Membangun Gerakan Ekonomi Kerakyatan dari Dusun

Setiap pengurus Kopdit harus menempatkan diri pada porsi masing-masing, dan semua harus 100%. Ketika sebagai pengurus harus mengurus pekerjaannya 100%. Konsep 100% adalah konsep pengaturan diri dengan tanggung jawab penuh. Tidak ada tanggung jawab yang disepelekan, dilalaikan, dan waktu yang 24 jam itu dimaksimalkan pengaturannya. Banyak pelatihan manajemen diri; Managing Yourself For Others (MYFO). Jika seseorang mampu mengatur diri, dia akan mampu mengatur kehadiran di lembaganya dengan baik.
Credit Union (CU) yang juga disebut Kopdit selalu diingatkan oleh Asian Confederation Credit Union (ACCU) bahwa Kopdit harus konsentrasi pada jiwa asli dari gerakan co-operative. Saat ini, gerakan co-operative penetrasinya tingkat dunia 8% dari total penduduk dunia. Karena itu, mengapa mesti ragu dan takut berpegang pada prinsip dan nilai co-operative yang justru dihayati di Kopdit.

Sejak tahun 1800-an sampai hari ini, co-operative economics adalah ekonomi jalan tengah. Tidak seperti joget Maumere, ekstrem ke kanan dan ekstrem ke kiri. Karena itu gerakan Kopdit menjadi harapan praktik ekonomi yang berkeadilan, praktik ekonomi kesejahteraan bersama, praktik ekonomi yang betul-betul bersama dengan umat manusia secara keseluruhan tanpa perbedaan. Yang punya modal banyak, atau yang penghayatan relegiusnya tinggi, tidak terlalu ditekankan. Yang ditekankan adalah kehidupan bersama.
Jika ikut forum internasional, seperti ACCU Forum, misalnya, kita akan diberi selembar kertas dan diminta untuk menulis satu tindakan konkret yang akan dilakukan untuk kebaikan manusia. Apakah akan peduli mengenai pohon, kesehatan, pendidikan. Tahun 2016 ketika PBB mencanangkan Sustainable Development Goals (SDGs), gerakan co-operative internasional langsung menerima sebagai amanah. Ketika MDGs diberikan kepada gerakan co-operative sebagai tujuan pembangunan abad XXI, langsung diterima tidak ditawar-tawar dan tidak didiskusikan. Untuk membangun dunia lebih baik, serta kehidupan yang lebih baik, tahun 2018 gerakan co-operative bersama PBB mencanangkan; Co-operative Beautiful World.

Kalau hari ini masih cerita Kopdit simpan pinjam dan SHU, itu berarti masih belum beranjak. Jika ingin beranjak lebih jauh harus berbicara mengenai pembangunan manusia berkelanjutan. Gerakan Kopdit adalah gerakan kerja sama, sehingga terlibat aktif dalam pengembangan sosial ekonomi masyarakat. Kalau tidak terlibat aktif dalam pembangunan sosial ekonomi masyarakat, itu bukan Kopdit. Tujuan sosial ekonomi, adalah menghasilkan barang dan jasa bagi kemajuan umat manusia.

Sebenarnya, sudah lama era produksi…. produksi…. produksi, kita lewati. Tetapi makin lama orang makin susah di muka bumi. Lingkungan makin panas, air makin menjadi masalah, bencana alam makin banyak. Ini akibat pola berfikir yang lama kita tanamkan. Kalau merefleksikan kembali Kitab Kejadian; “Beranak cuculah, berkembang banyaklah, dan kuasailah bumi.” Semua akan dikuasai sampai hacur-hancuran.

Pengalaman membuktikan, bila Kopdit lebih fokus pada pembangunan manusia, kredit lalai bukan perkara luar biasa, dan bukan momok yang menakutkan. Banyak Kopdit yang kredit lalainya di bawah 2% – 3%, dengan standar access branding. Bisa seperti itu karena yang diutamakan adalah pembangunan manusia. Masalahnya sederhana. Dulu anggota diperlakukan – dilayani simpan dan pinjam. Sekarang ada pelatihan merajut, wirausaha, finansial literasi, dan pertemuan anggota. Mereka juga berhenti berdebat tentang simpan dan pinjam. Berhenti berdebat tentang memberi kredit – pinjaman berlipat. Contoh, kalau punya simpanan Rp1 juta boleh pinjam Rp5 juta, simpanan Rp10 juta boleh pinjam Rp100 juta.

Berdasarkan pengalaman, Kopdit harus melayani orang agar hidupnya lebih baik, produk pelayanan harus bermanfaat. Sehingga mereka memiliki loyalitas – kesetiaan untuk menggunakan produk – pelayanan, termasuk membayar simpanan dan pinjaman secara tertib. Perlu segera ditinggalkan memperlakukan Kopdit sebagai business is user, berpraktik bisnis seperti koperasi simpan pinjam (KSP) pada umumnya, tidak khas co-operative bekerja bersama dan bersama membangun kehidupan yang lebih baik. Meskipun Kopdit juga melayani keuangan, tetapi tujuan dari bisnis Kopdit adalah membangun kehidupan yang lebih berkualitas. Itulah yang dapat ditawarkan dalam situasi sekarang.

Di era distrubsi, era eksponensial – perkembangan kemajuan berlipat-lipat tanpa bisa diprediksi, Kopdit tetap mampu mengikuti perkembangan. Tentu harus dikemas dalam teknologi yang ada. Tetapi prinsip co-operative tak boleh hilang, karena itu yang akan menyelamatkan gerakan. Gerakan Kopdit terus melakukan updating. Kalau kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo membangun dari kampung, sama seperti yang dilakukan Gerakan Kopdit. Dalam ditulisnya, Elenita V. San Roque, Chief Executive Officer ACCU mengatakan; “Membangun kesejahteraan masyarakat harus dimulai dari wilayah-wilayah dusun (inproof life of people village).” Jadi, bila globalnya sebagai gerakan, harus dimulai dari titik…, titik…, gerakan di RT – RW.

Berfikir dan bicara global memperbaiki nilai-nilai kehidupan, tetapi tidak mulai action, akan dipertanyakan, action-nya mana? Action-nya, masuklah ke Community village – dusun, wilayah Rt – Rw. Di situ kita berkarya untuk memperbaiki kualitas hidup orang – masyarakat. Diibaratkan, Kopdit itu menyalakan lilin. Jika kita menyalakan lilin, hendaknya tidak hanya di satu tempat, tetapi tersebar di banyak tempat, di Nusa Tenggara Timur (NTT), di Aceh, di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa, Bali, dan sebagainya, sehingga di mana-mana menjadi terang.

Di Pulau Flores, NTT, tepatnya di Dusun Rotat, Desa Ladogahara, Kecamatan Nita, 12 Km arah barat Kota Maumere, mantan karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Yakobus Jano bersama 50 orang lainnya, membidani lahirnya Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Koperasi Kredit (Kopdit) untuk menyejahterakan kelompok masyarakat Nelayan, Tani, Ternak dan Buruh disingkatnya NTTB. Visi utama KSP Kopdit Pintu Air yang didirikan 1 April 1995 adalah Mengangkat Harkat dan Martabat Orang Miskin Menjadi Orang Kaya. Jano mengakui beban maha berat mengangkat kelompok NTTB supaya kehidupannya lebih baik.

KSP Kopdit Pintu Air terus bertumbuh, dan sejak 2018 telah menjadi koperasi primer nasional karena telah mampu operasional di beberapa provinsi, yaitu; di NTT, DKI Jakarta, Surabaya, Jawa Timur, Makasar, Sulawesi Selatan dan Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun secara hukum, status primer nasional baru diperoleh tahun 2019, tepatnya berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI Nomor 000036/PAD/Dep.1/II./2019 tanggal 23 Februari 2019 yang ditandatangani Deputi Bidang Kelembagaan, Prof. Rully Indrawan, M.Si.

Perubahan status primer nasional, membuktikan dan dimaknai sebagai gerakan pemberdayaan dari kampung yang sangat membanggakan, sekaligus tantangan berast skala nasional yang harus dihadapi. Langkah konkritnya, harus mampu menyatukan debersamaan berbagai perbedaan; suku, bangsa, bahasa dan agama dalam wadah koperasi. “Bukan hanya sebatas kata-kata, Kopdit Pintu Air sejak awal sudah bergerak ke arah sana. “Kami ingin mewujudkan hinneka Tunggal Ika,” tegas Jano.

Rintisan membuka cabang di berbagai daerah diawali dari partisipasi dan kebersamaan warga perantau asal NTT, khususnya dari Flores. Para perantau itu tersebar di Batam, Kalimantan, Jakarta, Bandung, Manado, Makasar, dan kota-kota lain di Indonesia. Semakin banyak lilin-lilin dinyalakan, teranglah dunia. Itulah co-operative. Misi Kopdit memang berbeda dibanding koperasi yang lain. Kopdit menciptakan nilai, melihat peluang, pendidikan moral – dalam arti perilaku bersama, persahabatan, komunitas, kesehatan, keuangan, dan rekreasi.

Cita-cita Kopdit Pintu Air menggapai aset senilai Rp 1 triliun akhirnya tercapai. Akhir tahun buku 2018, aset Rp 939 miliar, bulan Maret 2019 sudah tercapai Rp 1 triliun. Ditargetkan sampai akhir tahun 2019 aset menembus angka Rp 1,670 triliun. Beberapa tahun silam, pengurus bermimpi untuk memiliki gedung sebagai Pusat Gerakkan menyejahterakan masyarakat di Dusun Rotat, Desa Ladogahara, Kecamatan Nita, 12 Km arah barat Kota Maumere, jauh dari hiruk pikuk kota. Ketika mimpi itu terdengar di masyarakat, dicemooh banyak orang. Tetapi kini, KSP Kopdit Pintu Air telah menggapai mimpinya, berhasil membangun Gedung Megah berlantai tiga senilai Rp 15 Miliar. Arsitekturnya modern dilengkapi lif.

Dipilihnya lokasi di Dusun Rotat, karena kelahiran Kopdit Pintu Air di dusun tersebut. Dan gedung yang menjulang tinggi di antara rumah-rumah penduduk itu akan menjadi Monument Kebersamaan dan Pusat Gerakkan Ekonomi Kerakyatan, karena dibangun secara gotong-royong, sesuai nilai-nilai koperasi dengan melibatkan seluruh anggota. Ketika diwawancarai wartawan Majalah UKM 2 tahun silam, Jano menjelaskan bahwa setiap anggota iuran 2 ekor ayam atau setara Rp 100.000,- Sedangkan pengurus dan penelola dibebani sumbangan Rp 200.000,- per orang. Filosofinya, kawanan semut meski kecil-kecil jika menyatu gajah pun tak bisa melawan. Gedung baru berukuran 30 x 40 meter itu, diresmikan 3 Mei 2019, sekaligus pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2018. Lantai 1 menjadi kantor cabang utama, lantai 2 kantor pusat dan lantai 3 menjadi hall yang mampu menampung 1.000 orang.

Kepada para anggota Kopdit Pintu Air, Jano menitipkan 3 pesan; Pertama, anggota harus merasa memiliki Kopdit Pintu Air. Kedua, anggota harus berpartisipasi aktif untuk memajukan Kopdit Pintu Air. Dan Ketiga, anggota harus selalu mawas diri. Kopdit Pintu Air adalah lembaga keuangan yang berani memberikan pinjaman tanpa jaminan materi apa pun. Karena itu semua harus menjaga kepercayaan yang berikan. “Jangan sampai ada anggota yang rumahnya dikunjungi petugas karena lalai mengangsur pinjaman,” pesan Jano.
Ketika Kopdit ingin menuju access branding, agar tidak mengalami kesulitan tata kelolanya harus diproses dari misi. Bercita-cita meraih access branding, tetapi tidak mau membangun di atas misi dasar, akan sulit mencapai standar tata kelola. Banyak Kopdit merasa heran, sudah 3 tahun ikut access branding, tetapi tidak diproses oleh Inkopdit, tidak bisa diproses ACCU. Itu, karena pendekatannya hanya dari administrasi dan keuangan. Kita tidak bisa bicara impact social jika tidak memperkuat pelaksanaan misi sejati.

Banyak yang menghabiskan energi, rapat demi rapat berdebat, berkelahi tentang setruktur keuangan yang tidak sehat, karena lupa misi sejati yang fokus kepada orang, fokus pada komunikasi dan fokus value memperbaiki kualitas hidup orang. Cita-cita Friederich Wilhelm Raiffeisen pendiri CU, agar kemiskinan semakin hilang kita harus memperkuat orang yang menolong dirinya dari kekuatan sendiri, dikelola dengan baik dan tanggung jawab yang kuat.

Memang perlu kolaborasi dengan banyak pihak, namun bagi Raiffeisen menghilangkan kemiskinan harus diimbangi dengan kemandirian pribadi, kemandirian pengorganisasian bersama, kemampuan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama yang lebih luas. Itu sejatinya gerakan Kopdit. Kita tidak bisa, mau menghilangkan kemiskinan tetapi lupa prinsip gerakan Kopdit. Karena anggota sebagai pusat pelayanan, maka mereka adalah pusat dari tata kelola. Pengurus harus tahu apa saja; nilai, aspirasi, kebutuhan, dan potensi mereka. Itulah yang menjadi pergulatan.

Jadi, bisnis Kopdit adalah memberdayakan anggota. Anggota harus dicerdaskan, bisnisnya didampingi agar tumbuh dan berkembang menjadi besar. Anggotalah yang harus berbisnis, dan harus diberdayakan. Ada yang berpendapat, Kopdit selayaknya tidak usah spin off – mengembangkan berbagai kegiatan usaha. Tugas pengurus memberikan stimulus dan team asistensi – pendampingan kepada anggota agar mereka mengembangkan apa yang menjadi aspirasnya.

Karena potensi antara Kopdit satu dengan Kopdit yang lain berbeda, maka yang harus dieksplor adalah pontensi di wilayah masing-masing, membangun di wilayah dusun. Suatu Kopdit juga tidak bisa 100% menduplikasi pengalaman Kopdit lain. Tingkat kesulitan dan keberhasilannya pun berbeda-beda. Kalau melihat Korea, di sana koperasi menyediakan space – ruang cukup besar bagi anggota untuk berkreasi, mengungkapkan diri. Create values, sebenarnya bukan barang baru, dan kita tidak mengada-ada, karena inti sejati dari Kopdit basisnya di situ. Tantangannya, bagaimana Kopdit bisa menyediakan layanan yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan manusia, sesuai dengan perjuangan kehidupan kita.
Karena Kopdit itu masalah humanis, masalah kebutuhan manusia, kalau ada kondisi kurang baik harus segera dilakukan langkah-langkah penyelamatan. Jika bangunan Kopdit diperkuat dari misinya, akan menjadi sangat kuat, tidak susah di kemudian hari. Nilai-nilai Kopdit tidak akan terealisasi jika tidak dihayati oleh semua aktivis Kopdit. Karenanya Kopdit harus three in one; “Saya member- anggota, saya leader – pemimpin, saya volunteer– relawan.”

Banyak referensi tetang kekuatan volunteer. Tetapi ada hal penting jika volunteer dikaitkan dengan non profit organization – organisasi nirlaba dan non governance organization – lembaga swadaya masyarakat. Bagi mereka yang bekerja sebagai Aparat Sipil Negara (ASN) atau karyawan swasta, agak sulit bicara volunteer. Tetapi sebagai gerakan yang tidak statis – tidak difungsikan sebagai institusi belaka, volunteer dibutuhkan.

Dalam gerakan reformasi sosial lebih praktis untuk mengandalkan relawan yang bekerja akhir minggu atau setelah makan malam tanpa bayaran, daripada membayar staf profesional yang bekerja 8 jam sehari. Ada pertanyaan, bagaimana kita bisa kembali memiliki volunteer kalau aset Kopdit masih kecil. Masalahnya di mana? Jika gerakan Kopdit ingin terus menjadi kekuatan untuk tanggung jawab sosial dan kerja sama ekonomi, para anggota dan pemimpinnya harus ingat bahwa relawan sangat dibutuhkan, dan terlatih sehingga menjadi kekuatan besar.

Gerakan Kopdit termaju di dunia adanya di Amerika Utara, Kanada, Amerika Serikat, dan seterusnya. Yang paling banyak bergerak adalah volunteer. Menurut penelitian, ketika diperbandingkan antara volunteer dengan non volunteer, atau yang dibayar dengan yang tidak dibayar, dari berbagai aspek hasilnya lebih signifikan yang tidak dibayar. Siapa volunteer di Kopdit? Bila didefinisikan, semua bisa menjadi volunteer. Di Kalimantan namanya Kelompok Inti, di beberapa Kopdit ada yang namanya, Sanayoka, Sedulur, Sahabat Sejahtera, dan Kerabat (Kelompok Relawan Buat Anggota). Sebenarnya; pengurus, pengawas, komite, bahkan staf pun volunteer, dalam arti spirit.

Para aktivis harus menghidupi nilai-nilai utama kehidupan Kopdit. Maka dalam skema Kopdit three in one, yang bisa mengajar di komunitas adalah volunteer yang mempraktikkan nilai-nilai kehidupan. Contoh, bila volunteer mengajak komunitas mengembangkan peternakan, pertanian, perkebunan, mestinya dia sendiri sudah mempraktikkan bagaimana berternak, bertani, dan berkebun dengan baik. Sehingga jika ada pertanyaan dari komunitas; “bapak beternaknya di mana, kebunnya di mana, sawahnya di mana, bisa menjawab. Jika volunteer mengajak; “Ayo kita cerdas keuangan.” Tetapi ketika ada yang bertanya; “Apa bapak sudah cerdas keuangan?” Dan dia tidak bisa menjawab, efeknya akan kurang baik.

Karena Kopdit merupakan kumpulan orang yang sepakat untuk suatu perjalanan bersama menuju kehidupan yang lebih baik, maka ada orang yang berperan sebagai perencana, mengarahkan, mengambil keputusan, dan mengimplementasikan. Kopdit yang ingin mencapai sebuah standar, harus memaksimalkan fungsi dan kehadiran masing-masing secara aktif dan memiliki kontribusi memadai. Itu yang akan menentukan keberlanjutan Kopdit di masa depan. Maka harus segera ditinggalkan cara kerja dengan menggantungkan diri pada figur- individu tertentu. Sebab, ketika orang tersebut tidak mengambil bagian lagi, Kopdit-nya akan mengalami kemunduran. Kaderisasi harus dibuat dalam system yang baik sehingga melahirkan kader-kader potensial. (adit-mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *