Mengembangkan Eekonomi Berbagi dalam Komunitas

pemukulan gendangDengan penuh syukur dan rasa bahagia, Kantor Pusat Credit Union Sauan Sibarrung (CUSS) diberkati dan diresmikan. Kegiatan ini dirangkaikan dengan rapat anggota tahunan (RAT) CUSS tahun buku 2015 sehingga berlangsung selama tiga hari. Sebuah peristiwa bukan hanya mensyukuri selesainya pembangunan gedung kantor, tetapi lebih dari itu, peristiwa penting ini menandai perjuangan seluruh anggota dan aktivis menghadirkan Gerakan Ekonomi Berbagi dalam Komunitas. Betapa tidak, gerakan pemberdayaan yang dimulai pada 7 Desember 2006, di Paroki Makale, Tana Toraja, telah menjadi simpul pemersatu aktivis dan relawan penggerak komunitas dan kelompok-kelompok usaha produktif di tengah masyarakat Toraja, Luwu, dan Pare-Pare. Gerakan yang semakin luas dan mendalam ini, telah diikuti oleh 30.901 anggota, dan dalam kebersamaan, telah menghimpun dan memiliki aset 353 miliar rupiah lebih.

CU Sauan Sibarrung hadir di Bumi Lakipadada 9 (sembilan) tahun silam. Gereja Lokal Keuskupan Agung Makassar, waktu itu, dengan segera mengambil keputusan yang strategis, untuk berpartisipasi mengurai krisis multidimensi yang melanda bangsa. Tercetuslah ide cemerlang, dengan fasilitasi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Makassar yang dimotori P. Fredy Rante Taruk, Pr, mengadakan sosialisasi di beberapa Kevikepan, untuk mendirikan sebuah lembaga keuangan mikro yang berpihak pada orang kecil. Akhirnya, berdirilah CU Sauan Sibarrung dengan misi utama memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat kecil, miskin dan terpinggirkan, yang hingga sekarang melayani anggota lewat 12 Kantor Tempat Pelayanan di 3 wilayah (Toraja, Luwu, dan Pare-Pare) Sulawesi Selatan

Bukan soal Gedung yang Megah

Gedung kantor tampak depanPembangunan Kantor Pusat CU Sauan Sibarrung, yang berlokasi di Mandetek, Kelurahan Tambunan, Kecamatan Makale Utara, Tana Toraja, dimulai pada pertengahan tahun 2014. Dengan mengusung konsep filosofi budaya Toraja dan aspek fungsionalitas yang mendukung kegiatan CU, dibangunlah gedung berlantai 4 (empat) bekerja sama dengan rekanan PT Karya Perdana, Jakarta. Sepintas gedung ini memancarkan kemegahan, kokoh, indah, dan memesona. Namun jika dirunut dari awal perencanaan, Kantor Pusat CU Sauan Sibarrung mengakomodir seluruh aspek dan unsur yang mendukung aktivitas gerakan pemberdayaan.

Lantai I difungsikan untuk tempat penginapan peserta pelatihan atau lokakarya yang selama ini intens diadakan oleh CU. Penginapan ini mampu menampung sekitar 60 peserta. Lantai II adalah tempat pelayanan bagi anggota TP Makale, lantai III adalah kantor pusat, dan lantai IV adalah aula yang mampu menampung 500-an orang. Ruang pengurus-Pengawas yang representatif serta ruang diklat-pertemuan (kecil) bagi 50-an orang ada di lantai III. Sedang di lantai II, secara khusus, ada ruang pamer hasil/produk kelompok binaan atau usaha produktif anggota. Juga ada ruang promosi dan pemasaran (Business Center) sebagai pusat informasi dan komunikasi anggota memasarkan hasil-hasil produk mereka. Singkatnya, kantor ini telah siap menjadi sentral pemberdayaan: pelayanan maksimal dari pengurus dan pengelola kepada anggota, pusat diklat dan pertemuan-pertemuan, pusat informasi pasar hasil produksi anggota, serta tempat praktik lapangan dan bengkel petani (yang masih akan dibangun di bagian selatan gedung). Jika selama ini CUSS menyewa gedung atau hotel untuk pertemuan dan diklat, bagi kegiatan internal maupun kegiatan bersama mitra dari luar Toraja, maka di awal tahun 2016 ini, anggota CUSS dapat beraktivitas dengan lapang di gedung kantor baru.

Jelaslah kini bahwa  bukan soal gedung yang megah dan wah, sebagaimana sepintas ketika pertama kali memandangnya, tetapi soal komitmen seluruh aktivis dan anggota untuk menjadikannya sebagai pusat pemberdayaan demi kemajuan anggota dan masyarakat luas. Komitmen tersebut sebagian telah mulai dipupuk lewat pendampingan kelompok-kelompok binaan dan usaha produktif pribadi anggota. Sekarang sudah lebih dari 1.993 orang anggota tergabung dalam 266 kelompok binaan per Desember 2015 dan ribuan anggota lain mengembangkan usaha produktif secara pribadi. Lompatan yang berani, dari Lembaga Keuangan ke Lembaga Pemberdayaan, sejak tahun 2009 lalu, menjadi bagian yang krusial dari proses pemberdayaan CUSS.

Slogan bahwa CUSS bukan sekadar Koperasi Simpan Pinjam, yang hanya mengurus permodalan dan pencairan pinjaman bagi anggota, sudah terbukti.  Bahwa CUSS bukan lembaga statis pengucur kredit, tetapi gerakan merubah pola pikir dan perilaku, telah menjadi cetak biru dan dikenal luas oleh masyarakat. CUSS membuka wawasan, mengubah perilaku, mendampingi dalam berproduksi, dan (telah siap) membantu pemasaran hasil karya anggota. Dari hulu hingga ke hilir, dari pembenahan software hingga hardware. Kehadiran gedung Kantor Pusat CUSS tentunya akan semakin menunjang proses pemberdayaan ini menuju transformasi sosial yang diinginkan bersama.

Syukur Tiga Hari

CUSS adalah sebuah keluarga besar, yang berjuang untuk kemajuan bersama. Itu sebabnya, Kantor CUSS diartikan juga sebagai Tongkonan (rumah bersama) keluarga besar anggota CUSS, sebagai pusat berkumpulnya anggota untuk duduk membicarakan dan merencanakan segala sesuatu untuk kebaikan bersama. Kantor Pusat CUSS tidak dipandang sebagai bangunan fisik semata, melainkan sebagai simbol dan sarana pemersatu dan pembinaan bagi keluarga besar CUSS. Untuk itulah, keluarga besar CUSS selama tiga hari, berkumpul dan bersyukur atas peristiwa penting ini.

Syukur Tiga Hari, dalam budaya Toraja adalah pengungkapan rasa syukur tertinggi atas berkat dari Allah bagi manusia, melalui berbagai ritus adat. Di antaranya adalah Umpaben dan Bate, dan Massomba Tedong. Dua peristiwa yang sarat makna ini dilakukan pada hari I dan hari II. Umpaben dan Bate, adalah ritual pendirian Bate (rangkaian bambu dengan hiasan – asesoris Toraja), sebuah simbol penegakan hubungan yang kokoh dengan Allah Sang Penguasa, Pencipta, dan pemilik segala-galanya. Di sinilah simbol pengakuan orang Toraja bahwa Allah adalah asal dan tempat kembalinya segala sesuatu di jagat raya ini. Sementara, ritual Massomba Tedong, yaitu upacara pemujaan kepada Puang Matua (Allah) sebagai pemujaan yang tinggi dengan kurban kerbau, babi, dan ayam. Pada upacara ini nama Puang Matua yang selalu jadi pokok ungkapan dalam pembacaan mantra dan doa. Kerbau yang dikurbankan pada upacara ini adalah kerbau hitam (Tedong Pudu’). Sebelum kerbau ini dikurbankan dengan menggunakan tombak (dirok), terlebih dulu kerbau ini disurak (didoakan dalam rangkaian hymne) yang isinya menceritakan kemuliaan Puang Matua dan segala ciptaannya serta kehidupan manusia dan mengutuk pula perbuatan yang tidak baik dari manusia yang disyaratkan dengan pernyataan melalui kurban kerbau tersebut.

Di hari I dan II, dalam rangkaian syukur itu, juga dilaksanakan kegiatan Rapat Anggota Tahunan TB. 2015, Pemilihan Pengurus-Pengawas CUSS TB. 2016-2018, Festival Budaya oleh para anggota dari 12 Kantor Tempat Pelayanan, serta Tarian syukur Ma’Bugi selama dua malam. Semuanya berujung pada ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan. Secara Khusus, pelaksanaan RAT TB. 2015 dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Selatan, Drs. Syamsu Alam Ibrahim, M.Si. Sebelumnya, ada sambutan dari Ketua BKCU Kalimantan Bpk. Sunardi, S.Pd, dan Ketua Dekopinwil Sulawesi Selatan, Bpk. Rahman Halid. RAT TB. 2015 juga telah memilih 7 Pengurus baru dan 3 Pengawas.

Pada hari III, puncak dari seluruh ungkapan syukur tiga hari diadakan pada tanggal 27 Januari. Diawali dengan misa syukur yang dipimpin langsung oleh Mgr. Dr. John Liku-Ada’, Pr, didampingi oleh Vikep Toraja, P. Nathan Runtung, Pr, Vikep Sulbar, Oct. Sam Bureny, Pr, Vikep Luwu, Martinus Pasomba, Pr, dan Ketua PSE, P. Fredy Rante Taruk, Pr, yang juga adalah ketua Pengurus CUSS. Dan ikut mempersembahkan misa ada sekitar 30 imam KAMS dan imam dari luar keuskupan. Misa dimulai pada pukul 08.30 WITA, bertempat di halaman Kantor Pusat, diikuti oleh ribuan anggota dan tamu yang mulai berdatangan. Koor Cantemus Paroki Makale memeriahkan misa ini dengan lagu-lagu merdu.

Perayaan ekaristi ini adalah bentuk syukur keluarga besar CUSS atas berkat dan bimbingan dari Allah, terutama atas selesainya pembangunan kantor pusat. Dalam kotbahnya, Mgr. John Liku-Ada’ menegaskan pentingnya kebersamaan dalam memajukan hidup, menghindari sifat individualis. Kerja sama untuk kebaikan banyak orang tidak perlu dengan persaingan dan permusuhan. Ekonomi Kapitalis harus ditinggalkan. Bapak Uskup mengurai mujizat penggandaan roti dan ikan oleh Yesus berdasarkan potensi yang dimiliki, dari seorang anak kecil, sebuah contoh berbagi. Berbagi dengan sesama, terutama dengan yang kecil, adalah tugas semua orang, dan CUSS telah mengambil bagian di dalamnya. Ekonomi Berbagi perlu digiatkan. Yang kaya harus membantu yang kecil dan miskin.

Pesta Kegembiraan

Setelah misa syukur, tibalah prosesi perarakan lettoan, miniatur rumah Toraja yang dihiasi dengan pernak-pernik dan hasil bumi, tetapi terutama adalah babi. Lettoan adalah lambang persaudaraan, bagian dari keluarga besar. Ada 12 lettoan dari 12 kantor TP CUSS, ditambah dengan lettoan dari PSE Keuskupan Agung Makasar, BKCU Kalimantan,  Paroki  Makale, dan CU Mekar Kasih Makassar. Masing-masing lettoan diarak dengan penuh kegembiraan oleh beberapa orang, dan diikuti oleh rombongan anggota dari masing-masing Tempat Pelayanan. Raut sukacita, di bawah terik matahari, memancar dari wajah seluruh anggota yang berarak. Sementara perarakan, kelompok kesenian lainnya melantunkan hymne syukur di depan pelataran kantor: Ma’nani’, ma’bugi’, manimbong, dan ma’lambuk secara bergantian. Suasana sukacita benar-benar melingkupi seluruh anggota dan tamu, yang mencapai 3.000-an orang. Semuanya larut dalam kegembiraan bersama!

Setelah perarakan lettoan usai, dan seluruh peserta telah menempati tenda-tenda yang telah disediakan, Ketua CUSS kemudian memberi sambutan. P. Fredy Rante Taruk, Pr, mengawali sambutan dengan kisah bagaimana Gereja Katolik melalui PSE memulai ide pendirian CUSS. Pemberdayaan kepada masyarakat kecil selalu berdasar pada prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja, di antaranya adalah solidaritas, subsidiaritas, keadilan, perilaku ramah lingkungan, dan semangat berbagi. Terutama adalah semangat berbagi, dalam penekanan P. Fredy, ditegaskan bahwa gerakan credit union jangan justru menciptakan kesenjangan kaya-miskin, yang sudah sejak dahulu ditentang oleh gereja.

Bahwa credit union harus bisa menjembatani masalah ini, dan mengembalikan semangat luhur credit union, yakni bersama-sama mengangkat mereka yang lemah dari ketidakberdayaan. Semangat ini harus terus dijaga dan dipupuk, mengingat di tengah masyarakat telah menjadi hal biasa untuk ‘sikut-menyikut’, menyingkirkan yang lain, untuk mencapai kesuksesan. Ke depan, CUSS akan terus berfokus pada pengembangan masyarakat dalam komunitas-komunitas anggota, mengembangkan usaha produktif, mendampingi anggota lewat pelatihan-pelatihan teknis, mengembangkan SDM para aktivis, dan membawa CUSS lebih maju, dengan tata kelola yang profesional.

Sementara itu, Ketua BKCU Kalimantan, Sunardi, S.Pd., dalam sambutannya, menyampaikan menjelaskan bahwa seluruh CU yang tergabung dalam Puskopdit BKCU Kalimantan, sebanyak 43 CU primer lainnya, turut bergembira atas kemajuan yang diraih oleh CUSS. Bahwa dalam waktu singkat, CUSS telah mampu berkembang dan memberdayakan masyarakat sekitar, adalah juga cita-cita dan misi BKCU Kalimantan. Ucapan selamat ini diikuti dengan harapan yang besar pula, bahwa CUSS akan semakin berkembang, terutama memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini. CUSS diharapkan menjadi salah satu CU yang siap mengikuti akreditasi CU tingkat Asia tahun 2016 ini.

Ketua Induk Koperasi Kredit Indonesia (Inkopdit) Romanus Woga, yang juga Wakil Presiden ACCU, yang berkantor di Bangkok, Thailand, hadir dan memberi dukungan penuh bagi gerakan CU di Toraja dan sekitarnya. Dalam sambutannya, menegaskan pentingnya kesatuan dalam gerakan ini. Misa’ Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate’, demikian peribahasa Toraja yang dikutip Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh. Dengan semangat berapi-api memberi semangat kepada seluruh peserta, bahwa Koperasi Kredit di Indonesia tetap berjuang untuk memajukan masyarakat.

Mgr. John, dalam sambutan berikutnya, mengapresiasi gerakan CU ini di wilayah Gereja Lokal Keuskupan Agung Makassar. Tekanan yang menjadi inti sambutan adalah CU harus mampu menyentuh basis keluarga, sebagaimana yang selalu diserukan oleh Paus Fransiskus I. Keluarga dalam kaca mata ilmu sosiologi adalah sel inti dari sebuah masyarakat. Dan jika sel ini rusak, masyarakat juga akan berantakan. Dalam kaca mata gereja, keluarga adalah inti dan pusat pembinaan bagi gereja. Jika keluarga kuat dalam iman, dan pondasi ekonomi rumah tangga kokoh, maka gereja juga akan kuat.

Drs. H. Jufri Rahman, M.Si., Pj. Bupati Tana Toraja, merasa bangga sekaligus terpesona dengan gedung baru.  “Tidak banyak koperasi di Sulawesi Selatan yang memiliki gedung semegah ini”, lanjut beliau. CU Sauan Sibarrung diharapkan menularkan ilmu mengembangkan koperasi ke daerah lain di Sulawesi Selatan. Dengan bergurau dia mengisahkan bahwa banyak koperasi yang muncul, tetapi tidak banyak yang berkembang dengan baik, atau malah gulung tikar. “Mungkin bagus kalau koperasi dipimpin oleh seorang Pastor, karena pengurus dan pengelolanya akan bekerja dengan hati dan melayani”, tambahnya.

Bersama dengan Mgr. John, Bupati Tana Toraja kemudian menuju pintu utama gedung didampingi oleh Ketua Inkopdit, Ketua BKCUK, Ketua DPRD Tana Toraja dan Toraja Utara, Muspida Tana Toraja, Vikep Toraja, Kepala Dinas Koperasi Tana Toraja dan tamu lainnya. Mgr. John bersama Bupati menandatangani prasasti dan menggunting pita, kemudian meninjau ruangan-ruangan. Setelah itu membuka selubung papan nama Sauan Sibarrung yang ada di depan gedung.

Akhirnya, kegembiraan siang itu ditutup dengan santap siang bersama, ma’lalan ada’, manglelang lettoan, dan ma’bugi’. Selanjutnya, para anggota secara bergantian meninjau gedung baru dan berbelanja di show room hasil produksi para anggota. Semua anggota merasa terlibat, merasa gembira dan bersemangat mengembangkan CU Sauan Sibarrung lebih maju lagi sebagai “lembaga pemberdayaan hidup masyarakat Toraja yang tangguh dan terpercaya demi kesejahteraan anggota”.

(Anton Pararak)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *