Nico Supriyadi : Mengembangkan Biogas Sekaligus Mengembangkan CU

Kotoran babi memang menimbulkan bau tidak sedap, sehingga sering memicu protes warga. Peternakan pada umumnya memang menghasilkan limbah dengan volume tinggi. Pembuangan limbah ini bisa menyebabkan kerusakan lingkungan, hal ini merupakan masalah besar.

Namun, kotoran yang oleh banyak orang dianggap menjijikkan itu ternyata masih memiliki manfaat, dan mempunyai nilai ekonomi tinggi apabila diolah dengan baik. Sejak 12 Oktober 2016, untuk memasak sehari-hari keluarga Madyo Sulardi telah memanfaatkan biogas yang dihasilkan dari proses pengolahan kotoran babi. Dengan menggunakan teknologi fermentasi biogas, limbah itu dapat diubah menjadi gas yang mudah terbakar (sampai 65% metana) dan pupuk berharga.

Ceritanya, suatu hari didatangi petugas dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sleman, lantaran ada warga yang melapor bahwa limbah – kotoran babi yang diternak mencemari lingkungan. “Sebenarnya lingkungan tidak bau, karena kotoran babi dari kandang dibuatkan saluran pembuangan ke Kali Bayem, yang memang tidak jauh dari lokasi kandang. Yang dilaporkan di daerah lain, tetapi mereka juga mampir ke tempat kami,” tutur Madyo, yang lebih akrab disapa Pak Jo.

Dari pemerintah kabupaten tidak melarang warga berternak babi, asal tidak mencemari lingkungan. Syaratnya, limbah – kotoran babi dimasukkan ke dalam septic tank supaya tidak mencemari lingkungan. Saran dari petugas BLH waktu itu, agar buat 3 – 4 septic tank. Karena piaraan babinya cukup banyak, 15 ekor, 14 ekor indukan dan 1 ekor pejantan, dipastikan septic tank itu cepat penuh. Kendala lain pekarangan belakang rumah jika digali 1,5 meter saja sudah ketemu sumber air. Maklum, dekat sekali dengan sungai. Solusinya, limbah – kotoran babi harus dikelola lebih baik.

“Kebetulan Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Jatra Miguna ada program pendampingan pemberdayaan anggota Program Biogas Rumah (Biru). “Kesempatan, kami ikut pendampingan,” jelas Jo, bersyukur karena menemukan jalan keluar, meski harus meminjam modal ke Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Credit Union (CU) Dharma Bakti, di mana dia juga menjadi anggota. Untuk membangun reaktor biogas kapasitas 6 M3, satu paket membutuhkan biaya Rp8.200.000.

Jika dihitung secara bisnis, untuk kebutuhan rumah tangga yang biasanya 1 bulan menghabiskan 3 tabung gas Elpiji 3Kg, maka dalam kurun waktu 3 tahun ke depan diperkirakan sudah break event point – mencapai titik impas. Tahun-tahun berikutnya tinggal menikmati keuntungan. Apalagi usia ekonomis reaktor biogas itu bisa mencapai belasan tahun. “Bahkan jika dirawat dengan baik bisa mencapai usia 30 tahun,” tutur Nico Supriyadi, aktivis credit union yang juga orang penting di KSP CU Dharma Bakti maupun Puskopdit Jatra Miguna, yang seharian penuh jadi pendamping istimewa wartawan Majalah UKM untuk wawancara dengan General Manager (GM) Puskopdit Jatra Miguna, Yosef F. Semana, S.H., dan Ketua KSP CU Dharma Bakti Th. Supartinah Sunardi, mulai dari pagi menjemput dan malam mengantar ke penginapan.

Penggunaan limbah sebagai bahan baku biogas memerlukan metode pengumpulan, penyiapan, penanganan, dan penyimpanan yang memadai. Pemilihan metode didasarkan pada sifat dan jumlah bahan baku yang bervariasi. Sifat alami bahan baku adalah padatan, semi padatan, atau cairan. Sejalan dengan itu sistem penanganannya harus sesuai dengan kondisi setempat. Beberapa Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Produksi Biogas. Kondisi anaerob atau kedap udara. Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme anaerob. Karena itu, instalasi pengolah biogas harus kedap udara (keadaan anaerob).

Proses pembuatan biogas dapat dilakukan secara sederhana, dengan menggunakan instalasi yang disebut dengan digester, yaitu suatu bak penampungan yang terdiri dari tiga bagian utama yaitu bak tempat pencampuran kotoran babi dengan air, bak tempat terjadinya proses dekomposisi kotoran babi menjadi biogas oleh mikroorganisme, dan yang terakhir adalah bak penampungan kotoran sapi sisa perombakan. Berdasarkan informasi yang didapat, digester yang digunakan terbuat dari semen yang dibuat kolam.

Semakin banyak kotoran ternak yang diolah, maka makin banyak gas yang dihasilkan. Keunggulan biogas dalam bentuk gas memiliki tekanan yang rendah serta cepat menguap sehingga tidak berisiko meledak, berbeda dengan risiko dari gas elpiji berbentuk cair dengan daya ledak kuat. Karena relatif aman, penyaluran gas pun hanya menggunakan pipa PVC 2 inc.

Pembuatan Biogas

Buat campuran kotoran ternak babi dan air dengan perbandingan 1 : 1 (bahan biogas). Masukkan bahan biogas ke dalam digester melalui lubang pengisian (inlet) hingga bahan yang dimasukkan ke digester ada sedikit yang keluar melalui lubang pengeluaran (outlet), selanjutnya akan berlangsung proses produksi biogas di dalam digester.

Setelah kurang lebih 8 hari biogas yang terbentuk di dalam digester sudah cukup banyak. Pada sistem pengolahan biogas yang menggunakan bahan plastik, penampung biogas akan terlihat mengembung dan mengeras karena adanya biogas yang dihasilkan. Biogas sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar, kompor biogas dapat dioperasikan.

Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, yaitu sebanyak kira-kira 10% dari volume digester. Sisa pengolahan bahan biogas berupa sludge secara otomatis akan keluar dari lubang pengeluaran (outlet) setiap kali dilakukan pengisian bahan biogas. Sisa hasil pengolahan bahan biogas tersebut dapat digunakan sebagai pupuk kandang – pupuk organik, baik dalam keadaan basah maupun kering.

Biogas yang dihasilkan dari kotoran babi dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan, dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah karena dapat dibakar seperti gas elpiji (LPG), sehingga memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dan dapat digunakan sebagai sumber energi penggerak generator listrik.

Cara penggunaannya tidaklah terlalu sulit, pipa yang mengalirkan biogas dapat langsung disambungkan ke kompor. dan api yang dihasilkan sebanding dengan api yang dihasilkan dari gas elpiji dan menghasilkan api yang berwarna biru. Namun, permasalahan yang ada hingga saat ini belum ada penemuan tempat yang dapat dijadikan sebagai penampung biogas kotoran babi yang aman dan portable seperti halnya gas elpiji.
Biogas ini dapat digunakan sebagai bahan bakar dan juga dapat menghasilkan listrik, sedangkan limbah biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Kotoran dari 2 ekor ternak sapi atau 6 ekor ternak babi dapat menghasilkan kurang lebih 2 m3 biogas per hari. Kesetaraan biogas dengan sumber energi lain: 1 m3 biogas 0,46 kg LPG 0,62 liter minyak tanah 3,5 kg kayu bakar. Biogas dari limbah babi ini bisa disalurkan ke rumah warga sebagai pengganti gas elpiji, yang dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan kompor gas serta lampu petromaks, bisa dipakai untuk memasak, penerangan, dan pemanas babi.  Dengan adanya metode ini pencemaran lingkungan dapat berkurang.

Dengan kekayaan dan keragaman sumber daya hayati yang ada di Indonesia, pemanfaatan bioenergi merupakan pilihan yang tepat dalam rangka penyediaan energi terbarukan, murah, dan ramah lingkungan. Biogas salah satu sumber energi terbarukan yang berasal dari sumber daya alam hayati. Sumber bahan untuk menghasilkan biogas yang utama adalah kotoran ternak sapi, kerbau, babi, kuda dan unggas; dapat juga berasal dari sampah organik.

***

Puskopdit Jatra Miguna Yogyakarta yang memiliki 25 anggota Kopdit Primer, dan tersebar di berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam perjalanan mengikuti Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI), dan Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) menjalin kemitraan dengan Yayasan Rumah Energi (YRE) sebuah lembaga nirlaba untuk pemberdayaan anggota, yang kaitannya dengan Program Biogas Rumah (Biru). Puskopdit Jatra Miguna diperkenalkan dengan YRE oleh Inkopdit – Bram Wiratsongko yang kerja sama dengan Inkopdit.

“Kami juga mendapatkan informasi dari Puskopdit Caraka Utama Lampung yang beberapa anggotanya sudah mengakses program biogas. Kami tertarik karena kaitannya dengan pemberdayaan, untuk bisa akses kepada anggota-anggota yang sungguh-sungguh bersinggungan langsung dengan Kopdit – CU,” urai Nico. Puskopdit Jatra Miguna, lanjutnya, kemudian melakukan sosialisasi kepada koperasi-koperasi primer yang ada di DIY. Agar  bisa mengakses Program Biru, Puskopdit Jatra Miguna kemudian menjalin kerja sama dengan YRE.

Dalam konteks gerakan, tujuan sebenarnya adalah pembagian tugas dari Puskopdit koperasi-koperasi primer anggotanya. Kopdit primer memiliki anggota individu, sehingga anggota individu tersebut bisa mengakses ke Kopdit dalam hal ini finansialnya, dengan menggunakan hak pinjamnya sebagai anggota. Apabila koperasi primer modalnya belum terpenuhi, idealnya akan minta bantuan kepada Puskopdit Jatra Miguna, sehingga ada sinergi. Karena koperasi primer mengkonsumsi pinjaman ke Puskopdit, maka Puskopdit mendapatkan balas jasa.

“Jika koperasi sekunder tidak bisa memenuhi keperluan koperasi primer, maka koperasi sekunder bisa menggunakan silang pinjam nasional, mengajukan pinjaman ke Inkopdit. Sehingga antara Inkopdit – Puskopdit – Kopdit Primer bisa bersinergi dalam pemberdayaan anggota untuk Program Biru. Idealnya seperti itu,” tegas Nico. Tetapi, lanjut dia, manfaat utama akhirnya siapa pun yang masuk menjadi anggota di suatu Kopdit merasakan sungguh-sungguh pendampingan oleh koperasi-koperasi primer.

Madyo Sulardi, contohnya, sebagai anggota KSP CU Dharma Bakti, Sleman, bisa menggunakan hak pinjamnya untuk membangun reaktor biogas. Secara nilai ekonomis bisa diperhitungkan, dalam satu bulan menghabiskan berapa tabung gas Elpiji, kemudian setelah menggunakan biogas bisa menghemat pengeluaran berapa besar. Menurut pengalaman yang disampaikan para anggota yang telah menggunakan biogas rumah, ternyata memberikan manfaat ekonomis cukup besar.

Sebagai pengembang credit union, Nico mengaku, bisa melakukan sosialisasi di suatu tempat, di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Flores, dan mendapat sambutan positif. Di daerah tersebut potensi berkembangnya Program Biru sangat besar, karena terdukung oleh peternakan masyarakat yang sangat besar. Di sana, banyak peternak sapi, dan sapinya banyak yang dibiarkan seperti sapi liar, tidurnya saja sampai di jalan. “Kami memperkenalkan credit union sekaligus memperkenalkan produk pendampingan dari CU, sehingga hal itu juga mempercepat perkembangan CU,” tuturnya penuh syukur karena programnya bisa diterima di kalangan yang masih mendukung peternakan.

Dengan Program Biru itu akhirnya bisa merubah pola ternak, di mana sapi-sapi tidak dibiarkan liar, tetapi disentralkan disuatu tempat. Masyarakat pun tertarik masuk menjadi anggota CU. Nilai lebihnya, kalau dahulu harus mencari kayu bakar untuk memasak, akhirnya tidak ada lagi pola-pola mencari kayu bakar. Lahan-lahan yang ada, bisa dioptimalkan untuk pembudidayaan rumput pakan ternak, sehingga ternak tidak harus dilepas liar. Program yang ditawarkan di NNT itu mendapat apresiasi sangat baik. Dalam satu kunjungan dan sosialisasi ada 140 orang langsung mendaftar menjadi anggota CU. “Intinya, CU ingin menyapa dan ingin melayani. CU tidak semata-mata ingin mencari untung, tetapi CU juga bukan lembaga sosial yang hanya membagi-bagi bantuan. “CU ingin memberikan pelayanan dan pemberdayaan,” tegas Nico.

Program Biru memang lebih cocok dikembangkan di daerah-daerah pedesaan, terutama yang warganya masih senang berternak. Karena bahan baku biogas rumah itu utamanya kotoran hewan; sapi, kerbau, kuda, kambing, dan babi. Bahkan kotoran ayam, bebek, dan puyuh, kapasitas peternakan besar bisa menghasilkan biogas. Jika mau dikembangkan di perkotaan, hampir dipastikan mengalami kesulitan. Sebab di kota lahan untuk petenakan sulit didapatkan. Padahal, bahan baku biogas adalah kotoran hewan. Dan di perkotaan masyarakat sudah sangat mudah mendapatkan gas Elpiji, infrastruktur listrik pun lebih dari cukup.

Program Biru di Kabupaten Sleman masih dimungkinkan untuk dikembangkan di wilayah tepi barat dan tepi utara. Di daerah-daerah tersebut warga masyarakatnya masih banyak yang berternak. Program Biru, memang lebih ditujukan untuk rumahan sebagai alternatif dari sumber energi, selain gas Elpiji. Karena teknologi yang digunakan juga masih sederhana, belum dimungkinkan untuk mendukung kegiatan usaha pabrikan, misalnya. “Kita memiliki 2 – 3 ekor sapi saja sudah cukup untuk membuat biogas,” jelas Nico.

Dari proses pengolahan kotoran babi untuk biogas juga menghasilkan pupuk organik berupa ampas padat dan cairan yang juga mempunyai nilai ekonomi tinggi. Namun belum semua anggota mengoptimalkan potensi ekonomi tersebut. Jo, misalnya, selama hampir 2 tahun menggunakan biogas, limbahnya masih dibuang begitu saja, belum dijual. Menurut Nico, kotoran babi dengan kotoran sapi perilakunya berbeda. Kotoran babi, menjadi pupuk padat membutuhkan proses cukup lama, sekitar 2 tahun sedangkan kotoran sapi, keluar dari reaktor bisa langsung dijual. Perilaku kotoran sapi itu padat, untuk masuk ke reaktor harus dimaxer, sementara kotoran babi lebih lunak, disemprot air bisa langsung masuk ke reaktor.

Jo mengaku, sampai saat ini juga belum memikirkan bagaimana memanfaatkan potensi “emas” dari limbah biogas tersebut. “Pemikirannya waktu itu hanya bagaimana cara mengatasi limbah dari kandang babi,” jelasnya. Nilai ekonomi yang dicerna oleh anggota, sela Nico, biasanya hanya menghitung, kalau beli gas Elpiji dalam 1 bulan habis sekian tabung, dengan biogas membutuhkan biaya berapa. Memang benar, menggunakan biogas harus berinvestasi sekian juta terlebih dulu. Setelah dihitung secara cermat baru ketahuan sekian tahun akan impas.

Jo mengaku, konsentrasi berternak babi hanya untuk pembibitan. Babi anakan, orang Jawa menyebutnya genjik, setelah berusia 50 hari dijual kepada para peternak penggemukan. Satu pejantan bisa melayani 14 betina indukan. Satu induk melahirkan anak paling sedikit 8 ekor, dan paling banyak 12 ekor. Ambil rata-rata sekali beranak 10 ekor, dan setelalh usia 50 hari dijual laku Rp500.000 per ekor total akan menghasilkan Rp5 juta. Dalam 1 tahun indukan yang masih produktif melahirkan 2 kali. Jadi 1 indukan bisa menghasilkan sekitar Rp10 juta. Jo saat ini memiliki 14 indukan.

Babi indukan mulai tidak produktif akan kelihatan dari hasil anakannya. Kalau anakan yang lahir besarnya merata, atau kalaupun ada yang kecil hanya seekor, berarti masih produktif. Tetapi jika anak yang lahir sudah besar kecil, besar kecil berarti induknya mulai tidak produktif. Seekor indukan bisa melahirkan 20 – 25 kali, dalam kategori masih produktif. Jadi, dalam kurun waktu minimal 10 tahun sejak melahirkan kali pertama, indukan babi itu masih termasuk produktif. Untuk menjadi indukan pada usia 8 bulan biasanya sudah bisa dikawinkan. Kalau punya pejantan sendiri, seminggu setelah anaknya dipisahkan sudah bisa dikawinkan lagi.

Tentang ekonomisnya menggunakan biogas, isteri Jo menceritakan, “Biogas ini sangat menolong. Sejak produksi gas sendiri, sangat jarang beli gas Elpiji. Belum tentu dua bulan sekali beli gas Elpiji. Andai kompornya dua tungku, tidak beli gas Elpiji.” Sayangnya, kata dia, kompornya hanya satu tungku. Kalau mau masak sayur dan masak nasi bersamaan tidak bisa, harus bergantian. Atau tetap menggunakan gas Elpiji. Biogas pun bisa menjadi dua tungku, tetapi harus diubah. Sebab, biogas itu kompornya khusus, tidak seperti kompor yang menggunakan gas Elpiji. Kalau mau beli di toko juga belum tahu di mana. Waktu bikin biogas satu paket, termasuk kompornya. (mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *