Membangkitkan Spririt Fundamental Credit Union

Dalam waktu sekitar 3 bulan, setelah melewati pertemuan dan pendalaman ide, maka P. Fredy mengundang A. R. Mecer, Ketua Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Kalimantan, (sekarang Badan Koordinasi Credit Union – BKCU) Frans Laten,General Manager (GM) BKCU Kalimantan, MasiunDeputi POR Pancur Kasih, dan Eduard SusantoStaf POR Pancur Kasih, dalam Lokakarya Strategic PlanningCredit Union”, tanggal 4 – 8 Desember 2006, di Paroki Makale, Tana Toraja. Kegiatan yang dihadiri 83 peserta ini, melewati pembongkaran pola pikir lama, penjungkirbalikan persepsi, dan penyatuan tekad untuk memulai habitus baru dalam gerakan credit union.

Akhirnya, tanggal 7 desember 2006 CU untuk masyarakat Toraja ini didirikan dengan mengambil nama: Sauan Sibarrung. Sauanberarti hembusan, Sibarrungberarti bersinergi. Sauan Sibarrung menunjuk pada alat yang digunakan oleh pandai besi, yang terbuat dari 2 (dua) batang pohon nibung yang dilubangi, lalu diberi alat untuk menghembuskan angin ke bawah secara bergantian (bersinergi), sehingga bara api memanaskan besi yang akan ditempa. Sauan Sibarrung dalam mitologi agama asli orang Toraja adalah tempat menempa Bulawan Tasak (emas murni) menjadi segala sesuatu yang ada: manusia, hewan dan tumbuhan. Di sana tergambar kehidupan baru, persaudaraan, cinta alam semesta, dan kerja keras.

Pendirian credit union modern ini rupanya tersebar dan dengan cepat, terutama dari kalangan umat Katolik. Di sana sini tersebar kekuatiran dan ketakutan, di antara selintas harapan dan suka cita. Beberapa tokoh umat yang belum mengerti betul mengungkapkan kecemasan mereka tentang keberanian Gereja Katolik mengurus (kembali) koperasi, sementara kisah bangkrutnya credit union Katolik era 1980-an masih segar dalam benak. Belum lagi luka yang ditinggalkan oleh KOSPIN (Koperasi Simpan Pinjam) yang berpusat di Kota Pinrang, yang pada tahun 1998 melarikan uang masyarakat triliunan rupiah, membuat umat dan masyarakat masih pikir-pikir. Pun juga dengan ‘pelipatgandaan’ uang model pinjaman Kapitalisasi waktu itu, membuat sinis masyarakat semakin bertambah. Dengan meminjam uang yang ‘tidak kelihatan’ sebesar Rp 5 juta, dalam kurun waktu 5 tahun, uang itu menjadi Rp 10 juta. Darimana munculnya? Sebuah hitung-hitungan yang sulit dimengerti, bahk an merek a yang sudah terbiasa mengelola keuangan.

Demikianlah akhirnya Credit Union Sauan Sibarrung memulai kisah yang tidak gampang ini. Hingga Februari 2014, jumlah anggota yang tergabung telah mencapai 26.424 orang, yang tersebar di 11 kantor pelayanan di5 kabupaten (Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur) dan 2 kota (Pare-Pare dan Palopo) sebagai wilayah pengembangannya. Sebuah pencapaian yang bagi sebagian besar orang di luar mungkin adalah mukjizat, tetapi bagi aktivis Credit Union Sauan Sibarrung ini adalah hasil kerja keras dalam kebersamaan dengan spirit pemberdayaan!

Tidak selang beberapa lama Credit Union Sauan Sibarrung bisa menemukan cetak biru cara kerjanya. Masyarakat yang dulu menjaga jarak, akhirnya berangsung-angsur berani bergabung. Dari tahun ke tahun anggota bertambah, demikian pula aset. Tahun 2007 anggota Credit Union Sauan Sibarrung adalah 1.944. Berturut-turut di tahun berikutnya adalah 3.793 – 6.589 – 10.969 – 15.750 – 21.895 – 25.493, dan akhirnya per maret 2014 adalah 26.424 dengan aset sebesar Rp. 261.660.094.145.

Secara pasti credit union model Kalimantan ini melipatgandakan anggota dan aset, pinjaman beredar, sisa hasil usaha (SHU), dan beberapa indikator lainnya. Credit Union Sauan Sibarrung lalu menjadi bagian dari koperasi besar di Toraja, pun di Sulawesi Selatan. Bagaimana ini mungkin terjadi?Belum ada penelitian ilmiah atas itu, namun dapat disimak beberapa indikator. Satu di antaranya, dan ini cukup unik, adalah sistem pinjam simpan (kapitalisasi) yang tidak ada di lembaga keuangan manapun, yang sekarang disebut Pinjaman Menambah Tabungan (PMT). Sistem yang tak mampu dipahami oleh orang bank ini rupanya telah mengubah kebiasaan boros anggota, dan mencipta kebiasaan menabung.

Dari tabungan bertahun-tahun hanya dua juta rupiahmenjadi tertulis sepuluh juta di buku tabungan(meski harus dicicil setiap bulan). Filosofi Petani dari Anselmus Mecer diterjemahkan oleh P. Fredy Rante Taruk, Pr menjadi Filosofi Indo’ Seng(Induk Uang) di Credit Union Sauan Sibarrung. Bahwa uang bisa beranak-pinak, anggota mendapat pendapatan pasif di credit union, dan anggota harus rajin memberi makan induk uangnya (alias menabung), agar dapat beranak pinak. Ini didukung dengan kebijakan bunga tabungan unggulan yang mencapai 15% pada waktu itu.

Kedua, credit union model ini menjalin komunikasi yang baik dengan anggota. Mereka hadir dalam pendidikan dasar dan lokakarya pra-RAT, mengkomunikasikan harapan dan mendalami aturan-aturan yang berlaku di credit union. Keterbukaan sistem dan cara kerja membantu anggota untuk juga mengontrol perkembangan credit union. Ketiga, varian produk credit union mengakomodir kebutuhan anggota. Ragam tabungan mengajar anggota bahwa ada tabungan untuk masa depan, ada tabungan untuk anak sekolah, ada tabungan untuk dana darurat, dan seterusnya.

Semangat baru berkoperasi telah kembali, harapan akan masa depan makin besar. Mereka mulai menebus sawah yang dulu digadai, membeli anak babi untuk dipelihara, membeli motor untuk ojek, mesin penggiling kopi, membiayai anak sekolah dan kuliah, membeli angkot. Ketergantungan pada orang lain mulai dikikis. Rentenir mulai ditinggalkan. Inilah kabar gembira, bahwa credit union telah mengajak semakin banyak orang untuk bergabung dan mengumpulkan dana masyarakat lebih besar untuk kepentingan bersama.

Hanya saja, dan ini kabar yang mencemaskan, fokus terlalu kuat pada tujuan keuangan, dan mengabaikan beberapa indikator tujuan sosial dan moral, telah memberi kesempatan kepada beberapa anggota untuk sekedar memikirkan uang dan bukan perbaikan kualitas hidup. Beberapa anggota mengarahkan diri untuk menjadi ‘Orang Kaya’ dalam materi, hingga harus selalu bersaing dan melebihi yang lain. Tidak salahlah jika anggota credit union juga telah terjebak dalam pola pikir dan perilaku ‘big is beutifull’: tabungan yang besar, pinjaman yang besar, keuntungan yang besar, sedemikian rupa, sehingga terjadi praktek-praktek kapitalis di credit union. Memompa tabungan hingga ratusan juta (atau miliaran), yang tentu saja diilhami oleh ‘added-value’filosofi Robert T. Kiyosaki, telah membuat pincang kebersamaan anggota credit union: yang kaya telah semak in k aya, sementara yang kecil tetap kecil. Masuknya credit union dalam perangkap Ciri Bank, telah membuat credit union menelurkan strategi ‘uang mencari uang’, yang sangat sulit dipahami oleh para petani. Semakin banyak simpanan, semakin banyak juga bunga simpanan. Dan beberapa anggota cukup berduduk manis menunggu bunga tabungan setiap bulan, sementara sebagian besar harus berpeluh di sawah. Sudah pasti, kebijakan ini telah mengabaikan prinsip cooperative credit union.

Fenomena menarik lainnya adalah beberapa nenek telah dimasukkan anak mereka ke credit union dengan harapan (tersembunyi) di benak bahwa suatu saat akan ‘mendapatkan’ Jalinan (Perlindungan) BKCU Kalimanta. Sementara itu, kredit yang murah dan mudah dengan agunan ‘kepercayaan’ telah menaikkan semangat beberapa anggota untuk menambah dan menambah jumlah pinjaman, demi menutupi biaya pesta keluarga yang wah. Yang lain telah meminjam secara Kapitalisasi (beberapa kali) untuk terus menumpuk duit mereka di credit union, yang hanya dalam beberapa bulan bisa mencapai ratusan juta rupiah, dengan harapan mendapat bunga tabungan unggulan yang besar. Setali tiga uang, beberapa Tempat Pelayanan (TP) dengan senang hati telah mencairkan pinjaman yang besar dengan jaminan BPKB dan sertifikat tanah, mungkin dengan harapan terpenuhinya margin 70-80% pinjaman beredar dan keuntungan yang besar, tanpa analisis yang mendalam.

Tapi itu dulu. Credit Union Sauan Sibarrung, dengan ilmu yang terus menerus diperbaharui, kemudian sadar dan segera memutar kemudi. Jika credit union ini bangga dengan sosialisasi slide excel‘Who wants to be a millioner’, maka suatu saat akan berhadapan dengan bunga simpanan mencekik yang harus dibayar sebagai biaya modal. Jika credit union ini bertahan dengan kegiatan simpan dan pinjam, maka credit union ini akan menjadi kantor penerima duit dan pencair kredit semata. Jika credit union ini masih asyik dengan prinsip jumlah anggota dan aset yang besar, maka suatu saat akan terjebak dalam kuantifikasi yang rumit dan mengabaikan kualitas hidup anggota yang miskin. Dan sederet lagi premis-premis yang mencemaskan, membuat Credit Union Sauan Sibarrung segera membuat lompatan berani untuk mengubah haluan.

Pada tahun 2009 CU-SS segera memikirkan dan mengirim staf manajemen ke Credit Union Lantang Tipo, Kalimantan Barat untuk mempelajari CUMI (Credit Union Microfinance Innovation), sebuah sayap layanan credit union untuk membantu para pelaku usaha kecil di pasar-pasar tradisional. Program ini kemudian fokus membantu masyarakat lokal di Toraja untuk permodalan dan pengembangan usaha mereka. Dengan tabungan harian minimal Rp.1.000,-, selama 100 hari, mereka lalu dapat meminjam Rp.100.000,- untuk membeli sayur dan kemudian menjualnya kembali di pasar. Selisih keuntungan kemudian digunakan untuk membayar angsuran mereka dan menambah simpanan. Secara perlahan mereka bangkit dari kekerdilan, dan berusaha merangsek ke tengah pasar untuk bersaing dengan pedagang-pedangang besar yang berasal dari luar Toraja. Inilah pemberdayaan.

Credit Union tidak seharusnya berfokus pada pengumpulan SHU di akhir tahun. Dia harus lebih besar dan luas untuk membawa perubahan sosial dan moral di tengah masyarakat. Oleh karenanya, pada Business Plan Tahun Buku 2010, diputuskan bahwa Credit Union Sauan Sibarrung tidak lagi dipandang sebagai “Lembaga Keuangan” tetapi berubah menjadi “Lembaga Pemberdayaan”. Visi Credit Union Sauan Sibarrung diubah menjadi: “Lembaga PemberdayaanMasyarakat Toraja yang Tangguh, Terpercaya, dan Berkelanjutan, demi Kesejahteraan Anggota”.

Karena itulah, Credit Union Sauan Sibarrung semakin memperkuat program dan strategi pada pemberdayaan kelompok-kelompok binaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, pelaku usaha kecil di pasar dan pelaku industri rumah tangga. Kelompok dipandang sebagai basis kebersamaan yang kuat, kohesif dan mudah diberdayakan. Pemberdayaan anggota credit union dalam kelompok akan lebih terukur, terarah dan lebih efektif. Karakteristik kelompok juga menentukan karakteristik pemberdayaan dan intervensi credit union pada kelompok tersebut. Orang-orang kecil harus dibimbing, diberi pemahaman, dan diajak berproduksi. Dengan begitu pinjaman mereka akan lebih tepat guna dan bukan justru menjadi bumerang ketika pinjaman itu tidak dikelola secara bijaksana. Anggota masuk ke credit union dengan tujuan hidup sejahtera, bukan kemudian jatuh miskin karena sertifikat tanah mereka disita oleh credit union. Dengan demikian credit union bukanlah lembaga pencair kredit, bukan pula pengumpul angsuran anggota.

Menurut catatan manajemen, hingga Maret 2014, Credit Union Sauan Sibarrung telah mendampingi 198 Kelompok dengan anggota mencapai 1.499 (lih. Tabel ). Ini berarti Credit Union Sauan Sibarrung sebenarnya telah melayani 1.499 keluarga, sebab setiap anggota kelompok adalah wakil dari keluarga-keluarga anggota credit union.
tabel membangkitkanMengapa memilih kelompok Binaan? Pertama, nilai yang dibangun di dalamnya sangat manusiawi: kejujuran, kepercayaan, kerjasama, solidaritas, dan disiplin diri. Kedua, dalam kelompok kecil, 5-10 orang, anggota akan dengan mudah bekerjasama dan mengembangkan potensi mereka. Sharing dan pertemuan kelompok akan memudahkan anggota saling berbagi dan transfer ilmu. Ketiga, dari sisi rentang kontrol (span of control), manajemen akan dipermudah dengan tanggungjawab yang telah diperankan oleh pengurus kelompok, terutama terhadap pemantauan kredit yang cair. Keempat, Pinjaman yang diberikan kepada anggota sesuai dengan karakteristik usaha mereka, dan pengembaliannya pun diangsur ketika mereka telah berhasil (panen). Kelima, sistem tanggung renteng telah terbukti efektif mendisiplinkan anggota dan menekan kredit lalai. Keenam, dan ini yang pamungkas, bahwa kelompok usaha ini telah sedikit menjawab kekuatiran akan ancaman perilaku konsumtif, sehingga anggota sedikit demi sedikit berdaya dan mengubah hidup mereka ke arah lebih baik.

Di tahun buku 2014 Credit Union Sauan Sibarrung telah menargetkan akan terdapat 290 kelompok binaan per Desember 2014, yang terdiri dari kelompok Tani Padi 114, Tani Jagung 23, Tani Sayur 5, Peternak Babi 95, Industri Rumah tangga 10, CUMI 40, dan Kampung wisata 3. Khusus untuk target pembentukan Kampung Wisata, Credit Union Sauan Sibarrung akan menjalin kerja sama dengan pemerintah desa setempat untuk merumuskan potensi desa dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal. Kampung Wisata ini adalah model pemberdayaan masyarakat desa yang masyoritas adalah anggota credit union. Kesenian, makanan tradisional, adat-istiadat, budaya lokal, dan semangat gotong royong akan menjadi fokus pengembangan memperkuat masyarakat lokal.

Tidak sedikit pengalaman yang muncul di lapangan ketika beberapa anggota koperasi merasa ‘terjebak’ dengan sistem jaminan dan penyitaan barang jaminan. Motor, mobil, tanah, rumah, dan harta benda lainnya telah disita oleh koperasi demi melunasi kredit mereka yang bermasalah. Bukankah ini merupakan contoh layanan koperasi yang justru ‘menjerumuskan’ ke jurang kemiskinan? Tidak lalu membuat anggota menjadi sejahtera, tetapi justru jatuh miskin.

Latar ini mendorong Credit Union Sauan Sibarrung untuk selalu memikirkan produk dan pelayanan yang membebaskan. Di awal tahun 2013 Credit Union Sauan Sibarrung tidak lagi menerima anggota yang tidak mau mengikuti Pendidikan Dasar selama 16 jam, 2 hari penuh. Pendas dulu, baru jadi anggota! Mengapa? Agar anggota paham benar sistem dan aturan yang ada. Agar mereka paham PMT dengan baik. Agar bisa menghitung bunga simpanan mereka sendiri, dan seterusnya. Bukan asal menjadi anggota, lalu keluar karena merasa ketipu. Pembatasan setoran ke simpanan unggulan anggota hanya Rp. 500.000,- per bulan dan tidak boleh melakukan PMT ulang untuk menambahnya, adalah layanan agar anggota tidak menumpuk uang di simpanan unggulan untuk sekedar mendapatkan bunga simpanan sebesar 12% per tahun. Ini juga berdampak pada keadilanbagi orang-orang kecil yang bersusah-susah di sawah.

Para petani padi baru akan membayar angsuran mereka setelah panen; para peternak babi membayar angsuran setelah menjual babinya; para penganyam tikar membayar pinjamannya setelah tikar terjual; para penjual di pasar menyetor ke staf CUMI setelah siang hari, ketika jualan mereka telah laku. ini adalah layanan yang membebaskan, sebuah design produk yang berbasis pada karakteristik usaha anggota. Produk yang lahir dari kebutuhan dan sesuai dengan kondisi riil anggota, dan bukan produk copy pastedari Pola Kebijakan sebelumnya. Produk ini selaras dengan prinsip credit union: “Helping People To Help Themselves”.

Kredit Kelompok Binaan jelas terukur, tepat sasaran, efektif, dan aman. Tujuan kredit ini jelas tertulis dalam Rencana Kredit Anggota (RKA) yang disatukan dalam Rencana Kredit Kelompok (RKK). Peruntukan kredit adalah pembelian pupuk, obat-obatan, pakan ternak, benang tenunan, biaya tanam, biaya panen, dan seterusnya. Manajemen pun dengan gampang menganalisis kredit kelompok, karena data basemereka telah terekam jelas: luas lahan, jumlah indukan, sarana produksi yang mereka miliki, dan lain-lain. Tidak ada main kucing-kucinganketika anggota kelompok bermohon kredit: tertulis untuk biaya sekolah, tetapi tiba di dealer untuk membeli motor!

Hanya dengan pendidikan yang terus menerus visi credit union dapat terwujud. Pendidikan yang terus menerus bagi anggota, aktivis, pengurus, pengawas, komite dan staf manajemen, menjadi kunci proses pemberdayaan yang terjadi di Credit Union Sauan Sibarrung selama ini.

Di tahun buku 2013 Credit Union Sauan Sibarrung telah melaksanakan 275 kali pendidikan bagi anggota yang diikuti oleh 16.631 orang. Pendidikan itu adalah Pendidikan Sosialisasi credit union, Pendidikan Dasar, Pendidikan kecakapan keuangan, Pendidikan Gender, Diklat wirausaha, Diklat Pertanian Padi, Diklat Peternakan Babi, dan lain lain. Sementara untuk Pegurus-Pengawas dan Staf, Credit Union Sauan Sibarrung menyelenggarakan 32 kali Diklat, di antaranya adalah diklat Manajemen Kredit, CUSCCC, CRM, PSDM, Financial Literacy, Media Audio Visual, TOT Strategic Planning, dll. Total investasi Credit Union Sauan Sibarrung pada bidang pendidikan di tahun 2013 sebesar Rp. 1,6 Miliar lebih.

Di tahun buku 2014 ini Credit Union Sauan Sibarrung menargetkan pendidikan bagi anggota: Pendidik an M otivasi-penyegaran sebanyak 179 kali, Pendidikan Dasar 188 kali, pendidikan Financial Literacy 83 kali, diklat pertanian-peternakan 29 kali, kunjungan Pembinaan Kelompok 509 kali, dan pendidikan kewirausahaan 6 kali. Sementara itu, pendidik an bagi pengurus-pengawas-staf-aktivis tetap menjadi prioritas. Beberapa yang mendapat perhatian khusus adalah TOT Pendidikan Dasar bagi Kelompok Inti, TOT Pendamping Kelompok Binaan, Studi Banding selama 14 hari bidang Pertanian Organik di Semarang, Studi Banding Pertanian Terpadu selama 7 hari di Manila Filipina, Development Educator selama 7 hari di Bangkok Thailand, diklat CULOCC, CUDCC, CUSCCC, dan lain-lain.

Akhirnya, karena keterbatasan ruang, semoga spirit pemberdayaan ini semakin memacu para aktivis CU untuk selalu membaharui diri berdasar pada semangat fundamental Credit Union sebagaimana telah dicetuskan oleh Raiffeisen. Tujuan sosial dan moral CU hendaknya juga meresapi aturan-aturan praksis CU-SS, sehingga CU tidak terjebak pada praktek-praktek keuangan pragmatis, dan lebih mengutamakan peningkatan kualitas hidup anggota. (Anthonius Pararak)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Membangkitkan Spririt Fundamental Credit Union

  1. Mantabbzzz Sauan Sibarrung 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *