Menjadi Pengusaha Sukses

Sebuah Kajian Pragmatis Prof DR H. Agustitin Setyobudi

Berbicara tentang kesuksesan berusaha, tidak dapat dipisahkan dengan kompetensi yang dimiliki oleh pengusahanya, karena kompetensi – kemampuan sesorang dapat menimbulkan inspirasi berusaha yang kemudian menimbulkan kreasi, berujung pada proaksi dan inovasi. Untuk lebih mendalam kajian tentang kompetensi, berikut ini dikaji beberapa hal yang terkait dengan masalah-masalah kompetensi.

Beberapa tahun terakhir ini, istilah kompetensi menjadi popular di kalangan praktisi manajemen sumber daya manusia (SDM). Kompetensi dipercaya sebagai faktor yang memegang kunci keberhasilan seseorang dalam bekerja. Istilah kompetensi, dari kata dasar “kompeten”, yang berarti cakap, mampu atau terampil.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian kompeten adalah berwenang, berkuasa cakap. Sedangkan pengertian kompetensi adalah mempunyai kemampuan; kewenangan untuk menentukan – memutuskan sesuatu. Kemudian secara substansial mengalami perubahan dengan masuknya berbagai isu dan pembahasan mengenai konsep kompetensi dari berbagai literatur. Pada konteks manajemen SDM, istilah kompetensi mengacu kepada atribut atau karakteristik seseorang yang membuatnya berhasil dalam pekerjaannya.

Kompetensi menurut Spencer & Spencer dalam Palan (2007) adalah sebagai karakteristik dasar yang dimiliki oleh seorang individu yang berhubungan secara kausal dalam memenuhi kriteria yang diperlukan dalam menduduki suatu jabatan. Kompetensi terdiri dari 5 tipe karakteristik yaitu; motif  – kemauan konsisten sekaligus menjadi sebab dari tindakan, faktor bawaan – karakter dan respon yang konsisten, konsep diri – gambaran diri, pengetahuan – informasi dalam bidang tertentu, dan keterampilan – kemampuan untuk melaksanakan tugas.

Hal ini sejalan dengan pendapat Becker and Ulrich dalam Suparno (2005:24) bahwa competency refers to an individual’s knowledge, skill, ability or personality characteristics that directly influence job performance. Artinya, kompetensi mengandung aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan – keahlian dan kemampuan ataupun karakteristik kepribadian yang mempengaruhi kinerja.

Berbeda dengan Fogg (2004:90) yang membagi Kompetensi menjadi 2 (dua) kategori yaitu; kompetensi dasar dan yang membedakan kompetensi dasar (Threshold) dan kompetensi pembeda (differentiating) menurut kriteria yang digunakan untuk memprediksi kinerja suatu pekerjaan. Kompetensi dasar (Threshold competencies) adalah karakteristik utama, yang biasanya berupa pengetahuan – keahlian dasar seperti kemampuan untuk membaca, sedangkan kompetensi differentiating adalah kompetensi yang membuat seseorang berbeda dari yang lain.

Kompetensi berasal dari kata “competency” merupakan kata benda yang menurut Powell (1997:142) diartikan sebagai (1) kecakapan, kemampuan, kompetensi (2) wewenang. Kata sifat dari competence adalah competent yang berarti cakap, mampu, dan tangkas. Pengertian kompetensi menurut Stephen Robbin (2007:38) bahwa kompetensi adalah “kemampuan (ability) atau kapasitas seseorang untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan, dimana kemampuan ini ditentukan oleh 2 (dua) faktor yaitu; kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.

Pengertian kompetensi sebagai kecakapan atau kemampuan juga dikemukakan oleh Robert A. Roe (2001:73) sebagai berikut; “Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing“. Kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap, nilai-nilai pribadi, kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman, dan pembelajaran yang dilakukan.

Secara lebih rinci, Spencer dan Spencer dalam Palan (2007:84) mengemukakan bahwa kompetensi menunjukkan karakteristik yang mendasari perilaku yang menggambarkan motif, karakteristik pribadi – ciri khas, konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan – keahlian yang dibawa seseorang yang berkinerja unggul – superior performer di tempat kerja. Ada 5 (lima) karakteristik yang membentuk kompetensi yakni; 1). Faktor pengetahuan meliputi masalah teknis, administratif, proses kemanusiaan, dan sistem. 2). Keterampilan; merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. 3). Konsep diri dan nilai-nilai; merujuk pada sikap, nilai-nilai dan citra diri seseorang, seperti kepercayaan seseorang bahwa dia bisa berhasil dalam suatu situasi. 4). Karakteristik pribadi; merujuk pada karakteristik fisik dan konsistensi tanggapan terhadap situasi atau informasi, seperti pengendalian diri dan kemampuan untuk tetap tenang dibawah tekanan. 5). Motif; merupakan emosi, hasrat, kebutuhan psikologis atau dorongan-dorongan lain yang memicu tindakan.

Pernyataan di atas mengandung makna bahwa kompetensi adalah karakteristik seseorang yang berkaitan dengan kinerja efektif dan unggul dalam situasi pekerjaan tertentu. Kompetensi dikatakan sebagai karakteristik dasar – underlying characteristic karena karakteristik individu merupakan bagian yang mendalam dan melekat pada kepribadian seseorang yang dapat dipergunakan untuk memprediksi berbagai situasi pekerjaan tertentu. Dikatakan berkaitan antara perilaku dan kinerja karena kompetensi dapat memprediksi perilaku dan kinerja.

Peraturan Pemerintah (PP) No. 23 Tahun 2004, tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjelaskan tentang sertifikasi kompetensi kerja sebagai suatu proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistimatis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi kerja nasional Indonesia dan atau Internasional. Menurut Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negeri (BKN) Nomor: 46A tahun 2003, tentang pengertian kompetensi adalah: Kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga PNS tersebut dapat melaksanakan tugas secara profesional, efektif dan efisien.

Dari uraian pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi yaitu sifat dasar yang dimiliki atau bagian kepribadian yang mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan sebagai dorongan untuk mempunyai prestasi dan keinginan berusaha agar melaksanakan tugas dengan efektif. Ketidaksesuaian dalam kompetensi inilah yang membedakan seorang pelaku unggul dari pelaku yang berprestasi terbatas. Kompetensi terbatas dan kompetensi istimewa untuk suatu pekerjaan tertentu merupakan pola – pedoman dalam pemilihan seseorang – personal selection, perencanaan pengalihan tugas – succession planning, penilaian kerja –  performance appraisal dan pengembangan – development.

Dengan kata lain, kompetensi adalah penguasaan terhadap seperangkat pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai, sikap yang mengarah kepada kinerja dan direfleksikan dalam kebiasaan berpikir, serta bertindak sesuai dengan profesinya. Selanjutnya, Wibowo (2007:86), kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melaksanakan – melakukan suatu pekerjaan – tugas yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Dengan demikian, kompetensi menunjukkan keterampilan atau pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam suatu bidang tertentu sebagai suatu yang terpenting. Kompetensi sebagai karakteristik seseorang berhubungan dengan kinerja yang efektif dalam suatu pekerjaan atau situasi.

Dari pengertian kompetensi di atas, terlihat bahwa fokus kompetensi adalah untuk memanfaatkan pengetahuan – ketrampilan kerja guna mencapai kinerja optimal. Dengan demikian kompetensi adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang berupa pengetahuan ketrampilan dan faktor-faktor internal individu lainnya untuk dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan.

Karakteristik Kompetensi

Menurut Spencer and Spencer dalam Prihadi (2004:38-39) terdapat 5 (lima) karakteristik kompetensi, yaitu: 1) Motif – motive adalah hal-hal yang seseorang pikir atau inginkan secara konsisten yang menimbulkan tindakan. 2) Sifat – traits adalah karakteristik fisik dan respons konsisten terhadap situasi atau informasi. 3) Konsep diri – Self Concept adalah sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang. 4) Pengetahuan – Knowledge, adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk bidang tertentu. Pengetahuan merupakan kompetensi yang kompleks.

Ketrampilan – Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu baik secara fisik maupun mental. Sedangkan menurut Spencer and Spencer yang dikutip oleh Surya Dharma (2003:17), konsep diri – self concept, watak/sifat – traits dan motif kompetensi lebih tersembunyi – hidden, dalam – deeper dan berbeda pada titik sentral keperibadian seseorang. Kompetensi pengetahuan – knowledge competencies dan keahlian – skill competencies cenderung lebih nyata – visible dan relatif berbeda di permukaan sebagai salah satu karakteristik yang dimiliki manusia.

Kompetensi dapat dihubungkan dengan kinerja dalam sebuah model alir sebab akibat, yang menunjukkan bahwa tujuan, perangai, konsep diri, dan kompetensi pengetahuan memprakirakan kinerja mencakup niat, tindakan dan hasil akhir. Misalnya, motivasi untuk berprestasi, keinginan kuat untuk berbuat lebih baik dari pada ukuran baku yang berlaku dan untuk mencapai hasil yang maksimal, menunjukkan kemungkinan adanya perilaku kewiraswastaan, penentuan tujuan, bertanggung jawab atas hasil akhir dan pengambilan resiko yang diperhitungkan.

Lebih lanjut menurut Spencer and Spencer dalam Surya Dharma (2003:41), karakteristik pribadi mencakup; perangai, konsep dan pengetahuan memprediksi tindakan perilaku keterampilan, dan pada gilirannya akan memprediksi prestasi kerja. Selanjutnya, jika kita lihat arah pada gambar tersebut bahwa bagi organisasi yang tidak memilih, mengembangkan dan menciptakan motivasi kompetensi untuk seseorang, jangan harap terjadi perbaikan dan produktivitas, profitabilitas dan kualitas terhadap suatu produk dan jasa. Hal ini sesuai dengan pengertian pengetahuan itu sendiri sebagaimana dikemukakan oleh Carrillo, P., Robinson, (2004:46) bahwa:

  1. Tacit Knowledge – Pengetahuan tacit

Pada dasarnya tacit knowledge bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan berdasarkan pengertiannya, maka tacit knowledge dikategorikan sebagai personal knowledge. Dengan kata lain, pengetahuan yang diperoleh dari individu – perorangan.

  1. Explicit knowledge

Explicit knowledge bersifat formal dan sistematis, mudah dikomunikasikan dan dibagi. Penerapan explicit knowledge ini lebih mudah karena pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk tulisan – pernyataan yang didokumentasikan, sehingga setiap orang dapat mempelajarinya secara independen.

Explicit knowledge adalah prosedur kerja – job procedure dan teknologi. Job procedure adalah tanggung jawab, tugas yang bersifat formal, perintah resmi atau cara melakukan hal-hal tertentu, dimana salah satu bentuk konkrit dari explicit knowledge adalah Standard Operation Procedure (SOP). SOP dibuat untuk mempertahankan kualitas dan hasil kerja, dimana tugas-tugas akan semakin mudah dikerjakan, dan tamu akan terbiasa dengan sistem pelayanan yang terdapat pada knowledge management. Salah satu teknologi paling mutakhir yang saat ini digunakan oleh banyak Koperasi untuk proses penyebaran knowledge adalah intranet, dimana hal ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengakses knowledge dan melakukan kolaborasi, komunikasi serta sharing knowledge secara “on line”.

Pada dasarnya kinerja dari seseorang merupakan hal yang bersifat individu karena masing-masing dari seseorang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Kinerja seseorang tergantung pada kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang diperoleh Carrillo, P., Robinson, (2004:47).

Menurut Spencer and Spencer dalam Surya Dharma (2003:47), kompetensi dapat dibagi dua kategori yaitu; Kompetensi dasar – Threshold Competency, dan Kompetensi pembeda differentiating Competency. Threshold competencies adalah karakteristik utama, biasanya pengetahuan – keahlian dasar seperti kemampuan untuk membaca yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat melaksanakan pekerjaannya. Sedangkan Differentiating competencies adalah faktor-faktor yang membedakan individu yang berkinerja tinggi dan rendah.

Charles E. Jhonson dalam Wina Sanjaya (2005:34) membagi kompetensi kedalam 3 bagian yakni: 1) Kompetensi pribadi, yakni kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian – personal competency. 2) Kompetensi professional, yakni kompetensi – kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas tertentu. 3) Kompetensi sosial, yakni kompetensi yang berhubungan dengan kepentingan sosial.

Sedangkan Kunandar (2007:41), kompetensi dapat dibagi 5 bagian yakni: 1) Kompetensi intelektual, yaitu berbagai perangkat pengetahuan yang ada pada diri individu yang diperlukan untuk menunjang kinerja. 2) Kompetensi fisik, yakni perangkat kemampuan fisik yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas. 3) Kompetensi pribadi, yakni perangkat perilaku yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam mewujudkan diri, transformasi diri, identitas diri dan pemahaman diri. 4) Kompetensi sosial, yakni perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan sosial. 5) Kompetensi spiritual, yakni pemahaman, penghayatan serta pengamalan kaidah-kaidah keagamaan.

Masih mengenai kategori – klasifikasi kompetensi, Talim (2003:7) mengatakan kompetensi dapat meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku seseorang. Dalam arti luas, kompetensi akan terkait dengan strategi organisasi dan pengertian kompetensi ini dapatlah dipadukan dengan ketrampilan dasar – soft skill, ketrampilan baku – hard skill, ketrampilan sosial – social skill, dan ketrampilan mental – mental skill.

Ketrampilan baku – hard skill mencerminkan pengetahuan dan keterampilan fisik SDM, ketrampilan dasar – soft skill menunjukkan intuisi, kepekaan SDM; ketrampilan sosial – social skill menunjukkan keterampilan dalam hubungan sosial SDM, ketrampilan mental – mental skill menunjukkan ketahanan mental SDM. Di dalam perkembangan manajemen SDM, saat ini sedang ramai dibicarakan mengenai bagaimana mengelola SDM berbasis kompetensi.

Berdasarkan uraian tentang jenis kompetensi di atas, kompetensi diklasifikasikan kedalam 2 jenis; Pertama kompetensi profesional, yaitu kompetensi yang berhubungan dengan peran yang dipilih. Kedua adalah kompetensi umum, yaitu kompetensi yang harus dimiliki sebagai seorang manusia. Misalnya kompetensi untuk menjadi suami atau istri yang baik.

Proses perolehan kompetensi – competency acquisition process menurut Surya Dharma (2002:38) telah dikembangkan untuk meningkatkan tingkat kompetensi yang meliputi: 1) Pengakuan – Recognition, suatu simulasi – studi kasus yang memberikan kesempatan peserta untuk mengenali satu atau lebih kompetensi yang dapat memprediksi individu berkinerja tinggi di dalam pekerjaannya sehingga seseorang dapat berjalan dari pengalaman simulasi tersebut. 2) Pemahaman – Understanding, instruksi kasus termasuk modeling perilaku tentang apa itu kompetensi dan bagaimana penerapan kompetensi tersebut. 3) Pengkajian – Assessment, umpan balik kepada peserta tentang berapa banyak kompetensi yang dimiliki peserta – membandingkan skor peserta. Cara ini dapat memotivasi peserta mempelajari kompetensi sehingga mereka sadar adanya hubungan antara kinerja yang aktual dan kinerja yang ideal. 4) Umpan balik – Feedback suatu latihan dimana peserta dapat mempraktekkan kompetensi dan memperoleh umpan balik bagaimana peserta dapat melaksanakan pekerjaan tertentu dibanding dengan seseorang yang berkinerja tinggi. 5) Permohonan kerja – Job Application agar dapat menggunakan kompetensi didalam kehidupan nyata.

Apa yang dapat diperkirakan mengenai kompetensi yang mungkin dibutuhkan untuk memenuhi tantangan baru dimasa depan dan bentuk-bentuk organisasi baru yang akan kita hadapi. Dari pemikiran Mitrani, Palziel dan Fitt dalam Dharma (2002:18) dapat diindentifikasi beberapa pokok pikiran tentang kualitas yang perlu dimiliki orang pada tingkat eksekutif, manajer, dan Seseorang.

Pada tingkat eksekutif diperlukan kompetensi tentang: (a). Pemikiran Strategis – Strategic thinking, adalah kompetensi untuk melihat peluang pasar, ancaman, kekuatan dan kelemahan organisasi agar dapat mendefinisikan respons strategis – strategic response secara optimal. (b). Kepemimpinan perubahan – change leadership. Aspek ini merupakan kompetensi untuk mengkomunikasikan visi dan strategi Koperasi dapat    ditransformasikan kepada pegawai. (c). Manajemen hubungan – Relationship management adalah kemampuan untuk meningkatkan hubungan dan jaringan dengan negara lain. Kerjasama dengan negara lain sangat dibutuhkan bagi keberhasilan organisasi.

Pada tingkat manajer paling tidak diperlukan aspek-aspek kompetensi seperti: (a). Keluwesan – flexibility adalah kemampuan merubah struktur dan proses manajerial. (b). Saling pengertian antar pribadi – Interpersonal understanding adalah kemampuan untuk memahami nilai dari berbagai tipe manusia. (c). Pemberdayaan – Empowering adalah kemampuan berbagi informasi, penyampaian ide-ide oleh bawahan, mengembangkan seseorang serta mendelegasikan tanggung jawab, memberikan saran umpan balik,   mengatakan harapan-harapan yang positif untuk bawahan dan memberikan reward bagi peningkatan kinerja.

Pada tingkat seseorang diperlukan kualitas kompetensi seperti: (a). Fleksibilitas – keluwesan adalah kemampuan untuk melihat perubahan sebagai suatu kesempatan yang menggembirakan ketimbang sebagai ancaman. (b). Kompetensi menggunakan dan mencari berita. (c). Motivasi dan kemampuan untuk belajar, motivasi berprestasi, motivasi kerja di bawah tekanan waktu; kolaborasi dan orientasi pelayanan kepada    pelanggan. (bersambung)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *