Nasib Para Tukang

Sebelum menjadi orang nonmor satu di di DKI Jakarta, menjadi orang nomor satu di Kota Bengawan Solo, Surakarta. Itu perjalanan hidup dan garis nasib yang tertulis di tangannya. Sebelum menjadi pejabat, dikenal sebagai pengusaha mebel. Dia pun mengaku sebagai tukang kayu. Itulah Joko Widodo, alias Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, yang banyak orang berharap kelak memimpin bangsa Indonesia.

Untuk meraih sukses, harus berani bersaing. Hasil, adalah barometer, seberapa besar usaha dan perjuangannya. Dia berpesan, untuk menjadi wirausaha sukses harus berani bersaing dengan pengusaha lain. Salah satunya, berani menawarkan harga yang kompetitif. “Ke depan, persaingan makin ketat. Kita harus mau, dan berani berbenturan dengan produk-produk asing. Sebentar lagi,  2015, kita memasuki  ASEAN Economic Community, mau tak mau harus bertempur memenangkan persaingan,” kata Jokowi yang mengaku pernah belajar nukang mebel di Klender, Jakarta Timur.

Agar bisa memberikan harga yang kompetitif, kata dia, seorang pengusaha harus melakukan efisiensi biaya produksi. Dia mencontohkan, saat menjadi pengusaha furniture di Solo, para pengusaha lokal menjual dengan harga mahal sehingga kalah bersaing dengan produk furniture dari China. “Saya pernah mengalami, tahun 2006. Bisnis mebel 70% ambruk karena tidak kuat bersaing. Tapi sekarang berbeda, harga mereka (kompetitor) jauh lebih tinggi, sehingga banyak buyer balik ke kita,” jelasnya.

Gubernur Ibukota Negara Republik Indonesia yang sehari-hari blusukan keluar masuk pemukiman warga itu mengatakan; “Membangun usaha harus tekun, fokus, dan mendalami bidang usahanya. Jika seorang pengusaha tidak tekun, tak akan menguasai usaha yang dijalani. Setiap usaha pasti akan menemukan masalahnya. Dalam menghadapi masalah itu dibutuhkan ketekunan.” Setiap kegiatan usaha, kata dia, pasti ada masalah, ada problem. Tetapi jika kita tekuni terus, masalahnya semakin kelihatan, dan kita bisa mencari jalan keluarnya. “Jangan menjauhi masalah, keliru. Hadapi dan pelajari,” tegasnya berpesan.

Kepada para wirausaha, dia berpesan, agar terus berinovasi, dan meningkatkan kualitas produk-produknya. Dengan begitu, produk tersebut akan dilihat beda oleh konsumen. Jokowi memberi contoh, ketika masih menangani usahanya, produk-produk yang dihasilkan selalu tampil beda dibandingkan produk orang lain, sehingga mampu bersaing. “Harus berani tampil beda,” tegasnya.

Dengan pengalamannya berwirausaha lebih dari 20 tahun, ketika mencalonkan jadi Gubernur DKI Jakarta, untuk merebut simpati warga Jakarta, dia pun menerapkan strategi bisnisnya. Dia mengemas promosi dirinya berbeda dengan calon gubernur yang lain. Untuk memperkenalkan produk agar diterima masyarakat, perlu proses, dan dirancang secara baik. Dengan adanya perbedaan dari produk lain, akan lebih mudah dikenali, dan diterima oleh masyarakat.

Tidak pernah terbayangkan oleh Tri Sumono, seorang tukang sapu yang kini menjadi wirausaha sukses, omzetnya mencapai Rp 500 juta per bulan. Demi menggapai mimpi, perjuangannya mengagumkan. Dengan bendera CV 3 Jaya, merintis usaha, ternak burung, produksi kopi jahe sachet, kios sembako, pengadaan alat tulis kantor (ATK), bahkan juga aktif jual beli property.

Mantan tukang sapu kelahiran Gunung Kidul, Jogyakarta, 7 Mei 1973, berbekal ijazah SMA, dan tanpa memiliki keahlian apa pun, tahun 1993 mengadu nasib ke Jakarta. Sesampainya di Betawi, dia tidak pilih-pilih pekerjaan. Yang penting dapat rezeki halal supayah berkah. Pekerjaan pertama yang diperoleh, jadi buruh bangunan. Tukang aduk semen. Selang beberapa bulan kemudian, dapat tawaran jadi tukang sapu di sebuah kantor di kawasan Palmerah, Jakarta Barat.

Tanpa pikir panjang, tawaran jadi tukang sapu diterimanya. Dia pikir, jadi tukang sapu kerjanya lebih riangan dibandingkan ukang bangunan. Karena kerjanya rajin, tidak sampai setahun diangkat menjadi office boy, alias pelayan kantor. Nasibnya memang baik, dia mendapat tawaran menjadi tenaga pemasaran, dan terus menanjak sampai menjadi penanggung jawab gudang.

Sambil kerja kantoran, Tri juga coba-coba mencari penghasilan tambahan. Setiap libur kantor atau Sabtu – Minggu, Tri jualan pernak-pernik asoseris, seperti jepitan rambut, kalung, gelang, dan kebutuhan anak-anak remaja lainnya, di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Dengan modal awal Rp 100.000,- usaha itu ditekuninya selama 4 tahun.

Dengan predikat pengusaha mikro, Tri pun mimpi, ingin menjadi pengusaha yang sukses. Alasannya, usaha sendiri lebih bebas, lebih menjanjikan daripada kerja kantor dengan gaji pas-pasan. Hatinya mantap, tekatnya pun bulat, tahun 1997 undur diri dari kerja kantoran, kemudian menekuni usaha asesoris, samapai akhirnya bisa beli kios di Mall Graha Cijantung, Jakarta Timur. Tetapi, karena ada orang menawar kiosnya dengan harga tinggi, tahun 1999 kios itu dijual lalu beli rumah di Perumahan Pondok Ungu, Bekasi Utara. Nah, di rumah barunya inilah perjalanan bisnis Tri dimulai lagi, membuka took sembako.

Kala itu Perumahan Pondok Ungu masih sepi. Namun insting bisnisnya kuat. Dia yakin benar, ke depan perumahan itu akan ramai. Untuk meramaikan tempat tinggalnya Tri membangung rumah kontrakan, 10 rumah. Supaya cepat laku dipasarkan dengan harga miring – relatif murah. Penyewanya kebanyakan pedagang keliling seperti; tukang bakso, mie ayam, dan pedagang gorengan.

Dia memang cerdas. Disamping dapat uang dari rumah kontrakan, para pedagang itu juga meramaikan tokonya. Karena harga-harga barang yang dijual relatif murah, toko sembako itu makin ramai dan banyak pelanggannya. Tri terus berinovasi, dan mencoba membuat terobosan bisnis baru. Tahun 2006, Tri tertarik bisnis sari kelapa. Pembuatan sari kelapa itu harus melalui proses fermentasi dari air kelapa murni dengan bantuan bakteri Acetobater xylium.

Gagal adalah biasa. Bagi Tri tidak kenal kata patah semangat. Dia terus belajar, bagaimana bisa menghasilkan sari kelapa yang berkualitas baik. Seorang dosen di IPB ditemuinya untuk belajar fermentasi. Sang dosen (tak mau menyebutkan namanya) awalnya enggan ngajari Tri yang hanya lulusan SMA. Dalam benaknya terpikir, pasti sulit menerima penjelasan. Karena Tri terus merayu, dan meyakinkan ingin serius belajar, hati Pak dosen luluh juga. Kurang lebih 2 bulan belajar fermentasi, Tri mengimplementasikan ilmunya, mulai memproduksi sari kelapa. Hasilnya, sangat memuaskan. Kalau awalnya harus berjuang untuk memasarkan, kini banyak permintaan dari perusahaan. Tri mampu memproduksi lebih dari 10.000 nampan.

Sanin, yang kini boleh dikatakan kaya raya, punya 10 buah mobil, 3 rumah dan 2 pabrik, yang latar belakang pendidikannya hanya sekolah dasar (SD), adalah mantan tukang becak. Dia mengaku, cukup lama menjadi tukang becak. Setiap hari dia mangkal tak jauh dari pabrik garam. Karena mencari penumpang makin sepi, dia mencoba melamar pekerjaan di pabrik garam tersebut. Setelah 2 bulan bekerja, pikirannya tergerak; “Bikin garam mudah, daerahku punya potensi untuk bikin garam. Apa salahnya kalau membuat garam sendiri?”

Akhirnya, Sanim berhenti kerja dari pabrik garam, lalu mulai bisnis garam sendiri. Penghasilannya jauh lebih besar daripada jadi karyawan di pabrik garam, apalagi kalau dibandingkan jadi tukang becak. Garam bukan hanya sebagai bumbu penyedap masakan, tetapi juga sangat dibutuhkan untuk keperluan industri pertanian, dan perikanan. “Kerja di pabrik garam tidak sia-sia. Boleh dikatakan sekolah. Sekarang ilmu itu besar manfaatnya,” katanya penuh syukur.

Awalnya, kata Sanim, buka pabrik di belakang rumah bersama isteri. Masih sangat sederhana, dan diolah secara tradisional. Karena konsumen terus meningkat, Sanim memberanikan diri merekrut karyawan dari tetangganya sendiri. Dari keuntungan yang terus meningkat, Sanim mampu beli tanah untuk memperluas area pabriknya. Produksinya rata-rata 2.000 ton per tahun. Meningkatnya pesanan garam olahan terutama dari Cirebon, dan sebagian dari luar kota, membuat Sanim kewalahan.

Soal permodalan, adalah salah satu kendala yang dihadapi ketika pesanan tiba-tiba melonjak tinggi. Berulang kali permohonan pinjaman modal ke bank ditolak karena dianggap usahanya tidak layak bank atau istilah kerennya bankable. Waktu itu, kata dia, pabriknya memang masih berdinding bilik. “Sekarang, jangankan mengajukan pinjaman, sering “dipaksa” untuk meminjam. Terlebih jelang akhir tahun, dan target bank belum terpenuhi,” jelasnya seraya menambahkan, sekarang punya tanah, kantor dan pabriknya cukup besar. “Berulang kali menunaikan ibadah haji, anak-anak bergelar sarjana,” katanya bangga. (nda – adt)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *