Pemimpin Hebat

Pemimpin hebat kerap dikaitkan dengan hasil kerjanya, misalnya, berapa laba yang berhasil dicetak, berapa besar pencapaian target yang berhasil ia raih. Pemimpin biasanya juga disebut hebat karena mampu membuat strategi yang ampuh untuk mengalahkan musuh atau kompetitor, juga gebrakan perubahan yang ia lakukan.

Ada juga yang mengatakan, pemimpin itu hebat karena mampu menciptakan pemimpin-pemimpin baru yang lebih hebat dari dirinya, bukan sekedar menciptakan pengikut. Namun kita memang sering tidak ingat untuk menilai hal ini. Padahal, begitu sering kita mengatakan manusia merupakan factor penting bahkan terpenting. Namun tidak banyak kita melihat pemimpin yang benar-benar berobsesi untuk mengembangkan individu di timnya atau meletakkan pengelolaan manusia sebagai prioritas utama.

Dari begitu banyaknya teori mengenai kepemimpinan, ternyata memang tidak cukup banyak yang menomorsatukan manusia dan membahas bagaimana mengelola manusia. Padahal, kita tidak mungkin memimpin tanpa anak buah. Bagaimana mungkin kita tidak melakukan pendekatan manusiawi secara sungguh-sungguh bila ingin menjadi seorang pemimpin yang hebat. Bila bawahan tak memberi support – dukungan penuh, bagaimana sebuah proyek akan bisa diselesaikan dengan baik, mulus seperti yang direncanakan.

Bila anggota tim kerja tidak menunjukkan rasa percaya, bagaimana rencana dan strategi yang kita susun bisa berjalan. Sebagai pemimpin, mau tidak mau dituntut untuk membangun suatu organisasi dan system sosial yang baik. Jelas, seorang pemimpin perlu tertarik pada manusia yang menjadi followers-nya, harus menumbuhkan, mengembangkan, dan mendorong mereka untuk berprestasi. Pertumbuhan inilah yang akan membawa kebahagiaan dan aktualisasi diri individu sehingga akhirnya membuat mereka berprestasi tanpa harus susah mendorong-dorong.

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahya Purnama (Ahok) yang baru memulai masa jabatan dengan marah-marah kepada tim yang gaptek (gagap teknologi), menggalakkan kemampuan mengoperasikan komputer di kantor Pemda, dan mengganti kebiasaan rapat. Gebrakan lain Jokowi – Ahok antara lain menyediakan kursi cantik bagi pejalan kaki, menyelenggarakan pasar malam dan pasar rakyat, juga mendekati warga dengan sikap tulus dan merakyat. Kita melihat “manusia”nya lah yang disentuh. Kita sesekali mendengar ada komentar miring mengenai tindakan yang mementingkan blusukan alias pendekatan ke masyarakat seolah-olah banyak hal yang lebih penting yang perlu diurus.

Namun, pendekatan cara Jokwi itu ternyata cukup ampuh, tidak hanya untuk menggerakkan perubahan di DKI Jakarta, tetapi juga membuat masyarakat merasa dekat dan kemudian mendukung pemimpinnya. Jadi, tidak heran bila kita menyaksikan gaya kepemimpinan Jokowi – Ahok yang demikian simpel, sangat manusiawi, tetapi justru menimbulkan “big impact” yang sangat memukau, bahkan mengalahkan star quality yang diperoleh karena keturunan atau dinasti, bahkan keahlian.

Ada ahli yang mengatakan bahwa rahasianya justru terletak pada tidak adanya “misteri” di balik kepemimpinan ini. Transparansilah kekuatannya. CEO M3 memajang infografik yang menggambarkan laporan keuangan perusahaan di berbagai sudut yang mudah dilihat karyawan. Tujuan utamanya adalah untuk mengembangkan rasa percaya karyawan kepada pimpinan dan perusahaan. Mengembangkan rasa percaya jauh lebih sulit daripada mengembangkan ketrampilan ataupun keahlian. Diyakini rasa percaya karyawan akan menular pada rasa percaya dari pelanggan maupun pemegang saham.

Kenyataannya memang demikian. Contoh keterbukaan lain yang bisa kita lihat adalah dari Tony Hsieh, COE  Zappos. Ia bahkan member instruksi kerja ke anak buahnya melalui Twitter. Ia beranggapan bahwa bila publik mengetahui apa yang dilakukan di dalam organisasinya, rasa percaya publik terhadap perusahaannya makin meningkat. “Is good to show that you have nothing to hide,” katanya.

Rahasia lain adalah kemampuan untuk mengembangkan permasalahan yang kompleks dengan bahasa sederhana. Sebaliknya, kompleksitas dan kesemrawutan akan menghentikan inovasi dan menghambat perkembangan karena orang biasanya tidak tahu mau mulai pembenahan dari mana. Pemimpin hebat bisa menggambarkan duduk suatu persoalan dengan cara yang mudah dimengerti semua orang dan berusaha memperbaikinya juga dengan cara yang simpel.

Dalam bekerja, kita perlu senantiasa menjaga awareness tentang diri kita, tentang organisasi, tentang nilai-nilai, budaya, hubungan emosional dan konteks dari apa yang kita kerjakan. Biasanya, saat agenda kerja padat, kita rawan terbawa arus dan hanya berespon pada hal-hal yang ada di depan mata, seperti instruksi atasan ataupun permintaan pelanggan yang kita kerjakan secara otomatis tanpa awareness yang tinggi. Saat permasalahan teknis dan operasional bermunculan, kita juga biasanya tergoda untuk memelototi dan menggarap masalah-masalah teknis, tidak lagi berfokus pada manusianya.

Pemimpin yang baik perlu meningkatkan kesadaran rakyatnya, misalnya, kesadaran berdisiplin, kesadaran pada peraturan, juga kesadaran akan tujuan bersama. Pemimpin yang tidak mengagendakan penyadaran bawahannya pasti akan mengalami kesulitan untuk mengarahkan bawahan. Seorang pemimpin yang baru menduduki lembaga tertentu, berupaya keras untuk melakukan penyadaran, sampai-sampai menghadiri setiap pertemuan religius di lembaga tersebut, untuk bertukar pendapat dan meningkatkan penyadaran bawahannya.

Kita lihat betapa pemimpin yang efektif sangat mengutamakan kegiatan mendengar, mengage, mengobservasi, dan belajar dari bawahan. Ia akan mengasah sensitivitas, agar bisa meraba dan menyadarkan purpose organisasinya. Hanya dengan porpuse yang jelas dan dimengerti, etos dan motivasi bawahan bisa muncul dengan sendirinya.

Pendapat bahwa manusia adalah kapital ini memang tidak main-main. Manusia memang mesti didongkrak kinerjanya dan kita tidak mempunyai pilihan lain. Mendongkraknya inilah yang menjadi isu. Bila dalam dekade-dekade lalu kita masih bisa mengandalkan sistem reward dan punishment, sekarang ini sudah tidak berlaku lagi. Manusia, apalagi gen “Y” atau para milenial sudah tidak bisa diperlakukan sembarangan. Tak ada salahnya pemimpin memilih sikap melayani, belajar dari yang muda, dan member mereka wadah yang kondusif untuk berkarya.

Keberadaan pemimpin juga perlu dirasakan bawahan atau umatnya di mana-mana, seolah ia ada di dekat kita. Tidak ada hal yang lebih personal daripada kepemimpinan. Jadi, ungkapkan “nothing personal” sama sekali tidak berlaku dalam kepemimpinan. (Sylviana)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *