Membangun Ekonomi Berkelanjutan

Sejak Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Jenario, Brasil 1992, masyarakat dunia menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi, kemajuan ekonomi tidak ada artinya apabila tidak ditunjang oleh kehidupan masyarakat yang abadi, lingkungan yang terjaga dengan baik.

Ekonomi berkelanjutan itulah yang kemudian menjadi tema di banyak tempat, semua orang berupaya bagaimana pertumbuhan ekonomi dilakukan tanpa harus merusak lingkungan. Kita juga harus memikirkan bagaimana generasi yang akan datang bisa menikmati kondisi bumi tetap terjaga dengan baik. Pertanyaannya, bagaimana Indonesia mengmebangkan ekonomi berkelanjutan. Apa saja yang perlu kita lakukan supaya ekonomi kita bisa terus tumbuh tanpa harus mengganggu kondisi lingkungan dan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi menyisakan pekerjaan serius untuk mencukup kebutuhan energi. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi berdampak langsung terhadap peningkatan konsumsi energi. Seiring meningkatnya kebutuhan energi di Indonesia membuat pemerintah mau tidak mau harus mencari alternatif energi pengganti fosil yang jumlahnya terbatas untuk menjaga keberlangsungan energi di Indonesia.

Krisis listrik di Sumatera dan beberapa daerah lain, misalnya, menggambarkan betapa lemahnya kemampuan pemerintah dalam mengantisipasi lonjakan kebutuhan listrik. Akhirnya pemerintah lagi-lagi harus membakar bahan bakar minyak (BBM) untuk menghidupkan kembalilistrik yang padam. Padahal, penggunaan BBM menjadi beban keuangan Negara, karena selain harus impor pemerintah juga harus memberi subsidi.

Sebagai Negara yang kaya sumber daya alam (SDA) potensi energi Indonesia sangat besar dan melimpah. Potensi panas bumi sebesar 29.000 MW, merupakan yang terbesar di dunia. Bahkan potensi arus laut mencapai 60.000 kali kapasitas PLTA Jatiluhur. Krisis energi seharusnya tidak perlu terjadi di Negara kaya energi seperti Indonesia. Tinggal bagaimana kemampuan pemerintah mengelola anugegerah berbagai macam sumber energi yang telah Tuhan berikan kepada Indonesia. Namun pemanfaatannya saat ini belum seperti yang kita cita-citakan.

Selama ini banyak pembangkit tenaga listrik yang masih memanfaatkan BBM. Hal itu lambat laun harus dikurangi, sehingga energi kita makin mengarah kepada energi baru terbarukan dan memanfaatkan energi-energi yang jumlahnya besar seperti batubara, gas dan sebagainya. Jadi, penyediaan energi untuk masyarakat harus cukup sehingga tidak terjadi krisis.

Pemerintah, menurut Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswo Utomo, telah merencanakan pembangunan pembangkit listrik secara matang. Uang tersedia, teknologi tersedia, investor juga banyak tetapi sering muncul kendala, misalnya, tentang perizinan, dan pembebasan lahan. Sehingga pembangunan yang seharusnya bisa rampung 3 – 4 tahun, molor sampai 5 tahun baru selesai. Untuk bisa memenuhi kebutuhan energi, Indonesia harus membangun sedikitnya 5.000 MW per tahun. Setiap pertumbuhan ekonomi, pasti memerlukan pertumbuhan energi. Provinsi DKI Jakarta saja, misalnya, saat ini mengkonsumsi 5.600 MW. Pertumbuhan kebutuhan listrik akan semakin besar, sesuai pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta yang rata-rata mencapai 7% per tahun.

Dalam upaya menghemat energi, salah satu bentuk regulasi yang dikeluarkan oleh Pemprov DKI Jakarta adalah diterbitkannya Peraturan Gubernur (Pergub) No 38 tahun 2012 tentang Green Building, yang penekanannya pada konservasi air, energi dan lingkungan. Pembangunan, khususnya gedung harus menggunakan energi seefisien mungkin. Dalam Pergub tersebut juga diatur tentang gedung baru dan gedung lama. Untuk gedung baru lebih mudah, karena dari konsep desiannya sudah mengarah ke penghematan energi.

Walau Pergub tersebut baru diundangkan April 2012, namun karena owner-nya mengerti masalah green – sangat peduli, cukup banyak yang mengikuti Pergub. Contoh, Gedung Sampurna Strategic, Menara BCA, Gedung Dinas PU, dan banyak lagi. Gedung-gedung yang sudah ada pun diharuskan mematuhi Pergub. Namun dalam Pergub diatur, dibatasi luasnya. Untuk gedung sekolah, 10.000 meter persegi ke atas, hotel dan rumah sakit 20.000 meter persegi ke atas, sedangkan untuk perkantoran dan mall, 50.000 meter persegi ke atas. Karena gedung harus memiliki sertifikat laik fungsi yang berlaku 5 tahun, pada saat perpanjangan sertifikat, harus dilakukan audit energi, air dan limbah.

Menurut data yang dikeluarkan oleh UNEF, konsumsi energi manusia di bumi diperkirakan pada tahun 2050 akan mencapai 4 kali lipat dari konsumsi sekarang. Jika hal itu dibiarkan, bumi ini tidak akan mampu. Agar anak cucu kita kelak juga dapat menikmati energi dan sumber daya mineral yang kita miliki, tidak ada kata lain kecuali kita harus berhemat. Disamping itu kita harus memanfaatkan semua sumber energi secara baik. Energi baru terbarukan harus terus dikembangkan, kemudian mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.

Kampanye nasional penghematan energi perlu dilakukan terus menerus. Secara instruksi sudah dilakukan. Gedung-gedung perkantoran pemerintah mulai hemat energi dengan mematikan lampu dan AC yang tidak digunakan. Masyarakat juga dihimbau untuk mematikan lampu jika tidak dipakai. Kalau bisa menghemat 10% dari konsumsi listrik di Jakarta saja kurang lebih 560 MW, sehingga bisa dipakai di mana-mana.

Dengan kebiasaan berhemat, sangat membantu pemerintah dalam mengurangi pembangkitan. Pemanfaatan peralatan-peralatan mesin yang sangat hemat energi, efisien baik di segi hulu produksi maupun di hilir dalam pemakaian peralatan rumah tangga sangat efektif untuk mengurangi jumlah bahan bakar yang diperlukan. Jika kita bisa menghemat 10% – 20% otomatis akan mengurangi BBM dan batubara yang dibakar. Ujung-ujungnya kita akan mempunyai kelebihan dana untuk dipakai membangun infrastruktur.

Ekenomi berkelanjutan merupakan tantangan bagi kita semua yang harus dihadapi secara terintegrasi dan total football. Pemerintah harus mengundang investor yang bisa menanamkan modalnya di Indonesia, membangun pembangkit tenaga listrik panas bumi, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan sebagainya sehingga kebutuhan energi tercapai dengan peralatan-perlatan yang efisien dan ramah lingkungan. Dari segi pemakai harus bersama-sama melakukan penghematan, dan koneservasi.

Untuk kebutuhan listrik yang kecil-kecil bisa memakai bio masa. Tetapi yang besar-besar, yang kapasitasnya 150 MW ke atas bisa dengan panas bumi, yang lebih besar lagi dengan PLTA. Untuk daerah-daerah terpencil bisa memanfaatkan bio diesel dari CPO atau tenaga surya. Di perkotaan bisa memanfaatkan sampah sebagai pembangkit listrik. Dengan demikian menyelesaikan masalah persampahan, sekaligus mendidik masyarakat untuk lebih disiplin agar kota menjadi bersih.

Sejak beberapa tahun silam DKI Jakarta melakukan kampanye hemat energi, karena dikawatirkan kebutuhan energi yang begitu besar pada suatu saat akan kekurangan pasokan. Jika hal itu terjadi sangat bahaya. Karena disamping sebagai Ibukota provinsi, Jakarta juga Ibukota Negara. Itu sebabnya Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan Pergub No 38 tahun 2012. Saat ini penghematan memang baru pada bangunan-bangunan besar. Tetapi Pergub tersebut akan terus direvesi menyesuaikan dengan kesiapan masyarakat. Dan pada saatnya kelak semua pembangunan harus menerapkan green building, merejust penggunaan air dan lingkungan harus terpelihara dengan baik. Yang menjadi masalah, masyarakat kita tidak menganggap begitu penting mengenai lingkungan.

Sering kali kita berbicara mengenai energi. Dan selalu mengatakan Indonesia kaya akan energi. Di telinga kedengarannya enak, tetapi hal itu membuat kita merasa bahwa energi itu tidak pernah ada habisnya. Pertanyannya, apakah benar kita ini kaya energi, dan energi itu tidak ada habisnya? Tuhan memang memberikan anugerah energi begitu melimpah, tetapi bukan berarti suatu ketika kita tidak akan kekurangan energi, bila anugerah itu tidak dikelola dengan baik. energi fosil, gas, dan batubara pasti bisa habis. Memang ada yang tidak bisa habis seperti; air, matahari, angin, panas bumi dan sebagainya. Itu sebabnya kita harus berusaha menghemat energi yang bisa habis, dan terus mengembangkan pembangkit listrik dari energi terbarukan.

Kita perlu mengundang investor baik dari luar negeri maupun dalam negeri untuk membangun pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Investor diberikan insentif sehingga berlomba-lomba membangun listrik dari energi panas bumi, sampah, tenaga surya untuk menjaga lingkungan. Ada beberapa persyaratan yang selalu disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, antara lain; pro grow sehingga mereka dapat untung, pro job mereka bisa memberikan lapangan kerja, pro poor untuk masyarakat kurang mampu, dan pro envormen – lingkungan. Hal tersebut perlu makin difokuskan agar energi baru terbarukan pada tahun 2020 mencapai 20%, sedangkan yang 80% merupakan kombinasi dari minyak 5%, gas 20%, batubara 25%, selebihnya dari energi air, panas bumi dan tenaga surya.

Jika pembangunan pembangkit listrik itu direncanakan dengan baik, misalnya, prioritas pertama panas bumi, yang kapastitasnya mencapai 29.000 MW, kemudian batubara kalori rendah yang potensinya besar sekali. Kalau perencanaan itu berjalan dengan lancar, keberlanjutan energi akan tercapai. Namun harus ditopang dengan penghematan secara bersama-sama. (damianus)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *