Menjadi Pengusaha Sukses, Sebuah Kajian Pragmatis (bagian ke-2 habis)

Prof DR H. Agustitin Setyobudi

Kompetensi pegawai sangat diperlukan setiap organisasi, termasuk koperasi, terutama untuk meningkatkan kinerja. Prediktor kesuksesan kerja, model kompetensi yang akurat akan dapat menentukan dengan tepat pengetahuan serta ketrampilan apa saja yang dibutuhkan untuk berhasil dalam suatu pekerjaan. Apabila seseorang pemegang posisi mampu memiliki kompetensi yang dipersyaratkan pada posisinya maka ia dapat diprediksikan akan sukses.

Merekrut seseorang yang andal, apabila telah berhasil ditentukan kompetensi apa saja yang diperlukan suatu posisi tertentu, maka dengan mudah dapat dijadikan kriteria dasar dalam rekrutmen pegawai baru. Dasar penilaian dan pengembangan seseorang, indentifikasi kompetensi pekerjaan yang akurat juga dapat dipakai sebagai tolak ukur kemampuan seseorang. Berdasarkan sistem kompetensi ini dapat diketahui apakah seseorang telah mengembangkannya dengan pelatihan dan pembinaan atau perlu dimutasikan kebagian lain.

Merujuk pada konsep dasar tentang kompetensi seperti diungkapkan Spencer and Spencer atau mengacu pada The Competency Handbook, volume 1 & 2, ada beberapa pedoman dasar untuk mengembangkan sistem kompetensi, antara lain; Identifikasi pekerjaan – posisi-posisi kunci yang akan dibuat kompetensi modelnya. Dilakukan analisis lebih jauh mengenai proses kerja, misalnya; cara kerja, waktu kerja, hubungan kerja, dan tanggung jawab pada posisi-posisi kunci. Dilakukan survei mengenai kompetensi apa saja yang dibutuhkan – required competencies dengan bercermin pada masukan. Dari semua masukan yang ada, dibuat daftar tentang jenis-jenis kompetensi apa saja yang diperlukan pada posisi tertentu.

Diuraikan makna dari setiap jenis kompetensi yang telah dituliskan – hal ini untuk menyamakan persepsi mengenai suatu jenis kompetensi. Misalnya, jika dilakukan kompetensi analisis data, sampai sejauh mana analisis data yang dimaksud. Ditentukan skala tingkat penguasaan kompetensi yang ingin dibuat, misal, skala 1 – sangat rendah, 2  – rendah, 3  – sedang, – 4 baik, 5 – sangat baik atau memakai skala BBasic, IIntermediate, AAdvance atau E Expert.

Dibuat penjelasan dari suatu jenis kompetensi dalam skala yang telah dibuat. Misalnya, kompetensi komunikasi tertulis, untuk kompetensi dasarnya, maupun menulis memo dan surat; tingkat dasar – intermediate, mampu menulis laporan dengan analisis minimal, tingkat lanjutan – advance, menulis laporan disertai analisis mendalam dalam bentuk grafik dan gambar; tingkat ahli – expert: Menuliskan laporan yang berisi pendapat, analisis dengan dukungan dan fakta dengan konsep dan variabel yang rumit.

Kompetensi untuk mendorong suatu organisasi mencapai posisi kompetitif perlu memperhatikan keberhasilan di masa depan sebagai persiapan untuk pengembangan dan kerjasama. Kompetensi seseorang dapat ditunjukkan dalam bentuk kemampuan individu untuk menerapkan pengetahuan ke dalam bentuk tindakan. Dalam penerapan kompetensi, tiap organisasi memiliki perspektif berbeda berdasarkan nilai strategisnya bagi organisasi bersangkutan. Olson dan Bolton mengilustrasikan cakupan konsep kompetensi dalam literatur organisasi bahwa kompetensi merujuk pada individu maupun organisasi. Karakteristik individu mencakup pengetahuan teknis, keterampilan – knowledge technical and skills kinerja, dan kompetensi penyumbang individu.

Kompetensi ketrampilan dan pengetahuan cenderung lebih nyata – visible dan relatif berada di permukaan – ujung sebagai karakteristik yang dimiliki manusia. Kompetensi pengetahuan dan keahlian relatif mudah untuk dikembangkan, misalnya, dengan program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia. Oleh karena itu, kompetensi dalam penelitian ini dibatasi kedalam dua variabel yakni pengetahuan dan ketrampilan kerja. Ada dua unsur kompetensi yang menonjol yakni; pengetahuan dan keahlian atau ketrampilan. Kedua kompetensi ini biasanya mudah untuk dikembangkan dan tidak memerlukan biaya pelatihan yang besar untuk menguasainya, sedangkan kompetensi konsep diri, karakteristik pribadi dan motif sifatnya tersembunyi. Karena itu lebih sulit untuk dikembangkan atau dinilai.

Pengetahuan sebagai variabel pertama dari kompetensi pegawai dalam penelitian ini bukanlah merupakan pengetahuan umum semata, melainkan pengetahuan tentang tugas yang penting bagi setiap staf untuk melaksanakan tugasnya. Tingkat pemahaman lisan seorang pegawai tentang apa yang diketahui dari pengalaman dan proses belajar. Pengetahuan yang baik tentang tugas dalam diri seorang staf cenderung akan meningkatkan kualitas pekerjaannya. Apabila pegawai tersebut memiliki pengetahuan yang baik tentang pekerjaannya, maka dia akan dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik.

Ketrampilan sebagai variabel kedua dari kompetensi adalah kecakapan yang berhubungan dengan tugas yang dimiliki dan dipergunakan oleh seseorang pada waktu yang tepat. Staf yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat harus dapat berperilaku profesional yang dapat ditunjukkan dengan memiliki dan menerapkan ilmu pengetahuan ilmiah, teknologi staf, menerapkan keterampilan profesional dan kehidupan profesional. Semakin tinggi keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja, semakin efisien badan, tenaga, dan pemikirannya dalam melaksanakan pekerjaan. Pendidikan dan latihan memberikan keterampilan yang butuhkan. Dengan adanya keterampilan akan meningkatkan rasa percaya diri staf dalam melaksanakan pekerjaan.

Kinerja adalah tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas, serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Kinerja dikatakan baik – sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik. Kinerja seseorang adalah prestasi – hasil kerja selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan; standar, target, kriteria yang ditentukan terlebih dahulu dan disepakati bersama. Yang dimaksud kinerja – performance adalah hasil kerja yang bersifat konkrit, dapat diukur, dan dapat diamati.

Kinerja bersifat aktual – riil, sedang tujuan bersifat ideal. Kinerja berasal dari kata job performance – prestasi kerja, prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Kinerja diartikan sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral atau etika.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kinerja berarti; sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperhatikan, dan kemampuan kerja. Istilah kinerja – performance digunakan bila seorang menjalankan suatu tugas atau proses dengan terampil sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. Dalam kajian manajemen, kinerja berarti hasil dari sukses kerja seseorang – sekelompok untuk mencapai sasaran-sasaran yang relevan. Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa kinerja – performance dapat berupa hasil kerja, prestasi kerja, atau tingkat keberhasilan seseorang dalam tugas dan tanggung jawabnya yang diberikan kepadanya.

Kinerja dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Kinerja individu akan baik jika dari faktor internal memiliki kemampuan tinggi dan kerja keras. Dan dari faktor eksternal adanya pekerjaan mudah, nasib baik, bantuan dari rekan kerja, dan pimpinan yang baik. Jika tidak demikian, kinerja individu buruk. Kinerja ditentukan oleh tiga hal yaitu; kemampuan, keinginan, dan lingkungan. Agar individu mempunyai kinerja yang baik, harus mengetahui bagaimana cara melakukannya dengan benar, mempunyai keinginan yang tinggi, dan lingkungan kerja yang mendukung.

Posisi kinerja berhubungan dengan banyak faktor, yakni; imbalan yang diharapkan individu, pengharapan yang menimbulkan dorongan, kemampuan, kebutuhan, perangai dan prestasi individu terhadap peran – tugas yang diterima. Faktor-faktor tersebut secara keseluruhan membentuk kinerja individu. Kinerja yang dibentuk menimbulkan imbalan instrinsik, dan (imbalan ekstrinsik). Imbalan ini dapat negatif atau positif tergantung dari tingkat kinerja individu. Persepsi tentang imbalan intrinsik – imbalan ekstrinsik akan menimbulkan tingkat kepuasan individu.

Imbalan yang memuaskan dapat mendorong perilaku masa yang akan datang. Dengan demikian, dasar kinerja dipengaruhi oleh faktor-faktor; harapan, imbalan, dorongan, kemampuan, kebutuhan, sifat, persepsi terhadap tugas. Imbalan intrinsik dan ekstrinsik persepsi terhadap tingkat imbalan, dan kepuasan kerja. Kinerja dalam menjalankan tugasnya tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan kepuasan dan tingkat imbalan atau harapan. Kinerja yang baik dipengaruhi oleh kemampuan, knowledge, skill, motivasi, attitude dan situation seseorang.

Gordon menyatakan bahwa “performance was a function of employee’s ability, acceptance of the goals, level of the goals and the interaction of the goal with their ability”. Dari definisi ini, mengungkapkan bahwa kinerja terdiri dari empat unsur, yaitu: kemampuan, penerimaan tujuan-tujuan, tingkatan tujuan-tujuan yang dicapai, dan interaksi antar tujuan dengan kemampuan para anggota organisasi. Masing-masing unsur tersebut turut berpengaruh kepada kinerja seseorang. Kinerja seseorang dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dan kemampuan. Kemampuan ini banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya; pendidikan dan pelatihan. Bila kemampuan ini disertai dengan bakat, akan dapat merupakan faktor yang menentukan prestasi seseorang.

Pelatihan dapat mengembangkan kemampuan, kecakapan, dan keterampilan. Kemampuan intelektual digunakan untuk menjalankan kegiatan mental, sedangkan kemampuan fisik – jasmani untuk melakukan tugas yang menuntut stamina, kekuatan, dan kecekatan. Kinerja yang baik memerlukan kemampuan intelektual dan fisik sesuai dengan pekerjaan seseorang. Untuk itu diperlukan kemampuan pengetahuan tentang bidang tugas, pengetahuan mendalam tentang materi pekerjaan, teknik pelaksanaan pekerjaan, cara berkomunikasi dalam proses pelayanan, interaksi antar unit, dan lain sebagainya.

Untuk kemampuan fisik, tidak cacat fisik yang dapat menjadi penghalang –  kendala dalam bertugas. Seseorang yang memiliki kemampuan kurang dari yang dipersyaratkan besar kemungkinannya untuk gagal. Sebaliknya, jika memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang dipersyaratkan, akan menjadi tidak efisien di dalam organisasi, bahkan dapat berakibat kurang puas kerja, dapat menimbulkan stres – frustrasi, dan sebagainya. Jadi, pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan posisinya, dan sesuai dengan keahliannya – the right man in the right place, the right man on the right job.

Tujuan organisasi harus diketahui dengan jelas oleh setiap anggota organisasi. Hal demikian akan memberikan arah bagi mereka dalam menyelesaikan tugas. Sejauh mana penerimaan tujuan organisasi, mempengaruhi hasil kerja anggota organisasi yang bersangkutan. Jika tujuan organisasi diketahui secara jelas dan disertai dengan kemampuan tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan dalam pencapaian tujuan tersebut, maka pekerjaan itu akan memberikan hasil yang memuaskan.

Ada tiga kriteria dalam mengevaluasi kinerja individu, yaitu tugas individu, perilaku individu, dan ciri individu. Menilai kinerja individu melalui hasil tugas yang dimaksudkan adalah menilai hasil pekerjaannya. Misalnya, terhadap produk yang dihasilkan, efektivitas pemanfaatan waktu, dan sebagainya. Penilaian kinerja individu melalui perilaku, agak sulit dilakukan, namun dapat diamati dengan cara membandingkan perilaku rekan kerja mereka yang setara. Dapat pula dilihat dari cara penerimaan melalui tugas dan berkomunikasi. Sedangkan menilai kinerja individu dengan melalui pendekatan ciri individu adalah dengan melihat ciri-ciri individu, misalnya, melalui sikap, persepsi, dan sebagainya.

Beberapa faktor yang perlu diketahui sehubungan dengan penilaian kerja pegawai, yaitu; pengetahuan tentang pekerjaan, kemampuan membuat perencanaan, pengetahuan tentang standar mutu pekerjaan yang disyaratkan, tingkat produktivitas seseorang, pengetahuan teknis atas pekerjaan, kemandirian bekerja, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan dan motivasi. Semua faktor itu dapat disederhanakan menjadi tiga, yaitu; pelaksanaan tugas, perilaku seseorang dan hasil tugas.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa yang disebut kinerja seseorang adalah tingkat keberhasilan seseorang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya, dan mencapai tujuan yang ditetapkan, ditunjukkan dengan kemampuan, cara berperilaku, dan hasil tugasnya. Dari beberapa indikator yang dikemukakan oleh para ahli, pada dasarnya memiliki pandangan yang sama, bahwa untuk mencapai tujuan organisasi diperlukan tingkat kinerja yang baik dari seseorang, baik individual maupun secara organisasi.

Untuk menganalisis hubungan kompetensi dengan peningkatan kinerja, penulis menggunakan teori kompetensi – competency theory, Spencer. Banyak pendekatan yang dilakukan dalam mengembangkan kerangka kerja kompetensi. Framework yang paling sering digunakan adalah kompetensi menurut Spencer. Kompetensi menurut Spencer adalah karakteristik dasar yang dimiliki oleh individu yang berhubungan secara kausal dalam memenuhi kriteria yang diperlukan dalam menduduki suatu jabatan. Kompetensi terdiri dari 5 tipe karakteristik yaitu; motif  (kemauan konsisten dan menjadi sebab dari tindakan), faktor bawaan (karakter dan respon yang konsisten), konsep diri (gambaran diri), pengetahuan (informasi dalam bidang tertentu), dan keterampilan  (kemampuan untuk melaksanakan tugas).

Sekarang banyak organisasi melakukan upaya besar-besaran agar berkinerja unggul. Hal tersebut hanya bisa dicapai dengan berinvestasi pada tenaga kerja yang kompeten. Konsep hubungan kerja dengan sendirinya mengalami perubahan; dipekerjakan bukan lagi untuk seumur hidup, melainkan selama keahliannya dibutuhkan oleh organisasi – koperasi, misalnya. Apabila ada seseorang tidak lagi mengembangkan kompetensinya melalui belajar dan berkinerja, dia akan menciptakan kesalahan fatal.

Kompetensi sering digunakan sebagai kriteria utama untuk menentukan kerja seseorang seperti profesional, manajerial atau senior manajer. Sebuah lembaga, Koperasi akan mempromosikan seseorang yang memenuhi kriteria kompetensi yang dibutuhkan dan dipersyaratkan untuk jenjang yang lebih tinggi. Karena kompetensi merupakan kecakapan dan kemampuan individu. Seseorang yang ditempatkan pada tugas tertentu akan mengetahui kompetensi apa yang diperlukan. Jalan yang harus ditempuh untuk mencapainya dengan mengevaluasi kompetensi sesuai dengan tolok ukur penilaian kinerja, sehingga sistem pengelolaan SDM lebih terarah.

Mengacu pada pengertian kompetensi yang terdiri atas kemampuan teknis, ketrampilan menganalisa dan mengambil keputusan, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerja mandiri dan kelompok sampai pada aspek kepemimpinan dan manajerial, maka melalui suatu kompetensi tertentu seorang akan bekerja semakin baik dan berkualitas. Mencermati berbagai uraian konsep kompetensi di atas, terlihat adanya hubungan erat antara kompetensi dengan kinerja. Kompetensi menghasilkan kinerja yang efektif atau superior. Ini berarti kompetensi mempunyai hubungan yang erat dengan kinerja. Pegawai yang memiliki kompetensi di bidangnya, maka pegawai itu akan meningkatkan kinerja yang efektif. Demikian pula bila motivasi kerja seseorang tinggi maka akan meningkatkan kinerja. (***)

Posted in Opini | Tagged | Leave a comment

Uskup Agung Ende Mgr Vincencius Sensi Potokota: Kopersi Adalah Jalan Keselamatan

Mewakili rohaniwan – imam; pastor, suster, bruder, pendeta dan ustadz yang aktif dalam gerakkan credit unuion (CU) – koperasi untuk kesejahteraan umat, Uskup Agung Ende Mgr Vincencius Sensi Potokota, mengatakan bahwa kopersi adalah salah satu jalan keselamatan. Hal itu diungkapkan saat memberi sambutan pada pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Puskopdit BKCU Kalimantan, tahun buku 2016 di Maumere, Kota Bunda Maria, Nusa Tenggara Timur (NTT), kota yang memancarkan keindahan alam; laut dan pegunungan nan mempesona, pada 27 April 2017.

Walau sebagai Uskup Agung, Mgr Sensi, begitu akrab disapa, menyampaikan dengan bahasa universal, bukan dari sudut pandang Katolik semata, juga membatasi yang diungkapkan, tidak masuk pada masalah teknis urusan perkoperasian – CU, melainkan lebih pada memberikan sumbangsih semangat bagi aktivis gerakkan yang dinilainya sangat mulia. Menurut Mgr Sensi, para pimpinan agama-agama telah sepakat mewariskan sejarah inisiatif, menggali suatu gerakkan yang sekarang ini kita kenal gerakkan berkoperasi.

“Saya berani katakan; dengan sangat terbuka dan rasa tanggung jawab mendalam kepada siapa saja – seluruh rakyat Indonesia sejak sebelum kemerdekaan para pemimpin agama-agama selalu memberi sumbangsih pikiran, hadir merembukan dan merancang, kita mau membuat apa supaya martabat manusia Indonesia sungguh-sungguh mendapat tempat dan perhatian semua pihak. Karena itu, apa pun agama-agama yang ada di bumi Indonesia melalui para pimpinan dan perangkat-perangkat pimpinan agama-agama telah berusaha membangun apa yang disebut heritage – budaya untuk mencintai kebersamaan menuju apa yang dicita-citakan yang terkandung dalam isi proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan segala pilar-pilarnya,” urai Mgr Sensi.

Dan kita telah berupaya keras supaya memastikan bahwa salah satu dari sekian banyak jalan menuju cita-cita kesejahteraan dan kebahagiaan, dari awal kemerdekaan para pimpinan agama-agana menyaikin bahwa berkoperasi adalah salah satu jelan keselamatan. “Jalan keselamatan ini bukan rancangan manusia, namun lebih daripada itu, adalah kehendak Allah sendiri yang sangat mencintai manusia. Agama-agama mengajarkan melalui kitab sucinya, manusia adalah mahluk ciptaan Allah dan betapa Tuhan mencintainya. Ketika manusia berdosa, Allah tidak tega membiarkan manusia hancur binasa. Allah pun selalu memberikan jalan terbaik,” jelas Mgr Sensi yang ternyata juga senang humor.

Karena koperasi – CU atau apa pun namanya adalah salah satu jalan keselamatan, Mgr Sensi mengaku, menjadi pelaku dan mencintai koperasi sejak usia dini, sekolah dasar (SD) karena orang tua – ayahnya, ketua koperasi “kampungan” – koperasi kampung yang pengelolaannya masih sederhana, serba manual. “Karena itu saya tak ragu katakan kepada umat; jangan takut berkoperasi. Kami orang Flores, bersama pimpinan agama-agama berusaha keras, dan bermitra dengan pemerintah mengembangkan koperasi. Kalau para imam, pedeta dan ustadz mempercayai – meyakini koperasi sebagai jalan keselamatan, sedangkan umat tidak percaya kata-kata ustadznya, tidak percaya pendetanya, tidak percaya imamnya, saya tidak mengerti. Dukungan kami pun dari lubuk hati paling dalam,” tegasnya.

Telah menjadi tradisi, sebelum RAT diselenggarakan work shop atau seminar nasional dan kegiatan lainnya. RAT yang selalu diselenggarakan dari satu daerah ke daerah lain, 45 CU Primer anggota Puskopdit BKCU Kalimantan, tersebar di 23 provinsi dari ujung barat; Sumatera, Kepulauan Riau, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, NTT sampai Papua, yang menjadi tuan rumah kali ini adalah CU Bahtera Sejahtera, Maumere.

Menurut laporan Ketua Puskopdit BKCU Kalimantan, Marselus Sunardi, S.Pd, total anggota individu per 31 Desember 2016 berjumlah 444.388 orang. Atau anggota gerakkan CU bertambah sebanyak 9.954 orang. “Ini adalah sumbangan untuk Gerakkan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) guna mencapai target 10 juta penduduk Indonesia menjadi anggota Kopdit 2020 mendatang,” jelas Sunardi. Sedangkan aset yang dianggap sebagai ikutan, bukan hal yang utama, karena yang diutamakan adalah manusia atau individu, total aset gerakkan Rp 6,2 triliun. Sedangkan aset Inkopdit yang dimiliki oleh 887 CU primer sebesar Rp27,271 trilun. Dari total aset Rp 6,2 triliun, sekitar Rp 5,8 trilun murni merupakan simpanan anggota.

Sunardi berani menjamin dan berani memastikan bahwa simpanan anggota ini tidak ada modal – uang dari luar. Tidak ada titipan simpanan dari Amerika, Swiss, Jerman, Kanada atau pihak lain manapun. Juga tidak ada kucuran dana hibah. Semua murni rupiah milik anggota – rakyat Indonesia. “Kita pantas mensyukur atas apa yang telah kita raih bersama-sama. Apapun yang kita raih bukan karena hebat, tapi karena Tuhan berkenan memberikan rahmatnya atas rencana dalam pengembangan credit union. Kalau melihat gedung-gedung kantor CU begitu megah, jumlah aset puluhan – ratusan miliar, semua karena rahmat Tuhan. Bukan karena hebat rencana kita, juga bukan karena hebat melaksanakannya, tetapi segalanya indah karena rahmat Tuhan,” katanya mensukuri.

Jumlah anggota dan aset masih merupakan yang terbesar dalam GKKI. Menjadi yang terbesar bukan cita-cita. “Menjadi CU yang bermanfaat, mengembangkan CU yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para anggota, bagi rakyat Indonesia, itulah komitmen kami,” tegas Sunardi penuh semangat. Karena itu, lanjutnya, kedatangan anggota Puskopdit BKCU Kalimantan di Maumere bukan dalam rangka provokasi, melainkan karena kerinduan insan credit union untuk jumpa satu dengan yang lain. Di Maumere banyak bintang, atau tokoh CU yang luar biasa. Romanus Woga, yang akrab disapa Rommy, mantan Ketua Umum Inkopdit, bahkan menjadi Wakil Presiden ACCU mewakili Indonesia. Di Maumere juga ada CU besar, seperti Kopdit Obor Mas dan CU Pintu Air.

Kehadiran gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan di Maumere bukan semata-mata hanya untuk mendukung CU Bahtera Sejahtera, yang memang anggota Puskopdit BKCU Kalimantan, melainkan untuk kebersamaan, menyatukan langkah, bergadengan tangan, bersinergi dengan sesama gerakkan credit union secara keseluruhan. Bersinergi membantu pemerintah membangun melalui kemandirian CU untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Jika potensi masyarakat diadministrasikan secara baik, akan menghasilkan aset bersama. “Mari duduk bersama, berdiri bersama dan melangkah bersama membangun GKKI untuk rakyat Indonesia. Janganlah kita berdebat tentang berpedaan, kehebatan dan sebagainya. Mari berdebat untuk maksimalkan pelayanan kepada anggota, sehingga anggota benar-benar sejahtera,” ajaknya.

Karena kehendak yang kuat dari gerakkan untuk mengelola CU, maka gerakkan ini telah mampu berbuat nyata, gotong-royong di tengah-tengah masyarakat kecil, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), masyarakat yang masih termajinalkan. Melalui RAT, kata Sunardi, anggota selalu diajak untuk mengikuti perkembangan lembaga, sekaligus mengalami berbagai tantangan yang masih dihadapi bersama. Baik tantangan CU primer itu sendiri, maupun tantangan dalam gerakkan BKCU Kalimantan, bahkan dalam GKKI. Karena itu, sudah sepantasnya kita mensyukuri atas apa saja yang telah diraih bersama-sama.

Puskopdit BKCU Kalimantan didirikan pada 27 November 1988 di Kota Khatulistiwa, Pontianak, Kalimantan Barat, dengan nama awal Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Kalimantan Barat. Sejalan dengan paradikma yang terjadi, BKCU Kalimantan baru memperoleh Badan Hukum (BH) tahun 2010, dengan Nomor BH 927/BH/M.KUKM.2/X/2010, dan berstatus badan hukum nasional. Seiring dengan kebijakan-kebijakan pemerintah Puskopdit BKCU Kalimantan juga menyesuaikan diri, misalnya, kini telah memiliki sertifikat Nomor Induk Koperasi (NIK), sejak 4 April 2017 dengan nama Puskopdit BKCU Kalimantan. Juga telah memiliki izin usaha simpan pinjam dari Kementerian Koperasi dan UKM, tahun 2010. Nomor pokok wajiba pajak (NPWP) pun telah punya sejak 17 September 2014.

Berbagai regulasi pemerintah terpenuhi untuk memasikan bahwa gerakkan ini legal. Bukan gerakkan yang illegal. Karena ingin legal dan terus terang, sebab memang aktivitas gerakkan tidak ada yang disembunyikan. Seluruhnya didedikasikan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Praktek Pancasila, Bhineka Tunggal Eka, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah nyata dilaksanakan dalam gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan. Buktinya, BKCU Kalimantan diterima di berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai latar belakang; suku, agama, adat istiadat berbeda-beda.

Meski berbebeda-beda, kata Sunardi, selalu rukun. Tidak pernah dalam pertemuan BKCU Kalimantan saling menghujat atau mencaci-maki, atau menghinda satu sama lain. Juga tidak ada yang merasa paling benar, paling baik dan paling hebat, yang lainnya tidak. Semua sepakat, ingin kompak bersatu membangun Indonesia, terutama menyentuh rakyat kecil, masyarakat ekonomi menengah ke bawah, yang perlu sentuhan tersendiri untuk menuntun mereka keluar dari lingkar kemiskinan. Keluar dari permasalahan yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, tetapi masih terus terjadi berulang-ulang, sehingga wajahnya adalah tampilan kemiskinan.

Sebagai lembaga, sampai tahun buku 2016 Puskopdit BKCU Kalimantan memiliki 43 anggota CU primer, dan pada tahun buku 2017 bertambah anggota baru 2 CU primer. Menurut Sunardi, sebenarnya bukan sungguh-sungguh baru, tetapi karena gerakkan BKCU Kalimantan memiliki konsep penmgembangan; kalau sudah cukup besar lembaganya dan mungkin wilayah kerjanya cukup jauh, maka primer tersebut dibimbing untuk memandirikan program layanan kepada anggota dari salah satu kantor Tempat Pelayanan (TP). Dua CU primer baru yang diterima sebagai anggota itu merupakan pemandirian 2 kantor TP, yaitu dari CU Mekar Kasih melahirkan CU Mentari Kasih (CUMK) dan CU Barerod Gratia melahirkan CU Krida Raharja (CUKR). Kelahiran kedua CU baru tersebut diiringi dengan kegembiraan, bukan karena perceraian.

Bagi gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan, ber-CU adalah menghayati hidup dengan penuh suka cita. Bukan bersukacita membangun CU tetapi kemudian berkelai karena berbagai masalah yang ditimbulkan oleh apa yang telah dilakukan oleh gerakkan itu sendiri. Lahirnya CU baru, diharapkan selalu ada suka cita. Jangan sampai ada pertengkaran dan perdebatan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup anggota melalui credit union.

RAT yang dilaksanakan di Hotel Silvya, Maumere itu mengusung tema: Shaping Our Future. Tetapi tak berhenti di situ, harus lanjut dengan connect collaborate and differentiate. “Tema ini bukan gagah-gahan, tetapi karena semua semangat yang mengingatkan kami kalau mengelola CU haruslah sungguh-sungguh. Kalau kita merasa tidak yakin mengelola CU sungguh-sungguh, silahkan cari lagi. Karena itu kami bicara masa depan, mendiskusikan masa depan supaya cita-cita tidak hilang ditelan zaman,” tegas Sunardi.

Kita, lanjut dia, tidak boleh marah-marah kepada lembaga lain, atau koperasi lain jika di kemudian hari hilang. Tetapi boleh marah pada diri sendiri karena tidak mempersiapkan bagaimana di masa yang akan datang. Oleh karena itu banyak diskusi melalui seminar. Dalam diskusi itu sadar bahwa masa depan harus dirancang. Conect, hal yang harus dilakukan secara bersama-sama, melibatkan banyak orang, terutama anggota CU, karena tugas pengembangan CU bukan hanya kepada pengurus dan pengelola, tetapi pada semua anggota. Sebab, CU milik anggota.

Anggota bukan hanya mengaku sebagai anggota, tetapi harus merasakan dia sebagai pemilik. Dengan demikian dia bisa ikut serta, diberikan kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengembangan maupun dalam pembahasan koperasi sendiri. Disamping itu juga menyadari kita harus memiliki regulasi, sebuah nilai tambah yang lebih tinggi. Ada macam-macam kopi, tapi kemudian muncul kopi luwak. Hanya memlaui proses luwak (dimakan) menjadi mahal. Menjadi penasaran kita dibuatnya. Ada berbagai macam sugguhan kopi. Di Jogya, misalnya, ada kopi joss. Sebenarnya kopi biasa, tetapi bikinnya dikasih bara arang sehingga bunyi josss. Harganya menjadi lebih mahal, dan telah menjadi hidangan kuliner pariwisata di Jogya.

Sunardi mengatakan bahwa gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan ingin tidak sekedar Credit Union, tidak sekedar koperasi. Tetapi ingin Kopdit yang memiliki sebuah differentiate yang dilakukan bersama-sama. Apa itu differensiete-nya? CU masing-masing yang menentukan, tetapi dalam gerakan juga dipastikan. Misalnya, setiap CU dalam jaringan BKCU Kalimantan harus menciptakan sebuah produk solidaritas. Produk solidaritas itu bentuknya berkelompok, misalnya setiap CU anggota membayar iuran Rp 100 ribu dalam setahun, untuk iuran Solduka – Santunan Duka Anggota.

Ketentuannya jelas, harus meninggal dunia. Kalau anggota meninggal dunia ahliwarisnya menerima santunan solidaritas dari sesama anggota CU dalam bentuk rupiah, Rp 10 juta, misalnya. Angkanya satu CU dengan CU lain bisa berbeda, sesuai dengan kemampuan CU masing-masing. Kalau tidak meningal, menunggu kesempatan berikutnya. Uang ini bukan sekedar menghibur-hibur tetapi menjadi nilai tambah dari kebersamaan. Apa pun yang pahit, bisa dilakukan bersama-sama.

Gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan bukan saja menjadi sekunder terbesar dalam jaringan GKKI, baik dilihat dari sisi aset maupun jumlah anggota individu, tahun 2017 ini juga mengukir sejarah baru lantaran salah satu CU Primer anggotanya, CU Sauan Sibarrung, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, meraih penghargaan internasional Accsses Branding dari Asian Confederation Credit Union (ACCU). Prestasi itu tidak hanya mengharumkan CU Sauan Sibarrung atau Puskopdit BKCU Kalimantan, tetapi juga GKKI atau CUCO Indonesia, karena memang baru kali pertama kita meraih prestasi internasional ini.

“Meskipun meraih prestasi internasional, kami tidak akan menyombongkan diri, hanya di BKCU Kalimantan yang bisa menerima access branding. Prestasi itu kami persembahkan untuk Koperasi Indonesia. Kami memang keras kepada anggota, dan tidak main-main dalam mengelola lembaga. Sebab, ketika koperasi itu menjadi rusak karena salah kelola, yang menderita bukan pengurus dan pengelola, yang menderita adalah anggota,” jelas Sunardi. Oleh karena itu, lanjut dia, melaui Dinas Koperasi masing-masing, melalui Kementerian Koperasi agar selalu dilihat, diawasi, ditegur, dibimbing dan dinasehati, supaya selalu berada di jalur koperasi Indonesia. Jalur koperasi yang melaksanakan prinsip-prinsip dan nilai-nialai koperasi.

Menurut Eduardus N Sugi Watu, Bendahara Inkopdit, Puskopdit BKCU Kalimantan dengan CU CU Primer-nya telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan koperasi di Indonesia. “CU adalah rumah kita. Walau antara CU satu dengan CU yang lain ada sedikit perbedaan, tetapi tetap satu rumah. Karena itu tidak perlu ada pikiran yang mengkotak-kotakan, misalnya, ini CU Kalimantan, CU Flores, CU Sumatera, dan lain-lain. Dengan napas dan prinsip-prinsip dasar CU itulah yang menyatukan kita,” tegas Eduardus.

Perkembangan GKKI, lanjut dia, tak lepas dari sejarah panjang yang dirintis 40 tahun silam. Pada awalnya, untuk mengembangkan gerakkan credit union di Indonesia mendapat support dan bantuan dari Negara lain. Mereka menyakini bahwa credit union sungguh cocok untuk dikembangkan di Indoensia, karena kita punya landasan perekonomian koperasi. Saat ini kita sudah bisa mandiri, tetapi perlu disadari jika masih ada Puskopdit yang kopdit-kopdit primernya belum berkembang baik, dan membutuhkan perhatian dari sesama gerakkan. Kita perlu terus membangun solidaritas dalam rangka membangun gerakkan koperasi kredit di Indonesia. Yang kecil didorong untuk berkembang, yang sudah besar perlu dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya.

Perkembangan GKKI sebenarnya cukup menggembirakan. Namun memperhatikan trauma kejadian koperasi jenis lain membuat CU harus lebih berhati-hati jika tidak ingin hancur bersama stikma masyarakat terhadap koperasi pada umumnya. Data per 31 Desember 2016 menggambarkan jumlah anggota GKKI yang ada di kopdit-kopdit primer 2.865.000 lebih. Ada pertumbuhan, tetapi tidak cukup besar. Padahal, harapan dan cita-cita GKKI tahun 2020 anggota individu harus mencapai 10 juta orang. “Angkanya memang masih sangat jauh, namun seluruh anggota gerakkan akan berupaya kerja keras sehingga jumlah anggota itu akan mendakati. Dengan semangat kebersamaan saya yakin target bisa dicapai,” katanya optimis.

Sesuai visi dasar gerakkan credit union, melepaskan masyarakat dari ketergantungan bantuan dari luar, maka harus dibangun di atas pondasi kekuatan sendiri dalam semangat solidaritas, dan keswadayaan. Dengan itu kita tiada hentinya berpegang teguh pada 4 pilar gerakkan yaitu; pendidikan, swadaya, solidaritas dan inovasi. Kalau dalam koperasi pada umumnya mungkin pendidikan cuma slogan, tetapi untuk gerakkan CU, pendidikan menjadi kewajiban bagi seseorang bila ingin menjadi anggota. Banyak primer telah melakukan inovasi terkait pendidikan wirausaha kepada kelompok-kelompok. BKCU Kalimantan dengan jaringan primernya boleh menjadi contoh dari kegiatan-kegiatan ini.

Gerakkan Kopdit senantiasa membangun kekuatan dan kemandirian melalui prinsip swadaya. Jika BKCU tegas menolak dana dari luar, tetapi Kopdit di Flores, Kopdit Obor Mas, misalnya, masih mau menerima penyaluran KUR. Ini juga satu-satunya yang mengikuti program KUR dari pemerintah. “Karena kita berada dalam satu rumah, dengan pikiran yang berbeda, instink-instink bisnis yang berbeda, tidak harus membuat kita saling menilai,” kata Eduardus  berharap.

Di tempat lain banyak kelompok dengan nama sejenis koperasi simpan pinjam yang mendapat dana bantuan dari pemerintah. Dan ini, tidak berhasil – jarang sekali yang berhasil, karena masing-masing mempertentangkan berapa duit yang diberikan oleh pemerintah, sudah digunakan untuk apa. Tetapi dengan prinsip keswadayaan yang kuat, kita tidak pernah mempersoalkan itu. Masing-masing tahu diri bahwa semua uang adalah kontribusi dan jumlahnya masing-masing yang berbeda.

Semangat solidaritas yang membuat terus berkembang karena saling membantu. Satu orang anggota, akan membantu anggota yang lain dalam konteks kesulitan. Bukan tidak mungkin, primer yang satu akan membantu primer yang lain dalam konteks Puskopdit. Dan dalam konteks GKKI, Puskopdit yang satu harus bisa membantu Puskopdit yang lain. Puskopdit BKCU bisa memberikan contoh-contoh yang baik; mpendidikan, pendampingan, bagi gerakkan kopdit-kopdit yang lain. Juga bisa memberikan peluang sebagai tempat pembelajaran bagi primer-primer di wilayah yang lain.

Disadari bahwa dalam gerakkan credit union, ke depan dihadapkan dengan berbagai tantangan. Tantangan yang dihadapi bisa jadi dari internal sendiri. Tantangan internal lebih kepada manajemen dan mental; pengurus dan pengawas yang cenderung melihat Kopdit sebagai gerakkan yang memiliki uang, komitmen dan integritas menjadi berkurang. Sikap itu harus dibuang jauh-jauh, dan mengabaikan hal-hal yang terkait dengan uang. Karenanya, untuk membangun dan mengembangkan gerakkan harus dibangun komitmen dan integritas moral yang tinggi.

Hambatan lain, tingkat pemahaman anggota maupun manajemen tentang jati diri, nilai-nilai dan prinsip CU masih kurang. Pemahaman yang kurang menjadikan praktek pengelolaan CU keluar dari koridor dan jati diri yang semestinya. Faktor lain, penentuan kebijakan yang tidak demokratis dan sikap apatis anggota yang pasrah menerima atas penetapan kebijakan. Sering kita temukan itu ketika pengurus dengan nafas otoriternya pada akhirnya memaksakan kehendak untuk membuat kebijakan yang mau tidak mau harus diikuti oleh anggota. Namun hal ini tak terjadi dalam gerakkan Puskopdit BKCU Kalimantan.

Momok terbesar adalah kredit macet yang perlu dicarikan solusi serius untuk bisa menyelesaikannya. Kita terlalu terbuka, terlalu bebas karena anggota selain sebagai pemilik juga pengguna, sehingga dalam konteks pelayanan pinjaman syarat-syaratnya cenderung lebih mudah dibandingkan dengan lembaga lain. Dampak dari kemudahan itu kita dihadapkan pada persoalan macet – lalai. Hal ini perlu disiasati dengan berbagai cara sehingga pinjaman yang diberikan harus benar-benar sesuai dengan persyaratan. (mar)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

DR.Ir Nursatyo Argo, MM: Susah Menjalankan Koperasi Jika Tidak Dengan Cinta

Karena ingin lebih sejahtera, Kamis 17 Maret 1983 karyawan-kayawati PT Pertamina, Direktorat Perkapalan dan Komunikasi mendirikan Koperasi Tankers Pertamina Shiping. Setahun kemudian, tepat di Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 12 Juli 1984 koperasi yang lebih sering disebut Kopereasi Tankers itu didaftarkan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Koperasi DKI Jakarta untuk mendapatkan legalitas badan hukum (BH).

Seperti kebanyakan koperasi pegawai yang dikelola secara sambilan, tidak fokus dan hanya paruh waktu, setelah tumbuh jatuh bangun pun terjadi. Itu masa lalu, sebelum nahkoda koperasi dipercayakan kepada DR.Ir Nursatyo Argo,MM, 9 tahun silam. Namun kini, seperti peribahasa; Sekali Berlayar Pantang Surut. Dengan pengelolaan yang serius, fokus dan profesional, didukung tenaga-tenaga kreatif, inovatif dan produktif, Koperasi Tankers terus meroket.

Ketika dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) teman-temannya mendaulat untuk menahkodai koperasi, Argo yang wisuda Doktor Teknologi Kelautan dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, 7 Maret 2017 merasa “dijerumuskan” karena koperasi adalah bidang usaha yang sama sekali tidak dipahaminya. “Waktu itu benar-benar tidak tahu tentang koperasi,” tuturnya berterus terang. Namun dia tidak menyerah. Ketidaktahuan itu dianggap sebagai tantangan yang harus dihadapi untuk memenuhi harapan anggota, sejahtera bersama.

Koperasi Tankers kini telah menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia dengan kekayaan bersih per 31 Desember 2016 sebesar Rp 93.492.934.285,- Kekayaan yang dimiliki oleh 1.034 anggota itu mengalami kenaikan 11,09% dibandingkan tahun buku 2015 yang baru Rp 84.261.832.585,- Koperasi Tanker tidak hanya beranggotakan pegawai tetap, namun juga karyawan kontrak. Jumlah anggota dari karyawan kontrak cukup besar, 384 orang, dari pensiunan 31 orang, juga ada anggota dari karyawan Bank Mandiri.

Sisa hasil usaha (SHU) tahun buku 2016 sebesar Rp 6.026.548.105,- Capaian sedikit menurun, beda-beda tipis dibandingkan tahun buku 2015, karena PT Perta Samudera yang menjadi andalan di tahun-tahun sebelumnya, sekarang diarahkan mencari proyek di luar Pertamina pendapatannya tahun 2016 menurun cukup besar. Faktor lain, adanya pembelian aset baru, sebidang tanah seluas 70 meter persegi berikut bangunan di atasnya 3 ½ lantai. Sekarang koperasi sudah punya 2 gedung kantor sendiri, di daerah Walang Baru Jakarta Utara dan Kelapagading. Kelak, kantor itu untuk ekspansi ke luar. Saat ini memang belum jalan, tetapi semua anak-anak perusahaan sewaktu-waktu siap pindah dari Pertamina.

Karena membeli aset baru, dan kena musibah, barang yang tenggelam ke dasar laut senilai Rp 1,5 miliar, secara bisnis penghasilan koperasi tidak turun. Bila dihitung pendapatan usaha masih Rp 7,5 miliar lebih. Walau penghasilan turun, namun kegiatan sosial tetap dilaksanakan. Terutama pemberian beasiswa kepada anak-anak anggota. Bea siswa yang awalnya (2013) hanya Rp 40 juta, terus ditingkatkan, tahun 2016 menjadi Rp 100 juta. Demikian juga apresiasi bagi anggota, baik untuk umroh – wisata rohani dipertahankan dan tetap dilaksanakan sesuai dengan situasi keuangan koperasi.

Kapasitas koperasi yang terus meningkat, dan Undang-undang (UU) No 25 tahun 1992 Pasal 43 ayat 3 membenarkan bahwa koperasi boleh berperan utama di segala bidang kehidupan ekonomi rakyat, juga UU No 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, Pasal 50 huruf (h – i) mengecualikan koperasi, maka pengurus manfaatkan kesempatan untuk memperluas bidang usaha. Tujuannya guna meningkatkan kesejahteraan anggota. Ada 4 anak perusahaan yang didirikan yaitu; PT Tanker Mandiri, PT Tanker Samudera Mandiri, PT Perta Samudera, dan PT Samudera Perdana Maritim. Semua anak perusahaan itu usahanya tidak jauh-jauh dari laut dan perkapalan.

PT Tanker Mandiri anak koperasi pertama yang direkturnya dijabat oleh H.M Dahlan pensiunan dari Pertamina, didirikan pada 10 Agustus 2006. Awal 2008 PT Tanker Mandiri mendapat kepercayaan dari PT Pertamina (Persero) Perkapalan untuk mengelola tenaga operator PC, sekretaris dan penyelam tenik bawah air. Peluang bisnis lainnya melaksanakan perbaikan-perbaikan kapal yang memerlukan tenaga penyelam. Setelah kontrak kerja 1 tahun selesai diperpanjang menjadi 2 tahun.

Karena Pertamina membutuhkan tenaga-tenaga penyelam profesional, dan para penyelam juga membutuhkan Sertifikat Internasional, M Dahlan menjembatani untuk menyelenggarakan pendidikan bersertifikat internasional. Untuk itu pengajarnya juga yang diakui dunia internasional. Maka diudanglah pengajar dari IMCA yang berkator pusat di London, Inggris. Bisa dibayangkan, biayanya pasti mahal. Untuk meringankan peserta, kecuali memfasilitasi peralatan untuk praktek, Pertamina juga memberikan subsidi. Kekurangannya, sekitar Rp 25 juta per orang dibayar peserta kursus. “Karena mereka kami kontrak selama 2 tahun untuk mengerjakan proyek dari Pertamina, kami memberikan pinjaman uang. Pengembaliannya dicicil potong gaji selama 2 tahun juga. Kita sama-sama untung. Anak-anak dapat sertifikat yang diakui dunia internasional, Pertamina dan kami dapat tenaga-tenaga professional,” jelas Dahlan.

Melihat kesempatan terbuka begitu lebar pada 12 Agustus 2007 lahirlah anak kedua, PT Perta Samudera, Zamila Launuru  sebagai direkturnya. PT Perta Samudera bergerak di bidang jasa perbaikan kapal tanker, khususnya armada tanker PT Pertamina Perkapalan. Sebagai perusahaan baru, tidak mudah mendapatkan pekerjaan, apalagi kepercayaan. Hal itu karena sifat pekerjaan yang ditangani sangat spesifik dan membutuhkan keahlian, yaitu; running repair, perbaikan kapal dengan waktu terbatas – saat kapal sandar. Jika akurasi dan analisa waktu tidak tepat, bisa kelihalangan kesempatan, karena kapal harus melanjutkan perjalanan ke pelabuhan lain. Agar tidak kehilangan peluang, sekaligus untuk membangun kepercayaan, PT Perta Samudera mencari mitra kerja yang benar-benar ahli di bidangnya.

Karena selama memimpin Perta Samudera Zamila mampu menunjukan kinerjanya berkualitas baik, kini dipercaya secara khusus untuk konsentrasi mengembangkan usahanya di luar Pertamina. Istilahnya berburu ikan besar di lautan luas, dan harus menghadapi persaingan luar biasa ketat. “Sudah jalan, dan menghasilkan, tetapi belum maju banget. Diharapkan ke depan lebih kenceng lagi,” jelas Argo. Dulu sering mengikuti tender dan menang, tetapi masih di lingkup Pertamina. Sekarang harus bertarung bebas dengan orang luar. Kata Argo, biar berproses karena pada akhirnya memang harus begitu. Potensi di luar sangat besar, namun butuh proses dan pengalaman. Intinya, perlu informasi sebanyak mungkin, mencari ke mana-mana. Baik di kementerian atau lembaga pemerintah lainnya.

Menurut Zamila mencari proyek di luar Pertamina, memang tidak gampang. Kalau di Pertamina sudah tahu rimbanya, tetapi di luar masih harus memilah-milah. Perta Samudera telah kerja sama dengan PT Pelni. Juga tengah menjajaki berbagai peluang, namun masih sering terbentur masalah personil. Kapal-kapal di luar Pertamina pada umumnya kapal-kapal kecil, seperti kapal tongkang. Tetapi jumlahnya banyak, dan kansnya di luar ke depan lebih besar. Tahun 2016 hasil dari proyek di luar Pertamina belum banyak, tetapi setidak-tidaknya sudah mulai belajar untuk tidak terus-menerus hanya mengandalkan pekerjaan di seputar Pertamina. “Kita harus siap bersaing di luar. Potensi itu ada,” tegas Argo.

Karena keahliannya di lingkup perkapalan, yang dibidik pekerjaan-pekerjaan yang masih sejalan dengan perkapalan. Merawat boiler – ketel kapal, keahlian itu bisa dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan di luar perkapalan, di sumur minyak, misalnya. Di Indonesia banyak sumur minyak yang sudah tua, dan minyak mentahnya mengental. Agar minyak mentah mencair dan bisa disedot ke atas, disemprotkan uap panas yang dihasilkan dari boiler. Banyak pekerjaan seperti; pemipaan, pengukuran tanki, boiler, water treatmen, dan sebagainya. Namanya bisnis, walau potensinya besar orang lain banyak juga yang bisa melakukan.

Karena Koperasi Tankers memperoleh penguatan modal dengan bunga rendah dari Bank Mandiri maupun Bank Syariah Mandiri (BSM), mitra kerja dibayar terlebih dulu atas pekerjaan yang diberikan. Satu nilai plus, yang jarang dilakaukan perusahaan lain. Cara itu berdampak pada Reduce Cost yang cukup signifikan sehingga Saving Cost semakin tinggi. Soal keuntungan relatif kecil – untung tipis pun, tidak apa-apa, karena tujuan koperasi untuk membantu perusahaan. Ketika tender koperasi bagus, harga yang ditawarkan bagus, mendorong mitra yang lain mengikuti irama yang diciptakan oleh koperasi. Ketika koperasi menang tender kualitas tetap jadi pegangan. Jangan sampai orang lain menawarkan dengan harga lebih murah, tetapi memberikan kualitas barang yang rendah. Bagian pengadaan material harus mencari barang ke luar negeri; ke China, Jepang, Korea, atau ke mana saja. Yang penting bisa mendapatkan sumber yang bagus, baik kualitas maupun harganya.

Guna mereguk peluang bisnis di luar lingkup perusahaan, pada 27 Februari 2008 koperasi mendirikan PT Tanker Samudera Mandiri. Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan, ekspor – impor, grosir, suplai, leveransir, distributor, commission house, peragenan dan sebagainya. Kegiatan perdagangan yang ditangani antara lain; computer, peralatan transmisi dan telekomunikasi, civil engineering, peralatan deck, mesin kapal dan alat bantunya. Kegiatan bidang jasa meliputi persewaan mesin dan peralatannya, jasa instalasi, perawatan, ekspedisi, pengepakan, dan pergudangan (bukan veem). Untuk impor barang berhubungan langsung dengan pihak pabrikan di Jepang, Korea maupun Singapura sehingga bisa mendapatkan bahan berkualitas bagus dengan harga lebih rendah, sehingga ketika dijual bisa memberikan harga lebih kompetitif dibanding perusahaan lain.

Hampir 10 tahun Argo berupaya memenuhi harapan para anggota. Karena harapan itu menjadi kenyataan, anggota sepertinya tidak rela jika Argo meninggalkan koperasi. Terbukti, ketika masa bakti kepengurusan berakhir mereka tetap mendaulatnya menjadi ketua. Masa bakti periode ke-3 (pemilihan 2014) yang mestinya hanya 3 tahun, pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2015 ketentuannya diubah dari 3 tahun menjadi 5 tahun. Karena RAT pemegang kekuasaan tertinggi, Argo tidak bisa mengelak. Apalagi dia juga mengaku; sekarang merasa semakin kerasan di koperasi.

“Sebenarnya telah beberapa kali menyampaikan kepada anggota supaya diganti, tetapi karena anggota masih mengehendaki, dan saya juga merasa masih menikmati tugas yang sangat baik ini, membuat semakin kerasan,” urai Argo saat berbincang denga Majalah UKM. Yang dipikirkan, lanjut dia, mengenai regenarasi. Tidak bagus juga bagi koperasi jika terus-menerus hanya bergantung pada seseorang. Mengaku tidak bisa selamanya mengelola koperasi, harus mencari generasi penurusnya. Dalam waktu dekat diharapkan sudah muncul generasi muda.

“Setelah pengurus berganti bukan berarti tidak memikirkan koperasi lagi. Hati saya tetap di koperasi dan akan selalu mensuport teman-teman agar koperasi terus berkembang. Sewaktu-waktu dibutuhkan, siap membantu koperasi,” tegas Argo. Bahkan, lanjut dia, tidak diminta pun akan tetap memperhatikan koperasi. Bentuk suport dan darma bakti seperti apa, harus dipikirkan dan didefinisikan bersama pengurus. Bisa saja, misalnya, aktif di salah satu anak perusahaan – menjadi penasehat, memberikan masukan pengurus dan manajemen. Intinya, harus ada regenerasi. Bergabungnya 2 personil potensial; Budiharjo, pensiunan direktur operasi di salah satu anak perusahaan PT Pertamina, dan Toha, mantan manajer teknik di Pertamina karena kecintaannya kepada koperasi. “Mengelola koperasi jika tidak didasari kecintaan, susah. Mereka sekarang kerja full time di koperasi,” tegas Argo.

Tahun 2016 bisnis Koperasi Tankers mengalami “kecelakaan” kecil. Salah satu anak perusahaan memenangkan tender. Pengadaan peralatan itu harus dimpor dari luar negeri. Selama ini, ketika mendapat proyek dan barangnya harus impor, tidak pernah diasuransikan, aman-aman saja. Namun kali ini, nasib kurang baik terjadi. Peralatan senilai Rp 1,5 miliar kejebur dan tenggelam ke dasar laut, tak bisa diambil. Argo mengakui, hal itu akibat sistem – prosedur yang belum rapi, kurang hati-hati, keteledoran pekerja. Dari pengalaman tersebut sistem kerja di koperasi diperbaiki. Untuk proyek-proyek dengan nilai tertentu, harus diasuransikan. “Dulu tidak. Kasaranya, seperti bekerja di rumah sendiri, yakin pasti aman. Sekarang dibuat aturan lebih ketat, lebih baik, lebih rapih. Intinya, semua resiko dipetakan – dimitigasi jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lagi,” jelasnya.

Unit Simpan Pinjam (USP) untuk memenuhi kebutuhan anggota dalam hal keuangan, misalnya, untuk modal usaha, biaya pendidikan anak sekolah dan dana talangan untuk kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya, kini bukan hanya sekedar cukup. Jumlah pinjaman yang diberikan bervariasi, mulai dari Rp 5 juta sampai dengan Rp 200 juta dengan jasa – bunga cukup rendaha, 1% per bulan dari pokok pinjaman. Untuk keperluan anggota, kata Jones Nababan, Bendahara Koperasi Tankers, cukup tersedia dari kas lembaga – koperasi. Artinya, untuk kebutuhan anggota tidak perlu pinjam ke bank.

Jika parameter sejahtera adalah terlayaninya kebutuhan anggota, misalnya, pinjam uang mudah, belanja kebutuhan sehari-hari di toko koperasi lengkap, hal itu telah memenuhi. Bahkan pengurus mampu “memanjakan” anggota dengan pinjam sampai Rp 400 juta. Padahal dulu untuk pinjam Rp 1 juta saja sulit, harus antri berhari-hari, sekarang hanya hitungan jam. Kru-kru yang dikontrak minimal setahun, dan karyawan Pertamina yang belum menjadi anggota koperasi juga boleh pinjam uang di koperasi dengan jasa 1,2% per bulan, atau lebih tinggi 0,2% dari anggota. Pengembaliannya aman, karena potong gaji. Setelah menikmati manfaat koperasi para karyawan itu diharapkan mau menjadi anggota koperasi. Saat ini, dari 1.034 anggota sebagian mendekati usia pensiun. Kalau pesiun lalu keluar dari koperasi, jumlah anggota akan semakin berkurang.

Untuk kali pertama, menutup tahun buku 2016, Koperasi Tanker berhasil melunasi seluruh hutangnya di bank. Biasanya, mengawali tahun buku masih punya utang sekitar Rp 20 miliar. “Namun tahun 2017 mengawali dengan zero – nol utang,” jelas Jones. Dengan tidak memiliki utang bank, maka beban biaya membayar bunga tidak ada. Dalam ilmu ekonomi, dengan mengurangi biaya, penghasilkan akan bertambah. Dari sisi biaya, berusaha mencari peluang-peluang agar dapat eksis kembali. Ini salah satu upaya penghematan. “Kalau untuk membiayai proyek-proyek, yang membutuhkan dana puluhan miliar misalnya, memang belum bisa sendiri, harus pinjam ke pihak ketiga, bank,” jelas Jones seraya menambahkan bahwa sukses saat ini, berkat keberhasilan mempelajari – menganalisa – mencari jalan keluar dan berinovasi dari pengalaman – pasang surut masa lalu.

Dengan motto; Bersama Kita Meraih Bahagia yang ingin diraih bukan hanya sejahtera tetapi juga bahagia. Makin banyak uang makin sejahtera. Tetapi belum tentu bahagia. Bahagia itu, lebih pada rasa. Karenanya, sering diadakan gathering – rekreasi bersama bagi seluruh pengurus dan anggota yang berkontribusi besar terhadap koperasi. Liburan bersama di luar kota seperti mengadakan arung jeram, atau out bond untuk membangun spirit kebersamaan, mencari ide bersama-sama. Kegiatan seperti itu penting dan sangat besar manfaatnya.

Kebersamaan adalah investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya. Cita-cita berkoperasi yang terpenting membangun kebersamaan, dan sejahtera bersama. Anggota merasa bahagia jika SHU-nya besar. Itu yang tampak secara materiil. Yang tidak tampak – non materiil bahwa dalam berkoperasi kita tulus untuk membantu anggota. Mereka merasakan itu ketika mengalami kesulitan, bisa pinjam uang ke koperasi. Untuk hal-hal yang sifatnya emergency larinya ke koperasi. Bangga karena koperasi bisa memenuhi kebutuhan dengan cepat, tidak sulit. Dirasakan sangat membantu, terutama bagi anggota yang sedang punya masalah, ada keluarga sakit, isteri mau melahirkan, koperasi bisa dijadikan andalan.

Untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya gathering – kebersamaan juga melibatkan keluarga. Tidak pernah dilarangan, mau mengajak anak, cucu silahkan. Hal ini dimaksudkan agar keluarganya juga mengerti manfaat berkoperasi sehingga menumbuhkan kebanggaan menjadi anggota koperasi – pengurus koperasi. Dengan demikian mereka merasa, ini lho tempat kita bersama-sama, kita satu keluarga besar yang dibangun melalui koperasi.

Untuk meningkatkan kualitas kinerja sumber daya manusia (SDM) – karyawan, koperasi menyelenggarakan pelatihan. Setiap hari Senin diadakan koordinasi dengan unit-unit usaha, Selasa dan Kamis belajar bahasa Inggris. Khususnya untuk karyawan muda sebagai persiapan regenerasi. Karena pada akhirnya merekalah yang akan melanjutkan kegiatan usaha. Hari Rabu, di bawah pimpinan Sunarto yang mantan chip engenering kapal dan Boy, mendalami teknik perkapalan agar mereka memahami dari halauan sampai buritan. Hari Jumat, Jones dan Dahlan memberikan motivasi dari sudut religius secara umum karena keyakinan karyawan berbeda-beda. “Jika dalam suatu perusahaan moralitas karyawan kurang bagus, berbahaya,” tegas Jones.

Kebijakan lain, semua anak perusahaan terintegrasi. Sehingga, jika misalnya, ketika PT Perta Samudera dapat proyek tetapi dananya tidak cukup, bisa pinjam dulu ke PT Tankers Samudera Mandiri. Demikian pula sebaliknya. Toh, secara kelembagaan induknya koperasi. Untuk proyek senilai Rp 500 juta – Rp 1 miliar, koperasi pasti bisa meng-handle. Tetapi ketika dapat proyek yang nilainya Rp 5 miliar – Rp 10 miliar, harus cari pinjaman ke pihak ketiga, bank. Namun harus diperhitungkan, dalam waktu 3 bulan lunas agar beban bunga tidak terlalu berat. Dengan terintegrasi lebih memudahkan anak-anak perusahaan mencari pinjaman. Istilahnya dari ruang sebelah ke ruang sebelah lainnya.

Tahun 2016 Koperasi Tankers menambah satu anak perusahaan PT Samudera Perdana Maritim. Anak perusahaan yang dipimpin Sunarto itu mulai aktif April 2016. Anak perusahaan ini diharapkan mensubstitusi PT Perta Samudera yang fokus kepada pekerjaan di luar PT Pertamina. Potensi bisnis di perkapalan cukup besar, tetapi tantangan juga berat. Karena personil sebagian besar anak-anak muda, punya inovasi – terobosan lebih baik, termasuk mencari referensi harga sehingga lebih kompetitif.

Menurut Sunarto, mitra di perkapalan masih membutuhkan. “Ketika mengalami kesulitan, ada kapal bermasalah, misalnya, larinya pasti ke kami. Mungkin, jika minta bantuan ke tempat lain kurang kondusif. Pertamina perkapalan, masih ada perhatian ke koperasi,” jelas Sunarto yang dipercaya sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Samudera Perdana Maritim. Kebijakan mengintegrasikan anak-anak perusahaan, menurut Dahlan, tidak hanya soal modal, tetapi juga masalah pengerjaan proyek. Misalnya, yang dapat proyek PT Samudera Perdana Maritim, tetapi yang mengerjakan PT Tanker Mandiri. Soal kualitas kinerja, berani menjamin lebih baik dibandingkan dengan yang lain. Tenaga-tenaga profesional itu sertifikatnya diakui internasional.

Untuk melakukan doking – membersihkan kapal yang berkarat, agar biayanya tidak terlalu tinggi menggunakan pasir gunung. Kebutuhan pasir sangat besar. Untuk di Sorong saja bisa mencapai 400 – 500 ton per tahun. Karena di Sorong tidak ada pasir gunung yang baik – bisa digunakan untuk membersihkan kapal, harus  mendatangkan dari Lumajang, Jawa Timur. Yang menjadi persoalan, ongkosnya lebih mahal daripada harga pasirnya. Untuk menghilangkan kerang dilambung kapal bisa disemprot pakai air. Ada yang menggunakan cairan kimia, tetapi biayanya tinggi.

Saat ini PT Samudera Perdana Maritim tengah mengajukan permohonan kerja sama dengan Petamina untuk mengelola bengkel yang sedang vakum. Workshop – bengkel milik Pertamina itu saat ini tidak dikelola. “Dulu ada yang mengelola namun sudah dikembalikan ke Pertamina. Kami mengajukan permohonan ingin memanfaatkan untuk perbaikan kapal-kapal Pertamina juga. Lokasinya di daerah Sunter, cukup bagus. Ruangannya besar, sudah ada peralatannya. Kami mengajukan kontrak maintenance untuk berbaikan kapal. Ini upaya untuk meningkatkan penghasilan bagi koperasi secara keseluruhan,” jelas Sunarto terkait dengan terobosannya mencari proyek.

Adanya kebijakan pemerintah bahwa pembangunan Indonesia ke depan harus mengoptimalkan potensi laut kita, menurut Sunarto, yang bisa digarap luar biasa. Baik untuk pendistribusian ekonomi; bahan baku atau perdagangan. Karena Indonesia Negara pulau pasti membutuhkan kapal. Pahitnya, jika Indoneia tidak punya kilang minyak, dan sumber energinya sudah habis dieksplorasi, juga tidak ada minyak, masih punya laut, punya kapal. Kita masih bisa membangun, ambil dari sana. – ambil sini dan kapal akan menjadi motor penggerak ekonomi di berbagai daerah. (dm)

Posted in Cerita Sampul | Tagged | Leave a comment

Jual Uang pun Kurang Laku

Mentahari yang melintasi Kota Khatulistiwa – Pontianak, Kalimantan Barat, telah lingsir sore. Warga masyarakat pun mulai meninggalkan aktivitas rutinnya. Mereka ada yang langsung pulang ke rumah masing-masing, tak sedikit pula yang melepas penat santai di kedai-kedai kopi. Salah satu kedai kopi yang tampilannya sangat berbeda dengan kedai kopi pada umumnya yaitu Rumah Pantun di jalan raya menuju Desa Kapur, salah satu wilayah di perbatasan Kota Pontianak dan Kubu Raya yang kini telah berkembang pesat.

Singgah di Rumah Pantun suasananya memang sangat berbeda dengan kafe pada umumnya. Ada fasilitas Wifi gratis, itu biasa. Sehingga pengunjung, khususnya kaum muda, mahasiswa sambil menikmati kopi khas Kalimantan dan cemilan, bisa chating sambil menikmati hilir-mudik kesibukan di jalan raya. Perbedaan yang tiada duanya di mana pun, seluruh dinding tembok terpajang ribuan pantun karya Agus Rahman, yang popular dipanggil Agus Muare, si empunya Rumah Pantun. Ribuan pantun itu sebagian terbingkai apik, sebagian lainnya belum dibingkai, tetapi dipajang rapih.

Tamu-tamu yang baru kali pertama singgah, sambil menunggu pesanan kopi, biasanya membaca-baca pantun penuh makna yang ditulis dalam bahasa Melayu. Jika beruntung, Agus sendiri yang meracik dan menghidangkan kopinya, sejenak menemani berbincang. Itu jika dia tidak siaran di RRI Pontianak, atau selesai melayani warga Desa Kapur, karena Agus memang Kepala Desa Kapur, atau sedang tidak berkantor di CU Muare Pesisir, dimana dia juga sebagai ketuanya. Ngopi sambil menikmati pisang goreng hangat, membuat betah berbincang ngalor-ngidul. Ada yang ngobrol soal bisnis, pekerjaan kantor, ada yang ngomongi ekonomi dan politik. Di meja lain, ada yang mantengi layar laptop, chating atau menyelesaikan pekerjaan.

Terkait persoalan ekonomi, kinerja pemerintah di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo diapresiasi positif. Walau tidak cukup signifikan, namun dalam 2 tahun terakhir Kabinet Kerja mampu menunjukan kinerjanya dengan baik sehingga perekonomian Indonesia bertumbuh. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sampai akhir Mei 2017 misalnya, pertumbuhan mencapai 5,02% berada diurutan ke-13 dunia, atau urutan ke-3 di antara Negara-negara anggota G-20. Diharapkan, sampai akhir 2017 bisa mencapai kisaran 5,5%. Tahun 2016 pertumbuhannya 5,02% atau lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 yang hanya sebesar 4,88%.

Walau secara global perekonomian kita terus bertumbuh namun belum mampu mendorong daya beli masyarakat. Akibatnya, dagang uang pun tidak begitu laku. Hal itu diungkapkan, Agus Rahman. CUMP yang juga disebut Koperasi Kredit (Kopdit), dengan usaha tunggalnya simpan pinjam; menghimpun uang dari anggota dalam produk simpanan, kemudian menjual kembali kepada anggota sebagai pinjaman, tahun 2016 stagnan. Anggota ditawari pinjam, tidak mau pinjam. Yang pinjam pun kecil-kecil, hanya setara tabungannya. Mereka takut tidak bisa bayar karena harga karet dan sawit jatuh. Karena pendapatan menurun, sementara biaya operasional tetap, akibatnya merugi.

“Memang tidak ada sisa hasil usaha (SHU) namun semua hak-hak anggota, seperti balas jasa tabungan terpenuhi, tidak ada yang dikurangi,” kata Agus saat berbincang dengan Majalah UKM di Kafe Rumah Pantun, usaha baru yang dikelolanya. Dalam kegiatan – proses usaha, apa pun jenis usahanya, termasuk simpan pinjam, kata dia, lumrah terjadi turun naik. CUMP yang baru 14 tahun masih banyak kekurangan, dan harus belajar dari CU lain. Banyak juga CU besar yang pernah mengalami masa-masa tidak nyaman.

Agus mengaku, berprinsip pada logika alam. Sesuatu yang cepat tumbuh dan berkembang, jika tidak berhati-hati juga bisa cepat tewas. Sedangkan sesuatu yang berproses dengan segala kesulitan, suatu saat akan tumbuh menjadi besar dan kuat. “Saya yakin, CUMP pasti akan mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu. Pengalaman tahun buku 2016 akan menjadi energy baru untuk melangkah ke depan menuju lebih baik. Tanda-tanda koperasi – CU akan tetatp hidup – tumbuh – berkembang dan maju jika masih melaksanakan RAT. Dan CUMP masih mampu melaksanakan RAT di sebuah hotel berbintang. Tetapi semua pengurus dan pengawas, kerja setahun tidak dapat insentif. RAT pun pakai baju yang lama. Demikian pula manajemen tidak beli baju baru. Yang menggembirakan, anggota tetap semangat dan optimis,” urainya.

Karena itu, lanjut dia, suatu saat kelak, CUMP pasti tumbuh menjadi besar dan kuat. Saat ini ada faktor-faktor yang bukan dalam kuasa kita. Buktinya, tidak semua cabang – tempat pelayanan (TP) CUMP merugi. CUMP memiliki 6 cabang, ada 3 cabang untung, dan 3 cabang lainnya rugi. Rata-rata cabang yang di kota terjadi minus. Yang untung itu Cabang Punggur, Teluk Bagedai, dan Siantan. Sedangkan yang minus; Cabang Pontianak, Sungai Raya dan Kakap. Karena masih ada cabang yang surplus, itu yang membuat tidak kawatir. Kalau dibilang CUMP minus, itu secara konsulidasi, karena masih ada cabang yang surplus. Suatu saat, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama pasti akan pulih kembali,” katanya optimis.

Setelah kinerja pengurus dan manajemen CUMP dipertanggungajawabkan dan dievaluasi dalam rapat anggota tahunan (RAT) tahun buku 2016 yang dilaksanakan bulan Maret 2017, langkah yang segera dilakukan adalah meningkatkan kapasitas kinerja manajemen dengan me-rolling penempatan, khususnya untuk pimpinan cabang. Mereka juga diberikan tugas-tugas baru. Rotasi merupakan hasil keputusan bersama, tidak tiba-tiba keluar surat. Hal itu dimaksudkan untuk penyegaran, biar tidak jenuh.

DI CUMP semua terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi. Sebab, karyawan pun menjadi anggota. Semua memiliki, semua harus menjaga keutuhan lembaga. “Namun program prioritas”, tegasnya, “harus jual uang.” Pendidikan dan pelatihan (Diklat) bagi manajemen, pengurus, pengawas dan anggota juga keharusan. Kedua program itu dinilai merupakan solusi paling tepat. Diprediksi, tahun 2017 akan lebih baik, mengikuti tren positif pertumbuhan perekonomian nasional. “Apalagi para pekebun karet dan sawit anggota CUMP mulai tersenyum karena harga karet dan sawit mulai naik. Saya yakin, tahun 2017 akan lebih baik,” tegasnya.

Menurut Agus, anggota CUMP yang punya kegiatan produktif, walaupun usaha kecil-kecilan, buka warung kelontong di rumah atau dagang di pasar, jumlahnya cukup besar, sekitar 60% dari total anggota yang jumlahnya 3.800 orang. Tahun 2016 CUMP memang tidak fokus mengejar jumlah anggota dan aset, tapi fokus pada peningkatan kualitas sumber daya, dan bebenah menyeluruh guna memperkokoh pondasi lembaga. Termasuk mengurus legalitas lembaga. “Legalitas lembaga sangat penting untuk memenuhi perintah perundang-undangan. Apalagi CUMP juga semakin besar. Selama ini (13 th) baru memiliki akta pendirian dari notaris. Sejak 2016 CUMP telah memiliki badan hukum (BH) dari Kementerian Koperasi dan UKM,” jelasnya.

Kondisi sepanjang tahun 2016, menurut Agus memang berat. Pendapatan anggota rata-rata turun. “Saya sendiri punya beberapa tempat usaha, tetapi omzetnya semua turun,” katanya memberi contoh. Untuk mendorong agar anggota yang punya kegiatan bisnis bisa mengembangkan usahanya, mereka diberikan pendampingan. Guna mempermudah pendampingan, tahun 2017 CUMP meluncurkan program baru; KUMA – Kelompok Usaha Bersama atau kelompok basis. Karena program baru, baru terbentuk 2 kelompok. Setiap kelompok anggotanya 5 – 10 orang, tidak lebih. Walapun namanya kelompok basis, namun usaha mereka tidak sama, tetapi saling melengkapi. Kelompok peternak ikan, misalnya, ada anggota yang memproduksi pakannya. Jadi saling berkontribusi. Pekebun karet dan pekebun sawit juga bisa menjadi kelompok basis, tetapi sekarang belum terbentuk. “Program pemberdayaan kelompok basis ini baru, masih harus banyak belajar,” jelas Agus.

Sebagai lembaga keuangan, kata Agus, ke depan CUMP akan lebih fokus pada program pemberdayaan anggota guna meningkatkan taraf hidup. Anggota pinjam uang ke CU bukan untuk konsumtif, tetapi untuk kegiatan produktif. Ini memang tidak mudah, karena tidak setiap orang – anggota punya jiwa wirausaha. Seorang wirausaha harus mau kerja keras, tekun, teliti, dan inovatif. Agar tidak semata-mata sebagai penganjur – menyuruh anggota mempunyai kegiatan produktif, pengurus harus menjadi contoh. Saat ini rata-rata pengurus, pengawas, manajer dan beberapa staf manajemen CUMP sudah punya kegiatan usaha.

“Kalau kita mau mengajarkan orang berwirausaha, kita sendiri juga harus berwirausaha. Bagaimana mungkin kita bisa menyampaikan dengan baik kepada anggota tentang wirausaha jika kita sendiri tidak berwirausaha,” kata Agus yang memang sebelum bergabung dengan CUMP tahun 2010 telah berbisnis. Dengan memiliki usaha, ketika menyampaikan kepada orang lain mereka percaya, tidak hanya berteori. Saat masih bekerja di perusahaan parmasi (1997), Agus sudah berdagang kecil-kecilan sampai akhirnya punya Mini Market Pasundan.

Disamping bekerja, kata dia, kita harus punya usaha. Terutama jika kita kerja di swasta, harus ada persiapan – belajar, untuk berjaga-jaga bila terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), atau jenuh menjadi karyawan sudah punya usaha sendiri. Yang mengelola sehari-hari bisa saja orang lain, isteri atau saduadara, tidak masalah. General Manager (GM) CUMP, Mustain, misalnya, punya warung jualan sepatu dan sendal yang mengelola juga isterinya. Kalau usahanya belum meningkat, paling tidak mampu bertahan. Sebab, berusaha itu sangat tergantung bagaimana kondisi ekonomi pada umumnya.

Melihat pengurus, pengawas, manajer dan beberapa staf punya kegiatan usaha, anggota pun kemudian banyak yang ingin punya kegiatan usaha. Anggota yang sudah berwirausaha, kata dia, walau masih kecil-kecilan sudah cukup banyak, lebih dari 60%. “Namu belum cukup untuk bercerita bahwa mereka telah mencapai taraf sejahtera,” katanya berterus terang. Untuk meningkatkan sumber daya, ada program pendidikan, pelatihan dan pendampingan. Karena GM CUMP sendiri pernah mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, dialah salah satu tutor, disamping juga sering mengundang narasumber lain. Bila orang yang menjadi pemateri juga berwirausaha, secara psologis peserta akan lebih percaya. Berbeda, misalnya, jika apa yang disampaikan narasumber itu hanya teori, peserta akan bilang; “dia hanya ngomong”.

Terkait dengan Rumah Pantun, merk usaha barunya, Agus mengatakan; “Saya mencintai seni, khususnya pantun, satu yang menjadi pertanyaan sampai saat ini, kenapa seni pantun kurang diminati masyarakat. Karena itu saya menulis pantun dan membuat rumah pantun. Saya bersyukur di lingkungan credit union, khususnya dalam jejaring BKCU Kalimantan yang anggotanya dari Sumatera sampai Papua, saya diberi ruang untuk berkarya. Dalam berbagai pertemuan saya selalu diberi kesempatan untuk berbantun. Ini luar biasa.” Ketika membuat rumah pantun, kata dia, ada orang yang datang melihat sebentar, lalu pergi lagi. Kemudian Agus berfikir, bagaimana kalau membuat kedai kopi di dalamnya penuh dengan pantun.

Dengan menjual kopi, dan cemilan ringan, ada wifi gratis, anak-anak muda diharapkan duduk berlama-lama menikmati kopi sambil melihat sebuah karya yang sangat sederhana dari seniman kampung. Pesan dari Warung Kopi Pantun adalah bagaimana memasyarakat pantun dengan kopi. Sebab kopi bisa ninikmati oleh segala lini, mulai dari anak-anak muda sampai orang tua bisa menikmati kopi. “Melalui kopi saya bisa melampiaskan hasrat seni yang ada dalam pikiran. Pantun itu dituangkan di gelasnya, atau mugnya. Sebagai buah tangan dijua jual juga kaos yang ada pantunya,” jelas Agus. Dengan cara seperti itu seni pantun diharapkan makin digemari masyarakat, sehingga tidak punah, Menurut saya, respon dari masyarakat luar biasa. Semua yang datang, membaca pantun dan berkomentarm,” katanya berbunga-bunga.

Biasanya, kata dia, dating di warung kopi tidak ada yang foto-foto selfi. Tetapi hampir semua yang datang di kedai ini berswafoto. “Ada juga yang minta foto bersama dengan saya,” jelasnya seraya menambahkan bahwa sudah mulai ada mahasiswa yang datang dan menanyakan seluk-beluk tentang pantun. Seni pantun itu ada, dan indah pada zamannya. “Saya pun pingin punya museum pantun. Itu mimpinya. Apakah menjadi kenyataan, tak tahu. Tetapi mulai sekarang harus disampaikan kepada banyak orang bahwa museum pantun itu penting. Museum pantun bukan hanya untuk karyanya Agus Muare, tetapi untuk karya pantun dari seluruh pelosok Nusantara,” tegasnya.

Saat ini sedang menjalin kerja sama dengan berbagai mass media untuk mempromosikan pantun. RRI Pontianak telah membuka pintu sejak 2 tahun silam, seminggu sekali Agus siaran – berinteraksi dengan pendengar. Juga melalui teve lokal, RUI TV, dan berbagai mass media di Kalimantan Barat. Dari Dinas Pariwisata juga memberikan respon positif. “Kedai Pantun atau Warkop Pantun akan dijadikan ikon. Kalau mau dijadikan ikon, butuh modal cukup besar karena harus ada di mana-mana. Sedangkan Warkop Pantun ini mengumpulkan uang recehan, kecil-kecil. Apakah ada yang mau berkolaburasi, yang keuntungannya boleh diambil bukan hanya untuk kehidupan, tetapi juga untuk membangun museum pantun,” tanya  Agus. (my)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Koperasi Merindukan Kemitraan Dengan Bulog

Beberapa tahun terakhir bermunculan Kopmart dan CU Mart, atau koperasi retail. Pertumbuhannya cukup signifkan menyebar ke berbagai daerah; Pontianak, Sintang, Jogya, Bantul, Sleman, Purwokerto, Lampung, Makassar, Palangka Raya, Bandung, Jakarta, Surabaya, Maumere, Medan dan sebagainya. Kopmart termasuk jenis koperasi konsumen – serba usaha. Saat ini belum ada data terpilah berapa banyak Kopmart di Indonesia. Tahun 2016 telah terbentuk Induk Koperasi Retail (Inkur). Bertepatan palaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) perdana Mei 2017 yang diselenggarkan di Wisma Inkopdit, Jakarta, Deputi Menteri Koperasi dan UKM Bidang Kelembagaan, Meliadi Sembiring, menyerahkan langsung Badan Hukum (BH) Inkur.

Apa bedanya Kopmart dengan Koperasi Serba Usaha (KSU) yang juga punya toko dan menyediakan barang kebutuhan sehari-hari untuk melayani anggota dan masyarakat umum? Barang-barang yang dijual di Kopmart sebagian besar juga seperti yang dijual di toko-toko KSU, produk kapitalis. Paham kapitalis sangat dibenci gerakkan koperasi, tetapi produknya tetap disenangi. Sedangkan produk usaha kecil menengah (UKM) hanya sebagai suplemen kecil, seperti nasib koperasi dalam perekonomian Indonesia. Padahal, produk apa yang tidak dihasilkan UKM? Kualitasnya kurang baik, itu yang dijadikan alasan pemilik Kopmart dan CU Mart untuk tidak cukup luas membuka ruang bagi produ-produk UKM. Karenanya jangan berharap produk-produk UKM akan semakin berkualitas, jika gerakkan koperasi yang anti kapitalis juga tidak mau memberi kesempatan tumbuh dan berkembang dengan membuka ruang tokonya lebih luas?

Suatu hari Majalah UKM berkesempatan bincang-bincang dengan salah seorang praktisi koperasi, H Sugiharto, yang 40 tahun silam bersama kelompok arisan di RT-nya mendirikan KSU Tunas Jaya. Tentang Kopmart yang kini terus bermunculan dia mengaku sama sekali belum dapat informasi. Kopmart dulu, kata dia, pada dasarnya jejaring Alfamart bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Tujuannya agar koperasi-koperasi yang memiliki unit usaha toko, seperti KSU bisa bekerja sama dengan Alfamart.

Sebagai pilot proyek, di kantor-kantor Dinas Koperasi dan UKM tingkat Provinsi – Suku Dinas (Sudin) Kota dibuka mini market yang suplai barang-barang sepenuhnya dari Alfamart. Namun, karena modelnya franschise, persyaratannya pun rumit tidak banyak koperasi yang tertarik. Waktu itu koperasi lebih banyak bekerja sama dengan perusahaan lain, Omi. “Kopmart yang sekarang apakah berdiri sendiri atau berafiliasi dengan Alfamart atau Indomaret,” saya sama sekali tidak tahu,” jelas Sugiharto.

Semakin banyaknya Kopmart – CU Mart karena didukung adanya kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) yang cukup kondusif. Banyak Pemda tidak memberikan izin baru bagi mini market. Pemda Kabupaten Sleman, misalnya, bahkan mengurangi jumlah mini market (Alfamart dan Indomaret) sampai 50% dari 180 yang ada kini tinggal 91 saja. Kemudian mereka didorong menjalin kerja sama dengan koperasi. Maka bermunculan Kopmart dengan warna cat toko yang belum berubah dari brand Alfamart, meski sudah menggunakan nama baru.

Sebagai pebisnis, jejaring Alfamart – Indomaret mudah saja mengubah strategi bisnisnya. Sedikit demi sedikit mengurangi autletnya yang sebagian besar hanya kontrak ruangan, dengan tidak memperpanjang lagi kontrak-kontrak yang sudah habis, kemudian bekerja sama dengan koperasi. Syaratnya, manajemen, system, maupun distribusi barang tetap saja dikendalikan oleh jejaring kapilatis tersebut. Di Jakarta ada beberapa Kopmart dan toko koperasi di luar KSU yang telah bekerja sama dengan jejaring Alfamart. Misalnya, mini market milik; Kokarga, Swadarma, Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ) Kopmart UIN, CU Mart Mandiri Sejahtera, dan masih banyak lagi. Sehingga item barang yang dijual lebih lengkap, dan penataan displainya lebih menarik.

Kalau beberapa daerah mengeluarkan kebijakan tidak memberikan izin baru membuka Alfamart atau Indomaret, atau menutup yang kontraknya sudah habis, di Sumatera Barat (Sumbar) kebijakan Gubermur tegas melarang masuknya hypermart dan mini market Alfamart – Indomaret. Kebijakan itu dilaksanakan oleh semua Bupati dan Walikota, sehingga di Padang, Bukit Tinggi, Sawahlunto, dan kota-kota di Sumbar lainnya sama sekali tidak ada Alfamart dan Indomaret. “Yang ada Minangmart,” jelas Sugiharto yang 2 tahun silam diajak Pemda DKI Jakarta study banding ke Sumbar.

Tidak diberikannya kesempatan Hypermart, Lotemart, Carreffour, Alfamart dan  Indomaret masuk ke Sumbar karena dikawatirkan akan membunuh pasar tradisonal dan warung-warung kecil. Namun, bukan berarti di Sumbar tidak ada toko-toko modern. “Ada departemen store, mall dan mini market namun semua milik pengusaha Minang. Hal itu bisa terjadi, tergantung kebijakan pemerintahnya; gubernur, walikota dan bupati. Persaingan itu boleh-boleh saja. Tetapi harus ada batas jumlah, batas wilayah dan kepemilikan agar persaingannya sehat dan kesenjangan bisa dikendalikan. Sekarang, batas wilayah, batas jumlah dan kepemilikan tidak ada. Nama perusahaan beda-beda, tapi pada dasarnya pemiliknya satu orang. Akibatnya kesenjangan makin melebar,” jelas Sugiharto.

Kendala yang dialami toko kelontong, warung-warung kecil, termasuk koperasi, kata dia, masalah suplai barang yang jalurnya terlalu panjang. Akibatnya harga menjadi mahal, sehingga tidak mampu bersaing. Soal distribusi, pabrik hanya memproduksi, distributornya ada perusahaan tersendiri. Alfamart dan Indomaret, punya perusahaan suplai PT X yang mengakses ke pabrikan. PT X inilah yang kemudian mendistribusikan kepada outlet-outlet tersebut.

Untuk bisa kerja sama dengan pabrikan, tidak mudah. Banyak persyaratan antara lain; jumlah minimal barang yang harus diambil, harus punya gudang, dan bank garantie. Sekunder (Pus) KSU semula diharapkan mampu berperan sebagai distributor bagi primer-primer KSU. Namun kenyataannya sekunder KSU tidak mampu. Kini, ada celah baru. Koperasi Karyawan (Kopkar) Bukopin setelah membuka outlet-outlet mart di setiap kantor cabang, khususnya di Jawa – Bali, termasuk melayani untuk ngopi, kongkow-kongkow ala 7Eleven (Sevel) yang kini telah resmi tutup buku di Indonesia, juga menawarkan kerja sama kepada KSU Tunas Jaya dan koperasi-koperasi lain yang penting punya ruang untuk buka outlet.

“Saya tertarik. Tetapi, karena outlet mart itu di lingkungan kantor, barang-barang yang tersedia masih relatif tertentu, belum menyangkut kebutuhan pangan. Jika pun ada baru sebagian kecil. Belum ada beras, tepung terigu, minyak sayur, gula masih sedikit. Itu kendalanya. Sedangkan koperasi di masyarakat seperti KSU Tunas Jaya harus lebih banyak menyediakan kebutuhan pangan. Saya cocok lantaran modelnya bukan franschise, tetapi yang penting suplai dari Kopkar Bukopin. Model seperti ini cocok untuk koperasi. Kopkar Bukopin hanya menyediakan sistem dan barang. Masing-masing koperasi boleh menggunakan nama pilihannya, misalnya, Tunas Jaya Mart,” jelas Sugiharto.

Terkait dengan bisnis beras, Sugiharto bisa bercerita panjang lebar, karena dia memang pernah bertahun-tahun bisnis beras, mensuplai warung-warung Tegal maupun berbagai restouran besar, juga rumah makan Padang. Warteg saja, ada yang sehari habis 1 karung, ada yang 2 karung. Ada juga yang 2 hari sekarung. Ketika Jakarta Fair masih di Monas, 10 tahun mesuplai beras di sana. Belum lagi dengan mitra, orang yang ambil untuk dijual lagi, dan tetangga kanan kiri yang belanja ke warungnya. “Sebulan bisa menjual sekitar 100 ton,” jelasnya.

Soal beras, kata dia, pernah ada tim dari Gubernur dan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Provinsi DKI Jakarta survei ke koperasi-koperasi untuk menyusun program pengadaan beras dari Karawang, Subang dan Indramayu. Rencananya, beras itu disalurkan ke koperasi-koperasi di Jakarta. Ide Gubernur (waktu itu) Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) mencari beras dari hulu lalu disalurkan ke koperasi via administrator yang ditunjuk oleh Gubernur sudah benar. Karena adminstrator itu sifatnya hanya untuk melakukan pembayaran, cukup dikenakan fee administrasi, bukan keuntungan. Sebab, jika ambil untung, harga tidak akan bisa bersaing dengan Pasar Induk Cipinang, yang berasnya juga langsung dari hulunya. Namun rencana tersebut sampai sekarang tidak ada kabar kelanjutannya.

Dagang beras di Jakarta persaingannya sangat keras, dan pahit. Barometernya harga beras di Pasar Induk Cipinang. Minimal, harga sama. Contoh, kalau kualitasnya A, jenis A dan harganya A, bisa masuk ada keuntungan. Tetapi jika tidak sama dengan Pasar Induk Cipinang, pasti kalah. “Dalam kondisi tertentu, mencari keuntungan bersih 1% saja tidak dapat. Menghitung untung 2% belum tentu bisa. Beras satu karung harga Rp 150.000,- belum tentu untung bersih Rp 3.000,- Ambil kisaran Rp 2000,- Rp 2.500,- per karung. Kalau dijual eceran, bisa untung Rp 5000,- per karung. Hanya saja, karena dagang beras perputarannya cepat dan rutin, bisa jual 30 – 40 karung per hari, lumayan juga,” jelas Sugiharto, seraya menambahkan bahwa tertarik dagang beras karena tidak punya gaji, dan isteri buka warung di rumah.

Ketika kebutuhan sedang banyak, jelang lebaran, misalnya, Sugiharto langsung ke Pasar Induk Cipinang. Lihat contoh barang, lihat harga dan yang tidak kalah penting, ada jaminan susut. Walau satu karung beras dibilang isinya 50 Kg, isinya belum tentu 50 Kg. Kurang, sudah dimaklumi. Katakan beras itu dari Cianjur, Karawang, Subang atau dari mana saja, ketika baru naik truk sudah ditusuk, turun di pasar ditusuk, mau diantar ke pembeli, ditusuk lagi.

Kadang ada yang nakal, berasnya sengaja dikurangi. Karung dibuka, beras diambil kemudian dijahit lagi pakai mesin. Kalau jaminan susut tak dapat, ruginya semakin besar. Belum lagi dicaci maki oleh pembeli. Itu kalau dijual lagi karungan. “Bila diecer, beli Rp 8000,- dijual Rp 8.500,- paling tinggi Rp 9000,- per Kg dengan harapan dapat untung lumayan. Tetapi jika 1 karung susut sampai 3 Kg berarti Rp 27.000,- hilang. Trus untungnya berapa? Saya jualan beras sejak tahun 1977, jadi paham benar soal dagang beras,” urainya seraya menambahkan bahwa sampai saat ini melalui anak mantu di rumah juga masih dagang beras, kecil-kecilan. Ada warung kecil, yang belanja tetangga-tetangga dekat saja.

Kebutuhan beras pasti sangat besar jelang lebaran, karena, kata dia, untuk zakat. Satu orang 3,5 Kg. Jika penduduk Muslim-nya 8.000.000 X 3,5 Kg = 28.000.000 Kg atau 28 juta ton. Zakat bisa saja dibayar dengan uang, namun lebih afdol dibayar dengan beras, karena kita makan beras – nasi. Kalau beras yang kita makan harganya Rp 10.000,- yang dizakatkan pun harus beras yang harganya Rp 10.000,- tidak boleh dibayar dengan beras yang harganya Rp 9000,- Bayar zakat pun harus jujur.

KSU Tunas Jaya pernah punya 7 outlet. Tetapi kini tinggal satu, lainnya terpaksa ditutup lantaran kalah bersaing dengan mini market. Untuk kebutuhan beras, dulu kerja sama dengan H Ali, salah seorang agen cukup besar, yang disuplai dari Cianjur, Karawang, subang. Juga ditunjang Bulog untuk menyalurkan beras, tepung terigu, gula dan minyak sayur.

Pasar beras layaknya bursa saham. Fluktuasi harga harian. Konsekuensinya, menahan sehari harga bisa turun atau naik. Pedagang beras punya statistic sendiri, berapa beras yang masuk hari ini, dan berapa yang dibutuhkan orang Jakarta, yang hari ini belanja ke Pasar Cipinang. Semua truk yang masuk dan keluar tonasenya didaftar. Input dan output setiap hari juga dihitung. Jika output 100, dan inputnya hanya 80, harga dinaikan. Sehari perubahan harga bisa 2-3 kali. Belanja pagi, bisa berbeda dengan belanja siang. Seperti pasar modal, kurs naik turun setiap saat. Karena ada koordinatornya, melalui HP setiap saat mereka bisa tahu perkembangan.

Waktu Bulog masih menjadi stabilisator harga KSU Tunas Jaya sempat menjadi penyalur. Jika fungsi Bulog sebagai distributor dikembalikan, dan Bulog bukan Perum, para spekulator tidak bisa main-main seenaknya. Contoh, kalau harga bawang di Brebes, di petani Rp 20.000,- kemudian di Jakarta dijual Rp 40.000,- yang kurangajar pasti distributornya. Kalau mau dihitung, biaya distribusi dari Brebes ke Jakarta per Kg tidak akan lebih dari Rp 2.500,- Beras juga sama. Begitu harga di Cipinang naik, Bulog mengeluarkan stock berasnya untuk operasi pasar lewat koperasi.

Awalanya, volume untuk koperasi hanya 5% dari total yang disalurkan, kemudian naik menjadi 10%, sedangkan volume untuk swasta 90%. Baru akan dinaikan menjadi 15% kena krisis. KSU Tunas Jaya yang lulus seleksi oleh Bulok dikasih jatah 20 – 30 ton beras sebulan. Tidak semua KSU otomatis menjadi penyalur dari Bulog. Namun harus memenuhi persyaratan, antara lain; pengelolaan lembaga – manajemen harus baik, punya gudang, punya tenaga cukup dan punya tempat penyaluran, dan punya uang karena harus bayar tunai. Ketika jual pun harus sesuai dengan harga yang ditentukan oleh Bulog, tidak bisa main-main. Kebijakan Menteri Koperasi dan Kepala Bulog, Bustanil Arifin “memanjakan” koperasi membuat Koperasi Pasar (Koppas) dan KSU menikmati kejayaan.

Dulu, kata Sugiharto, yang bisa menjual gula hanya Bulog. Semua pabrik gula, berapa pun produksinya dibeli oleh Bulog. Jadi, stocknya PT itu sudah dibeli Bulog. Kemudian Bulog menjual ke koperasi. Koperasi yang menjadi penyalur, dapat Prinlog (Perintah Logistik), setelah diurus kemudian dapat surat perintah bayar. Setelah dibayar melalui bank, tanda bayarnya dikembalikan ke Bulog, baru kemudian barang dikirim. Kebijakan itu sangat menguntungkan koperasi. Walau jatah koperasi hanya 10% dari total distribusi, mampu berperan efektif mensetabilkan harga. Dengan demikian tujuan pemerintah tercapai, tidak dipermainkan oleh tengkulak. Apalagi harga di pasar juga telah ditentukan oleh Bulog. Kalau swasta mengedarkan di pasar dengan harga seenaknya, tidak akan mendapatkan Prinlog. Bulog tinggal kasih Prinlog ke koperasi, harga akan stabil lagi.

Tetapi sekarang Bulog tidak bisa seperti dulu, karena fungsinya hanya sebagai penibun – stock barang. Kalau pun ada operasi pasar, atas permintaan Pemda. Bulog tidak bisa menjual barangnya di pasar secara bebas. Ini gara-gara dibelenggu oleh IMF. Karena utang di IMF sudah lunas, kita harus berani mengembalikan fungsi Bulog; membuat stock barang, stabilisasi dan distribusi. Tentu melalui perubahan perundang-undangan. “Pelaku koperasi sangat mengharapkan Bulog difungsikan seperti dulu lagi, dan memberikan kesempatan kepada koperasi bermitra,” tutur Sugiharto penuh harap. (nda – my)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Meningkatkan Kontribusi Koperasi dan UMKM Dalam Perekonomian Nasional

Pemerintah, Kementerian Koperasi dan UKM telah mencanangkan program prioritas bahwa sasaran pengembangan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke depan adalah meningkatnya kontribusi dalam perekonomian nasional. Peningkatan kontribusi perekonomian ditunjukan oleh beberapa hal, antara lain;

Pertumbuhan nilai pendapatan domestik bruto (PDB) rata-rata 6,5% – 7% per tahun. Meningkatnya daya saing yang ditunjukkan oleh pertumbuhan  produktivitas UMKM rata-rata sebesar 5% – 7% per tahun. Meningkatnya usaha baru yang berpotensi tumbuh dan invatif yang ditunjukan oleh jumlah pertambahan wirausaha baru sebesar 1 juta unit dalam 5 tahun yang dikontribusikan dari program nasional dan daerah. Meningkatnya kinerja kelembagaan dan usaha koperasi yang ditunjukan oleh peningkatan partisipasi anggota koperasi dalam permodalan dari 52,5% menjadi 55% dalam 5 tahun, dan pertumbuhan usaha koperasi rata-rata sebesar 15,5% – 18% per tahun.

Arah kebijakan dan strategi yang ditempuh pemerintah yaitu meningkatkan daya saing koperasi dan UMKM sehingga mampu tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan dengan skala yang lebih besar – naik kelas dalamrangka untuk kemandirian perekonomian nasional. Untuk itu, strategi yang akan dilaksanakan meliputi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), peningkatan akses pembiayaan dan perluasan skema pembiayaan, peningkatan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran, penguatan kelembagaan usaha, serta kemudahan, kepastian dan perlindungan usaha.

Di bidang pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM sudah melakukan kerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang perluasan akses keuangan dalam rangka pengembangan koperasi dan UMKM. Selain itu, Kemenkop dan UKM juga sebagai anggota tim Satgas Waspada Investasi yang bekerja sama dengan; Kemendag, Kominfo, Kejagung, Polri dan BKPM. Kemenkop dan UKM juga bekerja sama dengan KPPU tentang pelaksanaan pengawasan kemitraan koperasi, UMKM, dengan usaha besar, yang berlanjut dengan pembentukan Satgas Kemitraan Pusat, Provinsi, singga Kabupaten – Kota.

Kemenkop dan UKM rencananya, tahun 2017 juga akan terus menggulirkan beberapa program unggulan. Di antaranya penyelesaian data koperasi melalui Online Database System (ODS), melaksanakan kerja sama dengan Ikatan Notaris Indoensia (INI) bersama Pemda dalam program pembebasan biaya pembuatan akta pendirian koperasi. Selanjutnya, fasilitasi pemberian izin UMKM melalui kerja sama dengan Kemendagri, Kemendag, yang diterbitkan oleh Camat secara gratis, dan juga pemberian hak kekayaan intelektual bagi produk koperasi maupun UMKM.

Sedangkan mengenai pengembangan promosi dan pemasaran produk UMKM dioptimalkan melalui Galeri Indonesia WOW sehingga dapat menampilkan produk-produk yang kreatif.inovatif dan berdaya saing. Disamping itu juga telah dibangun Web Trading Board dengan jumlah anggota sebanyak 4.257 yang tersebar di seluruh Indonesia, dapat diakses melalui www.indonesian-product.biz yang didalamnya terdapat data profil setiap KUKM. Sedangkan terkait program amnesty pajak, walau UMKM kontribusinya cukup besar (61% terhadap PDB) namun 98,4% merupakan usaha mikro dengan aset di bawah Rp 50 juta, dan omset di bawah Rp 300 juta per tahun.

Jadi, bila mau menyasar amnesty pajak adanya di usaha menengah, dan terutama usaha besar. Usaha kecil jumlahnya juga kecil, hanya 15% dengan aset maksimal Rp 200 juta dengan omzet Rp 2,5miliar per tahun. Memang jumlahnya besar, namun ukurannya kecil-kecil. Kemenkop dan UKM justru tengah meminta keringanan pajak bagi pelaku usaha mikro yang jumlahnya mayoritas. Itulah mengapa jumlah UMKM yang ikut amnesty pajak sangat kecil, karena jumlah mikronya sangat besar. Kalau ada usaha mirko yang ikut amnesty pajak, berarti itu sangat luar biasa. (red)

Posted in Dari Redaksi | Tagged | Leave a comment

Poolbag Mengincar Pasar Internasional

Data dari Kementerian Koperasi,  Usaha Kecil dan Menengah menyebutkan, dari 58,4 juta Usaha Mikro, Kecil dan  Menengah (UMKM) di seluruh Indonesia, baru 30 % yang mengakses pembiayaan perbankan. Lembaga keuangan nonbank seperti koperasi simpan pinjam mungkin lebih mudah diakses, tetapi suku bunganya sulit dijangkau. Ini artinya, masih ada masalah permodalan bagi sebagian besar UMKM yang beroperasi di Indonesia. Continue reading

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Terjepit Di Usaha Krupuk Kulit

Anda pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)? Banggalah, karena usaha yang Anda lakukan itu adalah penggerak utama roda ekonom kerakyatan dan mampu menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Bahkan Negara-negara anggota Asia-Pasifik Economic Coorporation (APEC) pun mengakui UMKM punya peran besar dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja. Di seluruh dunia UMKM menyumbang lebih dari 45% dari total gross domestic product (GDP) rata-rata anggota APEC. Continue reading

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Kampung Batik Palbatu Menjadi Tujuan Wisata

Harry Domino, semula seorang entrepreneur – wirausaha yang bergerak di bidang pencetakan undangan pernikahan. Dia punya keinginan mulia, mengubah perkampungan Palbatu, menjadi kawasan yang lebih baik, dan atmosfir kehidupan yang positif. Harry memulai dengan mendirikan sebuah sanggar, melibatkan beberapa pendidik dan perajin batik yang bertugas mengajarkan seni batik kepada warga Palbatu, terutama anak-anak dan perempuan. Continue reading

Posted in Layar Budaya, Umum | Tagged | Leave a comment

Jatuh Bangun Merintis Usaha

Agus Supriyadi

Suatu Negara akan kuat perekonomiannya jika jumlah wirausahanya minimal mencapai 2% dari jumlah penduduk Negara. Jumlah wirausaha Indonesia dari berbagai level, mulai dari tingkat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sampai perusahaan besar saat ini baru mencapai 1,8% dari jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 255 juta jiwa. Karena itu pemerintah terus berupaya mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru, terutama dari generasi muda. Continue reading

Posted in Kiat Sukses | Tagged | Leave a comment