Nestapa Nelayan Kerang Hijau

Ada yang berbeda dengan perkampungan nelayan kerang hijau Muara Angke, Jakarta Utara. Sebelumnya, tempat ini sangat ramai dengan aktivitas merebus dan mengupas kerang hijau. Namun kini suasananya sangat berubah. Hanya beberapa tempat yang masih beroperasi. Banyak tempat pengupasan kerang hijau sudah hancur. Atap terpal sudah bolong-bolong dan bekas perebusan tidak terpakai.

Perkampungan juga sepi dari aktivitas warga. Itu pemandangan sehari-hari perkampungan nelayan kerang hijau Muara Angke saat ini. Sejak ada proyek reklamasi mereka tidak lagi diperbolehkan beternak kerang hijau. Kecemasan nampak tersirat dari para nelayan yang dijumpai UKM. Kerang hijau yang selama ini menjadi andalan perekonomian mereka, kini runtuh dan nyaris tamat produksinya.

Mereka masih cemerlang mengingat masa kejayaannya di era Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo. Pada saat itulah nelayan kerang hijau mengaku “diuwongke” Bang Nolly panggilan akrab Tjokropranolo. Saat Bang Nolly menjabat Gubernur DKI Jakarta itulah nelayan kerang hijau mengalami zaman keemasan. Karena Bang Noli punya kepedulian besar terhadap kesejahteraan nelayan dengan melakukan budidaya kerang hijau di pantai utara Jakarta.

“Kami ingat betul. Sebagai rasa terima kasih nama Bang Nolly kami abadikan menjadi nama kerang hijau, dan beliau tidak menolak. Kesejahteraan nelayan kerang hijau saat itu benar-benar terwujud. Namun kondisi sekarang, seperti kata pepatah “hidup enggan mati pun tak mau”. Sejak ada proyek reklamasi pantai, ternak kerang hijau habis. Karena nelayan tidak boleh lagi beternak kerang hijau. Padahal, ternak kerang telah menjadi tumpuan hidup keluarga sejak puluhan tahun lalu,” ujar Pak Kolil kepada UKM.

Kolil menyebutkan tak kurang dari 3000-an peternak kerang hijau harus menghentikan kegiatannya di Pantai Teluk Muara Angke. Karena lokasi tersebut diurug menjadi pulau baru. “Dulu mengambil kerang hijau hanya di bibir pantai. Sekarang harus sampai Tanjung Kait, Serang, Banten. Produksi kerang hijau dulu mencapai ratusan ton setiap hari, ambruk dalam sekejap. Beban biaya produksi tak sebanding dengan tangkapan menjadi penyebab turunnya penghasilan di sini. Sebelum reklamasi penghasilan kami bisa mencapai Rp 100 ribu per hari. Kini hanya cukup untuk bertahan hidup,” urai Kolil yang mengaku menjadi nelayan kerang hijau sejak masa kanak-kanak bersama orang tua, kakek dan kakek buyutnya di Teluk Jakarta.

Karena itu dia sangat prihatin jika kini banyak pejabat – ilmuwan yang memvonis kerang hijau itu beracun dan tak aman dikonsumsi karena sudah tercemar limbah. Sayangnya mereka tak pernah datang memberikan penyuluhan tentang kondisi kerang hijau yang sebenarnya secara ilmiah. Sebagai anggota pecinta lingkungan sejak masa remaja dia tak setuju dengan vonis tersebut. Dia sangat berharap, jangan sampai nasib nelayan kerang hijau yang sudah berada di ujung tanduk makin sengsara dengan “isu itu” urai Kolil, ayah dari empat orang dan kakek dua orang cucu itu.

Ketua RT 06 RW 22 Kampung Kerang Hijau, Ny Tati Suryadi asal Indramayu, Jawa Barat, mengemukakan, Suryadi suaminya juga nelayan kerang hijau sejak masih bujangan. Perempuan yang dipercaya 17 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 500 jiwa itu mengaku, pernah ada penyuluhan dari dinas terkait dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang potensi kerang hijau sebagai jenis hasil laut yang menjadi konsumsi masyarakat. Termasuk manfaat gizi daging kerang dan efek samping bagi kesehatan setelah Teluk Jakarta tercemar limbah.

“Sebagai Ketua RT Kampung Kerang Hijau, saya terus berupaya bagaimana agar warga Kampung Kerang Hijau tetap bisa hidup dari usahanya. Latar belakang pendidikan mereka memang terbatas karena sejak kecil terbiasa melaut membantu orangtuanya cari kerang. Kendati penghasilannya semakin tak menentu sejak reklamasi pantai Teluk Jakarta, tetapi mereka sulit meninggalkan kebiasaan ini,” ujar Tati.

Ia mersa prihatin ketika berbagai kalangan akademisi dan ilmuwan menyebutkan kerang dari Pantai Utara Jakarta tak lagi layak dikonumsi karena tercemar racun atau limbah mercuri. Namun Ia meyakinkan bahwa daging kerang hijau masih layak dikonsumsi. Wanita yang kini sedang hamil anak ketiganya mengaku masih mengonsumsi kerang hijau. Demikian pula sebagaian besar warganya. “Hingga saat ini masyarakat juga masih banyak yang mengonsumsi kerang hijau. Itu bisa dilihat dari animo pembeli kerang hijau di sini. Bahkan harga daging kerang hijau cenderung naik. Kini harganya dikisaran Rp 7.000 sampai Rp 10.000,- per liter,” kata Ny.Tati.

Suryadi yang akrab dengan sapaan Kacung mengaku, hingga kini belum jenuh mernjadi nelayan kerang hijau. Seperti dikemukakan Kolil, jika dulu waktu tangkap kerang hijau setahun sekali, kini tiga bulan sekali. Sehingga kerang belum sempat besar. “Jika zaman Bang Nolly kerang yang dipanen sebesar 3 jari tangan, sekarang cuma 2 jari. Itu pun berebut, karena sejak pantai utara Jakarta direklamasi praktis habitatnya berkurang. Sedangkan mencari kerang ke Tanjung Kait, biaya operasionalnya besar. Harga solar Rp 7.000,- per liter,” kata Kolil.

Kampung Nelayan Kerang Hijau, menurut Ny.Tati, sebagai pemekaran baru dari Blok Tambak Bolong, Blok Eceng dan Blok Empang. Resmi bernama Kampung Kerang Hijau pada tahun 2019 dan diresmikan oleh Gubernu DKI Jakarta, Anies Baswedan, karana warga kampung nelayan kerang hijau pernah menjalin kontrak politik dengan Anies Baswedan dalam Pilkada DKI Jakarta yang lalu.

Disebut Kapung Kerang Hijau, karena lahannya terdiri dari kulit kerang hijau. Dulu, empang, dalamnya sampai lima meter. Oleh warga, empang diurug kulit kerang, menjadi daratan. Di sinilah para nelayan kerang hijau bermukim dan beranak pinak. Pembangunan di wilayah ini, terus berkembang. Rumah-rumah nelayan dibangun permanen, terutama sekitar pengasinan atau tempat menjemur ikan asin. Banyak pula nelayan kerang hijau alih profesi. Salah satunya Rosidi alias Ucok. Laki-laki berdarah Betawi itu mengaku, ketika Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu membuka lowongan penerimaan pegawai, ia langsung mendaftar. Kini Ucuk resmi menjadi pegawai Dinas Lingkungan Hidup Kepuluan Seribu.

Terkait langkah PT Pembangunan Jaya Ancol yang melakukan restorasi kerang hijau di Teluk Jakarta, yang bertujuan memperbaiki kualitas air laut di kawasan Teluk Jakarta, para nelayan pesimis hal itu bisa mengembalikan masa kejayaan mereka. Karena kerang hasil restorasi tak boleh diambil untuk diperjualbelikan. Kerang hijau itu menurut Manajer Komunikasi PT Pembangunan Jaya Ancol (PT PJA) Rita Lestari, cuma diprioritaskan untuk meningkatkan kualitas air laut dan biodiversita.

Dikemukakan Rita Lestari, PT PJA bersama Forum CSR DKI Jakarta dan organisasi dari berbagai lembaga dan institusi, untuk mewujudkan sinergi tanggung jawab sosial memulai program restorasi kerang hijau di Teluk Jakarta, Oktober 2019 lalu. Bentuknya, menebar lebih dari 1 ton cangkang kerang hijau yang kelak dapat menjadi wadah pertumbuhan kerang hijau baru.

Kegiatan itu diklaim dapat dukungan dari komunitas, perusahaan, dan perguruan tinggi. “Informasi yang kami peroleh dari PT PJA, pihak PT PJA menyiapkan 50 ram besi, masing-masing berukuran 50 X 30 X10 sentimeter. Ram itu nanti menjadi tempat kerang hijau. Setiap ram diprediksi mampu menampung sekitar 20 kilogram kerang hijau. Tapi kerang itu tidak boleh dipetik atau dipanen. Artinya, nasib kami akan tetap seperti ini. Miskin” kata S Andhyka kepada UKM.

Rita Lestari menyebutkan setiap bulan pihak PT PJA menebar 1.600 kilogram kulit kerang. Program restorasi kerang hijau hanya terpusat di kawasan Ancol. PT PJA dan forum CSR belum punya rencana memperluas program tersebut ke kawasan lain. PT PJA masih perlu mengamati dan mendata seluruh pertumbuhan kerang hijau. Selain itu, pemusatan bertujuan mencegah pengambilan kerang hijau untuk konsumsi.

Dipilihnya kerang hijau untuk menjernihkan Teluk Jakarta, menurut informasi dari Manajer Konservasi PT PJA Yus Anggoro Saputra, kerang hijau memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap limbah dan logam di dalam air. Setiap 10 kg kerang hijau mampu menjernihkan 100 liter air dalam satu jam. Atas dasar itu PT PJA menjalankan program restorasi kerang hijau. Dalam 3 bulan kerang hijau tumbuh dewasa dan mulai menyerap poluta. “Tahun ini target PT PJA, 1.000 kilogram kerang hijau yang tumbuh,” kata Kepala Satuan Pelaksana UPTD Muara Angke, H.Hasan Syamsudin kepada UKM.

Ketua Forum CSR DKI Jakarta Mahir Bayasut mengemukakan pemulihan kualitas air laut di Teluk Jakarta seharusnya menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, swasta, dan pemerintah. Menurutnya, keikutsertaan Forum CSR ingin menumbuhkan gerakan yang sama oleh perusahaan, organisasi, universitas dan pemerinah. “Harapan kami, bisa menjadi inspirasi lebih banyak lagi” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, H. Darjamuni yang dimintai konfirmasinya usai rapat pembahasan KUA-PPAS dengan Komisi B DPRD DKI Jakarta mengemukakan, sebenarnya Dinas KPKP tengah mencari cara agar kerang hijau di Teluk Jakarta tidak digunakan untuk makanan olahan. Sebab berdasarkan sejumlah hasil penelitian, kerang hijau punya efek samping bagi tubuh jika dikonsumsi. Karena daging kerang dari laut tercemar terbukti mengandung logam berat yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Dinas KPKP menggandeng Satpol PP untuk mencegah nelayan dan pedagang memanen kerang hijau. Salah satu upaya pencegahan yang lakukan adalah merelokasi nelayan kerang hijau di perairan Tanjung Kait, Serang, Banten. Namun upaya ini belum membawa hasil. Karena banyak nelayan yang menolak. Karena kerang hijau harga jualnya tinggi, dan peminatnya sangat banyak. Ini yang membuat nelayan keberatan untuk direlokasi ke perairan Banten.

“Kerena kerang hijau menjadi hidangan yang digemari masyarakat. Maka tak heran jika penjual kerang pun makin banyak,” kata Kepala UPTD Pusat Pelelagan Ikan Nusantara Muara Angke, H.Mahat. Namun, belum banyak yang tahu bahwa di balik kelezatan kerang hijau ada kandungan racun berbahaya bagi tubuh. Hasil riset yang dilakukan LIPI tahun 2018, setiap tahun sebanyak 21 ton sampah masuk dari 10 sungai di Ibu Kota menuju Teluk Jakarta. Sampah ini membawa limbah buangan dari rumah tangga, perkantoran dan industri. Kandungan arsenik kerang hijau di Teluk Jakarta mencapai 6,77 atau tiga kali lipat di batas yang bisa dikonsumsi.

Kepala Satuaan Pelaksana (Kasatlak) UPTD Muara Angke, H. Hasan Syamsuddin, mengemukakan, hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan, air laut Teluk Jakarta mengandung silikat (52.156 ton, frostat (6,71 ton) dan nitrogen (21.260 ton). Kerang hijau yang hidup di Teluk Jakarta mengandung mercuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), Crom (Cr) dan timah (Sn).

Uji coba PT Pembangunan Jaya Ancol menyebutkan, 96 kilogram kerang hijau restorasi mampu menyaring 960 liter air laut setiap jam. Menurunkan tingkat nitrogen di air laut hingga 210 miligram per jam. Peneliti Pencemaran Laut Bagian Ekotiksikologi LIPI, Dwi Gindarti mengingatkan agar masyarakat mengurangi konsumsi kerang hijau dari Perairan Teluk Jakarta. Semua yang ada di dalam air melewati tubuh kerang akan diserap dan diakumulasikan dalam tubuhnya, termasuk merkuri. Mengkonsumsi kerang hijau yang terpapar merkuri bisa terkena berbagai penyakit serius dalam jangka panjang. Dwi mengimbau agar masyarakat tidak terlalu sering mengonsumsi kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta.

Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Ketahanan Pangan – Kelautan dan Perikanan (KPKP), DKI Jakarta Dwi Retno Susilaningsih memaparkan, kerang-kerang hijau yang berkembang biak di laut tercemar mercury memiliki beberapa ciri khas. Pertama, dari aroma. Kerang hijau dari laut yang tidak tercemar memiliki bau segar, tidak busuk. Ciri berikutnya, struktur daging kerang. Kerang yang baik dagingnya utuh dan kenyal. Sedangkan kerang yang tercemar dagingnya lembek dan sudah koyak. Ciri yang paling jelas, dan kerap diabaikan konsumen, kerang yang tercemar perutnya hitam pekat. (sutarwadi.k)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *