Ni Wayan Djani : Sempat Dibilang Dagang Dukun

Orang yang tidak punya mimpi – tidak punya cita-cita, tidak akan pernah punya harapan. Mimpi yang positif, awal langkah berkarya untuk memperbaiki masa depan. “Mimpi saya ingin mengangkat potensi laut menjadi komoditas ekonomi. Spesifiknya mengolah rumput laut,” tutur Ni Wayan Djani membuka perbincangan dengan Majalah UKM di Jakarta, suatu siang.

Sebagai Negara yang 2/3-nya berupa laut, potensi rumput laut kita sangat besar, termasuk Bali, terutama di Nusa Panida, dan Nusa Dua potensi rumput lautnya cukup besar. Tetapi di kedua daerah tersebut petani rumput laut sudah banyak yang beralih profesi, karena harga rumput laut sangat rendah, tidak seperti 5 – 10 tahun silam. “Dulu, pembeli terbesar dari China – Tiongkok. Sepertinya mereka membuat stock sebanyak-banyaknya, kemudian mempermainkan harga. Ketika petani panen, mereka membeli dengan harga rendah,” jelas Ni Wayan. Untuk meningkatkan nilai tambah, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan, melarang ekspor rumput laut mentah. Minimal harus diproses, atau produk jadi.

Impian Ni Wayan, wanita yang malang melintang wirausaha di bidang kosmetik sejak 1993, ingin mengeksplor potensi rumput laut sebagai bahan baku kosmetik. Rumput laut juga bisa dimasak untuk nasi, dibuat makanan ringan, manisan, minuman segar, dan sebagainya. Kini sedang dirintis, kelak ingin kerja sama dengan petani dan  pembudidaya rumput laut sebagai pemasok bahan baku. “Mimpinya, bukan hanya memproduksi, tetapi juga punya oautlet, spa, relaksasi – terapis, museum rumput laut dan wisata laut. Mimpinya banyak banget,” kata Ni Wayan yang sejak setahun silam sudah melakukan riset, dan membuat master plan. Khusus produk kosmetik, kata dia, sudah mendapat lesensi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Produk Ni Wayan 2Ni Wayan mengawali usaha kosmetik tradisional tahun 1993, atas permintaan dari Belanda. Sebelumnya, 1990, berbendera Ananta Busana sebagai supplyer kain tenun endeg di Sarinah. Suatu hari, Divisi Ekspor Sarinah menanyakan; “Ibu produksi lulur Bali nggak? Ada permintaan dari Belanda.”  Lulur tradisional, di Bali namanya boreh. Boreh dikirim ke Belanda apa tidak busuk?” Ni Wayan balik bertanya. Walau belum berpengalaman memproduksi boreh, sebagai pebisnis kesempatan sekecil apa pun harus direspon. Ni Wayan yang kala itu tinggal di Jakarta, pulang ke Bali menemui neneknya Nini Kembar, tanya bagaimana cara membuat boreh yang baik. Ketika dikasih tahu cara bikin dan bahan yang diracik, Ni Wayan bilang; “Kalau seperti itu tidak tahan lama. Dikirim Belanda, sampai di sana sudah busuk.”

Pulang dari Bali masih mikir, bikin lulur seperti itu tidak mungkin bisa tahan lama. Namun, dia tergoda juga untuk mencobanya. Pergi ke Pasar Senen, mencari rempah-rempah. Di pasar tradisional termegah pada zamannya yang dibangun era Gubernur Ali Sadikin (Bang Ali) akhir tahun 1960-an, banyak sekali penjual rempah-rempah untuk bikin jamu. Ni Wayan beli bahan-bahan yang diperlukan kemudian berinovasi,  dan berhasil. Ketika contoh produknya dibawa ke pemesan, langsung di-oke-kan. Tentu saja sangat senang. Bukan lantaran terbuka lahan bisnis baru, cita-cita melestarikan budaya Indonesia, boreh termasuk budaya Indonesia, menemukan jalannya.

Sebagai pemula, kapasitas produksinya tidak cukup besar. Kirim perdana hanya 150 Kg. Keterbatasan sumber daya, bukan hanya modal, tetapi juga SDM menjadi pertimbangan tidak mau menerima order dalam jumlah besar. “Saya khawatir, jika tidak mampu menepati janji di-black list,” ungkap Ni Wayan. Waktu itu, mengolahnya benar-benar tradisional. Mengaduknya saja dengan tenaga orang, bukan mesin,” jelas Ni Wayan. Sadar kemampuannya terbatas sejak awal terus terang produksi semampunya. Meski diproduksi tradisional, namun kualitasnya cukup baik. Uji lab membuktikan hal itu. Relasi dari mancanegara yang datang melihat cara membuatnya, bahkan mau mencicipi rasanya. Makin hari produknya makin dikenal banyak orang. “Pemesannya bukan hanya dari Belanda, trading dari Hongkong dan Malaysia minta dikirimi,” jelas Ni Wayan yang juga punya kegemaran menari, seperti layaknya gadis-gadis Bali.

Untuk memperluas pemasaran, Ni Wayan sering ikut berbagai pameran. Ketika pameran di Surabaya, karena belum ada orang jualan boreh, ada yang mentertawakan. Bahkan teman-temannya mencandai; “gendheng, kaya dagang dukun, Sedih juga, ditertawakan. Ini kan produk dalam negeri seharusnya dipuji,” kenang Ni Wayan yang sempat digandeng Mooryati Soedibyo, produsen kosmetik terkenal di Indonesia, pemilik Mustika Ratu.

Pasar luar negeri telah terbuka lebar sejak awal. Namun sekarang produksinya justru mandeg. Ada aturan – persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu harus terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Sebenarnya, pelanggan yang sudah bertahun-tahun tidak mempersoalkan masalah perizinan. Mereka umumnya lebih mengutamakan higienis produk, dan hasil uji lab. Karena pasar di kawasan ASEAN – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mensyaratkan adanya BPOM, maka setahun terakhir mengurangi kegiatan produksi, hanya melayani pelangganpelanggan lama sambil mempersiapkan layout produksi. “Ada yang harus diubah, ada alur yang harus ditutup, ada juga yang harus dibuka,” jelas Ni Wayan yang mengaku usahanya masih kelas perajin, tetapi punya mimpi besar.

Ni Wayan dan EndegBerbicara soal jamu, kata Ni Wayan, Indonesia sangat kaya tumbuh-tumbuhan obat – jamu daripada Negara-negara lain. Dengan China – Tiongkok yang terkenal obat tradisionalnya, kita jauh lebih kaya. Jamu apa saja di Indonesia ada. Obat tradisional buatan Tiongkok, bahan bakunya kebanyakan juga dari Indonesia. “Kalau kebetulan diajak pameran ke luar negeri oleh kementerian, usai pameran lebih senang pergi ke pasar-pasar tradisional daripada ke mall. Study banding sendiri mempelajari market di sana, ingin tahu apa hasil bumi di pasar tradisional Negara tersebut. Untuk rempah-rempah Indonesia lebih kaya. Contoh, jahe saja ada beberapa jenis; jahe merah, jahe putih, demikian pula kunyit, ada kunyit kuning, kunyit putih, kencur, dan sebagainya. Di pasar tradisional Tiongkok tidak menemukan semua itu. Di sana yang ada jamur dan ginseng. Sedangkan Negara kita, segala macam rempah-rempah ada. Dari kayukayu, umbi-umbian, juga buah-buahan sangat banyak,” urai Ni Wayan.

Dalam diri Ni Wayan, bukan saja mengalir darah seni, sehingga luwes menari, tetapi juga mengalir darah wirausaha turun temurun dari kakek – nenek. Kakeknya yang masih berdarah biru – ningrat (keluarga Puri) produksi tenun Endek. Menurut Ni Wayan, bisa dipastikan keluarga Puri punya usaha endek dan songket. Ibunya menjadi marketing. “Keluarga Puri boleh punya sawah sebanyak-banyaknya, tetapi tidak boleh jadi petani. Dia harus jadi pengusaha. “Kalau saya berwirausaha, memang dari sono-nya. Ibu juga marketing,” jelas Ni Wayan seraya menambahkan bahwa keluarganya di Klungkung terus meningkatkan produksi tenun endek. Ni Wayan mengaku, teknik membuat kain endeg tahu, namun belum pernah mencoba membuat. “Kalau ada orang bikin motifnya salah, saya tahu. Tapi saya juga tidak bisa bikin,” katanya berterus terang. Tenunan yang bagus, kata dia, motifnya harus jelas. Kalau tidak jelas, berarti tukang tenunnya masih belajar.

Kain khas Bali ini (tenun endeg) memiliki nilai sakral dan pakem budaya yang tinggi. Untuk mengolah jadi busana siap pakai yang elegan, perlu dilakukan dengan sangat hati-hati, mempertimbangkan sisi pakem yang penuh filosofi. Kain endek memiliki kekhasan dari sisi material ataupun motifnya. Belum lagi, dari tradisinya, kain ini merupakan salah satu warisan budaya Bali. Kain endek juga memiliki warna yang indah dan tidak umum, karena proses pewarnaannya melalui pengulangan demi mendapatkan warna yang diinginkan. Yang membuat orang terkagum-kagum adalah pembuatannya dihasilkan dari proses kerja yang tidak mudah dan semuanya dilakukan dengan manual, bukan mesin.

Para designer sering terinspirasi dari gaya berbusana kaum kerajaan dan masyarakat Bali dalam keseharian maupun upacara-upacara keagamaan. Kain endek merupakan kerajinan tangan khas masyarakat di sana. Kain endek memiliki beragam motif seperti Wajik Ukir, Patra Polos, Padma Kelungkung, Tangi, Jagasatru Bali, Sekar Jepun, dan Mosala. Untuk membuatnya melalui prosesi keagamaan ada upacaranya. Jadi tidak asal sekedar bikin kain.

Hal unik dari kain endeg ini terletak pada motif yang beragam. Beberapa motif kain endek dianggap sakral. Hanya boleh digunakan untuk kegiatan-kegiatan di pura atau kegiatan keagamaan lainnya. Ada pula motif kain endek yang hanya boleh digunakan oleh orang-orang tertentu. Misalnya para raja atau keturunan bangsawan. Dahulu kain ini memang lebih banyak digunakan oleh para orang tua dan kalangan bangsawan. Kain endek mulai berkembang sejak tahun 1985, yaitu pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel Klungkung.

Kain endek kemudian berkembang di sekitar daerah Klungkung, salah satunya adalah di Desa Sulang. Meskipun kain endek telah ada sejak zaman Kerajaan Gelgel, akan tetapi endeg mulai berkembang pesat di Desa Sulang setelah masa kemerdekaan. Perkembangan kain endeg di Desa Sulang dimulai pada tahun 1975 dan kemudian berkembang pesat pada tahun 1985 hingga sekarang.

Kain endek memiliki beberapa periode perkembangan dalam produksinya. Dapat dilihat pada tahun 1985-1995 kain endek mengalami masa kejayaan akibat adanya dukungan dari pemerintah. Pada masa ini, proses produksi kain endek sudah menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Kemudian pada tahun 1996-2006, kain endek mengalami penurunan akibat dari banyaknya persaingan produksi kain sejenis buatan pabrik yang mulai masuk ke pasaran. Tahun 2007-2012 juga mengalami penurunan.

Fluktuasi penurunan sangat dirasakan pada tahun 2008-2010. Hal tersebut disebabkan bahan baku yang sulit didapat, harga benang yang mahal, dan kualitas yang tidak sesuai dengan standar produksi kain endek. Namun, pada tahun 2011 kain endek mulai berkembang kembali akibat bahan baku yang murah serta berkembangnya berbagai motif kain endek yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain itu pula banyak perusahaan atau instansi menggunakan kain endeg sebagai pakaian kantor dan anak sekolah. Penggunaan kain endek berbeda-beda sesuai motifnya. Motif patra dan encak saji yang bersifat sakral biasa digunakan untuk kegiatan upacara keagamaan. Motif-motif tersebut menunjukkan rasa hormat kepada Sang Pencipta.

Sedangkan motif yang mencerminkan nuansa alam, biasa digunakan untuk kegiatan sosial atau kegiatan sehari-hari. Hal ini menyebabkan motif tersebut lebih banyak berkembang dalam masyarakat. Wastra endek atau disebut kain endek saat ini sudah mulai banyak mengalami penggabungan dengan jenis-jenis kain khas Bali lain. Hal ini menjadikannya lebih beragam. Saat ini ada satu teknik tenun ikat yang berkembang di Bali, terutama pada motif kain endek. Teknik itu dilakukan dengan penambahan coletan pada bagian-bagian tertentu yang disebut dengan nyantri. Teknik nyantri adalah penambahan warna kain endek dengan goresan kuas bambu seperti layaknya orang melukis di kain.

Motif yang dihasilkan lebih banyak menggambarkan flora, fauna, dan tokoh pewayangan yang sering muncul dalam mitologi-mitologi cerita Bali. Motif tersebut memberikan ciri khas tersendiri pada kain endek dibandingkan dengan motifmotif kain pada umumnya. Kain endek juga dapat dikombinasikan dengan kain songket. Kain songket adalah kain yang dihiasi benang-benang emas atau perak. Pemberian benang emas atau perak ini dapat dilakukan pada kain endek. Pada umumnya dijadikan sebagai hiasan pinggir kain. Kain ini kemudian dikenal sebagai kain endek songket. Kain endek sudah mulai banyak digunakan masyarakat Bali.

Meskipun demikian motif-motif sakral tetap dipertahankan dan tidak digunakan secara sembarangan. Umumnya kain ini digunakan untuk kegiatan upacara, kegiatan sembahyang ke pura, ataupun digunakan sebagai busana modern layaknya baju atau celana yang dapat digunakan semua kalangan. Pesatnya perkembangan kain tenun ikat khas Bali menjadi tantangan besar bagi masyarakat Bali untuk menjaga kelestariannya. Masyarakat Bali juga harus ajeg, tetap memperhatikan aturan penggunaan kain tersebut. Terutama untuk motif-motif kain endek yang disakralkan, jangan sampai digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Hal tersebut akan merusak nilai sakral dan budaya dari kain endek itu sendiri.

Kain endek sebagai warisan leluhur kini diburu konsumen baik masyarakat lokal, wisatawan domestik dan mancanegara, karena kain yang dibuat manual melalui alat tenunan bukan mesin tersebut memiliki kualitas dan keunikan. Dulunya kain Endek ini memang kurang peminat karena tidak tahan kalau dicuci, biasanya luntur dan kainnya kusut, tapi setelah dilakukan inovasi kain Endek justru jadi salah satu jenis kain primadona.

Setelah kain ini diolah menjadi kain bermutu sebagai bagian dari upaya pelestarian kearifan lokal masyarakat Bali, ternyata peminatnya sangat banyak hingga diproduksi besar-besaran untuk dipasarkan ke mancanegara. Pemerintah kota dan kabupaten di Bali, kata dia, akhirnya memutuskan kain Endek menjadi baju seragam resmi kantor khususnya kalangan para Pegawai Negeri Sipil (PNS), bahkan perusahaan swasta masyarakat adat meminati kain ini. Harga kain endek dibandrol Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu per meter dengan aneka jenis dan motif yang berbeda. Endek jenis siana dibanderol seharga Rp 350 ribu per meter, sutra (Rp500 ribu), rang-rang (Rp350 ribu), tuli (Rp450 ribu), dan songket (Rp500 ribu).

Kain-kain yang dipasarkan selama ini masih produk keluarga. Kecuali bila ada permintaan dalam jumlah besar, harus ambil dari tetangga, perajin lain. Sekarang ini sudah mulai booming, banyak instansi baik pemerintah maupun swasta baju seragamnya dari kain tradisional; seperti batik, songket, tenun, dan sebagainya. Turis manca negara juga senang memakai pakaian tradisional Indonesia. Di luar negeri pun, baik di kawasan Asia, Eropa, Timur Tengah, Australia maupun di Amerika, kain tradisional Indonesia sekarang sedang naik daun.

Pasaran di luar negeri, harganya bisa berlipat-lipat dari harga di dalam negeri. Di Kuwait, misalnya, kata Ni Wayan, kain yang harganya di dalam negeri Rp500.000,- di sana (Kuwait) bisa mencapai Rp2,5 juta. “Tetapi harga makanan di Kuwait, juga mahal. Sekali makan kalau dikurs dengan rupiah nilainya bisa Rp500.000 atau setara dengan Rp100.000 makan di Indonesia,” jelasnya. Pangsa pasar terbesar tenun endek di kawasan Eropa, kata Ni Wayan, terutama di Belanda. Turis Belanda yang datang ke Bali, banyak yang belanja endeg. “Tamutamu saya dari Belanda cukup banyak. Orang Jepang juga banyak yang senang tenun endek. Orang Belanda dan orang Jepang sepertinya sangat menghargai seni,” jelasnya.

Ni Wayan memang sering mengikuti promosi – pameran di luar negeri seperti di Hongkong, Jepang, Kuwait. Australia, Malaysia, dan beberapa Negara di Eropa. Tahun 2014 ikut pameran sebanyak 4 kali, tahun 2015 dua kali dan tahun 2016 ini baru sekali. Pameran ke luar negeri mencari market dan mitra, tetapi sampai sekarang belum dapat mitra. “Ada calon mitra dari Jepang, dia memang trading – pedagang produk-produk kerajinan Indonesia, katanya mau datang ke rumah, tetapi sampai sekarang belum datang. Dia punya gallery di Tokyo, namanya Bali Trading. Karena memang banyak menjual produk-produk kerajinan Bali. Padahal dia itu orang Jepang asli,” jelas Ni Wayan.

Melihat pangsa pasar kerajinan Indonesia di luar negeri begitu bagus, mau tidak mau kita harus mencari mitra. Hanya dengan bermitra secara baik, produk-produk Indonesia akan semakin dikenal di luar negeri. Melalui kemitraan, kita akan lebih diuntungkan, dibandingkan membuka gallery sendiri di luar negeri. “Namun, mencari mitra yang saling percaya juga tidak mudah,” jelas Ni Wayan. Untuk tenun, lanjut dia, tempat produksinya masih di Klungkung, sedangkan kosmetik diproduksi di Denpasar. Untuk kain tenun, jika ada permintaan dalam jumlah besar juga menjalin kerja sama dengan tetanggatetangga. Soal kualitas, tentu harus sesuai dengan standar yang diinginkan. (mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *