Milenial Sumber Penciptaan New UMKM

Pandemi COVID-19 belum juga usai. Dia menjadi perbincangan dunia awal 2020 dan Indonesia pun tak luput terkena imbas. Tidak hanya jumlah korban yang terus bertambah, aktivitas ekonomi lesu, hingga ancaman penambahan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa perusahaan. Roda perekonomian melambat.

Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terdampak luar biasa akibat pandemi Covid-19 tersebut.  Hal ini jauh berbeda dibanding situasi krisis di tahun 1998 di mana UMKM tampil sebagai pahlawan ekonomi nasional. Saat ini, Covid-19 dampaknya multidimensi di seluruh dunia. Karena itu sekarang UMKM pun sangat terdampak baik dari segi supply maupun demand.

Ada banyak survei dilakukan, mulai dari ADB, McKinsey hingga pihak Kemenkop UKM. Dari survei ADB, 50% UMKM diperkirakan menutup usahanya, sementara 88% usaha mikro sudah tidak memiliki tabungan. Dari survei Kemenkop, paling terdampak dari sisi penjualan. Rata-rata omzet turun 40%-70%, yang otomatis pendapatan mereka menurun. Maka, pihak Kemenkop UKM turut membantu dari segi penjualan, lewat belanja pemerintah dan lembaga. Tahun 2020 ada Rp324 triliun anggaran untuk dibelanjakan produk koperasi dan UMKM.

Banyak yang mengatakan; “Generasi milenial bakal menjadi sumber penciptaan wirausaha yang unggul. Milenial punya kiprah meningkatkan kesejahteraan bangsa dan ekonomi di masa depan.” Kiprah milenial dapat kita lihat dari sekarang, pada berbagai bidang. Memulainya menjadi pelaku UMKM. Mereka bangkit sebagai kekuatan ekonomi baru. Milenial yang memiliki jiwa tangguh dan budaya kewirausahaan tinggi akan menjadi sumber penciptaan entrepreneur unggul.

Milenial yang mendominasi ini dianggap mampu mengangkat UMKM go global, seiring dengan terbiasanya mereka menggunakan gawai. Sebab bagaimanapun, UMKM harus kreatif memahami selera pasar dan mengembangkan metode pemasaran termasuk pemasaran digital. Di era new normal, akselerasi digital menjadi solusi untuk menjadikan UMKM Indonesia menjadi new UMKM sebagai sumber pertumbuhan baru ekonomi kita menuju Indonesia baru.

Revolusi Industri 4.0 telah membawa perubahan signifikan terhadap  berbagai sendi kehidupan  manusia, dengan nyata kita dapat mencermati bagaimana perubahan tersebut menjadi fenomena dashyat yang tidak terbendung. Perusahaan-perusahaan dunia juga di Indonesia berlomba-lomba melakukan inovasi untuk memenangkan persaingan pasar ditengah semakin ketatnya kompetisi.

Inovasi yang dilakukan diantaranya dilakukan dengan strategi transformasi digital,  melakukan perubahan menyeluruh atas setiap proses, kompetensi, dan model bisnis dengan implementasi teknologi digital, sejalan dengan rekomendasi berbagai lembaga riset global yang menjadikan transformasi digital sebagai pengarusutamaan organisasi dalam memenangkan persaingan global.

Inovasi telah masif menjalar ke seluruh lini kehidupan ditengah dinamika relasi dunia yang semakin dinamis, terdapat beberapa perubahan radikal yang akhir-akhir ini terlihat bergerak sangat cepat, salah satunya melalui digitalisasi, yang ditandai dengan ciri-ciri antara lain, berlakunya vertical networking, jaringan sudah tidak lagi memiliki sekat-sekat atau hierarki.

Vertical networking selanjutnya diikuti dengan horizontal integration sebagai bentuk kongkrit kolaborasi yang lebih mengedepankan output, inovasi yang inheren dengan digitalisasi, melahirkan fenomena baru dengan semakin masifnya konsep-konsep sharing economy, internet of things, e-commerce, finansial technology, artificial intelligence dalam berbagai bidang kehidupan, utamanya persaingan ekonomi.

Digitalisasi ekonomi terbukti telah membawa berbagai perubahan, dengan digital ekonomi setidaknya memberikan benefit dalam meraih efisiensi, efektivitas, penurunan cost production, kolaborasi, terkoneksinya satu pihak dengan pihak lain, oleh karena itu, transformasi digital ekonomi, sudah selayaknya dijadikan alternative solusi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.

Dalam ekonomi digital setidaknya terdapat 4 hal penting yang terkait dengan aktivitas ekonomi digital, dimana letak geografis tidak lagi relevan, adanya platform tertentu yang menjadi kunci utama dan berkembangnya jejaring kerja serta penggunaan big data. Ekonomi digital menjadi fenomena baru yang semakin memiliki peran strategis dalam perkembangan ekonomi global. Bila mencermati laporan Huawei dan Oxford Economics berjudul Digital Spillover (2016), size ekonomi digital dunia telah mencapai 11,5 triliun dollar atau berkisar 15,5% dari GDP dunia.

Besarnya konstribusi ekonomi digital terhadap size ekonomi dapat dicermati dari perdagangan Online, telah mengubah landscape ekonomi dunia sebagai “wajah baru” ekonomi global. Mengacu laporan McKinsey (2018), setidaknya perdagangan online memiliki dampak di empat area.

Pertama, financial benefits. Memberi manfaat ekonomi yang dahsyat bagi ekonomi suatu bangsa, misalnya Indonesia sebagai pasar terbesar untuk e-commerce di Asia Tenggara. Nilainya kurang lebih 2,5 milyar dollar dan diprediksi akan menjadi 20 milyar dollar di tahun 2022.

Kedua, job creation. Diperkirakan akan ada 26 juta pekerjaan baru di tahun 2022 akibat dari ekonomi digital yang kebanyakan dipengaruhi oleh perkembangan UMKM. Agaknya ini juga yang membuat Jack Ma membuat strategi agar Alibaba fokus pada UMKM di China.

Ketiga, buyer benefits. Ini bisa dilihat dari harga-harga di marketplace e-commerce yang biasanya lebih murah dari offline. Keempat, social equality. Ekonomi digital telah berdampak terhadap kesetaraan gender, inklusi layanan keuangan, pemerataan pertumbuhan dan masalah sosial lainnya.

Bagi Indonesia, ekonomi digital memberikan harapan baru akan transformasi ekonomi yang diprediksi dapat menjadi prime mover ekonomi Indonesia. McKinsey menyebutkan bahwa ekonomi digital Indonesia sekarang hampir sama dengan China pada tahun 2010, berdasarkan indikator-indikator seperti penetrasi e-retail, GDP per kapita, penetrasi internet, pengeluaran ritel.

Capaian tersebut sekaligus menunjukan semakin diperhitungkannya Indonesia di Kawasan regional Asia Tenggara, dimana dari 8 Unicorn setengahnya berasal dari Indonesia, seperti Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak. Begitupun dengan nilai pendanaan yang didapat Indonesia dari venture capital selama tiga tahun mencapai 38% dari total pendanaan di Asia Tenggara.

Ekonomi digital Indonesia bila dicermati dari salah satu pilarnya, menempati peringkat tertinggi dalam pertumbuhan E-commerce di dunia. Pertumbuhan E-commerce Indonesia mencapai 78%, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan dunia yang hanya 14% dan Asia 28%. Berbagai capaian tersebut dapat menjadi penambah semangat bagi para pemangku kepentingan untuk terus berkolaborasi menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan ekonomi digital.

Komitmen pemerintahan Presiden Jokowi dalam pengembangan ekonomi digital telah dimulai dengan dibatalkannya Daftar Investasi Negatif e-commerce, penyesuaian atas kewajiban server berada secara fisik di Indonesia, pendekatan progresif terhadap pajak penjualan e-commerce, dukungan dan perlindungan bagi perusahaan rintisan (start up).

Langkah-langkah terobosan tersebut perlu terus dikembangkan, utamanya memastikan berkelanjutannya kebijakan yang akomodatif dari pusat sampai daerah yang bermuara kepada upaya memberikan proteksi terhadap pengembangan ekonomi digital di Indonesia.

Para pemagang otoritas diharapkan dapat menerapkan kebijakan secara light touch (tidak terlalu mengekang) dan safe harbour (tanggung jawab terpisah antara penyedia situs jual beli daring berkonsep marketplace dengan penjual yang memakai jasa mereka), sehingga inovasi akan memiliki ruang untuk berkembang dengan baik.

Pilihan strategi pengembangan ekonomi digital merupakan langkah tepat yang perlu terus didukung para pemangku kepentingan, mengingat potensi demografi yang kita miliki, dilihat dari  komposisi penduduknya, jauh lebih menguntungkan dibandingkan lima negara Asia lainnya dengan PDB besar, seperti China, Jepang, India, dan Korea.

Indonesia memiliki usia produktif mendominasi yang akan menjadi kekuatan dashyat bila dapat ditransformasi sebagai agen perubahan melalui ekonomi digital, data BPS menyebutkan sekitar 32% penduduk usia produktif adalah milenial. Generasi yang curious, interest, bahkan aktif berpartisipasi di pasar digital.

Disamping pemanfaatan bonus demografi, investasi di bidang information and communication technologies (ICT) perlu ditingkatkan, sehingga sejalan dengan struktur demografis, agar dapat menjadi modal Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pertumbuhan peran sektor dasar terhadap ekonomi yang terus berkurang dan sektor jasa terus meningkat menjadi indikasi kuat urgensi pengembangan ekonomi digital sebagai “wajah baru” ekonomi Indonesia.

Dengan pembangunan SDM yang mulai dilakukan secara masif pada tahun 2019, dapat diikuti dengan komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan untuk adaktif dalam mempersiapkan SDM yang andal, melalui perbaikan kurikulum, vokasi, guna menjawab tantangan sekaligus menangkap peluang ekonomi digital.

Berbagai upaya perlu terus ditumbuhkembangkan mengingat ekonomi digital sudah menumbuhkan dan menopang UMKM. Bermunculannya usaha rintisan yang didominasi kaum milenial baik yang berbasis kuliner, jasa dan perdagangan online, contoh nyata, fenomena tumbuhnya technology financial (fintech). Kita optimis Ekonomi Digital Indonesia akan menjadi “wajah baru” yang akan mampu mengungkit Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030.

Berbagai pemangku kepentingan pun terus bersinergi untuk mengembangkan UMKM melalui penerapan 3 pilar. Ketiga pilar tersebut, meliputi korporatisasi sebagai upaya penguatan kelembagaan UMKM, kapasitas yang diarahkan untuk peningkatan kemampuan UMKM dalam penciptaan nilai tambah di era digital, serta pembiayaan untuk memperluas akses keuangan UMKM.

Sebagai generasi penerus bangsa, milenial akan menjadi motor penggerak new UMKM di masa kini maupun masa depan. Milenial yang cinta produk dalam negeri akan jadi potensi pasar yang sangat besar bagi para UMKM kita. Untuk mendorong UMKM, Bank Indonesia (BI) berkoordinasi dengan kementerian – lembaga, pegiat UMKM, asosiasi, desainer dan stakeholder terkait lainnya menyelenggarakan pagelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang telah memasuki sesi ketiga.

Di sesi ketiga, UMKM sahabat milenial dijadikan tema sebagai tindak lanjut dari arahan presiden pada pembukaan KKI 2019 lalu, yang mendorong produk UMKM ke pasar digital untuk merambah pasar luar negeri. Rangkaian KKI seri I dan II telah memiliki pencapaian. Jumlah pengunjung lebih dari 53.000 yang terdiri dari 379 UMKM, meliputi 127 UMKM kain, 75 UMKM kerajinan, dan 177 UMKM makanan dan minuman.

Lalu, jumlah penjualan mencapai Rp 10,5 miliar, pencapaian business matching Rp 113,2 miliar, pembiayaan Rp 4,7 miliar, dan diikuti oleh 16 pembeli dari 6 untuk memberikan business matching dan business deal dari Singapura, Italia, Australia, Korea, Jepang, dan China.

Sinyal positif pemulihan ekonomi yang terpukul pandemi Covid-19 kian nampak jelas. Hal itu merupakan hasil dari kerja keras pemerintah dalam 9 bulan terakhir menangani dampak pandemi. Pemerintah telah menjaga keseimbangan antara rem dan gas untuk menekan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia serta mengurangi dampak agar perekonomian Indonesia tidak terperosok terlampau jauh.

Indonesia telah berada pada titik balik untuk kembali membaik dengan tren yang positif. Hal itu didukung oleh kinerja pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 yang meski masih menunjukkan kontraksi, namun lebih baik dibanding kuartal sebelumnya.  Pada kuartal III, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar minus 3,49%, sementara pada kuartal II kontraksi terjadi cukup dalam, yakni sebesar 5,32%. Artinya telah melewati titik terendahnya, titik balik menuju membaik.

Secara teoritis suatu negara dikatakan resesi, salah satunya karena pertumbuhan ekonomi minus selama 2 kuartal berturut-turut. Kalau sekarang Indonesia minus, sebelumnya masih positif. Jika menggunakan indikator pertumbuhan ekonomi, maka sesungguhnya Indonesia belum dikategorikan dalam resesi.

Inflasi di Indonesia masih terkontrol. Bahkan, di bulan Juli sempat mengalami deflasi. Adapun, kurs rupiah Indonesia juga masih terkendali, berada di bawah Rp 15.000 per dollar AS. Tidak seperti pada tahun tahun 2008, pada waktu krisis itu, pertumbuhan minus, inflasinya tinggi, kursnya sampai Rp 20.000, itulah resesi .

Ada 3 variabel utama dalam menentukan pertumbuhan ekonomi yaitu; konsumsi masyarakat, investasi dan dunia usaha, serta pengelolaan pemerintah. Konsumsi dan ivestasi tampaknya agak sulit digenjot karena situasi pandemic. Maka satu-satunya yang bisa diharapkan adalah bagaimana belanja pemerintah. Pemerintah telah melakukan stimulus ekonomi, dengan memberikan bantuan kepada UMKM, bantuan langsung tunai kapada masyarakat, dan program-program lainnya yang masuk melalui penyelamatan ekonomi nasional (PEN).

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga menjadi titik pembalikan pertumbuhan ekonomi. Tingkat konsumsi masyarakat, ekspor produk hingga investasi menunjukkan perbaikan. Kuartal III menunjukkan agregat demand pemulilan, konsumsi, investasi ke arah pembalikan, ekspor juga.

Pembalikan arah pertumbuhan ekonomi terus semakin nyata seiring dengan ditemukannya vaksin Covid-19. Sektor produksi juga mulai mengalami pembalikan arah. Dari 17 sektor produksi, sudah 12 sektor produksi mengalami perbaikan. Bahkan tiga diantaranya tetap tumbuh positif di masa pandemic; yakni pertanian, informasi dan komunikasi dan jasa keuangan.

Mobilitas masyarakat yang membaik diharapkan terjaga. Sebab kepercayaan menjadi elemen paling penting dan bisa diperoleh jika menerapkan disiplin kesehatan dan melakukan kegiatan ekonomi dengan tidak menimbulkan penyebaran covid-19 yang makin meluas. Bila disiplin kesehatan bisa teratasi, maka penyebaran virus dan perekonomian kembali pulih. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *