Perintis yang Setia

“Kami berpikir, sebaiknya yang baik itu bukan hanya umat Katolik saja yang ikut menikmati. Yang non Katolik pun boleh ikut menikmati. Maka kami dengan beberapa aktivis credit union lainnya berhimpun kemudian membentuk Credit Union Mandiri,” urai Rahmat Peranginangin, B.A., yang sejak credit union itu dibentuk, dan baru mengakhiri pengabdiannya setelah Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2013 silam. Credit union yang baru didirikan diberi nama Mandiri karena Paroki Tebing Tinggi dikategorikan paroki mandiri. Walaupun, kata Rahmat, kemandiriannya masih bisa dipertanyakan.

Di Tebing tahun 1976 itu sudah ada yang disebut Silang Pinjam Sosial (SPS), dananya dari Pastor – termasuk dari Komisi Sosial (Komsos) Keuskupan Medan. Tetapi gagal karena banyak umat yang pinjam tidak mau mengembalikan. Mereka pikir, uang itu hibah, jangan-jangan dari Vatikan, tidak perlu dibayar. Ketika Sidang Paripurna Dewan Paroki, 10 Maret 1987 dibentuklah Credit Union Mandiri, yang anggotanya peserta paripurna. Pengurusnya dipilih dari Ketua Dewan Paroki, Sekretaris Dewan Paroki, dan Bendahara Dewan Paroki menjadi Ketua, Sekretaris, dan Bendahara credit union. Lembaga keuangan yang baru dibentuk itu kemudian dideklarasikan di Paroki. “Waktu itu kebetulan saya sebagai Sekretaris Dewan Paroki, menjadi Sekretaris Credit Union Mandiri yang pertama,” jelas Rahmat. Ketika didirikan 28 tahun silam, simpanan wajibnya, kata Rahmat hanya Rp200.

Awalnya, anggota Credit Union Mandiri juga hanya dari umat Katolik di Paroki Tebing Tinggi yang jumlahnya sekitar 5.000-an keluarga. Sedangkan umat paroki sekitar Tebing Tinggi yang jumlahnya cukup besar, kurang lebih 15.000 – 16.000 keluarga, tidak serta merta menjadi sasaran program pengembangan. Waktu itu, kata Rahmat, tidak ada kebijakan untuk membatasi keanggotaan, tetapi pengembangannya tetap berhati-hati. Alasannya, karena mengelola uang anggota. Kehati-hatian juga diterapkan ketika akan menerima anggota dari umat non Katolik. Hal itu dimaksudkan agar tidak menimbulkan praduga salah atau kesan Kristenisasi. Sebab misi utama credit union adalah menyejahterakan orang miskin dan terpinggirkan. Tidak ada sedikit pun tujuan mempengaruhi seseorang untuk pindah agama menjadi Katolik.

Ketika mulai menerima anggota dari non Katolik, kurang lebih 3 -4 tahun kemudian, ada persyaratan, harus mendapatkan rekomendasi dari anggota yang Katolik. Maksudnya, anggota yang memberikan rekomendasi itu juga punya tanggung jawab untuk menjelaskan jika kemudian timbul praduga-praduga keliru. “Pertimbangan waktu itu, pemersatunya masyarakat paroki. Tetapi yang baik bukan hanya umat Katolik saja yang menikmati. Umat lain pun harus ikut menikmati. Karena itu, pintu pun mulai dibuka pelan-pelan,” tutur Rahmat.

Setelah ada kebijakan terbuka untuk masyarakat umum, pengurus semakin sering turun ke stasi-stasi, ada 56 stasi di Paroki Tebing Tinggi, untuk memantapkan visi dan misi Credit Union Mandiri. Hampir setiap minggu, kata Rahmat, ada pendidikan dasar credit union di stasi-stasi. Setelah kesempatan untuk masyarakat umum dibuka, berbondong-bondonglah umat non Katolik masuk menjadi anggota Credit Union Mandiri. Saat ini jumlah anggota umat non Katolik justru lebih dominan, sekitar 70%, sedangkan yang Katolik hanya sekitar 30% saja. Ini artinya mereka yakin tidak ada misi mempengaruhi keyakinan seseorang untuk pindah agama menjadi Katolik. “Yang mengejutkan, alasan mereka masuk menjadi anggota karena Credit Union Mandiri itu dikelola oleh orang Katolik. Karena itu, sampai sekarang semua pengurus dan pengawas dari umat Katolik,” jelas Rahmat.

Melihat perkembangan yang demikian pesat, pengelolaan Credit Union Mandiri tidak lagi hanya dilayani oleh pengurus, tetapi mulai merekrut karyawan dengan sistem manajemen yang lebih profesional, ada manajer dan jenderal manajer. Manajer pertama Abe Nababan, saat ini menjabat sebagai deputi personalia. Untuk memberi pelayanan yang lebih dekat kepada anggota, dibuka pula kantor cabang yang berdekatan dengan anggota yang jumlahnya besar. Kantor cabang pertama Penggalang, 15 Km dari Kantor Pusat di Jln. Mayjen Sutoyo No.3 Tebing Tinggi, arah ke Kisaran. Kemudian menyusul cabang-cabang lain yang kini jumlahnya ada 28 kantor cabang. Cabang terbesar melayani 7.000-an anggota, yaitu cabang Rampak, kira-kira 20 Km dari kantor pusat arah ke Medan. “Pinjaman beredar pun paling besar di Cabang Rampak, kurang lebih Rp18 miliar,” jelas Rahmat.

Terkait dengan kendala yang dihadapi, kata Rahmat, ada, tetapi tidak besar. Yang terjadi jika anggota yang sebagian besar adalah petani, gagal panen. Soal gagal panen ini memang sulit diprediksi, karena musim yang juga sulit diprediksi. Mereka (para petani) bukan tidak mau memenuhi kewajibannya, tetapi sering tertunda. “Hanya tertunda,” tegas Rahmat. Agar petani bisa lebih baik mengelola lahan pertaniannya, mereka diberikan pendidikan dan pelatihan. Pembimbing dan pendampingnya para ahli pertanian dari Dinas Pertanian dan Peternakan. Para pendamping itu dibayar oleh lembaga, bukan anggota yang membayar. Bahkan, anggota dikasih uang saku agar serius mengikuti pendidikan dan pelatihan.

Untuk mengoptimalkan potensi anggota yang mempunyai kegiatan wirausaha, khususnya yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan, Credit Union Mandiri berencana membangun pusat pendidikan dan pelatihan, yang akan dikerjasamakan dengan Dinas Pertanian dan Peternakan, juga Dinas Koperasi dan UKM tingkat provinsi. Kiat mengatasi kredit macet, biasanya dilakukan penjadwalan ulang. Ada tim khusus yang menangani, yaitu tim penanggulangan kelalaian pinjaman. Di setiap kantor cabang ada timnya. Mereka bukan karyawan tetap, namun direkrut dari anggota yang potensial, dan didamping oleh manajemen setempat. Walau ada tim penanggulangan kelalaian pinjaman, yang namanya kredit macet, tetap saja ada. “Hanya saja jumlahnya tidak besar,” jelas Rahmat. (my)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *