Pelaku UKM Singapura Telah Menyebar di Indonesia

Putri Maulidia Sarjana Pendidikan menekuni BisnisPara Menteri Ekonomi ASEAN sepakat untuk fokus mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) di negara masing-masing, kemudian mengintegrasikannya sebagai kekuatan ekonomi kawasan. Ini peluang sekaligus tantangan bagi pelaku UKM di Indonesia, agar memiliki daya saing. Ide kreatif sangat dibutuhkan untuk memenangkan persaingan. Kompetisi antar produk saat ini sangat ketat. Tanpa kreativitas, produk yang dihasilkan akan kalah dari produk baru yang bermunculan.

Salah satu butir kesepakatannya: UKM akan jadi fokus ASEAN, karena usaha kecil menengah ini banyak menyerap tenaga kerja. Kesepakatan regional tersebut diharapkan terdengar oleh pelaku UMKM diseluruh Indonesia, yang jumlahnya lebih dari 51 juta. Daerah yang pelaku UMKM-nya terbesar di Indonesia adalah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pada tahun 2014, misalnya, jumlah total Usaha Mikro Kecil Menengah di sana, mencapai 171.264 unit usaha. Rinciannya, usaha mikro 154.891 unit, usaha kecil menengah 154 unit, dan untuk usaha menengah 16.000 unit. Dengan jumlah unit usaha yang demikian banyak, kita tentu bisa memperkirakan, betapa sangat banyak tenaga kerja yang sudah terserap di sana.

Kerja Rakyat, Usaha Rakyat Capaian Kabupaten Sidoarjo tersebut, sudah sepatutnya menjadi masukan dan inspirasi bagi kabupaten lain di tanah air. Setidaknya, para pimpinan daerah, dalam hal ini bupati dan walikota, bisa mencermati, apa yang sudah dilakukan pemerintah daerah di sana dan apa yang sudah diperbuat masyarakat di sana. Bukan dalam konteks mencontoh, tapi menyerap langkah-langkah positif, yang mungkin bisa diimplementasikan di daerah masing-masing. Bukankah pemimpin juga butuh pembelajaran? Misalnya, di Kabupaten Sidoarjo, telah tumbuh sekitar 82 sentra industri rakyat dan 11 kampung usaha.

Dengan adanya 154.891 unit usaha mikro, itu merupakan realitas bahwa aktivitas ekonomi di sana, benar-benar berada di tangan rakyat. Manfaat putaran ekonomi tersebut, langsung dirasakan masyarakat setempat. Tidak akan mungkin kerja rakyat dan usaha rakyat tersebut bisa tumbuh demikian pesat, bila tidak didukung oleh kebijakan pemerintah daerah yang kondusif. Juga, tidak akan mungkin tingkat partisipasi rakyat sampai sedemikian tinggi, bila tidak disertai oleh interaksi yang positif antara seluruh elemen di kabupaten tersebut.

Jenis usaha yang dilakukan masyarakat Sidoarjo, sesungguhnya adalah jenis aktivitas ekonomi yang juga ada di tempat lain. Misalnya, usaha jajanan, batik, bebek, kerupuk, pot, jamur, dan sebagainya. Bedanya, masyarakat Sidoarjo melakukannya secara bersama-sama, hingga usaha rakyat tersebut, menjelma menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan. Karena aktivitas beragam usaha itu berlangsung dalam satu kabupaten, maka tidak terlalu sulit untuk menata lalu-lintas logistik bahan baku dan hasil produksi. Juga, relatif tidak terlalu sulit untuk mengelola aktivitas pemasaran berbagai produk rakyat tersebut.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat dua persen tiap tahun, jika keterlibatan teknologi digital dalam pengembangan UKM turut digenjot. Pembinaan harus tepat sasaran dengan butir kesepakatan Menteri-menteri Ekonomi Association of South East Asian Nations (ASEAN) untuk fokus pada UKM. Sesungguhnya ini kesempatan yang baik bagi kebangkitan ekonomi kerakyatan di Indonesia. Daya beli masyarakat bisa tumbuh, jumlah pengangguran bisa berkurang. Jumlah UKM di Indonesia adalah yang paling banyak dibanding jumlah UKM di negara-negara lain. Sayangnya, jumlah yang banyak tersebut, tidak dibarengi dengan kualitas yang sepadan. Ini salah satunya karena kualitas sumber daya manusia.

Faktor tersebut berpengaruh pada kesiapan mereka menghadapi perkembangan teknologi. Baik teknologi produksi maupun teknologi pemasaran. Lebih dari 36% pelaku UKM, masih berbisnis secara offline saja. Sementara, 37% lainnya, hanya memiliki kemampuan online tingkat dasar. Hanya 18% pelaku UKM yang memanfaatkan akses online, seperti media sosial dan situs web. Dalam konteks ASEAN, hendaknya fokus pada kendala sumber daya manusia. Dengan kata lain, pembinaan, pelatihan, dan pendampingan terhadap pelaku UKM kita menjadi skala prioritas. Keterbatasan pengetahuan akan berpengaruh pada kemampuan mereka untuk melakukan inovasi. Baik inovasi untuk menciptakan produk baru, inovasi pada proses produksi, juga inovasi dalam hal menjangkau konsumen.

Daya saing UKM Indonesia masih sangat rendah, hanya sekitar 3,5 dari skor 1-10, dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Itulah realitas yang tak terelakkan. Ini jelas merupakan tantangan yang tidak ringan menghadapi pelaku UKM dari berbagai negara ASEAN. Apalagi bila mengingat, semua negara ASEAN akan fokus mengelola pelaku UKM di negara masing-masing, menyambut pasar bebas regional. Pelaku UKM dari Singapura, sudah melakukan penelusuran ke berbagai pelosok di tanah air. Mereka mencermati berbagai situasi-kondisi di negeri kita untuk menemukan kemungkinan dan peluang bisnis.

Singapura sudah bawa masuk 30 pengusaha kecil mereka, untuk stay di Nusa Tenggara Timur, dalam tempo beberapa bulan. Mereka mencari, peluang apa yang bisa dikembangkan. Itu hanya salah satu contoh yang bisa kita deteksi. Barangkali, sudah banyak aktivitas yang dilakukan negara tetangga kita di sini, dalam konteks menyiapkan pelaku UKM mereka. Boleh jadi, mereka sudah pada tahap research & development, sementara kita masih berkutat membenahi kondisi sumber daya manusia yang ada. Kita memang sudah tertinggal, dibandingkan mereka. Itulah realitasnya.

Namun, hal itu bukan alasan untuk menyurutkan langkah, menghadapi pasar bebas regional. Karena, suka tidak suka, mau tidak mau, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan efektif berlaku mulai akhir tahun 2015 yang tinggal beberapa hari lagi. Berbagai sektor industri, bukan hanya pelaku UKM, akan berhadapan dengan model kompetisi yang berbeda dibandingkan dengan saat ini. Sejumlah profesi, juga akan berhadapan dengan tantangan persaingan, yang tak kalah sengitnya. Dunia sudah berubah, jauh berubah. Mekanisme proteksi, sudah sangat terasa jadul. (Dita)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *