Pengaruh Kepemimpinan dan Teamwork

Dalam konteks ini, Bene and Seats menegaskan bahwa premis mayor dalam suatu tim adalah setiap orang dalam tim tersebut harus berfungsi sebagai pemain yang kooperatif dan produktif untuk menuju tercapainya hasil yang diinginkan. Dengan sangat menekankan pentingnya kohesivitas. Duin, Jorn, DeBower, dan Johnson mendefinisikan bahwa “Collaboration” sebagai suatu proses di mana dua oang atau lebih mengimplementasikan dan mengevaluasi kegiatan bersama.

Team work juga bagaikan sebuah orkestra yang saling bekerja sama menimbulkan suatu musik yang indah. Bila salah seorang pemain salah memainkan alat musiknya, maka akan menimbulkan disharmonis. Team work akan berhasil hanya jika mereka bisa melenyapkan kompetisi dan berkonsentrasi pada perbedaan pandangan dan keahlian untuk mengatasi masalah atau tantangan dengan cepat. Berdasarkan uraian tentang team work menurut penulis dapat disintesiskan bahwa team work adalah sekelompok orang dengan kemampuan, talenta, pengalaman, dan latar belakang yan berbeda yang berkumpul bersama-sama untuk mencapai satu tujuan dalam satu atau lebih kegiatan. Di mana dapat dilihat indikatornya pada kerja sama, satu arah tujuan, dialogis, delegasi, dan organisasi.

Konsep kepemimpinan hingga saat ini agak sulit didefinisikan secara pasti dan berlaku umum. Bahkan di antara ahli teori manajemen dan politik modern sekalipun belum bisa memberikan defenisi yang pasti tentang kepemimpinan, terleih yang mengacu pada kelembagaan pemerintahan. Setiap ahli mencoba memberikan formulasinya sendiri mengenai esensi kepemimpinan. Menurut Salusu kepemimpinan ditafsirkan sebagai kekuatan yang menyeleksi mimpi-mimpi seseorang dan kemudiannya menetapkan tujuan hidup seseorang. Kepemimpinan dalam pandangannya berarti sesuatu daya yang mampu menggerakkan seseorang dari dalam dirinya dan mengarahkan seseorang kepada sukses pencapaian misi (organisasi).

Menurut Gencen, kepemimpinan sebagai seperangkat kemampuan individual yang sangat subjektif dan sulit diukur secara kualitatif dengan angka. Kemampuan seseorang memengaruhi orang lain adalah bersumber dari hati nurani yang sangat subjektif tersebut. Karena tidak punya ukuran objektif, kepemimpinan tidak bisa diajarkan, apalagi ditiru oleh seseorang sejak dilahirkan. Mantan Presiden Amerika, dengan berani mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah seni yang sangat spesial dimiliki seseorang. Untuk melaksanakannya diperlukan Visi yang besar dari seseorang yang menjadi pemimpin. Atau potensi kepemimpinan visioner seorang pemimpin dapat bersumber dari potensi mengembangkan seni dan kepemimpinan.

Berbicara mengenai kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari konsep pemimpin yang komprehensif. Pemimpinlah yang menjalankan kepemimpinan itu dan perlu ditelusuri sehingga menjadi langkah operasional, “Modern Dictionary of Sociology” mendefinisikan pemimpin sebagai seseorang yang menempati peranan sentral atau posisi dominan dan pengaruh dalam satu kelompok. Dalam konsep kepemimpinan, maka unsur yang terpenting adalah adanya peranan, kunci, dominasi, serta pengaruh.

Kepemimpinan akan mendapat tempat atau berarti jika ada keseimbangan, jika dia berada dalam kelompok dapat diterima dan diinternalisasikan atau dengan kata lain, kepemimpinan seseorang akan tampak jika ada kelompok orang yang digerakkannya, diarahkan untuk satu tujuan bersama dengan menerima legitimasi kehadiran pemimpin. Secara objektif kepemimpinan seseorang akan tampak ada kemampuan intelijen, motivasi, percaya diri, dapat memberikan penilaian yang baik, dominasi, agresif, kelancaran berbicara, dan cepat mengambil keputusan. Selain itu faktor bawaan, hati nurani dan karakteristik juga akan sangat memengaruhi seseorang yang semakin menambah bobot kualitas, potensi, kapabilitas pemimpin. Kepemimpinan bukan sesuatu yang dimiliki, tetapi sesuatu yang dapat diberikan secara tulus dari dalam hati, jiwa, dan pikiran untuk kemajuan orang lain. Pemimpin hanya bisa menemukan di dalam diri mereka sendiri kekuatan untuk membuat makna kepemimpinan menjadi hidup, semangat juang, visi, kepercayaan diri, toleransi terhadap ketidakpastian, dan paradox, intuisi, empati, keberanian, dan integritas hanya bisa muncul di dalam  diri seseorang pemimpin, dan tidak bisa tercipta melalui pemberian dari diri orang lain.

Pemimpin harus mampu menyatukan seluruh jiwa, hati, dan pikiran mereka untuk kemajuan orang lain, melalui penghargaan, kepercayaan, kemauan untuk mendengarkan, dan kepekaan hati nurani, maka seorang pemimpin akan dihargai. Ada perbedaan karakteristik antara pemimpin dan manajer yang perlu diingat. Pemimpin dapat menaklukkan hambatan yang mengancam organisasi seperti perubahan yang begitu cepat, ketidakpastian, kekacauan dunia, dan perubahan itu sendiri karena dia seorang inovator yang kreatif dan orisinal, berbeda dengan karakteristik manajer sebagai administrator. Adapun penjelasannya dalam gambar sebagai berikut: Dengan melihat kenyataan yang ada di lapangan yang menunjukkan bahwa banyak pemimpin yang berperilaku seperti manajer, walaupun mereke sendiri telah memiliki bawahan seorang manajer. Hal ini terjadi karena belum memahami filosofi dan eksistensi dari seorang pemimpin sehingga terjebak dalam peran yang salah. Adalah sangat baik apabila seorang manajer bisa memiliki karakteristik seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya mengarahkan para karyawannya dalam mencapai tujuan organisasi yang ingin dicapai. Berbicara mengenai kepemimpinan berarti juga berbicara mengenai pendekatan kepemimpinan. Dalam pendekatan kepemimpinan akan tercermin bagaimana seorang pemimpin mendekati konstituen atau orang yang dipimpinnya. Ada empat pendekatan kepemimpinan, yaitu pendekatan sifat, gaya, situasional, dan fungsional. Untuk mendapatkan gambaran komprehensif mengenai kepemimpinan, Kepemimpinan Administrasi mengartikan “leadership is activity of influencing toward people to cooperative some goal which come to find desirable”. Dalam pengertian bebas, kepemimpinan diartikan sebagai aktivitas memengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan bersama yang mereka inginkan.

A Theory of Leadership mendefinisikan: “Leadership is an ability to persuade or direct men without use of prestige or power of rormal office or external circumstance” yang artinya “Kepemimpinan adalah satu kemampuan untuk mengajak dan atau mengarahkan orang-orang tanpa memakai kekuatan formal jabatan atau situasi eksternal. Leadership is the ability to create group action toward on organization objective with maximum effectiveness and cooperation from each individual yang artinya Kepemimpinan adalah kemampuan menciptakan kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi, dengan efektivitas maksimum dan kerja sama dari tiap-tiap individu. Banyak juga orang berkeyakinan bahwa kepemimpinan seseorang akan dibentuk dan juga oleh hasil perpaduan antara waktu, tempat, situasi, dan keadaan (environmental). Tiap masa mempunyai keunikan tersendiri yang bisa melahirkan seorang pemimpinnya. Tampilnya seorang pemimpin sebenarnya tergantung pada kemampuan dan keterampilannya menyelesaikan masalah sosial dan politik yang memang sangat dibutuhkan di saat timbul ketegangan, perubahan-perubahan dan adaptasi. Dalam konteks situasional, pemimpin juga bisa menunjukkan dan menampilkan dirinya. Dalam pendekatan teoritis ini, kepemimpinan perlu untuk menganalisa karakteristik pribadi seperti sifat-sifat pribadi, warna, dan karakteristik kelompoknya, serta peristiwa, perubahan, datau masalah yang dihadapi oleh kelompok tersebut.

Ada beberapa pendekatan dalam teori kepemimpinan, adalah Teori Psikoanalisis, yaitu seorang pemimpin harusnya bisa tampil sebagai seorang ayah sebagai sumber kasih sayang dan kekuatan, sebagai simbol dari super ego, sebagai tempat pelampiasan kekecewaan, frustasi dan agresivitas para pengikut, tetapi juga sebagai seorang yang memberi kasih sayang kepada pengikutnya. Tipe kepemimpinan kharismatik dapat kita masukkan dalam teori ini. Oleh sebab itu aspek kognitif, efektif, konotatif, perilaku, perasaan, watak, integritas, pribadi, dan potensi unggulan lamanya menjadi tuntutan kapabilitas kepemimpinan.

Teori antisipasi-interaksi (interaction-expectation theory) ada beberapa yang paling menentukan karakteristik kepemimpinan. Beberapa teori yang menjelaskan konsep ini yaitu “leader role theory” dan teori “two stage model”. Dalam teori pertama “leader role theory”, dijelaskan variabel utama dari seorang pemimpin adalah action, interaction, dan sentiment. Apabila frekuensi interaksi dan peran serta dalam aktivitas bersama itu meningkat. Maka perasaan saling memiliki akan timbul dan norma-norma kelompok makin jelas. Semakin tinggi jabatan seseorang, maka akan semakin tinggi pula daya adaptasi seorang pemimpin pada ciri dan karakteristik kelompok dan semakin lebar pula kadar interaksinya dan semakin melibatkan banyak orang. Sedangkan dalam teori “two stage model”, disebutkan bila seorang pemimpin mampu meningkatkan keterampilan pegawainya, maka secara bersamaan sebenarnya sang pemimpin sedang memberikan motivasi kepada pegawainya.

Teori yang menekankan sisi humanistik atau “humanistic theory”, menekankan pada hubungan yang kohesif dan efektif dalam dinamika kelompok. Manusia dalam pandangan teori ini adalah sesuatu organisme yang bisa diberikan motivasi setinggi mungkin. Sedangkan organisasi sebagai kelengkapan yang bisa dimanipulasi dan dikendalikan. Oleh karena itu fungsi kepemimpinan di sini adalah untuk memodifikasi perilaku organisasi publik, sedemikian rupa sehingga orang-orang dalam organisasi merasa memiliki kebebasan untuk merealisasikan potensialnya dalam memenuhi kebutuhannya. Pada saat bersamaan orang tersebut juga bisa memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan organisasinya.

Sebagai kelengkapan bahasan dan fungsi kepemimpinan yang berhubungan dengan sisi humanistik: pemimpin membuat keputusan dan kemudian mengumumkan kepada bawahannya. Model ini terlihat bahwa otoritas yang dipergunakan atasan terlalu banyak sedangkan daerah kebebasan bawahan sangat sempit. Pemimpin menjual keputusan. Dalam hal ini pemimpin masih terlihat banyak menggunakan otoritas yang ada padanya, sehingga persis dengan model yang pertama. Bawahan di sini belum banyak terlihat dalam pembuatan keputusan. Pemimpin memberikan pemikiran-pemikiran atau ide-ide dan mengundang pertanyaan-pertanyaan. Dalam model ini pemimpin sudah menunjukkan kemajuan, dibatasi penggunaan otoritasnya dan diberi kesempatan bawahan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, bawahan sudah sedikit terlibat dalam rangka pembuatan keputusan. Pemimpin memberikan keputusan bersifat sementara yang kemungkinan dapat dirubah. Bawahan sudah banyak terlibat dalam rangka pembuatan keputusan, sementara otoritas pemimpin sudah mulai dikurangi penggunaannya. Pemimpin memberikan persoalan, meminta saran-saran, dan membuat keputusan. Model ini sudah jelas, otoritas pemimpin dipergunakan sedikit mungkin, sebaliknya kebebasan bawahan dalam berpartisipasi membuat keputusan sudah banyak dipergunakan. Pemimpin merumuskan batas-batasnya dan meminta kelompok bawahan untuk membuat keputusan. Partisipasi bawahan dalam kesempatan ini lebih besar dibandingkan dalam model kelima di atas. Pemimpin mengizinkan bawahan melakukan fungsi-fungsinya dalam batas-batas yang telah dirumuskan oleh pimpinan. Model ini pada titik ekstrem penggunaan kebebasan bawahan, adapun titik ekstrem pengguna otoritas pada nomer satu di atas.

Di samping sikap seperti diuraikan di atas, para pemimpin di Indonesia perlu mengembangkan sifat-sifat tertentu, antara lain: adil ialah kemampuan memperlakukan anak buah secara sama, tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain dan tidak ada “anak mas” dan “anak tiri”. Keadilan adalah “kesadaran untuk memberikan kepada masing-masing apa yang telah menjadi haknya atau bagiannya”. Arif-bijaksana ialah kecakapan dan kepandaian bertindak berbuat menghadapi orang lain dan kepandaian bergaul dengan anak buah dan atas dengan cara yang tepat dan tidak menyinggung perasaan orang. Penuh prakarsa, (inisiatif ) yaitu sumber inspirasi dan sumber dinamika yang mampu menggerakkan orang-orang. Seorang yang penuh Prakarsa sebenarnya sekaligus memiliki daya cipta dan kreasi yaitu kemampuan menemukan cara-cara baru dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dan penemuan hal-hal baru dalam rangka mengadakan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Percaya pada diri sendiri, yaitu sesuatu yang menimbulkan keseimbangan jiwa dan pikiran yang pada akhirnya menumbuhkan optimisme dalam rangka mencapai tujuan.

Penuh daya pemikat, yaitu sesuatu yang dapat menarik atau memikat perhatian orang. Ulet, yaitu suatu sifat tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan dan selalu berusaha untuk mengatasi kesulitan-kesulitan. Mudah mengambil keputusan, yang menggambarkan sikap tegas. Sifat tidak ragu-ragu sehingga segala sesuatu dapat segera dilaksanakan. Sehingga dapat menumbuhkan kewibawaan dan kepercayaan terhadap pemimpin. Jujur, yaitu sifat suka bekerja sesuai dengan ketentuan yang ada dalam rangka mencapai tujuan. Kejujuran merupakan jaminan bahwa pemimpin tidak akan menyimpang dari garis tujuan yang dicapai dan tidak akan meumentingkan diri sendiri atau golongannya.

Berani mawas diri, yaitu suatu sifat melihat ke dalam diri sendiri dan ke dalam tubuh organisasi untuk melihat kekurangan untuk selanjutnya menutupinya. Komunikatif, yaitu sifat mudah menyampaikan sesuatu kepada pihak lain dengan menggunakan cara-cara yang mudah diterima. Teori Pertukaran (Exchange Theory). Teori ini berpandangan bahwa pemimpin dan yang dipimpin adalah satu sistem sosial di mana di dalamnya ada sebuah bentuk perputaran yang memberi dan menerima kontribusi secara suka rela atau cuma-cuma. Dapat dikatakan kepemimpinan seseorang sangat ditentukan oleh lingkungan, situasi, kondisi organisasi, dan rekan sekerja, serta persoalan yang dihadapi. Seorang pemimpin akan sangat berbeda kelakuannya, misalnya antara seorang rektor di universitas dengan seorang kepala dinas pendapatan daerah, membutuhkan tipikal tersendiri dalam menjalankan tugasnya supaya bisa berhasil. (bersambung)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *