Membangun Loyalitas Anggota

Karena itu, kata dia, pengurus dan sekitar 300-an anggota CU Betang Asi pinjam dana ke CU Betang Asi untuk dinvestasikan di Koperasi Persekutuan Dayak (KPD), lalu bisnis ritel, membuka swalayan. Sayang, lantaran manajemen swalayan terlalu ambisius melakukan invasi di kampung tanpa memikirkan infrastruktur yang memadai untuk mobilitas barang dan kemampuan daya beli masyarakat, swalayan yang didirikan tahun 2004 itu kolaps – keuangannya minus.

Tahun 2011 Ethos yang selama ini telah memikul tanggung jawab berat sebagai General Manager (GM) CU Betang Asi, ditambahi beban baru untuk melakukan recovery – penyembuhan KPD yang salah kelola. Merasa tak punya pengalaman bisnis ritel, direkrutlah 6 orang manajemen yang dianggap potensial, karena hampir 5 tahun mengelola swalayan. “Mereka saya minta komitmennya untuk mengembangkan swalayan. Saya sangat dibantu Ibu Liani, tegasnya. Untuk menyembuhkan sakit kronis itu, Ethos minta “suntikan darah segar” dari CU Betang Asi Rp 1,3 miliar. Uang tersebut Rp 400 juta di antaranya untuk membayar utang KPD kepada distributor yang tidak terbayar oleh pengelola lama. Akibat salah manajemen itu KPD kehilangan kepercayaan, bahkan sempat di-black list – masuk daftar hitam distributor.

Walau di-black list, Ethos yakin, para distributor pasti masih mau membuka ruang – kesempatan bagi pengelola baru. Namun untuk mendapatkan suplai barang lagi, 3 bulan pertama harus bayar tunai. Ethos pun bilang; “Gampang, saya ada uang.” Buka swalayan pertama Desember tahun 2011 di Jln Rajawali. Baru tiga bulan pertama omzetnya telah mencapai Rp 25 juta per hari, sehingga distributorpun mulai percaya. Karena masih ada dana talangan yang tersisa dan belum terpakai buka cabang baru di Jln Temenggung Tilung. “Harga barang sampai Rp 500 juta sebagian boleh dibayar kemudian setelah 1 minggu. Sekarang ada 40-an distributor yang menjadi rekanan bisnis ritel,” jelas Ethos, lega.

“Modal dari CU Betang Asi dengan masa pengembalian 5 tahun, berakhir 2015 tanpa balas jasa – bunga itu benar-benar talangan, bukan pinjaman, juga bukan penyertaan modal. Artinya, KPD akan mengembalikan dana tersebut sebesar Rp 1,3 miliar juga. Saya minta sekali dan terakhir untuk swalayan. Kalaupun butuh dana untuk penambahan modal, misalnya, untuk stock barang menghadapi hari-hari besar Lebaran dan Natal, karena distributor biasanya libur 1 minggu, pinjam ke CU Betangasi sesuai ketentuan CU,” jelas Ethos.

Setelah sukses mengelola CU Betang Asi yang tahun buku 2012 memiliki aset Rp 489,165 miliar dan anggota 31.956 orang, tangan dingin suami Anse Srineni Erlynova, SP itu berhasil menyelamatkan Swalayan KPD yang telah ditinggalkan para pelanggannya. Kalau awalnya 2 swalayan rata-rata hanya beromzet Rp 3 juta – Rp 4 juta per hari, tidak sampai setahun omzet 2 swalayan itu ratarata Rp 100 juta per hari. “Karena margin – keuntungannya antara 9% – 10%, keuntungan kotor rata-rata Rp 300 juta per bulan,” jelas ayah dari Nova Rianti, mahasiswi Universitas Guna Dharma, Depok, Jawa Barat, Jurusan Sastra Ingris, dan Eda Hendricko Jaya, baru Kelas IV Sekolah Dasar (SD).

Menanggung persoalan besar yang ditinggalkan manajemen lama, kemudian harus membangun kepercayaan baru kepada para distributor bukan hal mudah. Apalagi tidak punya pengalaman dan ilmu bisnis, khususnya dalam hal retil. Tetapi banyak kawannya yang mau membantu, terurama Liani, deputinya di Betang Asi. Ilmu yang dipelajari waktu kuliah di Universitas Palangka Raya, kata dia, tentang Studi Pembangunan, bukan manajemen. Pengalamannya hampir 10 tahun mengelola lembaga industri keuangan, bukan bisnis retil. “Bisa dipelajari, dibantu kawan-kawan. Setrateginya, membangun kekuatan relasi” jelas Ethos, aktivis NGO yang juga salah seorang pendiri CU Betang Asi.

Sebagai leader – pimpinan, kata Ethos, harus mampu membangun loyalitas – militansi, berani mengambil keputusan yang cepat, meski mengandung resiko. Dalam proses recovery KPD, misalnya, pengurus harus menyerahkan sepenuhnya kepada dia. “Kalau gagal, resiko saya. Jika berhasil, keberhasilan bersama,” tegas Ethos yang juga aktif di berbagai organisasi, antara lain sebagai Ketua Walhi Provinsi Kalteng (sudah dua periode), pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalteng, Ketua Komisi Koperasi dan UMKM KNPI Kalteng dan pengurus Dekopinwil Kalteng.

Mengutip ungkapan idolanya, Dahlan Iskan, pengusaha sukses yang kini menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN); “Bisnis itu sesuatu yang logis. Kalau tidak logis bukan bisnis. Bisnis bisa diukur, ada parameternya. Kalau tidak bisa diukur dan tidak logis, spekulasi.” Ethos yakin, walau sudah ada swalayan baru cukup besar, punya grup, tetapi KPD yang sempat tutup 6 bulan, dan pelanggan pindah ke swalayan baru, akan mampu bersaing. Terbukti, begitu swalayan KPD buka kembali, pelanggan berbondong-bondong balik lagi. Kata mereka harga-harga di KPD relatif lebih murah.

Letaknya yang setrategis, di jalan raya, di daerah pemukiman, jauh dari pasar dan pusat perbelanjaan, Swalayan KPD berkembang pesat, sehingga kebutuhan karyawan pun meningkat. Tetapi mencari pegawai yang punya komitmen, kata Ethos, susah. “Sebagai orang Dayak, saya komit, KPD harus dikelola orang Dayak,” tegasnya. Tetapi, lanjutnya, mereka yang merasa berpendidikan tinggi, sarjana, tidak ada yang mau jadi pramuniaga. Pekerjaan itu dianggap tidak bergangsi, dan bangga jadi pegawai negeri. Karena itu yang direkrut lulusan SMA sederajat, yang dalam dunia kerja lain agak susah. “Tetapi masuk 3 orang, tak lama kemudian 2 orang keluar. Harus tambal sulam,” keluh Ethos.

Munculnya hypermart – Matahari 2012 silam, sesuatu yang baru di Palangka Raya, membuat banyak orang tergoda. Ketika dibuka penerimaan karyawan baru, yang mengajukan lamaran, mbludak. Mereka tergoda nama besar Matahari. “Karyawan saya juga ada yang keluar, lalu melamar di Matahari. Tetapi baru dua minggu kerja dia keluar lagi, tidak kerasan. Padahal di KPD betah hampir setahun. Alasan keluar karena kerjanya lebih berat, gajinya standar UMP juga, Rp 1,5 juta,” urai Ethos. Untuk merekrut karyawan baru, kata dia, karyawan membawa temannya. Tetapi tetap harus dites. Jika lulus, percobaan – magang selama 6 bulan, atau disebut calon staf. Mereka hanya dapat honor Rp 450.000,- plus uang makan Rp 15.000,- per hari, selama 3 bulan.

Selama 3 bulan itu diharapkan terbangun komitmen. Tetapi dalam masa uji coba itu banyak yang tidak tahan, lalu keluar. Padahal, memasuki bulan keempat honor pokok naik jadi Rp 550.000,- Setelah melampaui 6 bulan jadi staf tetap, dan mendapatkan gaji UMP. “Agar tidak tergiur dengan tawaran dari tempat lain, mulai September 2013 ada perubahan pengupahan,” kata Ethos seraya menolak untuk menyebutkan besaran upah.

Suatu saat datang pejabat dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Kalteng menawarkan bantuan dana Rp 60 juta, dengan catatan KPD bersedia memasang brand UKM Mart. Ethos pun oke, oke saja. Ketika dari Kementerian UKM datang, dia bilang; “koperasi ini sudah mapan, tidak perlu dibantu.” Sambil guyon, Ethos menyaut; “Apakah koperasi tidak boleh besar? Apakah koperasi itu seperti warung yang reot-reot? Koperasi boleh menjadi besar, dan harus besar! Kalau dipasang UKM Mart, berarti terbatas, hanya sampai menengah saja. Karena KPD sudah menjadi swalayan besar tidak cocok lagi dipasang UKM Mart. Kalau dipasang Kopmart lebih baik.”

Undang-Undang (UU) No 20 tahun 2008 tentang UMKM mengatur kreteria UMKM dan usaha besar. Usaha yang omzet per tahun mencapai Rp 300 juta dengan aset maksimal Rp 50 juta masuk dalam kreteria usaha mikro. Untuk usaha dengan omzet Rp 300 juta hingga Rp 2,5 miliar per tahun, dan aset di atas Rp 50 juta hingga Rp 500 juta masuk dalam kreteria usaha kecil. Adapun untuk usaha menengah harus memiliki omzet per tahun Rp 2,5 miliar hingga Rp 50 miliar dengan aset antara Rp 500 juta sampai Rp 10 miliar. Usaha dengan omzet per tahun lebih dari Rp 50 miliar dengan aset lebih dari Rp 10 miliar masuk dalam kreteria usaha besar. “Aset KPD sudah lebih dari Rp 10 miliar. Artinya, sudah masuk katagori usaha besar, ” kata Ethos.

Melihat perkembangan Swalayan KPD begitu pesat, pejabat dari Kementerian UKM itu kagum. Akhirnya dia menyarankan agar KPD membantu koperasi lain, menjadi distributor. “Kami siap memberikan asistensi – bantuan teknis. Tetapi untuk menjadi distributor perlu proses. Kami tidak mau menjadi pemain baru yang menguasai koperasi. KPD tidak boleh menjadi koperasi seperti corporate, menguasai semuanya,” tegas Ethos, yang beberapa waktu silam diminta oleh pengurus Koperasi Kartika Antan, milik anggota TNI AD, untuk memberikan asistensi bagaimana mengelola usaha toko dengan baik. Pada awal bulan, biasanya toko koperasi penuh barang-barang yang dibutuhkan para anggota. Tetapi sampai tanggal 5, atau minggu kedua sudah bersih lagi. Semua utang, potong gaji bulan depan.

Menurut Ethos, cara mengelola koperasi seperti itu kurang baik, dan harus dirubah. Tetapi mereka menganggap, TNI itu tidak punya penghasilan selain dari gaji. “Keperluan anggota itu bukan hanya awal bulan. Logikannya, ketika barang yang diambil dari koperasi sudah habis, mereka belanja ke luar. Entah ke warung tetangga, ke pasar, atau ke super market. Apakah ketika belanja tidak di toko koperasi mereka juga utang? Tentu tidak! Mereka pasti bayar cash. Artinya, mereka punya duit. Tampilan – suasana toko harus diubah, dan anggota yang belanja tidak boleh utang. Kalau diutang, dan bayarnya waktu gajian, artinya modal mengendap di anggota satu bulan. Kasirnya, janganlah pakai PDL lengkap. Bagaimana orang luar mau belanja kalau yang jaga tentara,” urainya.

Mendapat pencerahan, yang seharusnya sangat bermanfaat, mereka malah bilang; “Tidak bisa!” “Kalau Anda yang di dalam saja tidak bisa memikirkan untuk berubah, apalagi orang luar. Karena lokasinya sangat setrategis, di jalan raya, toko koperasi ini kalau dikelola dengan baik, pasti maju dan menjadi besar. Mari kita mulai, tetapi harus disepakati bersama,” kata Ethos memberi semangat. Alihalih berpikir melakukan perubahan, mereka malah minta KPD saja yang mengisinya. Kalau KPD yang mengisi, besok sudah penuh. Tetapi maunya Ethos, Koperasi Kartika Antang diasistensi teknis oleh KPD.

Terkait dengan program KPD ke depan, dijelaskan, akan terus mengembangkan swalayan sampai di kota-kota kabupaten. Tetapi, karena di Palangka Raya sendiri potensinya masih sangat besar, sambil mempersiapkan sumber daya manusia (SDM), rencananya, setelah pengembalian dana talangan dari CU Betang Asi lunas, akan membangun 2 swalayan baru. Dan setelah SDM-nya siap baru melakukan ekspansi.

Yang juga menjadi impian, kata Ethos, membangun Diklat Center, seperti Wisma Inkopdit. Diklat Center dikelola standar hotel berbintang, tetapi tarifnya tidak semahal hotel, pasti laris. Ada penginapan, tamannya luas, ada kolam renang, aulanya luas, bisa menampung 1000 orang, memadai untuk resepsi pernikahan. Investasinya diperkirakan sekitar Rp 50 milar. Diklat Center ini tidak hanya untuk CU, tetapi untuk umum, termasuk dari instansi pemerintah dan swasta.

“Di Palangka Raya sebenarnya banyak Diklat milik pemerintah, tetapi tidak dikelola dengan baik. Panitia kemudian melaksanakan acaranya di hotel-hotel,” jelas Ethos Mimpi itu harus segera dijadikan blue print – cetak biru, dan disosialisasikan kepada anggota. Melihat pengalaman yang ada, kata Ethos, penyewaan itu peluang. Tergantung marketingnya bagaimana. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *