Mengikuti Alura Kaki Melangkah

FOTO HERRYKerja apa pun, tidak menjadi soal. Jadi tukang parkir, tukang kebun, kuli bangunan, pembantu rumahtangga (PRT) mau. Yang penting ke Jakarta. Itulah impian orang-orang di kapung yang ingin memperbaiki nasibnya. Termasuk Herry Marizono HS (50) yang kini punya usaha kos-kosan 60 kamar dan warung sembako.  

Ketika ngebet ke Jakarta, Herry yang mengaku, anak seorang pegawai Departemen Kehakiman – sekarang Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, yang bertugas di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, SMP-nya pun belum tamat. Karena ayahnya pegawai kecil, gajinya tidak seberapa, sementara anaknya 10 orang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan biaya sekolah. Itulah yang mendorong Herry nekat mengejar impian di Ibukota, Jakarta. Saat kaki menginjak tanah kelahiran Abang Jampang di terminal Bus Damri, Kemayoran, pikirannya limbung, tak tahu melangkah ke mana, karena memang tak punya sanak keluarga.

Seperti penumpang yang lain, Herry gontai melangkah meninggalkan terminal Damri. “Saya tidak tahu mau kemana. Mengikuti alur kaki melangkah saja,” kenang Herry, membuka perbincangannya dengan Majalah UKM di rumahnya, di bilangan Simpruk, Jakarta Selatan, beberapa waktu silam. Karena lelah melangkah, Herry istirahat di Pasar Baru, salah satu kawasan bisnis bergengsi sejak zaman Belanda. Wajahnya kuyu, nangis, bingung, sehingga menarik perhatian seorang juru pakir (koordinator) setoran. Ketika ditanya mau ke mana, Herry menjawab mau mencari pekerjaan. Tetapi juga tidak punya tujuan yang jelas. “Kebetulan dia orang Purwokerto, saya orang Cilacap. Orang itu baik hati, saya diajak tinggal di rumahnya, dan diberi lahan parkir,” kenangnya.

Kurang lebih 3 tahun menjadi tukang parkir, pindah mencari pekerjaan lain. Menjadi tukang kebun, penah pula menjadi pembantu rumah tangga. Karena rajin dan pantang menyerah, Herry dapat kesempatan dari majikannya untuk menyelesaikan pendidikan SMP-nya. Karena pingin jadi juru masak, temannya yang kerja di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, mengajarinya masak, masakan Eropa. Bahkan sempat dikursuskan di Hotel Kemang. Karena Ketrampilannya memasak itu membukakan pintu, ikut Duta Besar Belanda, Mr Hoover. Bisa jadi juru masak di Kedutaan Besar negara sahabat, bangga banget. Tidak mudah menjadi juru masak di Kedutaan Besar,” tutur Herry, mengaku gajinya cukup besar.

Karena kontrak kerjanya hanya 2 tahun, 1983 – 1985, ketika selesai dan Duta Besar Belanda itu pulang ke negaranya, Herry segera mencari pekerjaan baru. Mendapat boss, bule Amerika yang kerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak, PT Caltex Indonesia. Lagi…, lagi, tugasnya sebagai juru masak. “Masakan Eropa itu mudah. Bumbunya, semua sudah jadi, tinggal masukan. Justru lebih susah masakan Indonesia, bumbunya harus meracik sendiri,” jelas Herry.

Setelah sang majikan kontrak kerjanya di Indonesia habis, dan harus pulang ke negaranya, Texas. Karena cocok dengan masakannya, Herry diajak ikut ke Texas, tetapi tidak mau. “Kalau mau bantu saya, kasih saya modal untuk usaha. Benar dikasih modal. Lalu saya buka usaha, warung kecil-kecilan, tetapi berkah, langsung ramai. Soalnya di sini dulu belum ada warung. Baru saya sendiri. Karena hasilnya setelah dihitung-hitung lebih besar daripada kerja, terus ditekuni,” jelas Herry.

Saat mengawali usaha, lanjutnya, karena modalnya kecil, kalau kulakan beras naik sepeda beli 20 liter, kemudian diketeng. Namanya juga warung di kampong, jual makanan yang disenangi anak-anak. Juga kebutuhan hari-hari, termasuk ikan asin. Disamping modal dari mantan bossnya, dapat pinjaman Rp 1 juta dari Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua, yang baru membuka cabang di daerah Kebayoran Lama. “Waktu itu pinjamnya mudah, tidak pakai jaminan. Kebetulan punya teve 14 inc, warna, kwitansinya yang diminta untuk jaminan. Karena dulu cari pinjaman susah, dapat pinjaman dari koperasi bangga banget. Uang itu benar-benar dijadikan modal. Setiap hari mengangsur Rp 40.000,- X 30. Setelah lunas, boleh pinjam lagi,” tutur Herry.

Merasa tertolong, dan menyadari begitu besar manfaat berkoperasi, Herry pun tertarik menjadi anggota Kodanua. Namun keinginannya tidak serta merta dikabulkan. Dia harus menjadi peminjam yang baik. Jika disiplin mengangsur pinjaman, dan lunas tepat waktu, baru pada bulan ke-7 bisa diterima jadi anggota. Kalau awal tahun 1990-an Herry sebagai peminjam, kini gantian sebagai penabung. Dulu pinjam Rp 50 juta, setiap hari mengangsur Rp 250.000,- selama satu tahun, sisanya untuk tabungan. Setelah lunas, tetap setor Rp 250.000,- tetapi sebagai tabungan. Karena setiap hari tabungan diambil petugas koperasi, tak ada istilah tidak menabung. “Keuntungannya, menabung tidak harus repot pergi ke bank, buang-buang waktu,” katanya memberi alasan.

Kedisiplinan dan loyalitasnya yang luar biasa, beberapa kali menghantarkannya untuk menerima penghargaan sebagai penabung terbaik, dan tahun buku 2013 terpilih sebagai anggota teladan. Sebagai anggota koperasi, dia mengaku, sangat banyak manfaatnya. Sewaktu-waktu butuh uang, mudah pinjam ke koperasi. “Namanya orang dagang, kadang perlu uang mendadak untuk membayar barang dagangan. Sekarang, kalau cuma pinjaman Rp 50 juta langsung dikasih. Soalnya tabungan saya juga cukup besar,” kata Herry, menolak untuk menyebut jumlah tabungannya di KSP Kodanua. Belum dalam hitungan miliar, tapi bisa dipastikan ratusan juta. Usaha Herry terus berkembang, tidak hanya warung sembako, kos-kosan, juga ada warnet dengan 20 unit komputer. Bahkan belakangan ngurusi TKW.

“Sebenarnya pingin membangun hotel kelas melati, tetapi isteri tidak setuju. Dia kawatir kalau jadi tempat ma’siat, atau hal-hal negative lainnya. Karena sudah dua kali menunaikan ibadah haji, takut menanggung dosanya,” jelas Herry mengurungkan niatnya, demi ketenangan hati sang isteri. Walau usaha kos-kosannya terbilang di daerah perkampungan, karena dekat Ruko dan daerah perkantoran, tetap laris manis. Tidak pernah ada kamar kosong sampai 2 – 3 hari. Banyak karyawan yang gajinya masih pas-pasan, cari tempat kos yang dekat dengan kantor, dan sewanya tidak terlalu tinggi, sekitar Rp 400.000,- sebulan. Bisnis tempat kos menjadi pilihan, karena sekali membangun selanjutnya tinggal menerima bayaran, dan dalam jangka waktu lama.  “Bisnis mini market, pingin, tetapi sekarang sudah terlalu banyak mini market. Membangun kos-kosan sudah 15 tahun belum ada yang bocor,” katanya memberi alasan, kenapa tidak mengembangkan warung sembakonya menjadi mini market.

Ketika ditanya soal omzet dari seluruh kegiatan bisnisnya, Herry cepat mengatakan; “Tidak tahu, tidak dibukukan. Kalau ada uang, ditabung di koperasi dan di bank. Sewaktu-waktu ada orang jual tanah, harganya cocok, untuk beli tanah. Dibangun untuk kos-kosan lagi.” Menjadi anggota koperasi, kata dia, besar sekali manfaatnya. Jika perlu dana sewaktu-waktu, pinjam uang mudah, dan cepat. “Mengajukan sekarang, besuk sudah cair. Walau plafon pinjaman di KSP Kodanua sampai Rp 2 miliar, paling banyak saya pinjam Rp 50 juta. Jasa – bunga pinjaman 1,5% per bulan, relatif ringan. Apalagi setiap akhir tahun juga dapat SHU,” jelas Herry yang mengaku pernah mencoba jadi peragawan, tetapi tidak lama. Jadi anggota koperasi, lanjutnya, benar-benar membuat kita sejahtera. Pinjam uang mudah, akhir tahun dapat SHU, sering piknik bersama.

Tentang kegiatan bisnisnya, Herry mengaku, benar-benar kerja berat. Dia memberi contoh, jam 11 malam, ketika banyak orang tidur lelap, menikmati film – sepak bola di televisi, atau hiburan lainnya, Herry harus berkemas untuk kemudian berangkat ke Pasar Induk Kramatjati, stir mobil sendiri, belanja sayuran. “Untuk kasih makan 250 orang TKW, sehari 3 kali makan, belanja sayurannya harus banyak,” jelas Herry yang sudah beberapa tahun menjadi suplyer, dan punya pengalaman menakutkan, pernah mau dirampok, mobilnya dipepet penjahat di jalan dekat Harian Kompas. Dia bersyukur, karena ditembaki pejahat, hanya kena mobilnya, tidak mengenai dirinya.

Menjadi suplyer sayuran, kata dia, bukan kali pertama. Dulu pernah kerja sama dengan hotel berbintang, Sahid Jaya dan Hotel Kemang. Kerja sama dengan hotel besar itu justru makan hati. Nagih bayarannya sulit. Lebih enak kirim ke restoran. Hotel besar bayarnya bisa 3 – 4 bulan kemudian. “Saya pernah ngamuk – marah di Hotel Sahid karena setiap menagih dibayar pakai janji terus. Kalau mau mundur 2 – 3 bulan, dikasih giro biliyet tidak apa-apa. Tetapi minta gironya saja susah banget,” keluhnya.

Herry mengakui, satu kebiasaan kurang bagus kala masih remaja dan banyak uang, perilaku boros. Tidak menabung, senang jajan – makan enak, nonton bioskop. Waktu kerja di Kedutaan Besar Belanda walau gajinya besar, tetapi juga selalu habis. “Sampai menikah, tidak punya apa-apa. Waktu menikah, semua yang membiayai isteri. Kebetulan ketika boss-nya pulang ke Perancis dia dapat pesangonnya lumayan. Saya bersyukur, isteri bisa mengatur keuangan,” urainya. (dm – yn)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Mengikuti Alura Kaki Melangkah

  1. nano saepudin says:

    saya dari sukabumi bisa mengajukan tidak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *