Mikael, SH: Spin off Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Anggota

“Kami punya hutan warisan moyang Jung’ai di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Anak cucu terus menjaga dan merawatnya sampai sekarang. Ketika ekspansi perusahaan sawit kemana-mana, kami menolak. Kurang lebih 3.000 hektar menjadi kawasan enclave, tidak tersentuh kelapa sawit. Kawasan ini terdiri atas kawasan perumahan, berladang, dan hutan primer cukup luas,” urai DR Munaldus, MA, tokoh sentral berdirinya Credit Union (CU) Keling Kumang, Kalimantan Barat.

Di hutan itu masih ada beruang, monyet dan lain-lain. Disepakati, hutan terus dijaga dan dirawat agar tidak rusak. Karena menjadi kawasan yang unik, dijadikan kawasan wisata hutan. Walau kawasan wisata baru tahap pengerjaan, warga kampung  berduyun-duyun datang berwisata. Untuk meningkatkan kesadaran betapa pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan, dibuat beberapa baleho pengumuman. Di kampung enclave ini berdiri CU Keliling Kumang yang terus memberdayakan masyarakat dalam bidang ekonomi, sosial politik, lingkungan, seni dan lain-lain.

Menceritakan kepada Majalah UKM tentang terbentuknya CU Keliling Kumang, sesaat sebelum diskusi mengenai Rancangan Undang-Undang (UU) Perkoperasian, di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, beberapa waktu silam, Mikael, SH, salah seorang pendiri, yang dipercaya menahkodai CU Keliling Kumang yang kini telah berusia 26 tahun, didirikan pada 25 Maret 1993, mengatakan; “Mendirikan CU karena prihatin melihat kondisi ekonomi keluarga-keluarga di kampung halaman.”

Awalnya, Institut Dayakologi – saat itu bernama Institut Dayakologi Research and Development, pada 26 – 28 November 1992 menyelenggarakan Seminar dan Ekspo Budaya Dayak di Pontianak. Seminar diadakan di Hotel Kapuas Palace, dan Pameran Budaya Dayak di Auditorium Universitas Tanjungpura (Untan). Para peserta wakil-wakil Dayak dari 4 propinsi di Kalimantan, juga ada wakil Dayak dari Sabah dan Serawak, Malaysia. Paparan seminar disampaikan oleh Bupati Barito Utara, Kalimantan Tengah, AJ. Nihin, tentang keprihatinan terhadap kemiskinan masyarakat Dayak. Sebagai bupati dan putera Dayak, ia telah berusaha keras memperbaiki nasib rakyatnya.

Mendengar paparan Bupati Nihin, Munaldus yang ikut seminar berpikir, nasib masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, sesungguhnya tidak jauh berbeda. Khususnya, nasib keluarga-keluarga di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau, Kec. Sekadau Hilir, Kab. Sanggau (sekarang Kab. Sekadau). Maka muncul gagasan untuk mendirikan CU. Berpikirnya, Jika CU Pancur Kasih bisa berkembang kenapa tidak mencoba mendirikan CU di kampung halaman sendiri. Munaldus yang juga salah seorang pendiri CU Pancur Kasih optimis bila didirikan CU di kampung halamannya warga akan sangat terbantu. Sebab, CU berfungsi sebagai penyandang dana guna peningkatan ekonomi, sarana belajar, sekaligus alat pengorganisasian masyarakat untuk mempertahankan tanah dari rampasan perkebunan kelapa sawit.

Seminggu setelah seminar, Munal mengundang kawan-kawannya dari kampung Tapang Sambas dan Tapang Kemayau yang tinggal di Pontianak untuk rapat di rumah kontrakan Masiun guna mewujudkan pendirian CU di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau. Yang hadir antara lain; Masiun (guru di SMP Santo Fransiskus Asisi, Pontianak), Mikael (pegawai PT. Tanah Sakti), Hadrianus Lukas (pegawai PT. Tanah Sakti), Alipius (pegawai PT. Vitamo), Martina (siswi SMA Santo Fransiskus Asisi, Pontianak), dan Mulyana (siswi SMP Santo Fransiskus Asisi, Pontianak).

Peserta rapat setuju mendirikan CU. Munal mengusulkan namanya CU Keling Kumang. Nama itu diambil dari cerita legenda Buahmain di Rumah Punyong yang sangat populer tentang pasangan suami isteri Keling dan Kumang. Mereka semua setuju tentang nama tersebut. Langkah berikutnya, kata Mikael, mengkomunikasikan kepada tokoh-tokoh masyarakat di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau, antara lain kepada orang tua Munaldus sendiri, Rurut dan Theresia Ina, Kepala Desa, Samin, Kepala Dusun, Agus dan Nintin, juga guru-guru; Paulus Perang, Simon Petrus, FX. Omeng, A.H. Suyanto, Carolus Sanga Laga dan sebagainya. Prinsipnya, mereka setuju berdirinya CU Keling Kumang di Kampung.

Masa sosialisasi dan pengorganisasian sekitar 4 bulan. Karena dapat sambutan positif dari masyarakat, maka pada 25 Maret 1993 diselenggarakan rapat di rumah keluarga Simon Petrus dan Sema. Rapat yang dihadiri 30-an orang itu menyepakati pendirian CU Keling Kumang. Namun dari peserta rapat yang hadir hanya 26 orang yang menjadi anggota. Mereka memiliki Nomor Buku Anggota (BA) dari 01 – 26. Lainnya masih ragu-ragu lantaran belum memahami tentang CU.

Sebagai pelopor Munaldus dan Masiun merogoh kocek sendiri untuk beli ATK, kalkulator kecil seharga Rp. 11.000,- dan pembuatan cap organisasi serta kelengkapan lain; buku daftar uang masuk, buku daftar uang keluar, buku kas harian, dan buku jurnal kas, agar dapat segera melayani anggota. Rapat juga memutuskan – menunjuk Sila Persius sebagai orang yang bertanggungjawab – pelaksana harian. Karena belum punya kantor, ditetapkan juga semua kegiatan pelayanan dilakukan di rumah keluarga Sila. Saat itu, kata Mikael, pelayanan anggota dilakukan hanya pada hari Minggu usai kebaktian di gereja, atau pada malam hari tetapi belum setiap hari.

Pelayanan pada hari Minggu usai kebaktian, semata-mata hanya karena masih adanya keterbatasan sumber daya manusia (SDM), bukan karena CU Keling Kumang ada keterkaitannya dengan gereja secara langsung. CU Keling Kumang agak berbeda dengan CU CU lain yang kelahirannya diinisiasi oleh PSE Paroki. CU Keling Kumang lahir benar-benar dari kebutuhan masyarakat.

Waktu didirikan modal awal sebesar Rp 260.000,- Lembaga itu memprioritaskan pinjaman untuk pendidikan. Diyakini hanya dengan pendidikan yang tinggi masa depan seseorang akan menjadi lebih baik, diperhitungkan. Dalam waktu kurang dari setahun, Keling Kumang menjadi bahan pembicaraan masyarakat pedalaman di Sekadau karena hampir semua warga dua kampung itu menjadi anggota dan mendapatkan kemudahan meminjam.

Kehadiran CU sepertinya telah lama dirindukan masyarakat. Terbukti banyak warga dari kampung tetangga pun mempertanyakan; “Kenapa tidak dikembangkan ke kampung-kampung yang berdekatan?” Pertanyaan itu, terutama datang dari sanak family – keluarga yang tinggal di Kampung Baru, Tanah Putih, Lengkenan, Tapang Semedak, dan sekitarnya. Melihat animo warga cukup besar, maka diadakan sosialisasi dan pendidikan di kampung-kampung sebelah.

Credit Union memang harus dimulai dari pendidikan, dikembangkan dengan pendidikan dan dikontrol oleh pendidikan. “Kami terus menanamkan prinsip yang harus dipegang teguh oleh anggota, yakni pendidikan, swadaya, dan solidaritas,” jelas Mikael. CU adalah lembaga keuangan yang mengutamakan watak anggotanya. Keling Kumang didirikan dengan modal kepercayaan antar anggota. Prinsipnya; ”dari-oleh-dan untuk” anggota.

Penyebaran virus kesejahteraan, sering pula disebut; “credit union adalah jalan keselamatan ekonomi umat manusia,” terus berlanjut dengan mencari keluarga-keluarga di kampung lain. Konsep pengembangannya memang lebih mengutamakan jalur keluarga. Contoh, jika suami sudah menjadi anggota, mengajak isterinya menjadi anggota. Kemudian, orang tua, kakak, adik, mertua, ipar dan seterusnya. Ada yang mengatakan, mengembangkannya dimulai dari; sekasur (suami isteri), sedapur (anak, orang tua) dan sesumur (saudara dekat maupun tetangga).

Kondisi daerah pedalaman Kalimantan Barat pada tahun 1990-an masih terisolir. Untuk sosialisasi dan melakukan pendidikan ke kampung-kampung hanya bisa menggunakan kendaraan roda 2 – motor, atau harus berjalan kaki berhari-hari. Hujan dan panas bukan halangan – rintang. Harus menginap di kampung tempat diadakan sosialisasi – pendidikan hal biasa. Tak jadi persoalan karena mereka keluarga. Bila ada pertemuan, yang mengeluarkan biaya untuk beli gula, kopi dan sebagainya tuan rumah. Pergerakannya dari satu desa menyeberang ke desa lain, dan lanjut ke kecamatan lain, karena ada keluarga di sana.

Semua bahu-membahu kerja keras karena ingin memajukan – menyejahterakan keluarga. Tugas pengurus, pengawas dan manajemen juga bukan sekedar mencari anggota, tetapi mereka harus membuktikan militansi yang sebenarnya. Pengurus dan pengawas semua kerja sukarela, tidak digaji. Itulah gambaran militansi gerakkan credit union – Koperasi Kredit (Kopdit) di Kalimantan Barat. Dampak perubahan pola pikir itu luar biasa. Banyak warga yang bergairah menyekolahkan anak-anaknya. Mereka juga mengembangkan sektor-sektor produktif untuk menopang ekonomi keluarga.

Menurut Mikael, 5 tahun pertama, di era Orde Baru (Orba) untuk melakukan pertemuan dengan jumlah peserta banyak orang, agak susah. Maka pertemuan sering diadakan di rumah-rumah keluarga, aula gereja, sekolah Katolik. CU Keliling Kumang bukan hanya untuk sekelompok etnis, suku Dayak saja, misalnya, atau umat agama tertentu. Tetapi, CU Keling Kumang terbuka untuk siapa saja yang mau membangun kebersama untuk menuju sejahtera bersama. Di kampung, mayoritas memang etnis Dayak, dan rata-rata umat Katolik.

Seiring perkembangannya, kata Mikael, ada keluarga yang beragama Islam juga masuk menjadi anggota. Mang Ujang, misalnya, salah seorang staf yang beragama Islam. Dia malah menjadi motivator. “Secara fisik, Mang Ujang cacat tidak bisa jalan tanpa alat bantu, tetapi semangat kerja dan memotifasinya luar biasa. Melalui Mang Ujang, menurut silsilah masih saudara, keluarga-keluarga Muslim lainnya diyakinkan bahwa Keliling Kumang tidak untuk satu suku atau umat tertentu, tetapi terbuka untuk siapa saja. Mang Ujang jadi contoh. Ketika melakukan sosialisasi kepada masyarakat selalu bilang; Apalagi kalian yang sehat walafiat, saya yang tidak bisa jalan saja mau mengembangkan CU,” tutur Mikael.

Sampai 10 tahun pertama, lanjut dia, karena dianggap sangat efektif, sosialisasi dan pengembangan keanggotaannya tetap menggunakan jalur keluarga anggota. Membangun loyalitasnya melalui pendidikan dan pemahaman tentang credit union. Semboyannya; “Anda sakit saya bantu, saya sakit Anda bantu.” Di situ ada solidaritas dan swadaya. Tiga pilar utama CU adalah; Pendidikan, Solidaritas dan Swadaya. Lalu ditambah lagi 2 pilar yaitu; Inovasi dan Persatuan Dalam Keragaman.

Memasuki era reformasi – era kebebasan dimana credit union tidak lagi dicurigai sebagai gerakkan yang akan merong-rong wibawa pemerintah, perkembangan Keling Kumang semakin pesat. Sampai awal tahun 2000-an Munaldus sebagai ketua masih tetap berduet dengan Sila, yang sejak awal berdiri mengendalikan manajemen. Ibarat sprinter meski start belakangan namun akhirnya mampu melesat cepat, mengejar pelari-pelari lain yang start lebih awal.

Mesin penggerak manajemen semakin dinamis, bekerja cepat dan efektif setelah dipercayakan kepada Yohanes Rj. Aktivis lingkungan hidup yang telah berakhir masa jabatannya sebagai Direktur Walhi itu dipanggil pulang kampung untuk mengurus CU. Yohanes yang pernah menjadi staf dan anggota Badan Pengawas CU Keliling Kumang, menurut Mikael memang dipersiapkan untuk menjadi General Manager (GM). Namun sebelumnya dia harus menguasai persoalan lapangan terlebih dahulu.

Banyak orang yang terkagum-kagum begitu pesatnya kemajuan CU Keliling Kumang. Dari jumlah anggota, misalnya, tahun 2018 menembus angka 175.000 orang, dengan aset sebesar Rp 1,4 triliun, dilayani di 65 kantor yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat (Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Melawi, dan Kota Pontianak). “Kami tumbuh dan berkembang karena menerapkan prinsip inovasi dengan IT. Kami sudah online system sehingga operasional bisnis mampu tumbuh denan baik,” jelas Mikael.

Daya tarik lain bagi anggota, jasa pinjaman relatif kecil, yakni 2% menurun atau rata-rata 13% per tahun. Untuk pinjaman pendidikan bahkan hanya 1% menurun. Adapun jasa tabungan 3% – 10% per tahun. Bagi anggota yang mengembangkan usaha, jasa pinjaman hanya 1,5% menurun. Bahkan ada yang hanya 1,2%, tergantung usahanya. Yang mendapat pinjaman dengan jasa murah, kata Mikael, kelompok usaha. Apapun usahanya, yang penting mereka dalam kelompok. Anggota semakin banyak karena ada produk simpanan untuk bantuan kesehatan.

Di kampung kelahiran Keling Kumang anak-anak mengenyam pendidikan hingga lulus sarjana. Generasi inilah yang menggerakkan sektor-sektor produktif dan membuat perkampungan lebih hidup dari sisi ekonomi. Keberhasilan itu, tak lepas dari budaya menabung di koperasi. Membiasakan budaya menabung dampaknya dahsyat. Warga sekampung yang dulu hidup miskin, kini relatif lebih sejahtera karena biasa menabung. Mereka setiap saat bisa menarik pinjaman untuk keperluan sekolah atau keperluan produktif lainnya.

Untuk memudahkan orangtua yang hendak mengirim uang bagi anak-anaknya yang sekolah di Pontianak, CU Keling Kumang memelopori cara pengiriman cepat. Kalau harus membawa uang ke Pontianak, waktunya bisa setengah hari, ongkosnya pun mahal. Karena sudah online system mereka hanya perlu membawa uang ke kantor pelayanan di kampung, lima menit kemudian anaknya sudah bisa mencairkan di tempat pelayanan di Kota Pontianak.

Sejak tahun 2016 CU Keling Kumang sudah memulai semuanya dengan online, kemudian tahun 2018 dikembangkan dengan membuat satu aplikasi mobile yang disebut Keling Kumang Mobile. Aplikasi ini mulai digunakan sejak September 2018. CU Keling Kumang juga terus mengembangkan IT (Fintech) guna memudahkan pelayanan kepada anggota. Tahun 2019 memanfaatkan IT secara maksimal terutama melalui Keling Kumang Mobile, ATM bersama, SMS notifikasi, Mobile Program dan RAT Online.

Keling Kumang kini telah mengembangkan unit-unit usahanya – spin off, yaitu; Yayasan Keliling Kumang, Koperasi Konsumen Lima Dua (K-52), Koperasi Produsen Tujuh Tujuh (K77), dan Koperasi Jasa Ladja Tampun Juah. “Spin off itu untuk meningkatkan kesejah teraan anggota,” jelas Mikael.

Keling Kumang Group (KKG) didirikan 7 Juli 2014 sebagai lembaga pengikat dan menjadi think tank bagi semua unit bisnis untuk membangun dan memperkuat jaringan (Lokal-nasional-internasional). Mengawal dan memperkuat tata kelola unit-unit bisnis, agar bisa mandiri, berkelanjutan dan berkontribusi terhadap kesejahteraan anggota melalui program entrepreneurship – kewirausahaan.  

KKG memiliki visi Konglomerasi Sosial Untuk Membangun Bangsa dan Misi Kalimantan Tanpa Kemiskinan.  Sungguh Visi dan Misi yang luar biasa. Jika dibarengi dengan usaha, tidak ada yang tak mungkin. KKG sudah memiliki Badan Hukum (BH) Perkumpulan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No AHU-0066819.AH.01.07.TAHUN 2016 dan No Registrasi: 6016062961106189, 29 Juni 2016.

Untuk meningkatkan produksi koperasi langkah-langkah yang dilakukan adalah mendorong peningkatkan jumlah petani aren yang dibina. Saat ini sudah ada sekitar 2.000-an petani aren yang dimodali dan dibimbing. Para petani sawit juga diharapkan mampu meningkatkan produksinya dari 1 ton – 2 ton menjadi 2,7 ton – 3,8 ton per bulan. Mikael mencontohkan, anggota CU Keling Kumang yang berprofesi sebagai petani karet dan sawit meminjam modal usahanya dari CU Keling Kumang, lalu membeli segala kebutuhan pertaniannya (pupuk, bibit, dan sebagainya) dari K77.

Untuk K52 kini sudah memiliki beberapa outlet minimarket yang berlokasi di Ketapang, Sekadau, Melawi, dan Sintang. Khusus untuk outlet di Sintang, tak hanya minimarket tapi juga departement store. Guna memperluas pasar produk-produk anggota seperti keripik ubi dan keripik pisang telah dijajaki kerjasama dengan ritel besar Indomaret dan Alfamart. Sertifikat halal untuk produk-produk anggota sedang diurus.

CU Keling Kumang juga mendirikan unit lain, yaitu Self Help Group (SHG) yang bertugas memberikan pendampingan bagi para anggota yang memiliki usaha. Saat ini, Keling Kumang sudah memiliki sekitar 150 kelompok usaha yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan, sawah (padi), karet, sawit, kopi, dan juga kakao. CU KK juga punya pabrik gula aren yang mampu memproduksi 1 ton perbulan. Hasilnya, dijual di outlet-outlet K52 dan minimarket lainnya di Kalbar.

Yang juga tengah membangun beberapa Pilot Project seperti industri lebah madu dan serai wangi. Ada juga pengembangan ekowisata, PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidro), hingga pipanisasi air bersih. Bekerjasama dengan Astra memberikan pelatihan kepada anggota dalam bidang sepeda motor. Nantinya, mereka yang sudah mahir dilatih akan membangun bengkel sepeda motor berikut pengadaan spareparts-nya. Masalah permodalannya akan melalui CU Keling Kumang.

Koperasi Jasa Ladja Tampun Juah, pada 2017 telah meluncurkan Ladja Hotel yang memiliki 20 kamar dengan investasi Rp 8 miliar. Selain itu juga mengembangkan ekowisata dan ekobudaya. Saat ini sudah ada 48 bilik homestay di kawasan Hutan Adat Sungai Utik, dan ada 4 kamar di kawasan Lubuk Lantang, Kalimantan Barat. Peluang bisnis perhotelan, ekowisata dan ekobudaya cukup besar.

Yayasan Pendidikan Keling Kumang pada tahun 2007 telah mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Keling Kumang yang berlokasi di Kabupaten Sekadau. Jumlah siswanya cukup besar, lebih dari 900-an siswa. Bahkan juga sudah mengurus izin ke Kopertis XIII untuk mendirikan perguruan tinggi. Rencana mendirikan universitas itu bertujuan untuk lebih membangun kualitas SDM. “Kita akan fokus membangun SDM di sektor teknologi, seperti agrobisnis dan agro industri. Kelak anak-anak dari anggota CU Keling Kumang bisa berkuliah disini”, ucap Mikael.

Terkait kaderisasi, kata Mikael, sudah berjalan secara signifikan. Saat ini, sebanyak 35% dari total anggota CU Keling Kumang anak-anak muda di bawah usia 35 tahun. Bahkan, dari 500 lebih jumlah karyawan di Keling Kumang, 50% merupakan generasi milenial. CU Keling Kumang telah mendapat penghargaan dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sebagai koperasi terbaik dalam sektor simpan-pinjam. Ini menjadi bukti bahwa kalangan warga tidak mampu tetap bisa berdaya kalau bersatu dan saling tolong-menolong. (adit – mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *