Milenial Pembunuh Berdarah Dingin

Mengapa Millenial bisa menjadi pembunuh berdarah dingin bagi begitu banyak produk dan layanan? Itu karena perilaku dan preferensi mereka berubah begitu drastic sehingga produk dan layanan tersebut menjadi tidak relevan lagi, alias punah ditelan zaman. Contohnya, golf. Tren dunia menunjukan, sepuluh tahun terakhir viewership ajang-ajang turnamen golf bergengsi turun drastic setelah mencapai puncaknya di tahun 2015.

Tahun lalu, 2018, bahkan turun lebih drastic mencapai kisaran 75%. Porsi kalangan millenial yang menekuni olahraga ini juga sangat kecil hanya 5%. Olahraga elite ini memang digemari kalangan Baby Boomers dan Gen-X namun tidak demikian halnya dengan milenial. Celakanya, semakin surut populasi Baby Boomers dan Gen-X, maka semakin tidak popular pula olahraga yang lahir sejak abad 15 ini. Dan bisa jadi suatu saat akan punah.

Yang sudah kejadian sekarang adalah department store. Tahun lalu kita menyaksikan department store di seluruh dunia termasuk di Indonesia (Matahari, Ramayana, Lotus) pelan tetapi pasti mulai berguguran. Sumber penyebabnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya. Pertama, karena mereka mulai berbelanja via online. Kedua, milenial kini tak lagi heboh berbelanja barang (goods), mereka mulai banyak mengonsumsi pengalaman (experience – leisure).

Mereka ke mall bukan untuk berbelanja barang, tetapi cuci mata, nongkrong dan dine out mencari pengalaman menghilangkan stress. Pasar property beberapa tahun terakhir seperti diam di tempat. Alih-alih semua pelaku berharap ini hanya siklus “bullish-bearish” biasa yang nanti naik dengan sendirinya, namun dicurigai ini adalah kondisi “bearish berkelanjutan” sebagai dampak terbentuknya “new mormal” perekonomian kita yang lesu dalam jangka panjang.

Mungkin biangnya bisa berasal dari pergeseran perilaku dan preferensi milenial. Beberapa kemungkinannya; Milenial mulai menunda nikah, menunda punya rumah, dan menunda punya anak. Belum lagi minimalist lifestyle yang kini banyak diadopsi milenial mendorong mereka memilih rumah ukuran mini.

Program KB yang sukses membuat late Baby Boomers dan Gen-X membentuk keluarga kecil dengan dua anak. Dengan jumlah anggota keluarga yang kecil, maka anak-anak mereka (milenial) cenderung menempati rumah orang tua dan sharing dengan sesame saudara. Maka, tak perlu beli rumah baru lagi. Ini yang menjadi biang kenapa market size property cenderung mandek. Tak hanya itu, tempat kerja pun nantinya pelan tetapi pasti bisa “dibunuh” oleh milenial.

Bagi Baby Boomers dan Gen-X bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 8 pagi sampai 5 sore adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial. Milenial mulai menuntut fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mereka mulai menuntut pola kerja “remote warking”, flexible working schedule” atau “flexi job”.

Survei Deloitte menunjukan, 92% milenial menempatkan flesibiltas kerja sebagai prioritas utama. Tren ke arah “freelancer,” “digital nomad” atau “gig economy” kini kian kuat. Kerja bisa berpindah-pindah; 3 bulan di Ubud, 4 bulan di Raja Ampat, dan 3 bulan berikutnya di Chiang May. Istilah kerennya workcation – kerja sambil liburan.

Apa dampak dari millennial shifting tersebut terhadap kantor-kantor yang masih menerapkan working style ala Baby Boomers dan Gen-X? Pasti, kantor-kantor jadul itu akan ditinggalkan angkatan kerja yang kelak akan didominasi milenial. Kantor itu akan punah dan melapuk. (red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *