Membangun Koperasi Besar, Sehat, dan Prima

Dari filosofinya, koperasi dibangun atas kesamaan niat dan minat oleh orang seorang yang memilki satu kepentingan – satu tujuan untuk bekerja bersama guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial. Koperasi didirikan dan dikembangkan dengan azas kekeluargaan, yang mengikat pada nilai percaya diri, saling membantu – setiakawan, keadilan, persamaan, dan demokrasi. Koperasi didirikan, dimodali, dibiayai, diatur, dan diawasi serta dimanfaatkan sendiri oleh anggotanya.

Koperasi adalah instrumen kebijakan publik untuk mengoreksi ketidakadilan yang ditonjolkan oleh sistem ekonomi bebas, yang cenderung memperkuat yang sudah kuat, dan mengalahkan pengusaha lemah. Koperasi juga instrumen kelembagaan masyarakat yang bisa mendorong kemandirian. Akan tetapi dalam operasional dan kegiatan sehari-hari sering menghadapi tantangan berat. Koperasi dihadapkan pada faham liberalis – ekonomi kapitalis yang mengedepankan pasar bebas. Gambaran umum perjuangan Gerakan Koperasi Indonesia (GKI) baik pada skala regional dan nasional selama 20 tahun setelah reformasi belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.

Hal ini disebabkan beberapa faktor; Pertama, faktor internal yang meliputi lemahnya sistem manajemen koperasi dan terbatasnya akses pasar untuk produk-produk koperasi, Kedua, faktor eksternal yaitu rendahnya keperpihakan pemerintah pada gerakan koperasi dan besarnya arus gelombang pesaing asing yang masuk Indonesia dengan membawa aliran modal besar. Dalam banyak kesempatan, Ketua Umum Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta, H. Hasanuddin B.Sy., S.H., kerap mengkritik pemerintah bahwa keberpihakan pemerintah – Negara kepada koperasi tidak ada.

Namun, orang-orang koperasi juga tidak boleh cengeng. Tidak perlu mengeluh, minta bantuan modal kepada pemerintah, misalnya. “Ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) menawarkan batuan modal sekian miliar, kami tolak. KPPD punya modal sendiri, dan tidak punya utang di bank sepeser pun,” tegas Hasanuddin. Keberpihakan yang diharapkan dari pemerintah adalah kebijakan yang kondusif untuk pertumbuhan koperasi. Dan orang koperasi harus membuktikan, mampu membangun koperasi yang mandiri, sehat, dan prima. Tidak perlu minta-minta kepada pemerintah.

Kondisi kontra produktif koperasi yang perlu untuk diantisipasi sebagai berikut; Pertama, antitrust, segenap pengurus dan karyawan koperasi harus mengedepankan semangat kejujuran, ulet, dan kerja keras (JUK) dalam mengelola koperasi sehingga akan tercipta kepercayaan dari anggota koperasi. Praktisi koperasi harus menjaga kepercayaan, dan membangun opini positif dalam pergaulan pelaku ekonomi lainnya.

Kedua, rush dalam artian terjadinya pengambilan simpanan sukarela anggota bahkan simpanan pokok dan simpanan wajib anggota secara serempak. Para praktisi koperasi harus tetap menjaga dominasi niat dan minat anggota pada awal dibentuknya koperasi, sehingga koperasi tersebut tidak kehilangan jatidirinya. Karena kunci kekuatan koperasi hanya ada pada kepercayaan anggota. Tanpa adanya kepercayaan publik, koperasi akan kehilangan rohnya.

Ketiga, negative spread yang secara umum dapat difahami bahwa jumlah operasional cost koperasi ditambah dengan beban jasa pinjaman bank dan simpanan sukarela anggota lebih besar dari pendapatan operasional koperasi atau jasa perolehan penyaluran dana koperasi kepada anggota, sehingga akan berdampak kerugian yang terus menurus pada neraca berjalan koperasi.

Keempat, non performing loan (NPL) – kredit macet yang terlalu besar harus segera diatasi bahkan harus diantisipasi agar tidak menganggu cash flow pada neraca gabungan per-unit usaha koperasi, sehingga para pengurus dan karyawan marketing koperasi harus meningkatkan kewaspadaan dalam penyaluran kredit dan harus melalui prosedur pembiayaan yang telah ditetapkan dalam mekanisme internal koperasi.

Dengan demikian keempat penyakit koperasi itu harus sedini mungkin diantisipasi agar koperasi tidak terseret pada jurang kehancuran. Segenap pengurus, karyawan dan anggota koperasi serta pemerintah dan masyarakat secara umum harus saling mengisi dan bersinergi dalam menata tata kelola koperasi mandiri.

Keberhasilan suatu koperasi tak terlepas dari bagaimana membentuk corporate culture – budaya perusahaan. Bila budaya perusahaan sudah terbentuk, sumber daya manusia (SDM) sudah bagus, bisnis akan dapat jalan dengan baik. Yang juga tidak kalah penting, kita perlu mengembangkan mazhab koperasi kontemporer. Artinya, jangan berfikir koperasi kecil. Sudah tidak waktunya berfikir koperasi kampung – koperasi kecil. Koperasi harus hidup dan berkembang bersanding dengan perusahaan swasta lainnya.

Untuk bisa bersanding dengan perusahaan swasta, badan usaha milik Negara (BUMN) maupun badan usaha milik daerah (BUMD) harus dengan power atau kekuatan. Apa yang diperlukan? Pertama adalah faktor SDM, kemudian baru modal. Potensi kita sangat besar, cuma bagaimana mengkriit pontensi itu untuk diberdayakan. Seperti kata pepatah, “di mana ada gula, di sana ada semut”. Tidak usah semut disuruh datang, kalau dikasih gula semut itu akan datang. Kalau koperasi mampu memberikan nilai tambah, orang akan datang ke koperasi.

Membangun koperasi, visinya ada dua. Yang sudah berkoperasi dan loyal didorong menjadi lebih fanatik di koperasi, sedangkan yang di luar koperasi ditarik agar berkoperasi. Koperasi tidak boleh mengeksklusif. Orang yang belum berkoperasi justru harus diajak untuk berkoperasi. Walau mereka belum pernah berkoperasi, gampang diajak masuk berkoperasi, ketika dia melihat ada nilai lebih. Tetapi kalau tidak ada nilai lebihnya, siapa pun tidak akan datang. Ibarat orang mau berinvestasi dengan nilai sekian ratus juta, pertanyaan pertama; “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Koperasi ada dua fungsi, dan belum semua paham tentang koperasi. Ada fungsi profit oriented, dan sosial oriented. Kalau hanya profit oriented, mencari keuntungan semata, konsentrasinya di Jakarta atau di kota-kota besar. Tetapi kalau kita ada sosial oriented, harus masuk ke kota-kota kecil di daerah. Mazhab ekonomi koperasi itu melayani orang mulai dari dia lahir sampai mati.

Ketika proses kelahiran, dipinjami uang untuk ibunya, ketika anak itu masuk sekolah, dan membutuhkan biaya dipinjami uang untuk sekolah, bila punya usaha dibantu permodalan, saat menikah dibantu biaya pernikahannya, ketika meninggal dunia kain kafannya dari koperasi. Dengan nilai lebih seperti itu, orang akan berbondong-bondong menjadi anggota koperasi. Tujuan akhir agar orang bangga berkoperasi. Sekarang orang belum banngga berkoperasi. Dengan konsep seperti itu, bukan saja koperasi menjadi maju, besar dan kuat, perekonomian kita secara nasional juga kuat.

Untuk mencapai cita-cita itu, bukan saja harus diperjuangkan bersama, tetapi juga harus ada strandarisasi manajemen. Bila tidak ada standarisasi koperasi asal jadi, dan kecil saja seperti koperasi kampung. Juga tergantung bagaimana pola pikirnya. Kalau pola pikirnya kecil, hasilnya akan kecil. Sebaliknya, jika pola pikirnya besar, hasilnya juga akan besar. Sejak Hasanuddin dipercaya oleh anggota (2006) sebagai nakhoda  KPPD DKI Jakarta, koperasi ini terus mereguk sukses, dan menjadi salah satu koperasi besar Indonesia. Jumlah anggota terus meningkat, aset pun menggunung. Berbagai penghargaan terus diterima. Satyalencana Wirakarya yang diterima langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-68 di Medan, Sumatera Utara salah satu bukti prestasi KPPD DKI Jakarta.

“Penghargaan ini bagi saya untuk introspeksi diri. Dan sebenarnya, prestasi itu atas kerja bersama, kerja tim,” urai Hasanuddin. Ibarat pesawat terbang, penghargaan tersebut adalah bukti bahwa haeiding dan track-nya dalam membangun koperasi sudah pas dalam sekala nasional. Namun, sekali lagi, bukan penghargaan yang diharapkan. Bisa saja apa yang dicapai sekarang sebagai prestasi. Namun dari sisi cita-cita sejahtera bersama, masih harus kerja keras. Yang dicapai baru sebagian dari yang diimpikan.

Karena mainnya di ranah koperasi, kita harus sadar bahwa tujuan utama koperasi untuk kesejahteraan anggota dan masyarakat. Kita harus tahu apa yang dibutuhkan anggota. Kebutuhan utama orang hidup adalah; sandang, pangan, dan papan. Diakui, belum banyak memberikan kontribusi kepada anggota. Anggota harus diyakinkan bahwa secara ekonomi, koperasi sangat menguntungkan. Sebab, koperasi itu dobel gardan. Artinya, satu sisi bergerak di bidang ekonomi, sisi lain bergerak di bidang sosial. Bila koperasi dimenej dengan baik, tidak akan ada yang bisa melawan.

Membangun koperasi adalah suatu proses pembelajaran. Pergantian pengurus, dan pengawas, juga pergantian anggota – regerasi, serta bertambahnya jumlah anggota memberikan peluang besar bagi koperasi. Oleh karena itu pendekatan pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas untuk menumbuhkembangkan koperasi. Organisasi koperasi harus turut dan secara aktif membangun dirinya. Pemerintah tetap dibutuhkan untuk menciptakan iklim yang kondusif sehingga dapat mendorong partisipasi positif pihak-pihak terkait dalam membangun koperasi.

Kecenderungan kontekstual di masa mendatang mengindentifikasikan bahwa ke depan kebangkitan koperasi akan ditentukan oleh kemampuan masyarakat gerakan koperasi dalam mengimplementasikan jatidirinya yaitu; menolong diri sendiri pada kondisi objektif saat ini, dan membangun lingkungan strategis. Semangat menolong diri sendiri itu perlu diterjemahkan ke dalam garis-garis besar perjuangan gerakan koperasi, partisipasi, efisiensi, dan keunggulan bersaing yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Perjalanan panjang koperasi di Indonesia sebagai bagian dari ekonomi rakyat identik dengan sejarah perjuangan bangsa ini sendiri. Eksistensi koperasi mengalami pasang surut mulai dari kondisi bangsa yang terjajah, ke kondisi ekonomi yang diwarnai proteksi, dan kemudian memasuki fase ekonomi pasar bebas.

Sejarah mencatat, meski sarat dengan perjalanan traumatic, namun koperasi selalu memegang peran strategis dalam perekonomian di setiap masa. Pada masa Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, ada dua corak perekonomian yang cenderung berkembang. Yaitu, perekonomian istana menguasai perdagangan dan perekonomian besar, serta perekonomian desa sebagai perekonomian rakyat. Pada masa itu kerajaan memberi perhatian sama antara pelaku ekonomi istana dengan pelaku ekonomi rakyat. Kerajaan juga mendorong tumbuhnya kemitraan usaha antara yang kecil dan yang besar, sehingga tumbuh hubungan sangat integratif di antara mereka.

Keadaan serta merta berubah dengan datangnya VOC. Usaha besar diambil alih VOC, sedangkan usaha menengah diserahkan kepada golongan timur asing. Sisanya yang kecil-kecil bagian dari kaum pribumi sebagai ekonomi rakyat. Pada masa itu, usaha kecil sebagai pelaku ekonomi rakyat dilepas untuk bersaing. Akibatnya usaha besar menguasai semua perdagangan dan pasar.

Meski belum bernama koperasi, tetapi dalam pengelolaanya lembaga tersebut penuh semangat kebersamaan dan tolong menolong  yang sebenarnya merupakan jiwa dan roh koperasi. Koperasi secara konkret baru mulai tumbuh pada era kebangkitan nasional. Namun, koperasi di masa itu pada umumnya tidak berusia panjang karena beberapa sebab. Antara lain kurangnya pengalaman dan pengetahuan dalam mengelola koperasi serta tipisnya solidaritas dan loyalitas para anggota.

Koperasi, menjadi wadah paling baik, di mana social capital dapat diwujudkan untuk melengkapi semua modal, semua sumberdaya, semua capital di Negara ini untuk membangun ekonomi makin tumbuh, dan akhirnya pertumbuhan tersebut dapat didistribusikan secara adil. Koperasi bukan hanya dipertahankan, tetapi harus diberdayakan, dilibatkan lebih aktif lagi dalam pembangunan ekonomi ke depan.

Koperasi bisa eksis, tidak menghitung berapa usianya. Mungkin baru 3 – 5 tahun, namun bila dikelola dengan norma-norma berkoperasi, pengurus bekerja dengan garis-garis yang diamanahkan – dikelola dengan baik, kemudian anggota menjalankan transaksi, koperasi itu pasti berkembang. Sebaliknya, walau usianya sudah belasan – puluhan tahun tapi hidupnya Senin Kemis akibat salah urus, juga banyak.

Untuk mengembangkan kegiatan bisnis; usaha apa pun, termasuk koperasi, harus didukung oleh SDM profesional, jujur, dan punya etos kerja tinggi. Dari pola pikir seperti itu, nilai positifnya ketika keputusan benar-benar harus dilakukan, memang dilakukan. Sebagai pelaksana – pengelola dapat cepat mencerna keputusan, dan cepat dilaksanakan sehingga bisa memuaskan anggota. Kalau kita tidak bisa menangkap peluang pasar, merupakan kerugian besar. Banyak koperasi yang berfikir dan ragu-ragu. Istilah kerennya, entreprenuership-nya masih setengah-setengah.

Akumulasi dari jiwa entrepreneur setiap pelaku bisnis dan pelaku usaha termasuk pengurus dan manajer pada unit usaha koperasi harus dibangun secara cerdas dengan mengedepankan pendekatan kualitas personal capital, sehingga setiap unit usaha koperasi dapat menangkap peluang pasar secara cepat dan cermat, mampu bersaing dengan pelaku bisnis lokal dan pelaku bisnis global yang menganut faham kapitalis. Final out put dari bangun usaha ini adalah terbentuknya corporate culture dan organization culture yang kuat dan tangguh sehingga koperasi mampu survive dan mampu hidup dengan jatidirinya sebagai gerakan ekonomi rakyat.

Personal capital mutlak harus dimiliki oleh setiap pengurus koperasi dan manajer unit usaha guna memandu secara cantik dan apik dalam memimpin organisasi koperasi, dengan demikian pimpinan dan pemimpin koperasi dapat menyatukan irama dan warna motivasi anggota dalam berkoperasi, sekaligus dapat menghadapi secara sinergis setiap usaha yang mengkerdilkan koperasi.

Untuk itu koperasi harus mampu melakukan tindakan dan pola rekrutmen karyawan yang mempunyai parameter kapabilitas sebagai berikut: Pertama, memahami secara baik dasar filosofi koperasi sebagai gerakan ekonomi kerakyatan yang sekaligus sebagai sokoguru perkonomian nasional; Kedua, mempunyai dasar intelektual dan dasar pemikiran yang antisipatif pada setiap dinamika lingkungan strategis baik yang berakar pada masalah geografis atau demografis dan berdampak pada sosio cultural masyarakat, serta yang responsive pada setiap perubahan radikal pasar lokal dan global yang dikhawatirkan berdampak pada kerugian unit usaha koperasi; Ketiga, memiliki watak dan kepribadian yang tangguh dan ulet dalam menghadapi setiap dinamika berkoperasi dan mampu menemukan solusi akurat dan tepat. (d mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *