MEA Harus Berkeadilan

Kita sekarang sudah berada di ambang pintu – tinggal menghitung hari membuka pasar tunggal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) istilah lain pasar bebas ASEAN yang akan dilaksanakan mulai 1 Januari 2016 mendatang. Sebagai pasar tunggal dengan ciri-ciri aliran bebas barang, jasa, investasi, dan modal akan tercipta di kawasan Asia Tenggara, di mana Indonesia ada di dalamnya.

Seberapa besar dan ramainya aktivitas di pasar ASEAN itu nantinya, tentu berkaitan dengan pasokan dan kebutuhan produk barang dan jasa di kawasan tersebut. Karakteristik negara-negara Asia Tenggara, tak terkecuali di bidang industri, boleh dibilang tidak jauh berbeda. Kondisi ini menjadikan produk-produk hasil industrinya banyak yang serupa. Artinya produk-produk tersebut tidak komplementer atau tidak saling melengkapi. Konsekuensinya adalah hubungan dagang di antara negara-negara ASEAN pun tidak tinggi.

Mari kita melihat posisi Indonesia di kancah pasar ASEAN. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Perindustrian (Kemenperin), total ekspor industri Indonesia ke ASEAN pada 2012 sebesar US$ 26,27 miliar. Jumlah itu hanya sekitar 22,6% dari total ekspor industri Indonesia ke seluruh dunia. Hingga November 2013, nilai eskpor industri Indonesia ke ASEAN tercatat US$ 22,27 miliar atau setara dengan 22,3% dari total ekspor Indonesia ke negara-negara di dunia.

Belum ramainya aktivitas dagangan ASEAN juga terlihat dari perkembangan impor. Total impor industri Indonesia dari negara-negara ASEAN pada 2012 sebesar US$ 31,01 miliar. Jumlah itu hanya 22,2% terhadap total impor Indonesia dari negaranegara dunia. Hingga November 2013, Indonesia mengimpor barang-barang dari ASEAN US$ 27,67 miliar atau 22,8% terhadap total impor dari dunia. Data tersebut menunjukan bahwa Indonesia lebih banyak berdagang dengan negara-negara di luar ASEAN. Lebih dari tiga perempat ekspor-impor Indonesia dilakukan dengan mitra dagang selain negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Bahkan, berdasarkan catatan Direktorat Kerja Sama Industri Internasional Kemenperin, perdagangan sebagian besar produk di ASEAN sebenarnya sudah Nol persen sejak 2010. Kondisi ini memunculkan prediksi bahwa peta perdagangan produk di ASEAN setelah berlakunya MEA per 1 Januari 2016 tidak akan jauh berbeda dengan kondisi selama ini. Pada posisi seperti ini, mutlak bagi Indonesia untuk menjaga pasar dalam negeri yang besar. Apalagi merujuk data Population Reference Bureau, sekitar 40% penduduk ASEAN berdiam di Indonesia.

Pelaku industri di dalam negeri harus seoptimal mungkin mengisi kebutuhan di dalam negeri. Mereka harus menghasilkan produk dengan kualitas dan harga yang diminta publik di Indonesia. Pemerintah dalam konteks ini, mutlak menciptakan iklim usaha dan investasi yang mendorong efisiensi industri. Kondisi yang efisien itu diperlukan agar produk industri Indonesia memilik daya saing ketika harus berkompetisi merebut hati pembeli di pasar. Industri yang mampu bersaing akan memiliki peluang lebih besar menguasai pasar.

Sejauh ini, sejumlah pengusaha Indonesia ada yang sudah mengantisipasi MEA. Perusahaan semen, pengembang perumahan, perusahaan makanan dan minuman berekspansi ke sejumlah negara ASEAN. Demikian pula perusahaan penerbangan asal Indonesia sudah beroperasi di beberapa negara ASEAN. Peluang untuk mendorong perdagangan dalam ASEAN masih besar. Data yang ada menunjukan, total perdagangan di antara anggota ASEAN mencapai 24,2%. Kehadiran MEA memberikan peluang besar bagi Indonesia. Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga bisa memanfaatkannya. Di sisi lain, warga Indonesia sepatutnya membeli produk dalam negeri. Kecintaan terhadap produk Indonesia harus dibuktikan dengan membelinya. Berdasarkan hukum ekonomi sederhana, semakin banyak pembeli, produksi semakin meningkat. Pembelian produk dalam negeri merupakan wujud pembelaan terhadap industri di dalam negeri. Membeli produk dalam negeri juga turut meningkatkan kemampuan industri dalam negeri bersaing menghadapi MEA mulai 1 Januari 2016.

Kompetisi dalam dunia usaha adalah hal yang biasa. Era terbukanya pasar Asia Tenggara harus dilihat sebagai peluang yang menguntungkan. Kalau berangkat dari keberuntungan, hasilnya pasti positif. Namun jika melihatnya sebagai kerugian yang keluar adalah pesimistis. Indonesia selama 47 tahun terakhir berperan besar menciptakan stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Indonesia banyak membantu mendamaikan pihak bertikai di beberapa negara tetangga di ASEAN. Kondisi damai tersebut membuat kawasan ASEAN menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. MEA adalah waktu bagi Indonesia mendapatan deviden ekonomi dari investasi politik yang kita tanam selama 47 tahun.

Terkait dengan sumber daya manusia (SDM) Indonesia memiliki 750.000 insinyur. Namun hanya 45% yang bekerja sesuai bidang. Berdasarkan data dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII), rasio jumlah insinyur per satu juta penduduk di Indonesia yang terendah di ASEAN, yakni hanya 3.038 orang per sejuta penduduk. Sebagai pembanding, jumlah per satu juta penduduk di Singapura sebanyak 28.235 orang. Vietnam 8.917 orang, Filipina 5.170 orang, Thailand 4.121 orang, Myanmar 3.844 orang dan Malaysia 3.375 orang. Indonesia kekurangan 120.000 insinyur dalam lima tahun mendatang.

Rencana pemerintah membangun infrastruktur secara besar-besaran harus dijadikan momentum kebangkitan pembangunan SDM insinyur. Dengan diberi kesempatan menangani proyek-proyek infrastruktur termasuk yang bernilai di atas Rp 100 miliar, kemampuan dan pengalaman insinyur Indonesia akan jauh lebih berkembang. Pembangunan dan pengembangan SDM Indonesia harus mendapatkan nilai tambah dari adanya pembangunan infrastruktur. Apalagi akhir tahun 2015 ini akan diterapkan MEA. Maka, SDM kita perlu mempunyai daya saing.

Pengembangan SDM ini bisa dilakukan dengan mengoptimalkan SDM lokal sebagai pengawas konstruksi. Kualitas SDM sudah diakui dunia internasional. Jadi, pelaksana pengawas konstruksi bisa dilakukan oleh tenaga lokal. Jika ingin menggunakan tenaga asing, jadikan sebagai pendamping saja. Dengan kata lain, kita harus lebih memberi kepercayaan kepada SDM dalam negeri. Semangat menggunakan tenaga asing sering kali bertujuan agar rencana pemerintah terkait percepatan pembangunan infrastruktur bisa terwujud. Namun harus diingat, jangan sampai keputusan itu justru mengurangi atau bahkan menghilangkan kesempatan yang sama bagi produk dan SDM dalam negeri.

Pentingnya program peni ngkatan SDM untuk mengisi kekurangan insinyur tersebut. program yang dimaksud antara lain sertifikasi insinyur profesional bagi sarjana teknik dan SDM non sarjana teknik. Juga penting menyiapkan SDM kesehatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada tahun 2014 Indonesia kekurangan 8.999 dokter spesialis dan 27.599 dokter umum. Jumlah Fakultas Kedokteran di Indonesia dengan penduduk sekitar 250 juta jiwa hanya 72 fakultas dan yang memproduksi dokter spesialis hanya 21 Fakultas Kedokteran.

Tanpa prinsip pembangunan berkeadilan MEA bisa bubar. Negara-negara yang merasa tidak mendapatkan keuntungan sepadan dan terus tertinggal akan berontak. Kalau mau MEA sukses, prinsip keadilan harus dipatuhi. Caranya dengan memberikan kesempatan kepada negara yang masi h ter ti nggal untuk mengejar agar kesenjangan semakin

Pembangunan yang berkeadilan adalah pilar keempat dalam konsep MEA. Namun, realitasnya masih banyak praktik di antara negara-negara ASEAN yang bertolak belakang dengan pilar tersebut. Contohnya, adalah akses pembukaan cabang bank. Secara normatif Singapura dan Malaysia, misalnya, memberikan persyaratan yang tidak fair bagi bank Indonesia untuk membuka cabang di kedua negara tersebut. Kalau MEA tidak memberikan keuntungan kepada masyarakat Indonesia, maka jika Indonesia keluar dari MEA, banyak negara akan rugi karena Indonesia adalah 40% dari pasar ASEAN. Jadi, kalau MEA mau berkelanjutan, harus sama-sama maju. (my)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *