Mengubah Nasib dengan Rumput Laut

Pengalaman bekerja di sebuah perusahaan rumput laut memandunya untuk menjadi pengusaha rumput laut yang sukses. Ketika perusa haan tempatnya bekerja berhenti beroperasi ia segera mengukuhkan diri sebagai pemasok bibit rumput laut, tidak hanya di Lombok Timur tetapi juga dalam skala nasional. Itulah M. Zainuddin, pemuda asal Kelurahan Pancor, Selong, Lombok Timur.

Lombok, pulau sebelah timur Bali, berjarak empat jam perjalanan dengan feri dari pelabuhan Benoa di Bali, atau satu jam empat puluh lima menit dengan pesawat Garuda dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, adalah bagaikan perawan desa yang tengah bersolek. Tidak dapat disangkal bahwa keindahan alam, terutama pan tainya, Senggigi di wilayah barat dan Kuta, di wilayah selatan, tidak hanya menarik para pelancong dalam negeri tetapi terlebih-lebih dari luar negeri.

Dari sisi curah hujan, memang pantai barat lebih beruntung karena hujan lebih sering turun dibandingkan dengan wilayah timur. Kendati demikian, Lombok Timur juga menyimpan potensi dengan penanaman tembakau yang dilakukan penduduknya. Dari tanah yang kering ini jika perjalanan dilanjutkan sampai ke wilayah pesisir maka tampak adanya potensi yang lain lagi, rumput laut.

Pemuda M. Zainuddin (32) ketika masih bersekolah di Sekolah Menengah Perikanan, Lombok Timur, ketika magang di sebuah perusahaan yang mengusahakan rumput laut di Dusun Seriwi, Desa Pemongkong, Lombok Timur. Sejak itu rumput laut mulai menjadi bagian dalam kehidupannya. Dengan bekerja di Seriwi, ia pun mulai mengenal penduduk setempat. Pertautannya dengan rumput laut tidak berhenti di sini. Ketika melanjutkan kuliah di Jurusan Perikanan, Universitas Muhammadiyah, Malang, rumput laut tetap melekat di benaknya. “Semua penjual es rumput laut di Malang, saya yang memasok rumput lautnya,” kata M. Zainuddin yang sering dipanggil Zain. Itulah M. Zainuddin, sejak kuliah sudah terbiasa berjualan rumput laut.

Mengubah Nasib dengan Rumput Laut sebabnya tempat kosnya di Malang banyak didatangi pedagang es rumput laut. Zain kuliah sambil berdagang rumput laut. Kendati pernah bercita-cita menjadi tentara, namun jalan hidup Zain telah ditetapkan oleh Yang Mahakuasa untuk mendalami bidang perikanan. Bahkan, ketika akan mengambil Jurusan Pertanian pun ia tidak diterima. Ternyata bidang perikanan yang kelak akan membawanya masuk ke dalam jejaring kaum elit di Departemen Kelautan dan Perikanan.

Ketika melanjutkan kuliah S2 di IPB dengan spesialisasi Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan, ia bertemu dengan banyak tokoh yang akan membawa berkah dalam kehidupan dia selanjutnya. “Di Departemen Kelautan dan Perikanan itu banyak orang dari IPB,” ujar Zain berterus terang. Hingga kini bapak satu anak yang belum genap setahun umurnya itu pun masih mondar-mandir ke Jakarta, terutama menyangkut aktivitas yang ada hubungannya dengan rumput laut.

Seusai menamatkan kuliah dari S2 IPB, April 2004, Zain langsung ditawari bekerja di PT Silica Mas Nusantara, yang berpusat di Surabaya. Sebagai representasi perusahaan di Mataram, Zain langsung mendapat fasilitas mobil. Maka ketika datang kembali ke Seriwi, masyarakat pun terhenyak. “Oh, ini Zain yang dulu pernah magang bertani rumput laut.” Diakui bahwa perubahan hidup yang dialaminya membawa pengaruh ketika kelak ia membina masyarakat setempat untuk menjadi pembudidaya rumput laut.

PT Silica Mas adalah perusahaan kimia yang memproduksi bahan untuk memutihkan kembali kertas-kertas koran yang akan didaur ulang. Perusahaan memproduksi bahan untuk menghilangkan tinta pada kertas. Saat itu sedang dipikirkan bagaimana mengganti bahan pemutih kimia itu dengan bahan dari rumput laut. Maka Zain, yang asal Lombok Timur ini mendapat tanggung jawab untuk mengembangkan tanaman tersebut di Lombok Timur bagian selatan dan Lombok Timur bagian utara. Wilayah yang sudah tidak asing lagi baginya.

Malang, perusahaan tempatnya bekerja pada 2005 akhirnya menghentikan usaha, akibat masalah internal. Pengembangan rumput laut di Lombok Timur pun ditutup. Zain harus memutar otak. “Mau usaha apa?” Latar belakang pendidikannya di bidang pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan mendorongnya untuk menjadi pengusaha lobster selain rumput laut.

Prinsip Bank Bukopin dalam menyalurkan kredit adalah kelayakan usaha calon debiturnya. Hal itu tidak tergantung dari berapa lama seseorang menjadi anggota Swamitra lembaga pembiayaan yang dibentuk oleh koperasi dengan standar yang ditetapkan oleh Bukopin atau berapa besar jumlah saldo rekeningnya di Swamitra. Kendati seorang debitur memiliki tabungan di Swamitra, tentu saja untuk pengucuran kredit, dia harus menyerahkan jaminan selain prosedur yang umum dalam penilaian kredit (prinsip 5 C). “Itu wajib hukumnya, untuk mendidik masyarakat agar sadar hak dan tanggung jawabnya,” ujar M. Nasaruddin atau biasa dipanggil Anas, Account Officer Bank Bukopin Mataram, yang sering berkontak dengan Zain.

Kendati Zain lebih banyak berpengalaman di bidang rumput laut, namun ketika mengajukan kredit tidak digunakan untuk usaha rumput laut melainkan untuk usaha perdagangan dan budidaya lobster pada 2005, ia pun mendapat persetujuan. Alasannya, karena latar belakang pendidikan di bidang perikanan maupun pekerjaan yang pernah dijalani Zain mendukung ke arah itu. Antara mengelola lobster dan rumput laut tidak begitu jauh bedanya. “Kami tidak akan mengucurkan kredit kepada orang yang belum berpengalaman,” ujar Dhani Tresno, Pemimpin Cabang Bank Bukopin Mataram.

Keterbu kaan dan kejujuran juga sangat penting. Jika sejak semula sudah ada intrik-intrik, pasti usaha akan gagal. Selain itu pengucuran kredit juga mempertimbangkan pasar. “Kebetulan Pak Zain ini telah memiliki pasar yang jelas,” lanjut Anas. Zain sendiri mengatakan bahwa untuk lobster ini ia telah mendapatkan pembeli setia dari Denpasar, Bali.

Awalnya Zain mengajukan kredit sebesar Rp 150 juta, namun hanya diberi Rp 50 juta. Pihak bank memang berwenang untuk meng ukur seberapa besar kemampuan calon debitur. Pemberian kredit oleh Bukopin kepada pengusaha kecil memang dilakukan secara bertahap. Jangan sampai kredit yang diberikan begitu besar tetapi kemudian macet.

Menurut analisis pihak bank, kebutuhan Zain saat itu adalah Rp 50 juta dan kebetulan plafon kredit bagi anggota Swamitra juga sebesar itu. Untuk kredit sebesar itu, Zain harus menyerahkan sertifikat tanah yang nilainya sepadan dengan utangnya. Bunga per bulan yang harus dibayarnya adalah 1,25%, dengan jangka waktu dua tahun. Kredit ini digunakan untuk investasi pembuatan rumah apung beserta karamba apungnya di Telong Elong, Lombok Timur, dan sebagian untuk modal kerja.

Alih-alih menekuni lobster, akhirnya Zain kemudian lebih berkonsentrasi pada bisnis rumput laut, karena diakuinya bahwa sisa Kredit pertama yang diterima Zain digunakan untuk investasi pembuatan rumah apung, karamba apung, dan modal kerja. Binis lobster ini cukup rentan. Utamanya berkaitan dengan transportasi. Jika ada penundaan penerbangan ke Denpasar, maka lobster tidak tahan dan sering kali mati. Padahal harga lobster yang mati hanya 10% dari harga waktu hidup. “Biasanya Rp 300 ribu per kg/hidup menjadi Rp 25 ribu dalam keadaan mati.” Penerbangan Mataram  -Denpasar masih dilayani pesawat kecil, yang keberangkatannya tergantung pada jumlah penumpang. Kendala lain adalah lobster laut ini memang belum bisa dibuatkan pembenihannya, harus mencari bibit dari alam.

Dengan jejaring yang dimilikinya, Zain kemudian mengukuhkan dirinya pada budidaya bibit rumput laut dan perdagangan rumput laut sejak awal 2006. Sebagian aset perusahaan Silica Mas yang tak terpakai juga dihibahkan kepada Zain. Lima perahu diberikan kepadanya, selain itu ia juga diminta menjualkan speedboat, tanah, dan gudang milik Silica Mas. Inilah modal awal usahanya di rumput laut ditambah dengan pinjaman sebanyak Rp 150 juta dari Bukopin. Pinjaman ini digunakan untuk membina petani rumput laut.

Pada Januari 2008 Bukopin Mataram kembali menyalurkan dana berupa kredit investasi untuk pengadaan angkutan truk. Sebagai pemasok bibit rumput sampai ke Bima, Dompu, Sumbawa, dan bahkan Maumere di NTT, Zain memerlukan alat angkut. Jika terus menyewa dari pihak lain, maka lama-kelamaan dia merasa rugi karena harga sewa cukup tinggi. Pihak Bukopin mengucurkan dana sebesar Rp 150 juta, sementara Zain sendiri merogoh kocek sebesar Rp 70 juta untuk membeli truk.

Jangka waktu kredit adalah lima tahun dengan tingkat bunga 16%. Kredit investasi ini jumlahnya semakin berkurang karena Zain telah mulai mengangsur pokok. Karena permintaan bibit rumput laut semakin besar, maka pada Juni 2008, Zain kembali mengajukan permintaan kredit sebesar Rp 200 juta untuk kegiatan operasional usahanya. Permintaan pesanan bibit rumput laut yang terus meningkat menjadi salah satu alasan Bukopin kembali mengucurkan kredit.

“Pembeli begitu banyak, mengapa tidak kita tangkap peluang ini,” kata Anas. Namun demikian, laporan keuangan debitur selama dua tahun berturut-turut juga diperhatikan. Ini penting untuk melihat tren pertumbuhan usahanya. Bank juga melihat nilai kontrak yang diperoleh Zain dari para pembelinya. Mutasi rekening debitur, bukti rekening pembayaran juga dilihat. Adapun sebagai jaminannya adalah sertifikat tanah dan BPKB truk.

Menurut Zain, kini 95% produksi rumput lautnya dijual dalam bentuk bibit, karena ia menjadi mitra dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi, dan juga menjadi mitra Dirjen Kelautan, Departemen Kelautan dan Perikanan di Jakarta, untuk memasok kebutuhan bibit pada proyek pengembangan rumput laut di berbagai tempat.

Tahun 2008 pesanan dari Dinas Kabupaten sebanyak 12 ton, dari para pengusaha Surabaya yang membuka budidaya di Sumbawa dan dari Departemen Kelautan dan Perikanan di Jakarta ada 600 ton, selain juga akan ada tambahan pesanan pada bulan November dan Desember. Ditambah pesanan dari berbagai pihak, menurut Zain, sampai akhir tahun diperkirakan ada lebih dari 2.000 ton pesanan bibit kepadanya. Sebagai misal, pesanan bibit untuk NTB pada 2008 adalah sebanyak 1.100 ton, dari jumlah ini Zain kebagian 600 ton. Sisanya dipasok mitranya dari Lombok Tengah. Tahun 2008, harga jual bibit naik menjadi Rp 3 ribu per kilogram. Selain dari pembibitan milik sendiri, Zain juga membeli bibit dari petani dengan harga Rp 2 ribu sampai Rp 2,5 ribu per kilogram.

Karena masih menanggung biaya pengepakan (dalam karung) dan transportasi, maka margin keuntungan yang didapatkannya dari jual-beli bibit sebesar Rp 500 per kilogram. Dalam hitungan kasar, 2.000 ton pesanan dikalikan Rp 500 per kilogram, maka dalam setahun ia akan mendapat keuntungan sebesar Rp 1 miliar. Dengan pendapatan tersebut, maka tanggung jawabnya untuk mengangsur ke Bukopin tampaknya tidak ada masalah. Bunga yang harus dicicil sekarang Rp 6,5 juta per bulan, dengan total kredit mencapai Rp 400 juta.

Fasilitas kredit modal kerja tersebut, menurut Anas, berlaku setahun dan dapat diperpanjang setiap tahunnya. Namun, sepanjang usaha perdagangan rumput laut itu tetap menunjukkan tren positif, maka kebutuhan modal akan selalu dibantu. Soal kapan akan dilakukan pelunasan utang pokok, diserahkan sepenuhnya kepada Zain. Tentu saja sepanjang dia masih terus mampu membayar bunganya.

Membina Petani Rumput laut jenis Eucheuma Cottonii banyak dibutuhkan oleh industri farmasi dan kosmetik. Bahkan kandungan yang ada dalam rumput laut jenis ini juga untuk campuran cat pesawat terbang. Daya lengketnya luar biasa, sehingga cat pada badan pesawat tidak terkelupas meskipun terbang dengan kecepatan tinggi. Sementara itu rumput laut yang digunakan untuk makanan seperti agar-agar, dodol, dan sebagainya berasal dari rumput laut jenis Gracilaria sp. Untuk melakukan budidaya rumput laut jenis Eucheuma Cottonii, Zain bekerja sama dengan petani di Dusun Seriwi, Lombok Timur.

Rumput laut ditanam pada rakit terapung, dengan ukuran 10×10 meter. Lokasi penanaman ada di Teluk Seriwi, yang menurut Zain paling bagus kondisinya. Di sini air laut dapat terus berganti sehingga tingkat salinitas dapat dipertahankan. Dengan air yang terus berganti, maka plankton yang menjadi makanan rumput laut akan tersedia banyak. Lubang karamba dan rumput laut umur seminggu. Dari 15 orang petani yang dibinanya, Zain dapat mengumpulkan rumput laut sebanyak kurang lebih 1.600 ton per tahun.

Dengan bantuan kredit pada 2006 dari Bukopin Zain membina sepuluh orang petani, masing-masing petani diberi tugas mengelola 10 rakit apung untuk budidaya rumput laut selain mengelola rakit milik mereka sendiri. Untuk investasi rakit sebanyak 100 buah ini diperlukan biaya Rp 65 juta. “Pengalaman saya di perusahaan, kalau saya budidaya sendiri, masyarakat akan merasa disaingi.” Selain itu modal kerja juga dipakai untuk membeli rumput laut kering untuk dijual kembali.

Kini petani yang dibina Zain di Seriwi meningkat menjadi 15 orang. Dalam kerja sama ini, Zain menyediakan semua peralatan termasuk bibitnya, sedangkan petani bertugas untuk memelihara tanaman rumput laut dan memantaunya setiap hari. Maklum saja lokasi budidaya rumput laut ini berada di Teluk Seriwi yang cukup luas di Lombok Timur. Dan ketika tanaman sudah mulai siap panen, penjagaan harus semakin ditingkatkan. Untuk para petani binaannya, Zain memberikan bagian sebesar 30% dari harga jual, setelah dipotong biaya untuk penanaman kembali dan upah (ongkos kerja). Sementara dia sebagai pengusaha mendapat bagian 70%. Hal ini dinilainya wajar karena dialah yang harus mencari pinjaman uang ke bank dan menanggung risikonya.

Risiko lain dari usaha rumput laut adalah faktor alam. Oleh karena gelombang laut yang besar, sebanyak seratus rakit apung Zain pernah hanyut dan hilang. Untung saja waktu itu sehabis panen, sehingga kerugian tidak begitu besar. Selain menjaga rumput laut milik Zain, para petani sebetulnya juga ada yang memiliki tanaman rumput laut sendiri. Mereka ada yang memiliki 10 sampai 20 rakit, selain 10 dari Zain. Tidak tertutup kemungkinan bahwa mereka lebih mengutamakan mengurus tanaman rumput laut milik sendiri daripada milik Zain. Namun ain tidak khawatir. Baginya yang penting para petani menjual hasil panen rumput laut kepadanya.

Di Dusun Seriwi, ia menunjuk satu orang pengumpul. Rumput laut yang ia beli selanjutnya dijual kembali. Awalnya ia ikut memasok rumput laut dalam bentuk kering ke eksportir di Surabaya. Tetapi karena pedagang rumput laut kering begitu banyak, ia kemudian memutuskan menjadi pemasok bibit rumput laut saja. Apalagi ia telah memiliki saluran untuk memasok kebutuhan bibit secara nasional. Selain itu menjual bibit rumput laut dapat mempercepat perputaran uangnya.

Tanaman rumput laut yang akan dijual sebagai bibit, sudah dapat dipanen saat berumur 25 sampai dengan 30 hari. Sebaliknya kalau ingin menjual rumput laut dalam bentuk kering, maka panen baru dapat dilakukan setelah 45 hari. Belum lagi pengeringan yang memerlukan waktu dua hingga tiga hari. Dari 15 orang petani yang dibinanya, Zain dapat mengumpulkan rumput laut sebanyak kurang lebih 1.600 ton per tahun. Apabila pesanan bibit rumput laut kepadanya melebihi kemampuan produksi petani binaannya, maka Zain akan membeli dari petani rumput laut lain yang ada di Seriwi. Dari 360 KK yang ada di Dusun Seriwi kini mayoritas adalah pembudidaya rumput laut. Banyak dari mereka yang sebelumnya berprofesi sebagai nelayan beralih menjadi petani rumput laut. Bahkan dengan rumput laut, sudah ada keluarga nelayan yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga sarjana. (Eko-adt-my)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *