Mebel Klender Mengejar Pasar Ekspor

Hmeja resolute originalingga kini, masih banyak masyarakat yang menyimpan perabot atau mebel seperti; meja, kursi, lemari, dan tempat tidur warisan keluarga. Nilai perabot ini tak tergantikan. Sebab, mebel tersebut sudah melintasi zaman dan membawa kenangan. Berbagai laman – misalnya, laman Mosium Gedung Putih Amerika Serikat, memberi kesempatan kepada publik mengenali salah satu perabot ikonik, yakni meja kepresidenan AS. Meja tersebut dikenal sebagai meja Resolute, mengacu nama kapal yang ketika dipugar, baloknya menjadi bahan baku meja tersebut.

Kapal HMS Resolute adalah kapal Inggris yang teerdampar dan dikembalikan AS ke Inggris sebagai tanda persahabatan. Sebagai bentuk apresiasi, Ratu Victoria dari Inggris menitahkan pembuatan meja tersebut kemudian menghadiahkannya kepada AS pada tahun 1880. Meja kokoh, anggun dan berukir rumit ini pun menjadi peranti di ruang kerja Presiden AS dari Rutherford B Hayes hingga Barack Obama. Perjalanan waktu ditambah nilai sejarah menjadikan citra meja Resolute di Gedung Putih kian berkilau. Maka, akhirnya replika meja itu pun bermunculan. Tiruan meja Resolute pun menjadi latar favorit para wisatawan berfoto, antara lain di toko cendera mata yang berlokasi di seberang Gedung Putih, Woshington DC, AS.

Minat terhadap mebel gaya klasik menciptakan pasar tersendiri. Bisnis reproduksi mebel kuno pun bermunculan di tengah produksi perabot masa kini. Di berbagai tokomebel atau ruang pamer kerap dijumpai mebel berbahan kayu lawasan – kayu tua bekas pakai – yang bersanding dengan mebel bergaya kontemporer. Untuk urusan kreativitas, menurut Ir Ade Firman, Ketua Koperasi Induastri Kayu dan Mebel (KIKM), perajin mebel Indonesia, termasuk anggota KIKM, tidak kalah dibandingkan dengan perajin dari negara lain. Karena itu, kata dia, mebel Klender kini juga mengejar pasar ekspor.

Bahkan sektor mebel menjadi salah satu andalan komoditas ekspor. Keunggulan bahan baku berupa kayu dan rotan alam yang melimpah ditambah kepiawaian tangan perajin memahat dan merakit mebel menjadi keunggulan koperatif dan kompetitip Indonesia. “Namun sayangnya, Indonesia kalah dibandingkan dengan Vietnam, yang tidak memiliki kekayaan sumber daya seperti Indonesia. Vietnam mampu Berjaya dalam menggarap pasar mebel dunia,” tegas Ade Firman yang juga salah seorang pengurus Asosiasi Mebel Indonesia (Asmindo) wilayah DKI Jakarta.

Merujuk data Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (Amkri), Vietnam kini tumbuh menjadi negara pengekspor mebel yang cukup tangguh. Ekspor mebel Vietnam tahun silam telah mencapai angka lebih dari US$ 8,2 miliar, sedangkan ekspor mebel Indonesia baru sekitar US$ 2 miliar. Amkri menengarai, kejayaan industri mebel Vietnam tak lepas dari perencanaan matang dan kebijakan yang mendukung pemerintah yang mendukung dunia usaha di negara itu. Vietnam mengembangkan terintegrasi mebel. Penyediaan bahan baku pun menjadi efisien.

Kawasan terintegrasi memungkinkan industri pendukung saling berdekatan. Distribusi produk mebel pun lancar. Kekuatan industri mebel Vietnam juga ditopang pemakaian mesin berteknologi mutakhir yang lebih maju 10 tahun dibandingkan mesin industri mebel di Indonesia. Efisiensi di segala lini terwujud dalam harga jual produk yang kompoetitip. Penguasaan pasar pun ada di genggaman tangan. “Kini saatnya kita menggatasi ketertinggalan dan menggarap pasar mebel dunia,” tegas Ade menghimbau anggota KIKM saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2015 yang dilaksanakan pada Januari 2016 silam.

Meski ekspor mebel Indonesia kalah dari Vietnam, namun yang membesarkan hati, trend ekspor furniture Indonesia terus menunjukan arah positif, yakni 5,52 %. Dan industri ini telah menyerap banyak tenaga kerja di Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur dan lain-lain. Jepara yang menyumbang hanya 6% dari ekspor furniture nasional, bisa menyerap 49.152 orang, atau 56% dari total tenaga kerja di Jepara. Belum dihitung serapan kerja dari industri lain yang hidup dari dampak industri furniture ini (multiplier effect), seperti bahan-bahan furniture, transportasi, makanan, perhotelan, bangunan, dan sebagainya. Dengan demikian, kita bisa memperkirakan Industri ini secara nasional menyerap banyak tenaga kerja, memberikan multiplier effect yang besar, dan serta mengatasi kemiskinan.

Namun itu belum cukup. Furniture masih perlu dikembangkan lebih luas lagi, menyerap tenaga kerja yang lebih besar dan mengatasi kemiskinan lebih banyak lagi. Pasar ekspor furniture masih besar. Dan industri ini masih bisa berkembang jika mengoptimalkan pendorong dan mengatasi hambatan. Peluang ekspor masih terbuka lebar. Peluang Indonesia dalam memasarkan produk furniture di pasar luar negeri masih cukup besar karena share dari Indonesia baru sebesar 1.62%. Indonesia mencapai peringkat ke 18 untuk kategori eksportir furniture terbesar. Kemungkinan untuk naik keperingkat yang lebih tinggi sangat terbuka terutama untuk furniture kayu – wooden furnuture dari bahan baku hutan tropis. Selama ini ekspor Indonesia masih terkonsentrasi pada segmen tertentu dari Jepang, Amerika, dan Eropa.
Meluasnya penggunaan informasi teknologi dalam bisnis juga bisa mendorong perkembangan ekspor furniture. Supplier di Indonesia lebih mungkin untuk mengenal lebih banyak buyer, dan buyer pun lebih bisa mengenal lebih banyak supplier. Sehingga kondisi ini bisa mengurangi rantai distribusi yang bisa membuka lebih banyak peluang ekspor di tengah pasar global. Furniture Indonesia punya daya saing baik dalam differensiasi (keunikan) maupun harga. Differensiasi furniture Indonesia ini didasarkan pada pekerja ukir yang terampil dan kekayaan ragam kayu dan serat alam. Sehingga dengan demikian, Indonesia berpotensi menghasilkan desain furniture kayu yang unik.

Dalam hal pengembangan jaringan ekspor, Indonesia telah mempunyai Badan Pengembangan Ekspor yang punya hubungan dengan Atase Perdagangan Indonesia dan Indonesian Trade Promotion Center di luar negeri. Lembaga-lembaga ini telah merintis dalam mempromosikan produk-produk Indonesia, termasuk furniture di luar negeri. Pelajar-pelajar dan warga Indonesia di luar negeri juga cukup banyak. Sehingga mereka berpotensi untuk mengembangkan jaringan pemasaran ekspor di luar negeri. Di samping faktor pendukung ekspor tersebut, furniture Indonesia menghadapi sejumlah hambatan.

***

Illegal lodging, penebangan liar yang sebagian dijual keluar negeri masih banyak terjadi di Indonesia. Dampak buruk pertama, bahan baku furniture akan semakin langka dan mahal. Sehingga hal ini meningkatkan biaya produksi dan harga jual. Dampaknya, daya saing produk di pasar global menurun. Kedua, penebangan liar hutan tropis, paru-paru dunia, mengancam pemanasan global. Negara-negara yang peduli untuk mengerem pemanasan global membuat regulasi dalam menerima furniture dari Indonesia. Mereka membatasi impor dari Indonesia dengan membatasi jumlah (kuota), dan mensyaratkan furniture kayu Indonesia berasal dari kayu bersertifikat. Sayangnya sertifikasi kayu ini dikeluarkan oleh lembaga dari luar negeri dan berbiaya mahal, sehingga membebani ongkos produksi furniture kayu Indonesia.

Illegal lodging atau penebangan liar perlu diberantas karena membahayakan perekonomian dan lingkungan. Illegal lodging ini merusak citra Indonesia di mata internasional yang saat ini peduli pada lingkungan hidup. Jika citra terus merosot, mereka akan mengeluarkan regulasi untuk menghentikan pembelian produk furniture kayu dari Indonesia. Illegal lodging juga membahayakan keamanan supplai bahan baku kayu industry furniture Indonesia. Oleh karena itu diperlukan Pemberantasan illegal lodging untuk (a) membangun citra produk furniture kayu Indonesia, (b) mengamankan supplai bahan baku serta (c) mengurangi biaya produksi.

Pemasaran furniture Indonesia ke pasar global masih pasif, sehingga peluang pasar yang luas menjadi tidak kelihatan. Pada umumnya pengusaha mencari pelanggan dengan menunggu calon pelanggan datang, maksimal dengan cara pameran. Hampir tidak ada upaya untuk mengenal selera pasar pemakai akhir (end user), menyesuaikan produk, harga, dan citra dengan selera pasar, mengidenfikasi jalur distribusi, dan melakukan pendekatan pada jalur distribusi, atau membangun jalur distribusi di luar negeri. Hampir tidak ada eksportir furniture Indonesia yang punya kantor perwakilan di luar negeri.

Pemasaran pasif ini hanya mempertemukan pengusaha furniture dengan broker-broker yang memperpanjang rantai distribusi. Sekitar 77% ekspor furniture Indonesia terkonsentrasi pada Amerika Serikat, Jepang, Eropa, dan Australia. Dampak negatif dari konsentrasi tersebut adalah: konsekuensi kerugian di bidang ekonomi dan perdagangan, ketika permintaan furniture di negara-negara tersebut mengalami perubahan drastis (seperti kondisi ekonomi global saat ini).

Indonesia telah mempunyai institusi penunjang ekspor Indonesia di luar negeri yaitu Atase Perdagangan dan atau Kabid ekonomi di Kedutaan Besar, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC). Peran dan fungsi institusi ini perlu direvitalisasi sehingga dapat menyediakan mampu menyediakan informasi pasar internasional bagi para eksportir, memetakan para buyer yang mampu dan memiliki komitmen untuk menampung serta memasarkan produk Indonesia di negara yang bersangkutan serta memberi perlindungan dan konsultasi bisnis kepada eksportir Indonesia yang akan memasuki pasar luar negeri termasuk pemberian konsultasi dibidang prosedur dan persyaratan ekspor yang baru. Hal yang juga penting menyusul revitalisasi fungsi tersebut adalah mensosialisasikan informasi bisnis tersebut kepada pengusaha hingga ke daerah. Ada banyak hasil riset yang penting tidak diketahui oleh pengusaha furniture di daerah, seperti Jepara, Solo, Jogjakarta, Cirebon, Probolinggo.

Untuk produk ekspor, furniture Indonesia tidak mendesain sendiri produknya. Pembelilah yang menyediakan desainnya. Perusahaan furniture hanya menjadi tukang jahit atau istilah teknisnya original equipment manufacturer (OEM). Cara seperti ini menghalangi furniture Indonesia memasuki pasar yang lebih luas. Dampak lainnya, industri furniture Indonesia mudah jatuh, banting harga, karena buyer yang menyediakan desain ini bisa menawarkan ke banyak perusahaan.
Kemahiran ukir pengrajin Indonesia kurang didukung dengan standarisasi kualitas produk, sehingga merusak citra furniture Indonesia. Rusaknya citra ini mengurangi minat pembeli dari luar negeri, dan pada akhirnya mengurangi permintaan mereka. Kurangnya standar ini antara lain, kandungan air masih tinggi sehingga mudah retak dan masih menggunakan teknologi manual sehingga antara produk sejenis terdapat perbedaan design. Ketepatan waktu produksi juga masih kurang sehingga mengecewakan pelanggan.
Kemahiran ukir pengrajin Indonesia kurang didukung dengan standarisasi kualitas produk, sehingga merusak citra furniture Indonesia. Rusaknya citra ini mengurangi minat pembeli dari luar negeri, dan pada akhirnya mengurangi permintaan mereka. Kurangnya standar ini antara lain, kandungan air masih tinggi sehingga mudah retak dan masih menggunakan teknologi manual sehingga antara produk sejenis terdapat perbedaan design. Ketepatan waktu produksi juga masih kurang sehingga mengecewakan pelanggan.
Ketepatan waktu pengiriman juga perlu dibangun, dengan standarisasi waktu proses produksi. Ketepatan waktu sangat penting bagi pelanggan kaerena keterlambatan bisa membuat pelanggan kehilangan peluang untuk menjual produknya ke pembeli akhir, lantaran perubahan selera dan musim yang cepat. Proses produksi yang banyak mengulur waktu adalah pencarian bahan baku, pengeringan, dan kelebihan beban produksi. Untuk itu, ketika ekspor semakin lancar, diperlukan terminal kayu yang bisa menyediakan bahan baku dengan cepat dengan pembayaran di belakang. Untuk mengimbangi dinamika pasar, Industri furniture perlu bergerak dari Original Equipment Manufacture menuju Original Brand Manufacturer yang memiliki nilai tambah yang lebih besar.

***

Potensi pasar dalam negeri juga sangat besar. Pertumbuhan perekonomian di Indonesia yang belakangan ini semakin membaik, kata Ade, ditambah dukungan teknologi yang terus maju, secara tidak langsung mendorong perajin mebel dan furniture berusaha meningkatkan produksinya. Selain itu, pelaku bisnis mebel – furniture terus berusaha mempertahankan kualitas produk agar bisa tetap bertahan di tengah pasar yang semakin hari kian kompetitif. Tak dapat dipungkiri bahwa prospek bisnis mebel masih cukup bagus. Tetapi untuk menjadikan bisnis tetap eksis tentu membutuhkan usaha yang tidak mudah, karena kompetisi bisnis semakin ketat.

Untuk mensiasati kondisi tersebut, perlu strategi jitu. Misalnya, memilih target market – pasar yang memang benar-benar ingin ditangkap. Dengan menentukan target market secara tepat, maka kita akan menjadi lebih fokus dalam menentukan strategi pemasaran. Agar bisnis mebel yang dijalankan bisa dikenal oleh masyarakat luas, atau target pasar kita harus memperkenalkannya dengan berbagai cara. Misal, berpromosi dengan memasang spanduk, membagikan brosur, memasang iklan di majalah dan yang tidak boleh terlupakan adalah menggunakan kekuatan sosial media.

Strategi pemasaran lain yang bisa menarik perhatian calon konsumen adalah menjual beberapa produk dengan harga lebih murah dibanding dengan toko lainnya. Tulis penawaran harga murah tersebut pada spanduk. Dengan menjual beberapa produk dengan harga murah, maka calon konsumen akan mempunyai persepsi bahwa toko tersebut menjual produk murah. Hal ini secara otomatis akan mendorong calon konsumen berkunjung lagi saat mereka membutuhkan produk mebel.

Menjalin kerjasama dengan pengembang perumahan, juga potensi pasar. Beberapa pengembang perumahan dengan skala kecil dan menengah biasanya akan memeberikan bonus furniture kepada para pembeli rumah baru. Inilah kesempatan baik untuk dapat menjual produk dengan kuantitas yang lebih besr. Agar pelanggan memiliki kesan positif, maka diwajibkan bagi semua karyawan yang bertugas di toko untuk memberikan pelayanan terbaik dan memuaskan bagi semua pelanggan yang datang. Keramahan dan sikap mau membantu dengan tulus akan sangat dihargai oleh para pelanggan. Pelayanan akan sangat menentukan pelanggan datang belanja lagi atau tidak.

Agar bisa berkembang, industri furniture perlu mengenal peluang pasar dengan mempelajari lebih dalam dan luas akan kondisi pasar atau buyer. Pengusaha perlu mengenal lebih mendekati pembeli akhir. Mereka perlu bergerak dari mengenal buyer – pembeli di showroom-nya sendiri menuju mengenal buyer di negeri mereka sendiri. Setelah mengenal buyer di showroom-nya, pengusaha juga perlu mengenal buyer di ibukota propinsi, ibu kota Negara, kemudian terus menguntit hingga ke negeri mereka. Mengenal peluang pasar tidak hanya mengenal siapa yang tertarik pada produk furniture negeri kita, tapi mengenal selera, impian, alasan mereka dalam membeli produk, daya beli dan perilaku membeli mereka. Dengan pengetahuan tersebut memungkinkan pengusaha furniture untuk menyesuaikan produk, distribusi, harga, promosi dengan situasi pasar.

Agar bisa berkembang, industri furniture perlu mengenal peluang pasar dengan mempelajari lebih dalam dan luas akan kondisi pasar atau buyer. Pengusaha perlu mengenal lebih mendekati pembeli akhir. Mereka perlu bergerak dari mengenal buyer – pembeli di showroom-nya sendiri menuju mengenal buyer di negeri mereka sendiri. Setelah mengenal buyer di showroom-nya, pengusaha juga perlu mengenal buyer di ibukota propinsi, ibu kota Negara, kemudian terus menguntit hingga ke negeri mereka. Mengenal peluang pasar tidak hanya mengenal siapa yang tertarik pada produk furniture negeri kita, tapi mengenal selera, impian, alasan mereka dalam membeli produk, daya beli dan perilaku membeli mereka. Dengan pengetahuan tersebut memungkinkan pengusaha furniture untuk menyesuaikan produk, distribusi, harga, promosi dengan situasi pasar.

Fasilitas internet bisa membantu perusahaan furniture untuk melakukan pengenalan pasar, misalnya dengan mempelajari portal riset pasar seperti www.cbi.nl melalui keikutsertaan dalam portal business to business (b2b) seperti www.alibaba.com, www.EC21.com. Riset pasar juga bisa dilakukan melalui web dari asosiasi terkait seperti: International Mass Retailer Association (IMRA), Furniture Retailers of America (FRA), National Home Furnishings Association (NHFA), dll.

Perluasan pasar melalui diversifikasi pasar, dimaksudkan untuk memasuki peluang-peluang baru, baik di pasar yang sama atau pasar baru. Diversifikasi ini bisa horisontal, vertikal maupun geografis. Diversifikasi Horisontal: menambah keanekaragaman jenis produk pada pasar yang sama.Diversifikasi Vertikal: penambahan nilai tambah produk pada pasar yang sama. Diversifikasi Geographis: penambahan pasar tujuan ekspor. Penambahan pasar tujuan ekspor ini bisa dengan menambah sasaran ekspor ke kota baru atau ke Negara baru.
Kualitas yang memuaskan pelanggan juga perlu dibangun, agar terjadi pembelian ulang. Promosi yang gencar hanya akan mengantarkan pasar pada pembelian pertama, jika tidak ditunjang oleh produk yang berkualitas. Agar terjadi pembelian ulang (repeat customer), produk harus memuaskan pelanggan dengan memberikan kualitas yang memenuhi harapan mereka. Untuk pasar luar negeri, salah satu standar pokok dalam pembuatan furniture kayu (built wooden furniture) adalah kekeringan kayu. Kekeringan kayu itu penting bagi industri furniture kayu karena furniture dengan kayu kering akan terbebas dari keretakan. Jika kayu tidak kering dan memasuki daerah lebih lembab, kayu akan mengembang dan retak. Standar selanjutnya adalah konstruksi furniture kayu, finishing.

Perusahaan furniture Indonesia perlu berhenti bersaing harga dengan teman sendiri. Kita harus menggunakan teori orang jepang, semakin banyak orang berkumpul, semakin banyak orang yang bersaing, semakin suka karena semakin banyak orang yang datang. Tetapi kadang kita salah kaprah. Kalau orang sebelah bikin seperti yang kita buat, begitu ada pengunjung satu, langsung main colek; “Pak jangan di situ, kurang bagus, di sini saja. Harganya juga lebih murah.

Berbeda dengan teori orang jepang, begitu ada satu nawar Rp 10.000,- ketika calon pembeli itu pindah tempat lain, yang didatangi bilang; “Oh harganya Rp 12.000,- Pak”. Tujuannya, secara psikologis menjual pasar. Jadi, dia beli yang pertama karena lebih murah. Itulah cara bisnis yang baik, tidak merusak pasaran. Berbeda dengan kebanyakan orang kita, kalau ada calon pembeli dia memberikan harga lebih rendah dengan yang pertama supaya pembeli itu belanja di tempatnya.

Lebih baik melihat peluang lebih luas dengan bantuan fasilitas teknologi informasi yang ada. Sekarang ini produk Indonesia dijual di luar negeri 5 -10 kali lipat dari harga jualnya di Indonesia. Kini saatnya Indonesia berupaya meraih nilai tambah yang lebih besar. Setelah melihat peluang, mari kita bangun daya saing dengan memperhitungkan kekuatan yang dimiliki industri ini di pasar global. Kita kuat di bahan baku yang beraneka, tenaga ukir yang terampil. Tinggal meningkatkan nilai tambah dengan pengelolaan desain, kualitas produksi dan pembangunan merek. (d mar)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *