Memanfaatkan Potensi Dalam Negeri

Januari 2004, bagi Adi Putra merupakan sejarah kehidupan yang takkan terlupakan. Itulah terakhir kalinya menerima gaji sebagai karyawan perusahaan pakan ternak di daerah Riau. Setelah keluar dari perusahaan pakan ternak, pernah di terima kerja di Bank Danamon, Teh Sosro, dan Kazen.

Ketika bersilahturahmi ke keluarganya di Jakarta, sering ngobrol dan berdiskusi tentang bagaimana usaha membuka toko, melayani pelanggan secara baik, tatakrama menerima tamu dan sebagainya. Karena tertarik, Adi pun memutuskan hijar ke Jakarta,  membantu familinya yang membuka usaha kerajinan tas. Setahun lebih dia mendapat tugas  melayani pembeli, menjual dan promosi produk dari kantor ke kantor.

Setahun kemudian, Adi Putra belajar mandiri, membuka kios tas kecilan- kecilan. Isinya, contoh-contoh produksi saudaranya. Karena semua harus ditangani sendiri, kadang buka, kadang tutup. Mencari job, menjual berbagai jenis tas produksi familinya. Tahun pertama ia merasakan betapa sulit menjaring konsumen. Dari puluhan, bahkan ratusan orang yang ditawari, hanya satu – dua orang yang berminat membeli tasnya. Tapi, ia tak pernah menyerah.

Baru, setelah tahun kedua, mulai ada pesanan. Ada tas sekolah, tas kantor, tas untuk seminar dan sebagainya. Karena tasnya cukup berkualitas, memenuhi selera konsumen, dapat promosi dari mulut ke mulut. “Sejak itu usaha mulai berkembang,” tutur Adi yang mengaku modal utamanya kepercayaan dari konsumen. Di samping kualitas produk, kata Adi yang mulai berproduksi sendiri, juga ketepatan waktu. Kebetulan toko kulit dan bahan baku tas langganan familinya memberi kemudahan.

Tahun ketiga baru ia mulai mengurus kiosnya di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung, Jakarta Timur, secara penuh. Ketika kiosnya buka-tutup-buka–tutup, bahkan kosong tidak ada isinya, beberapa kali ada orang yang mau membelinya. Mengawali kebangkitannya, 2006, Adi masih merangkap, sebagai produsen sekaligus sales. Karena perkembangan usahanya cukup menggembirakan, 2007 mulai merekrut karyawan satu orang.

Lantaran pesanan makin meningkat, tenaga kerja pun ditambah. Agar pelanggan tidak berpaling ke orang lain, menjaga kualitas produk, harga yang kompetitif, ketepatan waktu untuk pemesan, sangat penting. Tak jarang pula Alumni Fakultas Ekonomi Manajemen Keuangan Universitas Sumateran Utara (Usu) kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat itu minta masukan dari pelanggan, tentang model dan kualitas. Modal sosial – kepercayaan pelanggan itulah yang menjadi andalannya. “Usaha kecil dan menengah (UKM) akan dapat berkembang dengan baik selama tidak mengecewakan pelanggan. Melayani dengan ramah, itu salah satu kuncinya,” jelasnya.

Dia memberi contoh, bila ada konsumen datang, tidak menemukan model dan kualitas bahan yang diinginkan, diajaknya calon pelanggan itu ke tempat barang yang dicari. Dijelaskan pula kualitas, kelemahan dan kelebihan barang yang bahan bakunya diambil dari Tanah Abang dan Tangerang, maupun bahan dari impor.

Adi mengakui bahwa pemasaran produknya masih mengandalkan potensi dalam negeri yang jumlah penduduknya kini mencapai 240 juta jiwa. Potensi ini jika digarap dengan baik luar biasa. Kalau pun ada kolega yang membantu memasarkan ke luar negeri, sifatnya temporer. Misal, ada anggota rombongan jemaah haji pesan tas ke DeMour Collection perusahaan Adi, di PIK Blok C No 9-10, Jl Raya Penggilingan-Cakung-Jakarta Timur, lalu mereka bercerita dari mulut ke mulut. Belakangan, mulai ada perusahaan yang pesan tas merek DeMour Collection, untuk dipasarkan ke Brunei Darusalam, Singapur, Malaysia dan Australia.

Menyikapi membanjirnya produk-produk China di pasar Indonesia, kata Adi, para pelaku usaha tak perlu khawatir. Untuk bersaing dengan produk impor, yang dibutuhkan mampu menggali inovasi-inovasi baru, kreatif, dan tetap menjaga kualitas produk, serta harga yang bersaing. Kelemahan produk kita pada umumnya, kualitas tidak terjaga, harga pun lebih mahal dibandingkan barang dan kualitas yang sama dari produk luar.

Terkait dengan kebijakan, dan peran pemerintah untuk tumbuhkembangnya UKM, Adi berpendapat bahwa peran pemerintah masih sangat terbatas. UKM di negeri ini tumbuh secara alamiah. Sentuhan pemerintah masih sangat terbatas. “Apa yang dilakukan pemerintah untuk UKM, pembinaan, misalnya, sering tidak tepat dan salah sasaran. Kalau mau membina, dalami dulu apa kebutuhannya,” jelasnya.

Membina dengan memberikan bantuan berupa barang, kata Adi, jarang yang berhasil. Idealnya, pembinaan itu pendambahan ilmu, bagaimana memanej usaha secara profesional. Peran perguruan tinggi menciptakan entreprenuer – wirausaha yang handal juga sangat diharapkan. Tetapi sekarang ini masing sering menjadi pertanyaan. Perguruan tinggi “hanya sekedar” melahirkan sarjana.

Sebab dalam perkuliahan ekonomi sifatnya masih terlalu umum. Sehingga 100 mahasiswa, belum tentu ada 10 mahasiswa yang tertarik – fokus tentang wirausaha. Mereka lebih banyak yang berpikir, lulus kuliah mencari pekerjaan, bukaqn menciptakan pekerjaan. Kata orang, membuka usaha itu modal utamanya uang. Tetapi bagi Adi, bukan. Modal sosial – relasi dan jejaring, lebih penting. Tentu, tak boleh melupakan kualitas. Membuka warung nasi, misalnya, masakannya harus enak – sedap.

Peran UKM sebagai poros pemberdayaan perekonomian luar biasa. Berkaca sejak krisis 1997 – 1998 dimana banyak perusahaan besar gulung tikar, dan krisis 2008 membuat panik pengusaha kaya raya, namun UKM tidak pernah rentan, dan kokoh menjadi penyangga perekonomian nasional. Pertumbuhannya seakan tak pernah mengenal musim. UKM seakan telah menyatu dengan alam – keadaan yang kadang tidak setabil. Berbeda dengan pertanian tadah hujan. Terlalu banyak hujan atau kemarau panjang, panennya bisa gagal.

Untuk mengembangkan usaha, Adi mengaku belum pernah mengajukan pinjaman ke bank. Dia lebih mengutamakan modal sosial kepercayaan relasi dan jejaring. Menjaga dan mengembangkan modal sisial itu juga tidak mudah. Banyak kiat yang harus dicari. “Jika modal sosial itu terjaga dengan baik, semua akan lancar,” jelas Adi yang kini punya 30 orang karyawan. Sehingga tiap bulan mampu memproduksi sekitar 10.000 tas dari berbagai jenis. Soal harga, ada yang hanya Rp 10.000,- ada juga yang Rp 500.000,- Tergantung ukuran, model, dan bahan bakunya, lokal atau yang impor. (Sutarwadi K)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *