Marselus Sunardi, S.Pd. : CU Harus Segera Menggunakan Teknologi Terkini

Sebagai tradisi Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, setiap Rapat Anggota Tahunan (RAT) tidak hanya formal saja membahas pertanggungjawaban kinerja tahun buku yang lalu, tetapi RAT juga dijadikan media pembelajaran bagi anggota. Karena itu maka, kegiatan-kegiatannya disusun  sebagai pembelajaran sehingga diharapkan para anggota juga melakukan hal yang sama. Karena itu, pelaksanaan RAT biasanya lebih dari 1 hari.

RAT tahun buku 2017 dilaksanakannya selama 4 hari, mulai tanggal 10 – 14 April dengan kegiatan-kegiatan yang diawali dengan doa. Karena peserta yang hadir ada yang Islam, Kristen Protestan, dan Katolik, maka, meski tempatnya terpisah, tetapi waktu doanya bersamaan. Yang Katolik mengadakan misa di Gereja Katedral Santo Yosef, yang Kristen mengadakan kebaktian – ibadah di salah satu ruang di hotel, kemudian yang Islam juga melakukan doa. Oleh panitia masing-masing dicari pemimpinnya, bukan di antara peserta, melainkan dari luar. Yang Kristen dicarikan pendeta, yang Islam juga dicarikan ustadz dari luar. Doa ini merupakan ritual dari tahun ke tahun bahwa kita percaya kepada Allah dan ingin menyerahkan apa yang kita lakukan kepada Tangan Tuhan.

Setelah acara doa menurut ketiga agama tadi kemudian melanjutkannya dengan acara perkenalan. Perkenalan RAT tahun buku 2017 dilaksanakan di Kantor Pusat CU Khatulistiwa Bakti sebagai tuan rumah. Melalui CU kita menyadari bahwa keragaman itu bukan masalah, justru merupakan kekayaan yang kita miliki. Walau kita beragam, tetapi tujuannya sama, yaitu ingin meningkatkan kualitas hidup masyarakat – kualitas hidup para anggota CU. Anggota CU itu, siapa dia, sukunya, agamanya, rasnya, dan segala macam itu bukan menjadi soal. Kita ini aneka, kita ini Pancasila.

Di acara perkenalan bukan sekadar memperkenalkan peserta, sedikit banyak mengenal Pontianak, khususnya Kalimantan Barat, melalui kuliner dan tempat-tempat penting yang ada di Kalimantan Barat. Kuliner yang disuguhkan kepada para peserta memang kuliner khas Pontianak; seperti wingke, lemang, cucur, dan sebagainya. Di tempat – daerah lain pun ada, tetapi kuliner itu sudah menjadi makanan khas Pontianak. Pengurus juga mengundang Dinas Pemuda dan Pariwisata, sehingga setidak-tidaknya dengan kedatangan 300-an peserta RAT dari berbagai daerah, juga mempunyai nilai tambah lain yaitu bagaimana mereka bisa menikmati Kota Pontianak dengan sentuhan pariwisatanya. Harapannya, di lain waktu bisa datang lagi ke Pontianak, karena dalam waktu yang relatif singkat dengan kegiatan yang padat tidak mungkin mereka bisa datang ke semua destinasi – tujuan wisata.

Hari kedua, 11 April 2018 mulai diisi dengan pembelajaran bersama melalui Seminar Nasional, kemudian sharing, kemudian informasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, sekaligus perkenalan calon pengurus dan pengawas periode 2018 – 2020. Pada RAT tahun buku 2017 selain laporan pertanggungjawaban kinerja pengurus dan pengawas juga dilaksanakan pemilihan pengurus dan pengawas. Dalam Seminar Nasional, panitia membuat tema yang sama seperti tema RAT yaitu Credit UnionCreate Values for people and communities. Tema ini memang menggunakan bahasa Ingris karena susah untuk menuliskannya dalam bahasa Indonesia yang pendek, singkat, dan pas. Tema tersebut dipilih untuk menyambung tema RAT tahun lalu, 2016 di Maumere yaitu; Shaping Our Future – membentuk masa depan bersama kita dengan 3 indikator yaitu; Connect – Collaborate – Differentiate.

Tahun ini, pertimbangannya memilih tema Credit UnionCreate Values for people and communities, menyambung tahun lalu, karena ketika melihat di lapangan banyak orang mengatakan; koperasi itu kalah bersaing. Memang, kalau dibandingkan koperasi dengan lembaga keuangan lain, perbankan, misalnya, benarlah itu. Seharusnya, koperasi dibandingkan dengan koperasi, misalnya, Koperasi Kredit (Kopdit) dengan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) atau dengan koperasi jenis lain.   Tetapi tidak apa, koperasi dibandingkan dengan yang lainnya supaya tetap berdaya saing, dan pada akhirnya tidak kalah saing, maka orang-orang yang menjadi penggerak koperasi, khususnya Kopdit harus mampu menciptakan nilai tambah. Nilai-nilai yang beda dengan di tempat lain, yang menjadi pengikat bagi gerakan CU.

Karena itu para penggerak CU ingin, jangan CU – KSP ini terjerembab oleh pemahaman sekadar simpan pinjam sebagai lembaga keuangan semata. Tetapi gerakan CU itu ingin mempertegas; Menciptakan koperasi yang benar-benar membuktikan jatidirinya yaitu; dari – oleh, dan untuk anggota. Kalau koperasi sudah mampu menunjukkan dirinya dari – oleh – untuk anggota, maka semangat hidup bersama di dalam masyarakat itulah yang dibawa ke dalam koperasi, dikembangkan lagi di koperasi menjadi semangat kita bersama. Jika gerakan koperasi sepekat mengembangkan nilai, maka koperasi itu tidak akan ditinggalkan oleh para anggotanya.

Nilai yang umum – nilai universal sesuai dengan nilai-nilai koperasi itu jelas oke, semua koperasi melaksanakannya. Tetapi CU harus menyentuh lagi dengan nilai-nilai yang unik, sesuatu yang bisa menjadi gerakan bersama, sekaligus menjadi penguat bagi gerakan CU – ruhnya, maka sejak tahun 2018 berupaya menyadarkan – mengingatkan bahwa setiap koperasi – setiap CU harus menghidupi – menghayati apa yang disebut three in one Credit Union. Yang disebut three in one Credit Union yaitu; member – anggota, leader – kepemimpinan, dan volenteer – sukarelawan.

Ketika koperasi itu menyadari bahwa para anggota memiliki 3 peran atau 3 fungsi sekaligus yang tidak bisa dipisah-pisah yaitu; anggota – kepemimpinan – sukarelawan tadi, diyakini akan menunjang untuk pembangunan CU – Koperasi yang sehat, aman, dan berkelanjutan. Karena CU – Koperasi yang sehat – aman – berkelanjutan itu tidak cukup hanya di tangan segelintir orang yang kebetulan menjabat sebagai pengurus. Atau segelintir orang yang menjadi pegawai – pengelola CU atau koperasi, tetapi juga diperlukan partisipasi dari semua anggota, di mana setiap anggota menyadari bahwa dirinya benar-benar anggota.

Banyak lembaga koperasi yang anggotanya baru mengaku anggota jika koperasinya untung, koperasinya bagus, koperasinya bisa memberikan nilai tambah untuk dirinya. Tetapi kalau masalah di koperasinya mereka tidak mau mengakui, dan mengatakan; “Itu urusan kalian.” Contoh, ketika ada aset bermasalah – pinjaman macet – tidak terbayar, tidak semua anggota paham bahwa dia sebenarnya juga punya tanggung untuk bisa ikut menagih. Tetapi di banyak tempat – koperasi, anggota itu mengatakan: “Itu bukan tugas saya. Itu tugasnya pengurus – manajemen.”

Begitu juga fungsi leader – pemimpin, seharusnya semua anggota CU – Koperasi menyadari bahwa dia adalah seorang pemimpin. Pertama, pemimpin untuk dirinya sendiri, kemudian dia juga bisa memimpin orang lain yang ada di kelompoknya atau di komunitasnya, tidak harus sebagai pengurus – pengawas, atau manajemen, tetapi di setiap saat mereka bisa mengambil bagian sebagai pemimpin. Karena diperlukan pemimpin-pemimpin untuk memastikan kemajuan dan perkembangan lembaga. Selain sebagai pembimpin, dia juga sebagai anggota. Maka anggota dan leader itu dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Kemudian ada yang disebut volenteer – sukarelawan, yaitu semangat yang tumbuh dari diri seseorang yang di mana dia ingin melakukan sesuatu dengan tujuan yang dia tahu, baik. Diharapkan anggota CU – Koperasi juga memiliki jiwa sukarelawan yang tinggi. Karena, jika semua hal itu berbayar, merekrut – mengajak teman menjadi anggota CU – Koperasi saja minta dibayar, itu bukan CU – Koperasi lagi, tetapi sudah menjadi multilevel atau agen asuransi yang jika dapat anggota baru mendapatkan bonus. Kita ingin mengajak orang lain menjadi anggota CU – Koperasi karena kita tahu dengan demikian ada peluang orang itu berubah, dan hidupnya menjadi lebih baik. Itulah kebahagiaan seorang sukarelawan.

Karena itu dalam Seminar Nasional, sehari penuh membahas bagaimana CU menciptakan nilai tambah, menciptakan nilai yang tidak di semua lembaga ada, agar menjadi perekat bagi gerakan CU itu sendiri. Nilai-nilai lain, atau sentuhan-sentuhan lainnya pengurus masih mengingatkan bahwa apa yang secara tradisional – secara tradisi dilakukan oleh gerakan CU tetap harus dilakukan. Di lapangan ada praktik ber-CU yang keliru. Ada sekelompok orang ingin membangun CU, tetapi hanya sebagai basis mengelola modal kapital – modal uang, bukan modal sosial. Seharusnya modal sosial juga dikelola. Sehingga CU itu tidak terjebak kepada sekadar mengumpulkan orang, namanya dicatat dikasih buku kemudian disuruh beraktivitas.

Gerakan CU ingin lebih dalam bahwa setiap CU harus bertanggung jawab dengan masyarakat yang menjadi anggota – pemiliknya, yaitu dengan melakukan pemberdayaan kepada anggota secara berkelanjutan dan berkualitas. Pemberdayaan anggota berkelanjutan dan berkualitas itu, CU harus membuat aktivitas-aktivitas yang memang menjadi bagian dari kehidupan anggota – masyarakat. Yang dilakukan orang CU, satu maju, yang lain juga harus ikut bersama-sama maju. Kita bisa maju bersama, melalui kelompok, misalnya. Karena itu di CU dikembangkan di kelompok basis ada pengembangan usaha. Kelompok binaan itu lebih cenderung pada kegiatan usaha. Kalau kelompok usahanya berkembang dan maju, serapan modal yang sudah tersedia di CU melalui pinjaman akan lebih cepat berkembang.

Kalau usahanya berkembang, kualitas hidup anggota juga meningkat. Tetapi memang sering terjadi kurang jeli, CU hanya memberikan pinjaman kepada anggota, sementara mungkin tidak bersaing, bahkan mungkin lebih mahal. Melalui kegiatan seminar dan sharing, pengurus – sampai pengurus primer disadarkan untuk mencoba melihat peluang di mana anggota bisa berkembang, misalnya, melalui pinjaman dari CU jangan sampai pinjaman tersebut masih berbiaya tinggi. Jangan sampai pinjaman itu masih bisa dibandingkan dengan di tempat lain yang lebih murah. Create Values-nya ada di sana, CU tidak bagi-bagi uang. CU bukan lembaga sosial, CU juga bukan lembaga Caritas – pemberi bantuan cuma-cuma. CU bisa memaksimalkan modal yang terkumpul melalui anggota, kemudian memberikan pinjaman kepada anggota dengan jasa yang lebih murah. Sehingga dengan demikian anggotanya bisa memiliki daya saing, memiliki minat untuk tetap setia dengan CU.

Seminar difasilitasi narasumber “orang dalam” Romo Fredy Rante Taruk, Pr., yang kebetulan adalah Ketua CU Sauan Sibarrung, Toraja, aktivis sekaligus penggerak gerakan CU, yang CU-nya merupakan CU Indonesia pertama yang telah berhasil meraih Access Branding dari ACCU. Kemudian dilanjutkan oleh Merselus Sunardi, untuk mempertajam bagaimana hal itu terjadi. Pengurus memang sengaja mengambil narasumber dari dalam gerakan BKCU Kalimantan sendiri, agar konsepnya tidak mengambang, dan bisa diimplementasikan. Kalau ambil dari luar, bisa saja lebih hebat, tetapi akan percuma jika tidak bisa dilaksanakan.

Pengurus menyadari bahwa Create Values-nya mampu menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman. Kalau dulu CU – Koperasi itu serba sederhana, kegiatannya manual saja, tidak salah kalau akhirnya kita beralih dari yang paling sederhana itu ke yang agak lebih maju, bahkan menggunakan teknologi yang canggih untuk kenyaman anggota. Untuk membantu pembenahan sistem yang ada sehingga pelayanan kepada anggota lebih baik. Karena itu dalam Create Values juga diharapkan teknologi informasi bisa dimaksimalkan oleh setiap CU. Ada yang dilakukan secara bersama-sama, ada juga yang dilakukan oleh masing-masing CU. Kalau masing-masing semua bebannya menjadi berat. Saat ini sudah ada CU yang mengembangkan penggunaan pembayaran elektronik – E-payment dengan menggunakan HP android. Anggota juga bisa bertransaksi untuk dirinya sendiri. Misalnya, tidak sempat datang ke kantor untuk setor angsuran, dia bisa bertraksaksi lewat HP-nya sehingga tidak terjadi keterlambatan.

Anggota bisa kirim uang, kalau dulu menggunakan fasilitas orang lain sekarang bisa kirim uang ke orang tua, anak, atau saudaranya yang jauh di sana dengan sentuhan jari saja. Anggota bisa beli pulsa, membayar rekening listrik, rekening air, dan segala macam dengan menggunakan aplikasi tersebut yang disesuaikan dengan situasi yang ada di CU masing-masing. Dengan adanya CU menggunakan aplikasi, muncullah pertanyaan; “Sekarang CU sudah seperti bank, ya?” Sekali lagi, tidak bisa CU dibandingkan dengan bank. Tetapi hal yang baik, yang bisa menolong masyarakat, tidak ada salahnya juga dimanfaatkan. Saat ini, beberapa CU sudah ada yang punya Anjungan Tunai Mandiri (ATM). ATM bukan untuk penghimpunan dana, melainkan untuk pelayanan anggota agar lebih cepat dan lebih nyaman. (adit – mar)

 

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *