Membangun Perekonomian di Perbatasan Melalui CU

Lahannya sangat luas dan subur, tetapi belum digarap dengan baik. Buahnya juga lebat, tetapi belum juga dituai. Bagi gerakan Credit Union (CU) atau Koperasi Kredit (Kopdit), yang memiliki visi – misi; berpihak kepada orang miskin, terlantar, dan terpinggirkan, lahan subur yang dimaksud bukan secara harafiah berupa jutaan hektare lahan pertanian dan perkebunan, melainkan puluhan juta orang miskin, menderita, dan terpinggirkan, terutama di pedesaan – pedalaman yang tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang terkenal kaya raya.

YOHANES LIBUTI“Sejak 12 tahun silam, tepatnya 4 Juni 2001, Credit Union Daya Lestari (CUDL) dengan serius menggarap lahan subur yang ada di pedesaan – pedalaman Kalimantan Timur (Kaltim) terlebih yang berada di perbatasan dengan Malaysia,” tutur Ketua Dewan Pimpinan CUDL Dr. Yohannes Libut, M.Kes., saat rehat Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2013 yang dilaksanakan pada 25 – 26 Januari 2014 di Hotel Radja, Samarinda. Idealismenya, lanjut dokter yang dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 ini juga menjadi salah seorang calon anggota legislatif (Caleg) nomor urut 3 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), membangun ekonomi masyarakat di pedesaan – pedalaman, terutama yang berbatasan dengan Malaysia, yang pembangunannya jauh lebih maju dibandingkan dengan wilayah Indonesia. Keluar masuk kampung memperkenalkan koperasi kredit, tidaklah mudah. Orang mendengar nama koperasi sudah apriori lantaran sangat banyak masyarakat yang dikecewakan oleh pengurus koperasi. “Agar visi – misi menghapus kemiskinan, mengentaskan yang terlantar, dan terpinggirkan tercapai, mensiasatinya dengan menggunakan nama Credit Union,” jelas dokter yang mengaku anak petani, kelahiran Desa Pa’padi, Kec. Krayan, Kab. Nunukan, Kaltim.

Meski zaman sudah modern, namun ada satu hal yang belum bisa dicapai di pedalaman, yaitu akses terhadap financial – keuangan, khususnya perbankan. “Kalau kondisi di pedalaman seperti ini terus akan terjadi kesenjangan yang sangat jauh. Karena itu saya tertarik memperkenalkan CU ke pedalaman agar masyarakat juga punya akses keuangan seperti orang kota,” kata dokter, Direktur Rumah Sakit (RS) Katolik Dirgahayu, Samarinda itu.

Kalau mereka bisa menabung, lanjutnya, secara pelan-pelan akan memiliki akses dengan dunia ekonomi. Mereka juga bisa menyekolahkan anak-anaknya, di Jakarta, Jogya, Surabaya, Bandung, dan sebagainya. Orang desa bisa menyekolahkan anaknya di Jawa, menjadi kebanggaan tersendiri. Sekarang sudah terbukti, banyak anak-anak di desa kuliah di Jawa. Kalau generasi muda mendapatkan pendidikan lebih tinggi, baru bisa sama dengan orang kota.

Diakui, mengembangkan CU di pedalaman dalam kurun waktu 2 – 3 tahun, belum kelihatan hasilnya. Baru setelah 12 tahun, mulai kelihatan. Sekarang sudah ada belasan anak dari Krayan kuliah di kedokteran, maupun keilmuan lainnya,” kata dokter yang mengaku lebih bersemangat membicarakan CU daripada membahas tentang kesehatan yang sudah sangat banyak ahlinya.

Yang tak kalah penting, CU juga memikirkan mereka yang tidak punya pensiun, karena bukan pegawai negeri. Selama ini ada anggapan bahwa kehidupan yang paling baik itu pegawai negeri, lantaran punya pensiun. Padahal pensiun itu uangnya dipotong dari gajinya setiap bulan selama kerja. Artinya, menabung juga, tetapi dipaksa oleh kantornya. Sedangkan di CU, anggota menciptakan pensiunnya sendiri, menabung di tabungan khusus untuk pensiun.

Masuk menjadi anggota CU, orang bisa mandiri. Kemerdekaan paling tinggi saat kita bisa swadaya dan mandiri, tidak tunduk dan tidak mengemis kepada orang lain. Anggota CUDL sudah mendapatkan hal itu. Uang di CUDL cukup besar, diputar dengan caranya sendiri. “Kami tidak pernah menyerah, juga tidak membutuhkan sumbangan dari pihak lain, karena sumbangan itu mematikan. Secara ekonomi kemerdekaan di CU cepat sekali. Bandingkan menabung di bank. Begitu kita menabung, dikasih ATM. Artinya, tidak ada pinjaman karena yang diambil duit sendiri. Kalau mau pinjam, jawabnya cepat, tidak bisa.

Untuk meyakinkan masyarakat menjadi anggota CU tidak mudah. Terlebih yang pendidikannya tidak tinggi – tak sekolah. Menjelaskannya harus menggunakan bahasa setempat. Padahal suku Dayak itu bahasanya berbeda-beda. “Tetapi bila kita yakin dengan kondisi sebelumnya, lalu dilakukan terus menerus, biasanya akan berhasil. Puji Tuhan, dengan bukti-bukti yang kuat dan contoh nyata, makin hari anggota CUDL makin bertambah. Sampai akhir Desember 2013 tercatat 37.979 anggota. Supaya bisa dirayu menjadi anggota dan mau menabung, awalnya ditanya berapa lama bekerja, penghasilannya berapa, ada tidak sisa penghasilan yang ditabung. Ketika mengatakan tidak punya simpanan, mudah masuknya.

“Penjelasannya, andai menabung Rp20.000,- sebulan, setahun berarti punya simpanan Rp240.000,- Nanti, bukan Bapak yang ke CU hanya sekedar menabung, tapi kami yang datang mengambil tabungan Bapak. Kalau tak ada uang, boleh pinjam di CU untuk ditabung, bayarnya diangsur. Setelah angsuran selesai, sudah punya tabungan. Akhir tahun juga mendapatkan bagian dari sisa hasil usaha (SHU). Dirayu seperti itu, biasanya orang akan mencoba. Dengan memiliki tabungan, apalagi sampai jutaan, harga diri akan naik,” urai suami Dra. Sri Ekowanti yang dikaruniai 2 orang anak, Ida Dwiteranti dan Michael Caesaria, keduanya dokter. Sebenarnya, kita diajari menabung sejak kecil, waktu SD, tetapi implementasi sulit. Dokter Yohannes mengaku, mengalaminya. Menabung di CU pun awalnya tidak besar. Ada uang sedikit, Rp100.000,- ditabung. Tidak apa-apa, yang penting rutin – terus menerus itu yang baik. Yang paling sulit, kata dia, mengajar perspektif waktu. Tidak pernah ada orang kaya hanya menabung dalam 1 tahun. Menjadi kaya juga tidak ada jalan pintas, tetapi melalui proses terus menerus. Bung Karno mengatakan; “Hancurnya batu bukan karena ditumbuk, tetapi karena terus-menerus kena tetes air.” Jadi, yang dibutuhkan adalah kesabaran.

Kalau karyawan, bukan saja punya penghasilan tetap setiap bulan sehingga bisa menabung secara teratur, juga mau pinjam. Berbeda dengan petani, terutama di daerah pedalaman. Mereka hanya mau menabung, tidak mau pinjam. Simpanannya pun hanya simpanan wajib Rp20.000,- per bulan. Itulah simpanan wajib CUDL. Tidak apa-apa, niat menabung rutin itu saja sudah sangat baik. Uang hanya sarana untuk mendidik orang, dan alat ukur kesetiaan terhadap dirinya. Kalau ditanya, “kamu sudah setia dengan dirimu?” Dia akan menjawab; “setia!” “Mana buktinya?” Dia akan menjawab; “menabung!”

Bagi yang sudah punya tabungan, kesempatan untuk mengembangkan usaha lebih mudah. Dia punya modal sedikit Rp10 juta, misalnya, juga punya tanah, ketika dapat projek lebih besar, Rp25 juta, dia bisa pinjam ke CU Rp15 juta. Artinya, dia mulai punya akses ekonomi lebih baik. Memang betul, harus ada sesuatu yang dimulai lebih dulu. Menabung di CU, kata Dr. Yohannes, santai. Datang pakai sandal jepit, celana pendek, dan kaos oblong, silakan.

SUASANA CU DAYA LESTARI 4Tumbuh dan berkembangnya CU di pedesaan – pedalaman, peran tenaga inti, petugas tempat pelayanan (TP) dan kolektor sangat dominan. Mereka sebagai ujung tombak. Hal itu disadari benar oleh pengurus CUDL. “Itu sebabnya membangun sikap militansi dan idealisme tenaga inti sangat penting,” tegas Yohannes. Memersiapkan tenaga lapangan, kata dia, tidak gampang. Persyaratannya pun banyak. Dia harus pandai bergaul, kerja keras, ulet, dan harus jujur. Karena petugas inti berbusa-busa meyakinkan seseorang agar mau jadi anggota CUDL, ketika anggota itu pinjam uang ke CU, petugas inti – kolektor mendapatkan fee 1,5% dari peminjam dan 1,5% dari CU ketika angsuran dibayar. Jika pergi ke suatu tempat 1 hari penuh kolektor mendapatkan uang transport plus uang makan. Mereka tidak dapat gaji bulanan, karena bukan karyawan tetap. Karena kantor CU jauh, ketika annggota pinjam uang melalui kolektor. Ada seorang karyawan dari perusahaan alat-alat berat, waktu senggangnya dimanfaatkan untuk mencari anggota baru. Gajinya di perusahaan Rp5 juta per bulan, sebagai kolektor CUDL juga bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp5 juta per bulan.

Semakin giat mencari anggota baru, dan semakin besar anggota bertransaksi dengan CU, penghasilan kolektor semakin besar. Dengan sistem ini akan merangsang para kolektor semakin rajin dan kerja keras, punya tanggung jawab dan dapat dipercaya. Kalau satu anggota sudah percaya, yang lain pun akan percaya. Apalagi jika anggota tersebut tokoh – panutan masyarakat. “Sekarang kolektor tersebut sudah bisa beli truk. Sambil jalan mencari anggota baru, memanfaatkan truknya untuk angkut sawit,” jelas Yohannes memberi contoh keberhasilan salah seorang kolektor CUDL. Ibarat orang menanam, harus sabar menunggu tanamannya berbuah, baru bisa panen. Kalau yang ditanam kelapa, bertahun-tahun bisa memetik buahnya.

Meyakinkan calon anggota tak mudah. Gagal, itu biasa. Datang di suatu tempat, pidato langsung ada orang yang mau bergabung menjadi anggota, hampir tidak ada. Setahun belum dipercaya, sangat mungkin. Tetapi ketika tahun kedua banyak orang menjadi anggota CU, dan memperoleh manfaat, yang semula ragu – tidak percaya akhirnya masuk jadi anggota CU. “Orang yang dirayu petugas lapangan, kebanyakan guru, makin hari makin banyak yang menjadi anggota CU.Di desa, profesi guru sangat dipercaya. Ada juga pembantu Pastor – katekis – guru agama katolik. Sekali kolektor itu nakal, selesai sudah. Peluang ekonominya hilang. Karena itu, para kolektor harus menjaga nama baiknya sendiri,” jelas Yohannes.
Kiat jitu untuk mendapatkan banyak anggota harus mampu meyakinkan tokoh masyarakat. Tokoh itu bisa kepala desa, ketua umat – ustad, juga orang berpengaruh lainnya. Pada umumnya mereka juga punya pikiran lebih luas. Begitu dia bergabung, yang lain ikut saja. Metode ini bukan baru.

Soal kesejahteraan anggota di pedalaman, Yohannes mengaku, tidak bisa mengukur secara matematis. Yang jelas, sekarang makin banyak orang desa anggota CUDL yang mampu menyekolahkan anaknya ke kota, dan sampai perguruan tinggi. Dengan adanya CU, orang belajar menabung. Pengiriman uang kepada anak-anaknya yang sekolah di kota semakin mudah. Dulu, tidak ada anak-anak desa sekolah di kota. Mereka juga tidak tahu cara mengirim uang. Sekarang yang anaknya sekolah di kota, orang tua kirim uang bisa lewat CU. Misalnya dia menabung di Krayan, anaknya sekolah di Samarinda, kontak CU di Samarinda, uangnya bisa diambil.

Soal pengembangan CUDL, kata Yohannes, tak terlalu nafsu mengembangkan CU di kota. Tetapi di pedesaan – pedalaman, karena punya tujuan, meningkatkan kesejahteraan mereka yang terabaikan dari pembangunan, CUDL memilih lahan yang lebih subur, terutama di pedesaan perbatasan dengan Malaysia. Petani biasanya hanya menabung, tidak pinjam uang untuk usaha. Yang pinjam kebanyakan anggota yang ada di kota dan punya usaha. Peminjamnya berjenjang, Desa – Kecamatan – Kabupaten. Yang beredar di desa paling hanya 5% – 10%, di kecamatan 30% di kota kabupaten 60%. Makin ke atas makin besar. Seberapa pun uang tersedia bisa terserap untuk kegiatan usaha. Anggota di kota memanfaatkan CU seperti bank. Di kota kabupaten anggota pinjam untuk usaha bisa sampai Rp1 miliar. Contoh, ketika ada anggota mau beli traktor, CUDL bisa membiayai dan langsung beli ke Trakindo.

Untuk menjamin kesehatan lembaga uang harus beredar di antara anggota. Pengurus dan manajemen menjaga jangan sampai uang tidak beredar. Karena CU harus memberi manfaat kepada anggota, uang yang bereda idealnya anatara 70% – 80%. Itu teori ekonomi, bukan teori kedokteran. Tetapi dokter Yohanes bisa cepat menyesusiakan, karena CU penuh macam-macam indikator. Sama halnya dengan indikator kalau memeriksa darah orang, trombositnya berapa, kolesterolnya berapa, dan sebagainya. Karena itu mudah paham. “Kalau uang CU beredar 75% berarti baik. Kalau yang beredar baru 50%, gaji karyawannya pasti rendah, kantor pun belum punya. Lumrahnya begitu,” tegas Yohannes.

Pemanfaat untuk berwiraswasta sekitar 60% – 70% sedangkan untuk keperluan pribadi sangat kecil. Orang yang tadinya tidak naik motor, beli motor. Yang semula belum punya mobil, beli mobil. Diakui, anggota yang berwirausaha tak sampai 50% dari jumlah anggota. Tetapi pemanfaatan uangnya bisa mencapai 70% – 80% dari kemampuan keuangan lembaga. Hal ini karena usaha anggota juga terus berkembang.

Salah satu kekurangan CUDL, dan itu terjadi hampir di semua CU, tidak adanya petugas pendamping untuk pengelolaan usaha. “Terus terang, kami belum bisa masuk ke ranah pendampingan. Pendamping itu harus paham masalah bisnis. Selama ini penilaiannya kalau usahanya bagus bisa dikasih pinjaman besar, tetapi kalau kurang bagus, diberikan pinjaman kecil. Karena tidak bisa menilai secara ekonomi, bagusnya itu juga relatif,” katanya jujur. Soal kredit lalai – macet di CUDL saat ini sekitar 5%, tidak lebih. Kini terus diupayakan agar kredit lalai itu terus turun menjadi 4% – 3% – 1% dan akhirnya 0%. Bukan tidak mungkin kredit lalai mencapai 0%. Syaratnya, hati-hati dalam memberikan pinjaman, dan kerja keras. Terkait apa yang diperoleh saat ini, dokter Yohannes mengaku, bangga, karena apa yang dipikirkan hasilnya mulai kelihatan. “Saya ingin, CU sebagai gerakan ekonomi, bisa terus berkembang di pedesaan. Saya bangga, CU bisa berkembang luar biasa di pedalaman,” katanya berbinar. Dia pun mengenang, ketika mau membuka CU di Krayan, tempat kelahirannya yang berbatasan langsung dengan Malaysia, dokter Yohannes mengajak seorang pelatih – motivator dari Samarinda.

“Saya bangga, CU di Krayan berkembang pesat. Salah satu cabang CUDL ini asetnya mencapai Rp14 miliar lebih. Padahal kecamatan yang dulu miskin dan tidak punya kegiatan ekonomi itu jumlah penduduknya hanya 8000-an jiwa. Tadinya mereka tak punya tabungan, tapi sekarang punya Rp14 miliar,” katanya seraya menambahkan bahwa yang menjadi anggota CUDL TPK Krayan hanya sekitar 3000-an.

Semakin membanggakan, katanya berbunga-bunga, ada anak warga Krayan yang masuk Fakultas Kedokteran atas bujuk rayunya. “Saya bilang, uang Anda untuk biaya kuliah anak di kedokteran cukup. Kedokteran itu biayanya tidak mahal. Saya bantu, dengan surat rekomendasi,” katanya merayu. Bujuk rayunya berhasil, anak tersebut diterima kuliah di Jakarta. Dan sekarang, sudah belasan orang asal Krayan kuliah di kedokteran. Dokter Yohannes yang mengaku termasuk orang boros, dengan adanya CU bisa menabung. Kecuali menjadi anggota di CUDL, juga menjadi anggota CU Lantang Tipo, CU Khatulistiwa Bakti, CU Pancur Kasih, semua di Kalimantan Barat, dan CU Bererod Gratia, Jakarta. Setiap bulan, ngakunya menabung hanya Rp500.000,- di setiap CU. Menabung di CU, kata dia, kelak pasti ada gunanya. Kalau sudah tua, tidak bisa bekerja, bisa diambil sedikit-sedikit.

“Kami sekeluarga sangat percaya terhadap CU. Anak bisa sekolah di Australia jaminannya credit union,” ungkapnya. Meskipun CU yang dibangun telah sukses, dan menjadi kebanggaan, tetapi impian yang ingin dicapai juga masih sangat banyak. Kalau akhir tahun buku 2013, aset CUDL Rp626,465 miliar. Dari sisi aset menduduki ranking pertama di jajaran anggota BKCU Kalimantan. Target aset 2014 adalah Rp800 miliar, dan pada tahun 2015 diharapkan mencapai Rp1 triliun. Jika target terus tercapai orang di pedalaman kesejahteraannya akan meningkat. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *