Membangun UKM Menjadi Brand Dunia

soichiro_hondaMungkin kita tidak menyadari, bahwa sebagian besar perusahaan-perusahaan dunia awalnya dibangun oleh para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Dengan semangat wirausaha yang tinggi dan pantang menyerah, mereka berhasil membangun usahanya menjadi perusahaan kelas dunia.

Sebut saja tokoh otomotif Henry Ford dan Soichiro Honda, pendiri Ford Motor Company, Amerika Serikat dan Honda Motor Company, Jepang, adalah pelaku UKM yang sukses membangun bisnis menjadi brand dunia. Jatuh bangun bagi mereka hal biasa. Spirit yang terlihat dari mereka adalah pantang menyerah. Henry Ford yang lahir 30 Juli 1863, hanya tamatan sekolah dasar. Henry yang  mencintai mesin dan kereta, tahun 1892 memerkenalkan mobil pertama di dunia yang dibuat di bengkelnya sendiri, di Detroit.

Keberhasilan itu membuat Henry ditawari pekerjaan di Detroit Edison Company dengan gaji tinggi. Namun ia menolak karena ingin mengelola usaha sendiri. Ia mengajak beberapa temannya sebagai investor untuk mendirikan pabrik mobil Detroit Auto Mobil Company. Karena ketidak-cocokan akhirnya kongsi itu bubar. Pada Maret 1902, Henry Ford mendirikan Ford Motor Company yang dibiayai sendiri. Dengan modal minim dan semangat tinggi, Henry berhasil membangun Ford Motor Company.

frdeurope frd100Jatuh bangun bagi Henry, biasa. Ia tidak mengeluh, dan tidak pernah menyerah. Ia tidak menyangka usaha yang dibangun dari sebuah bengkel di Detroit dengan modal seadanya, menjadi brand dunia. Pantang menyerah, selalu ada jalan keluarnya, meski menemui tantangan dan hambatan. Kisah nyaris sama juga dialami Soichiro Honda.  Jiwa wirausaha Soichiro tumbuh karena warisan ayahnya yang membuka bengkel reparasi alat pertanian dan sepeda di Dusun Kamyo, Distrik Shizuko, Jepang Tengah. Dalam usia 22 tahun, pada tahun 1928, setelah cukup lama bekerja sebagai karyawan di Tokyo, Honda kembali ke kampung halamannya untuk memulai usaha reparasi mobil dan pembuatan ring piston.

Bisnisnya tidak berjalan mudah. Perang dan bencana alam membuat bisnis Soiciro Honda jatuh bangun. Namun ia terus maju, pantang lelah. Pada tahun 1948 Honda mulai produksi sepeda motor di bawah bendera Honda Corporation.  Rekayasa mesin Honda yang bagus dan pemasaran yang cerdas membuat Honda berhasil mengalahkan penjualan sepeda motor merek lain di Jepang. Perusahaan ini pun terus berkembang dan menjadi perusahaan multinasional dengan brand yang mendunia. Berdasarkan kedua cerita tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kerja keras, dan semangat untuk maju tidak bisa menghalangi pelaku usaha untuk meraih sukses.

Semangat dan daya juang pelaku UKM di Tanah Air tak jauh beda dengan Henry Ford dan Soichiro Honda. Itu dibuktikan antara lain ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998. Ketika perusahaan-perusahaan besar terpuruk, dan banyak yang gulung tikar, UKM tetap tumbuh. Bahkan UKM-lah yang berperan membangkitkan semangat wirausaha para pelaku bisnis untuk terus berjuang di tengah krisis.

UKM yang bergerak di berbagai kegiatan ekonomi, dinilai banyak pihak sebagai sektor penting mengatasi masalah yang dihadapi bangsa, yakni pengangguran dan kemiskinan. Peran UKM yang saat ini tercatat 56,5 juta unit usaha dan  tersebar di seluruh Indonesia, tidak saja mampu meningkatkan lapangan kerja, mengatasi masalah pengangguran, sekaligus juga dapat mendorong akselerasi pembangunan daerah. Akankah UKM kita bisa maju seperti UKM luar negeri, mampu merambah internasional dan brand yang kuat.

Pemerintah yang bertugas sebagai Pembina tidak lagi sekadar membantu tumbuh kembangnya UKM di tanah air, tetapi bagaimana menjadikan UKM Indonesia mampu bersaing di pasar global. Kementerian Koperasi dan UKM memiliki Lembaga Layanan Pemasaran (LLP) KUKM yang bertugas memasarkan produk KUKM untuk pasar lokal dan internasional.

smesco-ukm-small-3Untuk pasar lokal, LLP-KUKM memiliki ruang display produk KUKM di SME Tower, Jln. Gatot Subroto Jakarta. Sebuah gedung mewah didedikasikan untuk produk-produk berkelas. Produk yang masuk ke LLP-KUKM merupakan produk terbaik yang telah melewati seleksi mutu dan desain. Dengan begitu, mutu produk yang masuk ke SME Tower tidak perlu diragukan. LLP-KUKM membantu pelaku UKM agar bisa menjual produknya ke pasar Internasional melalui program Pengembangan Produk KUKM Berdaya Saing. Bukan satu atau dua barang, tapi diharapkan bisa menjual produk ke luar negeri minimal satu kontainer. Barang-barang yang akan didisplay dan dijual di pasar luar negeri, disesuaikan dari sisi desain dan kemasan. Untuk itu LLP-KUKM siap membantu mereka.

Pelaku UKM di Tanah Air memang memiliki jiwa spartan. Berapa pun besar pesanan yang datang akan dilayani. Persoalannya, tidak semua UKM  memiliki modal yang cukup untuk melayani pesanan dalam jumlah besar. Jika hal itu terjadi pemerintah siap mengalirkan pinjaman melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), sebuah badan layanan umum yang berada di bawah Kementerian KUKM. Selain itu pemerintah juga menyediakan KUR (Kredit Usaha Rakyat) kepada para pelaku UKM yang butuh pinjaman dana di sejumlah bank nasional.

Upaya yang dillakukan LLP-KUKM bukan sekadar menghidupkan UKM tetapi menjadikan mereka perusahaan besar yang bisa bersaing dengan produsen dari luar negeri. Diharapkan suatu saat nanti UKM Indonesia bisa menjadi brand dunia yang disegani baik di pasar lokal maupun internasional.

***

thumbopen.phpKini kita memasuki pintu gerbang perjalanan baru, tahun 2014 dan meninggalkan 2013 dengan segala persoalan dan pencapain yang sudah didapat. Waktu sudah tidak dapat diputar kembali, kita hanya mampu melihat ke belakang untuk melihat jejak yang ditinggalkan. Apakah sebuah kebanggaan yang akan dibawa dalam perjalanan di tahun 2014 atau jejak yang hanya ingin dilupakan, dihapus karena tidak ada torehan prestasi di sana.

Lazimnya menempuh perjalanan baru, banyak bermunculan berbagai perkiraan yang akan terjadi dalam perjalanan nanti. Perkiraan yang muncul dari data yang dikumpulkan pada masa lalu dan belajar dari kondisi yang ada bisa dipastikan akan terjadi, dan mau tidak mau harus siap dihadapi. Di sisi lain banyak juga perkiraan yang hanya berdasarkan asumsi emosional, ketakutan maupun over percaya diri, untuk jenis perkiraan ini bisa saja terjadi atau malah tidak sama sekali, tergantung seberapa kita meyakininya.

Tahun 2014 akan menjadi tahun sangat berat bagi ekonomi Indonesia, ini adalah perkiraan dengan sekumpulan data yang sahih dan kondisi kekinian yang mendukung. Menjelang pergantian tahun, Rupiah terpuruk ke nilai tukar Rp12.000 per US$. Diperkirakan berbagai analis tidak tertutup kemungkinan tembus di Rp12.500 – Rp13.000 per US$.  Melihat neraca perdagangan, Indonesia juga mengalami defisit di mana sampai akhir tahun 2013 mencapai US$ 8 Miliar. Data hingga September, sumbangan defisit dari Migas sebesar US$ 9 Miliar dan surplus dari Non Migas US$ 3,5 Miliar, Fantastis!!

Kinerja Ekspor tidak membaik walau nilai tukar Rupiah menurut berbagai analis pasar sudah pada titik yang rendah untuk bisa mendongkrak Ekspor dan bersaing dengan produk produk negara lain yang mata uangnya menguat atau tidak semelemah Indonesia. Ini disebabkan besarnya kebutuhan bahan baku yang diimpor serta kebutuhan Energi khususnya BBM untuk menopang produksi, di sisi lain negara negara tujuan ekspor utama seperti US, Eropa, dan Jepang juga sedang mengalami persoalan Ekonomi. Sementara kebutuhan konsumsi dalam negeri juga sangat tinggi akan produk Impor dan konsumsi energi meningkat terutama BBM, akibat peningkatan jumlah kendaraan yang berimplikasi dengan makin besarnya impor BBM yang harus dilakukan. Hal ini sangat diyakini akan tetap menghantui di 2014.

Dengan kondisi Ekonomi dunia yang menurun dan penuh ketidakpastian, Bank Indonesia sebagai penguasa Otoritas Moneter menaikkan BI Rate hingga November 2013 pada titik tertinggi 7,5% dengan alasan untuk mengendalikan inflasi yang bergerak liar di tahun 2013, yang tentu akan memukul sektor Riil dalam pertumbuhannya dan semakin sulit mendapatkan modal kerja yang murah yang akan berimplikasi secara langsung ke harga produk akhir yang dilepas ke pasar. Ditambah tahun 2014 sebagai tahun politik dengan adanya Pemilu dan Pilpres, bisa dibayangkan betapa rentannya kondisi ekonomi tahun 2014.

Kalangan pengusaha besar akan berkutat memikirkan hutang US$ mereka yang harus dibayar, bunga bank dengan rate baru yang semakin menekan, gaji karyawan dengan UMK yang naik hampir 25% di tahun 2013, serta persoalan arus investasi yang akan semakin seret, sementara produk akan semakin sulit diserap pasar karena harga yang harus disesuaikan dan kemampuan pasar yang juga turun signifikan.

Nakhoda tangguh tidak lahir di laut yang tenang, tapi dari laut yang penuh dengan ombak dan badai. Bila kalangan pengusaha besar dan analis ekonomi begitu khawatir dengan Ekonomi 2014, bagaimana dengan UMKM Indonesia, apakah tetap akan bisa bertahan dan setangguh gejolak ekonomi pada tahun 1998? Di tahun 2014 ini kalangan UMKM akan jauh lebih siap dan tahan goncangan ekonomi.

Selain pengalaman 1998 yang membuktikan untuk itu, data lain yang mendukung adalah UMKM tidak dipusingkan dengan hutang dalam bentuk mata uang asing, tidak digerogoti persoalan kenaikan upah buruh karena jumlah karyawannya kecil. Kebutuhan modal mereka tidak besar dan tidak tergantung dengan investasi asing. UMKM tidak perlu pusing memikirkan ekspor, tidak pusing dengan pasar luar negeri yang juga sedang turun, karena 90% hasil produk UMKM diserap pasar Lokal, pasar rakyat Indonesia sendiri yang jumlahnya 240 juta jiwa.

Bila sektor industri besar mengalami pelambatan pertumbuhan di tahun 2013, sebaliknya UMKM terus tumbuh 7% – 8% setiap tahun. Data Kementerian Koperasi dan UKM, tahun 2013 ada 56,5 Juta UMKM di Indonesia dan menyumbang 90% pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika yang lain jungkir balik dan terus melorot karena guncangan ekonomi dunia, tidak demikian bagi UMKM yang terus tumbuh dan memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi Indonesia.

Penduduk dengan jumlah 240 juta jiwa adalah pasar besar. Begitu banyak perut yang tiap hari harus diisi, begitu banyak pakaian yang harus dibuat, sangat banyak rumah yang harus dibangun, tidak terhingga kebutuhan sehari-hari yang harus dipasok. Pasar yang tidak akan habis dan selalu membutuhkan produk untuk hidup mereka. UMKM Indonesia sangat siap untuk mensuplai segala kebutuhan tersebut. Dan UMKM akan dengan lincah berselancar, walau harus ikut turun akibat ekonomi menuju ke bawah mencapai titik, kemudian melontarkannya ke atas, untuk terus tumbuh dan tumbuh membesar.

Persoalan permodalan bagi UMKM memang masih menjadi kendala agar dapat bergerak lebih lincah. Dengan adanya bunga bank yang semakin tinggi dan mencekik leher pasti juga akan berdampak kepada UMKM dan produk akhir mereka. Ada sebuah data yang menggembirakan, sekaligus peluang bagi UMKM jika bisa mengolah dengan baik data tersebut. Pertumbuhan UMKM 7% – 8% per tahun, ternyata tidak tumbuh sendiri-sendiri bagai cendawan di musim hujan. Pertumbuhan UMKM, dan lahirnya UMKM baru sebagian besar ditopang keberadaan komunitas-komunitas wirausaha.

Melalui komunitas tersebut lahir pengusaha-pengusaha baru, dan pengusaha tangguh, yang saling dukung mendukung. Di Komunitas-komunitas tersebut tidak hanya berkumpul orang yang sudah jadi pengusaaha, tapi ada juga karyawan, mahasiswa, ibu rumah tangga, yang semua punya keinginan untuk menjadi pengusaha. Di antara komunitas itu, Komunitas Tangan di Atas, Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia, Komunitas MIFTA, Komunitas YEA, bahkan ada Komunitas Mahasiswa Berbisnis.

Ini adalah sebuah kekuatan bagi UMKM Indonesia. Mereka telah melalui fase penting dalam perjalanan bisnis, yaitu membangun Network – jejaring yang tangguh, tersebar luas, dan memiliki “Semangat Korsa”, loyalitas, saling dukung sesama anggota Komunitas. Sebuah fase yang sangat berharga, jauh lebih berharga dari kucuran modal dari perbankan, dan support pemerintah sekali pun. Komunitas yang kuat, jejaring yang kuat, akan bisa mencari solusi bersama terhadap berbagai persoalan yang muncul.

Komunitas akan mampu bergotong royong menyelesaikan persoalan, mampu saling bergandengan tangan agar tidak tersungkur jatuh saat meluncur turun, mampu saling topang untuk mendaki agar sampai ke puncak secara bersama sama. Inilah yang tidak dimiliki oleh pengusaha besar yang saling bersaing, saling menjegal.

Persoalan permodalan tak lagi menjadi masalah bagi UMKM yang tumbuh melalui komunitas yang kuat, dan bergotong royong. Dengan jalan mentransformasi kekuatan itu menjadi kekuatan modal bersama yang tidak akan tergantung pada perbankan – yang saat ini dikuasai asing. UMKM sekali lagi diuji untuk cerdas memanfaatkan peluang dan kekuatan yang dimiliki, untuk tetap bersama sama, saling bergandengan tangan, mewadahi kebutuhan sendiri dalam KOPERASI. Dengan berkoperasi tidak akan ada lagi kesulitan modal, persoalan bunga bank yang tinggi, syarat syarat yang “jlimet”. Melalui koperasi akan dapat memenuhi segala kebutuhan modal.

***

PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk menargetkan kredit UMKM tahun 2014 di level 21%. Angka ini jauh di atas ketentuan penyaluran kredit Bank Indonesia yang memerkirakan perlambatan kredit tahun 2014 di angka 16% – 18%. BRI menargetkan angka kredit lebih tinggi dibandingkan ketentuan BI lantaran sektor UMKM seperti warung makan, bengkel, pertanian tidak bisa diminta menurunkan kinerja usahanya.

Kalau usaha besar diminta stagnan masih bisa. Tetapi UMKM seperti warung makan, bengkel, pertanian diminta untuk menurunkan usahanya, ya susah. Jadi, tetap harus disalurkan. Meski begitu, secara keseluruhan BRI akan mengerem pertumbuhan penyaluran kreditnya pada tahun 2014. Hal ini seperti ketentuan yang telah ditetapkan oleh BI. Namun khusus untuk penyaluran kredit UMKM, BRI akan tetap menyalurkan kredit di atas ketentuan yang telah ditetapkan BI.

PT Telekomunikasi Indonesia juga makin memfokuskan bisnisnya pada segmen Small Medium Enterprise (SME) dengan target menggandeng sekitar 10 mitra application provider baru pada tahun 2014. Jumlah UKM yang dominan dengan memiliki badan usaha di Indonesia berjumlah sekitar empat juta UKM dianggap Telkom sebagai peluang pasar yang harus digarap. Sebenarnya, niat fokus untuk menggarap segmen SME sudah dimulai sejak 2012 lalu dengan hadirnya layanan Business Solution for Community (BSC) yang merupakan layanan ICT untuk UKM. Namun baru tahun 2013 ini fokus itu digalakkan kembali karena portofolio produk dan layanan untuk UKM semakin berkembang.

thumb_Kerajinan_Rotan_UKM_1_SYSekarang lebih lengkap karena di tahun 2014 Telkom lebih siap dan fokus masuk ke pasar UKM untuk tiga segmen baru, yakni: SOHO (small office home office), kemudian BSC (Business Solution for Community) dengan spesifik di layanan Toko Online serta online commerce dan berikutnya Digital Media Solutions untuk SME. Semua dikemas dalam flagship program Indonesia Digital Entrepreneur (IndiPreneur). Telkom sendiri memproyeksikan akan terjadi scalling new revenue sekira Rp100 miliar untuk tiga segmen layanan baru tersebut.

Selain itu Telkom saat ini banyak melakukan elaborasi dengan tidak hanya membuat bundle produk saja, tapi juga mulai merekrut mitra, memberi pelatihan ke mitra-mitra, membantu para mitra untuk closing deals, dan lainnya, yang dilakukan dalam upaya memperluas pasar produk dan layanan Telkom di Indonesia. Saat ini Telkom memiliki 20-an mitra yang sebagian besar application provider untuk layanan layanan solusi SME. Dalam program Indonesia Digital Entrepreneur (IndiPreneur) sendiri, sejak dimulai Januari 2013 silam sudah bergabung sekitar 150 ribuan UKM di Indonesia. Diharapkan di tahun 2014 akan bergabung tidak kurang 500 ribuan dan di tahun 2015 akan bergabung 1 Juta pelaku UKM dalam program ini. Telkom sendiri sudah menyediakan wadahnya untuk para pelaku UKM yang sudah go online melalui portal www.smartbisnis.co.id

Telkom tidak bermain sendiri, beberapa anak perusahaan dalam lingkup Telkom Group yang berkolaborasi dalam program ini adalah Telkomsel untuk layanan mobile enterprise – SME solution. Selanjutnya Telkom Sigma sebagai penyedia Data Center, Cloud Services (IaaS, Saas, PaaS) dan IT services lainnya. Sedangkan PINs sebagai penyedia solusi untuk CPE dan premises integration network. Ada juga Infomedia untuk solusi contact center dan BPO. Finnet mendukung untuk solusi paymet switching dan aplikasi pembayaran online. Selain itu Metra Digital Media untuk solusi-solusi digital media dan digital advertising. Telkom sebagai parent company memiliki parenting strategy untuk mengoptimalkan sinergy value dalam group Telkom.

Telkom sendiri untuk segmen Enterprise dan Small Medium Enterprise (SME) di tahun 2014 menargetkan perolehan revenue sebesar Rp10 triliun dengan komposisi segmen Enterprise berkontribusi 75% dan sisanya 25% dikontribusi oleh segmen SME. Telkom akan fokus di segmen Enterprise dan SME karena dua segmen ini menjadi pusat pertumbuhan untuk revenue unconsole Telkom. (mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *