum pada posisi yang mampu membantu. Bila hal itu terjadi, pasti gerakan itu menjadi semu.

Meski Frans telah pensiun sebagai karyawan, namun sebagai aktivis tidak akan mau berhenti. Yang ada dalam pikirannya, ingin selalu mengumandangkan kesiagaan kepada gerakan agar tidak terjadi guncangan – pengaruh dari luar. Sebenarnya, kata dia, kalau dibilang pengaruh luar, juga tidak sepenuhnya dari luar, dari dalam pun ada. Artinya, kondisi SDM dan pimpinan yang ada di CU harus dijaga terus agar mampu menyaring informasi ilmu yang sepintas dilihat modern, tetapi jika salah langkah justru akan bisa menghancurkan.

Dicontohkan, walau diakui tidak 100% benar, awalnya orang pinjam tidak ada jaminan. Kini, secara tidak disadari banyak CU terpengaruh dengan dunia perbankan. Jika ada anggota yang pinjam, misalnya, staf yang menangani tidak terlalu tahu karakteristik anggota yang meminjam, maka ketika pinjam melebihi plafon harus ada jaminan tambahan. Mereka mengukur dari nilai jaminan, bukan dari karakter anggota tersebut. Karena itu, pola demikian praktik yang mulai agak miring. “Boleh mengikuti modernisasi teknologi, ilmu pengetahuan, dan manajerial yang terus berkembang, tetapi harus dikaitkan dengan filosofi dan nilai-nilai dasar dari pembentukan sebuah CU, yaitu; pemberdayaan masyarakat, menolong mereka yang tidak mampu, orang-orang kecil, miskin,” tegasnya.

Bisa saja manajemen tidak mau mengambil risiko terjadi kredit lalai, sehingga harus ada pengamanan. Cara berpikir seperti itu tidak salah. Pertanyaannya, kata Frans, kalau diteliti lebih jauh, yang macet-macet ada jaminannya, apa bisa dijual dengan mudah? Ada kemungkinan, nilai jaminan yang diberikan oleh anggota juga lebih kecil dari nilai pinjaman. Diduga, walau diakui harus dikaji ulang, pinjaman lalai juga tidak terlalu menjadi beban berat bagi staf – pengurus. Buktinya, walau utang belum dibayar, menyalurkan pinjaman tetap lancar. Bila dapat tabungan dari orang-orang kaya, ketersediaan modal – ketersediaan simpan cukup besar untuk memenuhi pinjaman anggota yang membutuhkan. Jika terjadi macet, biasanya analisis rasio dan persyaratan-persyaratan tidak dipatuhi. Akibatnya mulai kelimpungan.

Saat ini anggota ada yang punya simpanan sampai miliaran, sementara dia tidak pinjam. Artinya, tidak punya kontribusi kepada lembaga. Sementara dia mendapatkan jasa atas simpanan tersebut. Ini tidak ada perimbangan. Anggota yang berpikir menabung saja, memang belum ada 10%. Tetapi jika tabungannya sampai ratusan juta atau miliar, tetap menjadi persoalan. Mereka hanya ingin mendapatkan jasa lebih besar daripada menyimpan di bank. Pada umumnya mereka bukan pengurus, bahkan bukan aktivis CU.

Persoalan yang sekarang lagi ngetrend di kalangan pengelola bisnis keuangan, di samping masalah non performance loan (NPL) di antaranya idle money – uang yang belum digunakan, seperti uang tunai yang tersimpan dalam peti. Dana nganggur terbentuk setelah terpenuhi seluruh keperluan harian, kebutuhan anggota, termasuk asuransi, dana darurat dan sebagainya. Agar tidak terjadi uang mengendap, menerima simpan besar harus diimbangi dengan kemampuan memasarkan. Pengelola CU kadang hanya bangga melihat simpanan besar, namun kurang membuat analisis rasio-rasio, dan tidak inovatif mengelola dana. Hal seperti itu seharusnya bisa direm.

Dalam konteks ilmu modern – orang perbankan tidak masalah. Mereka lebih senang jika yang pinjam itu besar-besar. Karena secara administratif dan operasional, ngurus yang kecil-kecil dengan yang besar persyaratannya sama. Hitungannya, yang besar akan dapat besar, yang kecil akan dapat kecil. Sama capeknya, tetapi dapatnya beda. Namun, filosofi CU harus menolong yang kecil-kecil. Jika pun mereka wiraswasta kelasnya juga masih usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). “Kondisi sekarang, kebanyakan tenaga muda, yang berfikir dan bertindak berdasarkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari bangku kuliah. Daya dorongnya untuk melihat masyarakat sekitar boleh dibilang kurang,” jelas Frans.

Karenanya, lanjut dia, harus dijaga. Sekarang mulai disadari, dan sudah ada yang mengerem, menerima dalam jumlah besar. Terutama dari anggota yang tidak mau pinjam. Di CU banyak produk simpanan; ada simpanan saham (simpanan pokok), simpanan sukarela, simpanan pendidikan, simpanan perumahan, simpanan harian, simpanan unggulan, dan sebagainya. Produk unggulan itulah yang mereka kejar karena jasanya memang cukup besar. Di beberapa CU sudah ada yang mulai membatasi setoran dalam jumlah besar. Misalnya, dalam 1 bulan hanya boleh menyimpan maksimal Rp20 juta. Kalaupun punya uang Rp50 juta, tidak bisa simpan sekaligus. Preventifnya, semua harus sama-sama patuh terhadap peraturan CU, karena peraturan itu dibuat secara bersama-sama yang dinaungi oleh BKCU Kalimantan.

Kalau kembali ke awal-awal CU, sebenarnya diarahkan ke hal-hal sederhana yang membuat anggota dalam kebersamaan cukup tinggi. Memberikan jasa agak tinggi karena ada persaingan kurang bagus. Bila sesama CU menganut aturan yang sudah ada tidak masalah. Namun, jika tidak dipatuhi, ini yang repot. Misalnya, BKCU sudah melakukan audit, monitoring, dan evaluasi, serta pendampingan. Tetapi rekomendasi yang diberikan kurang dipraktikkan dengan maksimal. “Itu yang saya katakan, apa yang dibuat CU bersama-sama BKCU Kalimantan, kepatuhan operasional – pelaksanaannya masih belum maksimal,” jelas Frans.

Saat ini, lanjut dia, tuntutan anggota sebagian besar agar bunga pinjaman turun akibat kebijakan pemerintah terkait dengan suku bunga pinjaman usaha kredit rakyat (KUR) yang terus diturunkan dari 22% per tahun menjadi 12% kemudian turun lagi menjadi 9% per tahun. Menurut Frans, sebenarnya tidak ada masalah. Kini mulai dianalisis, angka yang layak berapa. Yang harus diperhatikan jangan hanya melihat pinjamannya saja, simpanan pun harus dilihat. Singkatnya, jika suku bunga pinjaman diturunkan, jasa tabungan juga harus diturunkan. Kalau bunga pinjaman turun, tetapi jasa simpanan tinggi, tidak imbang. “Bila mengikuti pasar, dua-duanya harus imbang,” tegasnya.

Suku bunga KUR sebenarnya bukan 9%, tetapi bila dikalkulasi bisa 11%. Sebab, bank memberikan biaya-biaya lain, sementara di CU tidak ada biaya. Yang pasti, bank mengasuransikan pinjaman atas nasabah. Artinya, bank mengeluarkan biaya asuransi yang juga dibebankan kepada nasabah. Sedangkan di CU semua menjadi tanggungan lembaga, dan semua terbuka. Dan jasa simpanan di CU pun tetap masih di atas pasar. Artinya, masih lebih tinggi daripada bunga simpanan di bank. (d marjono)

Posted in Cerita Sampul | Tagged | Leave a comment

CU Sauan Sibarrung Meraih Penghargaan Internasional Access Branding

Berangkat dari keprihatinan gereja terhadap masalah sosial ekonomi masyarakat pada waktu itu, Gereja Katolik melalui Komisi Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Makassar akhirnya memprakarsai pendirian Credit Union (CU) Sauan Sibarrung. CU Sauan Sibarrung didirikan oleh 83 umat Katolik pada 6 Desember 2006 di Paroki Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Sauan berarti hembusan, Sibarrung berarti bersinergi. Sauan Sibarrung menunjukkan pada alat yang digunakan oleh pandai besi, yang terbuat dari 2 (dua) batang pohon nibung yang dilubangi, lalu diberi alat untuk menghembuskan angin ke bawah secara bergantian (bersinergi), sehingga bara api memanaskan besi yang akan ditempa. Sauan Sibarrung dalam mitologi agama asli orang Toraja adalah tempat menempa Bulawan Tasak (emas murni) menjadi segala sesuai yang ada; manusia, hewan dan tumbuhan. Di sana tergambar kehidupan baru, persaudaraan, cinta alam semesta, dan kerja keras.

Kantor awal CU Sauan Sibarrung berada di lokasi gereja. Ini menjadi tanda bahwa Uskup dan umat mendukung penuh gerakan CU untuk menyejahterakan masyarakat luas. Setelah 10 tahun berdiri dan melayani anggota, CU Sauan Sibarrung berkembang secara signifikan. Hingga Maret 2017 Anggota CU Sauan Sibarrung mencapai 31.750 orang dengan aset sebesar Rp403 miliar. Hampir sebagian besar anggota CU Sauan Sibarung adalah petani.

Anggota tersebar dan dilayani 12 kantor pelayanan (TP) di 7 Kabupaten – Kota di wilayah Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Kota Pare-Pare dan Palopo). Sebuah pencapaian yang bagi sebagian besar orang di luar mungkin adalah mukjizat, tetapi bagi aktivis CU Sauan Sibarrung ini adalah hasil kerja keras dalam kebersamaan dengan spirit pemberdayaan. Tidak lama CU Sauan Sibarrung bisa menemukan cetak biru cara kerjanya. Masyarakat yang dulu menjaga jarak, akhirnya berangsur-angsur berani menabung.

Untuk meningkatkan kualitas hidup anggota, CU Sauan Sibarung sejak awal mengembangkan jenis-jenis produk dan pelayanan bagi anggota. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan keuangan, dan non keuangan. Pelayanan keuangan dimaksudkan untuk membantu anggota menggapai aspirasi hidup mereka dan meningkatkan kualitas hidupnya. Sedangkan pelayanan non keuangan dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas keterampilan, perubahan pola pikir, perilaku, dan solidaritas antar anggota.

Pada awalnya, CU Sauan Sibarrung memiliki 3 jenis tabungan; Mana’, Banua Sura’ dan Panta’ nakan. Setiap nama jenis tabungan memiliki arti tersendiri. Mana’, berasal dari bahasa Toraja yang artinya Warisan. Semua anggota secara otomatis telah memiliki simpanan ini sejak ia terdaftar menjadi anggota dengan saldo minimal Rp500.000.  Sesuai dengan namanya, simpanan ini disarankan tidak ditarik selama menjadi anggota. Tujuannya adalah agar dapat menjadi warisan bagi anak cucu di kemudian hari. Selain itu simpanan ini juga menjadi jaminan utama dalam mengajukan pinjaman. Namun bila dalam keadaan mendesak, anggota bisa menarik simpanan ini jika dibutuhkan.

Bunua Sura’ terdiri dari 2 (dua) kata yaitu bunua yang berarti rumah dan sura yang berarti ukiran. Jadi, Bunua Sura’ adalah sejenis rumah yang berukir dan tidak semua orang bisa meiliki atau membangun rumah tersebut karena selain biayanya cukup besar, jenis ukirannya pun melambangkan kasta orang memilikinya. Tujuan simpanan ini adalah untuk membantu anggota merancang atau mempersiapkan modal untuk membangun atau merenovasi rumah dan untuk pembelian (kepemilikan) rumah atau tanah.

Panta’nakan dalam  bahasa Toraja berarti tempat penyemaian. Jenis simpanan ini ditujukan kepada pelajar dan mahasiswa. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan biaya sekolah bagi mereka dengan menyisikan sebagian uang jajan atau uang belanja. Biasanya produk ini juga dimanfaatkan oleh anggota untuk merancang atau mempersiapkan dan pendidikan bagi anak-anak mereka.

Semangat baru untuk menabung berkobar, dan harapan akan masa depan semakin besar. Mereka mulai menebus sawah yang dulu digadai, membeli anak babi untuk dipelihara, membeli motor untuk ojek, mesin penggiling kopi, membiayai anak sekolah da kuliah, membeli angkot. Ketergantungan kepada orang lain mulai dikikis. Rentenir mulai ditinggalkan. Inilah kabar gembira bahwa credit union telah mengajak semakin banyak orang untuk menabung dan mengumpulkan dana masyarakat lebih besar untuk kepentingan bersama.

Dalam berbagai kesempatan, Romo R.D. Fredy Rante Taruk, ketua CU Sauan Sibarung sering mengatakan bahwa credit union itu adalah salah satu pilihan pemberdayaan sosial ekonomi umat di tengah masyarakat. Untuk mempelajari lebih dalam tentang pemberdayaan tersebut, tahun 2009 CU Sauan Sibarrung memikirkan dan mengirim staf manajemen ke CU Lantang Tipo, Kalimantan Barat untuk mempelajari Credit Union Microfinance Innovation (CUMI), sebuah sayap layanan credit union untuk membantu para pelaku usaha kecil di pasar-pasar tradisional.

Program ini kemudian fokus membantu masyarakat lokal di Toraja untuk permodalan dan pengembangan usaha mereka. Dengan tabungan harian minimal Rp1.000 selama 100 hari, mereka lalu dapat meminjam Rp100.000 untuk membeli sayur dan kemudian menjualnya kembali di pasar. Selisih keuntungan kemudian digunakan untuk membayar angsuran mereka dan menambah tabungan. Secara perlahan mereka bangkit dari kekerdilan, dan berusaha merangsek ke tengah pasar untuk bersaing dengan pedagang-pedagang besar yang berasal dari luar Toraja. Inilah pemberdayaan.

Karena itulah CU Sauan Sibarung semakin memperkuat program dan strategi pada pemberdayaan kelompok-kelompok binaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, pelaku usaha kecil di pasar dan pelaku industri rumah tangga. Kelompok dipandang sebagai basis kebersamaan yang kuat, kohesif, dan mudah diberdayakan. Pemberdayaan anggota CU dalam kelompok akan lebih terukur, terarah dan lebih efektif. Karakteristik kelompok juga menentukan karakteristik pemberdayaan dan intervensi CU pada kelompok tersebut. Orang-orang kecil harus dibimbing, diberi pemahaman, dan diajak berproduksi. Dengan begitu pinjaman mereka akan lebih tepat guna dan bukan justru menjadi bumerang ketika pinjaman itu tidak dikelola secara bijaksana. Anggota masuk ke CU dengan tujuan hidup sejahtera, bukan kemudian jatuh miskin karena sertifikat tanah mereka disita oleh CU. Dengan demikian CU bukanlah lembaga pencair kredit, bukan pula pengumpul angsuran anggota.

Seiring perkembangan waktu dan kebutuhan anggota, sekarang terdapat 11 jenis tabungan. Keragaman tabungan menunjukkan bahwa CU Sauan Sibarrung untuk membantu anggota guna menggapai tujuan keuangan mereka seturut tahap-tatap kehidupan manusia. Seperti perkawinan, pendidikan anak, membangun rumah hingga kematian. Sementara itu terdapat juga beberapa jenis pinjaman bagi anggota yang diprioritaskan bagi pinjaman produktif untuk meningkatkan usaha dan produksi anggota, baik secara pribadi maupun kelompok.

Untuk mendukung pemberdayaan, CU Sauan Sibarrung, maka sejak didirikan terdapat 7 orang pengurus dan 3 orang pengawas yang dipilih secara demokratis dalam rapat anggota tahunan (RAT). Pengurus dan pengawas bertindak sebagai volunteer – sukarela dan menggerakkan roda organisasi bersama manajemen. Pengurus dibantu oleh komite-komite, baik komite kantor pusat maupun komite di TP yang kini berjumlah 39 orang. Selain itu, dan ini yang menarik, CU Sauan Sibarung memiliki volunteer yang disebut Sanayoka, sebuah kelompok kecil aktivis yang fanatik membantu di tengah masyarakat untuk mempromosikan, mengajarkan dan mempraktikkan ilmu credit union. Ada sekitar 260 Sanayoka yang mewakili komunitas-komunitas anggota.

Para aktivis itu adalah orang-orang yang tanpa lelah, mengorbankan waktu, tenaga, biaya untuk memberdayakan komunitasnya. Mereka mau melakukan ini semua karena merasa aktivitas itu adalah panggilan jiwanya untuk membantu sesama warganya agar hidup lebih sejahtera. Mereka menjadi berkat bagi siapa saja, apa saja dan di mana saja. Partisipasi aktivis dalam CU Sauan Sibarrung telah memberikan dampak positif yang signifikan. Mereka membantu pengurus dan manajemen untuk mengembangkan anggota. Kerja keras tak kenal lelah dari seluruh jajaran pengurus, pengawas, manajemen maupun para aktivis dengan dirigen Romo Fredy, CU Sauan Sibarrung, meraih penghargaan internasional, Access Branding; The Association of Asian Confederation of Credit Unions (ACCU)

***

Sebagai “komandan” dari 44 unit Credit Union (CU) primer dalam jejaring Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) – Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, Marselus Sunardi, S.Pd., merasa bangga dan bersyukur atas prestasi kinerja CU Sauan Sibarrung, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, meraih penghargaan internasional; Access Branding, The Association of Asian Confederation of Credit Unions (ACCU) tahun 2017, di Srilanka. “Walau saya bukan pengurus CU Sauan Sibarrung, tetapi capaian itu merupakan peraihan kami bersama, seluruh gerakan BKCU Kalimantan. Semua merasa bangga, semua ingin meraih prestasi. Dampaknya, keinginan itu semakin menggebu-gebu, ingin sharing dan belajar bersama,” urai Sunardi.

Karena access branding merupakan standar yang diciptakan oleh CU Asia untuk memperbaiki kinerja CU, maka, kata Sunardi, jika sebuah CU sampai bisa meraih access branding dan mampu mempertahankan terus, jaminannya adalah keberlanjutan CU itu sendiri. Jadi, bukan sekadar penghargaan yang didapat begitu saja, tetapi benar-benar karena prestasi – kenyataan. Untuk meraihnya pun banyak kriteria yang harus terpenuhi. Tidak bisa dipesan, dan tidak bisa dinegosiasikan. Namun karena benar-benar praktik yang dilakukan sesuai dengan yang distandarkan dalam indikator-indikator access itu sendiri.

Selaku gerakan, kata Sunardi, prestasi yang diraih CU Sauan Sibarrung itu sangat menggembirakan. Selama ini masing-masing Pus, masing-masing CU mengakui diri; “kami sudah baik …, kami sudah baik.” Bahkan, dengan berbagai cara apa saja ingin coba diraih. Tetapi untuk access branding tidak bisa bilang; “Kami sudah baik,” jika ternyata standar yang ditetapkan CU Asia belum tercapai. Dalam jejaring BKCU Kalimantan, sejak tahun 2006 sudah menjadi program gerakan untuk memperbaiki diri sesuai standar access.

Program di gerakan BKCU terbukti serius. Ketika ada yang ikut sertifikasi, baru kali pertama, langsung berhasil meraih penghargaan access branding. Sebenarnya, kata Sunardi, 3 tahun silam sudah ada CU yang mulai mencoba. Namun, entah apa hambatannya oleh Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) tidak didaftarkan ke CU Asia. Sambil introspeksi, terus berusaha memperbaiki diri. Buahnya, banyak CU di BKCU Kalimantan tata kelolannya semakin baik. Dan mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan. “Walau saya bukan pengurus CU Sauan Sibarrung, tetapi capaian itu merupakan raihan kami bersama. Seluruh gerakan BKCU Kalimantan semua bangga, semua ingin meraih prestasi. Dampak terbaiknya, ruh energi positif 90% mengalir ke seluruh gerakan sehingga membuat keinginan makin menggebu-gebu. Semua sepakat untuk sharing, belajar bersama menimba pengalaman dari Sauan Sibarrung,” uria Sunardi, yang telah 2 periode memimpin BKCU Kalimantan, berbunga-bunga.

Praktik yang dilakukan Sauan Sibarrung, kata dia, sungguh berbeda dengan CU pada umumnya. Sauan Sibarrung, tidak mencontoh dari mana-mana, melainkan kebutuhannya memang begitu. Sesuai panduan mendirikan CU, bukan dari atas tetapi digerakkan dari bawah. Potensi yang ada di anggota itulah yang diperkuat oleh CU melalui intervensi kelompok binaan – kelompok basis anggota (KBA). Karena mereka bisa melibatkan banyak orang, sehingga anggota pun merasa ini bukan hanya program CU saja, tetapi merupakan kebutuhan hidup kita sendiri. Bersyukur, CU memfasilitasi dan menunjukkan cara yang baik melalui berbagai kegiatan.

Secara nasional, dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) sendiri, masih ada yang bersikap apriori dan mengatakan; “tidak mungkin CU di Indonesia bisa meraih acces branding. Itu bukan pesimisme, tapi apriori,” tegas Sunardi. Ketika dalam Rapat Anggota Tahunan Nasional (Ratnas) Inkopdit di Makassar Mei 2017 disebutkan bahwa CU Sauan Sibarrung akan memperoleh access branding, sambutannya tidak banyak yang gembira. “Buat saya tidak masalah, karena mereka tidak paham standar access branding. Mereka kira, standarnya seperti koperasi berprestasi nasional,” kata Sunardi.

Penghargaan, apalagi terbaik nasional diberikan oleh pemerintah pasti membuat penerimanya merasa bangga. Namun setelah dapat penghargaan biasanya lepas begitu saja, tidak ada tindak lanjutnya. Sementara access branding, beda. Menurut pengalaman Sauan Sibarrung, belum menerima penghargaan saja, sejak daftar akreditasi diakui ACCU setiap bulan harus melaporkan kegiatannya ke CU Asia. Kemudian dari CU Asia memberikan masukan dan saran-saran untuk diperbaiki. Ketika ditunjukkan hasil produk kopi kelompok binaan yang kemasannya masih kurang bagus, misalnya, anggota mendapat bimbingan dan pelatihan dari CU Asia, pelatihnya dari Philipina.

Di CU Sauan Sibarung banyak kelompok basis; ada kelompok petani padi, petani jagung, peternak babi, peternak ikan, perajin, pekebun kopi dan sebagainya. Semua masih perlu bimbingan untuk meningkatkan kualitas produksinya. Dengan adanya pelatihan, dan bimbingan pengemasan produk kopi yang lebih baik, tampilannya menarik, diharapkan nilai tambah dari jerih payah dan kemauan keras para petani anggota CU itu benar-benar makin menyejahterakan hidupnya. Secara berantai, mereka diharapkan bisa berbagi ilmu dan pengalaman kepada anggota lain sehingga sejahtera akan cepat merata ke semua anggota.

Karena telah diakui oleh ACCU sebagai salah satu koperasi standar Asia, kewajiban mereka harus menjaga standar tersebut jangan sampai turun, dan menjadi masalah. Keberhasilan CU Sauan Sibarrung menjadi motivasi 44 CU primer yang ada di dalam jejaring BKCU Kalimantan untuk secara bertahap berani membuat target tahun berikutnya, dan tahun berikutnya. CU Mekar Kasih, Makassar, Sulawesi Selatan, yang tidak lain adalah “adik kandung” CU Sauan Sibarrung, dinilai layak – siap diaudit ACCU.

Secara indikator kinerja keuangan lembaga, salah satu syarat penting terkait kredit lalai, CU Mekar Kasih yang diketuai Romo Linus Oge, Pr, menurut Sunardi, nilainya lebih tinggi dari Sauang Sibarrung. Namun Mekar Kasih belum mengajukan diri untuk diaudit CU Asia lantaran masih harus melengkapi beberapa persyaratan, termasuk memperbaiki dokumen-dokumen.“Tetapi indikator kuncinya CU Mekar Kasih sudah sangat baik. Boleh dibilang, tinggal selangkah lagi meraih access branding,” tutur Sunardi, optimis.

Access branding terdiri dari beberapa katagori yaitu; bronze, silver dan gold. Untuk meraih katagori tertinggi, gold, ada 13 komponen 84 indikator yang harus memperoleh nilai rata-rata baik. Sementara untuk katagori bronze, cukup dengan 4 komponen utama yang mendapatkan nilai rata-rata di atas 50%, yaitu;

1) Kinerja keuangan. Yang menjadi kunci kinerja keuangan ada 2 yaitu; (a) modal lembaga bersih minimal harus 5%. (b) kredit lalai idealnya 5% ke bawah. Modal lembaga sangat penting. Tidak boleh aset terus bertambah, simpanan anggota makin besar tetapi CU-nya tidak punya kekuatan. Membangun gedung pakai uang pinjaman, misalnya, berarti lembaga tidak berdaya. Membangun gedung harus dengan uang lembaga. Kredit beredarnya pun harus bagus. Bila kredit beredar tidak bagus dikatakan; CU tidak ada bisnisnya – tidak ada nilai tambah.

2) Perspektif bisnis internal. Bisnis internal itu praktik tata kelolanya member base – harus berbasis anggota. Kemudian membuat pelayanan yang menjawab kebutuhan, menjadi solusi atas masalah keuangan anggota. Maka produk-produknya harus membuat perpadanan, tidak hanya 1 – 2 produk saja. Cita-cita anggota punya rumah,  misalnya, harus ada produk yang berkaitan dengan kepemilikan rumah. Jangan hanya produk jangka pendek, sekarang menabung, besuk boleh diambil. Produk seperti itu perlu, tetapi utamanya seri wallet. Yaitu produk-produk yang membangun kekayaan, produk jangka panjang. Lama mengumpulkan, tidak bisa setiap hari ditarik, sehingga pada masa tertentu dia bisa menikmatinya.

3) Perspektif anggota sebagai pelanggan. Artinya CU harus fokus, bagaimana membimbing dan membina anggotanya. Melalui layanan yang baik, sehingga anggota berpartisipasi secara penuh. Bila anggota merasa puas, berarti berhasil menciptakan pelanggan. Dan jika pelanggan puas bisnisnya bisa jalan lancar.

4) Perspektif pertumbuhan pembelajaran. Anggota, pegawai, pengurus, pengawas harus terus menerus belajar. Pengurus belajar dengan pegawainya untuk mengembangkan lembaga. Maka ada pelatihan-pelatihan wajib bagi para pengurus, pengawas dan pegawai. Anggota belajar supaya bisa berkontribusi kepada lembaga. Anggota juga diberikan pendidikan terus menerus, bukan hanya pendidikan wajib saat masuk menjadi anggota. Yang dikembangkan BKCU Kalimantan, terutama pendidikan kewirausahaan.

Keempat bidang tersebut harus menyatu, tidak bisa satu nilainya bagus, lainnya jelek. Nilai rata-rata harus imbang di atas 50%. Dari 13 komponen, total ada 84 indikator. Awalnya, kata Sunardi, berat dan rumit seperti tidak mungkin. Tetapi ketika berfikirnya; CU ingin berkelanjutan, bukan untuk 1 – 2 tahun, dan bukan hanya bagus sekarang tetapi untuk selamanya, dan semua dilakukan dengan baik, ternyata menjadi budaya yang bagus. Itulah tujuan access branding.

Menurut Sunardi, banyak CU yang tidak terlalu besar (sedang) tetapi cukup baik, dan bisa mengajukan audit ke CU Asia. Untuk memperoleh access branding, tidak harus CU itu besar, melainkan tata kelolanya harus baik dan sehat. Terutama kinerja keuangan lembaga, kredit lalai ideal, tidak melebihi 5%.CU besar problem paling sulit adalah menjadikan kredit lalai maksimal 5%. Untuk itu harus ada terobosan baru. Misalnya, memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memberikan pelayanan yang lebih mudah dan lebih baik kepada anggota, khusunya pelayanan keuangan.

Diakui, karena sebagian besar anggota CU berada di perdesaan, daerah-daerah terpencil dan pedalaman, pelayanan masih manual. Petugas datang langsung ketemu anggota. Berbeda dengan di kota, bisa menggunakan akses satelit. Sedangkan di desa-desa terpencil – pedalaman Kalimantan, susah dapat sinyal. “Saya percaya, ketika teknologi dimanfaatkan secara baik oleh CU dan menggunakan aplikasi seperti halnya lembaga lain, paradigma masyarakat tentang CU akan berubah. Mereka akan berfikir; tidak bisa main-main lagi dengan CU,” urainya.

***

Tidak bermaksud menyombongkan diri, sekarang telah terpatahkan pandangan tidak mungkin ada CU di Indonesia bisa meraih access branding. Tidak dipungkiri, Puskopdit BKCU Kalimantan sebagai Puskopdit terbesar di Indonesia, dalam banyak hal ada juga yang tak senang. Hal itu tentu menimbulkan pertanyaan; “Apa salah kami,” kata Sunardi. Kalau besar tapi kacau dan anggota rusak, memang salah. Namun BKCU Kalimantan bukan saja besar, juga sehat. Buktinya, ada anggota yang berhasil meraih standar Asia. Sementara yang lain, belum. Padahal standar untuk CU itu sama.

Karena banyak CU anggota BKCU Kalimantan dimpimpin Pastor, bahkan dalam susunan pengurus & pengawas ada beberapa Pastor, juga banyak yang tidak setuju. Menurut mereka, Pastor itu tugasnya memimpin misa, bukan mengurus CU. Apreori seperti itu, kata Sunardi, tidak fair. Karena itu yang tidak setuju Pastor ngurus CU, dibantah terus. “Kalau dirunut, dia aslinya memang Pastor. Tetapi tidak ada Pastor di BKCU Kalimantan, tanpa mengikuti pelatihan CU.

Semua standar, siapa pun; baik Pastor, Pendeta, Ustadz atau awam yang aktif di CU, terlebih pengurus – pengawas – manajemen harus belajar CU, supaya tahu apa yang diurus. Di gerakan BKCU Kalimantan pengurus CU-nya memang ada Pastor, Pendeta, Ustadz dan awam. Walau saya guru, juga belajar CU,” kata Sunardi memberi contoh. Kalau mau mengurus orang lain, lanjutnya, harus mampu mengurus diri sendiri. Itulah ilmu credit union yang paling dasar. Yang sering menjadi persoalan, para pengurus, pengawas dan staf kurang beres mengurus diri sendiri, tetapi mengurus orang lain. Titik lemahnya, orang yang ada di belakang credit union tersebut. Mereka yang diharapkan menjadi suri tauladan, tetapi tidak mampu memenej diri sendiri, bagaimana memenej orang lain.

Anggapan bahwa Pastor memimpin CU tidak benar, juga telah terpatahkan. CU Sauan Sibarung peraih access branding pertama di Indonesia, dipimpin Pastor, Fredy Rante Taruk. Jika tahun depan (2018) CU Mekar Kasih yang dipimpin Pastor Linus Oge Pr berhasil meraih acces branding, akan semakin memperkuat bahwa Pastor pun mampu memimpin CU. Walaupun dipanggil Pastor, namun dia tidak membawa kepemimpinan di CU-nya seperti memimpin di gereja, melainkan tetap menganut model kepemimpinan di CU. Terbukti, anggotanya terdiri dari berbagai pemeluk agama yang berbeda, juga dari berbagai suku bangsa. (mar)

 

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

25% UMKM di Kota Bekasi Permodalannya Disupport Koppas Kranggan

Berbeda dengan hari-hari biasa, akhir bulan – akhir pekan, Sabtu, 29 Juli 2017, lepas sholat Subuh kesibukan di Kantor Pusat Koperasi (Koppas) Kranggan mulai terasa. Kesibukan di pagi buta itu bukan karena para karyawan harus memberikan pelayanan prima kepada anggota yang akan melakukan transaksi, melainkan karena hari itu ada acara istimewa, bagi bagi hadiah untuk anggota dan calon anggota yang nilai totalnya ratusan juta rupiah.

Hari semakin terang, para bikers yang tergabung dalam Koppas Kranggan Cycle Community (K2CR) juga pesepeda dari komunitas lain terus mengalir berdatangan untuk mengikuti funbike – gowes sehat bareng, dalam rangka memperingati Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-70. Sampai sekitar jam 07.00 wib, saat start yang dikomandoi Ketua Koppas Kranggan, Anim Imamuddin, S.E., M.M., tercatat 1.000-an peserta. Mereka menelusuri jalan-jalan “kampung” di wilayah Kecamatan Jatisampurna, Bekasi Selatan. Gowes sehat bareng ini disambut antusias oleh warga Kota Bekasi, terutama mereka yang mendukung Anim untuk mengikuti Pemilihan Walikota Bekasi tahun 2018 mendatang. Namun acara rutin tahunan itu semata-mata hanya untuk memeriahkan Harkopnas, bukan kampanye Pilkada.

Yang juga tidak kalah meriah acara siang hari saat Gebyar Hadiah Tabungan Cempaka, yang dilaksanakan di Lapangan Sepak Bola Pasar Kranggan, Jatisampurna, persis di seberang Kantor Pusat Koppas Kranggan. Terik matahari kemarau membuat para undangan di bawah tenda utama kepanasan. Namun mereka, terutama anggota dan calon anggota yang memegang kupon undian tetap sabar menanti, siapa tahu bisa pulang membawa salah satu dari 5 sepeda motor sebagai hadiah utama. Apalagi siang itu juga dihibur penyanyi dangdut beken Irma Darmawangsa.

Agak disayangkan, namun juga banyak yang mensyukuri. Jelang ujung acara, alunan musik dangdut masih mengundang untuk berjoget, hadiah pun masih banyak yang belum diundi, awan gelap yang menggelayut di atas kota Bekasi, ambrol. Hujan deras membuat acara tercerai berai. Karena takut ada aliran listrik liar, hiburan musik dan nyanyi dihentikan total. Panitia sibuk mengamankan hadiah yang belum diundi. Setelah sebagian peralatan dipindahkan dari panggung, undian dilanjutkan ke tenda undangan. Karena hadiah nilai besar belum diundi, para pemegang kupon tetap setia menunggu keberuntungan sampai akhir acara. “Hujan lebat, berkah. Baru kali ini acara Gebyar Hadiah Tabungan Cempaka turun hujan lebat,” tutur Anim.

Setiap insan Gerakan Koperasi Indonesia (GKI) yang benar-benar mencintai dunia perkoperasian, loyal terhadap gerakan dan punya sikap militant, memang punya cara tersendiri dalam menyambut peristiwa-peristiwa peting GKI. Koppas Kranggan yang didirikan oleh komunitas pedagang Pasar Kranggan, setiap memperingati Harkopnas, di samping mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh gerakan di tingkat Kota, Provinsi, dan Nasional, juga punya tradisi menyelenggarakan kegiatan sendiri.

Koppas Kranggan yang telah mengembangkan keanggotaannya tidak terbatas hanya di komunitas pedagang pasar, tetapi juga pedagang di luar Pasar Kranggan, seperti; pedagang kaki lima (PKL), warung kelontong, warung makan, penjahit, pemilik bengkel, dan wirausaha lainnya, setiap bulan Juli punya tradisi menyelenggarakan hiburan rakyat yang dibungkus dalam acara Gebyar Hadiah Tabungan Cempaka. Kemeriahan yang diselenggarakan rutin setiap tahun itu di samping ada hiburan musik dengan menampilkan penyanyi tenar, juga membagi-bagi hadiah seperti; santunan bagi yang dinilai membutuhkan, beasiswa bagi anak-anak sekolah.

Dan yang selalu ditunggu-tunggu oleh para anggota dan calon anggota adalah undian yang menyediakan berbagai hadiah mulai dari hadiah hiburan, payung, kaos, kemudian kompor gas, rak piring, kipas angin, dispenser, tv LED, kulkas, sepeda, dan hadiah utama sepeda motor. Jumlah kupon yang diundi tahun 2017 ada 140.000 lembar. Untuk mendapat 1 lembar kupon minimal punya tabungan Rp200.000. Jika tabungannya Rp1 juta, akan mendapatkan 5 kupon. Di Koppas Kranggan ada satu orang anggota yang tabungannya sampai Rp4 miliar. Ini bukti ada kepercayaan sangat besar terhadap Koppas Kranggan. Juga ada anggota yang rajin menabung dan rajin pinjam, sehingga di akhir tahun dia menerima SHU Rp50 juta.

Tabungan Cempaka, kata Anim, adalah produk unggulan Koppas Kranggan, karena setiap tahun hadiahnya selalu meningkat. Gebyar Tabungan Cempaka tahun 2017 total hadiah senilai Rp300 juta dengan hadiah utama 5 buah sepeda motor. Koppas Kranggan yang kini telah bermitra dengan banyak pihak, seperti; PT Andita Mas, Rumah Sakit Melia, Universitas Mercu Buana, Betos, dan Bank Jabar. Dalam berbagai kegiatan Koppas Kranggan melibatkan generasi muda; Karang Taruna, kalangan dunia pendidikan, di kawasan Jatisampurna seperti; SMKN IV, SMAN VII, dan SMK Yadika. Secara bergiliran mereka tampil dalam grup paduan suara membawakan lagu; Indonesia Raya, Mars Koperasi, dan Mars Koppas Kranggan. Juga dihadiri pejabat pemerintahan mulai dari tingkat RT – RW, Kelurahan, Kecamatan, sampai walikota. Wakil rakyat di DPRD, Dekopinda, Dekopinwil dan Dekopin Pusat, Kepolisian, dan Koramil juga diundang.

Tujuan melibatkan begitu banyak kalangan masyarakat, terutama dari generasi muda, kata Anim yang mantan Ketua Karang Taruna Kota Bekasi, ingin memperkenalkan gerakan koperasi sedini mungkin agar kelak mereka mencintai dan menjadi anggota koperasi. Koppas Kranggan juga punya tim sepak bola, KKFC dan komunitas sepeda. Dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat koperasi semakin dikenal. Hal itu terbukti, sampai akhir tahun 2016 anggota dan calon anggota Koppas Kranggan telah mencapai 18.000-an orang.

Koppas Kranggan yang dulu berkantor di salah satu pojok pasar dengan ruang kantor berukuran 3 x 3 meter, setelah dikelola dengan baik, profesional, dan jujur, mengalami kemajuan sangat pesat. Koppas Kranggan kini telah memiliki gedung megah berlantai 3, dan menjadi kebanggaan warga Kota Bekasi karena telah berulang kali meraih prestasi nasional. Prestasi itu, kata Anim, bukan semata-mata hasil kerja pengurus, pengawas, dan manajemen, tetapi, terutama peran aktif para anggota, dan dukungan pemerintah Kota Bekasi. “Tanpa dukungan aktif anggota, Koppas Kranggan tidak ada apa-apanya,” tegas Anim, politisi dari Partai PDI Perjuangan, anggota DPRD Kota Bekasi yang kini juga mempersiapkan diri untuk meraih kursi Kota Bekasi I.

Koppas Kranggan, kata Anim, telah menggulirkan pinjaman modal bagi 15.000-an anggota dan calon anggota, yang tersebar (70%) di Kota Bekasi, khususnya di Kecamatan Jatisampurna, dan 30% lainnya di Depok, Bogor, dan DKI Jakarta, dengan total pinjaman Rp70 miliar. Koppas Kranggan juga punya penabung dan peminjam binaan, khususnya pedagang kecil (K5), sekitar 33.000 orang. Dari jumlah tersebut yang pinjam untuk modal usaha sekitar 24.000 orang. Di Kota Bekasi, kata Anim, tercatat 80.000-an pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jika 24.000 orang meminjam di Koppas Kranggan (25%) berarti Koppas Kranggan punya peran cukup besar dalam pembantuan permodalan UMKM. “Koppas Kranggan sudah memberiikan sumbangsih – pemikiran untuk membangun UMKM di Kota Bekasi. Jika di Kota Bekasi ada koperasi sekelas Koppas Kranggan, pemerintah kota tidak harus pusing membantu UMKM,” tegas Anim penuh semangat.

Khusus Tabungan Cempaka, kata Anim, adalah tabungan yang sangat fleksibel, seperti tabungan harian di bank. Hari ini setor besok boleh diambil, atau kapan saja boleh diambil. Setiap akhir bulan, berapa jasanya telah terbukukan dan bisa langsung dicetak seperti menabung di bank. “Artinya, walaupun namanya koperasi, soal manajemen tidak kalah dengan perbankan,” kata Anim meyakinkan para anggota dan calon anggota. Salah satu kelebihan pelayanan yang diberikan kepada anggota, lanjut Anim, di hari libur seperti lebaran, misalnya, pengurus siap melayani anggota.

“Kalau ada anggota yang membutuhkan dana sangat urgen, misalnya, ada keluarga sakit atau melahirkan di rumah sakit (RS), pintu rumah terbuka untuk melayani anggota. Setiap lebaran ketika kantor tutup, kas koperasi di rumah minimal Rp200 juta. Karena itu, anggota tidak perlu khawatir,” jelas Anim. Menabung di Koppas Kranggan, kata Anim, tidak sulit. Cukup bawa uang Rp20.000 dan kartu tanda penduduk (KTP) isi formulir, dapat buku tabungan. Statusnya sebagai calon anggota Koppas Kranggan.

Menurut Ketua Pengurus Harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Pusat, Agung Sujadmoko, Koppas Kranggan memang benar-benar sehat. Parameternya; Pertama, anggota koperasi terus bertambah banyak, mau berpartisipasi aktif, dan bertransaksi dengan koperasi. Koppas Kranggan sudah melayani lebih dari 15.000 anggota dan calon anggota. Kedua, usahanya sehat. Koppas Kranggan bukan saja SHU-nya terus meningkat, juga bisa memberikan hadiah kepada anggota melalui undian. Ketiga, modalnya sehat. Baik modal yang diperoleh dari simpanan anggota dan calon maupun modal penyertaan dari pihak ketiga, terkelola dengan baik. Keempat, manajemennya baik. Koppas Kranggan pasti manajemennya baik, sehingga mampu berkembang dan dapat kepercayaan besar dari anggota. Dan kelima, pengurusnya baik. Pengurus yang yang baik itu adalah pengurus yang cerdas, jujur, dan amanah. “Kesemuanya itu terbukti, dan Koppas Kranggan berprestasi nasional,” jelas Agung. (adit)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Kita Harus Mampu Memanfaatkan Globalisasi

Apa yang bisa dilakukan kaum muda Indonesia agar meraih sukses.  Bagaimana supaya bisa membangun – mengekspresikan keinginan dan aspirasi. Apa yang perlu dilakukan kaum muda Indonesia untuk mendukung keberhasilan negeri tercinta.  Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat penting. Kalau kita bicara tentang anak muda  Indonesia, 1/3 dari populasi penduduk Indonesia atau sekitar 65 juta warga, merekalah yang dikategorikan sebagai kelompok muda. Di tangan generasi muda itulah letak kunci keberhasilan negeri Indonesia, dan pada saat yang sama kita tahu bahwa tantangan lingkungan baik di dalam negeri, maupun regional dan global semakin sulit.

Pada saat ini pertumbuhan ekonomi dunia sangat rapuh, dan sering disertai gejolak. Diperkirakan, pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2017 hanya akan mencapai kisaran 2% – 2,3%. IMF pernah melakukan revisi 5 tahun berturut-turut tentang pertumbuhan ekonomi. Ini mencerminkan sangat rapuhnya perekonomian dunia saat ini. Melambatnya pertumbuhan ekonomi di China dan perubahan struktur dari perekonomian di China sangat mempengaruhi perekonomian dunia. Melemahnya ekspor komoditas dari berbagai Negara ke China, seperti; Amerika Latin, Afrika, Asia Tengah juga Asia Tenggara termasuk Indonesia yang nilai ekspornya hanya 11%, sangat memukul pertumbuhan di dalam negeri.

Negara-negara berkembang yang dalam dua decade terakhir menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia, artinya mereka mampu memperbaiki kondisi ekonomi sosial masyarakatnya, mampu mengentaskan kemiskinan, saat ini Negara-negara sedang menghadapi tantangan berat. Ibarat badai yang datang bersamaan secara sempurna. Perlambatan dan perubahan structural dari ekonomi China,  rendahnya harga-harga komoditas, menurunnya aliran modal ke Negara berkembang dan meluasnya konflik atau serangan teroris serta perubahan iklim global, yang datang bersamaan, memberikan guncangan hebat bagi banyak negara berkembang di dunia.

Negara-negara pengekspor komoditas yang memiliki jutaan penduduk miskin mengalami pukulan paling berat menghadapi kondisi tersebut. Sekitar 40% revisi proyeksi penurunan ekonomi dunia, karena Negara pengekspor komoditas mengalami pukulan berat. Untuk mengatasi dan membangun kembali kondisi yang lebih baik,   tentunya membutuhkan kerja sama yang semakin erat dan koordinasi kebijakan antar Negara. Namun yang terjadi di dunia justru sebaliknya. Di berbagai belahan dunuia, populisme tengah bangkit dan bahkan meluas. Kesetiaan untuk bekerja sama antar Negara berada pada titik terendah sepanjang sejarah. Apa yang terjadi di Inggris dengan keputusan keluar dari Union, itu adalah salah satu contoh.

Bagaimana Indonesia harus menyikapi lingkungan dan kecenderungan global ini. Indonesia sebagai Negara memiliki potensi sangat besar untuk menjadi pelaku global yang disegani. Potensi yang dimiliki Indonesia harus diwujudkan menjadi kinerja dan investasi. Untuk itu diperlukan generasi muda yang percaya diri, dengan visi yang luas, ambisi, kreativitas yang kuat untuk menguasai ilmu pengetahuan, dan teknologi,  kemudian menggunakan pengetahuan dan teknologi tersebut untuk menciptakan kemakmuran dan kemajuan peradaban bangsa, serta keadilan sosial.

Berbagai data yang  kita lihat memberikan optimism bahwa hal ini bisa mewujudkan potensi menjadi kinerja. Tetapi pada saat yang sama berbagai data juga memberikan peringatan dan tantangan bahwa mewujudkan potensi menjadi kinerja tidak mudah. Bagaimana Indonesia bisa melangkah maju bersama untuk masa depan yang lebih baik. Kita harus menjadi bagian dunia yang berperan aktif. Dengan globalisasi dunia bisa dikatakan menjadi lebih kecil. Ibaratnya seperti sebuah kampung, di mana umat manusia, bisnis, modal, teknologi, informasi dan ilmu pengetahuan terus tersebar tanpa mengenal zona waktu maupun perbatasan Negara.

Globalisasi memberikan peluang untuk menciptakan kemajuan perekonomian semua Negara di dunia. Kalau kita lihat Negara-negara yang sukses, di dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai kemakmuran adalah mereka yang mampu memanfaatkan globalisasi, dan juga membangun ketahanan untuk bisa menjaga dirinya dari gejolak globalisasi. Indonesia, sama sekali tidak terkecuali di dalam konteks ini. (red)

Posted in Dari Redaksi | Tagged | Leave a comment

Dari 972 Koperasi di Kalbar Yang Dibubarkan Tidak Ada Satupun Yang Nafasnya Credit Union

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM mempunyai komitmen yang tinggi dalam memperkuat dan memperkokoh kemampuan produktivitas masyarakat melalui koperasi. Keinginan kuat mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup, mewujudkan kemandirian ekonomi dan meningkatkan produktivitas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat merupakan bagian dari program pokok pemerintah yang juga menjadi bagian tugas Kementerian Koperasi dan UKM.

“Saya percaya koperasi bisa memberikan kontribusi signifikan tercapainya program-program pemberdayaan masyarakat,” kata Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Ngurah Puspayoga, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Deputy Bidang Pengawasan, Suparno SE, MM, pada pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Puskopdit BKCU Kalimantan tahun buku 2016 yang dilaksanakan di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 27 April 2017. Menkop dan UKM sedianya akan hadir dalam RAT tersebut, namun harus menghadiri Musrembang di Hotel Bidakara, Jakarta.

Keberadaan koperasi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan para pengusaha mikro kecil dan menengah selaku anggota melalui kegiatan-kegiatan yang didasarkan pada prinsip kolektivitas dalam rangka meningkatkan peran koperasi dalam perekonomian, khususnya membantu menggerakan sektor riil. Maka upaya pemberdayaan koperasi merupakan suatu keharusan. Saat ini Kementerian Koperasi dan UKM sendiri sedang gencar melakukan reformasi koperasi yang bertumpu pada 3 aspek yaitu; rehabilitasi koperasi, reorientasi koperasi dan mengembangkan koperasi. Gerakkan reformasi total tersebut bersifat serentak, dengan komitmen bersama dan kerja sama semua pihak meliputi pemerintah dan dunia usaha. Pemerintah akan terus hadir dan berkomitmen untuk membangun koperasi dalam berbagai kesempatan.

Selaras dengan agenda reformasi koperasi yang menjadi kebijakan Kementerian Koperasi dan UKM, di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) ada 972 koperasi primer yang harus dibubarkan, dari 4300-an. “Bahasa saya, ini nipu. Menipu statistik itu sudah pasti. Bahkan menipu kita semua karena keberadaannya tidak ikut berkontribusi menumbuhkan perekonomian, dan menekan angka pengangguran. Tidak berkontribusi dalam memutar roda ekonomi. Dia hanya menumpang saja,” jelas Ir Marsianus SJ, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Barat

Bisa dibayangkan, lanjut dia, jika 972 koperasi itu bisa ikut bertransaksi, pasti akan berkontribusi banyak. Kalau tinggal papan nama tidak ikut memutar ekonomi, kenapa mesti dicatat lagi. Lebih baik dikubur saja. Dengan adanya agenda reformasi koperasi akan lebih menyehatkan dari sisi kualitas. Dari 972 koperasi yang dibubarkan, tak ada satupun koperasi yang nafasnya CU. Artinya, CU – Kopdit masih berjalan on the tranck. “Ini membanggakan, karena CU di Kalbar jalannya sasih benar,” tegasnya.

Koperasi yang dibubarkan itu memang salah niat membentuk koperasi. Mendirikan koperasi tidak untuk kontribusi memutar ekonomi dan menyejahterakan anggota tetapi niatnya menjadi pengemis. Menjadi peminta-minta, menunggu bantuan dari pemerintah minta hibah, minta subsidi dan sebagainya, 2 tahun berdiri tumbang. Karena itu harus dibubarkan. Kita telah sepakat tidak akan menciptakan pengemis, tetapi menciptakan entrepreneur – wirausaha koperasi yang profesional.

Perkembangan koperasi di NTT, menurut Wakil Bupati Sika, Drs. Paulus Nong Susa, yang membacakan sambutan Gubernur NTT karena berhalangan hadir, tidak jauh berbeda dengan di Kalimantan Barat, bahwa banyak lembaga keuangan yang berkedok CU. Hal itu menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi gerakkan CU. Namun kondisi tersebut tidak perlu membuat kawatir gerakkan. Karena di NTT juga banyak koperasi yang berkembang dengan baik, beberapa CU – Kopdit yang dikelola dengan baik dan benar, mampu mengukir prestasi nasional, sebagai koperasi berprestasi, seperti Kopdit Obor Mas dan Kopdit Pintu Air, contohnya.

Perkembangan CU di Kalimantan Barat sampai saat ini masih stabil. Walau akhir-akhir ini banyak lembaga keuangan di luar koperasi. Lembaga keuangan yang mengatasnamakan koperasi – menyebut-nyebut diri koperasi, bahkan menyebut dirinya CU. Tetapi sejatinya di luar gerakkan koperasi. Menurut Marsianus, dari semua CU yang RAT-nya dihadiri, hampir semua menunjukan tren positif dalam perkembangan usahanya. Anggotanya bertambah, volume usaha, dan asetnya meningkat. Memang ada CU yang NPL-nya masih tinggi. Mungkin karena ada sesuatu yang terjadi di CU tersebut. Koperasi yang berorientasi CU beda dengan koperasi pada umumnya. Dalam UU Koperasi memang disebutkan pendidikan. “Namun yang menyelenggarakan pendidikan hanya CU. Koperasi-koperasi lain hanya ditulis, tidak dilaksanakan,” tegasnya.

Namun, lanjut dia, belakangan ini ada tanda-tanda mulai sedikit kendor. Sudah ada yang berpikir pendidikan formalitas saja. Akibatnya pemahaman dan kecintaannya kepada CU kurang. Anggota, pinjam mau angsur ogah. Atau simpan mau, tapi pinjam ke tempat lain. “Ini pengaruh negatif jika tidak melewati pendidikan. Jika diawali dengan pendidikan yang benar, niscaya anggota akan setia. Melalui pendidikan tidak sekedar tahu bagaimana mengolah pendapatan, tetapi juga bagaimana mencintai lembaga sampai mati.

Marsianus juga mengingatkan, kini saatnya untuk mengembangkan pilar keempat, inovasi. Idle money sebaiknya tidak disimpan di bank tetapi harus diberdayakan. Hampir semua CU idle money-nya tinggi. Puskopdit perlu dipikirkan, seperti apa menyalurkan dana yang mengendap itu. Kalau disimpan di bank, bank pasti senang sekali menerimanya.

Dalam rapat-rapat CU, Marsianus sering menyampaikan, CU bisa bertahan sampai puluhan tahun, karena di dalam CU ada kasih. Harus dipahami bahwa kasih bukan milik Kristen, bukan milik Katolik, tetapi milik semua agama. Dan itu ada dalam CU sampai hari ini. Buktinya, anggota CU terdiri dari berbagai pemeluk agama yang berbeda-beda, juga terdiri dari berbagai suku dengan latar belakang adat istiadat yang berbeda-beda. Kasih itu murah hati, dan tidak mencari keuntungan sendiri, tetapi untuk menyejahterakan anggota. Itu yang menyebabkan CU mampu bertahan.

Disamping kasih, CU memiliki pilar kokoh yaitu; pendidikan, swadaya, solidaritas dan inovasi. Karena berpegang teguh pada pilar tersebut, CU ogah menerima hadiah, ikut menyalurkan program Kredit Untuk Rakyat (KUR) dari pemerintah. “Saya yakin, pengurus dan pengawas CU pernah ditawari pinjaman dari pemerintah, dari Dinas Koperasi dan UKM, tetapi di Kalbar sampai sekarang belum ada CU yang mau menerima penyertaan modal dari luar,” jelas Marsianus, seraya menambahkan bahwa di Kalbar saat ini 46 unit koperasi bernafaskan CU, dan bernaung di 4 sekunder yaitu; Puskopdit BKCU Kalimantan, Puskopdit Kapuas, Puskopdit Khatulistiwa dan Puskopdit Borneo.

Sebagai Puskopdit pertama, dan sekunder nasional yang memiliki 45 anggota CU Primer, tersebar di 23 provinsi, 11 CU primer di antaranya ada di Kalbar, Puskopdit BKCU Kalimantan memiliki peran besar, dan strategis. Melihat semua anggota melaksanakan RAT tepat waktu, bukti bahwa pembinaan kepada anggota berjalan dengan baik. Artinya, CU juga patuh pada UU. Pembinaan yang dilakukan oleh sekunder sangat berbengaruh. “Fungsi sekunder sangat besar bagi perkembangan koperasi. Terutama di CU,” jelas Marsianus.

Sebagai pengawas Dinas Koperasi dan UKM Kalbar selalu mengingatkan kepada sekunder untuk tetap melakukan kontrol kepada primer-primer anggotanya. Pernah suatu ketika melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dan menemukan CU yang surat izin usaha simpan pinjamnya tidak bikin. Ketika berpindah atau membukan kantor cabang juga tidak mengurus izin. Melalui Puskopdit dia berpesan, agar semua primer taat terhadap peraturan perundang-undangan. Dengan perizinan yang benar, berarti mengurangi potensi konflik di lapangan. Pernah ada kejadian, salah satu CU membuka cabang tidak memiliki izin didemo ramai-ramai. (mar)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment