Orang Dayak pun Bisa

Melihat kondisi dan situasi masyarakat lokal, dalam hal ini masyarakat Dayak, baik masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur maupun Kalimantan Selatan, sebagai suku bangsa yang nasibnya hampir sama, termarjinalkan, terpinggirkan, korban dari pembangunan, agar bisa keluar harus melakukan gerakkan bersama, melakukan pengorganisasian untuk melawan musuh bersama, kemiskinan. Diyakini, dengan menggerakkan masyarakat, mengorganisir diri dalam organisasi ekonomi, organisasi CU – Koperasi yang di dalamnya melakukan kegiatan-kegiatan penyadaran, dan pendidikan, kemiskinan bisa dihapuskan.

Mengorganisir orang-orang miskin terpinggirkan, kelompok buruh, dan petani melalui CU, cocok dengan apa yang dipikirkan para pendiri bangsa, seperti Bung Karno dan Bung Hatta. Koperasi adalah alat untuk membangun kemandirian, membangun kepercayaan diri dan alat distribusi sumberdaya. Koperasi juga merupakan alat memproteksi – melindungi warga Negara.

Meskipun gerakkan CU Betang Asi telah mampu menghimpun sedikitnya 33.000 orang sebagai anggota, tetapi Ambu mengaku belum berani mengklaim sebagai suatu keberhasilan menyatukan masyarakat Dayak. Di Kalteng sekarang ada 4 gerakkan CU, yang total anggotanya kurang lebih 60.000-an orang. “Bagi anggota, yang pasti ada sarana alternatif dalam mengakses permodalan, dan salah satu alternatif untuk membangun kepercayaan diri. Dengan percaya diri (PD) bisa menjadi modal, bahwa orang Dayak ternyata bisa. Lebih umum lagi, orang-orang pinggiran yang kadang tidak direken, bisa mengorganisir diri melalui wadah CU,” urai Ambu penuh semangat.

Meskipun belum tahu persis, menurut Ambu, dari 33.000-an anggota CU Betang Asi itu terdiri dari berbagai sub Suku Dayak. “Mayoritas anggota memang dari Suku Dayak. Tetapi sesuai semangat terbuka dan sukarela, kawan-kawan dari etnis lain juga ada,” jelas Ambu. Benang merahnya, lanjut dia, ingin merangkul semua sub Suku Dayak dalam kebersamaan. Gerakkan CU diyakini mampu membangun kepercayaan, membangun pengertian, membangun kepedulian, dan bersama-sama meningkatkan kesejahteran. Tetapi ketika terjun ke lapangan, bukan perkara mudah.

“Saya yakin, bukan hanya di Kalteng orang skeptis terhadap koperasi. Di daerah lain pun sama,” jelas Ambu. Karena itu, lanjutnya, salah satu setrategi ketika melakukan sosialisasi tidak langsung mengatakan koperasi, tetapi dengan nama Credit Union. Walaupun sesungguhnya apa yang disebut Credit Union itu semangatnya koperasi. Tetapi ketika masuk ke masyarakat yang skeptis, tidak percaya dengan koperasi, tidak menggunakan nama koperasi, melainkan nama CU. Kemudian, dalam perkembangan terkini, kata Ambu, CU, ya Koperasi Kredit. Ada yang menyebut CU Simpan Pinjam, diterima juga. Sebab core-nya memang tempat simpan dan tempat pinjam, berbadan hukum koperasi. Bahkan banyak pula yang bilang Bank CU. Sejatinya, yang didorong oleh CU koperasi sejati seperti yang dicita-citakan Bung Hatta.

Untuk menyatukan berbagai sub Suku Dayak dalam wadah CU – Koperasi, kata Ambu, pintu masuknya melalu edukasi. Setelah diberikan pemahaman, apa itu CU – apa itu koperasi. Setelah paham, mereka mau bukti juga, bagaimana implementasi dan operasionalisasi cara berpikir koperasi dalam wadah Credit Union. Kita punya hak suara one person one foot – satu orang satu suara. Jika dipahami, one person one foot itu ada semangat untuk mendistribusi sumber daya. Kemudian dapat balas jasa sesuai aktivitas menggunakan produk-produk koperasi.

Meskipun masyarakat di pedesaan tingkat pendidikannya relatif masih rendah, sedikit yang lulus SLTA dan sarjana, sebagian besar hanya sampai SMP – SD, bahkan yang sudah tua-tua banyak yang tidak sekolah, tetapi keinginannya sama, hidup enak dan sejahtera. Salah satu sarana perjuangannya melalui koperasi. Yang namanya ekonomi kerakyatan, kendaraannya koperasi. “Itu yang saya pahami,” tegas Ambu. Pendekatan yang dilakukan, kata Ambu, bersimpati dan berempati, misalnya, berbaur, dan tidur di rumah masyarakat.

Dalam melakukan edukasi – penyadaran tidak selalu di dalam ruang kelas. Ngobrol dengan mereka sampai tengah malam, tentang kehidupan dan problem yang dihadapi, kemudian masuk misi CU – Koperasi. Setelah itu dibawa lagi yang sifatnya lebih formal, di ruangan ada motivasi dan pendidikan dasar. “Namun sebelum itu, hidup bersama mereka, mencoba membangun kesadaran, bahwa kesejahteraan merupakan problem kita. Ada masalah, seperti keterancaman wilayah hidup, hak kelola dengan masuknya investasi besar. Yang menjadi ancaman masyarakat paling menakutkan saat ini, perkebunan besar kelapa sawit” jelasnya.

Tentang evaluasi kesejahteraan anggota, Ambu mengakui, belum melakukannya dengan metode ilmiah. Tetapi ke depan akan dilakukan karena data base itu penting, untuk menjawab pertanyaan ilmiah, secara metodelogis, betulkah CU berpihak kepada kelompok menengah ke bawah? Secara semangat, program-program CU Betang Asi, diklaim sebagai pro masyarakat bawah. Alasannya, pengembangan CU bukan dari kota, tetapi datang ke pedesaan, ke kampung-kampung, memotivasi dan penyadaran masyarakat, kalau mau bergerak maju harus mengorganisir diri. Salah satunya dalam wadah organisasi ekonomi, Credit Union – Koperasi. “CU juga merupakan organisasi perjuangan, organisasi pendidikan. Perjuangannya jelas, dalam rangka mengorganisir selalu melakukan pendidikan,” ungkapnya penuh semangat.

Yang namanya pemuka masyarakat, baik yang sifatnya formal seperti Kepala Desa (Kades), Pemuka Adat, juga anakanak muda yang punya kepedulian dan berpotensi membawa sanak saudaranya masuk menjadi anggota CU, kata Ambu, juga didekati karena bisa menjadi vocal poin. Ada yang bukan tokoh, bukan Kades, bukan perangkat desa atau tokoh adat, tetapi dia semangat betul untuk ikut mengembangkan CU. Pendekatan dengan orang-orang potensial di suatu wilayah, dianggap sangat efektif untuk pengembangan CU.

Untuk mengukur capaian cita-cita yang sifatnya esak – pasti, kata Ambu, agak sulit. Tujuan koperasi banyak yang ideal. Tetapi faktanya, karena CU Betang Asi bukan hidup di ruang hampa, banyak faktor yang mempengaruhi bagaimana mencapai tujuan ideologis koperasi. Di dalam gerakkan koperasi, jelas yang dituju. Ideologis itu jelas kesejahteraan. Pertanyaannya, kesejahteraan yang bagaimana. Ada yang mengatakan, sumber daya itu didistribusi secara merata, tidak terkelompokan. Kemudian bagaimana membangun lokalitas, bukan diputuskan di satu tempat saja. Ada semangat, segala hal yang diputuskan masyarakat bisa berparisipasi secara terbuka. “Itu yang kami dorong melalui CU,” jelas Ambu.

Dalam usia yang baru 10 tahun 6 bulan CU Betang Asi telah mampu menggapai sukses besar. Jumlah anggota lebih dari 33.000-an, aset Rp 500 miliar lebih, sehingga CU ini masuk dalam jajaran koperasi besar Indonesia. Sebagai sebuah perahu, CU yang dibangun dengan ide koperasi, dalam perjalanannya jangan sampai melupakan ideologinya. Dalam bahasa NU, jangan melupakan Khitah, harus kembali kepada semangat. Kalau dalam perjalanan; terutama pengurus, dan manajemen tidak selalu ingat dan menjaga jalannya CU, bisa saja keluar dari ideologi awal. Juga menurut bahasa NU, CU harus memiliki buku Kuning sebagai pedoman, dan harus dijalankan. “Dikawatirkan, karena CU tumbuh dan berkembang bukan di ruang hampa, pengurus, pelaksana dan kelompok inti anggota lupa buku Kuning, bahaya,” Ambu mengingatkan.

Sebagai orang gerakkan, baik di NGO maupun di CU, Ambu mengaku mendapat kebahagian istimewa – sifatnya khusus. Melalui gerakkan selalu bersama dan berkomunikasi dengan masyarakat, terutama di pedalamanpedalaman. Di dalam gerakkan, khususnya di CU, banyak sahabat, kenalan baru di berbagai daerah. Bahkan di tingkat nasional juga bisa membangun jejaring. “Kalau dulu betul-betul di pinggiran, wilayahnya di kelompok masyarakat kelas menengah – bawah, sekarang sudah mulai direken. Kalau ada kegiatan di pemerintahan, misalnya, diundang, ada kegiatan bank juga diundang. Di tingkat nasional, Kementerian UKM juga sudah mulai diperhatikan. Sudah mulai ada apresiasi dari pihak luar,” ungkap Ambu, bahagia.

Bicara cita-cita, tentang CU khususnya, sejalan dengan cita-cita Bung Karno – Bung Hatta, dan tokoh-tokoh Negara ini. Gerakkan CU yang sekarang ini mulai direken, pada saatnya nanti tidak berhenti direken, tetapi menjadi kiblat. Kalau orang bicara tentang ekonomi kerakyatan, lihat gerakkan CU – Koperasi. “Kami baru menyadari, setelah mendorong CU semakin mengerti apa yang dicita-citakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, yaitu membangun lokalitas, membangun kemandirian. Dengan membangun CU – Koperasi, kita bisa mandiri dan memiliki kedaulatan terhadap diri kita, dan bermatabat seperti Trisakti-nya Bung Karno. Apa yang didorong oleh gerakkan CU – gerakkan koperasi, mendorong inisiatif-inisiatif lokal, kearifan-kearifan lokal, dan semangat komunal – gotong royong,” katanya penuh semangat.

Khusus masalah Dayak, kata Ambu, ada fenomena tergerus. Salah satu alat yang efektif untuk merevitalisasi, melalui nilai-nilai koperasi – membangun kebersamaan. Ada semangat Rumah Betang. Secara fisik, Rumah Betang – rumah panjang, menurut filosifi masyarakat Dayak ada semangat komunal, semangat kebersamaan dan saling menghargai. Dalam perkembangan kekinian, tidak mungkin membangun Rumah Betang dalam bentuk fisik.

Yang sangat mungkin dilakukan, filosofi semangat-semangat di Rumah Betang itu dihidupkan kembali dengan tanggap zaman, kekinian. Caranya, hidup di dalam nilai-nilai CU – Koperasi, karena sejalan dengan filosofi Rumah Betang. Salah satu yang membuat CU-CU di Kalimantan, khususnya, berkembang progresif – pesat, karena semangat lokalitas terus dibangun, diselaraskan dengan semangat yang dikembangkan Credit Union. “Yang saya tahu, bagaimana membangun keprihatinan bersama, kesadaran ini musuh bersama, senasib sepenanggungan. Masyarakat Dayak, apalagi di masa Soeharto, sama-sama tersisihkan, terpinggirkan oleh pembangunan. Salah satu cara, melawan ketersisihan, mengorganisir diri melalui ekonomi, koperasi. Tempat melaksanakan operasionalisasi pikiran alatnya jelas, CU – Koperasi,” jelas Ambu. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *