Masjid Bergerak Bersama Koperasi

Jumlah masjid di Indonesia saat ini, tercatat sebanyak 800.000 unit. Dari jumlah itu, diprediksi ekonomi umat bisa mencapai Rp80 triliun – Rp 100 triliun dari sumbangan kotak amal. Masjid, sejatinya bukan hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga bisa mengembangkan berbagai jenis bisnis.

Kini, Koperasi Syariah 212 menggandeng seluruh masjid di Indonesia. Dengan harapan, umat mampu mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi, sehingga ke depan mampu meningkatkan ekonominya. Demikian dikemukakan Ketua I Koperasi Syariah 212, Valentino Dinsi disela-sela peluncuran pembangunan Apartemen Tower 212 di Depok, Jawa Barat. Menggandeng seluruh masjid di Indonesia, kata dia, untuk menarik jamaah bergabung di koperasi.

“Jika 2017 jumlah anggota Koperasi Syariah 2012 mencapai 17.000 orang, kini, hampir mencapai 50.000 orang. Saat ini, ada tiga bidang usaha yang digeluti Koperasi Syariah 212, yakni keuangan – reksadana syariah, properti dan ritel. Targetnya, dalam 10 tahun ke depan nilai aset koperasi bisa mencapai Rp 212 triliun” ujarnya. Usaha bidang propert sudah dimulai, membangun aparetemen tower 212 di Depok, Jawa Barat. Koperasi Syariah 212 juga akan membangun jejaring mini market Kita Mart. Valintino berkisah, dulu, ketika kaum Muslim hijrah dari Makkah ke Madinah, Rasulullah SAW melakukan tiga hal pokok. Pertama, membangun masjid, lalu mempersaudarakan golongan Muhajirin dengan golongan Anshar, dan ketiga menguasai pasar.

“Tiga hal yang dilakukan Rasulullah SAW tersebut memiliki peran sangat strategis dalam penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Masjid yang dibangun pada masa itu tidak sekadar berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan yang mencakup berbagai urusan. Dari ekonomi, sosial, politik dan budaya. Setiap kebijakan penting yang diambil Rasulullah dan sahabat selalu melalui proses musyawarah di masjid. Sementara, hubungan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar sengaja dibangun Rasulullah SAW untuk memperbaiki ekonomi umat Islam yang hijrah dari Makkah ke Madinah,” urai Benny Mustofa S Ag dari KSP Kodanua.

Dikemukakan pula, pada masa itu, para sahabat yang datang dari Makkah hanya membawa perbekaan seadanya. Sesampainya di Madinah, kondisi kaum Muhajirin begitu memprihatinkan karena mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk menyambung hidup. Namun, lewat hubungan persaudaraan yang dibangun dengan penduduk Madinah, kaum Muhajirin memiliki pegangan hidup karena dibantu oleh saudara-saudara mereka dari kalangan Anshar.

Dari situ, kemudian terwujud pula mobilisasi sosial dan kapital lewat perintah zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, Rasulullah SAW berhasil menggerakkan perekonomian umat Islam dalam waktu yang terbilang amat singkat. Madinah pun segera menjelma menjadi negara yang besar dan kuat di zamannya. Benny mengusulkan, ada khatib yang mau megangkat tema ekonomi lewat khotbah. Misalnya, bagaimana caranya mendidik umat agar mampu mengambil peluang bisnis yang ada.

“Pada tataran konseptual tentang bisnis untuk kepentingan ekonomi umat, sebenarnya tidak ada masalah. Sangat bagus malah. Saya menilai tradisi diskursus semacam itu perlu dibiasakan mulai sekarang agar umat Islam di Tanah Air bisa semakin maju dan mandiri secara ekonomi ke depan” papar KH Anshori Yak’ub MA imam Masjid Jami Nurul Iman RW 02 Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Ketika disinggung seberapa penting pembahasan ekonomi umat di masjid dewasa ini, KH Anshori Yak’ub menegaskan, sangat penting. Dia pribadi justru mengimbau agar dakwah tentang konsep bisnis dan pembangunan ekonomi umat disampaikan di mimbar-mimbar masjid. Terutama pada saat khotbah Jum’at. Dalam setahun, ada 520 kali khutbah Jum’at yang digelar di setiap masjid. Dari jumlah tersebut, semestinya ada beberapa khatib yang mau mengangkat tema koperasi – ekonomi dalam khutbahnya.

Misalnya, bagaimana caranya mendidik umat agar mampu mengambil peluang bisnis yang ada. Atau bagaimana caranya supaya mereka berhasil menjalankan usahanya dengan baik. Transfer pengetahuan seperti inilah yang perlu dihidupkan di masjid-masjid. Karena, Islam itu tidak sekadar menyangkut urusan spiritual, tetapi juga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Termasuk persoalan ekonomi yang sedang dihadapi umat saat ini.

Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr.Anwar Abbas berpendapat; “Sesungguhnya melakukan aktivitas ekonomi di masjid ditinjau dari sisi Fikih, jika aktivitas ekonomi diartikan sebagai kegiatan jual beli yang dilakukan di dalam masjid, hukumnya haram. Baik penjual maupun pembeli, sama-sama berdosa. Misal, ada orang yang jualan parfum di dalam masjid. Lalu, ada jamaah yang datang menawar dagangannya. Mereka pun kemudian melakukan transaksi di dalam masjid tersebut. Nah, praktik semacam inilah yang dilarang oleh agama. Tapi, kalau hanya sebatas membangun konsep bagaimana caranya agar perekonomian umat bisa maju, itu sah-sah saja dilakukan di masjid.”

Hadis-hadis tentang larangan jual beli di masjid, kata Anwar, umumnya menggunakan kata “fii al-masjid” untuk merujuk tempat terlarang yang dimaksud. Sebagian ulama berpendapat, kata “fii al-masjid” pada hadis itu berarti “di dalam masjid”. Namun, ada juga ahli tafsir yang berpendapat, kata tersebut tidak sekadar bermakna “di dalam masjid “tetapi juga mencakup “lingkungan masjid”. Jadi, ada ikhtilaf di sini. Kemungkinan terjadinya perbedaan pandangan dalam menyikapi perkara ini pasti ada. Kendati demikian, mayoritas ulama tidak mempermasalahkan adanya praktik perniagaan di lingkungan sekitar masjid. Seperti di halaman, tempat parkiratau pertokoan yang terdapat di area kompleks masjid, itu boleh dimanfaatkan sebagai tempat jual beli,” jelasnya.

Lalu, adakah batasan melakukan kegiatan ekonomi di masjid? Pada prinsipnya, papar Dr Anwar, semua kegiatan muamalah itu hukum asalnya adalah halal. Kecuali ada dalil syari’i yang melarangnya. Begitu pula halnya dengan aktivitas ekonomi atau jual beli. Termasuk perkara yang dibolehkan dalam agama. Ini seperti diungkapkan dalam Alqur’an Surah al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi; “Dan, Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” Jadi, batasannya adalah larangan itu tadi. Dalam konteks kegiatan ekonomi di masjid yang penting jangan ada aktivitas jual beli yang dilakukan di dalam ruangan masjid. Karena memang ada dalil khusus, hadis Nabi Muhammad SAW yang melaknat kegiatan semacam itu, meskipun hukum asal jual beli sendiri adalah halal. Karena itu, untuk jual beli yang dilakukan di dalam ruangan masjid, transaksinya tetap dinilai sah tapi pelakunya berdosa. Sementara untuk jual beli yang dilakukan di luar ruangan masjid, transaksinya dinilai sah dan pelakunya tidak mendapat dosa.

Pembahasan tentang Masjid Bergerak Bersama Koperasi, menarik berbagai pihak. Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) DKI Jakarta, Drs H.A. Nawawi SH MSi berharap, gerakan ekonomi yang digagas Koperasi Syariah 212 mampu melahirkan masjid-masjid yang mandiri secara ekonomi di masa mendatang. Sebab, menurutnya, saat ini masih banyak program masjid yang terbengkalai karena terkendala masalah pendanaan.

Nawawi berpendapat, dengan adanya konsep perekonomian berbasis masjid yang terintegrasi dan sinergis, diharapkan persoalan seperti itu dapat teratasi. Dengan demikian, program-program konkret untuk kemajuan umat bisa dilaksanakan di masjid-masjid. Jika masjid bisa mengembangkan berbagai jenis bisnis termasuk onine, umat akan semakin sejahtera. Sesederhana toko online (daring). Jika ada jamaah masjid ingin umroh, tinggal dimasukkan ke aplikasi kirim dan share.

Hal serupa dikemukakan Pakar Sosial Media dan IT, Agung SR, saat mengisi seminar Majelis Taklim Wirausaha (MTA) di Masjid Al Ittihad, beberapa waktu lalu. Dia menambahkan, termasuk Kita Mart yang diusung Koperasi Syariah 212. Karena jamaah bisa membelinya lewat ponsel, seperti belanja daring. Selain itu ada pula pembelian pulsa listrik, pulsa Hp, tiket dan pengumpulan donasi. Karena dilakukan lewat daring lingkup pasarnya mendunia. Majlis Taklim Wirausaha akan memiliki aplikasi-aplikasi seperti Masjid Kita, yang memudahkan pengurus mengundang dai-dai kondang. Tinggal memilih aplikasi Halo Ustadz, pengurus bisa melihat kapan jadwal kosong dai-dai kondang, dan dengan sekali klik bisa melakaukan koordinasi. Selain bisa memperoleh pendapatan lain lewat iklan, berbagai pilihan bisnis itu akan menghapus isu dai-dai itu sulit soal honor. Masjid harus bangkit karena potensinya luar biasa, sekaligus, era penetrasi digital ini umat harus pula modern.

Sekretaris Jendral Dewan Masjid Indonesia (Sekjen DMI), Imam Abdaruqutni mengakui, masih sedikit masjid di Indonesia yang bisa mandiri. Hanya beberapa masjid yang mampu menggerakkan ekonomi berbasis masjid, seperti membentuk holding company. Menurutnya, sudah saatnya kita juga berpikir untuk mengembangkan ekonomi dan tidak hanya berfokus kepada kegiatan keagamaan semata.

“Yang perlu dilakukan sekarang, bagaimana bisa punya lapangan usaha. DMI mengarahkan, agar masjid memiliki kemandirian dalam pemberdayaan ekonomi. Usaha tersebut sudah dimulai di Jakarta dengan memberikan bantuan modal Rp 10 juta bagi jamaah yang berminat mengembangkan usaha mikro. Program tersebut merupakan percobaan yang dilakukan DMI sejak setahun lalu dan selanjutnya diterapkan di masjid-masjid di seluruh Indonesia. Hasil dari percobaan itu cukup baik. Dari modal bergilir yang diberikan, penerima mampu mengembalikan pinjaman secara rutin,” tegasnya. Jumlah masjid yang mencapai 800 ribu unit, merupakan potensi ekonomi yang sangat besar. DMI menginginkan masjid bisa makmur, sehingga turut andil memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dan berkontribusi mengatasi kemiskinan.

Sebagai Ketua MTW, Valentino Dinsi berkeinginan membangun jejaring di ke-34 provinsi, 517 kabupaten dan kota, 200.000 masjid untuk pemberdayaan ekonom umat. Aplikasi yang disiapkan diyakini akan membuat ratusan ribu masjid terkoneksi. Sistem pembinaan juga disiapkan, sehingga bisa menjadi model pemberdayaan bagi seluruh masjid di Indonesia. Harapannya, ekonomi masjid bisa bergerak lebih masif. MTW juga menargtekan, sekitar 2 juta Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis masjid dari 100 ribu masjid. MTW akan memasukkan spirit 212 dalam pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid. Terutama kepada UMKM. (sutarwadi.k)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *