Pangan Akan Menentukan Sosok dan Kepribadian

Sebuah adigium yang ingin menggambarkan bahwa makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh seseorang akan menentukan sosok dan kepribadiannya. Dengan kata lain, dari makanan yang dikonsumsi tidak hanya akan menjadikan orang sehat, aktif dan produktif, tetapi orang tersebut juga memiliki sikap dan perilaku dengan ciri-ciri yang menonjol.

Dalam perspektif psikoanalisis barang kali adalah sikap dan perilaku orang yang memiliki cirri-ciri; introvert, ekstrovert atau perpaduan keduanya yang sering disebut dengan ambivert. Untuk membentuk seseorang dengan sosok yang sehat, aktif dan produktif, memiliki sikap dan perilaku menonjol disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang memenuhi kaidah-kaidah; beragam, bergizi seimbang, aman dan halal. Frasa beragam dan bergizi seimbang dapat dimaknai, beragam dalam jenis, seimbang untuk zat gizi yang berupa karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral.

Sedangkan pengertian aman adalah merujuk pada makanan-makanan yang layak untuk dikonsumsi atau baik untuk kesehatan manusia, yakni makanan-makanan yang jauh dari adanya cemaran fisik, biologi, seperti bakteri dan kimiawi, misalnya, penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) sebagai pengawet, pemanis maupun pewarna melebihi dari yang direkomendasikan yang bersifat “karsinogen”.

Adapun makanan yang halal adalah makanan yang diperbolehkan menurut ajaran agama Islam, baik terkait dengan jenisnya maupun cara-cara mendapatkannya. Selain mengandung nutrisi – zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat, aktif dan produktif, makanan dan minuman yang akan dikonsumsi sebaiknya yang aman dari adanya cemaran fisik, biologi dan kimiawi. Cemaran fisik pada makanan biasanya dalam bentuk benda-benda kecil berbahaya seperti kerikil, pecahan kaca, dan isi staples. Dalam kondisi tertentu makanan juga mudah menjadi membusuk karena terkontiminasi  oleh mikroba seperti bakteri dan jamur.

Meskipun sering tidak berpengaruh negatif secara langsung, tidak kalah penting  adalah adanya makanan dan minuman yang menggunakan bahan-bahan kimia sebagai pengawet, pemanis, pewarna atau BTP yang dilarang melebihi dari takaran yang direkomendasikan. Para pedagang makanan dan minuman umumnya menggunakan BTP yang terlarang dengan alasan; mudah didapatkan di pasaran, harga relatif murah, menjadikan penampilan makanan dan minuan lebih menarik, dianggap tidak memiliki dampak negatif langsung terhadap kesehatan manusia, dan kegiatan tersebut sudah dilakukan secara turun temurun.

BTP terlarang yang digunakan pada makanan dan minuman umumnya bersifat karsinogen, dimana dalam jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya penyakit kanker dan kerusakan organ vital lain pada manusia. Beberapa BPT terlarang yang seringkali ditemukan dalam makanan dan minuman adalah; formalin, boraks, rhodamin B dan methyl yellow.

Formalin sebagai bahan kimia untuk mengawetkan mayat dan perekat kayu lapis digunakan pada makanan dengan tujuan agar makanan dapat bertahan lama dan memiliki tekstur lebih kenyal. Seperti halnya formalin, boraks sebagai bahan kimia untuk mengawetkan kayu dan campuran pembuatan pupuk tanaman digunakan pada makanan agar makanan lebih kenyal mengkilap dan renyah (kerupuk).

Penggunaan rhodamin B dan methyl yellow sebagai bahan pewarna untuk tekstil, kertas dan cat pada makanan dan minuman secara umum adalah untuk memberikan warna yang lebih cerah (ngejreng). Ciri-ciri itu semua mudah dikenali secara kasat mata pada makanan dan minuman karena selain warna yang lebih mencolok dan aroma yang menyengat juga rasa pahit, getir di lidah ketika dimakan atau diminum. Ciri-ciri lainnya untuk bahan pangan, makanan yang menggunakan pengawet dari formalin dan boraks biasanya tidak disukai oleh lalat.

Selama ini praktek-praktek tidak terpuji masih ditemui di lapangan ketika ada segelintir pelaku usaha nakal menyuntikan pemanis atau pewarna pada buah-buahan yang dijualnya. Saat harga jual ikan kakap merah lebih mahal dari harga ikan kakap putih, tidak segan-segan ada yang menyulap ikan kakap putih dengan menggunakan pewarna terlarang menjadi ikan kakap merah yang sangat mirip dengan aslinya.

Juga tak jarang di lapangan ditemukan beras yang diolah dengan menambahkan bahan kimia pemutih (whitening) agar beras menjadi lebih mengkilap. Hal lain dan untuk kehati-hatian, jangan pernah membungkus makanan menggunakan kertas koran, majalah maupun kantong plastik hitam, terutama yang tidak diketahui asalnya. Karena itu sudah menjadi tugas dari Satgas Pangan di berbagai tingkatan untuk secara berkala melakukan pengawasan dan pembinaan kepada para pelaku usaha pangan segar dan makanan yang melakukan praktek-praktek tidak terpuji, sehingga masyarakat dapat mengkonsumsi pangan dengan aman dan halal.

Berbagai kejadian malnutrisi baik kekurangan gizi maupun kelebihan gizi (obesitas) menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia seringkali disebabkan karena pengelolaan konsumsi makanan yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip; beragam, bergizi seimbang dan aman. Penganekaragaman pangan harus dilakukan agar bisa saling melengkapi mengingat sumber-sumber bahan pangan hayati dan hewani di alam sangat terbatas dalam menyediakan zat gizi yang memadai bagi kebutuhan manusia.

Satu-satunya sumber makanan yang memiliki zat gizi relatif lebih lengkap hanyalah air susu ibu (ASI). Oleh karena itu tidak mengherankan diperlukan gerakkan Mengawal Ibu Hamil (Bumil) dan Ibu Menyusui (Busu) dalam kurun waktu 1000 hari karena untuk menumbuhkan dan mengembangkan anak di bawah umur 5 tahun (Balita) yang sehat dan cerdas.

Pemenuhan zat gizi terutama karbohidrat sebagai sumber energi dalam bentuk kalori tidak selalu harus berasal dari padi (beras), tetapi bisa dari biji-bijian lain seperti jagung dan cantel (sorgum) serta dari umbi-umbian. Saat ini konsumsi karbohidrat yang berasal dari padi (beras) sesuai angka kecukup gizi (AKG) dinilai relatif sudah tinggi. Karena itu perlu substitusi dengan sumber karbohodrat lain, baik dari biji-bijian maupun umbi-umbian.

Sedangkan untuk asupan protein baik yang berasal dari bahan pangan nabati dan hewani yang masih harus ditingkatkan konsumsinya adalah asupan protein hewani yang berasal dari ikan. Rerata konsumsi ikan di Indonesia adalah 50,49 Kg per kapita, per tahun, masih lebih rendah dari angka yang ditetapkan yakni 55 Kg per kapita, per tahun. Meskipun demikian, kualitas konsumsi pangan untuk masyarakat Indonesia yang diukur dengan menggunakan angka Pola Pangan Harapan (PPH) dari tahun ke tahun menunjukan angka semakin membaik, dimana pada tahun 2017 angka PPH mencapai 90,4 mendekati angka PPH yang ideal yakni 100.

Seperti dimaklumi, berbagai jenis umbi-umbian yang di masyarakat Jawa dikenal dengan istilah “polo gumantung – polo pendem – polo kesampar” merupakan sumber karbohidrat dan sekaligus sebagai pangan lokal banyak tumbuh dan ditemui di berbagai daerah di wilayah Indonesia. Bahkan bisa jadi sebagian dari masyarakat awam tidak begitu familiar dengan jenis umbi-umbian tertentu seperti iles-iles, suwek, walur, dan porang yang justru saat ini sedang booming di pasar global.

Selain sebagai sumber karbohidrat, umbi-umbian juga memiliki nilai fungsional karena kandungan antioksidan yang tinggi dan sanyawa lainnya yang sangat berguna bagi kesehatan manusia. Universitas Gajah Mada (UGM), dan ketika itu masih bernama Badan Ketahanan Pangan Pertanian (BKPP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah membangun kerjasama untuk melakukan pengkajian terhadap nilai fungsional dari beberapa umbi-umbian guna lebih meyakinkan pada masyarakat akan manfaat dari umbi-umbian baik dari sisi sebagai sumber karbohidrat maupun dampaknya pada kesehatan manusia.

Namun demikian, melihat perjalanan belum optimalnya pelaksanaan program dan kegiatan penganekaragaman pangan berbasis potensi pangan lokal yang sudah dilakukan puluhan tahun, bisa jadi karena belum terbangun dengan sungguh-sungguh kesadaran akan pentingnya umbi-umbian sebagai sumber pangan alternative bagi masyarakat, terutama adalah dikalangan generasi melinial.

Sejauh ini konsumsi terhadap umbi-umbian masih sebatas pada pelaksanaan acara-acara yang bersifat seremoni. Padahal, dengan kemajuan inovasi teknologi, umbi-umbian dapat diolah menjadi bahan pangan setengah jadi seperti chip, mocaf, tapioca, dan pangan siap konsumsi seperti mie mocaf dan aneka cake yang dapat meningkatkan cita rasa dan preferensi masyarakat.

Generasi melinial barang kali tidak menyadari kalau panganan olahan seperti donat, egg roll (semprong), cake dan jenis lainnya yang selama ini telah dikonsumsi di berbagai gerai makanan modern adalah berasal dari umbi-umbian. Saatnya kini untuk mulai membulatkan tekad kembali, dari kita untuk mengkonsumsi umbi-umbian dalam rangka menyukseskan gerakkan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis pada potensi pangan lokal secara vertical dan horizontal serta mengurangi ketergantungan pada konsumsi karbohidrat dari padi (beras).

Presiden Joko Widodo mengemukakan, sektor perikanan dan pertanian adalah sektor yang sangat penting dan sangat setrategis, karena sektor ini bukan hanya menjadi penyedia bahan pangan bagi 260 juta jiwa lebih penduduk Indonesia, tetapi juga karena mampu menampung tenaga kerja dalam jumlah besar, pun memiliki kontribusi besar dakam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menekan angka kemiskinan. Karena itu harus ada langkah-langkah terobosan agar kedua sektor ini tumbuh lebih pesat lagi, dan menjadi motor penggerak ekonomi kita.

Presiden memberikan tiga catatan penting yang perlu mendapatkan perhatian kita bersama. Pertama, perhatian kita selama ini hanya fokus pada upaya peningkatan produksi pertanian dan perikanan di on farm. Kita tidak pernah menyentuh off farm-nya, terutama pasca produksi. Petani dan nelayan baru keluar dari aktivitas on farm menuju ke off farm dengan memberikan nilai tambah aktivitas usaha tani dan perikanannya melalui pengolahan produk pertanian dan perikanan maupun usaha berbasis perikanan dan pertanian.

Kedua, untuk masuk ke off farm para petani dan nelayan perlu skema pembiayaan dan pendampingan. Dari sisi pembiayaan, kata Presiden, pemerintah telah memiliki skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga relatif rendash, 6% per tahun yang plafon anggarannya tahun 2020 menjadi Rp 120 triliun. Presiden juga telah memerintahkan, KUR agar didesain dengan skema-skema khusus per cluster, sehingga bisa sesuai kebutuhan grace period produk cluster pertanian maupun perikanan. Namun pembiayaan itu harus diikuti dengan pendampingan baik dalam pengelolaan keuangan, membuat packaging – kemasan yang baik, branding – merk dagang yang baik dan marketing – pemasaran yang baik.

Ketiga, pemerintah mulai mendorong usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah (UMKM) petani, nelayan yang selama ini bergerak dalam skala ekonomi kecil-kecil untuk bergabung, berkolaborasi dalam kelompok-kelompok atau dalam koperasi besar. Sehingga memiliki nilai ekonomi scale yang besar. Dalam koperasi itu petani dan nelayan bisa lebih efektif dalam mendapatkan bahan baku, mengakses modal kerja dan investasi, maupun memasarkan produk mereka agar bisa masuk ke supply chain nasional maupun internasional. (my)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *