Menghijrahkan Pedagang dari Rentenir

Puluhan tahun, Mursida Rambe mendedikasikan hidupnya untuk membebaskan para pedagang kecil di Pasar Beringharjo, Daerah Istimewa Yogyakarta dari jeratan rentenir. Mbak Rambe, begitu dia disapa. Wanita kelahiran Pangkalan Brandan, 21 Oktober 1967 ini, boleh disebut Kartini masa kini bagi pedagang – usaha kecil dan menengah (UKM) di Yogyakarta.

Mulai misi memberantas rentenir tahun 1994, berbekal modal Rp1 juta dari Dompet Dhuafa Republika. Ia bersama Nazny Yenny dan Ninawati membuka kantor BMT Beringharjo di serambi Masjid Muttaqin. Berbekal keuletan dan kerja keras, Mursida Rambe berhasil menghijrahkan sebagian besar pedagang di Pasar Beringharjo dari praktik riba – jeratan rentenir.

Ibu 3 orang anak hasil pernikahannya dengan Jumirin, SEI, kini berhasil merekrut 3.900-an pedagang atau 65% dari 6.000-an pedagang di Pasar Beringharjo menjadi anggota BMT yang dipimpinnya. BMT Beringharjo menggunakan sistem bagi hasil sesuai prinsip ekonomi syari’ah. Alumnus Fakultas Dakwah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini menjelaskan, BMT Beringharjo yang dipimpinnya didirikan pada tahun 1994.

“Ketika itu, Dompet Dhuafa Republika menyelenggarakan pelatihan ekonomi syariah di Bogor, Jawa Barat selama 5 hari. Saya salah satu pesertanya. Setelah itu, kami direkomendasikan magang di BPRS Margirezeki Bahagia selama satu bulan. Kemudian, bersama 2 teman membuat proposal dan mengajukan kepada Dompet Dhuafa. Waktu itu jumlahnya Rp3 juta, tetapi yang disetujui hanya Rp1 juta. Nah, dari Rp1 juta itu kami mulai aksi. Uangnya tidak banyak. Tetapi semangatnya luar biasa,” urainya.

Setelah dapat modal, lalu mencari lokasi. Ternyata, untuk mengembangkan usaha ini tidak mudah. Mencari ke mana-mana, tetapi tidak dapat. “Akhirnya, Allah SWT memudahkan langkah kami. Secara kebetulan, ketemu dengan mantan guru saya di madrasah yang jadi pengurus takmir Masjid Muttaqin, Beringharjo. Kami diizinkan memakai serambi masjid karena tidak terpakai. Di serambi masjid itulah BMT Beringhajo mulai dirintis dengan serba terbatas. Kami diberi meja dan kursi ala kadarnya. Dari serambi masjid inilah memulai misi pendampingan bagi pedagang kecil di Pasar Beringharjo agar terbebas dari rentenir,” ujarnya.

Wanita yang pernah meraih penghargaan Dompet Dhuafa Awards, Kartini Awards, dan Karim Consulting Award itu lebih lanjut mengemukakan, bantuan modal Rp1 juta dari Dompet Dhuafa Republika, Rp500 ribu digunakan untuk membuat brosur, kartu nama, dan sebagainya. Yang Rp500 ribu disiapkan untuk memberikan pembiayaan kepada pedagang. Orang pertama yang memperoleh pinjaman adalah Mariyem, pedagang cobek, pisau, dan peralatan dapur lainnya sebesar Rp25 ribu. Karena peralatan kantor sangat terbatas, terpaksa pinjam sana-sini. Mesin ketik pinjam teman kos. Untuk keperluan operasional, pinjam motor milik penjaga kamar mandi masjid.

Soal motivasi mendirikan BMT dan membantu pedagang kecil di Pasar Beringharjo Mursida bilang; “Perlu ada alternatif pemberdayaan ekonomi. Yakni ekonomi syari’ah.  Kalau bicara syari’ah, surah al-Baqarah 275-279 dengan tegas melarang riba. Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Itu filosofi yang sangat dalam. Ada hal lain, yaitu memberantas gerak langkah rentenir. Rentenir itu kejam. Satu sisi membantu permodalan, tetapi bicara bunga yang beranak-pinak, itu sangat menindas pedagang.
Mursida Rambe punya kenangan mendalam soal rentenir, karena salah seorang teman ibunya, rumahnya disita rentenir karena tidak mampu membayar bunga yang jumlahnya terus membengkak. Padahal, dia hanya pinjam Rp100 ribu. “Itu terjadi saat saya masih kecil. Masih duduk di bangku SD. Di bawah sadar saya bilang, kejam sekali rentenir. Itu yang memotivasi mendirikan BMT Beringharjo ini,” kenangnya.

Mengajak pedagang meninggalkan rentenir dan beralih ke BMT Beringharjo, kata Mursida Rambe, awalnya karena masih sangat kecil, tidak berpikir soal bagi hasil. Anggota pertama Mariyem, salah seorang pedagang cobek dan peralatan dapur di Pasar Beringharjo, pinjam Rp25 ribu untuk tambahan modal. “Ketika itu saya katakan, Bu Mariyem pinjam Rp25 ribu, kembalinya juga Rp25 ribu. Kalau punya keuntungan, boleh bersedekah berapa pun jumlahnya, terserah,” kenangnya.

Jadi, awalnya lebih kepada mengedukasi para pedagang kecil bagaimana mereka mengangsur dengan tertib. Selain menabung, mereka juga bisa bersedekah. Soal bersedekah itu, terserah mereka. Namun untuk menabung, ditegaskan agar ketika membutuhkan uang secara mendadak, bisa punya cadangan. Sekarang, setelah besar, tentu mengharapkan ada bagi hasil dari setiap pembiayaan. Biar bagaimana pun, ada dana umat yang harus dijaga di BMT Beringharjo.

Karena BMT Beringharjo menerapkan ekonomi syariah, pembiayaan yang diberikan menggunakan akad musyarakah – kerja sama antara dua belah pihak untuk suatu usaha. Dicontohkan, misalnya, ada pedagang bakso punya modal Rp10 juta, karena ingin memperbesar usahanya, pinjam ke BMT Beringharjo sebesar Rp10 juta. Berarti, porsi modalnya sama. Karena modalnya sama, BMT akan melihat berapa keuntungannya. Jika untungnya Rp1 juta, karena modalnya sama besar, seharusnya dibagi masing-masing Rp500.000. Dari keuntungan itu dirinci, berapa biaya yang dikeluarkan. Jika biayanya Rp100.000, keuntungannya tinggal Rp400.000. Maka dari Rp400.000 itulah yang dibicarakan soal bagi hasilnya. Misalnya, BMT 30% dan si pedagang 70%, atau 20% BMT dan 80% pedagang. Jadi, sifatnya proporsional berdasarkan kesepakatan.

Jika penjualannya mengalami penurunan, bagi hasilnya otomatis juga turun. Di sini perbedaan sistem ekonomi syari’ah dengan ekonomi konvensional, yang sering disebut ekonomi kapitalis. Kini, dari 6.000 pedagang di Pasar Beringharjo, 3.900 orang atau 65% di antaranya telah menjadi anggota BMT Beringharjo. Ada juga pedagang yang tidak memiliki kios di pasar, mereka menggelar dagangannya di pinggiran pasar juga menjadi anggota BMT.

Awal kehadiran BMT Beringharjo untuk memotong usaha renternir, harus menghadapi tantangan kerja berat, harus adu cepat dengan para renternir. “Saya harus belajar kerja keras dari para renternir. Bayangkan, jam 03 dini hari mereka sudah operasi – kerja di pasar merayu para pedagang. Kemudahan dan kecepatan dalam memberikan pelayanan, itu yang perlu ditiru,” tutur Mursida. Ancaman fisik dari rentenir yang tersaingi, tidak ada. Tantangan paling berat adu cepat jam kerja. “Kami tidak sanggup melakukan seperti itu. Jam 03 dini hari, bukanlah jam kerja. Jadi, praktik rentenir hingga kini belum sepenuhnya hilang. Hanya ruang geraknya sudah semakin sempit,” katanya seraya menambahkan, di daerah lain, di Bandung, pernah ada manajer BMT Beringharjo yang diintimidasi rentenir.

Mengedukasi para pedagang melalui media dakwah agar mereka memutus hubungan kemitraan dengan para rentenir, kemudian menjadi anggota BMT Beringharjo adalah cara yang efektif. Caranya, dibentuk kelompok-kelompok pengajian. Ustadz yang memberikan pencerahan harus benar-benar membaur, dan pesan-pesannya ringan mudah dicerna. Dengan pendekatan dakwah, mereka yang semula tidak percaya, menjadi tertarik dan percaya. Memperoleh penghargaan atas karya-karyanya, bolehlah dibilang suskes. Namun bagi Mursida, sukses juga bukan karena punya mobil, punya rumah mewah, banyak uang, tetapi ketika mampu membantu orang miskin mengatasi kesulitannya.

Hingga kini, Mursida masih aktif di berbagai organisasi, antara lain, Ketua Corps Dakwah Pedesaan (CDP), Korkom Ikatan Mahasiswa UMY, Ketua II Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Sekretaris Perhimpunan BMT Indonesia, Pimpinan Pusat Aisyiah Majelis Ekonomi dan Pimpinan BMT Beringharjo dari tahun 1994 hingga kini.

(sut)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *