Mimpinya Mendirikan Pabrik Kelapa Sawit Pengolahan

Meski dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2013 yang dilaksanakan pada 22 Maret 2014, Ketua Pengurus Valerius Aritonang,S.H. mengakui bahwa kinerjanya tidak mampu memenuhi target 100% dari yang dicanangkan, bukan berarti capaiannya mengecewakan. Dijelaskan, target yang ingin dicapai tahun buku 2013 sengaja dinaikkan di atas pertumbuhan normal, 33% – 35% menjadi 40% – 45% karena pertumbuhan aset tahun buku 2012 mencapai 77%.

Dicontohkan capaian kinerja tahun buku 2013 sebagai berikut; keanggotaan dari 37.681 orang menjadi 466.080 orang atau bertumbuh sebesar 22,29%. Kekayaan atau aset dari Rp250.530.392.184,- menjadi Rp330.912.600.844,- pertumbuhan 32,08%. Saham anggota (simpanan) dari Rp132.613.234.201,- menjadi Rp169.978.828.694,- atau tumbuh 28,18%. Sedangkan piutang bertambah dari Rp204.415.118.990,- menjadi Rp266.719.302.731,- Tidak tercapainya target, kata Aritonang, faktor nasional karena adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang juga berpengaruh langsung pada nilai tukar rupiah dan harga-harga bahan pokok. Hal itu mengakibatkan pencapaian target bunga piutang anggota hanya 86,9% dari pinjaman yang dilepas. Dengan capaian-capaian tersebut Credit Union Mandiri tetap menjadi koperasi terbesar di Sumatera Utara, bahkan terbesar di Pulau Sumatera.

Perjalanan Credit Union Mandiri tahun buku 2013, kata Aritonang, mempunyai banyak kegiatan, banyak prestasi dan banyak peluang yang didapat. Dari segi pendidikan dan pelatihan 7 orang manajemen memperoleh sertifikasi tingkat nasional, dan menyusul kemudian 9 orang selesai mengikuti sertifikasi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) itu diharapkan semakin memperkuat barisan manajemen untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada anggota. Kecuali staf tetap berjumlah 211 orang, saat ini Credit Union Mandiri memiliki 281 petugas lapangan. Merekalah ujung tombak sehingga target kinerja pengurus terus berkembang.

Program kepengurusan baru Credit Union Mandiri, 5 tahun ke depan, menurut Justinus Tamba, ST,IP-M ketua baru periode 2014 – 2019 yang dalam kepengurusan periode sebelumnya (2009 – 20013) sebagai Sekretaris, prioritasnya adalah peningkatakan kualitas anggota melalui pendidikan, dan pemberdayaan usaha anggota. Rencananya, untuk jangka menengah, 2 – 3 tahun ke depan akan membangun gedung Pendidikan dan Pelatihan (Diklat).

“Selama ini pendidikan dan pelatihan untuk pertanian dan peternakan sudah dilakukan, tetapi belum punya center point – gedung untuk pelatihan. Tanah sudah ada, tinggal dibangun,” jelas Tamba usai pemilihan pengurus baru yang dilaksanakan setelah pertanggungjawaban kinerja pengurus – pengawas diterima secara aklamasi oleh Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2013 pada 23 Maret 2014 silam.

Untuk memperkenalkan visi misi credit union, sekaligus mensosialisasikan program pendidikan, walau sifatnya terbatas, sejak beberapa tahun silam Credit Union Mandiri menjalin kerja sama dengan radio milik Yayasan Gereja Katolik, Karina 98 FM di Pematang Siantar. Judul programnya Membangun Ekonomi Kerakyatan. Karena yang ingin disasar para petani dan peternak, kata Tamba, siarannya diadakan pada malam hari mulai dari jam 20.00 – 22.00 Wib. Kalau siang hari tidak ada petani yang mendengarkan, karena mereka sibuk kerja di ladang atau di sawah. Para peternak juga sibuk mengurusi ternaknya. “Kami punya konsultan pertanian dan peternakan. Merekalah yang siaran sesuai topik bahasannya. Kalau pengurus yang siaran topiknya tentang koperasi,” jelasnya.

Pilihan kerja sama dengan radio swasta itu karena jangkauan pendengarnya cukup luas, hampir mencapai separuh dari wilayah Sumatera Utara. Di daerah pedesaan, radio memang sangat efektif. Itu sebabnya sekitar 6 tahun silam ketika Credit Union Mandiri diajak kolaborasi Kapusin (Ordo Pastor Fransiskan dari Belanda), mendirikan studio radio di Tebing Tinggi menyambut antusias. “Sayang, kolaborasi yang diharapkan saling menguntungkan itu tidak berlanjut,” kata Tamba, tidak menjelaskan lebih jauh.

Tahun 2013, Credit Union Mandiri bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan Ukm Sumatera Utara menyelenggarakan pendidikan koperasi secara umum dan pendidikan credit union. Yang membiayai Dinas Koperasi dan UKM Sumatera Utara sedangkan yang siaran di RRI Medan tim dari Credit Union Mandiri. Kerja sama selama 6 bulan itu paketnya 16 kali siaran seminggu sekali setiap hari Kamis jam 10.00 – 11.30 Wib. Acaranya tidak semata-mata pendidikan, tetapi dikemas dalam cerita sandiwara menarik tentang koperasi.

Pertumbuhan Credit Union Mandiri yang sejak 5 tahun terakhir demikian pesat, kata Tamba, dipastikan adanya dampak positif dari kerja sama dengan radio tersebut. Dia mengakui, memang belum dilakukan riset, seberapa besar dampak dari program siaran di radio. Namun setiap siaran, SMS dan telpon dari pendengar yang memberikan tanggapan “membludak”. Animo masyarakat sangat tinggi, khususnya untuk konsultasi pertanian.

“Kami memang menyiapkan konsultan ahli, pertanian dan peternakan, agar anggota dan masyarakat pada umumnya mendapatkan ilmu sehingga menjadi lebih berdaya. Anggota-anggota yang usahanya sudah sukses, sering menjadi nara sumber untuk menceritakan kiat-kiat dan pengalamannya supaya memotivasi anggota lain,” tutur Tamba seraya menambahkan bahwa kerja sama itu biayanya tidak terlalu besar, tetapi hasilnya sangat positif. Melihat manfaatnya begitu besar, karena Credit Union Mandiri punya cabang di Provinsi Riau, maka menjalin kerja sama dengan salah satu radio swasta, Radio Bagan Batu.
Meski Credit Union Mandiri saat ini menjadi koperasi terbesar di Provinsi Sumatera Utara, namun para pengurus – pengawas – manajemen tetap saja terus belajar, baik menimba ilmu dan cara memberikan pelayanan dari credit union yang lebih besar maupun dengan credit union yang masih kecil. Mencari pembandingnya, apel dengan apel, tidak apel dengan jeruk, misalnya. Artinya, credit unio dengan credit union, tidak dengan Koperasi Simpan Pinjam (KSP), yang sangat jauih berbeda.

Terkait dengan pemberdayaan anggota, kata Tamba, karena anggota Credit Union Mandiri banyak yang punya kebun sawit dan kebun karet, dalam rencana strategis (Renstra) jangka panjang 5 tahun (2014 – 2018), tidak hanya meningkatkan kualitas anggota melalui diklat, tetapi juga ada rencana mendirikan pabrik pengolahan CPO kelapa sawit. “Kami akan mengumpulkan para pekebun kelapa sawit, mengajak mereka mendirikan pabrik pengolahan CPO agar mendapatkan nilai tambah. Saat ini baru dimulai studi kelayakan untuk mengetahui apakah secara ekonomi memberikan manfaat lebih besar kepada anggota, bagaimana pemasarannya, bagaimana suplai bahan bakunya, dan banyak lagi. Karena credit union tidak boleh berbisnis di luar bisnis keuangan, maka harus ada lembaga baru – Koperasi Produsen sesuai perintah Undang-undang (UU) No 17 tahun 2012, yang didirikan oleh anggota Credit Union Mandiri. Memulainya tentu dari kecil-kecilan dulu,” urai Tamba.

Data konkret tentang berapa hektar kebun sawit yang dimiliki anggota, memang belum ada. Tetapi anggota yang di Riau, 12.000 orang lebih, sekitar 50% punya kebun sawit. Kebun sawit anggota minimal 2 hektar, tetapi banyak juga yang punya 5 hektar – 10 hektar, bahkan ada yang lebih. Kalau 6000 anggota rata-rata punya lahan sawit 3 hektar, setidaknya ada 18.000 hektar potensi suplai bahan baku penghasil CPO. Kebijakan pemerintah tentang bea masuk 0% untuk memasukan peralatan, mesin-mesin dari luar negeri untuk mendirikan pabrik, hilirisasi industri akan sangat membantu rencana tersebut.

Ada contoh menarik dari Credit Union Sauan Sibarrung di Toraja, Sulawesi Selatan, dalam hal pemberdayaan anggota. Credit union yang diketuai seorang imam, Romo RD Fredy Rante Taruk, memberdayakan anggotanya berbasi komunitas. Ada komunitas petani padi, komunitas petani jagung, komunitas perajin, dan komunitas peternak. Khusus untuk komunitas petani sekarang sudah ada 120 kelompok, atau 1200 orang dengan lahan pertanian lebih dari 2000 hektar. Untuk mengolah dan memasarkan hasil panennya ditangani oleh anggota sendiri. Mereka beli mesin giling padi. Sehingga semua padi hasil panen anggota digiling mesin milik sendiri.

Sama halnya, misalnya, jika anggota Credit Union Mandiri membeli mesin pengolah hasil panen sawit atau karet. Soal lembaga, bisa dalam bentuk PT supaya lebih fleksibel, dinamis dan kompetitif, tetapi juga sangat baik kalau tetap membentuk koperasi baru, Koperasi Produsen. Di Sumatera dan Riau pada umumnya infrastruktur sudah cukup bagus sehingga kompetitor juga sudah banyak. Untuk komunitas basis pertanian, 2 tahun silam sudah diberdayakan tetapi juga belum berhasil. “Kami memang perlu belajar dari credit union lain yang sudah melakukan,” kata Tamba berterus terang.

Mendirikan pabrik pengolahan CPO kelapa sawit dengan kapasitas 10 ton per jam investasinya diperkirakan sekitar Rp 100 miliar. Soal pendanaan tidak terlalu menjadi masalah, bisa dicari. Tetapi membangun jejaring untuk memasarkan hasil produksi juga perlu dipersiapkan. Produknya pun harus berstandar nasional (SNI). Jika rencana mendirikan pabrik pengolahan CPO kelapa sawit terealisiasi pemberdayaan anggota ini hasilnya akan sangat luar biasa. Tamba mengaku, sudah menginformasikan ke Kementerian Koperasi dan UKM bahwa Credit Union Mandiri punya Renstra jangka panjang mendirikan pabrik pengolahan CPO kelapa sawit. Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, Drs. Setyo Heriyanto, merespon positif dan sangat mendukung. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *