Mengembangkan Wisata Religi Berbasis Masjid

Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12. Namun sebenarnya Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Ummayyah di Asia Barat sejak abad 7. Datangnya Islam ke Nusantara membawa warna budaya tersendiri, termasuk arsitektur bangunan. Sebagai tempat beribadah kaum muslim, masjid di Indonesia memiliki corak yang beragam, tergantung daerah dibangun dan pendirinya.

Jakarta Islamic Centre (JIC) mengadakan studi pengelolaan wisata religi berbasis masjid sejak Oktober hingga November 2017. Terkait dengan  studi tersebut, JIC menggelar diskusi kelompok terarah – focus group discuccion (FGD). Kegiatannya dilaksanakan di ruang Audiovisual Mesjid JIC, Tugu, Koja, Jakarta Utara dan dibuka oleh Wakil Kepala Badan Manajemen JIC, Khudrin Hasbullah.

“FGD studi pengelolaan wisata religi berbasis masjid sangat strategis bagi JIC untuk memainkan peran sebagai perekat dan penghubung masjid-masjid yang ada di Jakarta. Khususnya masjid-masjid punya sejarah, seperti Masjid Luar Batang, Masjid Si Pitung, Masjid Tambora, Masjid Al-Marzukiah, Masjid Istiqlal, Masjid Agung Sunda Kelapa, Masjid Al Makmur Raden Saleh, Masjid Al Makmur Tanah Abang, Masjid An-Nawier, dan sebagainya,” urai H. Fajar Sidik dari Da’i Centre dan Uje Centre DKI Jakarta.

Di lain pihak, Kepala Divisi Sosial Budaya JIC, H. Haerullah mengemukakan, kini wisata halal atau wisata Muslim mengalami perkembangan cukup pesat. Salah satu bagian dari wisata Muslim tersebut adalah wisata religi berbasis masjid. Melalui studi ini, H. Fajar Sidik dan H. Haerullah berharap terbangun kesadaran pengembangan dakwah Islam melalui wisata halal atau wisata religi berbasis masjid. Mereka juga berharap mendapatkan gambaran yang jelas langkah-langkah mengembangkan model wisata halal atau wisata religi berbasis masjid.

Dihubungi secara terpisah, Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) DKI Jakarta,  Drs. H.A. Nawawi, S.H., M.Si., mengemukakan, secara umum masjid-masjid yang ada di DKI Jakarta belum siap menyambut wisatawan Muslim. Namun, ada beberapa yang dinilai sudah siap, atau setidaknya sudah hampir memenuhi syarat untuk menyambut wisatawan Muslim. “Contohnya, Masjid Istiqlal, Masjid Pekojan, Masjid Daarut Tauhid Cipaku, Masjid Lautze, Masjid Luar Batang, Masjid At-Tien, Masjid Ramlie Musofa Sunter, dan Masjid Al-Azhar,” tuturnya.

Wakil Ketua Dewan Penasehat Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) yang yang juga Bendahara Umum Yayasan Pendidikan Putera Fatahillah, Jakarta Pusat, Dr. H. Bambang Kusumanto, M.Sc., mengemukakan, secara umum memang belum ada masjid di Jakarta yang 100% siap menyambut wisatawan Muslim. Namun, beberapa masjid sudah hampir memenuhi syarat untuk menyambut wisatawan Muslim.

  1. H. Bambang Kusumanto yang juga Ketua Yayasan Wakaf Pendidikan dan Masjid Al-Muflihun, Sunter, Jakarta Utara, mengemukakan beberpa hal yang perlu disiapkan oleh pengurus masjid agar masjid tersebut bisa mendukung pengembangan wisata religi berbasis masjid, antara lain petunjuk arah tour di masjid. Tempat transit bagi tamu non-Muslim untuk salin pakaian yang memenuhi syarat, dan petugas yang ramah. Terutama petugas sekuriti dan pemandu wisata.

“Selain itu, informasi berupa leaflet – buku kecil tentang masjid tersebut, diorama yang menceritakan sejarah dan perkembangan masjid minimal dalam dua bahasa. Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Siapkan pula video profil masjid untuk turis yang ingin mengetahui lebih lengkap mengenai masjid tersebut. Juga perlu disiapkan leaflet tentang Islam dan budaya Muslim Nusantara. Termasuk menyiapkan papan nama masjid maupun papan informasi di halaman masjid untuk keperluan berfoto,”urainya.

Hal lain yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah toliet yang bersih dan ketersediaan air untuk wudhu. Masjid juga perlu dilengkapi dengan perlengkapan salat (kain dan mukena) yang bersih dan harum. Juga perlu ada tempat penitipan sepatu yang selalu siap dengan petugas yang melayani. “Mengingat yang dibidik tidak hanya turis Nusantara, tetapi juga Muslim traveller dari mancanegara, karenanya perlu imam atau petugas yang mahir berkomunikasi dengan bahasa Inggris,” tegas para praktisi Muslim tersebut.

10 Masjid Tertua di Indonesia

  1. Masjid Saka Tunggal (1288 M)

Masjid Saka Tunggal terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon dibangun pada tahun 1288 M sebagaimana terukir di Guru Saka (Pilar Utama) masjid. Tapi dalam membuat masjid ini lebih jelas ditulis dalam buku-buku kiri oleh para pendiri masjid ini adalah Kyai Mustolih. Tapi buku-buku ini telah hilang bertahun-tahun yang lalu. Setiap tanggal 27 rajab diadakan ziarah di masjid dan membersihkan makam Kyai Jaro Mustolih. Masjid ini terletak ± 30 km dari kota Purwokerto. Disebut Saka Tunggal untuk membangun tiang yang digunakan untuk membentuk hanya satu tiang (tunggal). Menurut Sopani, salah satu pengurus masjid mengatakan bahwa pilar tunggal melambangkan bahwa ALLAH adalah hanya satu ALLAH SWT. Di beberapa tempat terdapat hutan pinus dan hutan lainnya dihuni oleh ratusan monyet jinak dan ramah, seperti di Sangeh, Bali.

  1. Masjid Wapauwe (1414 M)

Masjid ini masih terawat dengan baik. Bangunan aslinya juga menyimpan beberapa benda warisan seperti drum, tulisan tangan Al Quran, skala batu yang beratnya 2,5 kg, dan logam perhiasan. Jika drum atau bedug dipukul, maka suaranya akan terdengar sampai seluruh desa, mengundang orang untuk datang ke masjid. Kitab suci Al Quran tulisan tangan di masjid ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta.

  1. Masjid Ampel (1421 M)

Masjid Ampel adalah masjid kuno yang berada di bagian utara Kota Surabaya, Jawa Timur. Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel dan di dekatnya terdapat kompleks makam Sunan Ampel. Saat ini Masjid Ampel merupakan salah satu daerah tujuan wisata religi di Surabaya. Masjid ini dikelilingi oleh bangunan dengan arsitektur Tiongkok dan Arab. Di samping kiri halaman Masjid Ampel, terdapat sebuah sumur yang diyakini merupakan sumur yang bertuah, biasanya digunakan oleh mereka yang meyakininya untuk penguat janji atau sumpah.

  1. Masjid Agung Demak (1474 M)

Masjid ini terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak, pada sekitar abad ke-15 Masehi.

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut Saka Guru. Tiang ini konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai ‘saka tatal’. Sedangkan bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut saka Majapahit.

Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

  1. Masjid Sultan Suriansyah (1526 M)

Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Tuan Guru (1526-1550), Raja Banjar yang pertama masuk Islam.

Masjid ini terletak di utara Kecamatan Kesehatan, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, daerah yang dikenal sebagai Banjar Lama yang merupakan ibukota Kesultanan Banjar untuk pertama kalinya.

Arsitektur tahap konstruksi dan atap tumpang tindih, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Gaya masjid tradisional di Banjar mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan utama. Masjid ini dibangun di tepi sungai di Kecamatan Kesehatan.

6. Masijd Menara Kudus (1549 M)

Mesjid Menara Kudus (disebut juga sebagai Mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al Manar) adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 masehi atau tahun 956 hijriah dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu.

7. Masjid Agung Banten (1552-1570 M)

Masjid Agung Banten termasuk masjid tua yang penuh nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di pulau Jawa. Masjid Agung Banten terletak di kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570 M), sultan pertama Kesultanan Demak.Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati.

Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda Cina. Ini adalah karya arsitek Cina yang bernama Tjek Nan Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama. Di masjid ini juga terdapat kompleks makam sultan-sultan Banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin.

Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti masjid agung. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel. Biasanya, acara-acara seperti rapat dan kajian Islami dilakukan di sini.

Menara yang menjadi ciri khas sebuah masjid juga dimiliki Masjid Agung Banten. Terletak di sebelah timur masjid, menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara ini, pengunjung dapat melihat pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km. Dahulu selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara yang juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.

  1. Masjid Mantingan (1559 M)

Masjid Mantingan adalah masjid kuno di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah. Masjid ini didirikan di Kesultanan Demak pada tahun 1559 M. Ubin untuk lantainya didatangkan dari Makau, Cina. Termasuk bubungan atap bangunan gaya Cina. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam salat dihiasi dengan relief persegi bergambar margasatwa dan penari-penari diukir di batu kuning tua. Pengawasan pekerjaan konstruksi masjid ini tak lain adalah Babah Liem Mo Han.

Di dalam kompleks masjid terdapat makam Sultan Hadlirin, suami dari Kanjeng Ratu Kalinyamat dan adik ipar Sultan Trenggono, penguasa terakhir Demak. Selain itu ada juga makam Waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut sebagai nama lain Syekh Siti Jenar.

9. Masjid Al-Hilal Katanga (1603 M)

Masjid ini dibangun pada tahun 1603 masehi pada masa pemerintahan Raja Gowa-24, Aku Manga’ragi Daeng-Manrabbiakaraeng Lakiung atau Sultan Alauddin. Kemudian pada tahun 1605 masjid ini berganti nama Masjid Katanga. Masjid Al-Hilal Katanga berukuran 14,1 x 14,4 meter dan sebuah bangunan tambahan 4,1 x 14,4 meter. Tinggi bangunan 11,9 meter dan tebal dinding 90 sentimeter.

  1. Masjid Tua Palopo (1604 M)

Madjid Tua Palopo, didirikan oleh Raja Luwu bernama Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 masehi. Masjid yang memiliki luas 15 m2 ini diberi nama Orang Tua, karena usia yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu memiliki dua arti, yaitu: Pertama, makanan yang terbuat dari campuran beras ketan dan air gula. Kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna memiliki hubungan dengan proses pembangunan Masjid Tua Palopo ini.

(sutarwadi k.)

This entry was posted in Layar Budaya, Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *