Ika Tri Wilujeng : Memberdayakan Perempuan Dengan Bir Pletok

Namanya bir. Namun tidak seperti bir pada umumnya, memabukkan karena mengandung alkohol. Karena jenis bir yang satu ini tidak sedikit pun mengandung alkohol. Di beberapa daerah ada bir lokal yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Di Jakarta ada bir lokal khas Betawi, namanya Bir Pletok. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ada juga bir lokal, namanya Bir Jawa. Continue reading

Posted in Kiat Sukses | Tagged | Leave a comment

Agung Sudjatmoko : 5 Sehat Koppas Kranggan Harus Dipertahankan

Koperasi Pedagang Pasar Kranggan (Koppas Kranggan) tumbuh dan terus berkembang maju dan besar karena pendekatan sosial dan budaya. Sosiokultur yang ada di Kranggan sangat berbeda dengan sosiokultur yang ada di daerah lain. “Dengan di daerah Jagasampurna, tidak jauh dari Kranggan saja sudah berbeda,” tutur Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Pusat, Agung Sudjatmoko, saat bedah buku berjudul; Membangun Ekonomi Rakyat Melalui Koperasi, yang ditulis wartawan Majalah UKM, D. Marjono, sebelum acara Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koppas Kranggan tahun buku 2017 yang dilaksanakan pada 27 Januari 2018, di Kantor Pusat Koppas Kranggan.

Di Koppas Kranggan, lanjutnya, anggota bisa menabung di rumah karyawan atau pengurus. Itu dulu, ketika Koppas Kranggan masih berkantor di salah satu pojok pasar. Menabung pun bisa malam hari, atau hari-harilibur, karena pasar tidak pernah libur kecuali Lebaran. Selama anggota punya uang, daripada uang itu disimpan di rumah lebih baik datang saja ke pengurus atau manajemen, ditabung.Dan itu diterima. Sekarang, Koppas Kranggan sudah menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia dan meraih predikat koperasi berprestasi nasional. Walau manajemennya sudah modern pelayanan kekeluargaan tetap dipertahankan. AnimImamudin, S.E., M.M. sebagai Ketua Umum Koppas Kranggan, misalnya, tetap preventif untuk melayani anggota di hari-hari besar, seperti libur Lebaran. Kalau ada anggota dalam kondisi darurat butuh uang untuk biaya rumah sakit, bisa dilayani.

Pendekatan sosiokultural, lanjut Agung, ada nilai-nilai penting yang dilayani Koppas Kranggan terhadap anggotanya. Pertama, pengurus dan manajemen dalam membangun Koppas Kranggan dengan sepenuh hati. Segala sesuatu jika dilakukan dengan keikhlasan, dan sepenuh hati pasti berhasil. Kedua, adanya nilai kekeluargaan,  kebersamaan, ditambah dengan nilai kejujuran, koperasi itu pasti berhasil. “Coba kalau datang ke rumah pengurus atau manajemen menabung pas hari Sabtu malam, masih ada satu hari, Mingu, sebelum dibawa ke kantor, dikuntit sedikit tidak ketahuan. Jika pengurus dan manajemen tidak punya hati keikhlasan dan kejujuran pasti uang tabungan anggota itu akan berkurang. Ternyata, hal itu tidak terjadi,”  kata Agung.

Kejujuran dan keikhlasan itu sama dengan nilai-nilai koperasi. Menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, kejujuran dan tanggung jawab bersama, adalah nilai-nilai dasar koperasi. “Jadi, membangun Koppas Kranggan seperti yang terurai dalam buku ‘Membangun Ekonomi Rakyat Melalui Koperasi’ ditambah dengan teori dan nilai-nilai atau prinsip koperasi sudah klop – sudah benar. Dan buku tersebut bukan buku untuk pencitraan, melainkan otobiografi organisasi Koppas Kranggan, plus pejuang-pejuang Koppas Kranggan,” tegasnya.

Dalam buku itu juga menyoroti; tidak mungkin anggota bisa sejahtera, tidak mungkin Koppas Kranggan bisa berkembang dan maju sampai mempunyai aset di atas Rp100 miliar, jika tidak ada usaha yang dikembangkan. Membangun ekonomi itu jauh lebih penting. Agung sangat mengapresiasi anggota yang menyimpan uang Rp100 juta,  transaksi bisnisnya sampai Rp1 miliar lebih, dan  akhirnya mendapatkan pembagian sisa hasil usaha (SHU) Rp60 juta. “Memang betul, SHU-nya 60% dari simpanan, tetapi tidak semua orang bisa melakukan hal seperti itu. Apa yang dilakukan anggota tersebut harus menjadi inspirasi anggota yang lain,” tegasnya.

Membangun keberdayaan ekonomi masyarakat – anggota, kata dia, harus ditunjang dengan manfaat ekonomi. Sebab, lahirnya koperasi karena kebutuhan ekonomi. Dalam perspektif teori dasar definisi koperasi secara umum bahwa koperasi mempunyai dua sisi; satu sisi sebagai organisasi sosial, karena koperasi merupakan kumpulan orang yang mempunyai kepentingan sama di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Di sisi lain, koperasi juga merupakan sebuah perusahaan untuk memenuhi kebutuhan anggotanya dalam perspektif ekonomi, sosial, dan budaya.

Yang ketiga; harapan, keinginan dan upaya untuk bisa membangun kekuatan ekonomi bersama. Keberhasilan koperasi sangat tergantung anggotanya. Anggota yang bukan hanya diam sebagai anggota, tetapi anggota yang aktif berpartisipasi. Kalau jumlah anggota penuh ada 400-an, sedangkan calon anggota 30.000 orang lebih, berarti partisipasinya sudah lebih tinggi dibandingkan koperasi lain. Mereka bukan hanya partisipasi pinjam uang, tetapi partisipasi modal juga menjadi penting.

Menurut para tokoh koperasi seperti Prof. Dawam Rahardjo, Prof. Thobi Mutis, dan Ibnoe Soedjono, partisipasi itu ada dua jenis, yaitu partisipasi organisasi dan partisipasi usaha. Di dalam koperasi ada dua fungsi anggota. Pertama, sebagai pemilik, dan kedua sebagai pengguna – pelanggan koperasi harus lebih banyak menyimpan sekaligus banyak memimjam. Jangan kebalik, atau tidak seimbang. Kalau anggota punya uang di bawah Rp10 juta, pesan Agung, jangan disimpan di bank. Sebab hanya mendapatkan kemudahan, setiap saat bisa ambil uang di ATM.

Tabungan itu tidak akan mendapatkan nilai tambah. Bahkan akan habis untuk biaya adminstrasi yang dibebankan oleh bank. Biaya administrasi Rp10.000 per bulan, ditambah biaya ATM Rp1.000 per transaksi. Karena itu, kalau uangnya di bawah Rp10 juta, tabung saja di koperasi pasti lebih menguntungkan dibandingkan ditabung di bank. Kedua, partisipasi organisasi, lebih pada anggota sebagai pemilik dengan aktif mengikuti rapat anggota yang diselenggarakan lembaga.

Partisipasi bisa dibangun jika koperasi melaksanakan pendidikan secara holistik. Bukan hanya pendidikan mensosialisasikan bagaimana berkoperasi secara benar, tetapi pendidikan yang mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan anggota untuk berusaha. Pendidikan pengelolaan usaha menjadi lebih baik, manajerial tentang permodalan, produksi, pemasaran dan sebagainya. Pendidikan silahturahmi dengan banyak orang. Karena lebih banyak bersilahturahmi akan memperluas sumber rezeki.

Pendidikan bukan setiap waktu, sebulan sekali atau setahun sekali, di ruang kelas. Komunikasi ketua umum dan jajaran pengurus datang ke lokasi, sentra-sentra kelompok anggota juga proses pendidikan. Karena pendidikan sejatinya adalah komunikasi dua pihak untuk saling memberdayakan dan saling memberi informasi. Jika tidak ada komunikasi yang intensif di antara pengurus dengan anggota, koperasi tidak akan cepat berkembang dan maju.

Mempersiapkan regenerasi pengurus dari kalangan muda potensial dan membangun sistem manajerial yang baik, upaya menjaga keberlanjutan koperasi. Siapa pun yang akan menggantikan pada saatnya nanti sistem di Koppas Kranggan akan dapat berjalan dengan normal. Sebagai pimpinan Dekopin Pusat, Agung memberikan apresiasi luar biasa kepada seluruh jajaran Koppas Kranggan, karena dengan tekun dan penuh semangat bersama-sama membangun Koppas Kranggan yang akhirnya menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia dan berprestasi nasional. Secara subjektif, Agung juga mengatakan bahwa Koppas Kranggan mampu meraih 5 S yaitu; Sehat organisasi, Sehat Usaha, Sehat Modal, Sehat Manajemen, dan Sehat Anggotanya. “Lima sehat itu perlu dipertahankan agar Koppas Kranggan tetap berkelanjutan,” tegasnya. (my)

Posted in Opini | Tagged | Leave a comment

‘Dosa-dosa’ Baik Jokowi

Bagi sebagian besar rakyat Indonesia menilai Ir. Joko Widodo (Jokowi) adalah Presiden RI ke-7 yang luar biasa. Memimpin dengan hati nurani, mengejar kebenaran yang hakiki demi memajukan negeri yang porak-poranda oleh korupsi. Itu sebabnya kader Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) yang sering “diledek” sebagai petugas partai, untuk kali kedua dipercaya menjadi petugas partai. Continue reading

Posted in Dari Redaksi | Tagged | Leave a comment

Kondisi Bisnis di Tahun Politik 2018 Pedagang Kecil Semakin Sulit

Para ekonom dan lembaga internasional memprediksi ekonomi Indonesia bakal membaik pada 2018. Apalagi, ada pesta politik: Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 171 daerah. Namun, pertumbuhan ekonomikemungkinan tidak akan setinggi target pemerintah yaitu 5,4%.Ekonomi berpotensi tumbuh sedikit lebih tinggi dari tahun 2017,penyebabnya, konsumsi rumah tangga membaik di tahun politik.Karena adaPilkada serentak, pasti dana daerah bergerak.

Namun, masih ada risiko ekonomi dari sisi belanja negara lantaran penerimaan pajak yang seret. Belanja pemerintah daerah (pemda) juga kemungkinan tidak akan ekspansif. Kepala daerah –incumbent yang maju ikut Pilkada, sekarang takut tanda tangan (proyek), karena takut tidak terpilih lagi. Di sisi lain, bila kepala daerah yang terpilih adalah orang baru, butuh waktu tiga bulan untuk belajar pemerintahan sehingga realisasi belanja daerah akan tersendat.Ekonom Bank PermataJosua Pardede lebih optimistis,  memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2% -5,3% di 2018. Penyokongnya, kenaikan konsumsi masyarakat sebagai efek positif dari Pilkada dan imbas program padat karya yang dilaksanakan pemerintah.

Meskipun investor asing menurun, diprediksikan lebih memilih wait and see – menunggu hingga pilkada selesai, tetapi investor dari dalam negeri diperkirakan akan melonjak. Belanja negara diperkirakan akan meningkat,karena Indonesia menjadi tuan rumah perhelatanAsian Games 2018 dan International Monitory Fund (IMF) 2018. Dua peristiwa besar; Pilkada dan Asian Games menjadi momentum positif bagi pertumbuhan ekonomi, karena akanmendorong peningkatan konsumsi.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan, di tahun 2018 para pengusaha akan lebih waspada dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Hal itu lantaran171 Pilkada itusekaligus menjadi pemanasan jelang Pilpres 2019.Buat para pengusaha, tahun politik harus diwaspadai. Artinya, pasti ada rasa was-was, kehati-hatian siapa nantui yang akan memimpin. Kewaspadaan yang dilakoni pengusaha dalam arti tetap menjalankan kegiatan usahanya seperti biasa, namun dilakukan dengan lebih hati-hati.

Namun Kadin juga memperkirakan, ada sektor tertentu yang akan tumbuh cukup signifikan didorong oleh kondisi tahun politik. Misalnya, orang kampanye butuh banner, tempat logistik, dan minuman pasti laku. Jualan nasi padang, Warteg pun jalan. Sejumlah lini indikator tingkat pertumbuhan ekonomi akan meningkat, salah satunya konsumsi masyarakat. Namun diberharapkan, yang meningkat bukan hanya dari sektor konsumsi, melainkan juga dari segi investasi serta ekspor.

Sekretaris Jenderal Ikatan Sasrjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Aviliani,  mengatakan; bisnis telekumunikasi, infrastruktur, farmasi, dan bisnis food and beverage(FnB) makanan dan minuman akan makin bagus di tahun 2018. Investasi di bidang infrastruktur masih banyak karena merupakan program pemerintah. Perusahaan memang cenderung wait and see – menunggu arah kebijakan pemerintah. Meski begitu, investasi infrastruktur dari kalangan swasta tetap akan terjadi.

Farmasi tumbuh karena adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Kebutuhan masyarakat akan jasa telekomunikasi juga sangat tinggi, karena banyak aktivitas yang bisa dilakukan melalui genggaman tangan. Oleh karenanya  transportasionline dan e-commerce tidak bisa dibendung.Namun perpindahan belanja dari konvensional ke online belum banyak karena baru sekitar 2%. Perpindahan pola belanja akan signisfikan pada 10 tahun mendatang. Tutupnya sejumlah toko ritel di kota-kita besar karena pelaku bisnis ritel melihat prospek di daerah lebih menjanjikan dan masyarakatnya lebih suka datang ke toko.

Pariwisata memiliki turunan usaha cukup besar yang mampu membantu mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk bisnis makanan dan minuman.Memang, perpindahan konsumsi nonleasure ke leasure belum cukup signigfikan. Namun pengembangan industri pariwisata harus terus dilakukan karena merupakan industri yang cukup menjanjikan di masa depan. Jangan lupa, ada dana desa yang bisa digunakan untuk mengembangkan ekonomi daerah berbasis alam dan pangan.

Kepala daerah harus menjadi leader.Jika tidak, masyarakat tidak naik kelas dan perekonomian tidak akan tumbuh. Dana desa bisa langsung menyentuh masyarakat rentan miskin dan miskin yang jumlahnya 100-an juta jiwa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pembentukan BUMDes tidak harus dilakukan per desa, tetapi bisa beberapa desa berkumpul menjadi satu seperti koperasi, agar badan usaha itu lebih besar dan lebih efektif, sehingga memberi manfaat yang signifikan.

Karena daya beli masyarakat bawah -rakyat kecil tahun 2017 menurun, sangat rendah, akhirnya berdampak langsungterhadap sektor koperasi. Menurut Ketua Umum Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Jaya, H Sugiharto, hal itu sangat dirasakan anggota KSU Tunas Jaya yang hampir 100% punya kegiatan usaha mikro kecil (UMK) seperti; pedagang pakaian, pedagang mainan anak-anak, pedagang bakso, warung nasi, tukang gado-gado, pedagang mie tek-tek, dan sebagainya, sedangkan yang usaha menengahnya hanya 1 – 2, sedikit sekali. “Akibat daya beli masyarakat rendah, pengembangan usaha mereka juga statis. Kondisi umum itu sangat mempengaruhi,” jelas H Sugiharto, pendiri KSU Tunas Jaya, yang masih tetap dipercaya oleh anggota untuk memimpin koperasi yang didirikan pada tahun 1977, dimulai dari kelompok arisan warga RW 07, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Keluhan anggota semakin banyak.Gambaran yang jelas ada saja, misalnya, warung kecil yang biasa jualan makanan, karena anak-anak tidak mendapatkan uang jajan yang sama seperti dalam kondisi baik, akhirnya mereka tidak bisa jajan. Mulai dari pedagang es warungan,sampai pedagang di lingkungan kantin sekolah; SD – SMP – SMA/SMK, mengeluh karena harga barang-barang naik. Pada dasarnya harga jualan; es, bakso, tahu, tempe tidak naik. Caranya, porsi diperkecil. Contoh, bakso, mie ayam, mie pangsit (pedagang keliling) semangkok harganya kisaran Rp 7000,- – Rp 8000,-  yang mangkal, antara Rp 10000,- Rp 15000,- Kalau biasanya 1 Kg jadi 10 porsi, kemudian dijadikan 12 porsi. Jumlahnya diperbanyak – ukurannya diperkecil, tetapi harga tidak dinaikan.Penurunan omzet, termasuk yang jualan di pasar-pasar tradisional sampai 50% dari biasanya.

Setiap ada Pilkada atau pemilihan umum (Pemilu) pada saat kampanye dalam kurun waktu 5 – 6 bulan, pengaruhnya cukup besar. Yang paling terkena imbasnya, para pedagang kaki lima di pinggir-pinggir jalan atau pedagang bergerak, seperti tukang bakso, atau mie ayam keliling. Dari 1000-an anggota KSU Tunas Jaya yang paling banyak jualan di Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Jatinegara, dan Pasar Benhil.Mereka yang selama ini jualan di Blok F Pasar Tanah Abang, sekarang sangat sepi.Apalagi setelah “Pasar Tasik” – penjual bordiran dan konveksi Tasikmalaya pindah ke Tanah Abang Jatibunder, sebagian pindah ke Jatibaru.

Pedagang “Pasar Tasik” yang mulai berdatangan di Tanah Abang sekitar pukul 02 dini hari, siang hari sudahpulang lagi ke Tasikmalaya, Jawa Barat.Mereka tidak mengelar dagangannya di trotoar jalan, tetapi jualan di mobil. Barang-barang yang dijual mulai dari bordir kelas bawah sampai kelas atas, baju anak-anak, seragam sekolah, pakaian muslim, semua ada. Pedagang “Pasar Tasik” yang buka seminggu dua kali, Selasa – Kamis, pada umumnya sudah punya pelanggan pedagang eceran, sehingga jualannya cepat habis.Kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang sangat “bijaksana” bolehberjualan di trotoar – jalan, biaya mereka menjadi lebih ringan. Sebab, tidak dibebani sewa kios dan bayar listrik, tetapi hanya bayar retrebusi kebersihan dan keamanan yang dikutif oleh petugas liar – preman.

Karena di sana-sini pangsa pasarnya terganggu, KSU Tunas Jaya tidak bisa mengembangkan keanggotaan.Para anggota juga sulit pengembangkan usahanya.Bahkan ada anggota yang brantakan harus pindah mencari lokasi baru, tetapi tidak dapat tempat. Belum lagi yang terkena penertiban, terpaksa harus kucing-kucingan dengan  Satpol PP. Dagang kucing-kucingan, lakunya tidak seberapa. “Yang dagang menetap, seperti adik saya sewa kios di Pasar Tanah Abang Rp 40 juta setahun, jualan setahunincome – pendapatan bersihnya untuk sewa tidak ketemu, karena sepinya pengunjung,” urai Sugiharto. Jalanan macet, dan sulit mencari tempat parkir, lanjut dia, membuat orang malas ke Pasar Tanah Abang.Bawa mobil sendiri ke Tanah Abang, sengsara.Susah mencari tempat pakir, bayarnya pun mahal Rp 20.000,-“Kalau dikasih Rp 10.000,- tukang parkir tidak mau,” jelasnya.

Sugiharto mengaku, walau sulit melakukan pengembangan koperasi, namun upaya menambah wilayah operasi untuk mendapatkan anggota baru tetap dilakukan.Sasaran rekrutmen anggota baru prioritas tetap dari kalangan pedang. Khususnya pedagang yang berjualan di pasar-pasar tradisional, seperti; Pasar Tanah Abang, Pasar Jatinegara, Pasar Senen, Pasar Baru, dan Pasar Benhil. Konsep pengembangannya, anggota mencari anggota baru.Dan setahun terakhir, karena ada beberapa anggota yang pindah jualan ke Tamrin City, Tunas Jaya pun mulai melirik para pedagang di Tamrin City, salah satu pusat perpelanjaan bergengsi, dan murah meriah di jantung Kota Jakarta.

Para pedagang kurma yang dulu berjejer menggelar lapak dagangan di trotoar Jln KH Mansyur, oleh Pemprov DKI Jakarta dipindahkan ke Tamrin City. Tetapi mereka sepertinya tidak enjoy, lantaran pembelinya tidak sebanyak waktu jualan di pinggir jalan.Pembeli yang hanya mau beli sedikit, 3 Kg – 5 Kg carinya yang praktis, di pinggir jalan.Kalau belinya banyak, seperti untuk oleh-oleh dari tanah suci (umrah – haji) mereka cari di Tamrin City. “Banyak anggota KSU Tunas Jaya yang mendapat kios di Tamrin  City. Sewanya memang murah, tetapi pembelinya juga sepi,” jelas Sugiharto.

KSU Tunas Jaya, kata Sugiharto, disamping punya usaha toko kelontong untuk melayani kebutuhan sembako anggota dan masyarakat sekitar, juga punya unit simpan pinjam. Ketika usaha anggota sedang sepi – munurun, alih-alih mereka menabung, pengembalian pinjaman pun sering bermasalah, tidak tertib.“Pedagang kaki lima setengah permanen – mereka yang dapat tempat, sekarang omzetnya juga turun jauh,” jelas Sugiharto. Dan itu, lanjutnya, bukan hanya dialami KSU Tunas Jaya, melainkan juga dialami oleh koperasi-koperasi lain.

Pada dasarnya,usaha mikro kecil seperti warung kelontong transaksinya hanya untuk kebutuhan konsumsi, tidak terlalu terpengaruh oleh tahun politik.Kecuali saat ingar-bingar kampanye Pilkada dan Pemilu yang hanya 1 – 2 bulan dan Jakarta Fair.Di luar masa kampanye dan Jakarta Fair, jika daya beli masyarakat bagus, usaha pun berjalan lancar.“Entah kenapa, sejak zaman dahulu selama Jakarta Fair 1 bulan, usaha warung-warung di kampung terdampak, sehingga penghasilan mereka menurun.Padahal, Jakarta Fair itu tempatnya jauh, di Kemayoran, tetapi faktanya warung-warung  di Pejompongan atau wilayah lain juga sepi,” tegas Sugiharto.

Selama 40 tahun mengelola KSU Tunas Jaya, banyak suka duka yang dialami Sugiharto.Siklus yang dialami, itu-itu saja.Misalnya, waktu puasa, karena konsumsi masyarakat naik, warung anggota laris.Sebagai insan koperasi yang ingin sejahtera bersama, ketika koperasi mengalami kesulitan, semua diajak – dilibatkan untuk mengatasi kesulitan secara bersama-sama.Kebersamaan yang masih tetap eksis adalah arisan rutin anggota yang diadakan setiap bulan, minggu pertama.

Pada saat arisan, berbagai informasi dan peneguhan berkoperasi disampaikan.Juga diisi tausiah, diselipkan pula pesan-pesan bagaimana berbisnis yang baik dan jujur.Kegiatan arisan yang melahirkan KSU Tunas Jaya tahun 1977, dan hingga saat ini masih rutin dilaksanakan setiap bulan, dihadiri ratusan anggota, inilah istimewanyaKSU Tunas Jaya.Konsistensi itulah yang membuat KSU Tunas Jaya tetap jaya. (mar)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

KKGJ Akan Terus BerinovasiMengembangkan Usaha

Sebuah koperasi besar sekelas Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KGGJ), sangatlah pantas jikasistem dan mekanisme organisasi telah terstruktur dengan baik.Rapat Anggota Khusus (RAK) untuk membahas dan mengesahkan; rencana anggaran pendapatan, belanja dan program kerja (RAPBK) untuk tahun buku berikutnya, misalnya, telah menjadi tradisi organisasi yang dilaksanakan sebelum tahun buku berjalan. Continue reading

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Optimalkan Peran Perempuan dalam Perekonomian

Indonesia memiliki potensi pertumbuhan pesat ekonomi, tetapi belum digerakkan secara optimum, yaitu partisipasi perempuan di dunia kerja.

“Pada 2012, konsultan internasional McKinsey Global Institute memprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketujuh dunia pada 2030. Sementara Pricewaterhouse Coopers memprediksi Indonesia berada pada posisi keempat pada tahun 2050. Posisi tersebut dicapai antara lain karena Indonesia memasuki periode bonus demografi sejak 2015 dan puncaknya pada 2020-2040. Namun, ada catatan dari prediksi tersebut. Indonesia, termasuk Jakarta sebagai Ibu Kota Negara, harus bisa mendayagunakan separuh warga negaranya, yaitu perempuan dalam perekonomian,” papar Wakomtap KADIN  Indonesia Bidang Usaha Kecil Menengah (UKM) Yuke Yurike, S.T., M.M. Continue reading

Posted in Opini | Tagged | Leave a comment

Ketika Kita Setia dengan Si Kecil

Ny Th Tin Sunardi 

Koperasi Simpan Pinjam  Credit Union (KSP CU) Dharma Bakti adalah salah satu koperasi yang jika dilihat dari aset dan jumlah anggotanya cukup besar di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogyakarta (DIY).Di Sleman ada 629 koperasi berbadan hukum, namun yang menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tidak lebih dari 50%.Dan KSP CU Dharma Bakti termasuk salah satu koperasi yang selalu menyelenggarakan RAT tepat waktu.Untuk tahun buku 2017, misalnya, KSP CU Dharma Bakti menyelenggarakan RAT di awal tahun, tepatnya tanggal 13 Januari 2018.Ukuran dari perkembangan koperasi yang sehat adalah perkembangan aset meningkat, jumlah anggota meningkat, dan SHU juga meningkat. Continue reading

Posted in Cerita Sampul | Tagged | Leave a comment

Membangun Kemitraan Usaha

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kemitraan dapat diartikan sebagai perihal hubungan – jalinan kerja sama dan sebagainya sebagai mitra. Menurut Undang-Undang (UU) No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Pasal 8 ayat 1 yang berbunyi; “Kemitraan adalah kerja sama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan usaha oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan ”. Continue reading

Posted in Opini | Tagged | Leave a comment

Mengembangkan Wisata Religi Berbasis Masjid

Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12. Namun sebenarnya Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Ummayyah di Asia Barat sejak abad 7. Datangnya Islam ke Nusantara membawa warna budaya tersendiri, termasuk arsitektur bangunan. Sebagai tempat beribadah kaum muslim, masjid di Indonesia memiliki corak yang beragam, tergantung daerah dibangun dan pendirinya. Continue reading

Posted in Layar Budaya, Umum | Tagged | Leave a comment

Membangun Koperasi Besar, Sehat, dan Prima

Dari filosofinya, koperasi dibangun atas kesamaan niat dan minat oleh orang seorang yang memilki satu kepentingan – satu tujuan untuk bekerja bersama guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial. Koperasi didirikan dan dikembangkan dengan azas kekeluargaan, yang mengikat pada nilai percaya diri, saling membantu – setiakawan, keadilan, persamaan, dan demokrasi. Koperasi didirikan, dimodali, dibiayai, diatur, dan diawasi serta dimanfaatkan sendiri oleh anggotanya. Continue reading

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment