Menkop dan UKM Optimis KSP Kodanua Akan Menembus Skala Dunia

FOTO MENKOP SYARIF HASAN“Perekonomian Indonesia secara eksplisit seperti yang digariskan dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 33 bahwa perkonomian Indonesia dilakukan berdasarkan azas kekeluargaan dan gotong-royong, yang manefestasinya adalah koperasi. Dengan lahirnya UU No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian akan semakin memberikan ruang kepada seluruh penggiat koperasi agar ke depan koperasi menjadi lebih maju” kata Menteri Koperasi dan UKM, DR Syarief Hasan saat memberi sambutan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua ke-36 tahun buku 2013 pada 1 Februari 2014 di Gedung Pewayangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Jika koperasi terus berkembang dan maju akan meningkatkan perekonomian Indonesia. Bila ekonomi semakin maju, dapat dipastikan kesejahteraan rakyat semakin tinggi. Salah satu relaksasi dari kebijakan penetapan UU No 17, kata dia, tentang pembiayaan koperasi. Selama ini koperasi hanya mengandalkan simpanan anggota, hanya mengandalkan dari sisa hasil usaha (SHU), mengandalkan dari bantuan-bantuan dan pemberdayaan koperasi, maka melalui UU No 17 begitu banyak relaksasi yang telah diputuskan oleh pemerintah bersama-sama dengan penggiat koperasi. Antara lain diperkenalkannya penyertaan modal koperasi, diperkenalkannya setoran pokok koperasi, dan sertifikat modal koperasi (SMK). “Kini saatnya koperasi di seluruh Indonesia bangkit untuk membangun ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Koperasi adalah lembaga usaha yang didirikan oleh anggota koperasi, dijalankan oleh anggota, diawasi oleh anggota, strategi dan obyektifnya ditentukan oleh anggota, dan benefit – keuntungannya untuk kesejahteraan anggota koperasi. “Karena itu kita bersyukur jumlah koperasi di Indonesia semakin meningkat. Kodanua dari tahun ke tahun asetnya juga semakin meningkat rata-rata di atas 7%, modal sendiri meningkat rata-rata di atas 8%, demikian pula SHU-nya dari tahun ke tahun naik. Jumlah anggota yang terus meningkat menunjukan semangat kinerja yang luar biasa,” katanya memuji.

Akibat gerakkan koperasi semakin masif, komitmen semakin tinggi, maka jumlah koperasi yang 5 tahun silam hanya sekitar 150.000-an sekarang sudah mencapai 200.808 unit koperasi. “Target saya ketika dilantik menjadi Menteri Koperasi dan UKM, akhir 2014 jumlah koperasi 200.000 unit, tetapi target tersebut sudah tercapai pada tahun 2013. Target lain, sampai akhir Oktober 2014 dari 200.000-an ada 1 – 2 koperasi Indonesia yang masuk 300 besar koperasi dunia. Dan pada tahun 2013, Koperasi Semen Gresik telah menembus urutan 233 besar dunia,” katanya bangga, lantaran apa yang ditargetkan bisa tercapai lebih awal.

Melihat perkembangan KSP Kodanua, Menkop dan UKM optimis, bahwa KSP Kodanua juga akan mencapai skala dunia. Salah satu ciri khas koperasi berskala dunia, kata dia, bukan saja ditinjau dari sisi berapa besar pendapatan yang diterima oleh koperasi tersebut, bukan saja ditentukan berapa besar aset yang dimiliki koperasi, tetapi yang penting adalah berapa besar anggota koperasi yang menikmati SHU koperasi. Menurut informasi dari Ketua KSP Kodanua, H R Soepriyono, 50% dari SHU dikembalikan kepada anggota. “Ini salah satu persyaratan menjadi koperasi kelas dunia. Persyaratan lain, jumlah anggota besar, SHU yang dikembalikan kepada anggota persentasenya juga besar. Di luar negeri, koperasinya besar tetapi anggotanya sedikit, sehingga SHU-nya besar. Persyaratan ke-3 keterlibatan – komitmen koperasi pada corporate social respontbelity (CSR). Jadi, sebagian dari SHU koperasi disisihkan untuk kegiatan sosial. KSP Kodanua juga melakukan hal tersebut. Semua itu merupakan tanda-tanda bahwa KSP Kodanua telah menuju koperasi skala dunia. Kerena itu saya yakin, ke depan KSP Kodanua akan mampu menjadi salah satu koperasi berskala internasional,” katanya penuh semangat.

Langkah KSP Kodanua memperluas jaringan ke berbagai daerah, yang diharapkan kelak mampu mencakup seluruh wilayah Indonesia sebagai strategi pengembangan usaha, dinilai oleh Menkop dan UKM, sebagai strategi yang tepat. Karena tugas koperasi adalah melakukan pemerataan kesejahteraan ke seluruh Indonesia, dari Sabang – Merauke. Dengan 250 juta rakyat Indonesia merupakan pangsa pasar usaha koperasi yang sangat potensial. Kita masih memiliki angka pengangguran kurang lebih 6,25%. Turun cukup jauh dari 10 tahun silam yang masih di kisaran 12%. Salah satu tugas dari koperasi menurunkan angka pengangguran 6,25% itu menjadi lebih kecil lagi. Begitu pula kemiskinan yang saat ini masih sekitar 11,4% harus bisa diturunkan. Dulu jumlahnya sekitar 17%, tetapi selama 10 tahun terakhir sudah jauh menurun. Dapat dipastikan salah satu yang memberikan kontribusi adalah koperasi.

***

Saat kondisi perekonomian global anjlok pada 2013, perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh 5,7%. Perekonomian bangsa tetap bertahan antara lain karena koperasi dan usaha kecil menengah bangkit, memeberi pekerjaan, dan menjaga konsumsi masyarakat. Menkop & UKM pun yakin bahwa perekonomian Indonesia tahun ini akan tumbuh 5,9%. Artinya lebih tinggi daripada sebelumnya yang 5,7%. Dengan pertumbuhan ekonomi, belanja negara, aperatur, dan kementrian akan meningkat.  Alokasi untuk program penguatan koperasi dan UKM juga akan meningkat. Untuk mengembangkan dan memeperkuat posisi koperasi dan pedagang kaki lima (PKL), masih diperlukan penataan dan penguatan modal. Kurun 2005 – 2013 sudah disalurkan bantuan sosial penataan Rp 92,8 miliar bagi 16.143 PKL lewat 256 koperasi. Tahun ini digelontorkan Rp 35,2 miliar bagi 4.400 PKL lewat 88 koperasi.

“Dalam penilaian kami, PKL adalah entrepreneur ulung,” kata Menkop & UKM. PKL memiliki adaptasi dan kemampuan bertahan yang tangguh. PKL memberikan pekerjaan. Jika tertata bagus dan unik, amat potensial sebagai objek wisata. Pasar tradisional juga perlu di revitalisasi agar transaksi dan konsumsi masyarakat terus bertahan. Harus diupayakan pasar tradisional tidak kumuh, tidak becek, bertoilet bersih, ada sarana ibadah, dan dikelola dengan baik. Pada kurun waktu 2004 – 2013, program revitalisasi telah menyentuh 472 pasar tradisional dengan biaya Rp 472 miliar. Tahun ini (2014) program berlanjut dengan alokasi Rp 54 miliar bagi 60 pasar tradisional.

Keberadaan koperasi dan UKM, menurut dia, cermin kehidupan perekonomian, tata pergaulan sosial dan budaya masyarakat, bahkan peradaban bangsa. Untuk itu sepatutnya ada rasa malu dan risi apabila PKL tidak tertata dan semrawut, serta pasar tradisional kumuh, bau dan jorok. Pada 2013 telah dibangun 254 lokasi PKL dan 472 pasar tradisional yang dikelola koperasi. Pada 2014 akan segera dibangun 88 lokasi PKL dan 60 pasar tradisional. Untuk penguatan modal, selama 2007 – 2013 telah disalurkan kredit usaha rakyat (KUR) senilai Rp 179,2 triliun untuk 12,3 juta debitur. Tahun ini, kredit usaha rakyat yang akan disalurkan senilai Rp 36 triliun.

Soal akses UKM terhadap perbankan belum maksimal, memang hal ini menjadi problem UKM di seluruh dunia. Yang membuat belum maksimal karena UKM itu sebagian terbesar belum familier terhadap perbankan. Tetapi bila mereka sudah mulai interaksi dengan perbankan, performance-nya relatif bagus. NPL – kredit macetnya rendah sekali, hanya sekitar 2%. Dengan kredit lalai demikian rendah, kecuali bank plat merah – bank milik negara yang “dipaksa” memberikan contoh menyalurkan KUR, bank swasta pun mulai banyak yang menyalurkan kredit kepada UMKM.

Karena sebagian besar pelaku UMKM adalah di sektor informal, sehingga mereka tidak memiliki formalitas-formalitas yang oleh bank disebut bankable. Ada perbedaan treatmen antara usaha mikro dengan usaha yang biasa. Untuk usaha mikro, pihak perbankan harus mendatangi nasabah. Begitu didatangi, mereka sangat senang. Tetapi akibatnya, karena harus mendatangi pengusaha kecil – nasabah yang jumlahnya demikian besar, kurang efisien, dan resiko cost – biayanya menjadi begitu besar. Akibatnya timbul pandangan bahwa bunganya tinggi. Belum lagi banyak prosedur administrasi yang harus dipenuhi. Di sinilah perbedaannya sehingga pengusaha kecil ketakutan berinteraksi dengan perbankan.

Data menunjukan, dari 56,7 juta usaha kecil dan menengah baru 30% yang memiliki akses ke perbankan. “Kami selalu memfasilitasi, mengakses dan mensupervisi agar mereka kemudian familier dengan perbankan. Salah satu indikator keberhasilan, para pengusaha mikro sudah sangat banyak yang meningkat kelasnya. Data terakhir, dari hampir 10 juta penerima KUR di seluruh Indonesia sekitar 800.000 nasabah naik kelas. Ini bukti, kalau sudah familier berinteraksi dengan perbankan akan mengalami peningkatan daripada kapasitas bisnis mereka.

Kementerian Koperasi dan UKM, kata Syarief Hasan, selalu mensosialisasikan bahwa sekarang dipermudah. Karena pemerintah memiliki kebijakan seperti itu diharapkan UKM akan menjadi lebih mampu. Salah satu bank swasta yang sangat merespon usaha kecil adalah Bank Danamon. Untuk menjangkau potensi yang demikian besar, Bank Danamon membuka cabang di pusat-pusat bisnis tradisional atau perajin, dan kini memiliki sekitar 1500 cabang. Sampai akhir tahun 2013 tercatat 80.000 nasabah dari pelaku UKM.

Ada beberapa solusi yang dibagi, dalam 3 solusi utama. Pertama solusi transaksi dengan memberikan segala kemudahan untuk mempermudah transaksi nasabah. Petugas datang menjemput setoran maupun angsuran nasabah, sehingga mereka yang dagang di pasar tidak kehilangan waktu untuk datang ke bank. Kedua solusi pembiayaan, program ini untuk mempermudah permodalan kepada para UKM. Ketiga solusi proteksi, perbankan bekerja sama dengan perusahaan asuransi jika ada hal-hal tertentu, seperti kecelakaan, kesehatan dan lain-lain resiko itu bisa diminimalisi dan usaha tersebut masih bisa dilanjutkan.

Para pengusaha kecil yang lebih banyak bergerak di sektor informal, diarahkan ke sektor perbankan sehingga seluruh transaksinya ter-record dengan baik di bank sehingga mereka memiliki historical yang baik, dan kelak bisa berkembang. Akses ini sangat diperlukan supaya pada saatnya nanti bisa dipergunakan dengan baik. Dengan menjadi nasabah bank bukan sekedar mendapatkan pinjaman bank tetapi juga simbul kepercayaan. Dan hal itu akan sangat membantu terhadap perkembangan bisnis mereka, dari mikro – kecil – menengah, dan menjadi besar. Karakter UMKM masih harus banyak dilakukan edukasi – pelatihan. Terutama pemanfaat teknoklogi sehingga mempermudah transaksi mereka. Dalam hal ini pihak perbankan harus terlibat banyak untuk mengadakan seminar, bekerja sama dengan para pelaku UMKM sendiri, juga kerja sama dengan perguruan tinggi untuk memberikan akses – penjelasan bagaimana cara memenejemen yang baik.

Pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengembangkan UMKM, kata Menkop & UKM, antara lain melakukan pendampingan. Pendampingan itu dimulai dari bagaimana mengakses perbankan, pendampingan bagaimana berproduksi. Baik produksi barang, maupun produksi jasa. Lalu melakukan pendampingan menyangkut promosi – pemasaran. Disamping itu juga melakukan pendidikan dan pelatihan untuk menjadi wirausaha, proses incubator, melakukan kerjasama dengan universitas di dalam menciptakan, bagaimana mereka bisa melakukan aktivitas bisnisnya agar bisa efisien. “Untuk efisien mereka harus beradaptasi dengan teknomogi, beradaptasi dengan perbankan. Ini adalah salah satu strategi agar usaha mereka efektif sehingga mendatangkan nilai tambah – keuntungan” urai Syarief Hasan.

Ada beberapa hal yang masih sering dikeluhkan calon pelaku usaha. Salah satunya menyangkut perizinan. Menurut dia, Kementerian Koperasi dan UKM sudah mengindentifikasi, karena banyak peraturan daerah yang dibuat oleh pemerintah daerah yang bertabrakan dengan UU No 17 tahun 2012 tentang perkoperasian, dan UU No 20 tahun 2008 tentang UKM, sehingga terjadi tumpang tindih. Sejak tahun itu Kementerian Koperasi dan UKM merevisi dan mengharapkan peraturan-peraturan daerah tersebut di-re off – dibatalkan sehingga mempermudah para pelaku usaha mikro, kecil untuk meningkatkan usahanya.

Usaha-usaha besar di seluruh dunia selalu dimulai dari usaha kecil. Kita kenal dengan Billget, dia mengawali usaha dari garasi rumahnya. Demikian banyak usaha besar yang semua dimulai dari usaha kecil. Berkat ketekunan, kerja keras, tahan banting, tahan uji, dan mau terus belajar profesionalis akhirnya naik kelas dan maju. Usaha mikro tidak selamanya akan menjadi usaha yang sangat mikro, tetapi akan bisa menjadi usaha kecil, menengah, dan selanjutnya menjadi usaha besar.

Pemerintah sangat setuju bahwa potensi market – pangsa pasar yang 250 juta rakyat Indonesia itu merupakan potensi yang luar biasa besarnya. Dan ternyata kualitas produk-produk dalam negeri tidak kalah dengan produk dari luar negeri. Pangsa pasar yang demikian besar seharusnya menjadi potensi bagi pelaku UKM karena income per kapita kita – rakyat Indonesia juga sudah tumbuh makin baik. (adit – my – yuni)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *