Membesarkan UMKM Indonesia Sangat Unik

Membicarakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang oleh pemerintah jumlahnya diklaim 64 jutaan unit (bila data itu akurat), adalah membicarakan semangat juang diri kita sendiri, bagaimana untuk setiap kita secara hakiki dapat berusaha mandiri, berkembang dan terus maju, mulai dari rumah (kampung), ke tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten – kota, kemudian ke tingkat provinsi, nasional, antar negara ASEAN hingga lintas mancanegara.

Bila dilihat dari awal, UMKM itu memiliki visi besar dan mulia. Misinya dimulai dari langkah kecil, sederhana, kongkret, riil, membumi, dan terus menerus berubah, berkembang, maju terus pantang mundur dan pantang menyerah. Prinsip umum dan sederhana ini sering terlewatkan. UMKM ingin instant dan di-instant, seperti memompa ban motor baru yang masih kempes, bagaimana agar cepat dan siap berjalan cepat. Tetapi bagaimana mengemudikan motor dan memelihara ban agar selain bermanfaat juga awet seringkali terlewatkan.

UMKM itu seringkali tiba-tiba dipompa supaya cepat muncul. Namun sering pula kempes lagi, dan dipompa lagi, demikian seterusnya hingga kini. Banyak Kementerian – Lembaga dan Swasta mengatakan; “Punya binaan sudah berkontribusi bagi penciptaan lapangan kerja, pembiayaan, penyerapan produksi dan jasa serta peningkatkan UMKM. Tetapi tetap saja dalam berbagai diskusi kesulitan pembiayaan, perizinan, peningkatan akses pasar domestik hingga potensi ekspor masih banyak yang belum mengetahui road map things to do & things to take it’ – peta jalan untuk melakukan langkah konkret.

SMESCO Indonesia sebagai rumahnya UMKM tentu diharapkan menjadi rumah yang “nyaman” untuk ditingali produk-produk UMKM lintas lintas kabupaten – kota dan lintas provinsi dari seluruh Indonesia. Dan produk-produk itu tidak hanya dipamerkan dari waktu ke waktu. Smesco diharapkan dapat menjadi ‘Agent of improvement” bagi UMKM mulai dari start – ide, penciptaan – pelaksanaan, pemupukan agar kuat, juga jadi saluran pemasaran offline & online, penjualan riil hingga repeat order – pemesanan berulang-ulang. Sehingga roda bergerak terus dalam semangat kewirausahaan yang mandiri dan produktivitas tinggi dari para UMKM yang terus hidup dan semakin hidup.

Satu keniscayaan yang sudah kita ketahui semua, di kolong langit ini tidak ada yang tidak bisa. Masalahnya, kita mau atau tidak. Meminjam pelajaran di bangku kuliah, dalam prinsip manajemen umum & sederhana dari Philip Kottler yang abadi: POAC (planning, organizing, actuating & controlling), dimana semestinyalah Smesco yang sudah dibangun dan exist hingga saat ini dapat lebih berkembang dan maju melalui peran tidak pada segelintir orang, tetapi mengikutsertakan;

Para pelaku usaha (bukan pengijon, calo atau mediator), Komunitas Koperasi UMKM, Kopitu, misalnya. Juga akademisi yang rela & mau berkontribusi, Pemerintah, terutama Kementerian – Lembaga terkait, Kemenkop dan UKM sebagai “induk semang”. Bank BUMN yang kompeten dan berintegritas pada KUMKM. Perusahaan BUMN dan Swasta yang memiliki hati berhasrat menciptakan binaan UMKM unggul.

Yang juga sangat diharapkan segera ada Bank UMKM yang source fund-nya dari hibah negara-negara donor, CSR BUMN – Swasta, dana bantuan dari dalam negeri sehingga dapat memberi extra very low interst sekitar 0,5% per tahun dibanding sekarang 6% per tahun. Dan masih banyak hal lainnya yang dapat turut serta dalam gerbong panjang yang ditarik “loko motif”; Smesco Indonesia menuju tujuan UMKM from local to global.

Smesco Indonesia merupakan brand dari Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM (LLP – KUKM) yang didirikan era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada Maret 2007. Tujuan didirikannya LLP – KUKM adalah untuk memberikan layanan promosi dan pemasaran produk-produk koperasi dan UMKM yang memiliki nilai unggul.

Tugas utama dan fungsi LLP – KUKM sebagai pelaksana layanan; informasi pasar, sarana pemasaran, promosi produk dan jaringan pemasaran, distribusi produk KUKM, konsultasi pemasaran, peningkatan kemampuan manajemen, teknik pemasaran dan inkubasi pemasaran. Smeco saat ini menjadi show room berbagai produk unggulan dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Produk-produk itu didisplay pada stand di paviliun provinsi yang terletak di lantai 1 dan 2 Gedung Smesco di Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 94, Jakarta Selatan, salah satu daerah segi tiga emas.

Tempatnya sangat strategis sebagai sarana pemasaran produk-produk unggulan dari berbagai provinsi, co-working space & office serta arena pameran. Lokasinya mudah dijangkau dari arah mana saja. Baik dari arah Pelabuah Tanjung Priuk, dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan dari Sumatera sekalipun. Semua bisa lewat jalan tol, keluar pintu tol Patung Dirgantara, Pancoran, Tebet, Jakarta Selatan.

Beberapa waktu silam dilakukan revitalisasi provinsi dan revitalisasi paviliun sebagai upaya menata ulang ruang display produk unggulan ke lokasi yang lebih strategis. Sehingga wajah baru paviliun provinsi menjadi citra baru terhadap indentitas daerah dengan menampilkan local heritage dan keunikan produk. Revitalisasi paviliun provinsi sejak Januari 2018 merupakan langkah mengintegrasikan semua potensi yang ada agar Smesco menjadi icon – citra baru dalam pencapaian pengembangan dan pemasaran produk-produk unggulan Koperasi dan UKM.

Dalam prosesnya, revitalisasi dilakukan dengan pendekatan terintegrasi, visitor oriented, dan dedicated to local SME agar berdaya guna. Juga dimaksudkan untuk menghasilkan Smesco yang tampil beda, berdaya saing dan mampu menghasilkan values bagi pengunjung. Sebagai citra baru Smesco Indonesia akan menjadi referensi terbaik untuk mencari dan mendapatkan produk lokal, produk KUKM Indonesia. Smesco menjadi wadah promosi produk lokal, produksi KUKM, sekaligus wadah untuk meningkatkan daya saing KUKM daerah.

Smesco diharapkan dapat menjadi area one stop shopping bagi konsumen lokal maupun internasional yang ingin membeli produk-produk KUKM Indonesia. Sinergi dan integrasi dilakukan utamanya dengan lembaga terkait, pusat promosi produk KUKM untuk kegiatan promosi dan pemasaran produk unggulan daerah. Sebagai sebuah lembaga yang berorientasi daya saing, Smesco berkonsep consumer driven, yakni berorientasi kepada kepentingan pengunjung, serta mempertimbangkan keinginan dan kemudahan yang mereka perlukan.

Keberadaan paviliun bukan sekedar representasi daerah, tetapi juga memberi manfaat bagi KUKM lokal. Produk yang ditampilkan di paviliun provinsi berpotensi ekspor ke mancanegara, meliputi fesyen, furniture, alas kaki, dan kuliner. Inilah yang membedakan produk unggulan Indonesia yang ada di Smesco dengan tempat lain. Harga setiap produk merupakan harga langsung dari perajin ditambah pajak 10%.

Sebelumnya, ke-34 stand yang menjual produk dari 34 provinsi ditempatkan di lantai 3,11, 12 dan 15 Gedung Smesco. Menkop UKM kala itu, AA Ngurah Puspayoga dalam acara Re-lounching produk unggulan provinsi pada 31 Maret 2018 mengatakan; “Kita berharap jika orang datang ke Smesco dapat melihat miniaturnya Indonesia. Pelaku UKM dapat menititipkan dan menjual produk di stand masing-masing provinsi. Misalnya, pelaku KUKM dari DKI Jakarta, di Paviliun DKI Jakarta. Begitu juga dengan provinsi-provinsi lainnya.”

Kondisi saat ini, dengan adanya pembangunan LRT, dan aturan ganjil genap untuk kendaraan mobil, serta kemacetan yang menjadi masalah utama di DKI Jakarta, menjadikan lokasi Smesco tidak strategis lagi jika dibandingkan dengan Sarinah yang berlokasi di Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Beberapa bulan sebelum merebak pemberitaan virus corona – Covid 19, di Smesco ada sebuah acara, tetapi sepi. Yang berkunjung sangat sedikit, tidak seperti beberapa tahun silam. Kondisinya seperti Sarinah sebelum direvitalisasi. Kini pengunjung ke Sarinah jauh lebih ramai.

Sewajarnya, Smesco Indonesia dikelola oleh para millenials yang penuh inovatif,  agresif mengelola bisnis dan dijadikan tempat yang bisa bersinergi dengan Pemprov DKI Jakarta untuk menjadikan salah satu pusat KUKM yang wajib dikunjungi turis dari mancanegara bila ke Jakarta. Seperti yang dilakukan oleh Korea dan China dimana setiap wisatawan wajib mengunjungi tempat-tempat wisata yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini tentu harus juga bekerja sama dengan biro perjalanan. Sehingga Smesco Indonesia bisa memberikan wajah baru pusat bisnis produk-produk unggulan.

Pertanyaannya, ada tidak dari sekitar 64 juta UMKM yang sudah lulus menjadi besar, memiliki best practices atau success story untuk memimpin Smesco. Kalau ada satu dua tiga empat atau lima yang berhasil, perlu ditelusuri untuk dibentuk team, bisa ditetapkan yang punya leadership untuk memimpin Smesco. Memimpin unit kerja pemerintah itu gampang-gampang susah. Dan membesarkan UMKM mungkin juga jauh lebih susah. Endingnya, sekarang ada di tangan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Dengan kata lain Quo Vadis Smesco Indonesia.

Usai pelantikan dalam acara ngobrol santai, Direktur Utama (Dirut) Smesco Indonesia, Leonard, menekankan program kerja ke depan menyiapkan perencanaan adanya marketspace (Collective Studio), Aktifitas Edukasi, Link and Match, Co-Working Area, Retail Gallery, Event Area, Food and Beverage Area, Legal Corner, hingga Consulting Area.

Hal itu sesuai visi Menkop dan UKM dalam membangun KUKM ke depan, yaitu meliputi riset, pengembangan SDM, penguatan proses produksi, pemetaan kebutuhan pasar secara holistik dan seluruh elemen pendukungnya, persyaratan administrasi ekspor, dan sebagainya. Smesco akan diperkuat sebagai fungsi simpul komersial dengan ragam program link and match dengan pembeli lokal sampai global. Intinya, Smesco Indonesia akan menjadi ajang akademis dan komersial.

Yang jelas, Smesco memiliki beberapa fokus yang bakal dikerjakan dengan pondasi kebutuhan di masa depan. Di antaranya mengembangkan industri kuliner berbasis kearifan lokal. “Kita akan membangun UKM kuliner dari kebun hingga restoran. Kita akan menjual produk khas dan unik asli Indonesia. Fokus lainnya, pada future craft terkait dengan seni budaya khas Indonesia. Juga akan mengembangkan produk KUKM berbalut budaya,” urai Leonard.

Terkait mobilitas, juga dipandang sebagai sesuatu yang penting karena di depan Gedung Smesco ada jalur LRT. Itu kelak akan mengubah mobilitas penduduk Jakarta yang akan menciptakan UKM dengan produk-produk baru. Smesco juga bisa menjadi tempat simulasi bagi project-project yang akan dikerjakan. Future living akan ada di Smesco dalam menghadapi tantangan globalisasi. Smesco juga akan menjadi Public Space dengan adanya LRT.

Ke depan, pengembangan Sarinah dan Smesco diharapkan agar tidak saling tumpang tindih. Begitu juga dengan produk fesyen bakal dikembangkan secara benar. Itu semua membutuhkan Research and Development secara silmutan. Sekarang kita lihat realisasi konkret dari strategi yang sudah diwacanakan dalam 100 hari pertama kerja yang sebentar lagi akan habis apakah berdampak langsung ke KUKM Indonesia dan membikin kondisi Smesco menjadi lebih ramai, dan keuangannya tidak merah.

Ternyata, hasilnya sampai sekarang Smesco tetap sepi. Sedikit agak ramai jika ada acara Kementerian atau event pernikahan – kondangan atau event-event lain yang sebenarnya tak ada keterkaitannya KUKM. Contoh, Job Fair – bursa kesempatan kerja. Para pelaku UMKM Indonesia masih lebih melirik Pasar Tanah Abang maupun Thamrin City dan Sarinah. Sehingga membuat keuangan Smesco tetap merah. Dan semakin sunyi sepi setelah wabah corona merebak di di seluruh dunia.

 Smesco peruntukannya mutlak bagi pelaku usaha kelas bawah dan menengah, seperti pedagang konveksi di Pasar Tanah Abang atau Thamrin City, dan kuliner. Setrategi pengelolaannya harus benar-benar mengenal pelaku UMKM, bukan cara membikin setrategi seperti di Pasific Place. Saat ini peranan daya ungkit perusahaan besar untuk membikin KUKM naik kelas belum diterapkan sama sekali.

Ada yang berpendapat, perusahaan besar seperti Unilever tidak akan pernah mau menaikkan kelas UMKM kecuali yang mau menjadi resellernya. Perusahaan kelas dunia susah minta izinnya dari level negara ke regional ke global. UKM juga tidak akan bisa menjadi pemasok bahan baku karena kuantitas dan konsistensi kualitas. Untuk itu lupakan saja datangnya malaikat penolong dari perusahaan besar. UKM harus bisa mandiri, didukung oleh ekosistem yang didesain pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten – kota.

Dan juga jangan terlalu berharap kepada kaum UKM milenial, sebab mereka punya dunia sendiri. Sementara, biarkan mereka dengan ekosistem yang ada. Saat ini yang menjadi persoalan, pelaku UKM yang belum tersentuh, perlu dipikirkan Smesco dengan setrategi tepat sasaran. UKM Indonesia setrateginya harus beda, tidak bisa disamakan dengan setrategi manajemen di Pasific Place Jakarta, misalnya.

Boleh ambil study kasus, Sandiaga Uno dalam setrategi mengatur UKM, apa hasil akhir OK OC? Yang terjadi banyak kegagalan. Contoh, OK OC Mart banyak yang tutup. Kurang apa Sandiaga Uno. Sekolah lulusan luar negeri, financing OK OC banyak menggunakan dana dari kantong sendiri, tidak melibatkan anggaran pemerintah. Tetap saja mengalami kegagalan.

Kegagalan Sandiaga dikarenakan tidak mengenal benar dunia UMKM Indonesia. Yang dimiliki Sandiaga Uno sebatas teori dan gagasan. Sedangkan perjalanannya tidak pernah mengalami usaha mikro kemudian naik kelas menjadi kecil, lalu naik menjadi menengah dan besar. Sandiaga mulai lahir sudah mapan sampai kuliah di USA dan bekerja di perusahaan investasi. Bagaimana bisa membranding dirinya untuk sukses di kalangan UMKM Indonesia. Saran kepada Menkop dan UKM, pilihlah Manajemen Smesco yang pernah besar dari UMKM di dalam negeri.

Membesarkan UMKM di Indonesia ini sangat unik. Lika-likunya sangat spesifik, tidak ada di negara lain manapun. Ibarat selancar di arus banyak karang, dan ganasnya ombak luar biasa sehingga pengendaliannya butuh ketrampilan tinggi. Sebuah ilustrasi masalah riil yang dihadapi pelaku UMKM, sebut saja namanya Jaswadi.

Dia bilang; “Saya masih punya tanggungan pucuk teh dengan Pak Sabar, petikan bulan Januari sampai dengan Maret, tetapi lupa berapa totalnya. Karena sakit selama 2 bulan tidak bisa cari uang, pembayaran pucuk teh tertunda juga.”  Minggu kedua Maret memutuskan tak beli pucuk teh sampai kondisi perekonomiannya stabil dan utangnya lunas. Hitungan teh yang masih jadi tanggungan; Januari 18 Kg, Februari 41,5 Kg, Maret 51,5 Kg. Harga per Kg Rp 4.000,- Jadi total utang, 111 Kg X Rp 4.000,- = Rp 444.000,-

Pembina; “Nomor rekeningnya mana Pak Jaswadi? Bapak sudah mulai usaha dan sudah dipercaya oleh banyak pihak harus bisa menjaga kontinitas ke pihak penjual. “Saya bantu tambah modal, dan lunasi hutangnya supaya bisa ambil pucuk teh lagi. Kalau ambil bahan baku, setelah dapat pembayaran harus segera dibayarkan ke pemasok. Jangan berhutang terlalu lama. Bapak dibayar oleh toko secara tunai atau dihutang?”

Jaswadi: “Baik Pak,.. kemarin karena terkendala sakit, jadi semua uang terpakai untuk berobat dan yang lain. Karena kalau saya sakit, lumpuh juga ekonomi keluarga. Baru mulai timik-timik, eee… wabah corona datang, Pak”

UKM lain, Warsini pedagang batik; “Titip jual ya Bu….” Nota paling banyak di Hamzah Batik Malioboro. Untuk cair per satu nota butuh proses 3 bulan baru bisa dapat uang. Yang di Toko Jaya, per tanggal 10 setiap bulan. Kirim minggu akhir sekitar tanggal 23 – 25 setiap bulan, dan dibayarnya pada tanggal 10 bulan berikutnya. Dari cerita itu kita tahu modal UMKM sangat terbatas. Sudah begitu, modal terpakai ketika dia sakit. Mereka tak bisa utang ke pemasok, sedangkan pembeli menghutang ke dia. Jadi, usaha yang jauh lebih besar hidup dari memutar income dari UKM dengan term – jangka waktu pembayaran cukup lama.

Intinya, perusahaan besar kode genetik usahanya berfalsafah kapitalisme. Mereka terikat dengan harapan pasar modal kapitalis. Tidak bisa dipaksakan untuk membantu UKM yang beresiko tinggi kelanjutan usahanya seperti contoh di atas. Modalnya terkuras ketika dia sakit, dan tidak ada yang melanjutkan usaha. Kecuali usaha menengah yang dimitrakan. Yang perlu didata, jenis usaha dan jumlahnya. Usaha mikro dengan usaha menengah permasalahannya berbeda.

Perbedaan UMKM dengan usaha besar; UMKM modal, pasar, daya produksi, SDM terbatas. Jika owmer – pemilik santai maka belum bisa surveive, dan tidak bisa dapat uang. Keterampilan manajerialnya pun terbatas. Salah satu solusinya; bangun usaha dengan 4 kaki meja dengan bahagia. Alokasikan uang pendapatan minimal 20% untuk investasi. Bangun sistem usaha sendiri, kerja aktif, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas.

Investasi pada usaha bersama, 2 – 3 orang menerapkan sistem koperasi. Karena koperasi itu dasarnya adalah kerja sama, untuk kepentingan bersama. Usaha bersama dimana cash flow hariannya tinggi seperti restoran atau kebutuhan pokok. Pun berinvestasi pada aset. Sering silahturahmi dan berbuat baik kepada siapa pun akan banyak rezeki yang tak terduga. Juga harus dihindari kebiasaan berhutang sebagai solusi utama untuk pengembangan usaha.

Pola pikir bank; menyukai UMKM jika mengembangkan usahanya dengan dana hutang. Kalau banyak dana yang dipakai UMKM dari bank, maka targetnya tercapai. Konon, bila kita bayar setara dengan nilai hutang, bank sudah dapat keuntungan. Apalagi jika dikenai bunga dan lain sebagainya. UMKM kasihan kena bunga tinggi. Sedangkan pengusaha besar menganggap bank sebagai komoditas uang, distributor uang.

Sebaiknya UMKM mendirikan koperasi sebagai lembaga keuangan bersama. Jika UMKM sebagai anggota koperasi – pemilik koperasi, sekaligus pelanggan koperasi produktif, dan disiplin bertransaksi di koperasi akan membuat koperasinya tumbuh dan berkembang lebih pesat. Semakin kuat induknya, semakin banyak pula usaha dan manfaat investasi di koperasinya.

Kalau pengusaha besar, pemilik pabrik rokok Djarum, Bank BCA, Indofood dan sebagainya, mereka sudah tidak berfikir untuk uang karena sudah memiliki sistem. Kuncinya, usaha itu pada system yang baik. Karyawan – SDM-nya berkualitas. Jika sudah punya sistem usaha bagus, maka 24 jam tidak dijaga pun akan selalu meningkat dengan sendirinya. Bila sudah punya aset, nilai aset semakin lama akan semakin tinggi tanpa dijaga 24 jam. (mar)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *