Misi Sejati Credit Union Diperuntukkan bagi Kalangan Bawah-Miskin

Ketika ada pastor baru asli Tona Toraja, Sulawesi Selatan masuk Paroki menggantikannya, stres karena tidak punya duit. Bahkan sebaliknya, Pastor muda nan energik itu kepada umat dia bilang; “Tolong perhatikan uang saku saya”. Apa yang terjadi? Umat bilang; “Wah ini pastor kere. Pastor yang dulu kasih duit, pastor yang baru datang minta duit. Cerita itu diungkapkan Romo RD Fredy Rante Taruk, saat menjadi nara sumber seminar sehari yang dislenggarakan CU Bererod Gratia, Jakarta beberapa waktu silam.

Kondisi itu sangat mengganggu pikirannya. Apalagi saat itu banyak umat sakit, tidak bisa berobat ke rumah sakit di kota kabupaten. Ketika melakukan pelayanan di Puskesmas, ada seorang ibu pendarahan. Solusinya, pakai jampi-jampi disembur supaya sembuh. Tetapi tidak bisa, dan harus dibawa ke Sintang, Kalimantan Barat. Dan terpaksa sewa perahu Rp 3 juta. Uang dari mana?

Dari pengalaman pahit itu, Romo Fredy, begitu di kalangan Credit Union (CU) biasa dipanggil, memberdaya orang melalui CU Sabhang Utung, sebuah pilihan yang dianggapnya luar biasa. Sebab misi sejati credit union adalah memberdayakan orang miskin, menderita dan terpinggirkan. Kini kecuali bertugas di Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Makasar, Romo Fredy juga menjadi Ketua CU Sauan Sibarrung, merangkap di Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan sebagai Ketua Bidang Pendidikan. Sesuai bidang dan tanggung jawabnya, pendidikan, membagi ilmu kepada gerakkan credit union, terutama yang berada di dalam jejaring BKCU Kalimantan, wajib hukumnya.

Bertemu dengan gerakkan CU di Kalimantan, berbeda sekali dengan CU yang dikelola oleh ayahnya. Apa yang trerjadi? Setelah mendengar penjelasan dari Ketua BKCU Kalimanta, AR Macer, malamnya Romo Fredy tidak bisa tidur. Mecer mengatakan, kita bisa punya uang Rp 1 miliar. Pikirannya melayang membayangkan uang Rp 1 miliar. Sebab tabungan adiknya di CU mulai dari tahun 1980-an hanya Rp 2 juta sekian. Ketika tokoh gerakkan credi union Kalimantan Barat itu meyakinkan; Anda bisa punya Rp 1 miliar dalam waktu 5 tahun, benar-benar membuat Romo Fredy galau. Hari-hari terus dihantui pertanyaan, supaya umat punya uang Rp 1 miliar bagaimana caranya?

Mau tidak mau Romo Fredy mengikuti teori yang disuntikan Ketua BKCU tersebut. Dan benar, dalam kurun waktu 3 bulan rekor pertama CU yang memiliki aset Rp 1 miliar dengan strategi planning ala BKCU adalah CU Sabhang Utung, di Sintang. Itu terjadi sebelum Mecer memfasilitasi CU Daya Lestari, Betang Asi, dan sebagainya. Pengembangan aset ala CU Kalimantan Barat itu benar-benar mengagumkan. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Ketika ada anggota CU punya tabungan besar, pengurus kebingungan. Bagaimana memberikan bunga kepada anggota yang punya tabungan Rp 800 juta – Rp 900 juta, bahkan ada yang Rp 1,3 miliar. Di Kalimantan Barat, Sulawesi, juga di Jawa banyak anggota yang simpanan besar-besar seperti itu. Akibatnya lembaga – pengurus bingung bagaimana cara memberikan jasa. Sementara mereka yang punya tabungan besar itu tidak mau pinjam, karena merasa tidak membutuhkan.

Semakin CU banyak uang pengurus semakin bingung menyalurkan. Akibatnya, model CU seperti itu tidak lagi memikirkan orang miskin, atau orang kecil, tetapi justru untuk kepentingan orang-orang mampu. Apalagi yang terjadi kemudian penyaluran kreditnya sangat rendah. Ada yang penyaluran kreditnya hanya 60% bahkan ada lebih rendah lagi hanya 50%. Bagaimana lembaga bisa operasional – berkembang jika uangnya hanya untuk memberikan jasa kepada penyimpan yang besarnya 12% – 14% per tahun. Melihat kenyataan seperti itu maka pola kebijakan haruslah diubah kembali ke misi sejati credit union.

BKCU Kalimantan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2013 yang dilaksanakan di Surabaya Mei 2014 melakukan perubahan mendasar dengan tekat Reinterpretasi dan Revitalisasi Misi Credit Union, dengan kata lain kembali ke jati diri credit union. “Kita perlu menggali kembali inti credit union itu dari semangat awal didirikan,” tegas Romo Fredy. Di berbagai forum credit union internasional berulang kali diingatkan untuk kembali ke misi jatinya. Jika misi sejati credit union diterapkan, di dunia ini pasti tidak sesat. Saat ini kurang lebih 200 juta penduduk dunia telah menjadi anggota gerakkan credit union.

Pertumbuhan jumlah anggota gerakkan CU di Indonesia meningkat. Pada tahun 2012 jumlah anggota baru mencapai 2.070.000 orang, setahun kemudian, 2013 telah mencapai 2.335.000 orang atau naik sekitar 14%. Diharapkan 2020 telah mencapai 10 juta anggota. Aset gerakkan punmeningkat dari Rp 14 triliun menjadi Rp 19 triliun. Diperkirangkan tahun 2020 telah lebih dari Rp 25 triliun. Waktu Ratpat Nasional (Ratnas) Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) di Jogyakarta 2012 Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Nurdin Halid mengatakan; kalau mau, sebenarnya CU bisa menjadi bank. Sebab dengan modal Rp 3 triliun saja sudah bisa mendirikan bank. Tetapi gerakkan credit union tidak tertarik untuk mendirikan bank, karena visi – misinya memang berbeda.

Diakui banyak pihak, termasuk pemerintah bahwa makin lama, gerakkan credit union di Indonesia semakin kuat. BKCU Kalimantan anggotanya dari 380.000 orang bertumbuh menjadi 424.000 orang. Romo Fredy menyebutkan pertumbuhan CU Sauan Sibarung yang didirikan Desember 2006, sekarang anggotanya sudah 26.000 orang. Pertumbuhan jumlah anggota tidak terlalu cepat karena sejak 3 tahun terakhir sengaja direm, tidak boleh lagi masuk sembarangan seperti 4 tahun sebelumnya. Setiap tahun dibatasi hanya menerima anggota baru 330 orang per tahun. Itu pun harus melalui seleksi ketat, mengikuti pendidikan dasar, dan digilir secara baik. Kalau diloskan, kata dia, anggota Sauan Sibarung mungkin sudah mencapai 50.000-an.

Dalam berbagai kesempatan filosofi credit union selalu dikumandangkan: “Helping People to Help Themselves”. Di dalamnya termaktub pemberdayaan dan solidaritas, saling membantu dalam kebersamaan agar setiap anggota mampu keluar dari kesulitan hidupnya. Beberapa credit union, akhir-akhir ini juga telah mengusung visi ‘pemberdayaan’. Dengan harapan bahwa credit union benar-benar mengangkat orang miskin keluar dari keterpurukan dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Dan memang demikian cita-cita luhur credit union.

Filosofi Friedrich Wilhelm Raiffeisen (1818 – 1888) merangkum: “There is a connection between poverty and dependency. In order to fight poverty one should fight dependency.” Visi credit union dengan jelas ingin berjuang melawan ketergantungan, kemiskinan, kebodohan, kualitas kesehatan yang rendah, dan lemahnya akses di segala bidang. Tujuan akhir adalah peningkatan kualitas hidup, penemuan makna hidup sejati dan secara sosial terjadi transformasi.

Untuk itu kita menyambut baik apa yang telah terjadi pada gerakan credit union di Indonesia beberapa tahun terakhir. Perkembangan yang luar biasa telah tampak memberi harapan. Setelah sekian lama mati suri, akhirnya credit union – credit union di Kalimantan membangunkan kembali spirit gerakkan berkoperasi, dengan strategi dan inovasi yang luar biasa. Credit union yang tampilan ‘modern’ ini mampu mengorganisir ratusan ribu anggota dengan aset ratusan miliaran rupiah.

Prestasi dan kerja keras ini juga telah tampak mengundang perhatian banyak pihak. Kementerian Koperasi dan UKM RI telah menempatkan sejumlah credit union dalam 100 koperasi besar di Indonesia. Di samping banyaknya penghargaan kepada credit union primer di berbagai tingkatan: Koperasi Berprestasi, Koperasi Berkualitas, atau yang lainnya. Penghargaan dari pemerintah atau pihak lain telah menyiratkan prestasi tersebut, bahwa gerakan credit union di Indonesia adalah gerakan yang besar dan memberi dampak ekonomi yang luas.

Meski demikian, di sisi lain, telah tampak pula kabar yang kurang menggembirakan. Perlombaan atas pencapaian jumlah anggota dan aset terbukti telah menjebak credit union pada praktek pragmatis berkoperasi. Penekanan yang kuat pada ‘tujuan keuangan’ telah melemahkan ‘tujuan sosial-moral’ credit union. Indikator ‘Koperasi Besar, Koperasi Berprestasi, Koperasi Berkualitas’ secara perlahan telah memudarkan visi pemberdayaan orang miskin kecil dan visi kesejahteraan bersama. Prestasi mengumpulkan anggota, aset, sisa hasil usaha (SHU), keterpenuhan kriteria sehat keuangan, dan beberapa indikator kuantitatif lainnya, rupanya telah memompa semangat para aktivis credit union untuk berlomba-lomba mengarah ke sana. Akhirnya visi-misi keterpenuhan peningkatan kualitas hidup anggota telah terabaikan.

Para aktivis credit union modern ini telah mengarahkan anggota untuk, “menjadi ‘Orang Kaya’ dalam materi, hingga harus selalu bersaing dan melebihi yang lain”. Tidak salah jika anggota credit union juga telah terjebak dalam pola pikir dan perilaku ‘big is beutifull’: tabungan yang besar, pinjaman yang besar, keuntungan yang besar, sedemikian rupa, sehingga terjadi praktek-praktek kapitalis di credit union.

Memompa tabungan hingga ratusan juta (atau miliaran), yang tentu saja diilhami oleh ‘added-value’ filosofi Robert T. Kiyosaki, telah membuat pincang kebersamaan anggota Credit Union: yang kaya telah semakin kaya, sementara yang kecil tetap kecil. Masuknya credit union dalam perangkap ciri Bank, telah membuat credit union menelorkan strategi ‘uang mencari uang’, yang sangat sulit dipahami oleh para petani. Semakin banyak simpanan, semakin banyak juga bunga simpanan. Dan beberapa anggota cukup berduduk manis menunggu bunga tabungan setiap bulan, sementara sebagian besar harus berpeluh di sawah. Sudah pasti, kebijakan ini telah mengabaikan prinsip cooperative credit union.

Setali tiga uang, bahaya sekedar simpan pinjam juga mengancam eksistensi credit union. Sudah sering didengungkan bahwa Credit Union bukanlah Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Kegiatannya tidak sekedar: 1) menghimpun dana dari anggota, 2) memberikan pinjaman kepada anggota dan 3) menempatkan dana pada KSP sekunder. Tidak hanya dari segi kegiatan, tetapi, dan ini lebih penting, spirit dan identitas credit union jauh berbeda dari KSP. Ada banyak indikator pembeda credit union dengan model simpan pinjam. Salah satunya, credit union terutama mengurus orang, bukan uang. Spirit ini memberi konsekuensi yang amat luas dan dalam.

Fokus pemberdayaan credit union adalah pengembangan manusia (anggota), bukan pelipatgandaan aset. Strategi dan kebijakan di credit union harus sedapat mungkin mengatur soal simpanan dan pinjaman, sehingga keduanya mampu mengangkat kualitas hidup anggotanya. Tidak malah sebaliknya, pinjaman yang dapat ‘menjebak’ anggota sehingga ketika mereka tidak mampu mengembalikan pinjaman, sertifikat tanah mereka disita dan kembali jatuh miskin. Bahaya sekedar simpan pinjam memperingatkan credit union untuk memastikan bahwa strategi dan kebijakan credit union harus bermuara pada pemberdayaan anggota, bukan malah membiarkan anggotanya berjalan sendiri. Dengan demikian jelaslah di sini bahwa pendidikan anggota adalah gugus depan pemberdayaan credit union, bagaimana merubah pola pikir dan memberi cara pandang baru berkoperasi. Iming-iming soal bunga tabungan yang tinggi di credit union, atau promosi besar-besaran tentang bunga pinjaman yang rendah serta proses pencairan yang cepat, sudah saatnya ditinggalkan. Credit union seharusnya berfokus pada pendidikan kecapakan keuangan atau pelatihan peningkatan keterampilan hidup anggota. Credit union yang memberdayakan adalah credit union yang melatih anggotanya untuk cakap dalam keuangan, dan terampil dalam usaha yang mereka geluti. Lebih bijaklah jika credit union melatih anggota untuk berwirausaha atau mengembangkan usaha yang mereka sedang geluti, dibanding sekedar memperlihatkan slide tentang proyeksi tabungan mereka hingga miliaran rupiah pada puluhan tahun ke depan.

Credit union sedari awal dibangun atas nilai-nilai manusiawi, yang berangkat dari keperhatian sosial di zamannya. Membangun hidup dalam credit union tidak dapat dilepaskan dari semangat kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota. Hanya dengan demikian, atas dasar kepercayaan yang kuat, anggota akan mudah saling menolong, dan mencukupi kebutuhan hidup mereka. Hanya saja, fakta menunjukkan bahwa credit union yang semakin besar dan luas, cukup sulit memupuk kembali semangat ini. Keanggotaan seakan hanya sebatas Nomor Buku Anggota, Nomor HP, dan berkas-berkas pinjaman bermaterai.

Persepsi hubungan vertikal antara Pengurus – Staf Credit Union dengan Anggota, sebagaimana terjadi pada pemilik saham dan nasabah bank, telah melemahkan hubungan horizontal yang akrab dan guyub antar sesama anggota. Anggota tidak lagi saling kenal, kecuali dengan kasir-kasir credit union. Keadaan ini semakin digemburkan oleh (hanya) praktek layanan administrasi kantoran dari credit union yang tidak memerhatikan relasi dan kerjasama antar sesama anggota. Credit union telah “merampas” peran yang harus diemban oleh anggota, sehingga bertumpuklah beban itu pada pihak credit union. Credit Union kemudian harus memperkuat diri dengan segala macam bentuk legalisasi, menyiapkan brangkas yang luas untuk menampung jaminan sertifikat dan mengangkat juru sita. Inilah yang persis terjadi pada lembaga keuangan lain, seperti bank, asuransi, pembiayaan, dan lain-lain.

Oleh karenanya sangat mendesak, Credit Union kembali ke jati dirinya, memperkuat kebersamaan dalam komunitas, dan menumbuhkan kembali semangat gotong royong. Basis anggota harus dipetakan lagi, dengan mempertimbangkan demografi, lokalitas, nilai-nilai setempat, minat usaha, gender dan lain-lain. Kelompok-kelompok basis memungkinkan anggotanya untuk sharing dan transfer ilmu, saling membantu dan mengembangkan diri dalam kebersamaan. Dengan demikian partisipasi yang aktif dari anggota memungkinkan peningkatan tanggungjawab, kepercayaan, dan semangat rela berkorban di antara mereka. Apa yang terjadi dalam praktek tanggung renteng adalah sebagian kecil dari buah kepercayaan anggota kelompok basis ini. Tanpa kebersamaan kelompok yang kohesif, bangunan tanggung renteng akan rapuh, dan tinggal sebatas hitam di atas putih.

Tidak sedikit produk dan pelayanan credit union primer lahir dari copy-paste ‘Pola Kebijakan’ credit union yang telah sukses. Ada simpanan unggulan, varian pinjaman, produk solidaritas, dan lain-lain. Tanpa kajian sosio-budaya yang mendalam, produk ini tercipta dan diamini oleh para aktivis credit union .Ditambah lagi inovasi bergaya modern, yang cepat, mudah, murah, tidak ribet, telah mengundang minat ribuan anggota untuk membuka rekening di credit union. Penciptaan produk yang top-down memang terasa mudah dengan jaminan legalitas yang absolut, berlaku dimana-mana dan tak terbantahkan, sehingga memudahkan manajemen mengeksekusi peraturan dan kebijakan credit union.

Hanya saja, selalu perlu dibuka ruang diskusi bagi penciptaan produk dan pelayanan yang berbasis kelompok-kelompok. Sebab, jelaslah di sini bahwa design produk selalu harus berangkat dari karakteristik masyarakat setempat yang khas. Hanya dengan menyentuh kebutuhan dasar mereka, yang berbeda satu sama lain, produk dan pelayanan tersebut akan mengundang partisipasi aktif, tanggungjawab, kepercayaan, dan keinginan yang kuat untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Pembayaran angsuran setelah panen, jemputan angsuran setiap hari, pertemuan wajib kelompok setiap minggu, membentuk dana cadangan kelompok tani, merupakan bentuk-bentuk produk dan pelayanan yang memerhatikan kebutuhan anggota dan menjawab masalah mereka. Credit Union Primer harus mampu menciptakan produk dan pelayanan yang memberdayakan anggota, tidak hanya sebatas anjuran dalam ruang diklat. Credit union harus mendagingkan anjuran moral dan visi Raifeissen dalam bentuk produk dan pelayanan credit union yang membebaskan dan memberdayakan.

Jika sekiranya credit union adalah kumpulan orang-orang kecil dan miskin, maka intervensi yang lebih mendalam harus di-design, sehingga dapat membantu mereka untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Jika anggota tersebut, misalnya, mengajukan pinjaman ke credit union, maka tugas credit union adalah memastikan bahwa uang tersebut betul-betul dapat membantunya, bukan malah sebaliknya.

Credit union yang memberdayakan adalah credit union yang mampu mendesign produk kredit yang mampu memastikan tertolongnya orang miskin tersebut. Sebab tidak disangkal lagi bahwa survey, analisis 5C, atau prinsip CBL, tidak jarang hanya tinggal di atas kertas, sekedar formalitas. Pemberian kredit bagi kelompok petani padi, dengan design sedemikian rupa sehingga benar-benar kredit tersebut digunakan untuk membeli pupuk, ongkos tanam, biaya pemeliharaan, dan panen, dengan kontrol yang ketat dari ketua kelompok, merupakan contoh design layanan kredit yang memberdayakan.

Kita patut bergembira jika beberapa credit union telah membatasi tabungan unggulan anggotanya. Sebab, beberapa credit union memang telah kesulitan membayar bunga simpanan yang besar, sebagai akibat dari praktek yang kurang sesuai dengan prinsip-prinsip cooperative. Dan masih banyak lagi bentuk produk dan pelayanan yang membebaskan dan memberdayakan anggota. Disini pulalah pembeda credit union dari lembaga keuangan lain, tidak hanya slogan dalam visi dan misi, tetapi mendaging dalam aturan formal. Karena itu kita perlu melakukan Reinterpretasi dan Revitalisasi Credit Union. (mar – Fredy)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *