Menatap Tantangan Ekonomi Pemerintahan Baru

Peristiwa pesta demokrasi – pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) yang meliputi; Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi, DPRD Kota – Kabupaten yang dilaksanakan serentak pada 17 April 2019, adalah mandat konstitusi. Continue reading

Posted in Opini | Tagged | Leave a comment

Posisi Utang Luar Negeri Indonesia : Jangankan di 10 Besar Dunia, 100 Besar Saja Tidak!

Dalam suatu diskusi ekonomi, baik melalui siaran televisi, di warung-warung kopi  bertepatan dengan hiruk-pikuk kampanye pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (Pileg) kita sering mendengar sekelompok orang, terutama dari kelompok yang beroposisi dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Jusuf Kalla (JK) menyuarakan bahwa ekonomi Indonesia semakin sulit. Bahkan kata mereka, Indonesia berada di ujung kebrangkrutan. Continue reading

Posted in Opini | Tagged | Leave a comment

KPPD DKI Menjadi “Kampus Praktik” Mahasiswa IKOPIN

Berbagai program berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta, sejak H. Hasanuddin B.Sy., S.H. dipercaya oleh anggota menjadi ketua pengurus (2006) telah membuahkan hasil luar biasa. Dahulu koperasi itu pernah mengalami masa-masa prihatin. Namun kini telah menjelma menjadi koperasi besar, sehat, prima, dan modern, menggunakan teknologi terkini. Continue reading

Posted in Cerita Sampul | Tagged | Leave a comment

Menyoal Defisit Neraca Perdagangan

Dalam berbagai kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres), dan Pemilihan Legislatif (Pileg) masalah ekonomi menjadi tema sentral kampanye yang diusung para calon sampai pedagang kaki lima dan pasar tradisional di seluruh pelosok Nusantara. Yang ingin berkuasa beretorika menjanjikan ekonomi lebih baik, harga-harga murah, dan rakyat makmur. Continue reading

Posted in Dari Redaksi | Tagged | Leave a comment

Persediaan Ikan Warga Jakarta Tercukupi

Hal itu dikemukakan kepada UKM usai rapat dengar pendapat dengan Komisi B DPRD DKI Jakarta baru-baru ini. Menurut Mahat dan Hasan Syamsuddin, produksi ikan di Pelabuhan Nusantara Muara Angke tahun ini ada sedikit peningkatan dibanding menjelang Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah yang lalu. Yakni berada pada kisaran 1.835.10380 kg dengan nilai Rp 950 miliar lebih. Cold storage mencapai 1,1 ton dengan nilai lebih dari Rp 36 miliar, Pasar Ikan kurang lebih 6,5 ton dengan nilai sedkitar Rp 13 miliar. Jumlah seluruhnya hampir mencapai 10 ton.

Jumlah itu menunjukkan adanya kenaikan cukup signifikan dibanding periode sebelumnya. Kini terus berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen dan kulaitas ikan agar tetap fresh. Dengan naiknya produksi ikan di Pelabuhan Muara Angke, otomatis bissa mendongkrak kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) DKI Jakarta dari sektor perikanan.
Selain meningkatkan kualtas pelayanan masyarakat, meningkatkan kualitas kinerja aparat, meningkatkan kualitas produk dan pengelolaan Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke. Di samping menjadikan Pelabuhan Muara Angke sebagai Pusat Pelelengan Ikan, juga mengembangkan sebagai kawasan wisata bahari dan pusat jajan serba ikan (Pujaseri).
“Kami bukan hanya mengemban tugas sesuai Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintah Daerah untuk melakukan pelelangan ikan, sekaligus merealisasikan Peraturan Daerah (Perda) tentang Destinasi Wisata Pesisir Utara Jakarta,” tambah Mahat. Hasan Syamsuddin mengemukakan, pembangunan sarana dan prasarana sedang berjalan. Diharapkan 2019 pembangunannya selesai dan segera dioperasikan. Jika target 2018 belum terpenuhi, tahun 2019 sarana dan prasarana sudah dapat dioperasikan secara maksimal.
Pelabuhan Perikanan Nasional Muara Angke banyak potensi, dan saat ini dalam pengembangan guna menunjang perekonomian rakyat, khususnya ekonomi nelayan. Karena itu pengembangan Pelabuhan Perikanan Muara Angke bukan hanya dimasukkan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2017-2022, tetapi Pemprov DKI Jakarta telah membuat rencana induk sebagai pedoman pengembangan pelabuhan yang pembangunanya dimulai 2019 ini.

DPRD Provinsi DKI Jakarta juga telah membentuk Panitia Khusus (Pansus) Muara Angke untuk menata pelabuhan menjadi dua wilayah. Yakni pelabuhan ikan Samudera yang lebih modern dan bertaraf international. Pelabuhan baru akan dikelola Kementerian Perhubungan. Selain menjadi Tempat Pelelengan Ikan (TPI), Pelabuhan Muara Angke juga diharapkan menjadi pelabuhan pengumpan, tujuan wisata yang modern dan nyaman, serta mampu mengakomodir penumpang dari Kepulauan Seribu. Karena pelabuhan ini satu-satunya milik Pemprov DKI Jakarta, harus terintegrasi dengan transportasi massal seperti Transjakarta, MRT dan LRT.

Terkait kondisi lingkungan, pencemaran dan jumlah toksik di Teluk Jakarta sebagai bermuaranya 13 sungai, setiap tahun meningkat tajam. Akibatnya ikan hasil tangkapan di Teluk Jakarta dinilai tidak sehat untuk dikonsumsi. Hal itu diungkapkan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Etty Riani. Teluk Jakarta bukan hanya mendapat bahan pencemar dari darat yang masuk mellaui sungai, tetapi juga dari kegiatan di perairan berkontribusi tinggi terhadap pencemaran.

Kegiatan pelabuhan menyumbang bahan pencemar toksik (zat yang bisa menyebabkan fungsi tubuh menjadi tidak normal) dan non-toksik yang jumlahnya sangat banyak. Menurut Etty, akumulasai logam berat dalam sedimen dan biota, khususnya kerang hijau, meningkat sangat tajam. Logam berat bisa masuk ke dalam ikan melalui permukaan tubuhnya. Kemudian sel chlorid pada insang atau melalui proses makan (biomagnifikasi) kemudian terakumulasi dalam organ tubuh, dan bersifat irreversible – tak bisa dilepas.

Akumulasi logam berat dan kerusakan organ yang lebih parah terjadi pada ikan barakuda, pepetek, sokang, beloso, dan kerang hijau. Bahan-bahan toksik itu juga telah mengakaibatkan terjadinya kecacatan pada sironomid di Waduk Saguling, di Jawa Barat. Akaibatkannya ikan tak aman dikonsumsi secara bebas. Mengonsumsi ikan dari Teluk Jakarta berpotensi terkena kanker dan penyakit degeneratif non-kanker.

Perilaku manusia sering mengakibatkan perubahan drastis pada lingkungan. Apalagi di wilayah DKI Jakarta dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Karena itu, perlu pengelolaan lingkungan agar bisa memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif. Opsinya, perlu pengelolaan terpadau antara sungai, pesisir dan laut sebagai kesatuan, Integreted River Basin, Coastaal and Ocean Management. Mahat dan Hasan Syamsuddin mengakui bahwa kondisi Teluk Jakarta memang tercemar.

Ketua Forum Komunikasi Ikan Muara Angke, Diding Setiawan menyatakan hal yang sama. Pencemaran di Teluk Jakarta tak lepas dari limbah pabrik di darat. “Kami tak bisa berbuat banyak. Sebab, banyak nelayan yang enggan alih profesi. Ikan-ikan yang sudah terkontaminasi limbah tetap dijual nelayan. Tetapi sebenarnya, sebagian ikan-ikan hasil tangkapan di Teluk Jakarta masih layak konsumsi, tidak semuanya tercemar” kata Mahat.
Kepala Suku Dinas (Kasudin) Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi DKI Jakarta, Rita Nirmala ketika dikonfirmasi mengakui, sejak lama kawasan Teluk Jakarta tercemar. Sifat ikan yang mobile, membuatnya rentan dari pencemaran lingkungan. Profesi yang dijalani nelayan berpuluh-puluh tahun membuat mereka enggan alih profesi.

Anehnya, usai menangkap ikan, mereka juga enggan makan ikan hasil tangkapannya, tapi menjualnya ke orang lain. Mungkin, mereka menyadari tingkat pencemaran sudah berada di atas ambang batas. Untuk mengatasi pencemaran, tindakan tegas harus dilakukan kepada pabrik yang membuang limbah – sampahnya ke kali yang akhirnya sampai Teluk Jakarta. (sutarwadi k.)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Sustainable Fesyen Produk Sandang Ramah Lingkungan

Besarnya kebutuhan manusia terhadap produk sandang, membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebab, fesyen menumbuhkan industri garmen – pakaian jadi, alas kaki, tekstil aksesori, perhiasan dan sebagainya.

“Clean Clothes Campaign, aliansi terbesar industri garmen dari serikat buruh dan organisasi non pemerintah mencatat, akhir tahun 2017 lebih dari 125 juta pekerja di seluruh dunia terserap di sektor industri tekstil, pakaian jadi dan alas kaki,” tutur Ir. Endah Setiawati S. Pardjoko, S.H., Pengurus Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jakarta Selatan kepada UKM di ruang kerjanya.

Endah menambahkan, pasar produk pakaian jadi di seluruh dunia bernilai lebih dari US$ 2,7 triliun, ekspornya mencapai lebih dari US$ 450 miliar dan total nilai industri fesyen mencapai lebih dari US$ 55,7 triliun. Pesatnya pertumbuhan industri fesyen membawa segudang dampak positif bagi perekonomian. Namun juga kerap memantik perdebatan adanya efek negatif dari industri fesyen terhadap lingkungan.

Pakaian yang kita kenakan sehari-hari bisa berasal dari bahan – cara pembuatan yang merusak habitat. Misalnya, penggunaan pestisida yang digunakan untuk melawan hama pada tanaman penghasil bahan tekstil. “Laporan dari organisasi non-profit Earth Pledge menyebutkan, setidaknya ada 8.000 jenis bahan kimia yang digunakan untuk mengolah bahan mentah menjadi tekstil. Dan 25 % pestisida dunia digunakan untuk menumbuhkan tanaman kapas nonorganik,” kata Endah.

Terungkapnya fakta-fakta pedih di balik gemerlap industri fesyen menimbulkan desakan untuk membuat industri itu lebih “beretika”. Dari sana lahir konsep sustainable fashion – fesyen berkelanjutan yang diklaim ramah lingkungan dan sosial. Seiring gencarnya kampanye sustainable fashion, para perancang mode dari berbagai belahan dunia, tak terkecuali dari Indonesia, mulai berlomba-lomba menawarkan produk fesyen yang berbasis ramah lingkungan dari segi metode pembuatan.

Dari beberapa desainer, antara lain Stella McCartney, Ryan Jude Novelline, dan Lucy Tammam. Selain itu, bermunculan pula label-label fesyen eco-friendly seperrti Amour Vert, Heavy Eco, Geeration Pasifique dan sebagainya. Beberapa hal yang harus dipertimbanagkan dalam pengembangan fesyen berkelanjutan adalah penggunaan serat alami yang bukan berbasis petrolium untuk membuat kain, kancing, kacamata, dan sebagainya. Juga penggunaan selulosa selain kapas, seperti rami, bambu, jagung, kedelai, nanas, pisang, dan banyak lagi. Lalu, penggunaan protein alami seperi stera, angora, bulu unta, wool, kasmir.
Proses pembuatannya pun memfungsikan bahan-bahan alami, seperti polimer jagung (polyalctic acid/PLA). Proses produksi busana juga dapat dilakukan melalui daur ulang atau pengolahan limbah. Sayangnya, sebagian besar perancang dan label fesyen yang berstatus ‘ramah lingkungan’ itu masih bercokol dari benua biru – Eropa, Kanada dan Amerika Serikat. Bagaimana perkebangan sustainable fashion di Indonesia?
Sejak tahun 2015 pemerintah menargetkan Indonesia mampu menjadi salah satu fashion hub dunia pada 2025. Keinginan itu diharapkan bisa terwujudkan melalui kerja sama dengan para peritel utuk memperkuat produk-produk pakaian jadi dengan merek dagang lokal yang berkualitas.

Indonesia memiliki andalan rayon dan polister. Untuk menjadi fashion hub, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian akan menggali sumber alam yang dapat dijadikan ciri khas Nusantara, seperti rami, sutera, serat pisang, serat nanas, dan pewarna alami. Sejak tahun 2016 pemerintah sudah membuat standar untuk produksi pakaian jadi buatan dalam negeri. Standar yang dimaksud dalam hal ukuran all size, agar dapat bersaing di pasar internasional, dan pas dikenakan orang dari negara mana pun.

Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM), Euis Saidah mengatakan, Indonesia mengawali langkah itu melalui perhelatan Swara Fest di Pantai Nembrala, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) akhir 2015 dengan mengusung tema Road to Indonesia Ethical Fashion. Pemerintah mendorong industri fesyen untuk lebih ramah lingkungan. Langkah awalnya melalui promosi penggunaan bahan pewarna alami khas Indonesia.

Yang digadang-gadang antara lain penggunaan rumput laut untuk warna hijau, nila untuk warna biru, kayu tegeran untuk warna kuning, kayu tinggi untuk warna coklat, dan secang untuk warna merah. Cikal bakal fesyen di Indonesia pada zaman nenek moyang, memang sudah memanfaatkan bahan alami untuk membuat songket atau batik. Karena itu ethical fashion sebenarnya merupakan warisan budaya bangsa bernilai tinggi yang harus dilestarikan dan dikembangkan.

Indonesia punya ciri khas warna sendiri, warna alami. Selain itu ada juga serat alami. Yang menarik acara Swara Fest yang melibatkan 250 orang dalam pembuatan tenun gedongan menggunakan pewarna alam itu berhasil memecahkan rekor MURI. Merdi Sihombing, desainer yang fokus pada pengembangan pewarnaan alami untuk busana mengemukakan, ide ethical fashion memang merupakan hal baru bagi Indonesia. Namun, pemahamannya telah tertanam sejak zaman dahulu. Alam Indonesia sangat menunjang untuk pengembangan industri fesyen ramah lingkungan. Pulau Rote, misalnya, adalah penghasil rumput laut terbesar kedua di Indonesia. Penenun songketnya kebanyakan dari Pulau Ndao.

Berbagai kalangan yang bergerak di bidang industri fesyen berharap, langkah dan upaya untuk membuat industri fesyen lokal lebih beretika tidak berhenti sekadar festival. Ke depan harus semakin banyak label garmen lokal eco-friendly yang mampu go internasional, dan kita bisa menjadi bangsa fahionable yang peduli lingkungan. (sutarwadi k.)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Makmur Berkat Kardus Jamur

Aldi, begitu dia akrab disapa, menyaksikan ayahnya membuang biji durian di sebidang tanah kecil di Lembang. Beberapa waktu kemudian, Aldi sempat kembali ke daerah tersebut. Tak menyangka, Aldi menemukan biji durian yang dulu dibuang begitu saja oleh ayahnya sudah menjadi pohon.

Dari sinilah pikiran Aldi terbuka, dan terus tersangkut pada peristiwa itu. Mengandalkan alam, bisnis tanaman diyakini mendatangkan keuntungan berlimpah. Aldi dan ketiga rekannnya; Annisa Wibi, Adi Reza, dan Robbi Zidna mulai mengembangkan bisnis tanaman, jamur tiram pilihannya. Menurut Aldi, terjun ke bisnis tanaman unik. Wibi, satu-satunya perempuan dalam tim adalah mahasiswi jurusan ekonomi. Namun, dia enggan jadi bankir. Aldi, dan dua rekannya berlatar belakang arsitek, tetapi tak tertarik menjadi hamba developer. Maka mereka berikhtiar membangun usaha unik, budidaya jamur tiram.
Budidaya jamur tiram dipelajari secara otodidak melalui penelitian yang membuat Aldi bak ahli jamur. Jamur tiram, bisa tumbuh subur dengan dua faktor, yaitu; kelembaban udara (humidity) dan asupan air. Dengan meletakkan jamur di dalam sekotak kardus, kelembaban udara dijaga di level 70% – 90%. Untuk menjaga kelembaban jamur harus disemprot air.
Setelah panen, jamur dikemas dalam kemasan yang menarik untuk kemudian dipasarkan. Wibi yang mempelajari bidang ekonomi bertugas mengurus strategi bisnis dan keuangan. Sedangkan ketiga pria berlatar belakang arsitek menggali ide dan peluang usaha tanaman jamur disinergikan dengan dimensi bidang, ruang, dan keindahan layaknya sebuah bangunan arsitektur elegan.

Kolaborasi mereka melahirkan usaha budidaya jamur tiram dalam wadah berbentuk kotak yang disebut Growbox. Menurut Aldi, tanaman jamur mudah dipelihara, tahan lama, dan mengandung keunikan bentuk estetika tersendiri. “Kalau tumbuh di alam bebas, jamur memang tampak tak menarik. Tetapi, kalau dikemas dan dipelihara dalam wadah yang bersih, jamur itu sangat menarik” ujar Aldi yang kini menjabat sebagai CEO Innovation Design Engineering Art and Science (IDEAS).

Berkat inovasi dan keunikan jamur tiram dalam growbox-nya, pada tahun 2013 Aldi sukses sebagai salah satu finalis Shell LiveWire Businees Start-Up Awards. Aldi menjelaskan, sejak awal, produk jamur tiram kemasan menyasar konsumen dari anak-anak sampai orang dewasa. Pelanggan dari kelompok orang tua diharapkan mau merogoh koceknya membeli bibit jamur untuk dibudiayakan. Aldi yakin, dengan desain kemasan yang bagus, anak-anak tertarik.

Ada tiga jenis jamur tiram yang bisa dipilih, yaitu; berwarna putih, merah muda, dan kuning. Jamur warna putih dijual dengan harga Rp 40.000, yang merah muda dan kuning harganya Rp 75.000. Tes pasar ke luar negeri, Singapura pun dilakukan untuk mengetahui seberapa besar respon calon konsumen, khususnya anak-anak. “Responnya sangat positif, mereka menyebut;” flowers is to mainstream” kata Aldi.

Kini, bibit jamur dalam kardus berlabel Growbox itu mampu menghasilkan omzet Rp 25 juta – Rp 40 juta setiap bulan. Capaian itu kata Aldi, belum maksimal jika dibandingkan potensi produksi mencapai 15.000 unit 25.000 unit kardus setiap bulan. “Kami terus berupaya untuk meningkatkan produksi dan penjualannya,” jelas Aldi. Bagi yang tertarik membeli produk Growbox atau sekedar mau melihat-lihat, bisa melalui facebook Growbox. Informasi lain, lewat akun twetter @growboxbdg. (sut)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Batu Akik, Akankah Bersinar Kembali?

Bagi sebagian masyarakat, tahun 2015 merupakan puncak euforia batu akik. Harga batu akik menyeruak logika, tak bisa dibayangkan orang biasa. Namun, seiring lambatnya pertumbuhan ekonomi, masyarakat menahan sikap konsumerisme. Dan pasar batu akik perlahan-lahan surut. Kini, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik. Tahun 2019 diperkirakan tumbuh 5,2%, berada di belakang China yang diperkirakan tumbuh 6,2%, sehingga kilau emas bisnis batu akik Indonesia yang sempat booming akan bersinar kembali, atau akan terus meredup?

Dulu, batu akik identik dengan hal-hal mistis. Bahkan perannya mengubah kelas sosial. Status masyarakat seolah naik kelas lantaran di jari-jemarinya melingkar batu akik yang digandrungi banyak orang. Hal itu yang membuat pasar batu akik bergerak suka-suka, naik turun bak roller coaster. Akibat eksploitasi sumber batu yang berlebihan menyisakan kerusakan alam.

Sejumlah problem pernah didiskusikan di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia (UI) bertajuk: “Batu Permata Asli Indonesia” dengan pembicara dari kalangan akademisi dan kolektor batu akik, Yudhi Soenarto. Dosen Program Studi Sastra Inggris UI itu menguraikan bahwa masyarakat Indonesia masih memandang batu akik dengan cara tradisional. Padahal, batu akik sudah dikenal dan digunakan sebagai perhiasan sejak ratusan – ribuan tahun silam.

Menurut kolektor batu akik dan batu mulia, cara pandang tradisional itu membuat pasar dan kebutuhan batu akik cenderung bersifat semu. Kebutuhan terhadap batu akik dengan mudah diciptakan dan cepat hilang dengan sendirinya. Akhirnya konsumen yang dirugikan. Di negara-negara lain, batu akik – batu mulia sudah dikembangkan menjadi industri yang dapat berkontribusi terhadap pendapatan negara.

Jika dijadikan industri dengan sistem yang terstruktur dan mendapat dukungan dari pemerintah, batu akik dan jenis batuan mulia lain asli Indonesia tidak akan bernasib seperti tanaman Anthurium atau ikan Louhan yang kini anjlok nilai jualnya. Perburuan batu mentah, pemotongan, dan penggosokan yang menjamur dimana-mana 3 tahun lalu merupakan puncak keberhasilan para pedagang sekaligus penanda berakhirnya demam batu akik.

Orang-orang yang latah ikut berdagang batu, padal tidak paham seluk beluk perbatuan, akhirnya menjadi korban karena tak tahu hukum supply and demand dalam dunia bisnis. Eksplorasi pengerukan batu Bacan di Pulau Kasiruta, misalnya, dilakukan sejak belasan tahun lalu oleh perusahaan asing. Begitu pula dengan penambangan batu Kalimaya di Banten. Perusahaan asing sejak lama telah membuat peta potensi batu mulia di berbagai wilayah Indonesia. Tetapi ilmu Gemology yang berkembang di banyak negara, belum dipandang serius di Indonesia. Alhasil, ketika sumber daya batu mulia di Tanah Air dikuasai asing dan produk turunannya dikirim dan dijual kembali ke Indonesia, maka kita yang dirugikan.

Harus diakui bahwa ahli Gemology di Indonesia masih sangat sedikit. Sedangkan negara lain memiliki banyak ahli Gemology. Sehingga, industri batu mulia mereka berkembang begitu pesat. Hal itu dibenarkan Gatot Mochamad Soedrajat, Ketua Komunitas Batu Nusantara dan Tilong Giek Pien, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI yang juga kolektor batu akik. Mereka sependapat seharusnya pemerintah juga lebih berperan dalam kegiatan industri batu mulia. Pemerintah tidak hanya berwacana tentang pengenaan pajak bagi pebisnis batu akik. Menyiapkan kredit permodalan, pendampingan peningkatan kualitas produksi dan mempromosikan hasil produksi adalah kebijakan yang sangat ditunggu para pebisnis batu mulia yang masih sekelas usaha kecil menengah (UKM).
Saat ini Sri Lanka merupakan pemegang merek batu-batuan, terutama produk batu Safir. Dari penjualan ekspor cenderung stabil. Puncaknya, tahun 2008 mencapai US$ 608,41 juta. Di negara itu ada dua lembaga yang berperan besar dalam pembentukan merek Ceylon Sapphires, yakni National Gems and Jewelry Authority (NGJA) yang dibentuk pemerintah dan Ceylon Sapphire Council Limited (CSCL) yang merupakan konsorsium pengusaha-pengusaha besar Safir Sri Lanka. Pembentukan dua lembaga merupakan langkah branding strategy untuk pasar AS, Eropa, Jepang dan negara lain. Lembaga itu mengatur segala hal terkait industri batu safir. Mulai dari izin penambangan, standarditasi produk, hingga perdagangan.

Sementara di Indonesia, masih individualis, hanya mencari keuntungan individu. Tidak ada sistem atau lembaga yang mengatur. Soal penambangan, NGJA memiliki aturana ketat. Terutama bagi penambangan menggunakan mesin. Untuk regulasi impor, Sri Lanka memberikan kemudahan impor bahan baku dengan memberlakukan tarif flat US$ 200.
Selain Sri Lanka, China juga dikenal sebagai penghasil batu mulia. Terutama sejak 1978 setelah kebangkitan ekonomi negara tersebut dan Oktober 2000, Shanghai Diamond Exchange (SDE) dibentuk. Lembaga ini juga mengatur segala hal terkait industri batu mulia. Mulai dari standardisasi produk, tarif impor dan ekspor, hingga pembentukan lembaga riset khusus di bidang Gemology.

Gemological Institute of Amerika telah memberikan pengajaran ilmu Gemology di Beijing sejak 1998. Melalui progarm ini, tercipta 30 lulusan terbaik setiap tahun yang disiapkan khusus untuk pengembangan industri batu mulia China. Gaji para ahli Gemology di China pun tak main-main. Khusus untuk pemotong dan desainer batu mulia mereka bisa mendapatkan penghasilan US$ 150.000 per tahun, atau sekitar Rp 2 miliar per tahun (kurs Rp 13.50 per dollar AS).

Yudhi Soenarto dan beberapa rekannya tengah berupaya mendorong pihak UI agar mengirimkan mahasiswa atau dosen untuk menuntut ilmu Gemology ke negara lain. Diharapkan suatu saat nanti UI bisa menjadi pionir yang memberikan pendidikan khusus di sekitar batu mulia sehingga bisa melahirkan ahli Gemology untuk mendukung pengembangan produk batu akik menjadi industri yang menyumbang devisa bagi negara.
Pasar Rawabening, yang indentik dengan sebutan pasar para pria, saat booming batu akik membuat kemacetan di sepanjang Jl Raya Bekasi Barat dan sekitarnya, kini kelihatan semakin sepi. Karena lokasinya sangat strategis, di depan stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, pengunjung dari ujung barat Pulau Jawa, atau Sumatera maupun dari ujung timur pulau Jawa dan Bali, akan dengan mudah menemukan Pasar Rawabening yang diklaim sebagai pusat pasar batu akik terbesar di Asia Tenggara.

Sejauh mata memandang, hanya tampak beberapa wanita di dalamnya. Perbandingan pengunjung wanita dan laki-laki bisa 1: 100. Artinya, hanya ada seorang wanita dari seratus pengunjung Pasar Rawabening. Pasar ini dikenal sebagai grosir khusus menjual batu mulia dari jenis kalimaya, bacan, rubi, hingga akik. Masing-masing pedagang, menggelar dagangan batu mulia serba gemerlap berwarna-warni.

Namanaya juga pasar, tak jauh berbeda dengan pasar tradisional umumnya, aktivitas di dalam pasar itu terjadi proses jual beli. Hanya saja, tak seramai tiga tahun lalu, ketika pasar batu akik sedang booming. Itu diakui Zulkarnaen dan Edo Jauhari maupun pedagang lainnya. Suasananya memang masih lesu. Tetapi belakangan sudah cukup lumayan. Pengunjungnya mulai ramai. Pasar yang buka pukul 08.00 Wib dan tutup pukul 16.00 Wib mayoritas pengunjungnya tetap kaum pria, dari berbagai usia, tua-muda.

Seperti diharapkan oleh Zul, salah seorang pedagang batu akik warga Rt 011 Rw 03, Kel. Pondok Bambu, Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur, setelah pesta demokrasi 5 tahunan, pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden periode 2019 – 2014 usai, gegap gempita dan gairah itu beralih ke pasar, sehingga para pedagang bisa meraih keuntungan. Edo Jauhari, asal Sumatera Barat yang sudah seperempat abad berdagang batu akik di Pasar Rawa Bening mengaku pernah mereguk keuntungan sehari sekitar Rp 2 juta dari pemburu batu bacan dan rubi. Tapi sekarang, bisa meraih sepertiganya saja sudah lumayan.
Tidak jauh dari Pasar Rawabening, ada Jakarta Gems Center (JGC), pasar modern, juga bursa batu aji dan batu permata. JGC terdiri 3 lantai, lantai dasar dikhususkan untuk pedagang batu mulia dan barang antik, lantai 2 pedagang obat-obatan, dan lantai 3 jajanan serba ada. Pasar modern ini mampu menampung 800-an pedagang. Meski tidak seramai waktu booming dulu, namun pengunjung GJC masih cukup ramai, karena suasananya lebih nyaman.

Pembeli, selain untuk dijual kembali, banyak juga yang untuk dipakai sendiri. Salah seorang pengunjung dari Bogor, Jawa Barat, Darmansyah Ali, yang sempat berbincang dengan Majalah UKM mengatakan; “Puas bisa berkunjung ke GJC, karena bisa memilih berbagai jenis batu mulia, yang membuatnya kebingungan memilih.” Yang berkunjung ke GJC banyak dari kalangan menengah – atas, kolektor batu mulia.

Zul yang juga grosir di GJC mengatakan, dalam dunia usaha ada masa dan masa panen. Saat booming, kata pemilik beberapa outlet di JGC itu, bisa meraup untung sangat besar. Tapi saat ini, bisa mendapat omzet Rp 5 juta – Rp 7,5 juta per hari sudah lumayan. Biasanya, bulan November – Desember banyak pembeli dari orang asing, seperti dari Jerman, Amerika, Korea, Thailand, Taiwan, Italia, dan sebagainya.

Orang yang senang pakai cicin batu akik, dulu hanya orang-orang tua. Tetapi sekarang, anak-anak muda tak mau ketinggalan. Ada yang mengatakan; tidak punya batu akik ketinggalan zaman. Tidak heran jika batu akik harganya juga mahal. Secara tradisi, cincin pengikat terbuat dari; logam mulia, perak, atau campuran dari bahan lain, seperti tembaga, perunggu, kuningan. Agar penampilan lebih indah, cincin diukir. (sutarwadi k.)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Ketika Koperasi Terbelit Persoalan Klasik

Salah satu yang menghalangi pertumbuhan dan kehadiran koperai adalah masih tingginya pajak yang dikenakan pemerintah serta masih banyaknya orang yang meminjam uang dari rentenir untuk modal usaha.

“Saat ini koperasi dikenakan pajak penghasilan (PPh) final atas pendapatan dan PPh badan. Selain itu sisa hasil usaha (SHU) bagi anggota, masih ada pengenaan pajak penghasilan sebesar 10% ke idividu anggota, sehingga dana bagi hasil dari koperasi ke anggota menjadi tidak besar,” kata H. Chaeruddin, Pembina Koperasi Berkah di Pasar Deprok Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Chaeruddin mendesak agar pelaku koperasi diberi keringanan seperti usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang diberikan insentif pajak berupa PPh final yang dipangkas dari 1% menjadi 0,5%. Ia menilai, pengenaan pajak terhadap omzet belum tentu mencerminkan bahwa koperasi tersebut memperoleh untung.

PPh final terhadap pendapatan usaha koperasi diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran brutto tertentu. Koperasi Berkah sudah berbadan hukum sejak didirikan pada tahun 2002. Anggotanya baru 52 orang. Jumlah itu baru sekitar 25% dari 215 pedagang di pasar tersebut.

Ketika ditanyakan kenapa koperasi ini belum mampu menarik minat seluruh pedagang di Pasar Deprok, mantan Lurah Pondok Bambu dan mantan Kepala Bazis Jakarta Timur dua periode itu mengatakan, karena di pasar juga ada Paguyuban Koperasi Pedagang dan masih ada pedagang yang menggunakan jasa rentenir. Karena menjadi anggota koperasi, sesuai 7 Prinsp Koperasi, adalah sukarela, tidak ada unsur pemaksaan. Jadi, yang mau menjadi anggota Koperasi Berkah, sifatnya juga sukarela.

“Tujuan kami ingin menyelamatkan peda­gang dari jeratan rentenir. Koperasi Berkah juga memberikan kemudahan kepada anggota. Bagi mereka yang mendaftar sebagai anggota, cukup mem­bayar simpanan wajib sebesar Rp 9.000 dan iuran sosial Rp 1.000. Bagi yang pinjam untuk modal usaha, maksimal pinjaman Rp 50 juta dengan jasa 2%. Sedangkan di Koperasi Paguyuban Pedagang, jasanya 5%. Kami juga tak bisa melarang pedagang pinjam ke rentenir. Kami hadir untuk memberi solusi,” ujarnya.

Ungkapan senada diutarakan Partono, Ketua Koperasi Berkah. Laki-laki asal Klaten, Jawa Tengah yang sehari-hari sebagai pedagang beras di Pasar Deprok itu mengemukakan, sejak Koperasi Berkah berdiri, sebagian pedagang menyadari, keberadaan koperasi sangat membantu meringankan beban soal permodalan.

Lambat tapi pasti, mereka mulai terbuka dan paham, koperasi itu dari anggota untuk anggota. Dengan jasa 2%, mereka mulai meninggalkan kebiasaan pinjam ke rentenir. Namun mereka diberi kebebasan apakah mau menjadi anggota Koperasi Berkah atau menjadi anggota Koperasi Paguyuban Pedagang. Yang ingin pinjam ke BRI atau rentenir, juga dipersilakan. Ada pula anggota Koperasi Berkah yang masih menjadi anggota Koperasi Paguyuban Pedagang.

Baik Chaeruddin, Partono, H.Sujoko (bendahara), dan Wartini (Sekre­taris) mengemukakan, telah menem­puh berbagai langkah untuk meningkatkan kualitas koperasi Berkah. Antara lain membangun koperasi berbasis information technology.

Untuk pengembangan koperasi, mengupayakan berbagai agenda, seperti mengkaji regulasi yang menghambat berkembang koperasi, memperkuat akses pembiayaan dengan menyiapkan koperasi menjadi penyalur kredit usaha rakyat (KUR). (sk/wien s)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Prof. Dr Rully Indrawan Akan Mengusulkan Kepada Menteri KKGJ Sebagai Konsultan Pengembangan Koperasi Guru di Indonesia

Sebagai aktivis Gerakkan Koperasi Indonesia (GKI), sudah lama mendengar cerita hebatnya Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ), salah satu koperasi besar di Indonesia. Maklum, sebagai aktivis dan intelektual, Guru Besar Universitas Pasundan Bandung, Prof. DR Rully Indrawan yang juga pernah menjabat Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jawa Barat, Wakil Ketua Umum Dekopin Pusat, dan Rektor Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), wajib hukumnya mengetahui kiprah koperasi di Indonesia. Terutama koperasi-koperasi besar.

Karena ingin banyak tahu tentang KKGJ, ketika pengurus mengundangnya pada Rapat Anggota Khusus (RAK) untuk menyusun dan mengesahkan program kerja tahun buku 2019, dengan senang hati Prof. Rully memenuhi undangan tersebut. Padahal saat itu ada 2 acara penting lainnya, yaitu rapat Pengurus Dekopin dan pembahasan Rancangan Undang-unang (RUU) perkoperasian di DPR. “Namun, saya memilih ke KKGJ,” tutur Prof. Rully seraya menambahkan bahwa dirinya baru 4 hari usai dilantik (9-11-2018) sebagai Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM.

Saat masih menjabat Ketua Dekopinwil Jawa Barat, dia menaku, pernah bicara dengan Gubernur Jawa Barat; Masa kalah dengan orang Jakarta. Guru di Jawa Barat jumlahnya lebih banyak daripada guru di DKI Jakarta. Kenapa koperasi guru di Jakarta bisa masuk ranking 10 besar nasional, sedangkan koperasi guru di Jawa Barat tidak ada. Saat ini banyak koperasi guru di Jawa Barat hampir habis. Banyak anggota koperasi yang pinjam di koperasi, juga pinjam ke Bank Jabar. Ketika gajinya dipotong oleh bank untuk membayar angsuran pinjaman, tidak bisa bayar pinjamannya di koperasi. Biasanya, saat anggota mau pinjam di koperasi bersemangat – bahkan lebih galak. Saat harus bayar angsuran dia bilang; “nanti dulu kalau ada sisanya.” Mungkin karena merasa koperasi itu milik sendiri.

Fenomena tersebut, menurut Prof. Rully, tidak hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi juga di daerah lain. Sebagai wakil ketua umum Dekopin berkesempatan mengunjungi koperasi di daerah-daerah. Koperasi di Riau, misalnya, juga sama. Saat berkunjung ke Riau, berpesan kepada pihak perbankan agar mau berbagi tugas. Kalau kebutuhan yang sifatnya konsumtif, atau untuk kegiatan produktif yang masih kecil biarlah koperasi sebagai sumber permodalan. Sedangkan perbankan untuk kegiatan-kegiatan besar seperti membangun jalan tol, jembatan dan sebagainya. Keluhan tidak berkembangnya koperasi pegawai sering disampaikan para bupati. “Waktu saya masih di Dekopinwil Jabar, ada tiga bupati yang mengeluhkan. Hal itu bukan lantaran regulasi, melainkan masalah cultural,” jelasnya.
Tetapi di Jakarta, lanjut dia, berbeda. Koperasi guru – KKGJ bisa berkembang kembang pesat. Ini yang menarik untuk dicontoh. “Saya akan usulkan kepada Menteri Koperasi dan UKM untuk koperasi-koperasi guru di berbagai provinsi dikembangkan dengan konsultannya dari KKGJ” jelas Rully Indrawan, seraya menambahkan bahwa kedua orang tuanya (ayah – ibu) guru sekolah dasar (SD). Guru zaman dulu gajinya kecil, hanya cukup sampai pertengahan bulan. “Untuk mentup kekurangan pinjam ke koperasi. Mau sekolah tahun ajara baru, beli buku baru, atau ada yang sakit, pinjamnya ke koperasi. Setiap bulan saya diajak ke koperasi. Sampai mau menikah pun datang ke koperasi,” katanya berterus terang. Dia merasa senang, ada salah satu koperasi yang didirikan oleh ayahnya berkembang cukup baik.

Karakter guru itu indentik dengan koperasi, saling mengayomi, kerja sama, dan saling tolong menolong, serta punya tujuan yang sama. Guru itu tujuannya sama, ingin mencerdaskan anak-anak bangsa. Guru merasa bangga jika mantan anak didiknya sukses. Koperasi tujuannya sejahatera bersama. Untuk mencapai tujuan sejahtera, harus pula berjuang bersama, dan itu tidak mudah. Hanya dengan kejujuran, loyalitas dan kedisiplinan yang tinggi sejahtera bersama itu bisa tercapai.

Terkait dengan perkembangan koperasi saat ini, menurut Rully Indrawan, cukup bagus. Benar bahwa jumlah koperasi di Indonesia menurun. Namun kontribusi terhadap kesejahteraan terus meningkat. Menurut indikator yang diditeksi Badan Pusat Statistik (BPS) koperasi sebagai lembaga usaha telah memberikan kontribusi terhadap PDB 4,48%. Ini bukti nyata. Bahkan kontribusi anggota kepada PDB, menurut BPS, telah mencapai 33%. Jadi, koperasi secara kumulatif sudah mendekati 40%. Luar biasa!
“Benar bahwa jumlah koperasi menurun. Namun, bukan animonya yang menurun,” tegas Rurlly. Sesuai kebijakan pemerintah; Reformasi Totol Koperasi, ada program menutup koperas-koperasi yang tidak aktif. Ada sekitar 52.000 unit koperasi yang tidak aktif, dan badan hukmnya (BH) dicabut. Dahulu, kebanyakan koperasi didirikan untuk mengejar fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh pemerintah.

Pada evaluasi 4 tahun pembangunan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada 5 pilar pembangunan yang dipresentasikan oleh para menteri. Pilar pertama tentang Pembangunan Ekonomi dan Daya Saing Bangsa. Kementerian Koperasi belum termasuk di situ. Pilar kedua tentang Kesejahteraan, namun Kementerian Koperasi juga tidak tampil. Tetapi justru tampilnya di pilar kelima bersama-sama dengan Kemendikbud, Kemen Riset & Dikti, dan Menko Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu tentang Kebudayaan dan Prestasi Bangsa.

“Seperti koperasi telah diposisikan sebagai instrumen Membangun Budaya Bangsa yang baru. Sama dengan pendidikan. Karena itu Menkop, Menristek Dikti, dan Menko SDM berada di satu meja,” jelas Rully. Hal itu menurut Rully Indrawan, luar biasa, karena selama ini koperasi selalu dihitung modalnya berapa, asetnya berapa, berapa volume usahanya, dan berapa sisa hasil usaha (SHU). Semua serba angka. Seyogyanya dalam tugas pembangunan saat ini adalah membangun karakter bangsa.

Kita tahu, keberhasilan suatu negara karena ditopang oleh kelompok wirausaha. Tahun 2014 ketika Jokowi terpilih sebagai presiden, kelompok wirausaha baru sekitar mencapai 1,35%. Sekarang jumlah wirausaha muda telah mencapai 4%. Sekarang juga makin banyak kelompok baru wirausaha muda dengan berbagai inovasi dan kreatifitas yang luar biasa. Saat ini anak-anak muda yang bercita-cita menjadi pegawai semakin berkurang. Ada kecenderungan mereka lebih senang berwiusaha, dan menghadapi tantangan. Itu merupakan perubahan mindset – pola pikir – budaya yang baru.

Kalau ada yang mengatakan jumlah pengangguran tinggi, tidak bekerja di sektor formal, yes!. Tetapi mereka bekerja di sektor informal. Informal, bukan berarti pedagang kaki lima, atau pembantu rumah tangga. Anak-anak muda generasi milineal itu bekerja dengan kaki empat, diluar ruang dan waktu yang tidak terbatasi. Soal penghasilan, jauh dibandingkan menjadi pegawai negeri atau karyawan swasta. Banyak anak muda berpenampilan sederhana, pakai celana pendek dipadu T shirt, sepatu ket, ternyata miliarder. Sementara yang berpenampilan perlente, pakai jas – berdasi, gajinya sekian juta saja.

Perkembangan teknologi saat ini menjadikan dunia semakin kecil, seakan tanpa batas antara satu negara dengan negara yang lain. Dengan perkembangan teknologi, ekonomi global mau tidak mau harus kita hadapi. Dan itu hanya bisa dimenangkan dengan kemampuan inovasi dan kreaktifitas yang tinggi. Indonesia sebagai leader di Asia Tenggara (ASEAN) baik dalam bidang ekonomi, keamanan maupun politik yang diakui oleh dunia internasional.
Sebagai negara yang maju di bidang perekonomian, keamanan dan pengembangan demokrasi, akan menjadi aneh jika tidak siap untuk bersaing di ekonomi dunia. Juga sangat aneh kalau tidak mampu bersaing dalam ekonomi global. Secara ekonomi, dan sosial kita siap untuk bersaing dalam era global. Bahwa masih ada produk-produk yang belum siap bersaing harus diperbaiki. Yang terpenting untuk kita sikapi, dalam melakukan transaksi internasional. Intinya, kita harus melakukan perubahan, melakukan inovasi, sehingga secara total siap berkompetisi.

Pemerintah mendorong koperasi dan UMKM agar siap bersaing di era ekonomi global. Jika yang diperlukan adalah bantuan permodalan pemerintah mempersiapkan melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Dengan berbagai kemudahan yang diberikan oleh pemerintah diharapkan akan mampu menciptakan lapangan kerja lebih luas sehingga jumlah penganggur akan terus berkurang.

Para sarjana yang baru menyelesaikan tugas belajar pun didorong untuk menjadi pengusaha pemula. Pemerintah terus mensosialisasikan program bantuan permodalan bagi sarjana baru ke beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta. Dengan mendorong para sarjana membuka usaha, atau pengusaha pemula diharapkan mereka tidak mencari pekerjaan melainkan membuka lapangan kerja, minimal bagi dirinya sendiri.

Para sarjana punya kemampuan sangat tinggi, punya knowledge atau ilmu di atas rata-rata. Mereka sudah mengeluarkan biaya, mengeluarkan waktu, energi untuk menjadi sarjana. Kalau dulu mereka bermimpi menjadi sarjana, sekarang harus didorong untuk bermimpi menjadi pengusaha. Jika koperasi, para sarjana, dan UMKM bersatu padu, giat menciptakan inovasi ekonomi, kreatif dalam menciptakan pekerjaan sehingga penyerapan tenaga kerja semakin tinggi. (mar – adt)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment