Menghadapi Krisis Ekonomi Global 2020 Pemerintah Menyiapkan Jurus Khusus

Krisis global diperkirakan akan berlangsung panjang. Sehingga napas bisnis kita minimal harus tahan sampai 2021. Bisnis di Indonesia awalnya yang terpukul adalah industri yang bergerak di bidang bahan baku – komoditi dan produk setengah jadi yang biasa diekspor ke China.

Di kawasan Asean saat ini yang paling parah adalah Singapura karena basis ekonominya adalah trading. Growth – pertumbuhan di Singapur hanya 0,1% sedangkan Indonesia masih diangka 5,02%. Negara Asia yang paling maju adalah Vietnam karena bisa ambil kesempatan. Namun sekarang Vietnam juga mulai kekurangan tenaga kerja sehingga ini merupakan kesempatan Indonesia menarik investor dari China.

Ekonomi Amerika Serikat (AS) sekarang sedang bagus. Pengangguran terendah dalam 10 tahun ini dan Amerika kira-kira hanya akan turunkan bunga FED sebesar 0,25% saja dalam setahun. Tetapi kondisi ini juga akan tergantung pemilihan presiden AS tahun 2020 mendatang.

Lembaga Moneter Internasional – International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di 2019, menjadi 3%, dari sebelumnya 3,2%. Angka ini merupakan terendah sejak krisis keuangan global terjadi di 2008 lalu. Perang dagang yang terjadi menimbulkan ketidakpastian dan menimbulkan tekanan pada perekonomian.

Namun angka pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019, masih sama dengan proyeksi di Juli 2019 lalu, tetap di level 5%. Sebelumnya, data April 2019, IMF sempat memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% namun direvisi April lalu. Indeks harga konsumen (CPI) juga tetap 3,2%. Sementara pertumbuhan ekonomi 2020 juga tetap sama dengan proyeksi Juli 5,1%. Angka ini, sama seperti proyeksi Bank Dunia. Hingga akhir 2019, ekonomi Indonesia akan tetap di 5% sementara tahun 2020 akan tumbuh menjadi 5,1%.

“Pertumbuhan investasi melambat dibanding tahun 2018 yang menjadi tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir,” tulis Bank Dunia dalam laporan ‘Weathering Growing Risk East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober, pekan lalu. Defisit transaksi berjalan tetap besar karena pertumbuhan ekspor melambat. Meski permintaan domestik kuat, ketegangan perdagangan internasional dan volatilitas keuangan global bakal membawa risiko besar bagi Indonesia.

Dalam opini berjudul The Makings of a 2020 Recession and Financial Crisis Nouriel Roubini dan Brunello Rosa mengungkapkan ada beberapa alasan terjadinya krisis tahun 2020 atau dua tahun lagi. Krisis ini bisa terjadi menyusul ekspansi global yang masih berlanjut hingga tahun depan. AS masih memiliki defisit fiskal besar. China masih memegang kebijakan fiskal longgar dan Eropa masih berada dalam masa pemulihan setelah krisis.

Kebijakan stimulus fiskal yang saat ini mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan Amerika Serikat (AS) di atas 2% kemungkinan tidak akan berlanjut. Pada tahun 2020, stimulus akan berakhir, dan hambatan fiskal akan menurunkan pertumbuhan dari 3% menjadi sedikit di bawah 2%.  Karena waktu penarikan stimulus tidak tepat, ekonomi AS saat ini sudah terlalu panas dan inflasi melaju di atas target. Bank sentral AS Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga Fed Fund Rate dari saat ini 2% menjadi setidaknya 3,5% pada tahun 2020.

Suku bunga ini akan mendorong yield utang jangka pendek dan jangka panjang serta nilai tukar dollar AS.  Sementara, inflasi juga terus meningkat di negara-negara dengan ekonomi besar lainnya. Kenaikan harga minyak akan menambah tekanan inflasi. Hal ini menyebabkan bank-bank sentral negara maju akan mengikuti The Fed untuk normalisasi kebijakan ekonomi. Normalisasi suku bunga akan mengurangi likuiditas global dan menyebabkan suku bunga di pasar lebih tinggi.

Perselisihan perdagangan antara pemerintahan Donald Trump dengan China, Eropa, Meksiko, Kanada dan negara-negara lain hampir pasti akan makin panas. Hal ini menimbulkan perlambatan pertumbuhan dan inflasi yang lebih tinggi. Kebijakan AS lain akan menambah tekanan stagflasi dan memicu The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi lagi. Pemerintah AS membatasi aliran investasi masuk dan keluar serta transfer teknologi yang akan mengganggu rantai pasokan. 

Pemerintah AS pun membatasi imigran yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah populasi AS yang menua. Kebijakan AS pun menyebabkan investasi hijau menciut dan pemerintah tidak memiliki kebijakan untuk mengatasi masalah kemacetan atawa bottlenecking pasokan. Pertumbuhan di negara-negara lain akan melambat sehingga ada potensi pembalasan terhadap kebijakan proteksionisme AS. China harus memperlambat pertumbuhan untuk mengatasi kelebihan kapasitas dan leverage yang berlebih.

Pemerintah menyatakan telah menyiapkan jurus khusus untuk menghadapi krisis ekonomi global tahun 2020. Indonesia harus dapat memanfaatkan pasar dalam negeri. Pasar domestik adalah garda terdepan – penyelamat perekonomian Indonesia. Karena itu pemerintah akan terus memantau perkembangan dari pasar domestik.

Salah satu safeguard – pengamannya adalah domestic market – pasar dalam negeri. Pasar dalam negeri jadi perhatian karena akan memberikan dampak besar. Untuk mengantisipasi resesi ekonomi global, bidang perindustrian perlu mengurangi penggunaan bahan impor, sekaligus untuk mendorong penggunaan bahan baku produk nasional. Substitusi impor itu perlu sekali. Impor harus produktif.

Kalau yang non-produktif, yang tidak ada nilai tambahnya, di dalam negeri sudah bisa disediakan – tersedia, harus dievaluasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor barang konsumsi selama Januari – September turun 8,77% secara tahunan menjadi US$11,6 miliar. Sedangkan impor bahan baku – penolong turun 10,22% menjadi US$93,4 miliar.

Pada tahun lalu (2018), impor konsumsi naik 22,03% menjadi U$17,1 miliar dari realisasi tahun sebelumnya senilai US$ 14,07 miliar. Di samping itu, impor bahan baku – penolong naik 20,06% menjadi US$141,4 miliar. Untuk  menghadapi kemungkinan resesi global, sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan koperasi-lah yang mampu menjadi penyangga sistem perekonomian nasional.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo – K.H Ma’ruf Amin meyakini jika UMKM dilibatkan, akan dapat mendorong investasi dan terciptanya lapangan kerja. UMKM memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 60% serta serapan tenaga kerja sebanyak 99,9%. Angka tersebut lebih besar dibandingkan kontribusi perusahaan besar. UMKM merupakan pelaku terbesar dalam kegiatan ekonomi nasional. Jika UMKM dapat meningkatkan skala usahanya dapat dibayangkan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.

Peningkatan skala usaha UMKM tidak hanya sebatas peningkatan omzet akan tetapi juga harus didorong agar berorientasi ekspor dan memenuhi kebutuhan dalam negeri yang selama ini masih disuplai dari impor. Dengan begitu UMKM tidak hanya menjadi roda perekonomian tapi juga dapat memberikan nilai tambah sebagai penghasil devisa. Dengan semakin besarnya skala usaha UMKM, akan berdampak pada penciptaan lapangan pekerjaan. Namun, penciptaan lapangan pekerjaan di sektor ini perlu disempurnakan agar sama berdayanya dengan pekerja di perusahaan besar.

Untuk bisa mewujudkan kondisi ini, UMKM harus diberi ruang. Apa yang sekiranya cocok untuk digarap oleh UMKM, perusahaan besar tidak boleh menguasainya, perusahaan besar didorong untuk berlaga di skala internasional. Jepang mendorong kontribusi UMKM, hasilnya mencapai 50% terhadap PDB dan 54% terhadap ekspor nasional.

Banyak UMKM bermunculan juga memicu pertanyaan, sektor mana yang akan naik daun. Sebenarnya, kita bisa melihat UMKM dari value creation, yakni seberapa besar UMKM tersebut akan create value untuk customer. UMKM yang hebat adalah saat mereka memiliki value creation, dan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Keberadaan teknologi memungkinkan percepatan inovasi dan kreativitas dari setiap UMKM. UMKM yang akan bertahan adalah mereka yang agile yet efficient.

Persoalannya, tidak semua UMKM siap dengan digital. Peran pemerintah, turut serta memperbaiki kreasinya terlebih dahulu dengan mengadakan workshop dan pendampingan selama 6 hingga 2 tahun untuk mengubah mindset dan melihat kualitas produksi, packaging, hingga story telling dari sebuah produk. Keberadaan story telling tanpa disadari akan meningkatkan nilai jual dari produk itu sendiri. Kita percaya bahwa selalu ada story behind di setiap produk yang meningkatkan value.

Pemerintah telah membangun ekosistem dan melihat sebuah gap, di mana beberapa orang belum siap dengan hal yang berbau digital. Dari sinilah, pemerintah berusaha untuk memberi satu solusi, yaitu drop shipping. Pemerintah memiliki program perbaikan desain; Inovatif dan Kreatif Melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON). Program ini mendatangkan desainer-desainer ke daerah agar produk yang dibuat sesuai dengan target pasar. 

Banyak pelaku UMKM kerap menghadapi masalah, di mana mereka sudah membuat produk, tapi belum tahu manakah hal yang harus dilakukan terlebih dahulu atau bisa dijalankan secara bersamaan. Sebenarnya kita dapat melihat case by case. Para pelaku UMKM harus fokus dan tidak terburu-buru untuk melakukan growing, tapi lebih fokus pada problem solving dengan apa yang ingin dilakukan. Saat sudah menemukan pattern dan mulai berkembang, selanjutnya tinggal melakukan hal lain untuk pertumbuhan dan keberkelanjutan.

Banyak pelaku UMKM kerap menghadapi masalah, di mana mereka sudah membuat produk, tapi belum tahu manakah hal yang harus dilakukan terlebih dahulu atau bisa dijalankan secara bersamaan. Sebenarnya kita dapat melihat case by case. Para pelaku UMKM harus fokus dan tidak terburu-buru untuk melakukan growing, tapi lebih fokus pada problem solving dengan apa yang ingin dilakukan. Saat sudah menemukan pattern dan mulai berkembang, selanjutnya tinggal melakukan hal lain untuk pertumbuhan dan keberkelanjutan.

Zaman serba digital memunculkan pertanyaan, apa strategi digital marketing paling tepat, dan bagaimana agar budget tidak terbuang sia-sia. Saat ini banyak yang memanfaatkan digital marketing untuk mendapatkan audiens lebih banyak. Kita bisa melihat karakter bisnisnya apa, produk atau service-nya cocok di mana. Setelah melihat fokusnya di mana, dari situ bisa mulai mengimplementasikan marketingnya. Strategi marketing terbaik tentu yang fundamentally kuat. Siapa dan dari mana segmentasinya sehingga pelaku UMKM bisa menentukan. Banyaknya platform yang tersedia memberi pilihan kepada para pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya.

Banyak orang berpikir, modal adalah satu-satunya yang menjadi penghalang. Hal tersebut tidak benar. Faktanya, kapabilitas sumber daya manusia (SDM) adalah hal utama yang perlu diperhatikan. Keberadaan produk digital saat ini dapat meningkatkan kapabilitas menjadi lebih mudah. Fokus utamanya meningkatkan capability sehingga output dari kegiatan bisnis dapat dikembangkan. Dengan demikian, tidak hanya UMKM yang dapat menghasilkan lebih banyak keuntungan, tapi perusahaan yang mendukung juga dapat melakukannya.

Agar UMKM menjadi tulang punggung perekonomian nasional dibutuhkan regional growth strategy (RGS) – strategi pengembangan industri sesuai karakteristik masing-masing daerah. Hal ini disebabkan persebaran UMKM masih lebih banyak di daerah dibandingkan kota-kota besar. Kebijakannya harus mempertimbangkan bahwa setiap daerah memiliki kearifan yang berbeda-beda, baik dari segi potensi ekonomi, sosial, hingga kebudayaan, dan itu semua harus disusun dalam upaya mendorong kenaikan kelas UMKM. Salah satu kebijakan dalam RGS, mendorong ekspor. Beberapa daerah memiliki potensi komoditas ekspor yang belum terkelola dengan baik dan mayoritas di ekspor dalam bentuk mentah.

Indonesia sangat kaya dengan hasil alamnya, begitu pun dengan komoditas. Pertumbuhan ekonomi provinsi di Indonesia bisa meningkat apabila kebijakan yang disusun sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Dari beberapa kajian yang dilakukan oleh Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) ditemukan komoditas yang memiliki potensi besar untuk diekspor. Di Aceh, komoditas unggulannya yakni kopi, teh rempah, bahan kimia anorganik, dan bahan bakar mineral. Masing-masing komoditas tersebut memberikan pangsa terhadap ekspor wilayah sebesar 44,5%, 23,4%, dan 16,7%.

Lalu di Kalimantan Tengah, bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati, dan karet serta barang dari karet menjadi komoditas yang memiliki potensi besar untuk diekspor. Adapun kontribusi terhadap ekspor wilayah masing-masing sebesar 56,59%, 16,45%, dan 10,49%. Sementara itu di Papua, komoditas yang dapat didorong ekspornya yakni bijih tembaga dan konsentrat serta kayu dan barang dari kayu dengan pangsa terhadap ekspor wilayah masing-masing sebesar 93,25% dan 4,95%.

Jadi, bisa dilihat apa saja yang menjadi komoditas unggulan di masing-masing daerah dan itu dapat dikembangkan oleh UMKM dan harus didukung oleh pemerintah. Kita harus bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam (SDA) menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pembangunan infrastruktur akan terus dilanjutkan untuk menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, yang mempermudah akses ke kawasan wisata, yang mendongkrak lapangan kerja baru, yang mengakselesari nilai tambah perekonomian rakyat. Segala bentuk kendala regulasi harus disederhanakan, harus dipotong, harus dipangkas.

Pemerintah juga harus mengajak DPR menerbitkan sedikitnya 2 UU besar, yaitu UU Cipta Lapangan Kerja, dan UU Pemberdayaan UMKM. Masing-masing UU itu akan menjadi omnibus law, yaitu suatu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU yang menghambat pencipaan lapangan kerja langsung direvisi sekaligus. Puluhan UU yang menghambat pengembangan UMKM juga akan langsung direvisi. Penyederhaan birokrasi harus dilakukan besar-besar, prosedur panjang harus dipotong dan investasi untuk menciptakan lapangan kerja harus diprioritaskan.

Dunia mengakui bahwa perekonomian Indonesia mengalami suatu kemajuan yang signifikan. Bahkan diprediksi, Indonesia akan menjadi negara perekonomannya terbesar ke-4 di dunia pada 2050, melonjak dari posisi ke-8 pada 2016. Sebelum pada posisi itu, Indonesia akan berada pada posisi ke-5 pada 2030. Prediksi itu ditulis oleh satu perusahaan konsultan terkemuka dunia, Price Waterhouse Coopers (PWC) yang antara lain mengutip data dari Dana Moneter International (IMF).

Menurut PWC, pada tahun 2016 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat sebesar US$ 3 triliun, dan akan melonjak menjadi US$ 5,4 triliun pada 2030 dan US$ 10,5 triliun pada 2050. Pada 2030 perekonomian Indonesia akan menggeser posisi Rusia dan Brazil, dan pada 2050 akan menggeser posisi Jepang. Tiga negara yang akan lebih besar dari Indonesia adalah China, India, dan Amerika Serikat.

Baik dari segi demokrasi dan ekonomi, bahkan dalam semua sektor, kemajuan Indonesia sangat ditentukan oleh kepemimpinan. Untuk menggapai kemajuan pesat dibutuhkan pemimpin yang hebat. Kepemimpinan itu dapat dilihat dalam perspektif neurosains yang disebut Neuroleadership.

Fakta ilmiah itu memberi harapan baru di seluruh lini hidup manusia, termasuk dalam dunia kepemimpinan. Jika satu individu bisa belajar dan berkembang tanpa batas, demikian pula sebuah komunitas, organisasi, atau bahkan suatu bangsa. Jika satu individu bisa berubah dan berkembang menjadi lebih baik, tak pelak lagi suatu komunitas, organisasi atau bangsa juga bisa berubah ke arah lebih baik. Persoalannya, apakah komunitas – organisasi menyadari kemungkinan itu, dan apakah mereka tahu kemana perkembangan akan diarahkan.

Seorang leader mestinya menyadari potensi perubahan dan perkembangan, tetapi di sisi lain dia harus mampu menyadarkan seluruh pihak dalam komunitas atau organisasinya, baik tentang potensi maupun arah perkembangan. Dari sinilah muncul imperative besar; ayo berkembang, ayo bertumbuh, ayo maju menuju sasaran.

Banyak leader kemudian semacam mantra baru, untuk bisa mengakselerasi perubahan dan perkembangan, semua pihak perlu memiliki pola pikir bertumbuh. Semua orang perlu yakin bahwa mereka memiliki peluang tumbuh dan berkembang tanpa batas. Di sinilah seorang leader berhadapan dengan mentalitas pribadi-pribadi yang dipimpin. Mentalitas itu tercipta dari pengalaman, pendidikan, sejarah hidup, dan lingkungan.

Dalam realitas memang ada orang-orang yang memiliki mentalitas dan growth mindset – pola pikir bertumbuh. Mereka adalah orang-orang yang optimis melihat masa depan, karena yakin bahwa masa depan yang lebih baik bisa diperjuangkan bersama. Tetapi sebaliknya, ada juga orang yang “merasa sudah jadi.” Mereka selalu mengklaim “saya ya seperti ini.” Mereka tak mau berubah, dan selalu berkilah “saya punya prinsip.” Orang seperti ini cenderung tertutup terhadap aneka kemungkinan baru (fixed mindset).

Dalam diri setiap manausia terdapat baik kecenderungan untuk tak mau berubah maupun kecenderungan untuk berubah. Ini menyangkut baik sikap mental maupun cara berpikir. Tetapi pada saat yang sama kita menyadari bahwa mentalitas dan pola pikir bertumbuhlah yang akan membawa pada realitas baru yang kita impikan, yaitu realitas baru Indonesia maju. Di sanalah letak tugas seorang pemimpin. Dia harus mampu; Menyadarkan orang tentang perlunya hijrah dari fixed mindset menuju growth mindset, dan harus mampu memimpin hijrah itu sendiri.

Pada kesempatan pertama, bukan soal bagaimana seorang leader mengubah mereka yang dipimpin, melainkan mengubah dirinya sendiri. Seorang pemimpin harus berangkat dari kesadaran bahwa dia sendirilah yang harus lebih dulu melakukan hijrah atau transformasi. Dia harus lebih dulu bersikap kritis terhadap mentalitas dan pola pikirnya. Dia harus menyadari sejauh mana dia masih berpola pikir fixed, dan sejauh mana sudah berpola pikir growth. Dia juga harus mengenali diri sendiri, sejauh mana reptilian brain masih membelenggunya, dan sejauh mana hidupnya sudah dipimpin oleh kesadaran dan system nilai. (mar)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *