Membangun bangunan Megah dari Puing yang terserak

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dikenal sebagai pejabat yang sangat memerhatikan nasib pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) termasuk koperasi sejak masih menjadi Walikota Solo, Jawa Tengah. Itu dilatarbelakangi dari profesi Jokowi yang merintis usaha mebel dari bawah, dan pendiri Koperasi Mebel di Solo.

“Sebagai insan koperasi, kami ingin ketemu beliau. Kami sudah mengirim surat mohon waktu untuk audience, tetapi belum dapat kesempatan,” jelas Ketua Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD), DKI Jakarta, Hasanuddin Bsy, SH, mantan pegawai DKI yang mengabdi di koperasi sejak 32 tahun silam, saat berbincang dengan Majalah UKM di kantornya, di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, tidak jauh dari Balai Kota, Kantor Gubernur DKI Jakarta.

Kalau sudah dapat kesempatan, kata dia, ingin menyampaikan berbagai masalah perkoperasian, tidak hanya yang menyangkut KPPD sebagai koperasinya pegawai Pemprov DKI Jakarta, tetapi juga masalah perkoperasian yang ada di Jakarta, terutama koperasi pegawai birokrasi, dan khususnya koperasi anggota Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) DKI Jakarta. “Salah satu masalah penting yang ingin disampaikan kepada Gubernur adalah pembinaan koperasi di lingkungan pegawai negeri di Jakarta. Secara keseluruhan, koperasi itu binaan Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan. Kalau saya fungsinya membina koperasi di lingkungan birokrasi,” jelas Hasanudnin, yang juga sebagai Ketua PKPRI, DKI Jakarta.

Gubernur secara tidak langsung sudah tahu bahwa di lingkungan Pemprov DKI Jakarta ada koperasi besar anaknya Gubernur sendiri yang cukup menggembirakan. Di  lingkungan PKPRI DKI Jakarta yang anggota 321 koperasi, KPPD termasuk yang terbaik. Secara nasional pun KPPD masuk terbaik, dan mendapat penghargaan dari Kementerian Koperasi dan UKM, yang diserahkan langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM di hadapan Presiden. “Prestasi ini akan kami pertahankan, dan ditingkatkan, agar paling tidak memberikan sumbangsih pada perekonomian nasional,” katanya.

Diwarisi koperasi kolaps – matisuri karena salah kelola, tidak mudah membangun sistem dan kondisi menjadi seperti saat ini. Membangun sebuah bangunan megah dari puing-puing yang terserak, hampir mustahil. Namun dengan semangat, ketekunan, keuletan dan fokus, hasilnya membanggakan. Waktu itu, kata dia, koperasi dalam kondisi kolaps karena salah kelola atau diciptakan menjadi salah. Pada pada 3 tahun pertama sangat berat karena harus membenahi, muali dari nol. Setelah 3 tahun tunasnya mulai tumbuh. Terutama tunas kepercayaan anggota. Cobaan kedua ketika pimpinan di DKI Jakarta tidak berpihak kepada koperasi, khususnya koperasi pegawai DKI, dimana semua gaji dan  pendapatan pegawai dibayarkan melalui bank.

“Saya ingin menyampaikan kepada Gubernur agar kebijakan-kebijakan yang dapat merugikan koperasi diperbaiki,” tuturnya. Kalau mengenai Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur masalah gaji dan pendapatan melalui bank bagus karena akan membantu kemudahan. Disamping Pergub ada Intruksi Gubernur No 75 tahun 2008 dimana para bendahara dilarang memotong gaji dan pendapatan pegawai sehingga banyak sekali koperasi yang kolaps karena uang tagihan kepada anggota tidak bisa masuk. “Untung KPPD cepat mengambil sikap, sehingga 3 bulan kemudian, kesulitan itu bisa segera diatasi. Kami melapor kepada pimpinan, akhirnya dipertemukan satu meja dengan Badan Kepegawaian, Bank DKI dan regulator yang mengatur masalah gaji, sehingga KPPD dapat mengadakan MoU dengan Bank DKI,” urainya.

Koperasi yang besar-besar memang sudah bisa kerja sama dengan Bank DKI, tetapi yang kecil-keciil belum bisa. Koperasi yang ada di sekolah-sekolah atau yang ada
di Suku Dinas (Sudin), di Kemcamatan, pengurusnya masih harus menagih langsung kepada anggota. Yang menjadi beban, kerja sama dengan Bank DKI karena dikenakan fee 1% dari jumlah setoran. Kalau koperasi dapat setoran Rp 1 miliar harus bayar fee Rp 10 juta. “Waktu Rapat Anggota Tahunan (RAT) saya bisik-bisik kepada Asisten Perekonomian dan Administrasi Ir H Hasan Basri Saleh, Msc, yang hadir mewakili Gubernur Jokowi, agar fee 1% itu ditinjau. Kalau bisa diturunkan menjadi 0,5% saja,” kata Hasanuddin berharap.

Gubernur Jokowi dalam sambutan tertulis yang dibacakan Hasan Basri mengharapkan KPPD DKI Jakarta yang kini telah berusia 33 tahun mampu menjadi penggerak perekonomian pegawai di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, dan mampu mencapai tujuan mulia koperasi yaitu mensejahterkan anngotanya. Kemampuan KPPD mencapai tujuan tersebut bergantung dari kesungguhan kinerja pengurus yang dipercayakan anggota untuk mengelolanya.

Dalam laporan pertanggungjawaban tahun buku 2012 disebutkan, koperasi telah mengirim 5 orang pengelola dan 200 anggota untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan kader perkoperasian yang diselenggarakan atas kerja sama PKPRI dan Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), Jatinangor. Para anggota yang meminjam baik uang maupun kredit barang diasuransikan jiwanya, kerja sama dengan Asuransi Bumiputera 1912 dan Asuransi Sinar Mas. Disamping menjaga keutuhan modal KPPD juga ahli waris almarhum – almarumah, tidak terbebani sisa utang karena telah dilunasi asuransi.

Tahun 2012 jelang Hari Raya Idul Fitri 1433 H, pengurus memberikan bingkisan berbentuk vocher untuk belanja di Indomaret senilai @ Rp 150.000,- sehingga akumulasinya sebesar Rp 1.333.500.000,- Untuk tahun 2013 juga ada program yang sama, tetapi besarannya belum ditentukan. Setiap anggota yang meninggal dunia, ahli warisnya mendapat uang duka sebesar Rp 500.000,-.

Kecuali usaha utama Simpan Pinjam, KPPD juga memiliki unit-unit usaha lain seperti ; penjualan barang elektronik dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kredit sepeda motor, rumah kost, persewaan ruangan kantor dan kios, foto copy serta kerja sama dengan pihak ketiga. Dari seluruh kegiatan usaha selama tahun 2012 KPPD menggapai keuntungan bersih sebesar Rp 1.282.757.082,- sebagai sisa hasil usaha (SHU). Sedangkan target SHU 2013 ditetapkan Rp 1.499.263.410,-

Selaku pengurus, Hasanuddin mengaku, mengamati dan melihat sendiri bahwa anggota KPPD DKI Jakarta cukup bangga dan puas terhadap pelayanan kinerja pengurus. Karena disamping manajemen koperasi sudah cukup baik, kebijakan-kebijakan pengurus berorientasi kepada kepentingan anggota. Sehingga sampai saat ini tidak ada seorang anggota pun merasa kecewa terhadap pelayanan KPPD. “Setiap saat anggota membutuhkan pelayanan pengurus – manajemen selalu siap,” tegasnya.

Soal pelayanan, boleh dibilang sudah prima. Anggota yang pinjaman untuk kepentingan sangat urgen, hari itu bahkan jam itu juga segera dikasih. Pelayanan sudah seperti bank. Untuk kenyamanan anggota bertransaksi ada beberapa loket, di ruang tunggu yang cukup representatif disediakan kursi, dan kasir pun kerja cekatan. Angota yang datang mau pinjam uang, selama persyaratan terpenuhi saat itu juga dikabulkan. Persyaratan itu misalnya, gajinya masih memungkinkan untuk dipotong.

Waktu RAT yang dilaksanakan pada 27 Februari 2013 silam disampaikan perkembangan KPPD dalam perjalanan 5 tahun terakhir, cukup membanggakan dimana posisi aset koperasi sampai 31 Desember 2012 sudah mencapai Rp 67 miliar. Kekayaan koperasi Rp 34 miliar. Kalau orang akuntasi melihat komposisi penguatan modal lebih dari 50%, seandainya koperasi bubar, mampu menyelesaikan kewajiban – mengembalikan hak-hak anggota. KPPD sangat sehat dari aspek permodalan, aspek manajemen dan organisasi juga baik. Pelayanan kepada anggota maupun sistem administrasi cukup memadai dengan menggunakan IT bekerjasama dengan Bank DKI.

Diwarisi koperasi dalam kondisi kolaps – matisuri, untuk membangun sistem dan kondisinya menjadi seperti saat ini, tidaklah serta-merta. Perjuangan berat, perjalanan panjang dan berliku harus dilalui. Ibarat membangun sebuah bangunan megah dari puing-puing yang terserak, hampir mustahil. Yang paling berat, kata Hasanuddin, mengembalikan kepecayaan anggota yang jumlahnya ribuan. Namun dengan bara semangat untuk mempertahankan koperasi, ketekunan, keuletan dan fokus, akhirnya memperoleh hasil yang membanggakan.

Belajar dari pengalaman jatuh bangun mengelola koperasi, dari kondisi apapun koperasi harus bangkit dan maju. Ilmunya hanya satu, fokus. Kalau kita fokus mengelola suatu organisasi, apapun namanya termasuk koperasi akan bisa berhasil. Karena koperasi orientasinya kepentingan anggota, kita harus melihat apa maunya anggota. Sebab anggota adalah pemilik, sekaligus pelanggan koperasi, pengurus harus mampu menyerap aspirasi anggota. Bukan pengurus yang memaksakan kehendaknya. KPPD sebagai koperasi fungsional yang dibutuhkan para anggota simpan – pinjaman. Karena itu fokus usahanya juga pada kegiatan simpan pinjam.

“Mengelola koperasi tidak boleh sambilan, tapi harus serius dan focus. Kalau tidak fokus, tidak akan berhasil baik. Misalnya, mau ke Merak, tetapi juga ingin ke Cirebon, tidak mungkin akan mencapai tujuan secara bersamaan. Bahkan bukan tidak mungkin gagal semuanya. Kalau tujuannya ke Merak, naik mobil targetnya 10 jam, yang akan dikunjungi Badu, itu namanya fokus. “Saya sudah buktikan. Mengelola KPPD  juga fokus, tujuannya mensejahterakan anggota,” tegasnya.

Kiatnya, kata dia, dengan manajemen yang baik, simple – mudah dimengerti, bisa dilaksanakan dan terukur. Karena ini koperasi, kalau hanya pengurusnya saja yang pintar, mampu mengelola koperasi, tetapi si pemilik perusahaan – anggota tidak pintar, tidak bisa. Artinya harus ada keseimbangan dan sinergi. Maunya anggota bagaimana, pengurus melayani. Supaya anggota menyadari bahwa koperasi adalah perusahaannya sendiri, maka mereka juga perlu diberikan pendidikan – dibekali ilmu dan pelatihan. KPPD memiliki program setiap tahun menyelenggarakan pendidikan bagi 250 anggota. Pendidikan itu berjenjang, berkelanjutan. “Semua anggota harus mengikuti pendidikan. Pengurus pengawas dan manejemen pun demikian agar pengawas – pengurus dan pengelola menambah ilmunya,” tegasnya.

Bersyukur, kata dia, anggota sangat antusias mengikuti pendidikan lanjutan. Mereka ingin melihat matarantai materi yang diperdalam, yang memang ada kaitannya. Apalagi dari Pemprov DKI Jaya anggota yang mengikuti pendidikan juga mendapatkan dispensasi. Dari pihak koperasi juga memintakan semacam izin agar pegawai itu bisa mengikuti pendidikan koperasi. Pada umumnya, mereka merasa puas karena tahu lebih banyak tentang koperasi. Pendidikan itu sangat penting. Karena anggota koperasi pejabat-pejabat pemda sekarang ini sebagian juga pernah mengikuti pendidikan koperasi. Sehingga mereka memberi dukungan bagi pertumbuhan koperasi. “Kami mengakui, pejabat di Pemprov DKI Jakarta itu sangat mendukung program-prograsm KPPD,” tuturnya.

Tentang pengurus yang masih aktif sebagai pegawai, Hasanuddin yang kebetulan sudah pensiun mengatakan; “Memang ada sedikit kendala ketika yang jadi pengurus masih aktif sebagai pegawai. Namun tidak masalah. Pengurus boleh pegawai yang masih aktif. Pengurus itu tugasnya mengelola organisasi, dan membuat kebijakan-kebijakan, sedangkan pelaksananya adalah manajemen. Agar koperasi berkembang  dengan baik seperti yang diharapkan, caranya merekrut tenaga-tegana profesional, dan dipimpin manajer yang memiliki leadership – jiwa kepemimpinan yang mumpuni.”

Tentang regenarasi, kata dia, sudah dipersiapan melalui pendidikan dan pelatihan sejak 10 tahun silam, setelah dipercaya oleh anggota menjadi Ketua Umum. Karena pemilihan pengurus baru dilakukan setiap 5 tahun, diharapkan kader-kader terdidik itu sudah siap menggantikan.

KKPD saat ini boleh dikatakan sudah menjadi koperasi yang membanggakan. Ketika waktunya harus dilakukan regenarasi, sebagai orang yang membangun kembali dari puing-puing terserak menjadi bangunan kokoh, kekawatiran perkembangan selanjutan, meski yang menggantikan orangorang terdidik, tetap saja ada. Alasannya, setiap orang pola pemikirannya berbeda. Niat pertamanya bisa saja mulia. Tetapi begitu sampai di dalam, melihat ada peluang mungkin pikirannya akan berubah. Itulah yang membuatnya kawatir.

Menyangkut soal kemampuan, bisa belajar. Tetapi menyangkut amanah, sulit. “Saya selalu mengingatkan; Anda mengurus koperasi, pinjam di koperasi artinya pinjam kepada 9000 orang. Kalau Anda punya niat jahat, menzolimi koperasi 9000 orang itu akan mendoakan Anda. Ini kiat saya menyadarkan orang,” urainya. Pengalaman masa lalulah yang membuat Hasanuddin ada rasa kawatir. Dulu KPPD hancur lebur karena berubah niat di tengah jalan. (mar – yuni) 

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *